Profil Perusahaan Dan Lowongan • PT EQUITYWORLD FUTURES PUSAT

Lowongan Asisten Manager Bisnis Consultan untuk seluruh Kantor Cabang PT. Equityworld di Indonesia

Benefit :

1. Gaji

2. Bonus

3. Reward

4. Jenjang karir yg jelas

5. Komisi

Persyaratan :

1. Pendidikan Min SMA/D3

2. Usia Max 35 tahun

3. Sehat Jasmani & Rohani

4. Good Looking

5. Smart

Jobs Desk :

1. Menyiapkan data calon nasabah / nasabah,

2. Atur Janji Appointment Client/Nasabah

3. Menyiapkan file untuk bahan meeting dengan Client/Nasabah

Jenis Pekerjaan: Penuh Waktu

Silahkan kirim CV lengkap anda beserta foto identitas terbaru ke alamat kantor atau e-mail kami, di cabang-cabang berikut:

KANTOR PUSAT

Sahid Sudirman Center Lt. 9 Unit C,D,G,H, Jl. Jend. Sudirman No.86, Jakarta Pusat 10220

Telp. : +62 21 27889280 (Hunting)

Facsimile : +62 21 27889277

Email : corporate@equityworld-futures.co.id

Website: http://equityworld-futures.net

Telp. : 021 – 27889288 Ext. 186

Email : compliance.ssc@equityworld-futures.co.id

Profil Singkat

PT. Equityworld Futures merupakan salah satu anggota Bursa Berjangka Jakarta (Jakarta Futures Exchange) yang resmi berdiri pada tahun 2005. Perusahaan telah berkembang pesat seiring meningkatnya minat masyarakat untuk berinvestasi di produk-produk finansial.

Kini PT. Equityworld Futures memperkenalkan sistem transaksi secara online (E-Trade) yang dapat diakses langsung oleh client manapun, baik lokal maupun internasional. Dengan teknologi informasi saat ini, client dapat melakukan transaksi dan sekaligus mengawasi investasinya dengan mudah. Perusahaan akan memberikan layanan yang terbaik sebagai komitmen untuk mengembangkan industri berjangka, khususnya di Indonesia.

Source: Profil Perusahaan Dan Lowongan • PT EQUITYWORLD FUTURES PUSAT

Equityworld Futures | Jajak Pendapat, Ekonom Yakin The Fed Turunkan Suku Bunga

Equityworld Futures | Jajak Pendapat, Ekonom Yakin The Fed Turunkan Suku Bunga

Equityworld Futures | Pemangkasan suku bunga Federal Reserve (The Fed) seperempat poin pada Juli merupakan kesepakatan yang hampir dilakukan, menurut para ekonom dalam jajak pendapat Reuters, yang memperkirakan akan terjadi lagi pada akhir tahun ini di tengah meningkatnya risiko ekonomi dari perang perdagangan AS dan China yang sedang berlangsung.

Ekspektasi dalam jajak pendapat 16-24 Juli untuk penurunan suku bunga pertama dalam lebih dari satu dekade telah menguat bulan ini, setelah beberapa anggota Fed secara kuat mengisyaratkan pelonggaran kebijakan akan segera hadir, mendorong saham-saham AS ke rekor tertinggi baru.

Sementara itu sejalan dengan sebagian besar bank sentral utama, yang telah berubah dovish dalam beberapa bulan terakhir, jajak pendapat terbaru menunjukkan para ekonom, seperti pasar keuangan, telah mantap unyuk pemotongan 25 basis poin dalam suku bunga federal fund (FFR) menjadi 2,00-2,25 persen daripada pengurangan 50 basis poin.

Lebih dari 95 persen dari 111 ekonom, sekarang memprediksi penurunan 25 basis poin pada pertemuan 30-31 Juli. Hanya dua ekonom yang disurvei memperkirakan penurunan 50 basis poin dan dua lagi mengatakan bahwa Fed akan tetap stabil.

“Alasan terbesar bagi The Fed untuk memangkas suku bunga adalah karena itu telah dihargakan ke pasar untuk sementara waktu sekarang. Jika mereka tidak menindaklanjuti dan memotong, itu akan menyebabkan sedikit kejutan,” kata Andrew Hunter, ekonom senior AS di Capital Economics.

“Saya pikir pesan umum baru-baru ini dari The Fed tampaknya adalah lebih banyak tentang risiko penurunan pertumbuhan daripada ekonomi yang sudah lemah.”

