Equity World | Bursa Asia Mayoritas Menguat di Pagi Ini (13/7) Sambil Menanti Data Perdagangan China

Equity World | Bursa Asia Mayoritas Menguat di Pagi Ini (13/7) Sambil Menanti Data Perdagangan China

Equity World | Bursa Asia bergerak menguat pada awal perdagangan hari ini. Rabu (13/7), pukul 08.21 WIB, indeks Nikkei 225 menguat 0,67% ke 26.512,73. Sejalan, indeks Hang Seng naik 0,32% ke 20.911,53.

Equity World | Harga Emas Berjangka Turun Jelang Rilis Data Inflasi AS

Indeks Taiex melesat 3,06% ke 14.377,74. Indeks Kospi pun menguat 0,82% ke 2.336,85 dan indeks ASX 200 naik 0,11% ke 6.613,7

Sementara itu, FTSE Straits Times naik 0,07% ke 3.147,84 dan FTSE Malay turun 0,56% ke 1.418,07.

Bursa Asia bergerak naik pada awal perdagangan hari ini. Walau begitu, pergerakan hati-hati masih terlihat karena investor masih menanti data perdagangan China dan keputusan suku bunga dari sejumlah bank sentral di kawasan yang akan dilakukan pekan ini.

Data perdagangan China yang akan dirilis hari ini adalah ekspor impor. Di mana, dalam jajak pendapat Reuters, ekspor China diperkirakan tumbuh 12% dan impor naik 3,9%.

Sementara itu, Bank of Korea (BOK) diproyeksi menaikkan suku bunga sebesar 50 bps untuk pertama kalinya. Reserve Bank of New Zealand pun diperkirakan mengerek suku bunga 50 bps pada pertemuan pekan ini.

Dari bursa saham Amerika Serikat (AS), Wall Street ditutup koreksi pada sesi sebelumnya. Tiga indeks utama berbalik melemah setelah tekanan jual jelang perdagangan berakhir.

Di mana, indeks Dow Jones Industrial Average turun 0,62% menjadi 30.981,33, indeks S&P 500 melemah 0,92% ke 3.818,80 dan Nasdaq Composite koreksi 0,95% menjadi 11.264,73.

Pelaku pasar juga menanti data inflasi AS yang dirilis hari ini. Pasar mengharapkan inflasi di Negeri Paman Sam tetap pas dan menjaga asa The Fed untuk tetap di jalur pengetatan moneter.

Equity World | Jelang Laporan Keuangan Emiten, Wall Street Tergelincir

Equity World | Jelang Laporan Keuangan Emiten, Wall Street Tergelincir

Equity World | Saham-saham di Wall Street melemah pada akhir perdagangan Senin (Selasa pagi) karena kurangnya katalis membuat para pelaku pasar dengan hati-hati memulai pekan yang sarat dengan data inflasi penting dan awal tidak resmi untuk musim laporan keuangan emiten kuartal kedua.

Equity World | Dolar Meroket ke Level Tertinggi Baru Kurun Dua Dekade, Harga Emas Jatuh

Indeks Dow Jones Industrial Average tergelincir 164,31 poin atau 0,52 persen, menetap di 31.173,84 poin. Indeks S&P 500 merosot 44,95 poin atau 1,15 persen, berakhir di 3.854,43 poin. Indeks Komposit Nasdaq terpangkas 262,71 poin atau 2,26 persen, ditutup di 11.372,60 poin.

Sembilan dari 11 sektor utama S&P 500 berakhir di zona merah, dengan sektor jasa-jasa komunikasi dan konsumen non-primer masing-masing jatuh 2,80 persen dan 2,76 persen, memimpin penurunan. Sementara itu, sektor utilitas dan real estat menambah keuntungan moderat.

Saham-saham pertumbuhan di pasar menarik ketiga indeks saham utama AS ke wilayah negatif, dengan sentimen penghindaran risiko diperburuk oleh penutupan kasino pertama Makau dalam lebih dari dua tahun untuk mengekang penyebaran covid-19.

“Ini adalah pasar yang gugup,” kata Ahli Strategi Investasi Senior di US Bank Wealth Management di Seattle, Rob Haworth dikutip dari Antara, Selasa, 12 Juli 2022.

“Kami tahu inflasi didorong oleh kendala pasokan, dan Tiongok merupakan faktor penting,” tambah Haworth.

Hasil dari bank-bank besar, termasuk JPMorgan Chase & Co, Citigroup Inc, dan Wells Fargo & Co, diperkirakan akan meluncurkan musim pelaporan kuartal kedua akhir pekan ini. Indeks Perbankan S&P 500 turun 1,0 persen.

Analis memperkirakan penurunan tajam laba dalam setahun karena perusahaan-perusahaan meningkatkan cadangan kerugian pinjaman mereka, memicu kekhawatiran resesi yang akan datang.

