Equity World | Wall Street Perkasa di Tengah Kekhawatiran Potensi Resesi

Equity World | Wall Street Perkasa di Tengah Kekhawatiran Potensi Resesi

Equity World | Bursa saham Amerika Serikat (AS) atau wall street menguat pada perdagangan Selasa, 22 Juni 2022. Hal ini seiring investor menilai bank sentral AS atau the Federal Reserve lebih agresif dan meningkatnya peluang resesi.

Equity World | Wall Street Melesat, Saham Energi Raup Cuan

Pada penutupan perdagangan wall street, indeks Dow Jones melonjak 641,47 poin atau 2,15 persen menjadi 30.530,25. Indeks S&P 500 menguat 2,45 persen menjadi 3.764,79. Indeks Nasdaq bertambah 2,51 persen menjadi 11.069,30. Adapun wall street libur pada Senin, 21 Juni 2022 untuk merayakan Juneteenth.

Pergerakan wall street ikuti koreksi pekan lalu dengan indeks S&P 500 mencatat mingguan terburuk sejak 2020. Banyak investor khawatir kenaikan di tengah meningkatnya kekhawatiran resesi mungkin berumur pendek, meski yang lain memperkirakan saham mungkin jenuh jual setelah harga lebih akurat terkait tekanan inflasi.

“Pertanyaan yang luar biasa adalah apakah ini hanya sebuah bouncing atau bottom,” ujar Chief Investment Strategist CFRA Research Sam Stovall dikutip dari CNBC, Rabu (22/6/2022).

Stoval prediksi indeks S&P 500 dapat kembali melemah ke posisi 3.200 sebelum pulih, atau penurunan lebih dari 30 persen dari rekor tertingginya.

Pantulan besar semacam ini sudah biasa selama pasar bearish. Indeks S&P 500 telah melonjak lebih dari 2 persen pada 10 kesempatan lain sejak penurunan ini dimulai pada awal Januari sehingga membuat saham lebih rendah.

Sejumlah investor kenaikan ini menjadi salah satu yang menandai pergantian terutama tanpa berita dan katalis yang jelas mendorongnya.

Sektor saham energi merupakan sektor dengan kinerja terbaik di indeks S&P 500. Sektor saham energi menguat 5,1 persen seiring kenaikan harga minyak.

Harga minyak mentah berjangka Brent menguat 0,46 persen ke posisi USD 114,65 per barel. Harga minyak West Texas Intermediate (WTI), patokan minyak AS naik hampir 1 persen menjadi USD 110,65 per barel.

Saham Diamondback Energy melambung 8,2 persen dan Exxon Mobil naik 6,2 persen. Saham Schlumberger dan Philips66 naik sekitar 6 persen. Saham Halliburton bertambah 5,9 persen.

Saham teknologi kapitalisasi besar juga memimpin kenaikan. Saham Alphabet induk Google melonjak 4,1 persen. Saham Apple naik sekitar 3,3 persen dan Amazon menguat 2,3 persen.

Saham chip membukukan keuntungan dengan saham Nvidia naik 4,3 persen. Saham KLA melonjak 4,9 persen dan Advanced Micro Devices menguat 2,7 persen.

Di tempat lain, harga saham Kellog bertambah hampir dua persen setelah perusahaan mengatakan akan membagikan tiga perusahaan terpisah.

Sementara itu, imbal hasil obligasi treasury AS bertenor 10 tahun menguat. Rata-rata saham utama alami penurunan ke-10 dalam 11 minggu terakhir di tengah kekhawatiran bank sentral akan menaikkan suku bunga secara agresif untuk menjinakkan inflasi dengan risiko menyebabkan penurunan ekonomi.

Indeks S&P 500 susut 5,8 persen pekan lalu untuk kerugian mingguan terbesar sejak Maret 2020. Pekan lalu, indeks Dow Jones merosot di bawah 30.000 untuk pertama kalinya sejak Januari 2022, susut 4,8 persen untuk periode tersebut. Indeks Nasdaq merosot 4,8 persen.

Penurunan tajam dalam saham menandakan pelemahan lebih lanjut di tengah kepercayaan investor terhadap prospek ekonomi dan kemampuan the Federal Reserve untuk menavigasi soft landing. Investor terus mengukur kesehatan ekonomi.

“Meningkatnya ketakutan akan perlambatan pertumbuhan global muncul dan dalam pandangan kami akan mulai menggantikan inflasi sebagai fokus utama bagi investor karena kami melihat apakah kekhawatiran ini dibenarkan atau tidak,” tulis David Sneddon dari Credit Suisse dalam sebuah laporan Selasa pekan ini.

Ia menambahkan, dari perspektif teknikal, pihaknya mulai melihat gambaran yang memburuk untuk komoditas dan terutama logam industri sejalan dengan kekhawatiran ini.

Ketua the Federal Reserve Jerome Powell akan bersaksi di depan Kongres pada Rabu dan Kamis pekan ini. Kehadirannya muncul setelah kenaikan suku bunga baru-baru ini sebesar 0,75 persen, peningkatan suku bunga terbesar sejak 1994.

