Equity World | Dibuka Melemah, IHSG Galau di Awal Perdagangan

Equity World | Dibuka Melemah, IHSG Galau di Awal Perdagangan

Equity World | Ditutup menguat sebesar 26 poin (0,37%) ke level 7.080, IHSG dibuka melemah 7,43 poin (0,11%) di posisi 7.073,08 pada perdagangan sesi I, Jumat (25/11/2022). IHSG bergerak galau di awal perdagangan sehingga bergerak bervariasi pada rentang 7.068-7.086.

Equity World | Pasar Asia Pasifik Dibuka Mixed, Pasar AS Ditutup untuk Thanksgiving

Tercatat sebanyak 526.298 juta saham telah diperdagangkan di menit-menit awal, dengan nilai perdagangan sebesar Rp 572,58 miliar dan frekuensi perdagangan baru mencapai 43.343 kali transaksi. Sebanyak 142 saham diperdagangkan mencatatkan kenaikan, 119 saham terkoreksi, dan 228 saham stagnan.

Bursa Amerika Serikat ditutup libur. Dow Jones ditutup 34.194,06 (0,00%), NASDAQ ditutup 11.285,32 (0,00%), S&P 500 ditutup 4.027,26 (0,00%). Bursa saham Amerika Serikat ditutup libur menyambut Thanks giving day.

Bursa saham eropa juga ditutup menguat sementara bursa saham asia dibuka menguat pagi hari ini. Investor menyambut optimis harga minyak mentah yang cukup stabil beberapa hari terakhir dan dinilai mampu membantu menekan inflasi kedepannya.

Bursa saham di Asia-Pasifik diperdagangkan beragam. Hal ini karena investor mencerna data ekonomi dari wilayah tersebut, termasuk indeks harga konsumen Tokyo dan pembacaan produk domestik bruto akhir Singapura. Pasar di AS tutup untuk liburan Thanksgiving dan akan tutup lebih awal pada hari Jumat.

Di Australia, S&P/ASX 200 di Australia naik 0,15%. Nikkei 225 turun 0,32% dan Topix juga turun 0,21%. Di Korea Selatan, Kospi turun 0,22%.

Prediksi Analis

Reliance Sekuritas menyebut investor tengah menunggu arah kebijakan suku bunga dalam negeri. Alhasil, IHSG akan bergerak pada rentang 7.060 – 7.130. Intip jajaran saham bakal meroket hari ini, salah satunya AVIA.

Reliance Sekuritas menjelaskan, IHSG akan berpotensi diperdagangkan menguat, ditengah sinyal yang beragam dari pasar regional. Para investor masih akan menunggu arah kebijakan suku bunga di dalam negeri dengan menungu data ekonomi lebih lanjut. “Sementara harga komoditas sedang berfluktuasi seperti minyak, batu bara dan nikel,” tulis Reliance Sekuritas dalam risetnya, Jumat (25/11/2022).

Secara teknikal, Reliance Sekuritas mengatakan, IHSG masih berada di trend sideway sehingga masih akan menguji untuk menguji support dan resistance. “Beberapa saham yang memiliki bakal meroket untuk perdagangan hari ini yaitu AVIA, PWON, CTRA, BSDE, MIKA, BBRI, TBIG,” tambah Reliance Sekuritas.

Equity World | Mengekor Bursa Asia, IHSG Dibuka Menguat!

Equity World | Mengekor Bursa Asia, IHSG Dibuka Menguat!

Equity World | Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada pagi ini dibuka menguat. Penguatan IHSG senada dengan pergerakan bursa Asia.

Equity World | Menanti Risalah The Fed, Wall Street Dibuka Cerah

Mengutip data RTI, Kamis (24/11/2022) IHSG menguat 29 poin (0,42%). IHSG pada pukul 09.00 tadi berada di level 7.083.

Indeks LQ45 juga bertambah 5 poin (0,50%) ke level 1.003.

