Equity World | Wall Street Tersungkur, Indeks Dow Jones Mengkonfirmasi Pasar Bearish

Equity World | Wall Street Tersungkur, Indeks Dow Jones Mengkonfirmasi Pasar Bearish

Equity World | Wall Street merosot lebih dalam dan masuk pasar bearish pada perdagangan awal pekan ini. Di mana indeks S&P 500 dan Dow ditutup koreksi lebih dari 1% karena investor khawatir bahwa keagresifan Federal Reserve terhadap inflasi dapat membuat ekonomi Amerika Serikat (AS) turun tajam.

Equity World | Harga Emas Menguat, Sinyal Kengerian Resesi Dunia Kian Nyata?

Senin (26/9), indeks Dow Jones Industrial Average ditutup anjlok 1,11% ke 29.260,81, indeks S&P 500 ambles 1,03% menjadi 3.655,04 dan indeks Nasdaq Composite turun 0,6% ke 10.802,92.

Sepuluh dari 11 sektor pada indeks S&P 500 turun. Koreksi terbesar terjadi pada sektor di real estate dan energi yang melemah 2,6%

Sementara itu penguatan pada saham Amazon dan Costco Wholesale Corp, membantu membatasi pelemahan pada indeks Nasdaq.

Setelah dua minggu, sebagian besar pasar saham AS mengalami kerugian stabil, Dow Jones Industrial Average mengonfirmasi telah berada di pasar bearish sejak awal Januari.

Indeks S&P 500 pun sudah mengkonfirmasi berada di pasar bearish pada bulan Juni dan pada hari Senin mengakhiri sesi di bawah penutupan terendah sejak pertengahan Juni, serta memperpanjang aksi jual keseluruhan tahun ini.

Dengan sinyal The Fed pada pekan lalu bahwa suku bunga tinggi dapat bertahan hingga 2023, S&P 500 telah melepaskan keuntungan terakhir yang dibuat dalam reli musim panas lalu.

“Investor hanya menyerah,” kata Jake Dollarhide, Chief Executive Officer Longbow Asset Management di Tulsa, Oklahoma.

“Ini ketidakpastian tentang tanda air tinggi untuk suku bunga dana The Fed. Apakah 4,6%, apakah 5%? Apakah sekitar 2023?”

Keyakinan di antara para pedagang saham juga terguncang oleh pergerakan dramatis di pasar valuta asing global karena sterling mencapai titik terendah sepanjang masa di tengah kekhawatiran bahwa rencana fiskal baru pemerintah Inggris yang dirilis Jumat mengancam akan membebani keuangan negara itu.

Itu menambah lapisan volatilitas ekstra ke pasar, di mana investor khawatir tentang resesi global di tengah inflasi yang tinggi selama beberapa dekade. Indeks Volatilitas CBOE, melayang di dekat tertinggi tiga bulan.

Dow sekarang sudah ambles 20,5% dari rekor penutupan tertinggi yang terjadi pada 4 Januari. Menurut definisi yang banyak digunakan, mengakhiri sesi turun 20% atau lebih dari rekor penutupan tertinggi menegaskan Dow telah berada di pasar bearish sejak mencapai puncak di Januari lalu.

Sedangkan, indeks S&P 500 belum turun di bawah level terendah harian pada 17 Juni. Sejauh ini, S&P 500 sudah turun sekitar 23% pada tahun 2022.

Pada sesi kali ini, saham operator kasino Wynn Resorts, Las Vegas Sands Corp dan Melco Resorts & Entertainment melonjak antara 11,8% hingga 25,5% setelah Makau berencana untuk membuka grup tur China daratan pada November untuk pertama kalinya dalam hampir tiga tahun.

Equity World | Harga Emas Diprediksi Anjlok ke USD 1.600 per Ons Usai Suku Bunga The Fed Naik

Equity World | Harga Emas Diprediksi Anjlok ke USD 1.600 per Ons Usai Suku Bunga The Fed Naik

Equity World | Jakarta Harga emas diperdagangkan mendekati posisi terendah dalam 2,5 tahun setelah Federal Reserve menempatkan dolar AS dan imbal hasil Treasury lebih tinggi. Keadaan makro ini kemungkinan akan mendorong lebih banyak orang menjauh dari emas, menciptakan peluang pembelian yang besar.

Equity World | Alamak! Harga Emas Terbenam di Level Terendah 2,5 Tahun

Dikutip dari Kitco News, Senin (26/9/2022), menurut para ahli, volatilitas di pasar dan permainan FX yang dramatis tidak membuat emas tidak tersentuh karena logam mulia turun 1,7 persen lagi minggu ini. Setelah menaikkan suku bunga sebesar 75 basis poin untuk ketiga kalinya berturut-turut, The Fed menaikkan suku bunga menjadi 4,4 persen pada akhir 2022 dan menjadi 4,6 persen pada 2023.

Untuk pasar, ini bisa diterjemahkan ke dalam kenaikan 75 basis poin lagi di bulan November dan peningkatan tambahan 50 basis poin di bulan Desember.