Sebelumnya, bursa saham Amerika Serikat (AS) atau wall street bervariasi pada perdagangan Jumat, 17 Juni 2022. Selama sepekan, rata-rata indeks acuan melemah dengan indeks S&P 500 mencatat pekan terburuk sejak 2020.

Pada penutupan perdagangan wall street, indeks Dow Jones tergelincir 38,29 poin atau 0,13 persen menjadi 29.888,78. Indeks S&P 500 menguat 0,22 persen ke posisi 3.674,84. Indeks Nasdaq melonjak 1,43 persen ke posisi 10.798,35.

Saham bergejolak selama perdagangan Jumat pekan ini. Hal ini seiring investor semakin khawatir terhadap potensi perlambatan ekonomi. Beberapa bagian penting dari data ekonomi antara lain penjualan ritel Mei 2022 hingga perumahan baru. Selain itu, the Federal Reserve (the Fed) juga menaikkan suku bunga acuan paling agresif sejak 1994.

Pada pekan ini, indeks S&P 500 melemah 5,8 persen dengan 11 sektor saham berakhir 15 persen di bawah level tertinggi baru-baru ini. Selain itu, indeks Dow Jones ditutup di bawah angka 30.000 setelah turun di bawah level itu pada Kamis pekan ini untuk pertama kalinya sejak Januari 2021. Indeks Dow Jones merosot 4,8 persen. Indeks Nasdaq tergelincir 4,8 persen.

“Jelas bahwa masih ada beberapa volatilitas dan itu adalah situasi yang akan bersama kami untuk sementara waktu mengingat meningkatnya ketidakpastian,” ujar Analis Oxford Economics, John Canavan seperti dilansir dari CNBC, Sabtu (18/6/2022).

Ia menambahkan, pergerakan pasar yang ekstrem pada pekan ini seperti mencari menemukan tempat untuk menetap.

Pada Jumat pekan ini, pasar mengalami “quadruple witching”. Hal ini mengacu pada berakhirnya masa berlaku indeks saham berjangka, saham tunggal, opsi saham dan indeks opsi saham secara bersamaa. Ini biasanya mengarah pada lonjakan volume perdagangan membuat perdagangan volatilitas perdagangan.

Equity World | Pasar Asia Pasifik di Wilayah Positif, Bitcoin Meningkat

Equity World | Pasar Asia Pasifik di Wilayah Positif, Bitcoin Meningkat

Equity World | Pasar Asia Pasifik sebagian besar naik pada awal perdagangan pada Selasa (21/6), sementara bitcoin terus meningkat setelah rebound baru-baru ini. Sementara itu, bank sentral Australia siap untuk merilis risalah rapat di pagi hari.

Equity World | Kekhawatiran Investor Akan Resesi Ekonomi di AS Jadi Pemberat Laju Wall Street

Nikkei 225 Jepang naik 1,19% di awal perdagangan sementara Topix naik 1,2%. Kospi di Korea Selatan juga berada di wilayah positif, diperdagangkan 0,16% lebih tinggi.

S&P/ ASX 200 naik 0,69%. Indeks MSCI dari saham Asia Pasifik di luar Jepang naik 0,12%.

Menjelang rilis risalah pertemuan bank sentral Australia (RBA), sementara Gubernur RBA Philip Lowe akan berbicara tentang inflasi dan kebijakan moneter.

Di tempat lain, Presiden Bank Sentral Eropa (ECB) Christine Lagarde mengulangi rencana untuk menaikkan suku bunga ECB dua kali musim panas ini. Ia juga menekankan target inflasi 2%, menurut perkiraan Reuters.

“Keputusan ini mendukung komitmen kami sebelumnya untuk menyesuaikan semua instrumen kami dalam mandat kami, menggabungkan fleksibilitas jika diperlukan, untuk memastikan bahwa inflasi stabil pada target 2% kami dalam jangka menengah,” kata Lagarde, menurut laporan yang dirilis Selasa.

Pasar Amerika Serikat (AS) akan kembali diperdagangkan pada Selasa setelah liburan pada Senin (20/6). Rata-rata saham utama pekan lalu mengalami kerugian minggu ke-10 dalam 11 minggu terakhir, di tengah kekhawatiran bahwa bank sentral akan menaikkan suku bunga secara agresif untuk menjinakkan inflasi dengan risiko menyebabkan penurunan ekonomi. S&P 500 turun 5,8% minggu lalu untuk kerugian mingguan terbesar sejak Maret 2020, merosot lebih dalam ke wilayah pasar bearish.

Aset kripto (cryptocurrency) bitcoin terbesar di dunia naik pada Senin setelah jatuh di bawah level tertinggi 2017 selama akhir pekan. Itu naik di atas angka US$ 20.000 untuk sebagian besar hari itu. Pada Selasa selama jam perdagangan Asia, bitcoin terakhir naik 2,74% menjadi sekitar US$ 20.638, menurut data Coin Metrics.

Mata Uang

Indeks dolar AS, yang melacak greenback terhadap sekeranjang rekan-rekannya, berada di 104,407.

Yen Jepang diperdagangkan pada 135,11 per dolar melemah dari level di atas 134. Dolar Australia berada di level US$ 0,6961, masih lemah terhadap perdagangan minggu lalu di atas US$ 0,70.