Memang, sementara beberapa indikator berwawasan ke depan tentang aktivitas di ekonomi AS telah menurun, tingkat pengangguran adalah yang terendah dalam 50 tahun dan Wall Street berada pada rekor tinggi – biasanya bukan lingkungan untuk perubahan dalam siklus suku bunga.

Ekspektasi suku bunga Fed telah mengambil pola “U” tahun ini, menuju pola bertahan awal tahun ini dari jalur pengetatan yang stabil, yang diharapkan sebelumnya ke serangkaian pemotongan. Memang, hanya sebulan yang lalu, bank sentral AS masih diperkirakan akan mempertahankan kebijakan untuk saat ini dan melonggarkan tahun depan.

Namun sejak itu, kekhawatiran tentang dampak perang dagang terhadap pertumbuhan yang sudah melambat dan tekanan inflasi yang lemah membuat para pembuat kebijakan semakin khawatir.

“Alasan kami untuk pelonggaran kebijakan – perlambatan pertumbuhan terhadap latar belakang inflasi yang lemah dan meningkatnya ketidakpastian – konsisten dengan alasan The Fed untuk pemotongan jaminan,” kata ekonom di Goldman Sachs.

“Sebaliknya, peluang tersirat pasar konsisten dengan perputaran dalam siklus, yang tidak kami perkirakan dalam waktu dekat.”

Ekonomi AS kemungkinan kehilangan momentum kuartal terakhir dan sekarang diperkirakan telah berkembang pada laju tahunan sebesar 1,8 persen pada periode April-Juni, turun dari 3,1 persen yang dilaporkan untuk kuartal pertama, menurut jajak pendapat. Pertumbuhan diperkirakan akan berkisar sekitar tingkat itu di setiap kuartal hingga akhir 2020.

Lebih dari 75 persen kontributor pada bulan lalu menurunkan prospek pertumbuhan mereka atau mempertahankannya. Konsensus terbaru menunjukkan pemotongan suku bunga lagi pada kuartal terakhir dan hampir 40 persen responden memperkirakan pemotongan suku bunga selanjutnya kemungkinan akan terjadi pada awal September.

Tetapi suku bunga berjangka memberi perkiraan dalam tiga pemotongan suku bunga tahun ini – pada Juli, September dan Desember. Di luar tahun ini, bank sentral AS diperkirakan akan mempertahankan kebijakan hingga 2021, jajak pendapat menunjukkan.

“Kami tidak berpikir ini adalah awal dari siklus pelonggaran penuh; sebaliknya, pemotongan ini adalah tentang menyediakan akomodasi yang sedikit lebih banyak untuk mengimbangi hambatan perdagangan,” kata Josh Nye, seorang ekonom senior di RBC.

“Lima puluh basis poin pelonggaran akan jatuh jauh dari harga pasar saat ini selama tahun depan, tetapi akan cukup untuk menenangkan investor yang khawatir kebijakan moneter telah menjadi agak terlalu ketat.”

Ukuran inflasi yang disukai The Fed – perubahan dalam indeks harga pengeluaran konsumsi pribadi inti – tetap di bawah target 2,0 persen sejak awal 2019 dan diperkirakan tidak akan meningkat secara signifikan dalam waktu dekat.

Equityworld Futures

Equity World Mantap! Harga Emas Antam Hari Ini Naik Rp 5.000/gram | Equityworld Futures

Dengan ekonomi yang masih tumbuh dan inflasi yang stabil, ada kesenjangan yang jelas antara apa yang para ekonom katakan kemungkinan dilakukan oleh Fed dan apa yang mereka rekomendasikan.

Ditanya apa yang harus dilakukan The Fed pada pertemuan bulan ini, hampir dua pertiga dari lebih dari 75 responden mengatakan pemotongan suku bunga sebesar 25 basis poin. Lima mengatakan pembuat kebijakan harus memotong 50 basis poin, sedangkan sisanya – lebih dari 25 persen ekonom – mengatakan mereka tidak boleh melakukan apa-apa.

“Masalah yang memengaruhi ekonomi AS saat ini dan lingkungan inflasi tidak akan terbantu oleh penurunan suku bunga,” kata Thomas Simons, ekonom senior di Jefferies.

“Apa yang melemahkan prakiraan ekonomi ke depan adalah ketegangan perdagangan. Menurunkan suku bunga 25 atau 50 basis poin tidak akan mengubah situasi itu. Dari sudut pandang mendasar, itu tidak masuk akal bagi kami.”

