Equity World | Harga Emas Global Masih dalam Tren Bearish, Tunggu Hasil The Fed

Equity World | Harga Emas Global Masih dalam Tren Bearish, Tunggu Hasil The Fed

Equity World | Harga emas global diperkirakan masih tertekan kebijakan agresif The Fed dan inflasi AS.

Equity World | Bursa Asia Bervariasi di Pagi Ini (27/10), Simak Sentimen yang Mempengaruhinya

Analis Sinarmas Futures Ariston Tjendra yang menyebutkan kebijakan agresif The Fed membuat pelaku pasar mereposisi aset investasinya keluar dari aset beresiko dan juga aset emas masuk ke aset dolar AS.
“Jika The Fed memberi sinyal bahwa akan menahan kenaikan suku bunga, maka harga emas bisa rebound,” kata Ariston kepada Bisnis, Kamis (27/10/2022).

Lebih rinci, Ariston memproyeksi harga emas untuk spot resiko penurunan masih akan terjadi. Saat ini resiko penurunan masih terbuka ke arah support US$1580, dengan potensi resisten di kisaran US$1700 per troy ons.

“Untuk fisik, mungkin masih ada potensi turun ke Rp930 ribu dengan resisten di Rp970 ribu per gram,” imbuhnya.
Hal yang sama juga disampaikan Founder Traderindo.com Wahyu Laksono yang menyebutkan emas global masih dihantui sentimen bearish meskipun saat ini sentimen global terlihat sedang konsolidasi, seperti bursa saham wall street dan dolar AS.

“Namun jangka pendek ini cenderung konsolidasi di sekitar low range dengan potensi rebound menjauhi US$1.600,” katanya menjawab pertanyaan Bisnis, Rabu (26/10/2022).

Meskipun global market rebound dan USD terkoreksi, lanjut Wahyu, votalitas pasar uang dan kekacauan pasar kredit masih terjadi. Konsolidasi ini cenderung masih terjadi di awal November. Meski demikian secara tradisional emas tidak akan kehilangan pamor meski mengalami bearish.

Central bank, investor institusional, retail, dan masyarakat umum masih mengaggap emas aset penting untuk jangka panjang.

“Jadi buy on weakness berlaku bagi emas saat ini,” lanjut Wahyu.

Wahyu mengungkapkan juga mengenai pola kenaikan harga emas setelah alami penurunan. Sejatinya fiat money akan tergerus inflasi dan emas menjadi pelindungnya.
“Sudah menjadi pola juga setelah Tappering dan/atau lanjut pengetatan moneter, biasanya terjadi krisis atau ancaman krisis yang memicu bank central terutama the fed untuk kembali menyelamatkan dengan stimulus (safe haven),” terangnya.

Wahyu menambahkan apapun yg terjadi emas tetap sebagai aset investasi bagian diversifikasi portofolio umum

Equity World | Saham Blue Chip Terkerek, IHSG Malah Berfluktuasi pada Sejam Perdagangan

Equity World | Saham Blue Chip Terkerek, IHSG Malah Berfluktuasi pada Sejam Perdagangan

Equity World | Dibuka menguat 10,27 poin (0,15%) di posisi 7.058, IHSG berfluktuasi pada sejam perdagangan Rabu (26/10/2022). Pada pukul 10.00 WIB, IHSG tercatat naik 11,58 poin (0,16%) ke level 7.059. IHSG hari ini bergerak bervariasi di rentang 7.039-7.081. Pada sejam perdagangan, saham-saham blue chip yang tergabung dalam LQ45 terkerek 0,14%.

Equity World | Bursa Asia Mayoritas Menguat di Pagi Ini (26/10), Didorong Reli Wall Street

Berdasarkan data RTI, sebanyak 7,69 miliar lebih lembar saham telah diperdagangkan pada sejam perdagangan. Dengan nilai perdagangan sebesar Rp 3,88 triliun, dan frekuensi perdagangan mencapai 448.523 kali transaksi.

Tercatat sebanyak 279 saham mengalami kenaikan, 197 saham diperdagangkan menurun. Sedangkan 177 saham stagnan. Pada sejam perdagangan, saham-saham blue chip yang tergabung dalam LQ45 terkerek 0,14%.

Pada sejam perdagangan, saham-saham ini mencatatkan kenaikan tertinggi (top gainers). Saham-saham tersebut dipimpin oleh PT Chemstar Indonesia Tbk (CHEM) yang meroket 18,48%.

Disusul, PT Dafam Property Indonesia Tbk (DFAM) terkerek 10,81%, PT Asuransi Harta Aman Pratama Tbk (AHAP) naik 9,47%, PT Sejahteraraya Anugrahjaya Tbk (SRAJ) meningkat 9,09%, dan PT Dharma Setya Nusantara Tbk (DSNG) terdorong 7,84%.