Harga minyak lebih tinggi pagi ini dengan patokan internasional minyak mentah berjangka Brent naik 0,8% menjadi US$ 115,04 per barel. Minyak mentah berjangka AS juga meningkat 1,56% menjadi US$ 111,27 per barel.

Equity World | Harga Emas Dunia Merosot 1,9 Persen Sepanjang Pekan Lalu

Equity World | Harga Emas Dunia Merosot 1,9 Persen Sepanjang Pekan Lalu

Equity World | Harga emas jatuh pada akhir pekan kemarin dan menghentikan keuntungan selama dua hari berturut-turut karena dolar AS dan imbal hasil obligasi pemerintah AS menguat.

Equity World | Wall Street Berakhir Rebound, Dow Jones Merosot dan Nasdaq Melesat 1,43 Persen

Mengutip CNBC, Senin (20/6/2022) kontrak emas paling aktif untuk pengiriman Agustus di divisi Comex New York Exchange, merosot 9,3 dolar AS atau 0,5 persen, menjadi ditutup pada 1.840,60 dolar AS per ounce. Emas turun sekitar 1,9 persen untuk minggu lalu.

Sementara emas berjangka melonjak 30,3 dolar AS atau 1,67 persen menjadi 1.849,9 dolar AS pada Kamis, setelah terangkat 6,1 dolar AS atau 0,34 persen menjadi 1.819,60 dolar AS pada Rabu dan tergelincir 18,3 dolar AS atau satu persen menjadi 1.813,50 dolar AS.

Kenaikan suku bunga acuan di seluruh dunia juga mengurangi daya tarik emas. Federal Reserve AS, Bank sentral Inggris dan bank sentral Swiss semuanya menaikkan suku bunga acuan minggu ini.

Sementara bank sentral Jepang berdiri teguh pada kebijakan moneter ultra-longgarnya.

Federal Reserve melaporkan pada Jumat lalu bahwa produksi industri AS naik 0,2 persen pada Mei, mencatat peningkatan untuk bulan kelima berturut-turut, juga menekan emas.

Sementara itu harga logam mulia lainnya, perak untuk pengiriman Juli turun 29,8 sen atau 1,36 persen, menjadi ditutup pada 21,587 dolar AS per ounce. Platinum untuk pengiriman Juli turun 20,9 dolar AS atau 2,2 persen, menjadi ditutup pada 930,20 dolar AS per ounce.

Equity World | Harga Emas Berjangka Menguat Tajam

Equity World | Harga Emas Berjangka Menguat Tajam

Equity World | Harga emas berjangka menguat tajam pada akhir perdagangan Kamis (Jumat pagi WIB). Harga emas berjangka menguat ditopang pelemahan dolar Amerika.

Equity World | Wall Street Melemah, Dow Turun dari Level Psikologis 30.000

Kontrak emas paling aktif untuk pengiriman Agustus di divisi Comex New York Exchange, melonjak USD30,3 atau 1,67%, menjadi USD1.849,9 per ounce, memperpanjang keuntungan untuk hari kedua berturut-turut.

Melansir Antara, Jumat (17/6/2022), penurunan tajam dalam indeks saham Amerika di tengah kekhawatiran tentang prospek ekonomi setelah kenaikan suku bunga terbesar Federal Reserve sejak 1994 juga mendukung emas.

Federal Reserve AS menaikkan suku bunga sebesar 75 basis poin pada Rabu untuk menjinakkan inflasi setelah indeks harga konsumen AS naik 8,6% YoY di bulan Mei, terbesar sejak 1994.

Ketua Fed Jerome Powell mengatakan pada Rabu (15/6) bahwa bank sentral akan memberikan kenaikan besar lainnya pada Juli, tetapi “Kenaikan 75 basis poin hari ini adalah yang luar biasa besar dan saya tidak mengharapkan pergerakan sebesar ini menjadi hal biasa.”

Keputusan The Fed mendorong imbal hasil obligasi pemerintah Amerika yang berjangka waktu lebih lama lebih rendah dan mendorong dolar dari tertinggi dua dekade, yang membawa emas lebih tinggi.

Pembelian lindung nilai inflasi, potensi permintaan safe-haven versus tekanan dari rezim suku bunga yang lebih tinggi menjaga harga emas seimbang, Michael McCarthy dari Tiger Brokers mengatakan seperti dikutip oleh Reuters.

Data ekonomi yang dirilis Kamis (16/6) lebih lanjut mendukung emas. Departemen Tenaga Kerja AS melaporkan bahwa klaim pengangguran awal AS turun 3.000 menjadi 229.000 dalam pekan yang berakhir 11 Juni. Angka tersebut lebih tinggi dari ekspektasi pasar sebesar 215.000.

Departemen Perdagangan Amerika melaporkan bahwa jumlah pembangunan rumah baru dan perizinan untuk mendirikan bangunan (housing starts) anjlok 14,4% menjadi 1,55 juta pada Mei, merupakan level terendah sejak April 2020.