Equityworld Futures | Rupiah Bisa Balik ke Bawah 14.000/US$, Percaya Gak?

Equityworld Futures | Rupiah Bisa Balik ke Bawah 14.000/US$, Percaya Gak?

Equityworld Futures | Rupiah melemah cukup signifikan melawan dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan Rabu (24/7/19) hingga menembus kembali ke atas 14.000/US$. Tanda-tanda Mata Uang Garuda akan melemah sudah terlihat sejak Selasa malam, indeks dolar terlihat sangat perkasa hingga mencapai level tertinggi sejak 18 Juni.

Dolar AS memang sudah perkasa sejak perdagangan Jumat (19/7/19) setelah spekulasi bank sentral AS (Federal Reserve/The Fed) memangkas suku bunga 50 basis poin (bps) menyusut.

Isu pemangkasan 50 bps menjadi 1,75%-2% sempat muncul pada Kamis (18/7/19) lalu setelah Presiden The Fed New York John Williams mengatakan harus bertindak cepat dengan kekuatan penuh ketika suku bunga menjadi rendah dan pertumbuhan ekonomi melambat.

Namun, kini The Fed New York melakukan klarifikasi. Komentar dari bosnya dikatakan bersifat akademis dan bukan tentang arah kebijakan moneter bank sentral paling powerful di dunia ini. Pasca klarifikasi tersebut dolar AS mendapat momentum untuk menguat.

Dolar mendapat tenaga tambahan setelah tercapainya kesepakatan antara pemerintah dan Kongres AS mengenai batas pagu utang untuk dua tahun ke depan, sehingga tidak akan ada lagi penutupan atau shutdown pemerintahan AS di tahun ini.

Di sisi lain, pekan lalu rupiah mencapai level terkuat satu tahun yang tentunya memicu aksi ambil untuk atau profit taking. Selain itu, sebenarnya fundamental rupiah juga masih lemah. Bank Indonesia (BI) memperkirakan defisit transaksi berjalan pada kuartal II-2019 lebih dalam ketimbang kuartal sebelumnya.

Melihat semua sentimen tersebut, wajar jika dolar AS terus berjaya melawan rupiah. Namun, pelemahan dalam dua hari terakhir sepertinya terlalu cepat, apalagi The Fed belum jelas berapa kali akan memangkas suku bunga di tahun ini.

The Fed hampir pasti tidak akan memangkas 50 bps pada 31 Juli (1 Agustus waktu Indonesia) tetapi peluang pemangkasan dilakukan sebanyak tiga kali di tahun ini masih terbuka lebar, dan hal itu tentunya menjadi sentimen negatif bagi dolar, pelaku pasar harus sadar akan hal itu.

Equityworld Futures

Dianggap Bersahabat, Ini Kisah Perseteruan Trump & Johnson | Equityworld Futures

Mata Uang Garuda masih memiliki peluang untuk kembali ke bawah 14.000/US$. Pada pukul 12:05 WIB, rupiah diperdagangkan di kisaran Rp 14.010/US$ mengutip data investing.com.

Melihat grafik harian, rupiah yang disimbolkan dengan USD/IDR bergerak di atas rerata pergerakan (moving average/MA) 5 hari (garis biru) dan MA20 /rerata 20 hari (garis merah). Indikator rerata pergerakan konvergen dan divergen (MACD) masih di wilayah negatif, dengan histogram yang masuk ke wilayah positif.

Melihat indikator tersebut, tekanan pelemahan dolar dalam jangka menengah sudah mulai berkurang.

Pada time frame 1 jam, rupiah berada di atas MA 5 (rerata pergerakan 5 jam/garis biru) dan MA 20 (rerata pergerakan 20 jam/garis merah) sehingga membuka peluang berlanjutnya pelemahan dalam jangka pendek.

Namun, sebelumnya rupiah bisa memangkas pelemahan melihat indikator Stochastic yang berada di wilayah jenuh beli (overbought).

Level psikologis Rp 14.000 menjadi support (tahanan bawah) terdekat. Jika mampu menembus level tersebut rupiah berpeluang memangkas pelemahan dan menuju level Rp 13.980. Sementara selama tertahan di atas Rp 14.000, Mata Uang Garuda berpotensi terus melemah menuju ke area Rp 14.052.