Pada saat IHSG sejam diperdagangkan, bursa saham Asia kompak bergerak menguat. Straits Time (Singapura) naik 0,97%, Nikkei (Jepang) terkerek 1,2%, Shanghai (Tiongkok) melonjak 1,51%, dan Hang Seng (Hong Kong) meroket 2,38%.

Equity World | Ikuti Bursa Saham Asia dan AS, IHSG Dibuka Lanjutkan Penguatan

Equity World | Ikuti Bursa Saham Asia dan AS, IHSG Dibuka Lanjutkan Penguatan

Equity World | Ditutup menguat sebesar 35 poin (0,50%) ke level 7.053, IHSG dibuka lanjutkan penguatan mengikuti bursa reional Asia dan bursa Amerika Serikat (AS). Setelah IHSG dibuka naik 21,13 poin (0,30%) ke posisi 7.074,17 pada Selasa (25/10/2022). IHSG hari ini bergerak menghijau pada rentang 7.074-7.108.

Equity World | Mayoritas Bursa Asia Menguat Pada Perdagangan Selasa (25/10) Pagi

Tercatat sebanyak 625,23 juta saham telah diperdagangkan di menit-menit awal, dengan nilai perdagangan sebesar Rp 567,17 miliar dan frekuensi perdagangan baru mencapai 50.451 kali transaksi. Sebanyak 241 saham diperdagangkan mencatatkan kenaikan, 96 saham terkoreksi, dan 185 saham stagnan.

Bursa Amerika Serikat ditutup Menguat. Dow Jones ditutup 31.499,62 (1,34%), NASDAQ ditutup 10.952,61 (0,86%), S&P 500 ditutup 3.797,34 (1,19%). Indeks utama Wall Street ditutup menguat pada perdagangan Senin melanjutkan kenaikan pekan lalu karena tanda-tanda pelemahan ekonomi muncul sebagai efek kebijakan agresif The Fed. Musim rilis kinerja emiten per 3Q22 mendorong pergerakan indeks pada awal pekan ini.

Sejauh ini, hampir seperlima dari perusahaan di S&P 500 telah melaporkan. Dari jumlah tersebut, 74.7% telah memberikan hasil yang mengalahkan konsensus. Hasil dari banyak perusahaan teknologi dan perusahaan yang berdekatan dengan teknologi kemungkinan akan mendominasi obrolan pendapatan minggu ini.

Saham di Asia-Pasifik naik pada awal perdagangan Selasa setelah sesi positif kedua berturut-turut di Wall Street. Indeks Hang Seng Hong Kong dan saham teknologi Tiongkok di AS turun tajam untuk memulai minggu ini dengan sentimen investor berubah setelah kesimpulan dari kongres partai Tiongkok dan rilis data ekonomi yang tertunda.

Nikkei 225 menambahkan 0,65% dan Topix naik 0,79%. Di Australia, S&P/ASX 200 naik 0,52%. Kospi (Korea Selatan) berada tepat di atas garis datar, sedangkan Kosdaq naik 0,44%. Indeks MSCI dari saham Asia Pasifik di luar Jepang naik 0,14%. Singapura akan merilis data inflasi pada hari Selasa, sementara HSBC bakal melaporkan pendapatan.

Prediksi Analis

Artha Sekuritas memprediksi IHSG menguat pada perdagangan Selasa (25/10/2022). IHSG diperkirakan akan bergerak pada resistance 7.084-7.116 dan support 7.004-7.028. Pantau sembilan saham pilihan bakal cuan, diantaranya ERAA dan ASSA.

Artha Sekuritas mengatakan, IHSG diprediksi menguat. Candlestick membentuk higher high dan higher low dengan MACD bergerak ke area akumulasi mengindikasikan potensi penguatan. Pergerakan akan didorong musim rilis kinerja emiten per kuartal III-2022.

“Di sisi lain perlu mencermati pelemahan nilai tukar rupiah yang telah mencapai level Rp 15,500 per dolar AS,” tulis Artha Sekuritas dalam risetnya, Selasa (25/10/2022).

IHSG ditutup Menguat. IHSG ditutup di level 7.053,04 (0,50%). IHSG ditutup menguat seiring penguatan mayoritas bursa saham global. Pergerakan juga didorong musim rilis laporan kinerja Kuartal III-2022. Dari global ada ekspektasi bahwa The Fed tidak akan agresif menaikkan suku bunga pada November 2022.

Artha Sekuritas merekomendasikan sembilan saham pilihan bakal cuan untuk dipantau pada perdagangan hari ini. Kesembilan saham tersebut adalah ERAA, HMSP, AKRA, BBCA, MNCN, TOWR, MIKA, SSMS, ASSA.

