Equity World | Detik-detik Resesi, Bursa Asia Dibuka Beragam

Equity World | Detik-detik Resesi, Bursa Asia Dibuka Beragam

Equity World | Bursa Asia-Pasifik dibuka cenderung bervariasi pada perdagangan Senin (19/12/2022), di tengah terus meningkatnya kekhawatiran pasar akan potensi resesi global yang bakal terjadi di awal tahun depan.

Equity World | Wall Street Sepekan, Saham Perbankan AS Goyang karena Kekhawatiran Resesi

Indeks Nikkei Jepang dibuka merosot 0,9%, ASX 200 Australia melemah 0,21%, Shanghai Composite China turun 0,11%, dan KOSPI Korea Selatan terkoreksi 0,39%.

Sedangkan untuk indeks Hang Seng Hong Kong dibuka menguat 0,47% dan Straits Times Singapura melesat 1%.

Dari China, pemerintah berjanji untuk menstabilkan ekonomi China pada tahun 2023 dan mempertahankan likuiditas yang cukup di pasar keuangan untuk memenuhi target utama, menurut sebuah pernyataan setelah Konferensi Kerja Ekonomi Pusat pengaturan anggaran tahunan pekan lalu.

Masih dari China, pemerintah kota Shanghai mengumumkan akan menutup kembali sebagian besar sekolah di kota tersebut pada hari ini, karena jumlah kasus Covid-19 yang kembali melonjak.

Sementara itu dari Jepang, pemerintah dan bank sentral Jepang (Bank of Japan/BoJ) berencana merevisi pernyataan yang berkomitmen pada target inflasi 2% sedini mungkin, menurut Kyodo News. BoJ pun akan mengadakan pertemuan kebijakan moneter pada Jumat akhir pekan ini.

Bursa Asia-Pasifik cenderung mengikuti pergerakan bursa saham AS, Wall Street pada perdagangan akhir pekan lalu, yang kembali terkoreksi, karena investor makin khawatir bahwa resesi bakal terjadi di AS dan berimbas ke global.

Pada Jumat pekan lalu, indeks Dow Jones Industrial Average (DJIA) ditutup merosot 0,85%, S&P 500 ambles 1,12%, dan Nasdaq Composite terjerembab 0,97%.

Sepanjang pekan lalu, Dow Jones ambles 3,19%, sedangkan S&P 500 ambrol 3,47%, dan Nasdaq ambruk 3,93%.

Investor di AS masih mencerna kampanye bank sentral AS (Federal Reserve/The Fed) yang menegaskan bahwa mereka masih akan bersikap hawkish selama inflasi belum mendekati target yang ditetapkan yakni sebesar 2%.

“Data inflasi yang kita lihat pada Oktober dan November lalu menunjukkan penurunan kenaikan harga secara bulanan. Tetapi masih diperlukan bukti yang substansial agar yakin inflasi berada pada jalur penurunan,” kata ketua The Fed, Jerome Powell dalam konferensi pers Kamis pekan lalu.

Pernyataan Powell tersebut mengindikasikan kampanye The Fed menurunkan inflasi masih jauh dari kata selesai, suku bunga meski sudah berada di level tertinggi dalam 15 tahun terakhir akan kembali dinaikkan dan ditahan pada level tinggi dalam waktu yang lama.

Alhasil, Wall Street rontok dua pekan beruntun.

Sebagai catatan, inflasi berdasarkan consumer price index (CPI) AS sudah mengalami penurunan 5 bulan beruntun, pada November tumbuh 7,1% (year-on-year/yoy). Angka itu turun jauh dari puncaknya 9,1% pada Juni lalu yang merupakan level tertinggi dalam lebih dari 40 tahun terakhir.

Isu resesi dunia tetap akan menjadi penggerak utama pasar finansial global hingga hari ini, termasuk di kawasan Asia-Pasifik.

AS dan Eropa diperkirakan akan mengalami resesi di kuartal I-2023 yang tentunya tinggal menghitung hari.

Median hasil survei dari Reuters menunjukkan kemungkinan resesi terjadi di Uni Eropa sebesar 78%, naik dari survei Oktober lalu sebesar 70%.

Sementara itu ekonom Bank of America memprediksi Negeri Paman Sam akan mengalami resesi di juga di kuartal I-2023, saat produk domestik bruto (PDB) mengalami kontraksi 0,4%.