Equity World | AS-China Kian Mesra, Bursa Saham Asia Semringah

Equity World | AS-China Kian Mesra, Bursa Saham Asia Semringah

Equity World | Seluruh bursa saham utama kawasan Asia kompak ditransaksikan di zona hijau pada hari ini: indeks Nikkei melonjak 0,84%, indeks Shanghai naik 0,06%, indeks Hang Seng menguat 0,08%, indeks Straits Times terapresiasi 0,35%, dan indeks Kospi bertambah 0,42%.

Kabar gembira bagi bursa saham Benua Kuning datang dari mencuatnya kemungkinan bahwa delegasi AS dan China akan segera menggelar negosiasi dagang secara tatap muka.

Pertemuan tatap muka antara delegasi kedua negara sangat mungkin dilakukan jika mencermati perkembangan positif yang ada saat ini. Melansir Bloomberg, kemarin (22/7/2019) waktu setempat Presiden AS Donald Trump mengundang pimpinan perusahaan-perusahaan teknologi untuk membahas berbagai masalah perekonomian, termasuk kemungkinan dibukanya lagi perizinan bagi mereka untuk melakukan penjualan ke Huawei.

Google, Broadcom, Cisco, Intel, dan Qualcomm termasuk dalam deretan perusahaan yang pimpinannya hadir untuk menemui Trump. Dari pertemuan ini, AS diketahui akan mengkaji kemungkinan untuk melonggarkan sanksi yang diberikan kepada Huawei.

“Mereka (para pimpinan perusahaan teknologi) meminta keputusan dari Kementerian Perdagangan terkait dengan lisensi (untuk menjual ke Huawei) dalam waktu dekat dan Presiden setuju,” tegas Juru Bicara Gedung Putih Judd Deere, dilansir dari Bloomberg.

Sementara itu, media milik pemerintah China menyebut bahwa pelonggaran atas sanksi yang dikenakan kepada Huawei akan membuat pihak China melanjutkan pembelian atas kedelai dan komoditas pertanian asal AS lainnya.

Seperti yang diketahui, pasca berbincang sekitar 80 menit di sela-sela gelaran KTT G20 di Jepang pada akhir bulan lalu, Trump dan Presiden China Xi Jinping menyetujui gencatan senjata di bidang perdagangan sekaligus membuka kembali pintu negosiasi yang sempat tertutup.

Equity World

Wall Street Dibuka Variatif, Indeks Dow Turun | Equity World

Kala itu, Trump menyebut bahwa China setuju untuk membeli produk agrikultur asal AS dalam jumlah yang besar. Namun pada pekan lalu, Trump mengatakan bahwa hingga kini China belum juga menepati janjinya tersebut.

Melansir Bloomberg, langkah yang diambil kedua negara saat ini (pelonggaran sanksi bagi Huawei dan pembelian produk agrikultur asal AS oleh China) dimaksudkan untuk membuka jalan bagi Menteri Keuangan AS Steven Mnuchin dan Kepala Perdagangan AS Robert Lighthizer untuk bertandang ke China guna menggelar negosiasi dagang, di mana kunjungan ini rencanannya akan dilakukan pada pekan depan.

Kala dua negara dengan nilai perekonomian terbesar di dunia bisa mengakhiri perang dagang antar keduanya yang sudah berlangsung begitu lama, perekonomian dunia tentu bisa dipacu untuk melaju di level yang tinggi.

Equityworld Futures | Bursa Saham Asia Merah, Harga Obligasi RI Ikut Terpuruk

Equityworld Futures | Bursa Saham Asia Merah, Harga Obligasi RI Ikut Terpuruk

Equityworld Futures | Harga obligasi rupiah pemerintah dibuka terkoreksi pada awal perdagangan hari ini menjelang pengumuman data aliran dana investasi asing langsung.

Turunnya harga surat utang negara (SUN) itu tidak senada dengan apresiasi yang terjadi di pasar surat utang pemerintah negara berkembang yang lain serta koreksi yang terjadi di hampir seluruh pasar saham Asia dan Indonesia.

Meskipun harga SUN turun pagi ini, investor asing masih menunjukkan minatnya dengan masuk ke pasar obligasi pemerintah yang ditunjukkan oleh angka kepemilikan investor asing masih mencatatkan pertumbuhan hingga nilainya kembali menyentuh rekor tertinggi sepanjang masa yaitu Rp 1.011 triliun.