Equity World | Wall Street Menguat dengan Spekulasi Kebijakan The Fed yang Lebih Moderat

Equity World | Wall Street Menguat dengan Spekulasi Kebijakan The Fed yang Lebih Moderat

Equity World | Indeks saham Amerika Serikat, Wall STreet, ditutup menguat pada perdagangan pekan lalu setelah dilaporkan Federal Reserve (The Fed) mempertimbangkan kenaikan suku bunga yang lebih kecil pada bulan Desember 2022.

Equity World | Harga Emas Diprediksi Naik pada 2023, Saatnya Koleksi?

Hal tersebut meningkatkan spekulasi jika bank sentral akan mengambil kebijakan yang tidak seagresif sebelumnya. Beberapa pejabat The Fed mulai menyuarakan keinginan untuk memperlambat laju kenaikan suku bunga.

Dikutip dari Reuters, Senin (24/10), Dow Jones Industrial Average (.DJI) naik 748,97 poin, atau 2,47 persen, menjadi 31.082,56, S&P 500 (.SPX) naik 86,97 poin, atau 2,37 persen, menjadi 3.752,75 dan Nasdaq Composite (.IXIC) bertambah 244,87 poin, atau 2,31 persen, menjadi 10.859,72.

Untuk minggu ini, S&P 500 naik 4,74 persen, Dow naik 4,89 persen dan Nasdaq naik 5,22 persen. Masing-masing dari tiga indeks utama mencatat kenaikan persentase mingguan terbesar mereka dalam empat bulan terakhir.

Snap Inc (SNAP.N) anjlok 28,08 persen setelah membukukan pertumbuhan pendapatan kuartalan paling lambat dalam lima tahun karena pengiklan memangkas pengeluaran karena inflasi dan kesengsaraan geopolitik.

Turunnya performa Snap Inc membebani perusahaan lain yang sangat bergantung pada pendapatan iklan seperti Meta Platforms Inc (META.O), turun 1,16 persen dan Pinterest (PINS.N), turun 6,40 persen.

Indeks saham yang Juga jatuh setelah melaporkan pendapatan kuartalan adalah American Express (AXP.N), yang kehilangan 1,67 persen dan Verizon Communications, turun 4,46 persen.

Sementara, Schlumberger (SLB.N) melonjak 10,33 persen yang membantu mengangkat sektor energi S&P 500 (.SPNY) 2,76 persen setelah melaporkan laba kuartalan di atas ekspektasi.

Analis secara luas memperkirakan The Fed akan menaikkan suku bunga sebesar 75 basis poin untuk pertemuan keempat berturut-turut pada bulan November.

Ekuitas telah berada di bawah tekanan tahun ini karena bank sentral telah memulai jalur kenaikan suku bunga yang agresif karena mencoba untuk mengendalikan inflasi yang sangat tinggi, meningkatkan kekhawatiran akan kesalahan kebijakan yang akan mengirim ekonomi ke dalam resesi.

Equity World | Cuma IHSG yang Melesat, Bursa Asia Ditutup Kebakaran

Equity World | Cuma IHSG yang Melesat, Bursa Asia Ditutup Kebakaran

Equity World | Mayoritas bursa Asia-Pasifik ditutup di zona merah pada perdagangan Kamis (20/10/2022), di mana kekhawatiran resesi kembali muncul dan kembali membebani pasar saham global.

Equity World | Harga Emas Antam Hari Ini Naik Rp 3.000 ke Level Rp 936.000 Per Gram, Jumat (21/10)

Hanya Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang ditutup di zona hijau pada hari ini. Bahkan, IHSG ditutup melonjak 1,75% ke posisi 6.980,65.

Sedangkan sisanya ditutup di zona merah. Indeks Nikkei 225 Jepang ditutup merosot 0,92% ke posisi 27.006,96, Hang Seng Hong Kong ambles 1,4% ke 16.280,22, Shanghai Composite China melemah 0,31% ke 3.035,05, Straits Times Singapura turun tipis 0,1 poin ke 3.018,09, ASX 200 Australia ambrol 1,02% ke 6.730,7, dan KOSPI Korea Selatan terkoreksi 0,86% menjadi 2.218,09.

Dari China, bank sentral (People Bank of China/PBoC) memutuskan untuk kembali mempertahankan suku bunga acuan pinjaman (loan prime rate/LPR).

LPR tenor 1 tahun tetap dipertahankan di level 3,65%, sedangkan LPR tenor 5 tahun bertahan di level 4,3%. Hal ini sesuai dengan prediksi pasar sebelumnya yang memperkirakan PBoC kembali mempertahankan LPR-nya kali ini.

Sebelumnya pada Senin lalu, PBoC juga telah menyuntikkan pinjaman MLF satu tahun senilai 500 miliar yuan (US$ 69,45 miliar) ke sistem perbankan, sesuai dengan jumlah yang jatuh tempo bulan ini dan tidak menghasilkan injeksi atau penarikan likuiditas secara bersih.