Logam mulia lainnya, perak untuk pengiriman Juli naik 46,5 sen AS atau 2,17%, menjadi ditutup pada USD21,885 per ounce. Platinum untuk pengiriman Juli naik USD26,5 atau 2,87%, menjadi ditutup pada USD951,10 per ounce.

Equity World | Harga Emas Naik Sih, Tapi Ntar Juga Turun Lagi…

Equity World | Harga Emas Naik Sih, Tapi Ntar Juga Turun Lagi…

Equity World | Harga emas masih menguat menjelang pengumuman kebijakan The Fed. Pada perdagangan Rabu (15/6/2022) pukul 14:38 WIB, harga emas dunia di pasar spot berada di US$ 1.820,2 per troy ons. Menguat 0,67%.

Equity World | Wall Street Naik, S&P 500 Menghentikan Penurunan 5 Sesi Setelah Pernyataan Powell

Harga emas sangat volatil sepanjang pekan ini. Emas biasanya menguat pada perdagangan pagi hingga sore tetapi kemudian ditutup melemah.

Dalam sepekan, harga emas masih melemah 1,8% secara point to point sementara dalam sebulan, harganya masih menguat 0,5%. Dalam setahun, harga emas sudah amblas 2,5%.

Michael Langford dari AirGuide mengatakan kenaikan harga emas karena dipicu investor yang melakukan pembelian dalam jumlah besar sebelum pengumuman The Fed.

“Harga emas kemungkinan akan stabil tetapi kemudian akan melemah pada minggu-minggu berikutnya. Pelemahan emas ke depan bahkan bisa membuat harganya turun ke kisaran US$ 1.800 per troy ons,” tutur Langford, kepada Reuters.

The Fed akan mengumumkan kebijakan pada Rabu waktu Amerika Serikat (Kamis dini hari WIB). Pasar kini berekspektasi The Fed akan menaikkan suku bunga acuan sebesar 75 bps. Ekspektasi tersebut lebih tinggi dibandingkan sebelumnya yakni 50 bps.

“Satu-satunya faktor penggerak emas sekarang adalah antisipasi kenaikan suku bunga acuan The Fed secara agresif. Jika kenaikan terlalu agresif maka itu dikhawatirkan bisa membawa AS ke resesi,” tutur Bob Haberkorn, dari RJO Futures.

Emas merupakan aset aman di tengah memburuknya perekonomian sehingga akan dicari saat terjadi resesi.

Equity World | Nggak Jelas! Harga Emas Naik-Turun Jelang Rapat The Fed

Equity World | Nggak Jelas! Harga Emas Naik-Turun Jelang Rapat The Fed

Equity World | Harga emas masih bergerak volatil. Pada perdagangan Rabu (15/6/2022) pukul 06:47 WIB, harga emas dunia di pasar spot berada di US$ 1.809,69 per troy ons. Harga emas menguat 0,09%.

Equity World | Wall Street Berakhir Variatif, Pasar Bearish Diramal Bertahan Lama

Harga emas sangat fluktuatif menjelang pengumuman kebijakan The Fed pada Rabu waktu AS (Kamis dini hari waktu Indonesia). Emas biasanya menguat pada perdagangan pagi hingga sore tetapi kemudian ditutup melemah.

Pada perdagangan Selasa (14/6/2022), emas ditutup melemah 0,6% di harga US$ 1.808,1 per troy ons. Padahal, laju emas sangat kencang pada perdagangan Selasa pagi hingga sore hari.

Dalam sepekan, harga emas masih melemah 2,4% secara point to point sementara dalam sebulan, harganya merosot 0,08%. Dalam setahun, harga emas juga amblas 3,1%.

Analis dari OANDA Edward Moya mengatakan pergerakan emas sulit diduga karena dihadapkan pada menguatnya dolar Amerika Serikat (AS) dan yield surat utang pemerintah AS.

“Dalam jangka pendek, emas akan dihadapkan pada situasi yang sulit. Namun, peran emas sebagai aset aman akan berlanjut. Emas hanya perlu bersaing dengan dolar AS. Keraguan pelaku pasar mengenai apakah perang melawan inflasi akan berhasil atau gagal akan menentukan pergerakan emas,” tutur Moya, kepada Reuters.

Sebagai catatan, The Fed menggelar pertemuan pada 14-15 Juni waktu AS. Pasar kini berekspektasi The Fed akan menaikkan suku bunga acuan sebesar 75 bps. Ekspektasi tersebut lebih tinggi dibandingkan sebelumnya yakni 50 bps.

“Jika suku bunga naik 75 bps, emas bisa bergerak melemah mungkin mengarah ke level US$ 1.800. Jika The Fed menaikkan suku bunga sebesar 50 bps maka pergerakan emas lebih baik dan bergerak di kisaran US$ 1.800-1.830,” tutur Fawad Razaqzada dari City Index.

Equity World | Kemarin Ambruk 2% Lebih, Harga Emas Naik Pagi Ini

Equity World | Kemarin Ambruk 2% Lebih, Harga Emas Naik Pagi Ini

Equity World | Pergerakan harga emas semakin volatil menjelang pertemuan The Fed. Pada perdagangan Selasa (14/6/2022) pukul 06:37 WIB, emas ada di harga US$ 1.820,65 per troy ons. Menguat 0,1%.