Data Refinitiv menunjukkan terkoreksinya harga SUN itu tercermin dari empat seri acuan (benchmark) yang sekaligus menaikkan tingkat imbal hasilnya (yield).

Equityworld Futures

The Fed Kabarnya Tak Terlalu Dovish, Bursa Saham Asia Jatuh | Equityworld Futures

Pergerakan harga dan yield obligasi saling bertolak belakang di pasar sekunder. Yield yang menjadi acuan hasil investasi yang didapat investor juga lebih umum dijadikan acuan transaksi obligasi dibanding harga karena mencerminkan kupon, tenor, dan risiko dalam satu angka.

SUN adalah surat berharga negara (SBN) konvensional rupiah yang perdagangannya paling ramai di pasar domestik, sehingga dapat mencerminkan kondisi pasar obligasi secara umum.

Keempat seri yang menjadi acuan itu adalah FR0077 bertenor 5 tahun, FR0078 bertenor 10 tahun, FR0068 bertenor 15 tahun, dan FR0079 bertenor 20 tahun.

Seri acuan yang paling melemah adalah FR0078 yang bertenor 10 tahun dengan kenaikan yield 3,9 basis poin (bps) menjadi 3,9%. Besaran 100 bps setara dengan 1%.

Equityworld Futures | IHSG Rawan Terkoreksi, Valbury Sekuritas Merekomendasikan Saham-Saham Ini

Equityworld Futures | IHSG Rawan Terkoreksi, Valbury Sekuritas Merekomendasikan Saham-Saham Ini

Equityworld Futures | Valbury Sekuritas Indonesia menyebutkan keputusan Bank Indonesia (BI) memangkas suku bunga BI 7-day Reverse Repo Rate (BI7DRR) 25 bps menjadi 5,75% kemungkinan besar telah direspon oleh pelaku pasar sampai akhir perdagangan Kamis (18/7) kemarin. Tudingan Google telah disusupi oleh intelijen China, justru menjadi sentimen eksternal yang bisa menekan IHSG.

Hari ini, Jumat (19/7) Valbury mematok titik support IHSG berturut-turut di level 6384, 6364, dan 6352. Adapun titik resistance IHSG berada di posisi 6415,6427 dan 6447.

Untuk hari ini, Valbury Sekuritas merekomendasikan trading buy untuk beberapa saham. Diantaranya adalah ASII, INTP, PTBA, ADRO, ANTM, dan JPFA.

Untuk saham PT Astra International Tbk (ASII), rekomendasi beli ada di level Rp 7.075-Rp 7.150 per saham. Titik resistance saham ASII ada di level Rp 7.325 dan support di posisi Rp 7.075 per saham. Batasi resiko Anda di level Rp 7.000 per saham.

Sedangkan saham Indocement Tunggal Prakarsa Tbk (INTP) memiliki titik resistance di level Rp 22.125 dan support di posisi Rp 21.375 per saham. Saran beli jika harga saham INTP bergerak di kisaran Rp 21.375 hingga Rp 21.825 per saham. Titik cutloss ada di level Rp 21.225 per saham.

Berikutnya adalah saham PT Bukit Asam Tbk (PTBA). Jika tertarik membeli saham perusahaan tambang pelat merah ini, Anda disarankan membeli saat harganya di Rp 2.830-Rp 2.870 per saham. Target harga saham PTBA hari ini berada di level Rp 2.910 per saham. Adapun titik support di posisi Rp 2.830 per saham. Batasi resiko Anda saat harga saham PTBA turun ke level Rp 2.800 per saham.

Equityworld Futures

Wall Street dibuka memerah karena imbas saham Netflix yang jatuh | Equityworld Futures

Sedangkan untuk saham PT Adaro Energy (ADRO), Titik support berada di level Rp 1.270 dan resistance di posisi Rp 1.335 per saham. Target harga saham ADRO berada di posisi Rp 1.335 per saham. Beli jika saham ADRO berada di kisaran Rp 1.270-Rp 1.300. Namun batasi resiko Anda jika harga saham perusahaan tambang ini turun ke level Rp 1.255 per saham.

Selanjutnya adalah saham ANTM. Target harga saham ini ada di level Rp 985 per saham. Anda disarankan membeli saat harganya berada di kisaran Rp 920-Rp 950 per saham. Jangan lupa, batasi resiko Anda jika harga saham ANTM turun ke posisi Rp 905 per saham.