Hal ini terjadi ditengah kekhawatiran pasar akan ditundanya rilis beberapa data ekonomi di China, di mana salah satunya yakni data pertumbuhan ekonomi atau Produk Domestik Bruto (PDB) pada kuartal III-2022.

Penundaan ini juga terjadi di saat dunia mengendus gelagat penurunan ekonomi yang tajam di Negeri Tirai Bambu.

“Ini (penundaan rilis PDB) akan menyebabkan ketidakpastian dan kehati-hatian investor, sebab tidak ada penjelasan terkait penundaan tersebut,” kata Ken Cheung, kepala analis valuta asing di Mizuho Bank, sebagaimana dilansir Japan Times, Senin (17/10/2022).

Perekonomian China diperkirakan akan mencatat kinerja terburuk dalam hampir 5 dekade terakhir. Penyebabnya, datang dari dalam dan luar negeri.

Survei terbaru dari Reuters yang melibatkan 40 ekonom menunjukkan perekonomian China diperkirakan tumbuh 3,2% di 2022, jauh di bawah target pemerintah 5,5%.

Sementara itu dari Australia, Tingkat pengangguran di Australia untuk September tidak berubah dari bulan sebelumnya di 3,5%, menurut Biro Statistik Australia, di mana hal ini sejalan dengan ekspektasi analis dalam survei Reuters.

Diana Mousina, ekonom senior di AMP Capital, mengatakan dia memperkirakan tingkat pengangguran akan tetap di level saat ini dalam waktu dekat sebelum naik tahun depan.

“Pertumbuhan lapangan kerja perlu melambat secara signifikan untuk melihat kenaikan tingkat pengangguran dalam jangka pendek,” tulisnya dalam sebuah catatan, dikutip dari CNBC International.

Bursa Asia-Pasifik yang secara mayoritas melemah terjadi saat kekhawatiran investor akan resesi global kembali muncul. Kekhawatiran resesi kembali muncul setelah pejabat bank sentral Amerika Serikat (AS), Federal Reserve (The Fed) kembali mengindikasikan bahwa The Fed masih akan agresif untuk meredam inflasi.

Presiden The Fed Minneapolis, Neel Kashkari pada Selasa lalu menyatakan bahwa The Fed mungkin perlu menaikkan suku bunga acuan di atas 4,75%, jika inflasi yang mendasarinya tidak berhenti melesat.

Survei “Beige Book” The Fed tentang aktivitas ekonomi menunjukkan perusahaan mencatat tekanan harga tetap tinggi, meskipun ada beberapa pelonggaran di beberapa distrik, sementara pasar tenaga kerja menunjukkan beberapa tanda pendinginan.

Kekhawatiran tentang resesi kembali muncul di kalangan investor karena The Fed terus mengikuti jalur hawkish yang dilapisi dengan kenaikan suku bunga.

Mengacu pada FedWatch, sebanyak 94,5% para pelaku pasar memproyeksikan The Fed akan menaikkan suku bunga acuan sebesar 75 bp dan membawa tingkat suku bunga Fed ke kisaran 3,75%-4%.

Hal ini membuat beberapa perusahaan di AS kembali merubah proyeksi pendapatannya, dengan beberapa perusahaan dan analis merevisi prospek mereka ke bawah untuk kuartal mendatang.

Equity World | Harga Emas Hari Ini Ambruk, Ini Rinciannya dari 1 Gram Hingga 1 Kg

Equity World | Harga Emas Hari Ini Ambruk, Ini Rinciannya dari 1 Gram Hingga 1 Kg

Equity World | Harga emas hari ini keluaran Logam Mulia Antam 24 karat, Kamis (20/10/2022), mengalami penurunan harga bila dibandingkan dengan kemarin. Harga emas hari ini turun Rp 7.000 per gram ke level Rp 9.333.000 per gram.

Equity World | Wall Street Menurun, Sentimen Kinerja Korporasi Sudah Habis?

Untuk satuan harga emas terkecil ukuran 0,5 gram saat ini berada di angka Rp 516.500. Sementara itu harga emas 10 gram dijual sebesar Rp 8.825.000. Sedangkan untuk ukuran emas yang terbesar, yakni 1.000 gram (1 kg) dibanderol dengan harga sebesar Rp 873.600.000.

Jika ditarik dalam sepekan terakhir, pergerakan harga emas Antam terpantau bergerak di rentang Rp 933.000/gram – Rp 945.000/gram. Sementara dalam sebulan terakhir pergerakannya ada di rentang Rp 930.000/gram – Rp 962.000/gram.

Sementara harga buyback emas Antam hari ini juga ikut turun Rp 7.000 per gram dan membuat harga buyback saat ini berada di level Rp 815.000 per gram. Harga buyback ini berarti jika Anda ingin menjual emas, maka Antam akan membelinya dengan harga tersebut.

