Equityworld Futures | Wall Street Bangkit di Tengah Perang Iran dan AS, Harga Minyak Tergelincir

Equityworld Futures | Wall Street Bangkit di Tengah Perang Iran dan AS, Harga Minyak Tergelincir

Equityworld Futures | Bursa saham Amerika Serikat (AS) atau Wall Street ditutup menguat pada perdagangan Senin (16/3/2026) waktu setempat, sementara harga minyak dunia justru terkoreksi setelah reli tajam pada pekan sebelumnya.

Equityworld Futures | Harga Emas Nyaris Sentuh USD 5.000, Konflik Timur Tengah Bikin Pasar Deg-degan

Mengutip CNBC Selasa (17/4/2026), indeks Dow Jones Industrial Average naik 387,94 poin atau 0,83 persen ke level 46.946,41. Sementara itu, S&P 500 menguat 1,01 persen ke posisi 6.699,38 dan Nasdaq Composite naik 1,22 persen menjadi 22.374,18.

Penguatan saham didorong oleh sejumlah emiten teknologi. Saham Meta naik lebih dari 2 persen setelah muncul laporan bahwa perusahaan tersebut tengah mempertimbangkan pemutusan hubungan kerja terhadap lebih dari 20 persen karyawannya. Namun, laporan tersebut oleh pihak perusahaan disebut masih bersifat spekulatif.

Di sisi lain, saham Nvidia juga menguat lebih dari 1 persen seiring dimulainya konferensi teknologi tahunan GTC pada Senin.

Penguatan ini terjadi setelah S&P 500 mencatat penurunan selama tiga pekan berturut-turut dan pada Jumat lalu ditutup di level terendah sepanjang tahun ini.

Sementara itu, pasar energi mengalami pergerakan berlawanan. Harga minyak dunia turun pada perdagangan Senin setelah sebelumnya melonjak tajam akibat meningkatnya ketegangan di kawasan Timur Tengah.

Pekan lalu, harga minyak jenis Brent sempat menembus 100 dollar AS per barrel untuk pertama kalinya sejak 2022. Lonjakan tersebut dipicu oleh terganggunya lalu lintas kapal di Selat Hormuz, jalur strategis yang dilalui sekitar seperlima pasokan minyak dunia, sejak pecahnya konflik Iran.

Namun pada perdagangan Senin, harga minyak mulai terkoreksi. Minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) turun 5,28 persen dan ditutup di level 93,50 dollar AS per barrel, setelah sempat diperdagangkan di atas 100 dollar AS pada perdagangan semalam. Sementara itu, Brent crude turun 2,84 persen menjadi 100,21 dollar AS per barrel.
Penurunan harga minyak terjadi setelah Menteri Keuangan Amerika Serikat Scott Bessent menyatakan bahwa pemerintah AS mengizinkan kapal tanker minyak Iran untuk melintas di Selat Hormuz.

Selain itu, laporan Wall Street Journal menyebutkan bahwa Amerika Serikat segera mengumumkan pembentukan koalisi negara-negara yang akan mengawal kapal melalui selat tersebut guna menjaga kelancaran jalur perdagangan energi.
Meski demikian, pernyataan Presiden Amerika Serikat Donald Trump kepada wartawan pada Senin siang menunjukkan bahwa koalisi tersebut belum sepenuhnya terbentuk. Trump bahkan mendorong negara-negara lain untuk ikut berpartisipasi dalam pengamanan jalur pelayaran tersebut.

Setelah pernyataan itu, harga minyak sempat bangkit dari posisi terendahnya, meskipun tetap ditutup melemah pada akhir sesi.

Di sisi lain, penguatan Wall Street juga sempat lebih tinggi pada awal perdagangan. Indeks Dow Jones bahkan sempat naik lebih dari 600 poin atau sekitar 1,3 persen sebelum akhirnya memangkas sebagian kenaikannya. Sementara itu, S&P 500 dan Nasdaq sempat menguat masing-masing sekitar 1,4 persen dan 1,6 persen.

Sebelumnya pada Jumat, Trump memerintahkan serangan terhadap aset militer Iran yang berada di Pulau Kharg. Meski serangan tersebut tidak mengenai infrastruktur minyak, Trump menyatakan bahwa Amerika Serikat dapat mempertimbangkan untuk menyerang fasilitas energi Iran jika negara tersebut terus memblokir Selat Hormuz.