“Kami memperkirakan perlambatan, yang akan menempatkan Federal Reserve dalam sikap yang lebih lunak, tetapi di sisi lain, ada banyak alasan untuk percaya bahwa inflasi dapat tetap tinggi dan The Fed akan tetap agresif,” jelas dia.

Pasar saat ini memperkirakan bahwa bank sentral akan menaikkan suku bunga Fed sebesar 75 basis poin dalam salvo terbarunya terhadap inflasi yang panas, sebuah taktik yang dikhawatirkan beberapa pihak dapat mengarahkan ekonomi yang sudah mendingin ke dalam resesi.

Pada Jumat, 8 Juli 2022, para analis memperkirakan pertumbuhan agregat laba S&P tahunan 5,7 persen untuk periode April hingga Juni, turun dari perkiraan 6,8 persen pada awal kuartal, menurut Refinitiv.

Twitter Inc anjlok 11,3 persen setelah Elon Musk mengatakan dia mengakhiri kesepakatannya untuk membeli perusahaan media sosial tersebut.

Saham operator kasino AS Las Vegas Sands, Wynn Resorts dan Melco Resorts turun antara 6,3 persen dan 9,6 persen setelah Makau menutup semua kasino untuk menahan wabah covid-19 terburuk sejak krisis kesehatan dimulai.

Volume transaksi di bursa AS mencapai 9,33 miliar saham, dibandingkan dengan rata-rata 12,92 miliar selama 20 hari perdagangan terakhir.

Equity World | Harga Emas Dibayangi Kenaikan Suku Bunga The Fed, Inflasi dan Resesi

Equity World | Harga Emas Dibayangi Kenaikan Suku Bunga The Fed, Inflasi dan Resesi

Equity World | Setelah turun USD 60 pekan lalu, harga emas tetap rentan terhadap aksi jual yang lebih besar. Pasalnya, pasar tengah bersiap untuk kenaikan agresif suku bunga The Fed pada pertemuan Juli 2022 ini.

Equity World | Harga Emas Antam Stagnan di Level Rp 969.000 Per Gram

Namun, para analis berfokus pada dasar harga potensial yang akan memicu momentum perputaran untuk harga logam mulia.

Pasar emas saat ini terpukul oleh penguatan indeks dolar AS, yang mengambil banyak minat safe-haven di tengah meningkatnya kekhawatiran resesi.

“Harga emas telah jatuh ke level yang terakhir terlihat pada September 2021 dan secara teknis diperdagangkan di wilayah oversold,” kata analis logam mulia Standard Chartered, Suki Cooper dikutip dari laman Kitco, Senin (11/7/2022).

“Sementara harga emas terperangkap di antara risiko inflasi yang meningkat dan kekhawatiran yang berkembang atas resesi, emas telah kembali mengambil isyarat dari USD, yang telah diuntungkan dari arus safe-haven atas emas,” imbuhnya.

Di sisi lain, data per Jumat (8/7/2022) lalu telah meyakinkan pasar, The Fed akan melanjutkan kenaikan suku bunga acuan sebesar 75 basis poin (bps) pada pertemuan Juli.

“Yang penting dari sini bagi investor bukanlah seberapa cepat The Fed menaikkan suku bunga, tetapi seberapa tinggi mereka harus melakukannya untuk memperlambat ekonomi,” kata ahli strategi investasi senior Allianz Investment Management, Charlie Ripley.

Analis melihat lebih banyak risiko penurunan untuk emas, sampai kisaran USD 1.700 per ounce atau bahkan berpotensi USD 1.650 per ounce. Namun, analis pasar senior OANDA Edward Moya menilai, itu bakal jadi kisaran harga terendah dimana investor kembali ke logam pada level harga tersebut.

“Begitu harga emas USD 1.800 per ounce pecah pekan ini, tekanan jual luar biasa. Jika keadaan menjadi jelek, harga emas bisa mencapai USD 1.650-1.675. ini jadi momen pembeli untuk kembali. Emas rentan terhadap penurunan ini. Itu level kuncinya,” tegas Moya.

Sementara Cooper mengamati USD 1.690 per ounce, menyoroti level ini sebagai dasar harga emas yang lebih lemah. Dia juga menggambarkan periode Juli sebagai periode musiman yang lambat untuk permintaan.

“Emas memiliki premi safe-haven untuk saat ini, tetapi telah terkikis secara signifikan. Kami berharap emas terus mengikuti petunjuk dari pergerakan makro. Dengan demikian, harga dapat menguji lebih rendah di akhir tahun, tetapi kekhawatiran tentang inflasi akan membatasi penurunan,” tuturnya.

Pada akhir pekan lalu, harga emas turun untuk pekan keempat berturut-turut akibat tertekan oleh kenaikan dolar Amerika Serikat (AS) dan prediksi kenaikan suku bunga Bank Sentral AS atau Federal Reserve (The Fed) yang curam.

Dikutip dari CNBC, Sabtu (9/7/2022), harga emas di pasar spot naik 0,2 persen menjadi USD 1.742,3 per ounce. Harga emas batangan (Bullion) turun 3,29 persen sepanjang minggu ini, yang akan menjadi yang terburuk sejak pertengahan Mei.