Sesuai dengan PMK No. 34/PMK 10/2017, pembelian emas batangan akan dikenakan PPh 22 sebesar 0,9%. Artinya, jika ingin mendapatkan potongan pajak lebih rendah, sebesar 0,45%, harus menyertakan nomor NPWP untuk transaksinya.

Rincian Harga Emas Antam 1 Gram hingga 1000 Gram Hari Ini

Emas batangan 0,5 gram Rp 516.500
Emas batangan 1 gram Rp 933.000
Emas batangan 2 gram Rp 1.806.000
Emas batangan 3 gram Rp 2.684.000
Emas batangan 5 gram Rp 4.440.000
Emas batangan 10 gram Rp 8.825.000
Emas batangan 25 gram Rp 21.937.000
Emas batangan 50 gram Rp 43.795.000
Emas batangan 100 gram Rp 87.512.000
Emas batangan 250 gram Rp 218.515.000
Emas batangan 500 gram Rp 436.820.000
Emas batangan 1000 gram Rp 873.600.000

Demikian rincian keluaran Antam 1 gram hingga 1000 gram, Kamis 20 Oktober 2022.

Equity World | Tetap Waspada IHSG, Kenaikan Bursa Asia Rapuh!

Equity World | Tetap Waspada IHSG, Kenaikan Bursa Asia Rapuh!

Equity World | Mayoritas bursa Asia-Pasifik dibuka menguat pada perdagangan Rabu (19/10/2022), di tengah masih menghijaunya bursa saham Amerika Serikat (AS) pada perdagangan Selasa kemarin.

Equity World | Duh Emas! Menguat 3 Hari, tapi Masih Dipandang Sebelah Mata

Indeks Nikkei Jepang dibuka menguat 0,37%, Straits Times Singapura naik tipis 0,09%, ASX 200 Australia bertambah 0,22%, dan KOSPI Korea Selatan juga naik tipis 0,08%.

Namun untuk indeks Hang Seng Hong Kong dibuka melemah 0,19% dan Shanghai Composite China juga turun 0,19%.

Bursa Asia-Pasifik yang secara mayoritas menguat terjadi di tengah masih menghijaunya bursa saham AS, Wall Street pada perdagangan Selasa kemarin waktu AS.

Indeks Dow Jones Industrial Average (DJIA) ditutup melesat 1,12% ke posisi 30.523,8, S&P 500 melonjak 1,16% ke 3.720,5, dan Nasdaq Composite menguat 0,9% menjadi 10.772,4.

Penguatan Wall Street sedikit terpangkas, setelah pada awal perdagangan kemarin sempat melesat lebih dari 2%. Wall Street cenderung berombak pada Selasa kemarin, karena banyak investor tampaknya kurang percaya diri.

Meski cenderung terpangkas, tetapi reli Wall Street berlanjut di perdagangan hari kedua pada pekan ini, di mana hal ini masih ditopang oleh kinerja keuangan beberapa emiten AS yang solid pada kuartal III-2022.

Bursa Asia-Pasifik yang secara mayoritas menguat terjadi di tengah masih menghijaunya bursa saham AS, Wall Street pada perdagangan Selasa kemarin waktu AS.

Indeks Dow Jones Industrial Average (DJIA) ditutup melesat 1,12% ke posisi 30.523,8, S&P 500 melonjak 1,16% ke 3.720,5, dan Nasdaq Composite menguat 0,9% menjadi 10.772,4.

Penguatan Wall Street sedikit terpangkas, setelah pada awal perdagangan kemarin sempat melesat lebih dari 2%. Wall Street cenderung berombak pada Selasa kemarin, karena banyak investor tampaknya kurang percaya diri.

Meski cenderung terpangkas, tetapi reli Wall Street berlanjut di perdagangan hari kedua pada pekan ini, di mana hal ini masih ditopang oleh kinerja keuangan beberapa emiten AS yang solid pada kuartal III-2022.

Namun, dampak dari kenaikan suku bunga agresif bank sentral AS (Federal Reserve/The Fed) mungkin mulai menghambat pasar tenaga kerja.

Perusahaan raksasa teknologi AS, Microsoft Corp sedikit berubah setelah perseroan melaporkan telah merumahkan di bawah 1.000 karyawan minggu ini, menjadi perusahaan teknologi AS terbaru yang memangkas pekerjaan atau memperlambat perekrutan di tengah perlambatan ekonomi global.

Jalan The Fed telah membuat banyak investor khawatir hal itu dapat memiringkan ekonomi ke dalam resesi dengan membuat kesalahan kebijakan dan menaikkan suku bunga terlalu banyak.

Pejabat Fed sebagian besar telah sinkron dalam komentar tentang perlunya bank sentral untuk menekan inflasi.