Profil Perusahaan

Ilustrasi Transaksi

Legalitas Bisnis

Hubungi Kami

Equityworld Futures | Wall Street Babak Belur di Tengah Lonjakan Harga Minyak hingga Potensi Stagflasi

Equityworld Futures | Wall Street Babak Belur di Tengah Lonjakan Harga Minyak hingga Potensi Stagflasi

Equityworld Futures | Indeks bursa Wall Street Amerika Serikat (AS) ditutup anjlok pada perdagangan saham Jumat (13/3) di tengah lonjakan harga minyak. Seiring dengan itu, pasar terus menanti perkembangan konflik AS–Iran.

Equityworld Futures | Kenapa Harga Emas Tak Banyak Gerak saat Perang Iran vs AS-Israel?

S&P 500 turun 0,61% ke level 6.632,19 dan Nasdaq Composite melemah 0,93% menjadi 22.105,36. Adapun Dow Jones Industrial Average juga terkoreksi 119,38 poin atau 0,26% ke level 46.558,47.

Secara mingguan, ketiga indeks tercatat di zona merah. S&P 500 merosot 1,6% sepanjang pekan ini dan mencatat penurunan tiga pekan berturut-turut untuk pertama kalinya dalam sekitar satu tahun terakhir. Dow Jones turun sekitar 2%, sedangkan Nasdaq yang didominasi saham teknologi merosot 1,3%.

Di sisi lain, harga minyak dunia melanjutkan kenaikan. Kontrak berjangka West Texas Intermediate naik 3,11% menjadi US$ 98,71 per barel. Sementara kontrak berjangka Brent Crude menguat 2,67% ke US$ 103,14 per barel dan ditutup di atas US$ 100 per barel untuk pertama kalinya sejak Agustus 2022.
Lonjakan harga minyak itu setelah Pemimpin Tertinggi Iran yang baru, Mojtaba Khamenei, menyatakan Selat Hormuz harus tetap ditutup sebagai “alat untuk menekan musuh.” Lalu lintas kapal di jalur pelayaran strategis tersebut dilaporkan hampir terhenti sejak Amerika Serikat dan Israel meluncurkan serangan terhadap Iran pada akhir Februari.

Pada Jumat lalu, Menteri Pertahanan Amerika Serikat Pete Hegseth menepis kekhawatiran penutupan Selat Hormuz yang dinilai akan terus menjadi masalah. Ia menilai gangguan di jalur pelayaran strategis tersebut tidak akan berlangsung lama.

“Kami telah mengatasinya, dan tidak perlu khawatir tentang hal itu,” ucap Hegseth dalam konferensi pers di Pentagon, dikutip CNBC International pada Senin (16/3).

Kepala Investasi Makro Global di Mount Lucas Management, David Aspell mengatakan pasar saat ini dibayangi kekhawatiran di Wall Street. Hal itu karena kenaikan harga minyak dapat memicu lingkungan stagflasi, yakni inflasi yang lebih tinggi disertai melambatnya pertumbuhan ekonomi.
Menurutnya, kekhawatiran tersebut juga mendorong investor menurunkan ekspektasi terhadap pemangkasan suku bunga oleh Federal Reserve tahun ini. Perdagangan futures fed funds bahkan tidak lagi memperkirakan pemotongan suku bunga pada September.

Di samping itu, ia mengatakan laba perusahaan cukup baik meski saat ini sentimennya sangat sulit. Ia juga menyebut kenaikan harga minyak juga turut memengaruhi sentimen pasar.
“Sementara valuasi ekuitas sebelumnya juga mencerminkan jalur suku bunga yang kini mulai dipertanyakan,” kata Aspell.

Profil Perusahaan

Ilustrasi Transaksi

Legalitas Bisnis

Hubungi Kami

Equityworld Futures | Breaking News: Harga Minyak Dunia Melonjak, IHSG Terkoreksi Lebih dari 1%

Equityworld Futures | Breaking News: Harga Minyak Dunia Melonjak, IHSG Terkoreksi Lebih dari 1%

Equityworld Futures | Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengalami penurunan lebih dari 1% pada awal sesi perdagangan hari ini, Jumat (13/3/2026). Pada sekitar pukul 09.27 WIB, IHSG tercatat melemah 1,06% hingga berada di posisi 7.284,41.

Equityworld Futures | Harga Emas Hari Ini Melorot Tajam, Harga Perak Ikut Amblas

Sebanyak 463 saham mengalami penurunan harga, sementara 151 saham mencatat kenaikan dan 344 saham tidak mengalami perubahan. Nilai transaksi tercatat mencapai Rp2,19 triliun dengan volume perdagangan sebesar 5,2 miliar saham yang terjadi dalam 321.800 kali transaksi.