Sedangkan harga emas berjangka AS sedikit berubah menjadi USD 1.740.

Akhir-akhir ini, harga emas gagal menarik aliran safe-haven meskipun risiko resesi meningkat karena investor malah memilih dolar, yang telah naik ke level tertinggi baru dua dekade.

“Data pekerjaan menekan emas, sudah berjuang setelah reli dolar yang begitu kuat. Namun, ada beberapa bargain hunting yang terjadi di sini,” kata Ahli Strategi Pasar Senior RJO Futures Bob Haberkorn.

Pertumbuhan pekerjaan AS lebih dari yang diharapkan pada bulan Juni dan tingkat pengangguran tetap mendekati posisi terendah sebelum pandemi, menandakan kekuatan pasar tenaga kerja yang terus-menerus yang memberi amunisi Federal Reserve untuk memberikan kenaikan suku bunga 75 basis poin lagi akhir bulan ini.

Suku bunga yang lebih tinggi merusak daya tarik emas dengan diterjemahkan ke dalam peningkatan biaya peluang memegang aset karena tidak menghasilkan bunga.

“Dalam jangka pendek, kami masih melihat emas didukung oleh risiko resesi. Setelah koreksi baru-baru ini, kami memperkirakan harga akan berkonsolidasi,” kata Carsten Menke, Kepala Riset Generasi Berikutnya di Julius Baer.

“Rebound yang bertahan lama terlihat agak tidak mungkin dengan asumsi bahwa Fed mampu melawan inflasi tanpa mendorong ekonomi ke dalam resesi,” lanjut dia.

Di pasaran, permintaan sedikit meningkat di India setelah harga domestik turun, sementara kekhawatiran atas wabah virus corona baru terus membatasi aktivitas di konsumen utama China.

Di tempat lain, harga perak naik 0,4 persen menjadi USD 19,27 per ounce, sementara platinum naik 2 persen menjadi USD 890,435.

Harga paladium naik 8,9 persen menjadi USD 2.167,18, membukukan kenaikan minggu ketiga berturut-turut.

Equity World | Sinyal Positif Untuk IHSG, Bursa Asia Cerah!

Equity World | Sinyal Positif Untuk IHSG, Bursa Asia Cerah!

Equity World | Bursa Asia-Pasifik dibuka bergairah pada perdagangan Jumat (8/7/2022). Pergerakan ini menyusul bursa saham Amerika Serikat (AS) yang juga bergairah pada perdagangan Kamis waktu setempat.

Equity World | Kompak Dengan Bursa Asia, IHSG Anteng di Zona Hijau pada Sejam Perdagangan

Indeks Nikkei Jepang dibuka menguat 0,51%, Hang Seng Hong Kong melonjak 1,33%, Shanghai Composite China bertambah 0,52%, Straits Times Singapura naik 0,25%, ASX 200 Australia terapresiasi 0,38%, dan KOSPI Korea Selatan melesat 1,02%.

Bursa Asia-Pasifik yang cenderung bergairah terjadi di tengah kembali bergairahnya bursa saham AS, Wall Street pada perdagangan Kamis kemarin waktu setempat, jelang rilis data tenaga kerja yang menjadi salah satu indikator penting kesehatan ekonomi AS.

Indeks Dow Jones Industrial Average (DJIA) ditutup melesat 1,12% ke posisi 31.384,55, S&P 500 melejit 3.902,62, dan Nasdaq Composite terbang 2,28% ke 11.621,35.

Wall Street masih mampu menguat meski data yang dirilis pada Kamis kemarin menunjukkan klaim tunjangan pengangguran mingguan menjadi 235.000 klaim, tertinggi sejak 15 Januari lalu. Rilis tersebut juga lebih tinggi dari hasil survei yang dilakukan Dow Jones sebesar 230.000 klaim.

Inflasi yang tinggi serta kenaikan suku bunga yang agresif oleh bank sentral AS (Federal Reserve/The Fed) mulai menunjukkan menunjukkan dampaknya ke pasar tenaga kerja. Di bulan ini, The Fed bahkan akan kembali menaikkan suku bunga sebesar 50 – 75 basis poin (bp).

Banyak investor merasa sulit mempercayai kenaikan tersebut karena kekhawatiran terhadap resesi terus membayangi Wall Street dan pasar keuangan global. Pelaku pasar memprediksikan bahwa musim rilis kinerja keuangan akan bergejolak bulan ini.

“Jadi, saya pikir kita masih memiliki musim panas ini untuk mengawasi apa yang dilakukan The Fed dan mengawasi apa yang terjadi pada kebijakan internasional untuk melihat arah inflasi,” tutur Direktur Pelaksana UBS Private Wealth Management Alli McCartney dikutip CNBC International.