Bursa Amerika Serikat ditutup Menguat. Dow Jones ditutup 34,194.06 (+0.28%), NASDAQ ditutup 11,285.32 (+0.99%), S&P 500 ditutup 4,027.26 (+0.59%). Wall Street ditutup dengan kenaikan solid setelah risalah pertemuan Federal Reserve (The Fed) bulan November 2022 menunjukkan kenaikan suku bunga mungkin akan segera melambat.

Sejak pertemuan terakhir The Fed pada 1-2 November, investor lebih optimis bahwa tekanan harga mulai mereda, yang berarti kenaikan suku bunga yang lebih kecil dapat mengurangi inflasi. Volume perdagangan tipis menjelang liburan Thanksgiving pada hari Kamis, dengan pasar saham AS dibuka untuk setengah sesi pada hari Jumat.

Penguatan IHSG juga sejalan dengan pergerakan bursa Asia pada pagi ini.

Berikut pergerakan bursa Asia pada pagi ini

Indeks Nikkei menguat 332 poin ke level 28.447,939
Indeks Hang Seng bertambah 97 poin ke 17.621
Indeks Shanghai naik 1 poin ke 3.098
Indeks Strait Times naik 4 poin ke 3.260

Equity World | Pasar Asia Pasifik Bergerak Mixed Jelang Risalah Fed

Equity World | Pasar Asia Pasifik Bergerak Mixed Jelang Risalah Fed

Equity World | Saham di Asia Pasifik sebagian besar naik pada perdagangan Rabu (23/11), setelah saham di Amerika Serikat (AS) naik semalam menjelang risalah Federal Reserve (Fed). Bank sentral Selandia Baru memberikan kenaikan 75 basis poin (bps), sesuai ekspektasi dalam jajak pendapat Reuters, menjadi kenaikan suku bunga terbesar dalam sejarah bank sentral.

Equity World | Bursa Asia Berikan Sinyal Baik Untuk IHSG Hari Ini

Indeks NZX 50 di Selandia Baru turun 0,8%.

S&P/ ASX 200 naik 0,7% meskipun Gubernur bank sentral Australia (RBA) Philip Lowe pada Selasa (22/11) mengisyaratkan kenaikan suku bunga lebih lanjut.

Di Korea Selatan, Kospi naik 0,56%, sedangkan Kosdaq naik 1,12%.

Pasar Jepang tutup untuk hari libur umum.

Pemerintah Singapura akan merilis data inflasinya, sementara Australia diperkirakan akan mengunggah data manufakturnya. Pembuat ponsel pintar Tiongkok Xiaomi dijadwalkan untuk merilis laporan keuangan hari ini.

Presiden Fed Cleveland Loretta Mester juga mengatakan data inflasi baru-baru ini menjanjikan. Ia akan mendukung pengurangan kenaikan suku bunga ke depan.

Bank sentral Selandia Baru Naikkan Suku Bunga

Bank sentral Selandia Baru (RBNZ) menaikkan suku bunga resmi sebesar 75 bps, rekor kenaikan terbesar, menjadi 4,25%.

Keputusan tersebut sejalan dengan ekspektasi analis, menurut jajak pendapat Reuters.

Ini adalah kenaikan kesembilan berturut-turut sejak RBNZ pertama kali memulai siklus kenaikan suku bunga pada Oktober 2021, lima di antaranya adalah kenaikan 50 bps.

Inflasi Selandia Baru saat ini mencapai 7,2%, tepat di bawah level tertinggi tiga dekade.

Investor Beralih ke Saham Teknologi Tiongkok Lapis Kedua

Investor harus mengambil keuntungan dari naik turunnya saham teknologi Tiongkok untuk pindah ke perusahaan yang lebih kecil dan kurang mapan, menurut Eva Lee, kepala ekuitas Tiongkok yang lebih besar di kantor kepala investasi UBS Global Wealth Management.

“Di bawah peraturan saat ini, pemain lapis kedua akan lebih baik daripada yang teratas. Gunakan kesempatan ini untuk merotasi ke perusahaan lapis kedua,” seperti perusahaan dengan pendapatan yang tangguh, katanya, dilansir dari CNBC pada Rabu (23/11).