Pergerakan IHSG pada pagi hari ini sejalan dengan tren yang terjadi di pasar saham Asia. Indeks S&P/ASX 200 di Australia turun sekitar 0,3% pada awal perdagangan kawasan Asia, sedangkan Nikkei 225 Jepang melemah 2% dan indeks yang lebih luas, TOPIX, turun sekitar 1,4%.

Di Korea Selatan, indeks saham utama KOSPI jatuh hampir 3%, sementara indeks saham berkapitalisasi kecil KOSDAQ terkoreksi hampir 2%.

Penurunan tersebut terjadi seiring meningkatnya kekhawatiran para pelaku pasar mengenai pasokan minyak di tengah konflik yang diperkirakan berlangsung dalam waktu lama.

Harga minyak dunia telah melonjak lebih dari 38% dalam kurun waktu kurang dari dua minggu akibat ancaman serius terhadap jalur distribusi global.

Harga minyak mentah Brent Crude Oil tercatat mencapai US$100,72 per barel, sedangkan West Texas Intermediate (WTI) berada di level US$95,37 per barel.

Lonjakan harga ini dipicu oleh serangan terhadap dua kapal tanker serta fasilitas pelabuhan minyak di wilayah perairan Irak yang menimbulkan kekhawatiran terkait keamanan pelayaran di Selat Hormuz. Militer Iran bahkan memperingatkan bahwa harga minyak berpotensi melonjak hingga mencapai US$200 per barel.

Di sisi lain, di tengah operasi militer besar yang dilakukan oleh Amerika Serikat dan Israel, badan intelijen AS menilai bahwa struktur kepemimpinan pemerintahan Iran saat ini masih solid dan belum menunjukkan tanda-tanda akan runtuh. Laporan tersebut juga menegaskan bahwa rezim di Teheran tetap mempertahankan kendali penuh terhadap masyarakatnya.

Posisi pemimpin tertinggi Iran juga disebut telah diambil alih oleh putra Ali Khamenei, yaitu Mojtaba Khamenei, dengan tujuan menjaga stabilitas pemerintahan. Sementara itu, kelompok milisi Kurdi Iran sempat menawarkan bantuan untuk melakukan pemberontakan, namun tawaran tersebut ditolak oleh Presiden Amerika Serikat Donald Trump karena pihak intelijen meragukan kemampuan persenjataan mereka.

Berdasarkan laporan terbaru, Mojtaba dalam pidato publik pertamanya sejak dipilih sebagai pemimpin tertinggi Iran menegaskan bahwa Selat Hormuz harus tetap ditutup. Kebijakan tersebut dimaksudkan untuk menjadikan selat tersebut sebagai alat tekanan terhadap pihak musuh.

Profil Perusahaan

Ilustrasi Transaksi

Legalitas Bisnis

Hubungi Kami

Equityworld Futures | Wall Street Beragam, Cuma Nasdaq yang Raup Cuan

Equityworld Futures | Wall Street Beragam, Cuma Nasdaq yang Raup Cuan

Equityworld Futures | Saham Amerika Serikat (AS) di Wall Street ditutup beragam pada perdagangan Rabu waktu setempat (Kamis WIB), karena harga minyak berjangka global melanjutkan tren kenaikannya sehingga menutupi laporan inflasi yang sangat dinantikan.

Equityworld Futures | Harga Emas Dunia Turun ke USD 5.170 per Ons

Mengutip Xinhua, Kamis, 12 Maret 2026, indeks Dow Jones Industrial Average turun 0,61 persen menjadi 47.417,27. Indeks S&P 500 merosot 0,08 persen menjadi 6.775,8. Indeks Nasdaq Composite naik 0,08 persen menjadi 22.716,14.

Sebanyak delapan dari 11 sektor utama S&P 500 berakhir merah, dengan sektor barang konsumsi pokok dan real estat memimpin penurunan dengan masing-masing turun 1,29 persen dan 1,12 persen. Sementara itu, sektor energi dan teknologi memimpin kenaikan dengan masing-masing bertambah 2,48 persen dan 0,35 persen.

Adapun harga minyak mentah berjangka West Texas Intermediate (WTI) naik 4,55 persen pada perdagangan Rabu meskipun ada upaya intervensi besar-besaran dari Badan Energi Internasional (IEA).