“Kami telah melihat peningkatan signifikan dalam perkiraan pasar tentang apa yang akan dilakukan suku bunga dana federal selama tahun depan. Ini adalah perbedaan yang cukup besar dari sebulan yang lalu, dan ini sejalan dengan Fed yang lebih agresif. Harga riil naik. Itu negatif untuk emas. Biaya carry yang tinggi dan biaya peluang yang tinggi mungkin akan mendorong modal menjauh,” kata TD Kepala strategi pasar komoditas global sekuritas Bart Melek kepada Kitco News.

Selain itu, jenis hawkishness ini berarti bahwa puncak reli dolar AS masih beberapa waktu lagi, yang merupakan berita buruk bagi emas. Sebagai informasi, Hawkish adalah istilah yang menggambarkan kebijakan moneter cenderung kontraktif seperti kenaikan suku bunga.

“Sepertinya reli dolar ini tidak mencapai puncaknya. Lingkungan pasar saat ini kemungkinan akan tetap meresahkan. Ekspektasi kenaikan suku bunga Fed secara luas berayun. Kita tidak akan melihat penurunan itu sampai kita melihat inflasi turun. Masalahnya adalah kita tidak melihat ekonomi melemah dengan cepat. Ketika kita melakukannya, saat itulah Anda akan melihat puncak dolar. Untuk emas, itu semua tentang ketika kita melihatnya,” kata Analis pasar senior OANDA Edward Moya.

Menurut Moya, dengan Dow menyentuh level terendah tahun ini pada hari Jumat dan lebih banyak volatilitas ke depan, emas tidak mungkin melihat reli yang kuat dalam jangka pendek.

“Kami tidak akan terburu-buru untuk membeli emas dulu. Ada instrumen volatilitas rendah di luar sana yang sekarang memberi Anda beberapa hasil. Itu menghilangkan emas,” tambah Moya.

Akhirnya, emas akan menjadi tempat yang aman lagi karena selera terhadap ekuitas berkurang. Tapi sebelum itu terjadi, ekonomi perlu melambat, dan inflasi perlu melambat. “Begitu kita mulai melihat inflasi bergerak ke tingkat tipe yang lebih jinak, The Fed dapat dengan cepat berbalik. Saat mereka beralih dari dovish ke hawkish, mereka bisa pergi ke arah lain. Tapi itu tidak mungkin dalam waktu dekat,” kata Moya.

Risiko besar untuk logam mulia adalah penurunan di bawah USD 1.600 per ounce. “Jika kita menembus USD 1.600, maka USD 1.540 akan menjadi batas di mana kita mulai melihat pembeli muncul. Emas akan mendapat keuntungan dari arus safe-haven di luar negeri,” kata Moya.

Disisi lain, jika melihat emas jatuh di bawah USD 1.600 per ounce. Maka volatilitas akan lebih tinggi ke depan. Saat volatilitas meningkat, margin call meningkat. Posisi buy tidak dapat diperpanjang. Moya tidak akan melihat reentrance posisi yang besar, intinya emas dalam kondisi yang buruk.

Sebenarnya, dalam menentukan harga emas itu dilihat dari data ketenagakerjaan dan inflasi yang akan datang dari bulan September. “Pasar masih melihat kondisi tenaga kerja yang sangat ketat di AS dan implikasinya bahwa tekanan upah akan terus menjadi masalah,” kata Moya.

Panggilan konsensus pasar mencari ekonomi AS telah menciptakan 300.000 posisi pada bulan September, dengan tingkat pengangguran di 3,5 persen, yang mendekati posisi terendah 50 tahun. Pada catatan positif, emas pada level ini adalah titik masuk yang bagus bagi pembeli.

“Ini membuat emas fisik lebih murah. Ini adalah peluang pembelian. The Fed telah menekankan bahwa mereka memiliki mandat ganda. Dan ketika inflasi terkendali, The Fed dapat dengan cepat membalikkan pada 2023. Suku bunga riil akan jauh lebih bersahabat dengan emas. Saya mengharapkan emas untuk melakukannya dengan baik dalam jangka panjang,” jelas Moya.

Namun, untuk saat ini, resistance berada di USD 1.678-80, dan support berada di sekitar level USD 1.580 per ons untuk emas.

Equity World | Alamak! Harga Emas Terbenam di Level Terendah 2,5 Tahun

Equity World | Alamak! Harga Emas Terbenam di Level Terendah 2,5 Tahun

Equity World | Harga emas mencoba bangkit pada pagi hari ini. Pada perdagangan Senin (26/9/2022) pukul 06:01 WIB, harga emas dunia di pasar spot berada di US$ 1.644,09 per troy ons. Harga emas menguat tipis 0,06%.

Equity World | Wall Street Terguncang, Investor Siap Hadapi Banyak Tekanan

Penguatan hari ini berbanding terbalik dengan penutupan perdagangan terakhir pekan lalu. Pada perdagangan Jumat (23/9/2022), harga emas anjlok 1,64% ke posisi US$ 1.643,09 per troy ons. Posisi tersebut adalah yang terendah sejak awal April 2020 atau hampir 2,5 tahun.