Raksasa teknologi dianggap sebagai proksi pemulihan ekonomi makro. Sementara jalan menuju pembukaan kembali secara penuh pada akhirnya akan naik turun, berombak, katanya.

“Akhirnya kita pindah ke sana tapi butuh waktu,” kata Lee.

Equity World | Harga Emas Ditutup Melemah, Simak Sentimen yang Menyeretnya

Equity World | Harga Emas Ditutup Melemah, Simak Sentimen yang Menyeretnya

Equity World | Harga emas tak berdaya ke level terendah dalam lebih dari seminggu setelah jatuh lebih dari 1%. Sentimen negatif datang setelah dolar Amerika Serikat (AS) memperpanjang kenaikan, sementara perhatian pasar beralih ke risalah pertemuan November Federal Reserve yang akan dirilis pekan ini.

Equity World | Sudah Was-was Di Awal Pekan, Wall Street Dibuka Beragam!

Senin (21/11), harga emas spot ditutup melemah 0,7% ke US$ 1.738,05 per ons troi, setelah sebelumnya mencapai level terendah sejak 10 November di US$ 1.731.40.

Setali tiga uang, harga emas berjangka untuk kontrak pengiriman Februari 2023 ditutup melemah 0,8% ke US$ 1.739,6 per ons troi.

“Secara keseluruhan, lingkungan makro umum masih berupa tingkat suku bunga yang lebih tinggi, yang merupakan hal negatif bagi logam mulia karena bank sentral terus berupaya menaikkan suku bunga,” kata Chris Gaffney, President of World Markets di TIAA Bank.

Indeks Dolar AS naik 0,9%, membebani komoditas logam mulia seperti emas yang membuatnya lebih mahal bagi pembeli luar negeri.

Risalah pertemuan Fed November akan dirilis pada hari Rabu (23/11), dengan sebagian besar pedagang bertaruh pada kenaikan 50 basis poin pada pertemuan Desember, dan beberapa melihat peluang 24,2% dari kenaikan 75 bps menyusul komentar baru-baru ini oleh pejabat The Fed.

Suku bunga yang lebih tinggi merusak daya tarik emas, yang secara tradisional merupakan lindung nilai terhadap inflasi, karena menaikkan biaya peluang memegang emas batangan yang tidak menghasilkan bunga.

“Kami mungkin akan menjelajah ke level terendah di US$ 1.700-an… itu adalah level support yang kemungkinan besar akan kami turunkan,” kata Bart Melek, Head of Commodity Markets Strategy di TD Securities.

Di sisi lain, distrik terpadat di Beijing mendesak penduduk untuk tinggal di rumah pada hari Senin ketika jumlah kasus COVID-19 di kota itu meningkat.

“China khususnya adalah pasar aktif untuk logam mulia dan jika mereka terus mengunci… [itu] lebih sedikit uang untuk dibelanjakan di China untuk tujuan investasi,” kata Gaffney.

Equity World | Wall Street Menguat Imbas Kenaikan Saham Defensif

Equity World | Wall Street Menguat Imbas Kenaikan Saham Defensif

Equity World | Wall Street ditutup menguat pada perdagangan Jumat (18/11). Hal ini disebabkan oleh kenaikan saham defensif yang membayangi penurunan sektor energi dan para investor mengabaikan komentar hawkish dari pejabat Federal Reserve tentang kenaikan suku bunga.

Equity World | IHSG Loyo ke 7.063 Ikuti Bursa Asia

Mengutip Reuters, Senin (21/11), indeks Dow Jones Industrial Average naik 199,37 poin atau 0,59 persen menjadi 33.745,69. Indeks S&P 500 menguat 18,78 poin atau 0,48 persen ke 3.965,34 dan indeks Nasdaq Composite naik 1,11 poin atau 0,01 persen menjadi 11.146,06.