Equity World | nversi Yield Terbentuk, Wall Street Dibuka “Kebakaran” Lagi

Emas menguat pada pagi hari ini setelah hancur lebur pada hari sebelumnya. Pada perdagangan Senin (13/6/2022), harga emas anjlok 2,8% dan ditutup di harga US$ 1.818,77 per troy ons. Harga tersebut adalah yang terendah sejak 18 Mei lalu.

Dalam sepekan, harga emas melemah 1,7% secara point to point. Dalam sebulan emas masih menguat 0,5% sementara dalam setahun merosot 2,4%.

Pergerakan emas sangat volatil dalam sepekan terakhir karena faktor tarik menarik yang saling bertolak belakang. Inflasi Amerika Serikat (AS) yang melonjak 8,6% pada Mei membuat pelaku pasar berekspektasi jika The Fed akan menaikkan suku bunga sebesar 75 bps pada pertemuan pekan ini.

Kenaikan tersebut lebih besar dibandingkan ekspektasi sebelumnya yakni 50 bps. Sebagai informasi, The Fed akan menggelar Federal Open Market Committee (FOMC) meeting pada Selada dan Rabu pekan ini waktu AS.

Kenaikan suku bunga acuan akan melambungkan dolar AS dan yield surat utang pemerintah AS. Kondisi tersebut akan membuat emas kehilangan daya tariknya.
Namun, lonjakan inflasi AS juga membuat kekhawatiran akan resesi meningkat. Emas menjadi pilihan saat perekonomian memburuk.

“Tidak ada rasa aman dalam perdagangan apapun, karena itulah harga emas terlikuidasi. Ada koreksi besar-besaran pada emas dan volatilitasnya juga sangat tinggi. Anda benar-benar tidak menemukan keamanan atau kenyamanan di manapun saat ini,” tutur Phillip Streible, analis dari Blue Line Futures, seerti dikutip Reuters.

Equity World | Harga Emas Diprediksi Stabil, Saatnya Beli atau Tahan?

Equity World | Harga Emas Diprediksi Stabil, Saatnya Beli atau Tahan?

Equity World | Berdasarkan data terbaru dari Institute of Supply Management (ISM), harga emas bertahan di USD 1.860 per ounce karena momentum di sektor jasa sedikit lebih lemah dari yang diharapkan pada Mei.

Equity World | Data Inflasi AS Mengkhawatirkan, Investor Mulai Tinggalkan Wall Street

Dikutip dari Kitco.com, Senin (13/6/2022), Indeks Manajer Pembelian Non-Manufaktur berada di angka 55,9 persen bulan lalu, turun dari 57,1 persen di bulan April. Penurunan 1,2 poin persentase agak mengecewakan pasar, dengan perkiraan konsensus menyerukan indeks untuk berada di 56,4 persen.

Angka di atas 50 dilihat sebagai tanda pertumbuhan ekonomi semakin jauh suatu indikator berada di atas atau di bawah 50, semakin besar atau kecil tingkat perubahannya. Mei menandai pembacaan terendah sejak Februari 2021, ketika indeks juga berada di 55,9 persen.

Melihat lebih detail, sub-indeks pesanan baru berada di 57,6 persen, mengikuti pembacaan April di 54,6 persen. Sub indeks kegiatan usaha berada pada level 54,5 persen dibandingkan 59,1 persen pada bulan sebelumnya.

Indeks ketenagakerjaan kembali ke wilayah ekspansi, naik menjadi 50,2 persen setelah pembacaan April 49,5 persen. Para ekonom mencermati angka terakhir sebagai ukuran situasi ketenagakerjaan di negara tersebut.

“COVID-19 terus mengganggu sektor jasa, serta perang di Ukraina. Tenaga kerja masih menjadi masalah besar, dan harga terus meningkat,” kata laporan itu.

Sementara itu, tekanan inflasi turun dari level tertinggi sepanjang masa yang tercatat di bulan April, dengan indeks harga turun menjadi 82,1 persen di bulan Mei dari 84,6 persen bulan sebelumnya. Sederet sentimen ini yang masih memperngaruhi harga emas minggu ini.

Emas sebagian besar tidak berubah karena mempertahankan level USD 1.860 per ons setelah rilis data. Emas berjangka Comex Agustus terakhir diperdagangkan pada USD 1,863.10, turun 0,44 persen hari ini. Emas lebih sensitif terhadap data non-farm payrolls yang diterbitkan sebelumnya pada hari Jumat.

Analis senior Kitco Jim Wyckoff, mengatakan laporan situasi pengangguran AS yang baru dirilis untuk Mei menunjukkan non-farm payrolls AS naik 390.000. Jumlah itu diperkirakan akan menunjukkan kenaikan 328.000. Kenaikan 428.000 dilaporkan dalam data April.

“Tingkat pengangguran di bulan Mei mencapai 3,6 persen dan diharapkan menjadi 3,5 persen versus 3,6 persen yang dilaporkan di bulan April. Angka pendapatan rata-rata per jam yang diawasi ketat menunjukkan kenaikan 5,24 persen per tahun, ” pungkas Wyckoff.