Dalam sepekan, harga emas masih anjlok 1,9% secara point to point. Dalam sebulan, harga emas menyusut 5,3% sementara dalam setahun anjlok 6%.

Kendati menguat pada pagi hari ini, harga emas kini menjauh dari level psikologis US$ 1.600 dan mendekat ke level US$ 1.500. Harga emas juga sudah turun US$ 156 sepanjang tahun ini.

Analis dari OANDA Edward Moya menjelaskan ambruknya harga emas tidak bisa dilepaskan dari melambungnya dolar Amerika Serikat (AS) dan yield surat utang pemerintah AS.
Penguatan dolar AS membuat emas tidak menarik karena makin mahal. Emas juga tidak menawarkan imbal hasil sehingga kenaikan yield membuat emas tidak menarik.

Indeks dolar AS melonjak ke 113 pada akhir pekan lalu, titik tertingginya dalam 20 tahun terakhir. Sementara itu, yield surat utang pemerintah AS melonjak ke 3,69% atau posisi tertinggi sejak April 2010.

Kencangnya pergerakan dolar AS dan yield inilah yang membuat isu resesi menjadi kurang laku untuk mengangkat harga emas. Emas biasanya akan semakin dicari saat ekonomi memburuk karena dinilai sebagai aset aman.

Kendati menguat pada pagi hari ini, harga emas kini menjauh dari level psikologis US$ 1.600 dan mendekat ke level US$ 1.500. Harga emas juga sudah turun US$ 156 sepanjang tahun ini.

Analis dari OANDA Edward Moya menjelaskan ambruknya harga emas tidak bisa dilepaskan dari melambungnya dolar Amerika Serikat (AS) dan yield surat utang pemerintah AS.
Penguatan dolar AS membuat emas tidak menarik karena makin mahal. Emas juga tidak menawarkan imbal hasil sehingga kenaikan yield membuat emas tidak menarik.

Indeks dolar AS melonjak ke 113 pada akhir pekan lalu, titik tertingginya dalam 20 tahun terakhir. Sementara itu, yield surat utang pemerintah AS melonjak ke 3,69% atau posisi tertinggi sejak April 2010.

Kencangnya pergerakan dolar AS dan yield inilah yang membuat isu resesi menjadi kurang laku untuk mengangkat harga emas. Emas biasanya akan semakin dicari saat ekonomi memburuk karena dinilai sebagai aset aman.

Equity World | Harga Emas Hari Ini Menguat, Tapi Masa Depannya Diramal Suram

Equity World | Harga Emas Hari Ini Menguat, Tapi Masa Depannya Diramal Suram

Equity World | Harga emas menguat tipis. Pada perdagangan Jumat (23/9/2022) pukul 06:22 WIB, harga emas dunia di pasar spot berada di US$ 1.671,38 per troy ons. Harga emas menguat 0,05%.

Equity World | Harga Emas Hari Ini Menguat, Tapi Masa Depannya Diramal Suram

Penguatan hari ini membalikkan tren negatif pada perdagangan kemarin di mana harga emas menyusut 0,19% ke posisi US$ 1.670,55 per troy ons.

Dalam sepekan, harga emas melemah tipis 0,22% secara point to point. Dalam sebulan, harga emas menyusut 4,4% sementara dalam setahun melorot 4,1%.

Analis dari Religare Broking Sugandha Sachdeva mengatakan kenaikan suku bunga acuan The Federal Reserve (The Fed) dalam waktu cepat dan kemungkinan berlangsung lama akan menekan pertumbuhan ekonomi. Jika ekonomi terus memburuk maka emas bisa terus menguat karena semakin dicari sebagai aset aman.

Harga emas yang terus melandai juga meningkatkan minat banyak orang untuk mencoba peruntungan dengan membeli emas.

“Kenaikan suku bunga acuan The Fed tentu saja membebani emas tetapi kekhawatiran resesi juga semakin nyata. Kondisi ini akan kembali meningkatkan minat untuk membeli emas di harga yang rendah,” tutur Sachdeva, seperti dikutip dari Reuters.

Kendati demikian, harga emas sangat rawan dengan pelemahan ke depan. Terlebih, The Fed sudah kembali menegaskan komitmen mereka untuk membawa inflasi ke kisaran 2% sehingga kebijakan moneter agresif masih bertahan lama.

Analis dari TD Securities Bart Melek bahkan memperkirakan emas akan terus jatuh ke bawah US$ 1.600 per troy ons.

“Secara keseluruhan, banyak faktor yang membuat tren negatif emas berlanjut termasuk komitmen The Fed. Dalam waktu yang tidak lama lagi, emas bisa jatuh ke kisaran di bawah US$ 1.600,” ujarnya.