Pemimpin Federal Reserve Bank of Boston, Susan Collins, mengatakan dengan sedikit bukti tekanan harga berkurang, The Fed mungkin perlu memberikan kenaikan suku bunga 75 basis poin lagi sebagai upaya mengendalikan inflasi.

Pada hari Kamis, Presiden Fed St. Louis James Bullard memicu penurunan saham ketika dia mengatakan The Fed perlu terus menaikkan suku bunga karena pengetatannya sejauh ini hanya berdampak terbatas pada inflasi.

“Dengan pernyataan Collins dan kemudian Bullard, kami telah melakukan pembicaraan yang sangat hawkish, tetapi pasar benar-benar meresponsnya dengan tenang,” kata Co-Chief Investment Officer Trust Advisory Services, Keith Lerner.

“Itu belum memukul pasar ke sisi negatifnya seperti di masa lalu,” ujarnya lagi.

Selama pekan ini, indeks S&P 500 turun 0,7 persen, terkoreksi sedikit setelah reli kuat selama sebulan didorong oleh data inflasi yang lebih lemah dari perkiraan yang memicu harapan bank sentral dapat meredam kenaikan suku bunga yang menghukum pasar. Sementara Nasdaq menurun 1,6 persen di pekan ini, sedangkan Dow Jones pada dasarnya tidak berubah.

“Pasar berada dalam sedikit pola bertahan” jelang data ketenagakerjaan dan ekonomi lainnya, ungkap Ekonom dan Ahli Strategi Portofolio New York Life Investments, Lauren Goodwin.

Menurut dia, apa yang mendorong semua ekuitas adalah kebijakan The Fed dan gaya gravitasi yang ditimbulkan oleh kenaikan suku bunga terhadap kompleks ekuitas secara keseluruhan. “Kami tidak akan melihat bukti nyata dalam hal potensi penurunan tekanan upah atau inflasi. Tekanan selama beberapa minggu lagi,” pungkasnya.

Equity World | Perdagangan Pasar Asia Pasifik Dibuka Mixed, Jepang Defisit Perdagangan US$ 15 Miliar

Equity World | Perdagangan Pasar Asia Pasifik Dibuka Mixed, Jepang Defisit Perdagangan US$ 15 Miliar

Equity World | Saham-saham di kawasan Asia Pasifik dibuka mixed pada perdagangan Kamis (17/11), seiring sejumlah data ekonomi yang dirilis di kawasan tersebut. Pemerintah Jepang melaporkan defisit perdagangan sebesar US$ 15,5 miliar, lebih besar dari ekspektasi ekonom sebesar US$ 11 miliar yang diperkirakan dalam jajak pendapat Reuters.

Equity World | Kekhawatiran Inflasi Muncul Lagi, Bursa Asia Dibuka Lesu

S&P/ ASX 200 Australia naik 0,21% dalam jam pertama perdagangannya, karena negara itu menunggu data pengangguran terbaru di kemudian hari. Nikkei 225 turun 0,28% sementara Topix naik 0,2%. Pasar di Korea Selatan buka satu jam kemudian karena ujian sekolah nasional.

Para pemimpin ekonomi kawasan akan berkumpul di Thailand untuk Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) Kerja Sama Ekonomi Asia Pasifik (APEC).

Bank Indonesia (BI) melanjutkan pertemuan dua hari hari ini, ketika para ekonom memperkirakan suku bunga acuan akan dinaikkan sebesar 50 basis poin (bps) menjadi 5,25%.

Semalam di Wall Street, saham Amerika Serikat (AS) jatuh karena investor menimbang penurunan prospek kuartal keempat yang suram dari Target, memicu penurunan tajam dalam harga sahamnya serta rekan-rekan industri lainnya.

Temasek Soal Investasi FTX

Dana kekayaan negara Singapura Temasek mengumumkan akan menghapus investasi penuhnya di FTX, setelah keruntuhan perusahaan yang cepat pekan lalu.

Investor negara mengatakan dalam rilis, mengingat posisi keuangan FTX, pihaknya telah memutuskan untuk menuliskan investasi penuh dari FTX terlepas dari hasil pengajuan perlindungan kebangkrutan FTX.