“Kabar buruknya di 2023, proses pengetatan moneter akan menunjukkan dampaknya ke ekonomi,” kata ekonom Bank of America, Savita Subramanian, sebagaimana dilansir Business Insider, akhir November lalu.

Equity World | IHSG dan Bursa Regional Asia Tertekan, Apa Penyebabnya?

Equity World | IHSG dan Bursa Regional Asia Tertekan, Apa Penyebabnya?

Equity World | IHSG ditutup turun tipis 6,39 poin (0,09%) ke level 6.745,46 pada perdagangan Jumat (16/12/2022). Tidak hanya IHSG, bursa regional Asia juga tertekan. Apa penyebabnya?

Equity World | Wall Street Terjun Bebas Pada Kamis (15/12) Akibat Potensi Resesi yang Makin Besar

Pilarmas Investindo Sekuritas menjelaskan, IHSG dan Bursa regional Asia jelang akhir pekan ini mengalami penurunan karena pasar tertekan akan kekhawatiran resisi global menjadi kenayataan. “Hal ini seiring dengan reaksi pelaku pasar sehubungan dengan kenaikan suku bunga acuan bank sentral Inggris dan Eropa sebelumnya dilakukan The Fed Amerika Serikat,” tulis Pilarmas Investindo Sekuritas dalam risetnya, Jumat (16/12/2022).

Pilarmas Investindo Sekuritas menjelaskan, bank sentral Inggris (Bank of England-BoE) dan Bank Sentral Eropa (ECB) juga menaikkan suku bunga sebesar 50 basis poin. BoE menyampaikan kenaikan tersebut dilakukan untuk menkean laju inflasi hal yang sama juga di sampaikan petinggi ECB.

Menurut Pilarmas Investindo Sekuritas, hal itu mendorong pasar berpandangan bahwa bank sentral di dunia akan melakukan langkah kebijakan moneter yang sama menaikan suku bunganya untuk mengekang laju inflasi. Tentunya ini sebagai signal bank sentral masih berpotensi menlanjutkan kenaikan suku bunganya untuk menekan inflasi.

“Dengan kenaikan suku bunga tersebut tentunya ini akan mendorong daya beli akan menurun sehingga menekan pertumbuhan ekonomi suatu negara berada di zona resesi,” jelas Pilarmas Investindo Sekuritas.

Pada sesi I, saham-saham yang mengalami kenaikan terbesar JKON, SLIS, CABUT, BLTZ, CASH. Sedangkan, saham-saham yang mengalami penurunan terbesar MGLV, FIMP, IFSH, SNLK, SINI.

“BBNI. Kami merekomendasikan buy dengan support dan resistance di level 9.325-9.675. Sedangkan PER; 9,58x dan PBV; 1,27x,” tutup Pilarmas Investindo Sekuritas.

Equity World | Wall Street Turun, Fed Sinyalkan Lebih Banyak Kenaikan

Equity World | Wall Street Turun, Fed Sinyalkan Lebih Banyak Kenaikan

Equity World | Saham Wall Street jatuh pada perdagangan Rabu (Kamis pagi WIB) setelah Federal Reserve (Fed) membuat sketsa rencana untuk kenaikan suku bunga tambahan, meskipun data terbaru menunjukkan moderasi inflasi.

Equity World | Bursa Saham Asia Tergelincir Usai The Fed Kerek Suku Bunga

Gubernur Fed Jerome Powell mengatakan dirinya didorong oleh data indeks harga konsumen (CPI) terbaru. Tetapi kebijakan bank sentral masih belum cukup ketat, mengingat inflasi yang terlalu tinggi.

Dow Jones Industrial Average berakhir turun 0,4% pada 33.966,35.

S&P 500 berbasis luas merosot 0,6% lebih rendah menjadi 3.995,32, sedangkan Indeks Komposit Nasdaq yang kaya teknologi turun 0,8% menjadi 11.170,89.

Bank sentral Amerika Serikat (AS) itu, seperti yang diharapkan, mengumumkan akan menaikkan suku bunga acuan pinjaman sebesar setengah poin persentase atau 50 basis poin (bps), kenaikan yang lebih kecil setelah empat kenaikan berturut-turut 0,75 poin persentase atau 75 bps.

Powell mengatakan inflasi upah masih terlalu jelas untuk memungkinkan poros kebijakan moneter.

Sementara inflasi konsumen mereda pada Oktober dan November, Powell masih membutuhkan bukti yang kuat.