Pada malam hari ini waktu Indonesia, data tenaga kerja Negeri Paman Sam pada periode Juni 2022 akan dirilis. Data tersebut terdiri dari penyerapan tenaga kerja di luar sektor pertanian (non-farm payrolls/NFP), tingkat pengangguran, dan perubahan rata-rata upah per jam.

Data ini merupakan salah satu indikator yang digunakan The Fed dalam menetapkan kebijakan moneter, selain data inflasi tentunya.

Selain itu, Indeks Kesengsaraan (Misery Index) yang mengukur tingkat kesulitan ekonomi yang dirasakan masyarakat juga mulai menanjak. Data ini dipublikasikan oleh Federal Reserve Economic Data (FRED), mencapai 12% pada Mei lalu.

Level yang sama terjadi pada awal pandemi virus corona (Covid-19) dan awal krisis finansial 2008. Artinya, tingkat kesulitan ekonomi yang dirasakan sama seperti sebelum krisis finansial global dan awal pandemi Covid-19, dan keduanya berujung pada resesi di AS.

Selain itu, imbal hasil (yield) obligasi pemerintah AS (US Treasury) kembali mengalami inversi, yang menjadi sinyal awal terjadinya resesi. Inversi tersebut terjadi setelah yield Treasury tenor 2 tahun lebih tinggi ketimbang tenor 10 tahun.

Pada perdagangan kemarin, yield Treasury tenor 2 tahun mencapai posisi 3,014%, sedangkan yield Treasury tenor 10 tahun naik ke 2,996%.

Dalam kondisi normal, yield obligasi tenor lebih panjang akan lebih tinggi dari yield obligasi tenor pendek. Tetapi ketika inversi terjadi, maka posisinya terbalik.

Sebelumnya inversi juga terjadi pada April lalu, dan menjadi sinyal kuat akan terjadinya resesi di Negeri Paman Sam.

Equity World | Wall Street Menguat, Dow Jones Naik 0,23%

Equity World | Wall Street Menguat, Dow Jones Naik 0,23%

Equity World | Laju saham di Wall Street menguat pada akhir perdagangan Rabu (Kamis pagi WIB) karena investor mencerna petunjuk baru tentang pendekatan bank sentral AS terhadap kebijakan suku bunga dan pertarungan melawan inflasi yang dirinci dalam risalah pertemuan Federal Reserve terbaru.

Equity World | Wall Street Naik, Investor Cerna Petunjuk Kebijakan The Fed

Indeks Dow Jones Industrial Average naik 69,86 poin atau 0,23 persen, menjadi 31.037,68 poin. Indeks S&P 500 naik 13,69 poin atau 0,36 persen, menjadi berakhir di 3.845,08 poin. Indeks Komposit Nasdaq terangkat 39,61 poin atau 0,35 persen, menjadi 11.361,85 poin.

Delapan dari 11 sektor utama S&P 500 berakhir di zona hijau, dengan sektor utilitas dan teknologi masing-masing terdongkrak 1,01 persen dan 0,88 persen, melampaui sisanya. Sementara itu, sektor energi tergelincir 1,74 persen, menjadikannya kelompok berkinerja terburuk.

Setelah aksi jual brutal di pasar ekuitas global pada paruh pertama tahun ini, investor yang terus mencermati tindakan bank sentral saat mereka mencoba menilai dampak kenaikan suku bunga agresif terhadap pertumbuhan global.

Investor mendapatkan poin data terbaru ketika risalah pertemuan kebijakan 14-15 Juni merinci bagaimana bank sentral AS diminta untuk melakukan kenaikan suku bunga yang terlalu besar.

Risalah tersebut merupakan pernyataan ulang yang tegas dari niat The Fed untuk mengendalikan harga-harga guna mengatasi inflasi yang membandel dan kekhawatiran tentang hilangnya kepercayaan pada kekuatan bank sentral.

Kenaikan 0,75 persentase poin yang keluar dari pertemuan itu adalah yang pertama dari ukuran itu sejak 1994. Menurut risalah, para peserta menilai bahwa peningkatan 50 atau 75 basis poin kemungkinan akan sesuai pada pertemuan kebijakan akhir bulan ini.

Sebelum publikasi risalah tersebut, investor telah memperkirakan kenaikan suku bunga 75 basis poin pada pertemuan 26-27 Juli mendatang, yang berarti fakta bahwa baik 50 basis poin maupun 75 basis poin menunjuk ke arah Fed yang mengakui dampak kenaikan suku bunganya terhadap perekonomian.

Risalah tersebut mencerminkan kekhawatiran peserta tentang kenaikan suku bunga yang memiliki potensi dampak pada pertumbuhan ekonomi.

“Saya pikir orang-orang sangat fokus pada tingkat dari kenaikan Federal Reserve, dan perdebatan 50-75 hanya menunjukkan ke mana Anda akan berakhir,” kata Kepala Investasi Kekayaan Pribadi di Glenmede Jason Pride dikutip dari Antara, Kamis, 7 Juli 2022.