Temasek mengatakan biaya investasinya di FTX kurang dari 0,1% dari nilai portofolio bersihnya sebesar 403 dolar Singapura (US$ 294 miliar), memegang kurang dari 1% di FTX International dan kurang dari 1,5% di FTX AS.

“Ada kesalahpahaman bahwa investasi kami di FTX adalah investasi ke dalam aset kripto. Untuk memperjelas, saat ini kami tidak memiliki paparan langsung dalam aset kripto,” kata perusahaan itu, Kamis.

Defisit Perdagangan Jepang

Pemerintah Jepang melaporkan defisit perdagangan yang lebih besar dari perkiraan sebesar 2,16 triliun yen (US$ 15,5 miliar), menurut rilis terbaru Kementerian Keuangan. Sebelumnya ekonom memperkirakan defisit US$ 11 miliar, menurut jajak pendapat Reuters.

Ekspor naik 25,3% menjadi 9 triliun yen pada Oktober dibandingkan periode yang sama tahun lalu, sementara impor melonjak 53,5% menjadi 11,16 triliun yen.

Saham Ritel Tertekan

Beberapa saham ritel turun pada Rabu pagi menyusul hasil keuangan Target yang lemah dan prospek penjualan.

Target sendiri turun 15% sesaat setelah bel pembukaan. Nordstrom mengalami penurunan 9%, sementara Macy’s dan Gap masing-masing turun sekitar 7%.

Saham Lowe naik, namun hanya sebesar 3,8% setelah perusahaan melaporkan menaikkan perkiraan pendapatan setahun penuh dan melaporkan hasil yang kuat. Walmart mempertahankan kenaikan 1% setelah melaporkan hasil yang kuat pada Selasa (15/11). Costco berjuang menuju wilayah positif.

Imbal Hasil Treasury Merosot, Kekhawatiran Resesi Meningkat

Imbal hasil (yield) obligasi pemerintah AS Treasury tenor 10 tahun sementara turun di bawah 3,7%, dan selisih antara yield Treasury tenor dua tahun dan terus jatuh lebih dalam ke wilayah negatif.

Apa yang disebut pembalikan hasil adalah peringatan resesi. Yield obligasi 10 tahun 3,73% dalam perdagangan sore, setelah turun ke level 3,69%. Treasury tenor dua tahun berada di 4,35%.

Dia mengatakan target selanjutnya untuk imbal hasil 10 tahun adalah 3,55%. Imbal hasil bergerak lebih rendah karena harga obligasi naik.

“Dorongan besar di balik reli adalah pasar yang melihat melewati siklus pengetatan saat ini dan mulai tumbuh semakin gelisah tentang potensi kejatuhan yang lebih signifikan, karena (Federal Reserve) Fed terus menegaskan kembali keinginannya untuk menaikkan ekonomi ke dalam resesi,” kata Lyngen.

Tencent Laporkan Keuangan, Babak Baru PHK

Raksasa teknologi Tiongkok Tencent akan merilis laporan keuangan kuartal III-2022. Perusahaan diperkirakan akan mengalami penurunan pendapatan lagi, setelah membukukan penurunan pendapatan pertama kali pada kuartal sebelumnya yang berakhir pada Juni. Perkiraan median dari Refinitiv memperkirakan penurunan 0,47% menjadi 141,7 miliar yuan Tiongkok (US$ 20 miliar).

Secara terpisah, sumber mengatakan kepada Reuters bahwa Tencent memulai babak baru pemutusan hubungan kerja (PHK). Berita itu muncul ketika perusahaan teknologi di seluruh dunia mengumumkan langkah PHK yang sama.

Saham Tencent naik sebanyak 3% pada awal perdagangan dan terakhir naik 0,83%, dibandingkan dengan penurunan 0,81% pada indeks Hang Seng yang lebih luas.

Equity World | Bursa Asia Dibuka Cenderung Datar, Tenaganya Sudah Habis?