“Dibutuhkan lebih banyak bukti untuk memberikan keyakinan bahwa inflasi berada pada jalur penurunan yang berkelanjutan,” katanya, Rabu (14/12).

Pengumuman Fed tentu saja tidak sesuai dengan ekspektasi pasar yang lebih penuh harapan bahwa Fed mungkin seperti melemparkan wortel ke pasar (untuk menawarkan hadiah),” kata analis Briefing.com Patrick O’Hare. Ia mencirikan desakan pengumuman bank sentral berpikiran hawkish.

Di antara masing-masing perusahaan, saham Delta Air Lines naik 2,8% karena menaikkan perkiraan keuangan kuartal IV-2022 dan memprediksi pertumbuhan pendapatan yang solid pada 2023.

“Permintaan untuk perjalanan udara tetap kuat saat kita menutup tahun ini dan momentum Delta sedang dibangun,” kata CEO Delta Air Lines Ed Bastian.

Saham Charter Communications merosot 16,4% setelah rencana perusahaan untuk meningkatkan belanja modal secara signifikan, menimbulkan keraguan tentang posisi kas bebasnya.

Equity World | Emas Melonjak, Dolar Jatuh di Tengah Inflasi AS yang Mendingin

Equity World | Emas Melonjak, Dolar Jatuh di Tengah Inflasi AS yang Mendingin

Equity World | Harga emas menguat tajam pada akhir perdagangan Selasa (Rabu pagi WIB), kembali bertengger di atas level psikologis 1.800 dolar Amerika Serikat (AS). Greenback merosot setelah data indeks harga konsumen (CPI) AS menunjukkan penurunan inflasi yang kuat dari level tertinggi 40 tahun.

Equity World | Wall Street Naik Pasca Rilis Data Inflasi AS, Ada Kekhawatiran Kenaikan Suku Bunga

Kontrak emas paling aktif untuk pengiriman Februari di divisi Comex New York Exchange, melonjak 33,20 dolar AS atau 1,85% menjadi ditutup pada 1.825,50 dolar AS per ounce, setelah mencapai puncak sesi di 1.836,80 dolar AS yang tertinggi sejak 27 Juni.

Emas berjangka anjlok 18,40 dolar AS atau 1,02% menjadi 1.792,30 dolar AS pada Senin (12/12), setelah menguat 9,20 dolar AS atau 0,51% menjadi 1.810,70 dolar AS pada Jumat (9/12), dan terangkat 3,50 dolar AS atau 0,19% menjadi 1.801,50 dolar AS pada Kamis (8/12).

Departemen Tenaga Kerja AS melaporkan Selasa (13/12) bahwa CPI AS naik 7,1% dari tahun ke tahun (YoY) pada November. Angka ini lebih rendah dari kenaikan 7,3% yang diperkirakan para ekonom dan tingkat inflasi paling lambat sejak Desember 2021.

Indeks dolar AS dan imbal hasil (yield) obligasi pemerintah AS turun tajam karena data inflasi yang lebih rendah dari perkiraan, malah mendorong harga emas.

Federasi Nasional Bisnis Independen melaporkan Indeks Optimisme Bisnis Kecil naik 0,6 poin menjadi 91,9 pada November. Namun demikian, pembacaan November adalah bulan ke-11 berturut-turut di bawah rata-rata 49 tahun sebesar 98.

Emas telah naik sekitar 200 dolar AS dari level rendah 1.600 dolar AS yang dicapai pada awal Oktober. Selama tujuh minggu terakhir, emas hanya membukukan penurunan dalam satu minggu.

Rebound harga emas telah difasilitasi oleh jatuhnya indeks dolar, yang telah kehilangan hampir 8,0% nilainya sejak Oktober. Pada Selasa saja, indeks yang mengukur greenback terhadap sekeranjang enam mata uang utama lainnya jatuh 1,4% terbesar dalam sehari sejak 11 November.

Investor sekarang sedang menunggu pengumuman pertemuan kebijakan moneter Federal Reserve (Fed) pada Rabu (14/12) waktu setempat.

Logam mulia lainnya, perak untuk pengiriman Maret naik 58,7 sen atau 2,51%, menjadi ditutup pada 23,99 dolar AS per ounce. Platinum untuk pengiriman Januari melambung 30,90 dolar AS atau 3,07%, menjadi berakhir pada 1.038,90 dolar AS per ounce.