Yang terakhir adalah saham PT Japfa Comfeed Indonesia Tbk (JPFA). Hari ini saham JPFA memiliki target harga di posisi Rp 1.655 per saham. Anda disarankan membeli saat harganya ada di kisaran Rp 1.615 hingga Rp 1.630 per saham. Batasi resiko Anda saat harga saham JPFA ada di posisi Rp 1.600 per saham.

PT Equityworld | Nego Dagang AS-China Makin Runyam, Wall Street Melemah

PT Equityworld | Nego Dagang AS-China Makin Runyam, Wall Street Melemah

PT Equityworld | Wall Street ditutup melemah pada perdagangan Rabu (17/7/2019) waktu setempat. Penurunan disebabkan oleh memburuknya sentimen investor akibat perang dagang AS-China yang kembali memanas. Selain itu musim rilis data pendapatan (earning seasons) perusahaan-perusahaan AS juga menjadi perhatian investor.

Indeks Dow Jones Industrial Average turun 115,7 poin atau 0,42%. Kemudian indeks S&P 500 turun 0,65% menjadi 2.984,42. Sementara indeks Nasdaq Composite ditutup 0,46% lebih rendah menjadi 8.185,21.

Saham ditutup pada posisi terendah hari itu tepat setelah Wall Street Journal melaporkan bahwa kemajuan dalam kesepakatan perdagangan dengan China terhenti karena masalah pembatasan pada Huawei. Demikian disampaikan WSJ, mengutip beberapa sumber.

Trump sebelumnya pada Selasa, mengatakan kedua negara “masih memiliki jalan yang panjang” dalam negosiasi perdagangan. Trump juga menambahkan bahwa AS dapat menerapkan tarif tambahan pada barang-barang China senilai US$ 325 miliar.

Komentar Trump muncul setelah China dan AS sepakat untuk tidak meningkatkan ketegangan perdagangan dalam upaya untuk memulai kembali negosiasi. Komentar Trump itu datang di tengah ramainya rilis pendapatan perusahaan AS.

PT Equityworld

IHSG melemah seiring koreksi bursa saham Asia | PT Equityworld

Data FactSet menunjukkan sudah lebih dari 7% perusahaan S&P 500 yang melaporkan pendapatan kuartal kedua sejauh ini. Dari perusahaan-perusahaan itu, sekitar 85% telah membukukan laba yang lebih tinggi dari ekspektasi analis. Pertumbuhan pendapatan yang dilaporkan dari perusahaan-perusahaan tersebut adalah sekitar 3,1%.

Namun, ada juga yang laporan dengan prospek laba perusahaan yang suram. Analis memperkirakan laba S&P 500 turun 3% di kuartal kedua, menurut data FactSet, yang dikutip CNBC International.

Equity World | Ikuti Bursa Saham Asia, IHSG Dibuka Jatuh

Equity World | Ikuti Bursa Saham Asia, IHSG Dibuka Jatuh

Equity World | Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) bergerak ke teritori negatif pada perdagangan, Rabu (17/7/2019) pagi, melanjutkan koreksi dari posisi terakhir kemarin. Saat preopening, indeks turun 6,41 poin atau 0,1 persen ke 6.395,46.

Pada pembukaan perdagangan, indeks menambah poin pelemahan menjadi 6.397,11 dan sekitar pukul 09.07 WIB bergerak ke 6.386,77 atau turun 0,24 persen. Dari 367 saham yang diperdagangkan, 113 di antaranya menguat, 133 melemah dan 121 stagnan.

10 indeks sektoral penggerak IHSG, mayoritas melemah sementara tiga di antaranya mencatatkan penguatan. Sektor konsumer memimpin penguatan dengan naik 0,22 persen.

Kontributor utama yang menekan indeks, yakni sektor aneka industri yang turun 1,44 persen. Investor asing mewarnai perdagangan pagi dengan aksi beli bersih (net buy) Rp38,15 miliar.

Adapun saham yang masuk daftar top gainers, yaitu PT Vale Indonesia Tbk (INCO) naik Rp40 atau 1,31 persen ke Rp3.100, PT Erajaya Swasembada Tbk (ERAA) naik Rp30 atau 1,55 persen ke Rp1.970, PT Ace Hardware Indonesia Tbk (ACES) naik Rp20 atau 1,12 persen ke Rp1.800 dan PT Timah (Persero) Tbk (TINS) naik Rp15 atau 1,39 persen ke Rp1.095.