Equity World | Bursa Asia Dibuka Cenderung Datar, Tenaganya Sudah Habis?

Equity World | Bursa Asia-Pasifik dibuka cenderung beragam pada perdagangan Rabu (16/11/2022), meski sentimen pasar global pada hari ini masih cenderung positif.

Equity World | Mantap, Harga Emas Dunia Nyaris Tembus Level Termahal dalam 3 Bulan

Indeks Nikkei 225 Jepang dibuka naik 0,11%, Straits Times Singapura naik tipis 0,07%, dan KOSPI Korea Selatan menguat 0,12%.

Sedangkan untuk indeks Hang seng Hong Kong dibuka merosot 0,97%, Shanghai Composite China turun tipis 0,07%, dan ASX 200 Australia juga turun tipis 0,08%.

Bursa Asia-Pasifik yang cenderung beragam terjadi setelah bank investasi AS, JPMorgan memangkas proyeksi Produk Domestik Bruto (PDB) China pada tahun 2022 dan 2023 sebagai tanggapan terhadap perkembangan pandemi Covid-19 terbaru.

“Hambatan penting pada aktivitas domestik,” kata para analis JPMorgan dalam sebuah catatan.

JPMorgan memprediksi PDB China untuk tahun 2022 mencapai 2,9%, turun dari perkiraan sebelumnya sebesar 3,1%. Sedangkan di tahun 2023, JPMorgan melihat ekonomi China tumbuh 4%, juga turun dari prediksi sebelumnya sebesar 4,5%.

Data penjualan ritel dan produksi industri periode Oktober lalu cenderung mengecewakan karena pertumbuhan global melambat dan China masih berjuang melawan pandemi Covid-19.

Selain itu, bervariasinya bursa Asia-Pasifik juga terjadi di tengah cerahnya kembali bursa saham Amerika Serikat (AS), Wall Street pada perdagangan Selasa kemarin, setelah laporan lain mengisyaratkan bahwa inflasi bisa melambat lebih cepat, menghidupkan kembali optimisme investor.

Indeks Dow Jones Industrial Average (DJIA) ditutup naik 0,147%, S&P 500 menguat 0,87%, dan Nasdaq Composite melesat 1,45%.

Inflasi di tingkat produsen (Indeks Harga Produsen/IHP) di AS naik 0,2% secara bulanan (month-to-month/mtm) untuk periode Oktober, lebih landai dari perkiraan konsensus yang semula mengharapkan kenaikan 0,4%.

Sedangkan secara tahunan (year-on-year/yoy), IHP Negeri Paman Sam pada bulan lalu melandai sedikit menjadi 8%, dari sebelumnya pada September lalu sebesar 8,4%.

Laporan tersebut menjadi data penunjang krusial setelah indeks harga konsumen (IHK) pekan lalu menunjukkan tanda-tanda tekanan inflasi mulai mereda pada bulan lalu, yang berkontribusi pada reli tajam pasar ekuitas AS pada pekan lalu.

“Data IHP tentu menambah lebih banyak bahan bakar bagi investor yang merasa AS mungkin akhirnya berada pada tren penurunan inflasi,” kata Mike Loewengart, analis dari Morgan Stanley, dilansir CNCB International.

“Pasar merespons penurunan konsumen minggu lalu dan reaksi awal hari ini tampaknya kurang lebih sama,” tambahnya.

Narasi inflasi puncak terlihat mendapatkan daya tarik di antara para investor di pasar, tetapi batasan untuk angkanya masih tinggi bagi bank sentral AS (Federal Reserve/The Fed) untuk dapat berbalik arah secara cepat.

Selain kondisi makro yang mulai membaik di AS, pasar modal juga mendapat dorongan dari jabat tangan antara Presiden China, Xi Jinping dengan Presiden AS, Joe Biden.

Hal ini karena pasar merespons positif pertemuan kedua pemimpin negara ekonomi terbesar dunia tersebut dengan harapan hubungan yang lebih stabil antara AS dan China setelah kepulangan dari KTT G20 di Bali, Indonesia.