Dia mencatat bahwa kenaikan 50 basis poin akan mengarah ke suku bunga terminal (tingkat suku bunga pada akhir siklus pengetatan kebijakan moneter bank sentral) 3,0 persen, sementara 75 basis poin menunjukkan puncak 3,25 persen atau 3,5 persen. Pada 3,5 persen atau lebih, kemungkinan resesi adalah sekitar 50 persen.

Saham Uber Technologies Inc dan DoorDash Inc masing-masing anjlok 4,5 persen dan 7,4 persen, setelah Amazon.com Inc setuju untuk mengambil 2 persen saham di bisnis pengiriman makanan AS Just Eat Takeaway.com yang sedang kesulitan, Grubhub.

Rivian Automotive Inc melonjak 10,4 persen setelah pengiriman pembuat kendaraan listrik itu hampir empat kali lipat karena meningkatkan produksi.

Volume perdagangan di bursa AS mencapai 11,31 miliar saham, dibandingkan dengan rata-rata 13,08 miliar untuk sesi penuh selama 20 hari perdagangan terakhir.

Equity World | Waduh, Usai Libur Dow Jones Dibuka Ambles 2%!

Equity World | Waduh, Usai Libur Dow Jones Dibuka Ambles 2%!

Equity World | Bursa saham Amerika Serikat (AS) terbanting pada pembukaan perdagangan Selasa (5/7/2022), setelah mayoritas indeks saham terkoreksi pekan lalu akibat kekhawatiran resesi AS.

Equity World | Wall Street Beragam, Hanya Indeks S&P 500 dan Nasdaq Menguat

Dow Jones ambrol hingga 600 poin (-1,9%) di pembukaan dan selang 30 menit menjadi 620,59 poin (-2%) ke 30.476,67. Sementara itu, S&P 500 melambung 78,87 poin (-2,06%) ke 3.746,46 dan Nasdaq drop 178,39 poin (-1,6%) ke 10.949,45.

Para ekonom yakin Produk Domestik Bruto (PDB) AS akan terkontraksi dua kuartal. Menteri Keuangan AS Janet Yellen menggelar pertemuan virtual bersama Wakil Perdana Menteri China Liu He untuk mendiskusikan masalah makroekonomi hari ini.

Saham JPMorgan dan Wells Fargo ambrol 2,5% lebih sementara American Airlines terbanting hingga 4%. Saham Ford pun ambles hingga 5% setelah melaporkan penjualan kuartal II-2022 yang lebih rendah dari ekspektasi.

“Pasar saham AS sudah memasukkan faktor perlambatan ekonomi, dan memperhitungkan fakta bahwa The Fed dipaksa menaikkan suku bunga yang memicu perlambatan,” tutur penasihat ekonomi kepala Allianz Mohamed El-Erian kepada CNBC International.

Harga minyak mentah dunia juga melemah, di mana kontrak berjangka (futures) minyak jenis West Texas Intermediate (WTI) anjlok di bawah US$ 105 per barel. Saham raksasa minyak Chevron pun terbanting nyaris 3%.

Saham teknologi juga terkapar, di mana Amazon kehilangan lebih dari 2% sementara Tesla terpelanting 3,7%.

Koreksi terjadi setelah perencana investasi Credit Suisse Jonathan Golub dalam laporan risetnya memperkirakan bahwa AS bisa lolos dari resesi, tetapi indeks S&P 500 bakal hanya tumbuh menjadi 4.300 atau jauh dari proyeksi awalnya di level 4.900.

Bursa saham mengakhiri paruh pertama terburuknya sejak beberapa dekade pada Kamis (30/6) dan mayoritas indeks saham mengalami penurunan selama empat pekan dari lima pekan perdagangan.

Pekan lalu, meskipun ada kenaikan moderat selama sesi perdagangan hari Jumat (1/7), indeks Dow Jones tenggelam 1,3% dan indeks S&P 500 merosot 2,2%. Sedangkan Nasdaq ambruk 4,1%.

Pekan ini, investor masih menunggu rilis data pekerjaan di Juni yang akan dirilis pada Jumat (8/7). Melansir prediksi analis Dow Jones, pertumbuhan pekerjaan baru di Juni hanya sekitar 250.000 pekerjaan yang melambat dari bulan sebelumnya sebanyak 390.000 pekerjaan di Mei. Meski begitu, analis masih memprediksikan angka pengangguran tetap di 3,6%.

Pada Rabu (6/7) waktu setempat juga akan dirilis risalah pertemuan Komite Pasar Terbuka Federal (FOMC). Selain itu, data pesanan pabrik per Mei dijadwalkan akan dirilis hari ini.

Equity World | Harga Emas Dunia Naik 0,16%

Equity World | Harga Emas Dunia Naik 0,16%

Equity World | Harga emas dunia naik pada perdagangan hari ini. Harga emas dunia mencoba naik menembus level USD1.820 per ounce. Harga emas bergerak pada kisaran USD1.810 sampai dengan USD1.811 per ounce.