Equity World | Saham Wall Street Melonjak Jelang Data Inflasi dan Pertemuan Fed

Equity World | Saham Wall Street Melonjak Jelang Data Inflasi dan Pertemuan Fed

Equity World | Saham Wall Street melonjak pada perdagangan Senin (Selasa pagi WIB), melampaui sejumlah kerugian pekan lalu. Pasar menunjukkan optimisme yang hati-hati menjelang rilis data inflasi utama Amerika Serikat (AS) dan pertemuan Federal Reserve (Fed) yang diawasi ketat.

Equity World | Wall Street Rebound, Bursa Asia Dibuka Bergairah

Pengamat memperkirakan kenaikan indeks harga konsumen (CPI) melambat pada November, menambah tanda-tanda bahwa inflasi yang memanas akhirnya mereda. Sementara itu, bank sentral AS diperkirakan akan mengumumkan kenaikan suku bunga yang lebih kecil setelah pertemuan kebijakan dua hari mulai Selasa (13/12).

Dow Jones Industrial Average melonjak 1,6% menjadi berakhir pada 34.005,04, sementara S&P 500 naik 1,4% menjadi 3.990,56.

Indeks Komposit Nasdaq yang kaya teknologi juga naik 1,3% menjadi 11.143,74.

“Ada banyak berita positif untuk memulai pekan ini dan itu membantu mendorong ekuitas lebih tinggi,” kata Edward Moya dari platform perdagangan OANDA, Selasa.

Secara khusus, sebuah survei oleh Federal Reserve Bank of New York menunjukkan bahwa ekspektasi inflasi turun.

Perusahaan biofarmasi Amgen mengumumkan kesepakatan untuk mengakuisisi Horizon Therapeutics, menjadi aksi korporasi terbesar tahun ini di sektor kesehatan.

Saham Horizon Therapeutics melonjak 15,5% menyusul berita tersebut.

Di sektor penerbangan, Boeing didorong oleh harapan bisa mendapatkan pesanan pesawat besar-besaran dari Air India,” tambah Moya.

Sementara itu, pasar mencerna pernyataan Menteri Keuangan AS Janet Yellen yang mengatakan dalam sebuah wawancara di CBS News Sunday bahwa sementara resesi adalah risiko, itu bukanlah sesuatu yang diperlukan untuk menurunkan inflasi.

Equity World | Saham Asia Pasifik Dibuka Turun, Investor Nantikan Pertemuan Fed

Equity World | Saham Asia Pasifik Dibuka Turun, Investor Nantikan Pertemuan Fed

Equity World | Saham di Asia Pasifik dibuka turun pada perdagangan Senin (12/12). Investor menantikan pertemuan Federal Reserve (Fed) dan data inflasi Amerika Serikat (AS) minggu ini.

Equity World | Harga Emas Terkoreksi Pada Perdagangan di Awal Pekan Ini, Senin (12/12)

Indeks Hang Seng Hong Kong turun 1,14% pada awal perdagangan, memimpin penurunan di wilayah tersebut.

Di Australia, S&P/ ASX 200 turun 0,54%. Nikkei 225 Jepang turun 0,36% sementara Topix turun 0,15%.

Benchmark Korea Selatan Kospi turun 0,69%, dan Kosdaq turun 0,47%. Indeks MSCI untuk saham Asia Pasifik di luar Jepang tergelincir 1,03%.

Komposit Shanghai Tiongkok Daratan kehilangan 0,46% dan Komponen Shenzhen turun 0,358%.

Pada Senin, otoritas India dijadwalkan akan merilis data inflasi dan output industri.

Akhir pekan ini di AS, bank sentral akan memulai pertemuan dua harinya yang dimulai Selasa (13/12). Ekonom secara luas memperkirakan bank sentral AS itu akan menaikkan suku bunga setengah poin persentase atau 50 basis poin (bps) pada Rabu.

Pembacaan terbaru untuk indeks harga konsumen (CPI) AS juga dijadwalkan untuk Selasa. Analis yang disurvei oleh Reuters memperkirakan indeks naik 0,3% pada November.

Harga Minyak Naik

Harga minyak naik lebih dari satu dolar di belakang Tiongkok yang membuka kembali optimisme lebih lanjut. Sementara pemerintah Rusia mengancam akan memangkas produksi minyak, sebagai pembalasan atas pembatasan harga pada ekspor minyak mentah Rusia.