Biden dan Xi berusaha untuk menghentikan hubungan bilateral yang kian suram antara Washington dan Beijing, menginstruksikan para pejabat untuk melanjutkan pembicaraan yang macet tentang prioritas global utama.

Meski demikian, kedua negara tersebut juga ikut mengakui adanya sederet ketidaksepakatan mendalam yang dapat mengganggu upaya tersebut.

Biden muncul dari pertemuan tersebut dengan memproyeksikan optimisme namun tetap berhati-hati, dengan China juga mengirimkan sinyal kesediaan baru dari Beijing untuk ikut serta berdiskusi secara aktif dengan AS.

Equity World | Wall Street Merah, IHSG Tunggu Booster Data Neraca Dagang

Equity World | Wall Street Merah, IHSG Tunggu Booster Data Neraca Dagang

Equity World | Awal pekan ini, pasar keuangan Tanah Air Indeks ramai-ramai berakhir di zona merah. Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup melemah nyaris 1%. Rupiah gagal menjaga momentum setelah sukses melibas dolar Amerika Serikat (AS) pekan lalu, serta imbal hasil Surat Berharga Negara (SBN) juga ditutup bervariasi.

Equity World | Bursa Asia Ditutup Bervariasi Pada Senin (14/11) Usai Rilis Data Inflasi AS

Indeks bursa saham acuan Tanah Air tersebut turun 0,98% pada penutupan perdagangan Senin (14/11) kemarin. Namun masih mampu bertahan di level 7.000, tepatnya berakhir di posisi 7.019,392.

Pelemahan IHSG hari ini selaras dengan pergerakan mayoritas bursa utama Asia lainnya yang juga berakhir di zona merah, kecuali indeks acuan bursa Hong Kong dan Singapura. Hari ini tidak terdapat banyak sentimen positif yang mampu menopang IHSG karena investor masih menunggu sejumlah data makroekonomi penting yang akan dirilis pekan ini.

Selain itu, investor domestik tampaknya juga masih menunggu kick-off KTT G20 yang secara resmi dimulai besok. Kemarin perhelatan B20 resmi berakhir, dengan Elon Musk dan bos bursa kripto terbesar dunia Binance Changpeng Zhao (CZ) masih tidak mampu mengerek gairah pasar.

Nilai transaksi IHSG kemarin mencapai Rp 12,71 triliun dan melibatkan 25,46 miliar saham dab berpindah tangan 1,43 juta kali. Investor asing juga tercatat melakukan aksi jual bersih (net sell) senilai Rp 1,12 triliun di pasar reguler.

Aksi jual asing utamanya terjadi di saham blue chip, dengan empat saham paling terdampak secara berurutan dari yang terbesar adalah Telkom Indonesia (TLKM), Bank Rakyat Indonesia (BBRI), Astra Internasional (ASII) dan Bank Negara Indonesia (BBNI). Diperberat aksi jual asing keempat saham kompak ditutup melemah, masing-masing ambles lebih dari 1,50%.

Sementara itu dua emiten batu bara menjadi yang paling diminati asing dengan net buy terbesar yakni Adaro Minerals (ADMR) dan Harum Energy (HRUM).

Selanjutnya Mata uang Garuda juga keok melawan dolar dan berakhir melemah 0,16% ke Rp 15.515/US$, meskipun sempat terapresiasi pada awal perdagangan.

Rupiah tampaknya masih kekurangan tenaga, mengingat pelemahan ini terjadi kala indeks dolar AS yang mengukur kinerja si greenback terhadap enam mata uang dunia lainnya, juga terpantau melemah 1,65% di posisi 106,42 pada pukul 15.00 WIB.

Terakhir harga obligasi pemerintah atau Surat Berharga Negara (SBN) ditutup bervariasi pada perdagangan kemarin. Investor cenderung memburu SBN tenor pendek, ditandai dengan turunnya imbal hasil (yield) SBN tenor 5 dan 10 tahun. Sementara itu yoeld SBN tenor 15 dan 20 tahun naik yang berarti investor melepas kepemilikan di surat berharga tersebut. Adapun SBN tenor 30 tahun relatif tidak mengalami perubahan signifikan atau terpantau stagnan.