Equity World | Wall Street Libur, Bursa Eropa Menguat Ditopang Saham Migas

Harga emas dunia XAU/USD naik 20 persen atau 3,64 poin ke level USD1.811 pada perdagangan pagi, Selasa, 5 Juli 2022 dikutip dari Investing.com. Dalam setahun harga emas dunia sudah naik 1,22 persen.

Berlawanan dengan harga emas, laju Indeks dolar AS malah melemah dengan hanya berada pada level 0,05 persen dengan berada pada 104 perdagangan pagi Selasa, 5 Juli 2022.

Menaiknya harga emas dunia dan melemahnya indeks dolar mencerminkan pelaku pasar mencermati resiko resesi ekonomi yang terjadi di Amerika Serikat (AS).

Equity World | Bursa Asia Dibuka Bergairah, Hanya Hang Seng yang Melemah

Equity World | Bursa Asia Dibuka Bergairah, Hanya Hang Seng yang Melemah

Equity World | Mayoritas bursa Asia-Pasifik dibuka cenderung menguat pada perdagangan Senin (4/7/2022), di mana investor menanti rilis data ekonomi cukup penting pada pekan ini.

Equity World | Harga Emas Masih Bisa Lebih Murah Minggu Ini

Hanya indeks Hang Seng Hong Kong dan Shanghai Composite China yang dibuka di zona merah pada hari ini, di mana Hang Seng dibuka ambles 1,34% dan Shanghai melemah 0,28%.

Sedangkan sisanya dibuka di zona hijau. Indeks Nikkei Jepang dibuka menguat 0,61%, ASX 200 Australia melonjak 1,78%, Straits Times Singapura melaju 0,61%, dan KOSPI Korea Selatan terapresiasi 0,35%.

Pelaku pasar di kawasan Asia-Pasifik bakal memantau rilis data ekonomi pada pekan ini seperti data aktivitas jasa China pada periode Juni 2022 yang akan dirilis pada Selasa besok, data inflasi Korea Selatan periode Juni 2022 yang juga akan dirilis besok, dan pengumuman kebijakan moneter bank sentral Australia pada Selasa besok.

Dari kabar korporasi, perusahaan pengembang properti China, Shimao melewatkan pembayaran bunga dan pokok obligasi luar negeri senilai US$ 1 miliar. Beberapa perusahaan properti China lainnya juga melewatkan pembayaran bunga atau mengalami gagal bayar (default) utang.

Bursa Asia-Pasifik yang secara mayoritas cenderung menguat terjadi di tengah cerahnya bursa saham Amerika Serikat (AS), Wall Street pada perdagangan Jumat akhir pekan lalu.

Indeks Dow Jones Industrial Average (DJIA) ditutup melesat 1,05% ke 31.097,26, S&P 500 melonjak 1,06% ke 3.825,33, dan Nasdaq Composite terapresiasi 0,9% ke 11.127,84. Meski pada akhir pekan lalu Wall Street menghijau, tetapi sepanjang pekan lalu, Wall Street mencatatkan koreksi yang masih cukup besar. Sepanjang pekan lalu, indeks S&P 500 dalam sepekan merosot 2,21%, Dow Jones minus 1,3%, dan Nasdaq jeblok 4,13%.

CNBC International melaporkan beberapa perusahaan menurunkan proyeksi penurunan proyeksi laba. General Motors misalnya mempoyeksikan pendapatan di kuartal II-2022 di sekitar US$ 1,6 miliar sampai US$ 1,9 miliar, Proyeksi tersebut cukup jauh dari perkiraan analis yang dihimpun FactSet sebesar US$ 2,5 miliar.

“Pelemahan bursa saham yang terjadi belakangan ini akibat ekspektasi kontraksi ekonomi, laporan laba rugi akan menjadi pemicu penurunan selanjutnya. Panduan earning untuk kuartal II dan III akan menentukan seberapa besar aksi jual yang melanda,” kata Ross Mayfield, analis strategi investasi di Baird, sebagaimana dilansir CNBC International, Jumat (1/7/2022) lalu.

Sebelumnya pada pekan lalu, aktivitas manufaktur AS juga sudah menunjukkan pelambatan. Institute for Supply Management (ISM) melaporkan purchasing managers’ index (PMI) turun menjadi 53 pada Juni, terendah dalam 2 tahun terakhir. Pesanan baru (new order) bahkan jeblok menjadi 49,2 dari sebelumnya 55,1.

PMI menggunakan angka 50 sebagai ambang batas. Di bawahnya berarti kontraksi, sementara di atasnya ekspansi. Artinya, pesanan baru mengalami kontraksi, dan itu menjadi yang pertama sejak Mei 2020.

Di lain sisi, Tanda-tanda resesi yang akan terjadi di Negeri Paman Sam terus bermunculan. Selain data sektor manufaktur yang dibahas pada halaman sebelumnya, tingkat keyakinan konsumen juga merosot.