Badan tersebut mengumumkan anggotanya akan melepaskan 400 juta barel minyak dari cadangan, menandai pelepasan strategis terbesar yang pernah dilakukan. Ini sebagai upaya langsung untuk mengurangi gangguan pasokan parah yang dipicu oleh konflik yang sedang berlangsung.

Profil Perusahaan

Ilustrasi Transaksi

Legalitas Bisnis

Hubungi Kami

Equityworld Futures | Wall Street Melemah di Tengah Eskalasi Konflik Iran, Investor Waspadai Stagflasi

Equityworld Futures | Wall Street Melemah di Tengah Eskalasi Konflik Iran, Investor Waspadai Stagflasi

Equityworld Futures | Bursa saham Amerika Serikat (AS), Wall Street, ditutup bervariasi pada perdagangan Selasa (10/3) setelah reli awal memudar seiring meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah.

Equityworld Futures | Harga Emas Turun saat Perang di Timteng, Tak Lagi Jadi Safe Haven?

Sentimen pasar memburuk setelah muncul laporan Iran menempatkan ranjau di Selat Hormuz, jalur pelayaran energi paling vital di dunia. Presiden AS Donald Trump merespons laporan dengan ancaman pembalasan serta kembali menyerukan agar Iran menyerah sepenuhnya.

Mengutip Reuters pada Rabu (11/3), indeks S&P 500 turun 14,44 poin atau 0,21 persen menjadi 6.781,55. Indeks Dow Jones Industrial Average melemah 36,66 poin atau 0,08 persen menjadi 47.704,14. Sementara Nasdaq Composite naik tipis 2,24 poin atau 0,01 persen ke level 22.698,19.

“Pasar sebelumnya menunjukkan kekuatan dan kini telah kehilangan semuanya,” kata Senior portfolio strategist di Ingalls & Snyder di New York, Tim Ghriskey.

Katanya, optimisme pasar yang sempat muncul dari berbagai pernyataan Gedung Putih dengan cepat memudar.

“Anda melihat berbagai headline dari Gedung Putih yang memberi harapan kepada pasar, lalu pemikiran yang lebih jernih muncul dan pasar menyadari bahwa ini masih jauh dari selesai,” ujarnya.

Pasalnya, ketidakpastian semakin meningkat setelah Menteri Pertahanan AS Pete Hegseth memperingatkan hari Selasa (10/3) menjadi hari paling intens sejauh ini dalam operasi militer terhadap Iran.

Konflik tersebut sempat memicu lonjakan tajam harga minyak dunia, meningkatkan kekhawatiran inflasi di tengah pelemahan pasar tenaga kerja AS. Kondisi ini menimbulkan risiko stagflasi, yaitu situasi ketika inflasi tinggi terjadi bersamaan dengan perlambatan ekonomi.

Meski demikian, pasar masih berharap konflik dapat mereda dalam waktu dekat. Harapan tersebut muncul setelah pemerintahan Trump memberi sinyal kemungkinan pelonggaran sanksi minyak terhadap Rusia, yang berpotensi menambah pasokan global dan menekan harga energi.

Harga minyak mentah pun berbalik turun tajam. Kontrak berjangka minyak mentah AS dan Brent untuk pengiriman bulan terdekat ditutup merosot lebih dari 11 persen.

“Ketika Anda melihat pergerakan parabola seperti itu, baik pada emas, minyak atau apa pun, biasanya akan terjadi pembalikan yang cukup tajam begitu ada berita dari sisi sebaliknya,” kata Senior wealth adviser dan market strategist di Murphy & Sylvest di Elmhurst Illinois, Paul Nolte.

Di tengah tekanan pasar, saham sektor semikonduktor justru menguat dengan kenaikan pada Nvidia, SanDisk, dan Western Digital.

Indeks S&P Software & Select Services kembali menjadi sektor dengan kinerja terburuk setelah beberapa bulan terakhir tertekan oleh kekhawatiran disrupsi akibat perkembangan kecerdasan buatan (AI).

Pergerakan pasar selanjutnya juga bakal dipengaruhi sejumlah data ekonomi penting yang akan dirilis pekan ini, termasuk laporan inflasi AS melalui Indeks Harga Konsumen (CPI), revisi pertumbuhan ekonomi kuartal keempat, serta data Personal Consumption Expenditures (PCE) yang menjadi indikator inflasi favorit bank sentral AS.

Profil Perusahaan

Ilustrasi Transaksi

Legalitas Bisnis

Hubungi Kami

Equityworld Futures | Menang di Berbagai Perang, Kenapa Wall Street Takluk oleh Perang Iran?