Harga emas hari ini yang dijual PT pegadaian (Persero) kompak naik lagi. Harga emas Pegadaian hari ini naik untuk semua jenis dan ukuran.

Adapun Pegadaian menjual berbagai jenis emas dari emas Antam, Batik Antam, emas Retro dan emas UBS. Dengan ukuran dari terkecil sebesar 0,05 gram hingga 1.000 gram.

Melansir laman Pegadaian, Minggu (12/6/2022), harga emas jenis Antam misalnya, ukuran 0,5 gram dijual sebesar Rp 567.000 dari sebelumnya Rp 562.000 per gram.

Kemudian emas UBS ukuran 0,5 dijual Rp 523.000 dari sebelumnya Rp 515.000 ribu per gram.

Masyarakat bisa mengetahui perubahan harga emas Pegadaian melalui laman resminya di http://www.pegadaian.co.id.

Equity World | Bursa Saham Asia Tergelincir Usai Inflasi China Meningkat

Equity World | Bursa Saham Asia Tergelincir Usai Inflasi China Meningkat

Equity World | Bursa saham Asia Pasifik tergelincir pada perdagangan Jumat pagi (10/6/2022), seiring investor menantikan rilis data inflasi Mei dari China dan Amerika Serikat (AS).

Equity World | Wall Street Anjlok, Saham Amazon hingga Apple Terjun Bebas

Di daratan China, indeks Shanghai melemah 0,57 persen, dan indeks Shenzhen merosot 0,46 persen. Inflasi produsen China pada Mei 2022 menguat sesuai harapan. Indeks harga produsen China pada Mei 2022 naik 6,4 persen, dan ini sejalan dengan polling Reuters.

Sementara itu, inflasi konsumen China pada Mei 2022 juga menguat sesuai harapan. Indeks harga konsumen melonjak 2,1 persen, ini di bawah polling Reuters di kisaran 2,2 persen. Demikian mengutip CNBC, Jumat pekan ini.

Indeks Hong Kong Hang Seng melemah 1,44 persen seiring saham Tencent turun 2,13 persen. Saham Alibaba jatuh hampir 3 persen pada perdagangan Jumat pagi setelah grup Ant Jack Ma dan regulator China menghentikan pembicaraan tentang hidupkan kembali pencatatan Ant. Saham Alibaba yang terdaftar di AS turun 8,13 persen pada Kamis pekan ini setelah pengumuman tersebut.

Indeks Nikkei 225 Jepang turun 1,27 persen karena saham SoftBank Group turun 2,88 persen. Indeks Kospi Korea Selatan turun 1,34 persen. Indeks S&P/ASX 200 di Australia turun 0,76 persen. Indeks MSCI dari saham Asia Pasifik di luar Jepang diperdagangkan 0,42 persen lebih rendah.

Semalam di Amerika Serikat, S&P 500 tergelincir 2,38 persen menjadi 4.017,82. Dow Jones Industrial Average jatuh 638,11 poin, atau 1,94 persen, menjadi 32.272,79. Nasdaq Composite yang berbasis teknologi turun 2,75% menjadi 11.754,23.

Indeks USD berada di 103,30 setelah baru-baru ini melintasi level 103. Yen Jepang diperdagangkan pada 134,37 per dolar, berjuang untuk pulih setelah melemah dari level di bawah 132 terhadap greenback awal pekan ini. Dolar Australia berada di 0,7098 menyusul penurunan baru-baru ini dari atas 0,714.

Harga minyak lebih rendah di pagi hari jam perdagangan Asia, dengan patokan internasional minyak mentah berjangka Brent turun 0,23 persen menjadi USD 122,79 per barel. Minyak mentah berjangka AS tergelincir 0,21 persen menjadi USD 121,26 per barel.

Sebelumnya, bursa saham Amerika Serikat (AS) atau wall street merosot tajam pada perdagangan Kamis, 9 Juni 2022. Koreksi wall street ini terjadi jelang laporan inflasi utama karena investor tentang keadaan ekonomi AS.

Pada penutupan perdagangan wall street, indeks Dow Jones anjlok 638,11 poin atau 1,94 persen ke posisi 32.272,79. Indeks S&P 500 merosot 2,38 persen menjadi 4.017,82. Indeks Nasdaq tergelincir 2,75 persen ke posisi 11.754,23.

Sektor saham teknologi berjuang dengan saham Meta Platforms terperosok 6,4 persen dan Amazon turun lebih dari 4 persen. Saham shoppingmode Apple turun 3,6 persen. Saham kasino mencatat kinerja terburuk di indeks sektor saham S&P 500.

Saham Las Vegas Sands turun 5,6 persen dan Caesars Entertainment melemah 3,8 persen. Saham teknologi China membalikkan kenaikan baru-baru ini dan menyeret indeks Nasdaq dengan Pinduoduo merosot 9,6 persen.

Di sisi lain, saham Boeing mencatat kinerja buruk di Dow. Saham Boeing melemah lebih dari 4 persen. Koreksi saham terjadi menjelang laporan indeks harga konsumen Mei 2022 pada Jumat waktu setempat. Investor mencari petunjuk untuk melihat apakah inflasi telah mencapai puncaknya atau apakah the Federal Reserve perlu lebih agresif untuk menekan kenaikan harga.