CNBC International melaporkan beberapa perusahaan menurunkan proyeksi penurunan proyeksi laba. General Motors misalnya mempoyeksikan pendapatan di kuartal II-2022 di sekitar US$ 1,6 miliar sampai US$ 1,9 miliar, Proyeksi tersebut cukup jauh dari perkiraan analis yang dihimpun FactSet sebesar US$ 2,5 miliar.

“Pelemahan bursa saham yang terjadi belakangan ini akibat ekspektasi kontraksi ekonomi, laporan laba rugi akan menjadi pemicu penurunan selanjutnya. Panduan earning untuk kuartal II dan III akan menentukan seberapa besar aksi jual yang melanda,” kata Ross Mayfield, analis strategi investasi di Baird, sebagaimana dilansir CNBC International, Jumat (1/7/2022) lalu.

Sebelumnya pada pekan lalu, aktivitas manufaktur AS juga sudah menunjukkan pelambatan. Institute for Supply Management (ISM) melaporkan purchasing managers’ index (PMI) turun menjadi 53 pada Juni, terendah dalam 2 tahun terakhir. Pesanan baru (new order) bahkan jeblok menjadi 49,2 dari sebelumnya 55,1.

PMI menggunakan angka 50 sebagai ambang batas. Di bawahnya berarti kontraksi, sementara di atasnya ekspansi. Artinya, pesanan baru mengalami kontraksi, dan itu menjadi yang pertama sejak Mei 2020.

Di lain sisi, Tanda-tanda resesi yang akan terjadi di Negeri Paman Sam terus bermunculan. Selain data sektor manufaktur yang dibahas pada halaman sebelumnya, tingkat keyakinan konsumen juga merosot.

Equity World | Harga Emas Berjangka Turun Tertekan Data Inflasi

Equity World | Harga Emas Berjangka Turun Tertekan Data Inflasi

Equity World | Harga emas berjangka turun lagi pada akhir perdagangan Kamis (Jumat pagi WIB). Harga emas turun empat hari berturut-turut karena investor mempertimbangkan data inflasi Amerika Serikat yang lebih baik dari perkiraan.

Equity World | Wall Street Melemah, S&P 500 Catat Penurunan Paruh Pertama Terdalam Sejak 1970

Melansir Antara, Jumat (1/7/2022), kontrak emas paling aktif untuk pengiriman Agustus di divisi Comex New York Exchange, jatuh USD10,2 atau 0,56%, menjadi ditutup pada USD1.807,30 per ounce.

Ketika perdagangan ditutup untuk Juni, emas telah turun lebih dari 8,0% untuk kuartal kedua, membukukan kinerja tiga bulan terburuk sejak kuartal pertama 2021. Untuk Juni sendiri, emas berkurang lebih dari 2,0%, melengkapi kerugian bulan ketiga berturut-turut.

Departemen Perdagangan AS melaporkan Kamis (30/6/2022) bahwa indeks harga pengeluaran konsumsi pribadi (PCE) AS, ukuran tekanan inflasi, naik 0,6% pada Mei bulan ke bulan, dan 6,3% tahun ke tahun, keduanya lebih baik dari ekspektasi pasar.

Data ekonomi lainnya yang dirilis Kamis (30/6/2022) mendukung emas. Departemen Tenaga Kerja AS melaporkan bahwa klaim pengangguran awal AS yang disesuaikan secara musiman dalam pekan yang berakhir 25 Juni mencapai 231.000, turun 2.000 dari level revisi minggu sebelumnya.

Indeks manajer pembelian (PMI) Chicago dari Institute for Supply Management (ISM) turun menjadi 56 pada Juni dari 60,3 pada Mei. Angka tersebut juga di bawah perkiraan pasar 58, angka terendah sejak Agustus 2020.

Pedagang mengaitkan pelemahan emas dengan pembicaraan tanpa henti Federal Reserve tentang kenaikan suku bunga, dicocokkan dengan kenaikan tertinggi bulan ini dalam 28 tahun oleh bank sentral dalam upayanya untuk mengekang inflasi yang tumbuh pada laju tercepat dalam empat dekade.

“Emas tanpa ragu memiliki kuartal kedua yang mengecewakan. Tapi sisi baiknya, mungkin tepat di mana itu akan mulai rebound,” kata Phillip Streible, ahli strategi logam mulia untuk Blue Line Futures di Chicago.

Logam mulia lainnya, perak untuk pengiriman September turun 38,6 sen atau 1,86%, menjadi ditutup pada USD20,352 per ounce. Platinum untuk pengiriman Oktober turun USD14,6 atau 1,6%, menjadi ditutup pada USD895,30 per ounce.

Equity World | Harga Emas Dunia Hari Ini Turun Tipis Imbas Kecemasan Resesi

Equity World | Harga Emas Dunia Hari Ini Turun Tipis Imbas Kecemasan Resesi

Equity World | Jakarta Harga emas naik turun pada perdagangan Rabu (Kamis waktu Jakarta), terjebak di antara hambatan dari kenaikan suku bunga yang agresif dan dukungan dari tawaran safe-haven yang didorong oleh meningkatnya risiko resesi.