Equityworld Futures | Menang di Berbagai Perang, Kenapa Wall Street Takluk oleh Perang Iran?

Equityworld Futures | Ketegangan geopolitik global dan eskalasi militer antarnegara kerap menjadi salah satu faktor utama yang memicu kekhawatiran serta aksi jual secara masif di kalangan pelaku pasar modal.

Equityworld Futures | Harga Emas Turun saat Perang di Timteng, Tak Lagi Jadi Safe Haven?

Pasca pecahnya konflik pada 28 Februari 2026 lalu di Iran, pasar saham global merespons dinamika tersebut dengan pergerakan yang fluktuatif termasuk pasar modal di Indonesia.

Kemampuan S&P 500 Menahan

Indeks S&P 500, yang menjadi acuan utama pasar saham Amerika Serikat sekaligus barometer global, mencatatkan drawdown yang cukup signifikan. Terhitung sejak Senin (2/3/2026) hingga kemarin Selasa (10/03/2026), indeks tersebut telah mengalami pelemahan sekitar 3,15%.

Penurunan ini mencerminkan kehati-hatian investor dalam menghadapi ketidakpastian geopolitik yang sedang berlangsung karena dapat memicu kenaikan harga komoditas global dan potensi naiknya angka inflasi secara menyeluruh.

Secara psikologis, investor institusional maupun ritel cenderung merelokasi portofolio investasi mereka ke instrumen safe haven pada masa-masa awal terjadinya krisis.

Tinjauan mendalam terhadap data historis sejak tahun 1979 justru menunjukkan bahwa indeks S&P 500 memiliki data historis kemampuan bertahan dan pemulihan yang sangat konsisten. Namun, cerita berbeda terjadi tahun ini di tengah perang Iran vs Israel-AS.

Sejak invasi Irak ke Kuwait pada 2003, sepekan setelah perang, Wall Street selalu menguat. Berbeda dengan tahun ini di mana Wall Street jeblok setelah perang Iran.

Gejolak perang antara Iran, Israel, dan Amerika Serikat langsung mengguncang pasar saham global, termasuk Wall Street. Indeks utama seperti Dow Jones, S&P 500, dan Nasdaq biasanya tertekan ketika ketegangan geopolitik meningkat.

Salah satu pemicunya adalah lonjakan harga minyak. Konflik yang melibatkan Iran memicu kekhawatiran terganggunya pasokan energi global, terutama jika jalur strategis seperti Selat Hormuz terdampak. Padahal sekitar 20% perdagangan minyak dunia melewati jalur tersebut.

Kenaikan harga minyak membuat biaya produksi meningkat, memicu inflasi, dan menekan keuntungan perusahaan sehingga investor cenderung melepas saham.

Seperti diketahui, harga minyak melonjak ke US$ 119 pada Senin (9/3/2026) atau rekor tertinggi sejak Juni 2022.

Pasar juga khawatir konflik dapat meluas menjadi perang regional yang lebih besar. Jika itu terjadi, perdagangan global, rantai pasok, hingga transportasi internasional berpotensi terganggu.

Di sisi lain, lonjakan harga energi juga dapat mendorong inflasi sehingga Federal Reserve kemungkinan mempertahankan suku bunga tinggi lebih lama. Kondisi ini biasanya tidak menguntungkan bagi pasar saham, terutama sektor teknologi.

Profil Perusahaan

Ilustrasi Transaksi

Legalitas Bisnis

Hubungi Kami

Equityworld Futures | Wall Street berbalik arah setelah pernyataan Presiden AS.

Equityworld Futures | Wall Street berbalik arah setelah pernyataan Presiden AS.

Equityworld Futures | Pasar saham AS pulih dengan kuat pada tanggal 9 Maret setelah Presiden Donald Trump menyatakan bahwa perang dengan Iran mungkin akan segera berakhir. Komentar Gedung Putih, yang dikutip oleh media, membantu membalikkan sentimen pesimistis sebelumnya di kalangan investor Wall Street.

Equityworld Futures | Harga Emas Turun Lagi, Enaknya Jual atau Beli?

Menurut koresponden Kantor Berita Vietnam di AS, indeks S&P 500 naik 0,4% pada akhir sesi, sementara Dow Jones Industrial Average meningkat 97 poin, setara dengan sekitar 0,2%. Indeks Nasdaq Composite mencatat kenaikan yang lebih kuat, sekitar 1%. Perkembangan ini menandai pembalikan yang signifikan dari awal sesi perdagangan, ketika pasar anjlok tajam.