Equity World | Bursa Saham Asia Tersungkur Setelah The Fed Dongkrak Suku Bunga

Equity World | Bursa Saham Asia Tersungkur Setelah The Fed Dongkrak Suku Bunga

Equity World | Bursa saham Asia diperdagangkan lebih rendah pada Kamis (22/9/2022), usai bank sentral Amerika Serikat (AS) atau the Federal Reserve (the Fed) menaikkan suku bunga acuan dan mengisyaratkan kenaikan lebih lanjut ke depan. Saham AS bergejolak dan ditutup melemah tajam setelah pengumuman tersebut.

Equity World | Harga Emas Pegadaian Hari Ini Turun, Ini Rinciannya di Kamis, 22 September 2022

Di Hong Kong, indeks Hang Seng anjlok 2,19 persen pada awal sesi perdagangan. Sementara itu, indeks Hang Seng teknologi tersungkur 3,08 persen. Indeks Shanghai melemah 0,37 persen dan indeks Shenzhen tergelincir 0,54 persen.

Indeks Nikkei 225 di Jepang tergelincir 1 persen di awal perdagangan, dan indeks Topix turun 0,78 persen. Bank sentral Jepang diperkirakan mempertahankan suku bunga pada tingkat yang sangat rendah dan mempertahankan kebijakan kontrol kurva imbal hasil yang bertujuan untuk menjaga imbal hasil obligasi pemerintah Jepang 10-tahun dalam kisaran ketat sekitar 0 persen saat pertemuannya yang berakhir pada Kamis.

Yen Jepang terakhir berada di 144,27 terhadap dolar AS. Indeks Kospi Korea Selatan turun 1,12 persen dan Kosdaq kehilangan 1,41 persen. Indeks MSCI dari saham Asia Pasifik di luar Jepang turun 0,46 persen.

Pasar Australia ditutup karena libur. The Fed diperkirakan terus menaikkan suku bunga setinggi 4,6 persen pada 2023, menurut perkiraan median.

Penyesuaian substansial terhadap kebijakan Bank of Japan kemungkinan akan terjadi hanya setelah kepemimpinan bank sentral berubah pada pertengahan 2023. Hal itu diungkapkan DBS Group Research pada catatan Selasa.

Namun, BOJ mungkin mempertimbangkan beberapa penyesuaian kebijakan, seperti memperluas kisaran target sebesar 10 basis poin, sebagai tanggapan terhadap tekanan pasar, menurut analis.

Ia menambahkan, terlepas dari intervensi, dolar-yen dapat menguji 147,66 yang terakhir terlihat pada Agustus 1998, mereka juga menambahkan tidak mengesampingkan USD atau JPY mendorong di atas 150 tanpa pendaratan keras di AS yang mendorong pemotongan the Fed.

Saham berjangka AS jatuh pada Rabu malam setelah sesi bergejolak di rata-rata utama karena para pedagang mempertimbangkan kenaikan suku bunga besar lainnya dari the Fed.

Indeks Dow Jones Industrial Average berjangka turun 16 poin, atau 0,05 persen. S&P 500 dan Nasdaq 100 berjangka masing-masing turun 0,19 persen dan 0,31 persen pada Kamis pagi.

Saham goyah pada Rabu tetapi menyelesaikan sesi jauh di zona merah setelah the Fed mengumumkan kenaikan suku bunga 75 basis poin lagi.

Indeks Dow Jones Industrial Average turun 522,45 poin, atau 1,7 persen, menjadi ditutup pada 30.183,78. S&P 500 turun 1,71 persen menjadi 3.789,93 dan Nasdaq Composite turun 1,79 persen menjadi 11.220,19.

Sebelumnya, bursa saham Asia Pasifik melemah pada perdagangan saham Rabu, 21 September 2022 seiring wall street yang tertekan jelang pertemuan bank sentral Amerika Serikat (AS) atau the Fed.

Harga minyak reli pada perdagangan Rabu sore di Asia. Harga minyak berjangka naik 3 persen setelah Presiden Rusia Vladimir Putin mengumumkan mobilisasi militer parsial.

Indeks Jepang Nikkei 225 melemah 1,36 persen ke posisi 27.313,13. Sementara itu, indeks Topix merosot 1,36 persen ke posisi 1.920,80. Di Australia, indeks saham ASX 200 tergelincir 1,56 persen ke posisi 6.700,20.

Indeks Hong Kong Hang Seng anjlok 1,6 persen dan indeks Hang Seng teknologi melemah 2,7 persen. Di bursa saham China, indeks Shanghai susut 0,17 persen ke posisi 3.117,18. Indeks Shenzhen tergelincir 0,66 persen ke posisi 11.208. Indeks Korea Selatan Kospi melemah 0,87 persen ke posisi 2.347,21. Indeks MSCI Asia Pasifik di luar Jepang turun 1,4 persen.

“Suasana suram bertahan selama 24 jam terakhir dengan saham melemah dan mata uang safe haven termasuk dolar AS lebih kuat,” kata Ekonom National Australia bank, Taylor Nugent dikutip dari CNBC.