Sebuah laporan dari lembaga pemeringkat internasional, Fitch Ratings mengatakan pihaknya telah memangkas perkiraan pertumbuhan AS untuk tahun ini dan berikutnya dan ditetapkan untuk memperingatkan bahwa kenaikan suku bunga The Fed dan inflasi akan mendorong ekonomi ke dalam resesi gaya 1990.

Investor kini masih mengawasi dengan ketat perilisan kinerja keuangan emiten di AS untuk menilai dampak dari inflasi yang masih meninggi dan kenaikan suku bunga The Fed.

Pasar juga memperkirakan The Fed masih akan bersikap hawkish dengan menaikkan suku bunga acuannya pada pertemuan November mendatang.

Mengacu pada FedWatch, sebanyak 94,8% para pelaku pasar memproyeksikan The Fed akan menaikkan suku bunga acuan sebesar 75 basis poin (bp) dan membawa tingkat suku bunga Fed ke kisaran 3,75%-4%.

Sementara itu, imbal hasil (yield) obligasi pemerintah AS (US Treasury) yang masih berada di atas kisaran 4% turut menjadi penyebab fluktuasinya Wall Street kemarin.

Dilansir dari CNBC International, yield Treasury berjangka pendek yakni tenor 2 tahun cenderung naik menjadi 4,454%.

Sedangkan untuk yield Treasury benchmark tenor 10 tahun juga cenderung naik menjadi 4,054% pada akhir perdagangan hari ini

Equity World | Lonjakan Wall Street Dorong Saham Asia-Pasifik Selasa (18/10) Pagi Bergerak Lebih Tinggi

Equity World | Lonjakan Wall Street Dorong Saham Asia-Pasifik Selasa (18/10) Pagi Bergerak Lebih Tinggi

Equity World | Saham di Asia-Pasifik diperdagangkan lebih tinggi pada hari Selasa (17/10) setelah reli Wall Street semalam.

Equity World | Kode Keras Buat IHSG, Bursa Asia Melesat!

Indeks Nikkei 225 bergerak naik 1,46% dan Topix juga telah melonjak 1,23 persen.

Yen Jepang menyentuh 149,08 melawan dolar dan terakhir diperdagangkan di dekat 148,90.

Indeks Kospi . Korea Selatan juga bergerak 1,13% lebih tinggi dan Kosdaq naik 2,16 persen.

Indeks MSCI dari saham Asia Pasifik di luar Jepang bertambah 0,46 persen.

Di Australia, S&P/ASX 200 naik 1,27 persen.

Reserve Bank of Australia diperkirakan akan merilis notulen rapat untuk pertemuan Oktober.

China menunda pelaporan data produk domestik bruto, dan banyak rilis ekonomi untuk kuartal ketiga yang lain, seperti yang telah diumumkan di situs web Biro Statistik Nasional.

Langkah yang tidak biasa itu terjadi saat Partai Komunis China mengadakan Kongres Nasional ke-20.

Semalam di AS, indeks utama melonjak menyusul beberapa laporan pendapatan yang lebih baik dari perkiraan.

Dow Jones Industrial Average bertambah 550,99 poin, atau 1,86%, menjadi ditutup pada 30.185,82.

S&P 500 melonjak 2,65% menjadi 3.677,95.

Saham teknologi Nasdaq Composite melonjak 3,43% untuk hari terbaiknya sejak Juli, berakhir di 10.675,80.

Data inflasi Selandia Baru untuk kuartal ketiga lebih panas dari yang diharapkan

Harga konsumen Selandia Baru naik 7,2% pada kuartal ketiga dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu, jauh lebih tinggi dari 6,6% yang diprediksi oleh analis dalam jajak pendapat Reuters.

Harga naik 2,2% dari kuartal kedua, didorong oleh makanan, perumahan dan utilitas, kata Stats NZ.

Pendorong utama inflasi tahunan 7,2 persen hingga kuartal September 2022 adalah perumahan dan utilitas rumah tangga karena kenaikan harga untuk konstruksi, persewaan perumahan, dan tarif otoritas local.

Dibandingkan dengan kuartal sebelumnya, inflasi tahunan sedikit berkurang dari 7,3% yang dilaporkan di bulan Juli, yang merupakan level tertinggi dalam 32 tahun.

Reli hari Senin di bursa Wall Street berakhir dengan semua sektor ditutup lebih dari 10% dari tertinggi 52 minggu dipimpin layanan komunikasi yang naik lebih dari 40% dari level kunci.

Imbal hasil treasury AS memangkas kerugian, pulih dari posisi terendahnya.

Imbal hasil Treasury 2-tahun sekarang turun sekitar 5 basis poin menjadi 4,45%, sedangkan imbal hasil 10-tahun tidak berubah tepat di atas 4 persen.