Selama perdagangan pagi, indeks Dow Jones turun hampir 900 poin ke titik terendah hari itu, sementara S&P 500 dan Nasdaq masing-masing turun sekitar 1,5%. Namun, pasar dengan cepat pulih setelah Presiden Trump mengatakan kepada seorang reporter CBS News bahwa perang dengan Iran “pada dasarnya sudah berakhir.”

Presiden Trump menegaskan bahwa kampanye militer AS telah menimbulkan kerusakan serius pada Iran. Ia menyatakan bahwa Iran sekarang “tidak memiliki angkatan laut, sistem komunikasi, dan angkatan udara.” Presiden juga mengatakan bahwa kampanye tersebut berjalan jauh lebih cepat daripada perkiraan awal 4-5 minggu yang telah ia prediksi.

Pemulihan pasar semakin didukung oleh kenaikan saham teknologi semikonduktor. Saham Broadcom dan Advanced Micro Devices (AMD) sama-sama naik sekitar 2%, sementara Micron Technology naik lebih dari 3%. Saham Nvidia juga naik hampir 1% selama sesi perdagangan.

Sementara itu, pasar energi tetap berada di bawah tekanan signifikan akibat konflik di Timur Tengah. Harga minyak mentah WTI melampaui $119 per barel dalam perdagangan semalam, melebihi $100 untuk pertama kalinya sejak 2022. Namun, pada akhir sesi, harga telah turun menjadi hampir $95 per barel, masih sekitar 4% lebih tinggi dari sebelumnya.

Minyak mentah Brent, patokan internasional untuk pasar minyak mentah, juga melonjak dan saat ini diperdagangkan sekitar $99 per barel. Lonjakan harga ini disebabkan oleh penutupan Selat Hormuz, yang mengganggu pasokan energi dari Timur Tengah.

Beberapa negara penghasil minyak di kawasan itu telah mulai memangkas produksi. Kuwait mengatakan telah mengurangi produksi minyak, sementara laporan menunjukkan produksi Irak mungkin telah turun hingga 70% karena kesulitan dalam mengangkut dan mengekspor minyak melalui zona konflik.

Dalam situasi ini, para menteri energi dari Kelompok Tujuh (G7) negara industri—Kanada, Prancis, Jerman, Italia, Jepang, Inggris Raya, dan Amerika Serikat—diperkirakan akan bertemu secara daring untuk membahas kemungkinan pelepasan cadangan minyak strategis guna menstabilkan pasar. Namun, belum ada keputusan resmi yang diambil.

Beberapa pakar keuangan memperingatkan bahwa jika harga minyak tetap di atas $100 per barel untuk jangka waktu yang lama, ekonomi global dapat menghadapi risiko inflasi tinggi dan pertumbuhan yang lambat. Pakar strategi investasi Ed Yardeni berpendapat bahwa dalam skenario terburuk, pasar dapat menghadapi risiko stagflasi yang mirip dengan yang terjadi pada tahun 1970-an.

Namun, banyak investor masih percaya bahwa konflik tersebut hanya akan berlangsung dalam waktu singkat. Beberapa manajer dana berpendapat bahwa reaksi pasar saham yang relatif stabil menunjukkan bahwa Wall Street bertaruh bahwa kampanye militer AS akan segera mencapai tujuannya dan membantu menstabilkan pasar energi.

Profil Perusahaan

Ilustrasi Transaksi

Legalitas Bisnis

Hubungi Kami

Equityworld Futures | Kontrak Berjangka Wall Street Merosot Gegara Kenaikan Harga Minyak

Equityworld Futures | Kontrak Berjangka Wall Street Merosot Gegara Kenaikan Harga Minyak

Equityworld Futures | Kontrak berjangka indeks saham Amerika Serikat (AS) pada Wall Street merosot pada Minggu waktu setempat (Senin pagi WIB) karena konflik yang meningkat di Timur Tengah mendorong harga minyak di atas USD100 per barel. Kondisi ini meningkatkan kekhawatiran biaya energi yang lebih tinggi dapat memperlambat ekonomi AS dan memicu inflasi.

Equityworld Futures | Efek Domino Penutupan Selat Hormuz: Minyak Mahal, Inflasi hingga Harga Emas Terus Naik

Mengutip Investing.com, Senin, 9 Maret 2026, kontrak berjangka S&P 500 turun 1,7 persen menjadi 6.632,75 poin, sementara kontrak berjangka Nasdaq 100 turun 1,8 persen menjadi 24.234,0 poin. Kontrak berjangka Dow Jones juga turun 1,7 persen menjadi 46.696,0 poin.