Equity World | Bursa Saham Asia Berjatuhan oleh Risiko Kenaikan Suku Bunga Fed

Equity World | Bursa Saham Asia Berjatuhan oleh Risiko Kenaikan Suku Bunga Fed

Equity World | Bursa saham Asia jatuh pada hari Rabu (21/09), menyusul penurunan semalam di Wall Street dengan investor menunggu kenaikan suku bunga dan sinyal hawkish dari Federal Reserve.

Equity World | Bursa Saham Asia Merosot Tertular Wall Street Jelang Rilis Pertemuan The Fed

Indeks Hang Seng yang sarat saham teknologi di Hong Kong terus tertinggal dari rekan-rekannya, anjlok 1,5%, sementara indeks Nikkei 225 Jepang jatuh 1,3%. Kerugian hari ini juga menghapus rebound ringan yang terlihat awal pekan.

Fokus pasar tepat pada Federal Reserve, yang diperkirakan akan menaikkan suku bunga setidaknya 75 basis poin (bps) pada akhir pertemuan dua hari dini hari nanti. Pasar juga memperkirakan kemungkinan kenaikan 100 bps pasca hasil rilis tingkat inflasi AS yang tinggi dari perkiraan minggu lalu.

Saham-saham Asia menyusul tren pelemahan dari indeks Wall Street, yang jatuh sebanyak 1% di tengah meningkatnya kekhawatiran bahwa Fed dapat memberikan langkah kebijakan yang lebih hawkish dari yang diperkirakan hari ini.

Indeks dolar AS naik mendekati level tertinggi 20 tahun, sedangkan imbal hasil treasury juga melonjak untuk mengantisipasi kenaikan suku bunga.

Fokus akan berada pada inflasi bank sentral dan ekspektasi suku bunga selama sisa tahun ini. Pasar menilai suku bunga acuan AS mengakhiri 2022 jauh di atas 4%, dibandingkan dengan batas atas saat ini sebesar 2,5%.

Pasar regional telah turun drastis tahun ini tatkala The Fed mulai menaikkan suku bunga, membatasi jumlah likuiditas yang tersedia untuk pasar. Inflasi AS yang terlalu tinggi, yang jauh di atas tingkat target bank sentral, diperkirakan akan mempertahankan suku bunga tinggi hingga tahun 2023.

Indeks bluechip Shanghai Shenzhen CSI 300 China jatuh hampir 1%, sedangkan indeks Shanghai Composite melemah 0,5% setelah European Chamber of Commerce, kelompok industri terkemuka, menyuarakan keprihatinan atas kelayakan negara itu sebagai tujuan investasi dalam menghadapi gangguan terkait COVID yang terus berlanjut.

Peringatan kelompok industri itu datang ketika serangkaian pembatasan COVID mengikis pertumbuhan ekonomi China tahun ini, dan juga mengganggu aktivitas beberapa perusahaan asing yang beroperasi di negara itu.

Yuan China turun ke level terendah lebih dari dua tahun pada hari Rabu. Mata uang lainnya, USD/JPY naik 0,08%, GBP/JPY naik 0,01%, GBPUSD turun 0,06%, dan EURUSD turun 0,10% pukul 10.29 WIB.

Indeks S&P/ASX 200 Australia jatuh 1,4% di mana perusahaan tambang besar memimpin kerugian. BHP Group Ltd (ASX:BHP) dan Rio Tinto Ltd (ASX:RIO), saham pertambangan terbesar di negara ini, masing-masing anjlok 2,6% dan 3,1%, setelah CEO Rio Jakob Stausholm mengingatkan bahwa prospek jangka pendek tembaga berada di bawah tekanan dampak dari kenaikan inflasi.

Di Indonesia, IHSG turun 0,49% pukul 10.16 WIB dan rupiah turun 0,22% di 15.012,5 per dolar AS.

Untuk komoditas nikel naik 1,51% ke 24.333,00 hingga Rabu dini hari, timah turun 0,9% di ICE London pada penutupan Senin, dan tembaga turun 0,01% pukul 10.29 WIB. Sementara, karet mencapai 133,80 pada Selasa di Singapura, batubara Newcastle di ICE London naik 0,51%, kakao AS turun 0,97% hingga dini hari tadi. Serta, kopi robusta di London mencapai 2.239,00 pada Selasa dan gas alam naik 0,49% pukul 10.29 WIB.

Dari kripto bitcoin turun 2,33% pukul 10.27 WIB BTC/USD dan ethereum turun 1,9% (ETH/USD). Sementara, ETC/USD naik 0,1%.

Equity World | Pasar Asia Pasifik Terkerek oleh Inflasi Inti Jepang

Equity World | Pasar Asia Pasifik Terkerek oleh Inflasi Inti Jepang

Equity World | Saham di pasar Asia Pasifik naik pada perdagangan Selasa (20/9) karena inflasi Jepang meningkat dan pemerintah Tiongkok mempertahankan suku bunga pinjamannya.