Pada jam-jam awal perdagangan di Asia, minyak mentah Brent berjangka naik 1,53%, atau US$ 1,11 menjadi US$ 72,13 per barel. Sementara benchmark AS West Texas Intermediate (WTI) berjangka diperdagangkan naik 1,29% atau mendekati satu dolar ke harga US$ 77,08 per barel.

Presiden Rusia Vladimir Putin pada Jumat (9/12) mengatakan kepada wartawan di ibu kota Kyrgyz Bishkek bahwa Rusia tidak akan menjual ke negara-negara yang memberlakukan batasan harga Barat pada minyak Rusia, lapor Reuters.

Equity World | Dibuka Melemah 0,49%, IHSG Turun ke zona 6.700

Equity World | Dibuka Melemah 0,49%, IHSG Turun ke zona 6.700

Equity World | Ditutup melemah sebesar 14 poin (0,21%) ke level 6.804, IHSG turun ke zona 6.700 pada pembukaan sesi I, Jumat (9/12/2022). IHSG dibuka melemah 33,44 poin (0,49%) di posisi 6.770,78. IHSG awal perdagangan hari ini bergerak fluktuatif pada rentang 6.749 – 6.804.  

Equity World | Jelang Akhir Pekan, Lima Saham Ini Kasih Untung Hingga 17%

Tercatat sebanyak 631,29 miliar saham telah diperdagangkan di menit-menit awal, dengan nilai perdagangan sebesar Rp 465,36 miliar dan frekuensi perdagangan baru mencapai 35.632 kali transaksi. Sebanyak 134 saham diperdagangkan mencatatkan kenaikan, 142 saham terkoreksi, dan 199 saham stagnan.

Nasdaq (1,13%) memimpin penguatan indeks-indeks Wall Street lainnya di Kamis (8/12/2022). Pelaku pasar kembali menimbang kemungkinan The Fed menurunkan kenaikan The Fed Rate dalam FOMC Desember 2022. Hal ini terkait dengan kenaikan U.S. Initial Jobless Claims ke 230 ribu pada pekan yang berakhir pada 3 Desember 2022 dari 226 ribu pada pekan sebelumnya.

Sebagai informasi, The Fed akan mengadakan pertemuan bulanan di 14 Desember 2022. Mayoritas pelaku pasar memperkirakan kenaikan The Fed Rate sebesar 50 bps pada pertemuan tersebut, turun 25 bps dari kenaikan dalam beberapa bulan terakhir.

Saham di Asia-Pasifik naik jelang data inflasi Tiongkok untuk November. Nikkei 225 Jepang naik 0,93%, sedangkan Topix bertambah 0,94%. Di Australia, S&P/ASX 200 naik tipis 0,33%. Kospi di Korea Selatan naik 0,28% sementara Kosdaq naik 0,67%. Indeks MSCI dari saham Asia-Pasifik di luar Jepang naik 0,2%.

Tiongkok diperkirakan akan merilis data inflasinya. Ekonom yang disurvei oleh Reuters memperkirakan inflasi konsumen naik 1,6% dibandingkan tahun lalu, sementara harga produsen turun 1,4%.

Prediksi Analis

Phintraco Sekuritas menyebut saham blue chip bakal menjadi penggerak rebound IHSG ke 6860-6880 di Jumat (9/12/2022). IHSG hari ini diperkirakan akan bergerak pada resistance 6.740, pivot 6.800, support 6.880. Perhatikan BBCA hingga KLBF.

“IHSG berpeluang technical rebound ke 6.860-6.880, jika bertahan di atas 6.800 pada perdagangan hari ini,” tulis Phintraco Sekuritas dalam risetnya, Jumat (9/12/2022).

Phintraco Sekuritas menjelaskan saham-saham blue chip mulai menunjukan sinyal rebound pada perdagangan Kamis (8/12/2022). Diantaranya BBCA, BBRI, BMRI, ASII, ANTM, PGAS dan ERAA. Sejumlah konstituen LQ45 juga menunjukan sinyal potensi bullish continuation seperti pada CPIN dan KLBF.

“Rebound lanjutan pada saham-saham blue chip tersebut berpotensi menjadi mover rebound IHSG hari ini,” tambah Phintraco Sekuritas.