Hasil bergerak berlawanan dengan harga, dan basis poin sama dengan 0,01 poin persentase.

Khususnya, rebound untuk imbal hasil tidak menyebabkan pergerakan besar di pasar ekuitas, di mana Nasdaq masih naik lebih dari 3% untuk sesi tersebut.

Equity World | Kekhawatiran Resesi Bebani Bursa Saham Asia

Equity World | Kekhawatiran Resesi Bebani Bursa Saham Asia

Equity World | Bursa saham Asia Pasifik merosot pada Senin (17/10/2022), seiring kekhawatiran resesi membebani ekspektasi berlanjutnya pengetatan kebijakan moneter di seluruh dunia.

Equity World | Harga Emas Antam Stagnan, Tetap Murah!

Mengutip CNBC, indeks Nikkei 225 turun 1,53 persen di awal perdagangan. Indeks Topix turun 1,07 persen. Dolar Amerika Serikat terus melayang berada di level tertinggi 32 tahun terhadap yen Jepang, terakhir diperdagangkan di 148,55 per dolar.

Sementara itu, di Australia, indeks S&P/ASX 200 turun 1,59 persen. Indeks Kospi Korea Selatan turun 1,35 persen dan Kosdaq turun 1,33 persen. Indeks MSCI dari saham Asia Pasifik di luar Jepang turun 0,6 persen.

Pada minggu ini, beberapa negara di kawasan itu dijadwalkan untuk melaporkan data inflasi, sementara Australia akan merilis statistik pengangguran dan China akan mengumumkan keputusan suku bunga pinjamannya.

Selama akhir pekan, Presiden China Xi Jinping memberikan pidato pada upacara pembukaan Kongres Nasional ke-20 Partai Komunis China yang berkuasa, di mana ia memperingatkan terhadap gangguan oleh kekuatan luar di Taiwan, sebuah pulau yang memiliki pemerintahan sendiri yang dilihat Beijing sebagai tempat provinsi pelarian.

Dia juga mengatakan China, tidak akan pernah berjanji untuk meninggalkan penggunaan kekuatan untuk reunifikasi. Saham AS ditutup lebih rendah minggu sebelumnya setelah survei University of Michigan menunjukkan ekspektasi inflasi meningkat.

Equity World | Kabar Baik Buat IHSG, Wall Street Cerah, Bursa Asia Meroket!

Equity World | Kabar Baik Buat IHSG, Wall Street Cerah, Bursa Asia Meroket!

Equity World | Bursa Asia-Pasifik dibuka cenderung cerah pada perdagangan Jumat (14/10/2022), menyusul bursa saham Amerika Serikat (AS) yang berhasil rebound pada perdagangan Kamis kemarin.

Equity World |Mantap! Harga Emas Berhasil Memanjat

Indeks Nikkei 225 Jepang dibuka melonjak 1,38%, Hang Seng Hong Kong melejit 1,92%, Shanghai Composite China menguat 0,7%, Straits Times Singapura melesat 0,94%, ASX 200 Australia melompat 1,52%, dan KOSPI Korea Selatan terdongkrak 1,75%.

Dari China, data inflasi pada periode September 2022 akan dirilis pada hari ini. Konsensus pasar dalam survei Reuters memperkirakan inflasi dari sisi konsumen (Indeks Harga Konsumen/IHK) China pada bulan lalu naik menjadi 2,8% (year-on-year/yoy), dari sebelumnya pada Agustus lalu di 2,5%.

Sedangkan inflasi dari sisi produsen (Indeks Harga Produsen/IHP) diprediksi melonjak menjadi 1% (yoy), dari sebelumnya pada Agustus lalu di 2,3%.

Sementara itu dari Singapura, Produk domestik bruto (PDB) tumbuh 4,4% pada kuartal III-2022, dari sebelumnya periode yang sama tahun lalu di angka 4,5%., menurut data pemerintah,

Angka ini jauh lebih tinggi dari yang diprediksi oleh analis dalam survei Reuters sebesar 3,4%, dan sejalan dengan pertumbuhan pada kuartal kedua.

Bursa Asia-Pasifik yang cenderung cerah terjadi di tengah berhasil rebound-nya bursa saham AS, Wall Street pada perdagangan Kamis kemarin.

Indeks Dow Jones ditutup meroket 2,83% ke posisi 30.038,72, S&P 500 terbang 2,6% ke 3.669,91, dan Nasdaq Composite melejit 2,23% menjadi 10.649,15.

Pembalikan arah secara frontal merupakan respon pelaku pasar atas data inflasi AS per September 2022. Biro Statistik Tenaga Kerja AS melaporkan inflasi dari sisi konsumen (IHK) AS mencapai ke 8,2% (yoy) pada September lalu.