Equity World | Wall Street Rebound, Bursa Asia Dibuka Cerah! Kode Buat IHSG

Indeks Hang Seng Hong Kong naik 0,91%, dengan indeks teknologi Hang Seng naik hampir 2%. Shanghai Composite di daratan Tiongkok naik 0,51% dan Komponen Shenzhen naik 0,58%.

Di Australia, S&P/ ASX 200 naik sekitar 1%. Nikkei 225 Jepang naik 0,34% setelah kembali diperdagangkan setelah liburan dan Topix naik 0,37%.

Kospi di Korea Selatan bertambah 0,37%, sedangkan Kosdaq naik 1,04%. Indeks MSCI dari saham Asia Pasifik naik 0,71%.

Inflasi inti di Jepang meningkat 2,8% dari tahun lalu, tingkat kenaikan tercepat sejak akhir 2014. Suku bunga utama pinjaman Tiongkok dibiarkan tidak berubah pada Selasa, sejalan dengan prediksi dalam jajak pendapat Reuters.

Tiongkok Pertahankan Pertahankan Suku Bunga

Bank Rakyat Tiongkok (PBoC) mempertahankan suku bunga pinjaman tenor satu tahun dan lima tahun (LPR), sejalan dengan prediksi dalam jajak pendapat Reuters.

Suku bunga pinjaman satu tahun tetap di 3,65% dan suku bunga lima tahun yang terkait erat dengan hipotek rumah berada di 4,3%. pemerintah Tiongkok sempat memangkas kedua suku bunga tersebut bulan lalu.

Inflasi Inti Jepang Meningkat

Indeks harga konsumen (CPI) inti di Jepang naik 2,8% pada Agustus 2022 dibandingkan periode yang sama tahun lalu, menurut data pemerintah.

Itu adalah pertumbuhan tercepat dalam hampir delapan tahun dan bulan kelima berturut-turut di mana inflasi telah melampaui target bank sentral sebesar 2%.

Analis yang disurvei oleh Reuters memperkirakan kenaikan 2,7% dan indeks harga konsumen naik 2,4% pada Juli 2022.

Yen Jepang sedikit menguat menjadi 142,96 per dolar.

Saham Amerika Serikat (AS) sempat bergerak naik turun pada perdagangan Senin (Selasa pagi WIB), tetapi mengakhiri sesi di wilayah positif karena minggu besar pertemuan Federal Reserve (Fed) dimulai.

Dow Jones Industrial Average ditutup 197,26 poin lebih tinggi, atau 0,64%, menjadi menetap di 31.019,68. S&P 500 melonjak 0,69% menjadi 3.899,89 dan Nasdaq Composite naik 0,76% menjadi 11.535,02.

Imbal hasil (yield) Treasury tenor 10 tahun melonjak di atas 3,5%, mencapai level tertinggi sejak 2011. Investor bersiap untuk periode suku bunga yang lebih tinggi untuk jangka waktu yang lebih lama di tengah perjuangan Fed melawan inflasi.

Yield Treasury naik di atas papan minggu lalu setelah laporan CPI Agustus 2022 menunjukkan kenaikan harga yang mengejutkan. Namun, tenor 10 tahun sebagian besar bertahan di dekat level tertinggi Juni 2022 di angka 3,495% sebelum naik lagi Senin (19/9).

Tenor 10 tahun terakhir diperdagangkan pada yield 3,506%, naik hampir enam basis poin. Adapun yield bergerak berlawanan dengan harga, sementara satu basis poin sama dengan 0,01%.

Equity World | Harap Sabar, Harga Emas Naga-naganya Masih Sulit Bangkit

Equity World | Harap Sabar, Harga Emas Naga-naganya Masih Sulit Bangkit

Equity World | Kilau emas semakin meredup. Pada perdagangan Selasa (20/9/2022) pukul 06:38 WIB, harga emas dunia di pasar spot berada di US$ 1.675,39 per troy ons. Harga emas melemah 0,02%.

Harga tersebut adalah yang terendah sejak 3 April 2020 atau dalam 29 bulan terakhir. Pada perdagangan Senin (19/9/2022), harga emas menguat tipis 0,05% ke US$ 1.675,78 per troy ons.

Equity World | Wall Street Ditutup Cerah, IHSG Tancap Gas Hari Ini?

Dalam sepekan, harga emas sudah anjlok 1,5% secara point to point. Dalam sebulan, harga emas masih ambles 4,1% sementara dalam setahun anjlok 5,1%.

Analis RJO Futures Daniel Pavilonis mengatakan emas akan terus tertekan menjelang pertemuan Federal Open Market Committee (FOMC).

Seperti diketahui, bank sentral Amerika Serikat (AS) The Federal Reserve (The Fed) akan menggelar rapat FOMC pada Selasa dan Rabu pekan ini waktu AS. Pasar kini berspekulasi jika The Fed akan menaikkan suku bunga acuan 75 bps bahkan hingga 100 bps.