Sementara, saham-saham yang masuk dalam jajaran top losers, yakni PT Astra International Tbk (ASII) turun Rp125 atau 1,68 persen ke Rp7.325, PT Bank Tabungan Pensiunan Nasional Syariah Tbk (BTPN) turun Rp50 atau 1,40 persen ke Rp3.520, PT Indosat Tbk (ISAT) turun Rp50 atau 1,73 persen ke Rp2.840 dan PT Bukit Asam Tbk (PTBA) turun Rp20 atau 0,70 persen ke Rp2.420.

Equity World

Gara-gara Komentar Pedas Trump, Bursa Saham Asia Berguguran | Equity World

Bursa saham-saham di Asia sebagian besar tergelincir. Pasar saham China daratan, komposit Shanghai terkoreksi tipis, sedangkan indeks komposit Shenzhen naik 0,229 persen. Adapun indeks Hang Seng Hong Kong tergelincir 0,38 persen.

Selanjutnya indeks Nikkei 225 Jepang turun 0,48 persen, sedangkan indeks Topix merosot 0,16 persen. Di Korea Selatan, indeks Kospi diperdagangkan 1,07 persen lebih rendah, sementara indeks S&P/ASX 200 Australia naik 0,51 persen.

Equity World | Siap-Siap, Malam Ini Harga Emas Berpeluang Gerak Kencang Lagi

Equity World | Siap-Siap, Malam Ini Harga Emas Berpeluang Gerak Kencang Lagi

Equity World | Harga emas dunia cenderung bergerak stabil sejak awal pekan kemarin akibat belum adanya momentum penggerak yang baru. Logam mulia masih diuntungkan dengan spekulasi pemangkasan suku bunga di Amerika Serikat (AS).

Bank Sentral AS (Federal Reserve/The Fed) pasti akan memangkas suku bunga pada 31 Juli (1 Agustus waktu Indonesia). Hal tersebut tercermin dari data piranti FedWatch milik CME Group yang menunjukkan probabilitas 0% suku bunga The Fed 2,25%-2,5% akan dipertahankan.

Pelaku pasar melihat ada probabilitas sebesar 70,3% suku bunga akan dipangkas 25 basis poin (bps) saat The Fed mengumumkan kebijakan moneter 31 Juli (1 Agustus waktu Indonesia). Selain itu terdapat probabilitas 29,7% suku bunga dipangkas 50 bps.

Melihat data tersebut pelaku pasar sepertinya sangat yakin 100% The Fed akan memangkas suku bunganya, entah itu 25 atau 50 bps. Nah, yang menjadi pertanyaan, berapa kali suku bunga akan dipangkas?

Untuk saat ini pelaku pasar masih memiliki keyakinan akan ada tiga kali pemangkasan di tahun ini. Keyakinan tersebut bisa bertambah seandainya data penjualan ritel AS dirilis mengecewakan.

Equity World

Awal Perdagangan, IHSG Menguat saat Bursa Asia Tertekan | Equity World

Departemen Perdagangan AS akan melaporkan data penjualan ritel dan penjualan ritel inti (tidak memasukkan sektor otomotif dalam perhitungan) bulan Juni pada pukul 19:30 WIB.

Melihat prediksi di Forex Factory, kedua data tersebut diprediksi masing-masing tumbuh 0,1% dari sebelumnya 0,5%. Rentangnya pertumbuhan itu tentunya mengindikasikan belanja warga AS melambat di akhir kuartal-II 2019, dan bisa jadi akan berpengaruh terhadap pertumbuhan ekonomi AS periode April-Juni.

Jika data tersebut dirilis lebih rendah dari prediksi, spekulasi pemangkasan tiga kali akan semakin menguat, dolar AS jeblok dan emas bisa melesat naik lagi. Begitu juga sebaliknya jika data menunjukkan kejutan lebih tinggi dari prediksi, greenback bisa menguat dan logam mulia akan tertekan.

Emas merupakan aset tanpa imbal hasil, sehingga semakin rendah suku bunga di AS dan secara global, akan memberikan keuntungan yang lebih besar dalam memegang aset emas. Logam mulia sangat terkait dengan nilai tukar dolar AS. Kala greenback melemah, maka harga emas akan naik karena emas adalah komoditas yang dibanderol dengan dolar AS.