Dari dalam negeri, Phintraco Sekuritas menyebut, sentimen positif berasal dari realisasi Consumer Confidence Index di 119,1 di November 2022, turun dibanding Oktober 2022 (120,3). Namun, masih berada di atas batas confidence di 100.

“Hal ini memperkuat bahwa konsumsi masyarakat di Indonesia masih cukup kuat, meski dibayangi kondisi inflasi tinggi beberapa bulan terakhir,” jelas Phintraco Sekuritas.

Phintraco Sekuritas menambahkan, sentimen positif untuk saham perbankan berasal dari ekspektasi perlambatan kenaikan The Fed Rate di Desember 2022. Ekspektasi tersebut menjaga nilai tujar Rupiah fluktuatif di Rp15.400-Rp15.750 per dolar AS sejak pertengahan Oktober 2022.

Equity World | Wall Street Ditutup Melemah, Investor Tunggu Data Inflasi

Equity World | Wall Street Ditutup Melemah, Investor Tunggu Data Inflasi

Equity World | Wall Street menutup sesi volatil dengan sebagian besar indeks utama terkoreksi pada perdagangan Rabu (7/12/2022) waktu setempat. Pasar kini terbebani kekhawatiran resesi dan menunggu data ekonomi utama di Amerika Serikat (AS) yang dirilis akhir bulan ini.

Equity World | Investor Asia Pasifik Pertimbangkan Risiko Ekonomi Jadi Sentimen Negatif Pasar

Dow Jones Industrial Average berakhir datar di 33.587,92. S&P 500 merosot 0,2% menjadi 3.933,92, sedangkan Indeks Komposit Nasdaq yang diisi emiten teknologi turun 0,5% menjadi 10.958,55.

Analis menggambarkan pergerakan pasar mencerminkan keragu-raguan, menjelang data rilis indeks harga konsumen (CPI) yang diawasi ketat minggu depan dan keputusan Federal Reserve (Fed) tentang kebijakan moneter.

Pada Rabu (7/12), bank sentral Kanada (BoC) menaikkan suku bunga pinjaman utamanya sebesar 50 basis poin (bps) menjadi 4,25%. Tetapi pihaknya mengisyaratkan bahwa ini kemungkinan akan menjadi kenaikan suku bunga terakhir untuk saat ini.

Pasar mengharapkan hal serupa pada pertemuan Fed pekan depan.

Di antara masing-masing perusahaan, saham Carvana anjlok 42,9% menyusul laporan bahwa kreditur dealer e-commerce mobil itu menandatangani perjanjian restrukturisasi. Laporan tersebut menambah spekulasi bahwa Carvana dapat mengajukan perlindungan kebangkrutan.

Saham Campbell Soup melonjak 6,0% karena menaikkan target setahun penuh, mengutip permintaan yang kuat untuk produk makanannya dan perbaikan dalam mengelola rantai pasokannya.

Saham Lowe naik 2,4% karena peritel perbaikan rumah itu mengumumkan otorisasi pembelian kembali saham baru senilai US$ 15 miliar pada pertemuan dengan investor. Perusahaan menargetkan margin keuntungan 14,5% pada 2025, naik dari 12,6% pada 2021.

Equity World | Duh! Hantu Resesi Kembali Muncul, Bursa Asia Mulai Terimbas

Equity World | Duh! Hantu Resesi Kembali Muncul, Bursa Asia Mulai Terimbas

Equity World | Indeks Nikkei 225 Jepang dibuka melemah 0,6%, Hang Seng Hong Kong turun 0,16%, Shanghai Composite China terkoreksi 0,26%, Straits Times Singapura terpangkas 0,15%, ASX 200 Australia terdepresiasi 0,63%, dan KOSPI Korea Selatan terjerembab 0,27%.

Equity World | Mengekor Wall Street, IHSG Kian Tertekan

Dari Australia, perekonomiannya berkembang pada tingkat tahunan tercepat pada kuartal III-2022, karena ekonomi dipercepat dari penguncian terkait Covid-19 setahun sebelumnya.

Pada periode Juli-September, Produk Domestik Bruto (PDB) Australia tumbuh 5,9%, lebih tinggi dari periode yang sama tahun lalu tumbuh 3,6%, ketika sekitar setengah ekonomi muncul dari gangguan ketat terkait pandemi, berdasarkan data dari Biro Statistik Australia (ABS).

Namun, angka tersebut masih lebih rendah dari prediksi ekonom dalam survei Trading Economics yang memperkirakan PDB Australia pada kuartal III-2022 tumbuh 6,4%.