“Emas masih bergerak di level rendahnya. Penurunan tajam emas ini adalah antisipasi pengumuman The Fed,” tutur Pavilonis, seperti dikutip dari Reuters.

Sepanjang tahun ini, pergerakan emas memang sangat didominasi oleh kebijakan The Fed. Isu perang, ketegangan politik China-AS, dan ancaman resesi sempat membuat emas naik. Namun, emas selalu terkapar menjelang pengumuman suku bunga acuan The Fed.

The Fed sendiri sudah menaikkan suku bunga acuan sebesar 225 bps sepanjang tahun ini. Sejak pengumuman kenaikan sebesar 25 bps pada Maret hingga hari ini, harga emas sudah anjlok US$ 267,75.

Kenaikan suku bunga acuan The Fed akan melambungkan dolar AS sehingga emas menjadi kurang menarik.

“Investor mulai ragu dengan pergerakan emas dalam jangka panjang. Apa yang membuat pelaku pasar ragu adalah The Fed kemungkinan akan terus menaikkan suku bunga ke depan,” ujar Edward Moya, analis dari OANDA.

Equity World | Harga Emas Menguji Level Kritis di USD 1.675 per Ounce

Equity World | Harga Emas Menguji Level Kritis di USD 1.675 per Ounce

Equity World | Harga emas masih terus terombang-ambing dan kemungkinan bakal kembali jatuh. Pada pekan ini, harga emas akan menguji level support kritis setelah jatuh ke level terendah dalam lebih dari dua tahun.

Equity World | Cek Saham-saham yang Paling Banyak Dikoleksi Asing Pekan Lalu

seiring dengan penurunan harga emas, sentimen dari para analis di Wall Street dan investor ritel telah berubah dari bullish menjadi bearish. Banyak alasan yang membuat harga emas bakal turun pada pekan ini.

Aksi jual emas yang terjadi pada minggu lalu merupakan kelanjutan dari tren yang sudah dimulai sejak awal Maret karena pasar bereaksi terhadap tindakan kebijakan moneter agresif Bank Sentral AS atau the Federal Reserve (the Fed).

Bank Sentral AS memang terus menerus menaikkan suku bunga untuk mendinginkan inflasi dan hal ini berdampak buruk ke harga emas.

Banyak analis mengatakan bahwa harga emas masih akan tertekan di pekan ini. Sulit bagi logam mulia untuk menemukan momentum bullish dalam waktu dekat dengan melihat berbagai sentimen yang ada.

“Aksi jual emas berlebihan, tetapi aset ini tidak pulih dengan cepat dari penurunan tersebut. Jadi dalam waktu dekat, kita bisa melihat lebih banyak pelemahan,” kata Presiden Adrian Day Asset Management, Adrian Day dikutip dikutip dari Kitco, Senin (18/9/2022).

Minggu ini, total 22 analis mengambil bagian dalam survei Kitco News. Empat belas analis atau 63 persen memperkirakan harga emas akan bearish pada minggu ini. Pada saat yang sama empat analis atau 18 persen menyatakan bahwa harga emas akan bullish dan jumlah yang sama menyatakan harga emas akan stabil.

Di sisi investor ritel, sebanyak 1.045 responden mengambil bagian dalam jajak pendapat online. Sebanyak 395 pemilih, atau 38 persen melihat harga emas bakal naik.

Namun 489 lainnya atau 47 persen memperkirakan harga emas akan jatuh. Sisanya 161 pemilih atau 15 persen menyerukan pasar emas bakal sideways.

Sentimen bearish datang karena harga emas jatuh ke level terendah lebih dari dua tahun di USD 1.661,90 per ounce pada pekan lalu. Logam mulia terakhir diperdagangkan pada USD 1.684,30 per ounce, turun sekitar 2,5 persen pada Jumat lalu.

Dengan melihat sentimen bearish yang sangat jelas tersebut, pertanyaannya adalah seberapa jauh harga emas bisa turun. Banyak analis mencatat bahwa USD 1.675 mewakili level support yang signifikan. Penurunan di bawah level ini akan menandakan berakhirnya tren naik tiga tahun emas.

Analis lain melihat beberapa dukungan awal harga emas di sekitar USD 1.650. Namun, Colin Cieszynski, kepala strategi pasar di SIA Wealth Management Inc, mengatakan ada sedikit dukungan untuk emas jika menyentuh level USD 1.550 per ounce.

Direktur pelaksana di Bannockburn Global Forex Marc Chandler mengatakan, target harga emas berikutnya adalah USD 1.615 sampai USD 1.650 dan tidak menutup kemungkinan harga akan turun ke USD 1.500 pada tahun depan.

Equity World | Harga Emas Terjun Bebas, Saatnya Beli?

Equity World | Harga Emas Terjun Bebas, Saatnya Beli?

Equity World | Harga emas turun ke level terendah sejak April 2020 pada hari Kamis. Ini terjadi karena peningkatan imbal hasil Treasury AS dan dolar AS yang kuat, karena taruhan kenaikan suku bunga besar-besaran oleh Federal Reserve AS mengikis daya tarik emas.