Laju inflasi memang lebih rendah dibandingkan pada Agustus yang tercatat 8,3% (yoy) tetapi masih di atas ekspektasi pasar yakni 8,1% (yoy).

Secara bulanan (month-to-month/mtm), inflasi tercatat 0,4% pada September atau meningkat dibandingkan pada Agustus yang tercatat 0,1%. Inflasi inti menyentuh 6,6 % (yoy) pada September, level tertingginya sejak 1982 atau 40 tahun terakhir.

Data inflasi membuat pelaku pasar menghapus harapan mereka jika bank sentral AS (Federal Reserve/The Fed) akan melonggarkan kebijakan moneter dalam waktu dekat.

Namun, pelaku pasar juga mulai meyakini jika inflasi AS sudah mencapai puncaknya dan akan terus melandai ke depan.

Kedua faktor itulah yang membuat perdagangan kemarin berlangsung sangat “liar”. Bursa saham ambruk pada awal perdagangan sebagai respon atas data inflasi yang masih di atas ekspektasi.

Namun, pelaku pasar kemudian berbalik arah. Reli secara masif terjadi setelah dua jam perdagangan. Indeks Dow Jones melonjak hingga 600 poin sampai pukul 11: 30 pagi waktu setempat.

“Mungkin ini terakhir kali kita melihat inflasi yang lebih tinggi daripada ekspektasi dan selanjutnya inflasi akan melandai. Apa yang terjadi pada perdagangan intraday membuktikan sifat alamiah dari “pemburu” di bursa,” tutur Liz Ann Sonders, chief investment strategist Charles Schwab, dikutip dari CNBC International.

Chief investment strategist Baker Avenue Asset Management, King Lip mengatakan pembalikan arah lebih ditopang oleh teknikal.

Sedangkan inflasi dari sisi produsen (Indeks Harga Produsen/IHP) diprediksi melonjak menjadi 1% (yoy), dari sebelumnya pada Agustus lalu di 2,3%.

Sementara itu dari Singapura, Produk domestik bruto (PDB) tumbuh 4,4% pada kuartal III-2022, dari sebelumnya periode yang sama tahun lalu di angka 4,5%., menurut data pemerintah,

Angka ini jauh lebih tinggi dari yang diprediksi oleh analis dalam survei Reuters sebesar 3,4%, dan sejalan dengan pertumbuhan pada kuartal kedua.

Bursa Asia-Pasifik yang cenderung cerah terjadi di tengah berhasil rebound-nya bursa saham AS, Wall Street pada perdagangan Kamis kemarin.

Indeks Dow Jones ditutup meroket 2,83% ke posisi 30.038,72, S&P 500 terbang 2,6% ke 3.669,91, dan Nasdaq Composite melejit 2,23% menjadi 10.649,15.

Pembalikan arah secara frontal merupakan respon pelaku pasar atas data inflasi AS per September 2022. Biro Statistik Tenaga Kerja AS melaporkan inflasi dari sisi konsumen (IHK) AS mencapai ke 8,2% (yoy) pada September lalu.

Laju inflasi memang lebih rendah dibandingkan pada Agustus yang tercatat 8,3% (yoy) tetapi masih di atas ekspektasi pasar yakni 8,1% (yoy).

Secara bulanan (month-to-month/mtm), inflasi tercatat 0,4% pada September atau meningkat dibandingkan pada Agustus yang tercatat 0,1%. Inflasi inti menyentuh 6,6 % (yoy) pada September, level tertingginya sejak 1982 atau 40 tahun terakhir.

Data inflasi membuat pelaku pasar menghapus harapan mereka jika bank sentral AS (Federal Reserve/The Fed) akan melonggarkan kebijakan moneter dalam waktu dekat.

Namun, pelaku pasar juga mulai meyakini jika inflasi AS sudah mencapai puncaknya dan akan terus melandai ke depan.

Kedua faktor itulah yang membuat perdagangan kemarin berlangsung sangat “liar”. Bursa saham ambruk pada awal perdagangan sebagai respon atas data inflasi yang masih di atas ekspektasi.

Namun, pelaku pasar kemudian berbalik arah. Reli secara masif terjadi setelah dua jam perdagangan. Indeks Dow Jones melonjak hingga 600 poin sampai pukul 11: 30 pagi waktu setempat.

“Mungkin ini terakhir kali kita melihat inflasi yang lebih tinggi daripada ekspektasi dan selanjutnya inflasi akan melandai. Apa yang terjadi pada perdagangan intraday membuktikan sifat alamiah dari “pemburu” di bursa,” tutur Liz Ann Sonders, chief investment strategist Charles Schwab, dikutip dari CNBC International.

Chief investment strategist Baker Avenue Asset Management, King Lip mengatakan pembalikan arah lebih ditopang oleh teknikal.

Design a site like this with WordPress.com
Get started