“Fakta bahwa orang-orang telah benar-benar membicarakan laporan ini selama beberapa hari terakhir menggambarkan seberapa besar masalah inflasi bagi pasar selama enam bulan terakhir sejak ketua the Fed Powell pertama kali mulai mengambil pendekatan inflasi yang lebih hawkish,” tulis Bespoke Investment Group kepada klien mengutip laman CNBC, Jumat (10/6/2022).

Sebagian besar sesi perdagangan, laju saham sedikit lebih rendah sebelum aksi jual meningkat pada jam terakhir. Indeks Dow berada di bawha 32.700 sebelum jam 3 sore waktu setempat di New York, tetapi indeks turun lebih dari 400 poin. Indeks volatilitas Cboe sering disebut sebagai pengukur ketakutan wall street naik lebih dari dua poin menjadi ditutup di atas 26 untuk pertama kalinya bulan ini.

Investor telah menilai kesehatan ekonomi Amerika Serikat dalam beberapa pekan terakhir, karena the Fed telah mulai menaikkan suku bunga untuk meredam inflasi tanpa membawa ekonomi ke dalam resesi.

Di sisi lain, harga energi yang lebih tinggi dan gangguan rantai pasokan yang berkelanjutan telah membuat inflasi tetap tinggi dalam beberapa bulan terakhir, sementara beberapa data ekonomi menunjukkan pertumbuhan yang melambat dalam beberapa pekan terakhir.

“Sayangnya kita tidak akan mendapatkan banyak pandangan bersih pada ekonomi, apakah ekonomi AS atau tentu saja ekonomi global untuk beberapa waktu karena ada begitu banyak hal yang sulit diuraikan,” ujar Senior US Macro Strategist Truist Michale Skordeles.

Harga minyak turun sedikit pada Kamis, 9 Juni 2022, tetapi harga minyak mentah West Texas Intermediate masih bertahan di atas USD 120 per barel. Klaim pengganguran awal naik menjadi 229.000 pekan lalu lebih buruk dari perkiraan 210.000.

Indeks S&P 500 melemah lebih dari 16 persen dari rekor tertingginya, tetapi sebagian besar diperdagangkan sideways dalam beberapa pekan terakhir setelah memantul dari level terendah baru-baru ini pada Mei 2022. Indeks S&P 500 turun lebih dari dua persen pekan ini.

Senior Portfolio Manager Morgan Stanley Investment Management, Andrew Slimmon menuturkan, saham akan menguat pada 2022 tetapi berada dalam perjalanan yang bergejolak selama musim panas ke posisi terendah pada Mei 2022.

“Saya tidak melihat penurunan substansial di bawah ini karena saya yakin, meskipun harga minyak lebih tinggi dan harga pangan lebih tinggi, ekonomi akan mampu menahan goncangan yang dihadapi sekarang,” ujar dia.

Selain itu, saham tampaknya bergerak berlawanan dengan imbal hasil obligasi pada Kamis pekan ini setelah pembaruan dari bank sentral Eropa.

Bank sentral Eropa konfirmasi rencana menaikkan suku bunga pada Juli dan September 2022. Bank sentral Eropa juga menaikkan proyeksi inflasi pada 2022 menjadi 6,8 persen naik dari 5,1 persen sebelumnya dan menurunkan prospek pertumbuhannya.

Equity World | Harga Emas Dunia Menguat Tipis dalam Perdagangan yang Berombak

Equity World | Harga Emas Dunia Menguat Tipis dalam Perdagangan yang Berombak

Equity World | Harga emas naik tipis pada perdagangan yang sangat berombak sepanjang Rabu. Sentimen yang saling tarik – menarik dan mempengaruhi harga emas adalah kekhawatiran akan inflasi yang tinggi dengan rencana kenaikan suku bunga bank sentral AS atau the Federal Reserve (the Fed).

Equity World | Pasar Saham Asia: Pertumbuhan dan Kekhawatiran Inflasi Membuat Penjual Tetap Berharap Menjelang ECB dan IHK AS

Pertumbuhan ekonomi bisa mendorong daya tarik instrumen safe haven seperti emas menjelang keluarnya data data inflasi AS. Namun kenaikan inflasi in ibisa menjadi sebuah pertanda bagi the Fed untuk menaikkan suku bunga.

Mengutip CNBC, Kamis 9/6//2022), harga emas dunia di pasar spot naik sedikit lebih tinggi menjadi USD 1.852,25 per ons. Sementara harga emas berjangka AS naik 0,17 persen ke level USD 1.855,3 per ons.

“Kami melihat mentalitas tarik – menarik di pasar emas. Sekarang fokusnya adalah pada data IHK hari Jumat untuk melihat apakah inflasi sebenarnya mulai sedikit mundur atau terus berjalan lebih cepat dari yang diharapkan,” kata Direktur Perdagangan Logam High Ridge Futures, David Meger.

Ia melanjutkan, harga emas juga menghadapi tantangan dari the Fed yang sekarang tampaknya berkomitmen untuk memerangi inflasi yang melonjak.