Equity World | Wall Street Mixed, Sebagian Indeks Melemah Menjelang Akhir Semester I-2022

Dikutip dari CNBC, Kamis (30/6/2022), harga emas di pasar spot turun 0,1 persen menjadi USD 1.818,66 per ounce. Sementara harga emas berjangka AS turun 0,1 persen menjadi USD 1.819,7.

Emas, dianggap sebagai lindung nilai terhadap inflasi, biasanya menguntungkan selama terjadi ketidakpastian ekonomi, tetapi kenaikan suku bunga meningkatkan biaya peluang bagi pemegang aset karena tidak menghasilkan bunga.

“Angka PDB yang sedikit lebih lemah dari yang diharapkan terus menyebarkan kekhawatiran potensi bergerak menuju situasi resesi. Akibatnya, kita bisa melihat pergerakan menuju aset safe-haven,” kata Direktur Perdagangan Logam di High Ridge Futures, David Meger.

“Namun, pasar emas terus berada dalam situasi tarik menarik karena Fed berkomitmen kuat untuk memerangi inflasi,” lanjut dia.

Investor juga memperhatikan komentar dari Ketua Federal Reserve Jerome Powell yang mengatakan bahwa sementara ada risiko bahwa kenaikan suku bunga dapat memperlambat ekonomi terlalu banyak, risiko yang lebih besar adalah inflasi yang terus-menerus.

Di tempat lain, harga perak turun 0,4 persen pada level USD 20,76 per ounce, dan platinum naik 4 persen menjadi USD 913,50. Sedangkan palladium naik 5,2 persen pada USD 1.971,16.

Baru-baru ini negara-negara G7 mengumumkan rencana untuk melarang impor emas Rusia.

“Penting untuk melihat apakah diskusi (pelarangan) meluas ke logam mulia lainnya, terutama paladium,” tulis analis UBS Joni Teves dalam sebuah catatan.

“Rusia menyumbang lebih dari 40 persen dari pasokan tambang paladium global, sementara negara-negara seperti AS dan Jepang memiliki industri otomotif yang membutuhkan paladium sebagai masukan dalam autocatalysts untuk kendaraan bensin,” tutupnya.

Sebelumnya, harga emas dunia kehilangan kemilaunya. Harga emas hari ini turun dibatasi prospek suku bunga yang lebih tinggi menantang daya tarik safe-haven sementara risiko resesi mendorongnya.

Melansir laman CNBC, Rabu (29/6/2022), harga emas di pasar Spot turun sedikit menjadi USD 1.819,94 per ounce. Emas berjangka AS turun 0,2 persen menjadi USD 1.821,3.

“Emas terjebak dalam kisaran dan akan terus berada dalam kisaran dalam waktu dekat. Pasar hanya akan menembus satu arah setelah mendapat lebih banyak data dan informasi ekonomi dari Federal Reserve,” kata Ahli Strategi pasar senior RJO Futures Bob Haberkorn.

Meskipun emas dianggap sebagai lindung nilai terhadap inflasi dan ketidakpastian ekonomi, kenaikan suku bunga meredupkan daya tarik emas dengan meningkatkan biaya peluang memegang aset yang tidak membayar bunga.

“Ini adalah pesta yang tertunda di pasar emas. Logam kuning ditarik ke dua arah karena rezim Fed yang hawkish berbenturan dengan kekhawatiran resesi, ”kata TD Securities dalam sebuah catatan.

Berbicara pada konferensi tahunan Bank Sentral Eropa di Portugal, Presiden Christine Lagarde mengatakan bank akan bergerak secara bertahap.

Namun ini dengan opsi untuk bertindak tegas pada setiap penurunan inflasi jangka menengah yang terjadi.

Rencananya Ketua Fed Jerome Powell juga akan memberikan pandangannya pada hari Rabu ini waktu setempat.

Emas sebagian besar bertahan meskipun ada kenaikan dalam dolar, yang biasanya meredupkan daya tarik emas batangan untuk pembeli luar negeri. Imbal hasil Treasury AS 10-tahun juga naik.

“Emas tetap menjadi pasar pedagang – rentan terhadap jeda palsu dan perputaran cepat pada sedikit berita,” kata analis pasar senior City Index Matt Simpson.

Sementara itu, kepemilikan di ETF emas terbesar di dunia, SPDR Gold Trust, mencatat arus keluar selama lima sesi terakhir berturut-turut.

AS telah mengeluarkan babak baru sanksi terkait Rusia yang melarang impor emas Rusia, kata Departemen Keuangan di situsnya.

Adapun harga logam lainnya, perak urun 1,6 persen menjadi USD 20,81 per ounce. Sementara harga Platinum naik 0,2 persen menjadi USD 909,16 dan paladium turun 0,3 persen menjadi USD 1.875,64.

Design a site like this with WordPress.com
Get started