Equity World | Inflasi Masih Membayangi, Wall Street Dibuka ‘Melempem’

Dikutip dari CNBC, Jumat (16/9/2022), harga emas di pasar spot turun 1,9 persen pada USD 1,663,50 per ounce setelah jatuh lebih dari 2 persen menjadi USD 1,659,47 di awal sesi. Emas berjangka AS terakhir turun 2,1 persen lebih rendah pada USD 1,672.6.

“Hari ini, faktor terbesar adalah imbal hasil, (yang) tampak cukup kuat setelah mengambil sedikit penangguhan,” kata Daniel Pavilonis, ahli strategi pasar senior di RJO Futures.

“Penjualan hingga September, Oktober ini benar-benar hanya pada penyesuaian tarif, suku bunga turun cukup keras dan sekarang mereka kembali naik lagi dan mendorong emas lebih rendah,” lanjutnya.

Harga sempat memangkas kerugian karena investor mengambil stok data yang menunjukkan penjualan ritel AS secara tak terduga naik pada Agustus. Sementara data terpisah menunjukkan klaim pengangguran mingguan AS turun 5.000 menjadi 213.000 yang disesuaikan secara musiman pekan lalu.

Pasar telah sepenuhnya memperkirakan kenaikan suku bunga setidaknya 75 basis poin pada akhir pertemuan kebijakan Fed minggu depan, bahkan mungkin setinggi 100 basis poin.

Meskipun emas dianggap sebagai taruhan yang aman selama ketidakpastian ekonomi, kenaikan suku bunga meningkatkan biaya peluang memegang emas batangan yang tidak memberikan imbal hasil.

Sementara itu, Kepala Dana Moneter Internasional Kristalina Georgieva mengatakan pada hari Rabu para bankir sentral harus gigih dalam memerangi inflasi berbasis luas. Spot perak turun 2,55 persen menjadi USD 19,19 per ounce.

“Penguatan indeks dolar AS minggu ini, bersama dengan kenaikan imbal hasil Treasury AS dan beberapa data inflasi AS yang lebih panas, semuanya digabungkan untuk menjaga pembeli emas dan perak sebagian besar berdiri di sela-sela,” Jim Wyckoff, analis senior di Kitco Metals, mengatakan dalam sebuah catatan.

Penguatan nilai tukar dolar Amerika Serikat (AS) dan imbal hasil yang meningkat memaksa harga emas berada di bawah USD 1.700 per ounce pada pekan lalu.

“Emas menjadi ‘karung tinju’ karena lonjakan imbal hasil Treasury telah meremajakan perdagangan dolar raja. Ini baru saja menjadi berita buruk di mana-mana untuk emas. Tidak ada penangguhan hukuman yang terlihat untuk emas sampai pergerakan lebih tinggi dengan imbal hasil obligasi global berakhir,” kata pasar senior OANDA analis Edward Moya, dikutip dari Kitco News, Senin (12/9/2022).

Emas Comex Desember akan ditutup pada hari Jumat di sekitar USD 1.727,20 per ounce, turun 2,5 persen pada minggu ini, menyusul reli di belakang laporan pekerjaan Agustus.

Tetapi para analis melihat pada Jumat pekan lalu hanya sebagai reli short-covering untuk harga emas.

“Pasar telah mengalami tren lebih rendah. Kami gagal mempertahankan level di atas USD 1.800. Level USD 1.700 adalah yang terendah. Saya memperkirakan pasar akan terikat pada kisaran berombak,” kata ahli strategi pasar senior RJO Futures Frank Cholly kepada Kitco News.

“Dan sampai kita bisa mencapai di atas USD 1.745 pada basis penutupan, saya akan tetap bertahan, netral. Di atas itu, saya mulai positif,” lanjut dia.

Menurutnya, turunnya nilai tukar dolar AS akan memberikan ruang bagi emas untuk reli. Namun, analis tetap sangat berhati-hati, terutama memasuki akhir pekan yang panjang.

“Harga emas bisa jatuh jika USD 1.680 gagal bertahan,” ujar Pearce.

Jika dolar AS tetap tinggi dan harga emas menembus level di bawah USD 1.680 per ons, maka diprediksi akan membuat harga emas jatuh ke USD 1.550 per ons.

“Saya akan sangat berhati-hati di sini mengingat prospek jangka panjang untuk pasar saham. Saya tidak melihat bagaimana emas dapat mempertahankan reli dengan ekuitas semakin ditumbuk dan dolar dibeli saat turun,” katanya.

“Jika posisi terendah jangka pendek dalam emas tidak dapat bertahan dan kita turun ke USD 1.678, emas bisa mundur ke posisi terendah pandemi di USD 1.625 dan bahkan USD 1.484. Emas perlu bertahan di USD 1.670 – USD 1.680. Jika tidak, emas akan turun. ke tingkat yang lebih rendah,” ujarnya.

Design a site like this with WordPress.com
Get started