Lonjakan harga minyak picu kekhawatiran inflasi

Wall Street mengakhiri pekan lalu di wilayah negatif seiring meningkatnya ketegangan geopolitik. Dow Jones Industrial Average turun sekitar tiga persen untuk pekan ini, sementara S&P 500 turun dua persen. Nasdaq Composite yang didominasi saham teknologi mencatat penurunan mingguan sebesar satu persen.

Penurunan harga berjangka terjadi seiring dengan melonjaknya harga minyak mentah setelah konflik yang melibatkan AS, Israel, dan Iran meningkat selama akhir pekan.

Harga patokan minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) AS naik di atas USD100 per barel di tengah kekhawatiran akan gangguan pasokan dan risiko terhadap pengiriman melalui Selat Hormuz, jalur utama perdagangan minyak global.

Lonjakan harga minyak telah meningkatkan kekhawatiran bahwa guncangan energi baru dapat mendorong inflasi lebih tinggi dan membebani pengeluaran konsumen di AS.

Kenaikan harga minyak mentah yang berkelanjutan dapat mempersulit prospek kebijakan Federal Reserve dengan menjaga tekanan harga tetap tinggi bahkan ketika pertumbuhan ekonomi menunjukkan tanda-tanda perlambatan.

Profil Perusahaan

Ilustrasi Transaksi

Legalitas Bisnis

Hubungi Kami

Equityworld Futures | Wall Street Ambruk Imbas Meningkatnya Konflik AS-Iran

Equityworld Futures | Wall Street Ambruk Imbas Meningkatnya Konflik AS-Iran

Equityworld Futures | Saham AS berakhir merah pada Kamis, 5 Maret 2026, meskipun ditutup jauh di atas titik terendah sesi, karena konflik yang meningkat di Timur Tengah mendorong harga minyak dan memicu kekhawatiran inflasi. Penurunan saham semikonduktor juga membebani, setelah laporan bahwa pemerintahan Trump sedang menyusun aturan untuk membatasi pengiriman chip AI.

Equityworld Futures | Harga Emas Turun Gara-gara Penguatan Dolar AS

Dikutip dari Investing.com, Jumat, 6 Maret 2026, indeks acuan S&P 500 turun 0,6 persen menjadi 6.829,45 poin, indeks NASDAQ Composite yang didominasi saham teknologi turun 0,3 persen menjadi 22.748,99 poin, dan indeks Dow Jones Industrial Average yang didominasi saham blue-chip merosot 1,6 persen menjadi 47.954,19 poin.

“Saham AS berada di bawah tekanan pagi ini karena harga minyak mulai naik dan sekarang mendekati USD80. Suasana penghindaran risiko telah berlanjut sepanjang pagi,” kata kepala strategi pasar di Jones Trading Michael O’Rourke kepada Investing.com.

“Beberapa investor telah beralih ke delapan perusahaan raksasa (Magnificent Eight), mencari keamanan dalam ukuran perusahaan tersebut. Taktik itu terbukti sia-sia karena muncul laporan bahwa pemerintahan Trump telah menulis rancangan aturan yang akan membatasi pengiriman chip AI ke mana pun di dunia tanpa persetujuannya. Hal itu telah memicu penjualan saham Nvidia dan pemimpin lainnya di sektor semikonduktor,” tambah O’Rourke.

Indeks utama ditutup lebih tinggi pada hari Rabu, dengan Dow naik 0,5 persen, S&P naik 0,8 persen, dan Nasdaq naik 1,3 persen. Sejumlah data ekonomi yang kuat dan laporan tentang Iran yang mencari lebih banyak dialog telah membantu mendorong selera risiko.
Konflik Iran terus berlanjut
Harapan bahwa konflik Timur Tengah akan segera berakhir tampaknya semakin berkurang karena Iran meluncurkan gelombang rudal ke Israel, menandai hari keenam berturut-turut permusuhan.

Serangan itu terjadi hanya beberapa jam setelah Senat AS memberikan suara, sebagian besar berdasarkan garis partai, menentang mosi yang bertujuan untuk menghentikan kampanye udara dan mengharuskan tindakan militer disahkan oleh Kongres.