Equity World | Harga Emas Terkoreksi, Dipicu Penguatan Dolar AS

Equity World | Harga Emas Terkoreksi, Dipicu Penguatan Dolar AS

Equity World | Harga emas terkoreksi pada perdagangan Senin (14/11) pagi. Pukul 07.40 WIB, harga emas untuk pengiriman Desember 2022 di Commodity Exchange ada di US% 1.7665,00 per ons troi, turun 0,24% dari akhir pekan lalu yang ada di US$ 1.769,40 per ons troi.

Equity World | Harga Emas Antam Turun, Segram Jadi Rp970.000

Harga emas turun karena dolar AS menguat setelah pejabat Federal Reserve memperingatkan bahwa bank sentral AS tidak akan berhenti untuk menaikkan suku bunga guna meredam inflasi.

Mengutip Bloomberg, pengetatan kebijakan moneter yang agresif tahun ini mendorong greenback dan membebani emas. Logam mulia, yang dihargai dalam mata uang AS dan tidak memberikan imbal hasil ini biasanya memiliki korelasi negatif dengan dolar dan kurs.

Meski data inflasi AS pekan lalu lebih rendah dari perkiraan dan berhasil mendorong kenaikan harga emas, namun, komentar hawkish pejabat The Fed Christopher Waller mendorong penguatan dolar AS, sehingga memicu koreksi emas.

“Tingkat (suku bunga) ini akan terus naik dan tetap akan tinggi untuk sementara, sampai kita melihat inflasi turun mendekati target,” kata Waller pada konferensi UBS Group AG di Sydney seperti dikutip Bloomberg.

Equity World | Saham Blue Chip Melonjak, IHSG Ngegas di Sejam Perdagangan

Equity World | Saham Blue Chip Melonjak, IHSG Ngegas di Sejam Perdagangan

Equity World | Dibuka melonjak 77,62 poin (1,11%) di posisi 7.044, IHSG ngegas pada sejam perdagangan Jumat (11/11/2022). Pada pukul 10.00 WIB, IHSG tercatat menguat 87,04 poin (1,25%) ke level 7.053,88. IHSG hari ini bergerak positif di rentang 7.024-7.065. Pada sejam perdagangan, saham-saham blue chip yang tergabung dalam LQ45 melonjak 1,57%.

Equity World | Bursa Asia Berjatuhan, Cuma Straits Times yang Selamat

Berdasarkan data RTI, sebanyak 13,61 miliar lebih lembar saham telah diperdagangkan pada sejam perdagangan. Dengan nilai perdagangan sebesar Rp 5,53 triliun, dan frekuensi perdagangan mencapai 547.530 kali transaksi.

Tercatat sebanyak 306 saham mengalami kenaikan, 169 saham diperdagangkan menurun. Sedangkan 194 saham stagnan. Pada sejam perdagangan, saham-saham blue chip yang tergabung dalam LQ45 melonjak 1,57%.

Pada sejam perdagangan, saham-saham ini mencatatkan kenaikan tertinggi (top gainers). Kenaikan tertinggi dipimpin PT Bersama Zatta Jaya Tbk (ZATA) yang naik sebesar 34,81%.

Disusul, PT Bank Jago Tbk (ARTO) kenaikan 18,68%, PT Wulandari Bangun Laksana Tbk (BSBK) terkerek 15,7%, PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk (GOTO) menguat 8,51%, PT Menthobi Karyatama raya Tbk (MKTR) naik 7,26%.

Pada sejam diperdagangkan, bursa saham Asia kompak menghijau. Nikkei (Jepang) naik 2,75%, Hang Seng (Hong Kong) melonjak 5,4%, Shanghai (Tiongkok) terkerek 1,4%, dan Straits Time (Singapura) menguat 1,56%

Design a site like this with WordPress.com
Get started