Menteri Keuangan AS Janet Yellen mengatakan tingkat inflasi tahunan saat ini sebesar 8 persen dan hal ini tidak dapat diterima untuk Amerika Serikat yang memiliki target inflasi 2 persen.

Meskipun dilihat sebagai lindung nilai inflasi, emas sensitif terhadap kenaikan suku bunga yang meningkatkan biaya peluang memegang emas batangan yang tidak memberikan imbal hasil.

Analis senior OANDA Edward Moya menambahkan, emas juga diuntungkan dari beberapa aliran safe-haven yang didorong oleh meningkatnya kekhawatiran pertumbuhan ekonomi di tengah memburuknya selera risiko.

Di sisi jual beli fisik, bagaimanapun, konsultan Metals Focus mengatakan permintaan emas akan turun tahun ini di tengah penjualan perhiasan yang lebih lemah dan investasi ritel di China karena penguncian COVID-19 dan perlambatan ekonomi.

Harga emas diperkirakan akan bergerak stabil di kisaran USD 1.850 per ounce sepanjang pekan ini. Harga emas di pekan ini akan dipengaruhi tarik ulur antara kenaikan suku bunga Bank Sentral AS atau the Federal Reserve (the Fed) dengan kenaikan angka inflasi.

Dalam survei harga emas yang dilakukan ole Kitco, sebagian besar analis memperkirakan harga emas akan naik pada minggu ini. Namun angka kenaikannya tidak akan besar karena masih ada tantangan yang harus dihadapi oleh logam mulia tersebut.

Sedangkan para pelaku pasar juga sebagian besar menginginkan harga emas bisa naik pada pekan ini. Namun juga banyak yang memperkirakan harga emas akan mengalami tekanan.

Dikutip dari survei Kitco, Senin (6/6/2022), pada akhir pekan kemarin sebanyak 15 analis di Wall Street berpartisipasi dalam survei emas Kitco News. Di antara peserta, tujuh analis atau 47 persen menyerukan harga emas naik minggu depan.

Pada saat yang sama, lima analis atau 36 persen menyatakan harga emas akan bearish dalam waktu dekat. Sedangkan tiga analis atau 20 persen memilih untuk netral pada harga emas.

Sedangkan dalam polling online, 637 suara atau pelaku pasar ikut ambil bagian. Dari jumlah tersebut, 448 responden atau 70 persen memperkirakan harga emas akan naik minggu ini.

Sedangkan 117 responsen lainnya atau 18 persen mengatakan harga emas akan lebih rendah. Sementara 72 pemilih atau 11 persen netral dalam waktu dekat.

Pada minggu lalu, harga emas ditutup di atas USD 1.850 per ounce. Ini adalah level psikologis yang kritis. Harga emas sedang berjuang untuk menemukan momentum bullish yang konsisten.

Emas telah berhasil mempertahankan posisinya di atas garis menyusul data ketenagakerjaan yang lebih kuat dari perkiraan. Biro Statistik Tenaga Kerja AS mengatakan 390 ribu pekerjaan diciptakan pada Mei, mengalahkan ekspektasi ekonom sekitar 325 ribu.

Kepala analis Blue Line Futures Phillip Streible mengatakan, prospek teknis emas tetap konstruktif. Namun, perspektif fundamental bakal keruh. Dia menambahkan, data ekonomi mendukung tindakan kebijakan moneter agresif lebih lanjut.

“The Fed akan tetap tegas hawkish dan kita bisa melihat lebih dari dua pergerakan 50 basis poin,” katanya.

“Namun, inflasi tetap menjadi masalah dan masih terlalu tinggi. Volatilitas pasar juga meningkat. Untuk saat ini harga emas terjebak di tengahnya.” tambah dia.

Kepala analis komoditas Saxo Bank Ole Hansen mengatakan, meskipun penurunan harga emas dapat dilihat sebagai peluang pembelian jangka panjang, dia berpanjangan netral terhadap emas minggu ini dan dia memperkirakan harga tetap di bawah USD 1.870 per ounce.

Adrian Day, presiden Adrian Day Asset Management, mengatakan bahwa dia memperkirakan harga emas bullish.

“Laporan pekerjaan AS hanya akan memberi the Fed alasan untuk melanjutkan pengetatan, tetapi ekonomi tidak cukup kuat untuk mempertahankan pengetatan yang berarti tanpa menyebabkan kerusakan ekonomi. Periode stagflasi di depan, dan itu positif untuk emas,” katanya.

Sementara beberapa analis tetap memperkirakan harga emas akan naik dalam jangka panjang, mereka telah mencatat bahwa dolar AS tetap menjadi angin kritis, terutama karena Federal Reserve menaikkan suku bunga.

“Dengan nonfarm payrolls mengalahkan ekspektasi, tampaknya tidak ada alasan bagi Fed untuk memperlambat pengetatan. Pada berita ini, imbal hasil Treasury AS mulai naik lagi, mendorong USD relatif terhadap mata uang lainnya, termasuk emas. berubah nanti dalam seminggu di sekitar pertemuan ECB; kita akan lihat, “kata Kepala anais SIA Wealth Management Colin Cieszynski.

Design a site like this with WordPress.com
Get started