Sementara itu, Mojtaba Khamenei, putra pemimpin tertinggi Iran yang terbunuh, telah muncul sebagai kandidat terdepan untuk menggantikannya, kata Gedung Putih pada hari Rabu, yang menyiratkan bahwa Teheran tidak akan menyerah pada tekanan. Presiden Donald Trump kemudian mengatakan kepada Axios bahwa Khamenei tidak dapat diterima sebagai pengganti dan bahwa ia perlu secara pribadi menyetujui pemimpin Iran berikutnya.

Salah satu konsekuensi yang banyak diantisipasi dari konflik ini mulai muncul: konsumen Amerika menghadapi lonjakan harga di pompa bensin. Ini juga dapat berdampak pada pertumbuhan ekonomi secara lebih luas.

Direktur Pelaksana Dana Moneter Internasional Kristalina Georgieva mengatakan konflik tersebut menguji “ketahanan ekonomi global”.

“Konflik ini, jika terbukti berkepanjangan, jelas berpotensi memengaruhi harga energi global, sentimen pasar, pertumbuhan, dan inflasi. Dan itu akan menempatkan tuntutan baru di pundak para pembuat kebijakan di mana pun,” katanya sebelumnya pada hari Kamis.

Profil Perusahaan

Ilustrasi Transaksi

Legalitas Bisnis

Hubungi Kami

Equityworld Futures | Wall Street Rebound Didukung Data Ekonomi AS, Dow Melonjak Lebih 200 Poin

Equityworld Futures | Wall Street Rebound Didukung Data Ekonomi AS, Dow Melonjak Lebih 200 Poin

Equityworld Futures | Pasar saham AS menguat pada Rabu waktu AS atau Kamis (5/3/2026) WIB, meski perang Iran berlanjut. Penguatan pasar didukung meredanya lonjakan harga minyak dan meredanya kekhawatiran perlambatan ekonomi AS.

Equityworld Futures | Harga Emas Bangkit, Saatnya Kumpulkan Tenaga ke Level Tertinggi

Dow Jones Industrial Average melonjak 238,14 poin atau 0,49% ditutup di 48.739,41. Indeks 30 saham tersebut mengakhiri penurunan tiga hari berturut-turut. S&P 500 naik 0,78% ke 6.869,50, sementara Nasdaq Composite menguat 1,29% menjadi 22.807,48.

Saham teknologi mendukung pasar yang lebih luas, terutama sektor chip. Micron Technology dan Advanced Micro Devices masing-masing melonjak lebih dari 5%. Broadcom dan Nvidia naik lebih dari 1%.

Dua rilis data ekonomi yang kuat mendukung sentimen investor. ADP melaporkan perusahaan sektor swasta menambah lebih banyak lapangan kerja dari perkiraan pada Februari. Selain itu, sektor nonmanufaktur AS mencatat pertumbuhan lebih baik dari ekspektasi dengan tekanan inflasi yang mereda.

Anthony Saglimbene, kepala strategi pasar di Ameriprise, mengatakan kekhawatiran pelemahan pasar tenaga kerja kini mulai dipertanyakan. “Ekonomi AS berdiri di atas fondasi yang kuat,” katanya, seperti dikutip CNBC.

Reaksi terhadap data ekonomi terjadi bersamaan dengan meredanya reli minyak setelah Menteri Keuangan Scott Bessent mengatakan bahwa AS akan membuat “serangkaian pengumuman” untuk mendukung arus minyak melalui Teluk Persia. Kontrak berjangka Brent dan WTI melemah pada Rabu, dengan Brent ditutup datar dan WTI naik 0,13%.

Reli minyak mereda setelah Presiden Donald Trump mengatakan bahwa AS akan memberikan asuransi risiko untuk perdagangan maritim melalui Teluk guna mendorong kapal tanker kembali melintas di Strait of Hormuz. Lalu lintas kapal tanker di selat tersebut – jalur transit minyak mentah paling vital di dunia – terhenti setelah komandan Garda Revolusi Iran mengancam membakar kapal yang mencoba melintas.

“Jika kita masuk ke lingkungan Timur Tengah yang lebih mengganggu, Anda akan melihat dampak rambatan lebih besar pada pasar global dan harga aset,” kata Saglimbene, seraya menambahkan bahwa masih terlalu dini untuk membuat penilaian tersebut.

Sementara itu, menurut Bessent, tarif global 15% yang diumumkan Trump bulan lalu akan diterapkan pekan ini. Namun ia meyakini tarif AS akan kembali ke level sebelum putusan Mahkamah Agung dalam waktu lima bulan.

Profil Perusahaan

Ilustrasi Transaksi

Legalitas Bisnis

Hubungi Kami

Design a site like this with WordPress.com
Get started