Sedangkan secara basis kuartalan (quarter-to-quarter/qtq), PDB Australia pada kuartal III-2022 hanya tumbuh 0,6%, lebih rendah dari pertumbuhan PDB pada kuartal II-2022 sebesar 0,9%.

Pengeluaran konsumen, didukung oleh kenaikan upah dan orang-orang yang menabung lebih sedikit, mendorong pertumbuhan pada kuartal III-2022. Sedangkan pengeluaran rumah tangga naik 1,1%, menyumbang 0,6 poin persentase dari pertumbuhan PDB.

Sementara untuk tingkat tabungan turun untuk kuartal keempat berturut-turut, turun menjadi 6,9%, dari sebelumnya tumbuh 8,3%, untuk kembali ke tingkat pra-pandemi.

Bank sentral Australia (Reserve Bank of Australia/RBA) memperkirakan pertumbuhan PDB tahunan menjadi 4% di tahun 2022 secara keseluruhan, sebelum turun menjadi 2% tahun depan dan 1,5% pada tahun 2024.

Untuk kuartal III-2022, kompensasi karyawan meningkat 3,2%, menjadi kenaikan terkuat sejak kuartal IV-2006.

“Kondisi pasar tenaga kerja yang ketat, dengan tingkat pengangguran yang rendah dalam beberapa dekade, dan lowongan pekerjaan di tingkat yang tinggi menjadi kunci kenaikan pertumbuhan ekonomi,” ujar ABS, dikutip dari The Guardian.

Di lain sisi, bursa Asia-Pasifik yang cenderung melemah pada hari ini menyusul kembali bursa saham Amerika Serikat (AS), Wall Street pada perdagangan Senin kemarin, di mana Wall Street kembali ambruk

Indeks Dow Jones Industrial Average (DJIA) ditutup merosot 1,03%, S&P 500 ambles 1,44%, dan Nasdaq Composite ambruk 2%.

Wall Street ambles setelah kekhawatiran resesi kembali meningkat dan proyeksi masih lamanya kebijakan moneter ketat bank sentral AS (Federal Reserve/The Fed).

Sektor teknologi menjadi sektor dengan kinerja yang mengecewakan kemarin. Investor khawatir kinerja perusahaan berbasis teknologi akan berat di tengah perekonomian global yang menantang.

Wall Street juga ambruk setelah sejumlah CEO dari institusi multinational menyampaikan sejumlah kekhawatiran mengenai ancaman resesi. Survei The Economist juga menunjukkan jika 56% warga AS percaya jika Negara Paman Sam sudah berada di fase resesi.

CEO Goldman Sachs David Solomon mengingatkan perekonomian global akan menghadapi ketidakpastian serta periode yang bergejolak pada tahun depan. Dia menjelaskan kebijakan moneter ketat serta perkembangan ekonomi yang berganti begitu cepat membuat ekonomi global melambat.

“Saya pikir kita harus mengasumsikan jika kita akan menghadapi periode yang bergejolak. Kondisi perekonomian yang semakin berat,” tutur Solomon, dikutip dari The Guardian.

Goldman memperkirakan jika ekonomi global akan melambat ke 1,9% pada 2023. Proyeksi ini jauh di bawah proyeksi Dana Moneter Internasional (IMF) yakni 2,7%.

CEO JPMorgan, General Motors, Walmart, United dan Union Pacific juga menyampaikan kekhawatiran serupa, Perekonomian global diproyeksi akan melambat sehingga semuanya diminta menyiapkan diri.

Seperti diketahui, harapan pelaku pasar untuk segera melihat pelonggaran kebijakan The Fed pun memudar. Pasalnya, data tenaga kerja dan PMI sektor jasa AS masih kencang sehingga inflasi diperkirakan masih tinggi.

Dengan inflasi yang masih tinggi, The Fed diproyeksi masih akan mempertahankan kebijakan moneter ketatnya.

“Pertemuan The Fed akan digelar pekan depan sehingga arah pergerakan emas akan sangat ditentukan seberapa besar kenaikan suku bunga The Fed,” tutur analis CMC Markets, Michael Hewson, dikutip dari Reuters.