Equity World | Jelas! Ekonomi China Nyungsep, Harga Emas Dunia Terbang

Equity World | Jelas! Ekonomi China Nyungsep, Harga Emas Dunia Terbang

Equity World | Pergerakan harga emas dunia masih variatif dengan kecenderungan melemah terbatas. Rilis data ekonomi China yang mixed membuat pelaku pasar masih memasang mode wait and see.

Pada perdagangan hari Senin (15/7/2019) pukul 09:30 WIB, harga emas kontrak pengiriman Agustus di bursa New York Commodity Exchange (COMEX) menguat 0,12% ke level US$ 1.413,9/troy ounce atau senilai Rp 633.228/gram.

Sementara harga emas di pasar spot terpantau melemah 0,22% menjadi US$v 1.412,43/troy ounce.

Angka pertumbuhan ekonomi China kuartal II-2019 dibacakan sebesar 6,2% secara tahunan (year-on-yar/YoY) oleh Biro Statistik Nasional (National Bureau of Statistics/NBS). Itu merupakan pertumbuhan ekonomi paling lambat sejak 1992 atau dalam 27 tahun terakhir.

Dampak dari eskalasi perang dagang dengan Amerika Serikat (AS) terbukti mampu membuat ekonomi Negeri Tirai Bambu semakin tertekan.

Mengingat China merupakan negara dengan perekonomian terbesar ke dua di dunia, maka dampaknya juga akan merebak ke negara-negara lain.

Alhasil risiko perlambatan ekonomi global masih akan terus menghantui pelaku pasar dan membuat investasi pada aset berisiko agak dihindari.

Dalam kesempatan tersebut, emas masih dipertahankan sebagai instrumen pelindung nilai (hedging) karena fluktuasi nilainya yang relatif kecil.

Akan tetapi, bersamaan dengan pertumbuhan ekonomi yang buruk, penjualan barang-barang ritel China pada bulan Juni tercatat naik 9,5% YoY. Angka pertumbuhan tersebut jauh lebih tinggi ketimbang prediksi konsensus yang hanya 8,5% dan merupakan yang paling besar sejak April 2018, mengutip Trading Economics.

Ada pula pertumbuhan barang-barang industrial China bulan Juni juga naik hingga 6,3% YoY yang juga lebih tinggi dibanding prediksi konsensus sebesar 5,2% YoY.

Data tersebut menunjukkan tingkat konsumsi penduduk Negeri Panda yang masih kuat, di tengah gejolak perekonomian yang melanda. Sama halnya dengan Indonesia, konsumsi di China juga merupakan komponen terbesar dalam Produk Domestik Bruto (PDB). Kala Konsumsi masih terjaga, ada peluang pertumbuhan ekonomi ke depan tidak anjlok terlalu dalam.

Dengan begitu kekhawatiran investor akan kondisi ekonomi global ke depan dapat diredam. Alhasil pelaku pasar belum ada keinginan untuk menambak koleksi emas.

Namun, pelaku pasar juga masih menantikan keputusan suku bunga acuan Bank Sentral AS, The Fed yang akan dibacakan akhir bulan Juli.

Equity World

Harga Emas Antam Hari Ini Rp 706 Ribu Per Gram | Equity World

Mengutip CME Fedwatch hari Senin (15/7/2019) pukul 09:15 WIB, probabilitas The Fed menurunkan suku bunga acuan (Federal Funds Rate/FFR) pada rapat Komite Pengambil Kebijakan (FOMC) bulan Juli mencapai 100%.

Kemungkinan FFR turun 25 basis poin mencapai 74,4%, sedangkan peluang turun 50 basis poin sebesar 25,6%.

Dengan adanya penurunan suku bunga acuan, kegiatan usaha akan mendapatkan stimulus berupa peningkatan likuiditas. Fasilitas kredit semakin murah, ekspansi bisnis bisa di gas.

Bila FFR benar-benar dipangkas, terlebih dengan sangat agresif, maka nilai tukar dolar akan rentan terkoreksi akibat banjir likuiditas.

Aset-aset berbasis dolar akan berisiko terkoreksi akibat perbedaan nilai tukar. Dalam kesempatan tersebut, investor masih berjaga-jaga untuk segera mengoleksi emas agar koreksi nilai aset bisa diminimalisasi.

Harga emas juga lebih murah saat kurs dolar AS melemah bagi pemegang mata uang lain. Sebab, emas di pasar global ditransaksikan dalam dolar AS.

Design a site like this with WordPress.com
Get started