Equity World | Wall Street Ditutup Bervariasi Dipengaruhi Rilis Data Tenaga Kerja AS

Equity World | Wall Street Ditutup Bervariasi Dipengaruhi Rilis Data Tenaga Kerja AS

Equity World | Indeks Saham Amerika Serikat (AS), Wall Street, ditutup bervariasi pada perdagangan Jumat (2/12), dengan indeks S&P 500 yang mengakhiri sesi sedikit lebih rendah akibat data tenaga kerja AS November yang lebih kuat dari perkiraan. Hal itu memicu ekspektasi The Fed yang akan mempertahankan kenaikan suku bunganya untuk memerangi inflasi.

Equity World | Sesi Pagi Pasar Asia Bergerak Mixed di Awal Pekan

Mengutip dari Reuters, Senin (5/12), Dow Jones Industrial Average (.DJI) naik 34,87 poin atau 0,1 persen menjadi 34.429,88, S&P 500 (.SPX) kehilangan 4,87 poin atau 0,12 persen menjadi 4.071,7 dan Nasdaq Composite (.IXIC) turun 20,95 poin atau 0,18 persen menjadi 11.461,50.

Indeks-indeks utama membukukan kenaikan minggu kedua berturut-turut, dengan S&P 500 naik 1,13 persen, Dow naik 0,24 persen dan Nasdaq menguat 2,1 persen.

Laporan pekerjaan Departemen Tenaga Kerja menunjukkan data penggajian non-pertanian (NFP) naik 263.000 atau di atas ekspektasi 200.000 dan pertumbuhan upah mengalami percepatan, bahkan saat kekhawatiran resesi meningkat. Meski begitu, tingkat pengangguran AS tetap tidak berubah, seperti yang diharapkan sebesar 3,7 persen.

Ahli Strategi Investasi Senior Allspring Global Investment, Brian Jacobsen mengungkapkan bahwa pertumbuhan upah berada dalam tren kenaikan sejak Agustus. “Kita harus melihat tren berbalik arah agar Fed merasa nyaman dengan jeda. Sampai saat itu, mereka akan terus mengurangi jeda,” ujar Jacobsen di Menomonee Falls, Wisconsin.

Investor juga telah mencari tanda-tanda pelemahan di pasar tenaga kerja, terutama upah, sebagai pendahulu pendinginan inflasi yang lebih cepat yang akan memungkinkan Fed untuk memperlambat dan akhirnya menghentikan siklus kenaikan suku bunga saat ini

Selain itu, saham-saham telah menguat di awal pekan usai komentar Ketua Fed Jerome Powell tentang penskalaan kembali kenaikan suku bunga pada awal Desember. Kepala Strategi Investasi CFRA, Sam Stovall mengatakan apabila hal tersebut benar adanya, ia terdorong untuk melihat bagaimana pasar mampu bangkit kembali dari level mereka hari ini.

Menurutnya, ada indikasi lain bahwa pasar mencari setidaknya reli musiman Desember. “Pasar mulai melihat ke seberang lembah dan berkata, ‘Oke, setahun dari sekarang Fed kemungkinan akan ditahan dan mempertimbangkan pemotongan suku bunga,” kata Stovall di New York.

Sementara itu, Komite Pasar Terbuka Federal (FOMC) yang menetapkan suku bunga akan bertemu pada 13 hingga 14 Desember. Pasalnya, pertemuan terakhir di tahun yang bergejolak yang melihat upaya bank sentral untuk menahan laju inflasi tercepat sejak 1980-an dengan rekor kenaikan suku bunga.

Saham-saham pertumbuhan dan teknologi seperti Apple Inc (AAPL.O) turun 0,34 persen dan Amazon (AMZN.O) turut mengalami turun 1,43 persen. Saham tersebut tertekan oleh kekhawatiran atas kenaikan suku bunga, tetapi mereka mengurangi penurunan karena imbal hasil obligasi pemerintah AS turun sepanjang hari dari level tertinggi sebelumnya.

Indeks saham pertumbuhan S&P 500 (.IGX) turun 0,29 persen, sedangkan saham teknologi (.SPLRCT) termasuk yang berkinerja terburuk di antara 11 sektor utama S&P 500 dengan penurunan 0,55 persen.

Ford Motor Co (F.N) turun 1,56 persen karena penjualan kendaraan yang lebih rendah pada November. Lalu, DoorDash Inc (DASH.N) melemah 3,38 persen setelah RBC menurunkan peringkat saham perusahaan pengiriman makanan tersebut.

Design a site like this with WordPress.com
Get started