PT Equity World | Harga Emas Turun karena Data Ekonomi AS

PT Equity World | Harga emas melemah pada Rabu (25/11/2021) karena bagusnya data ekonomi Amerika Serikat (AS) mengangkat dolar dan imbal hasil obligasi AS menjelang risalah pertemuan bank sentral, Federal Reserve (The Fed) November yang dapat memberikan isyarat kenaikan suku bunga di masa depan.

Harga emas di pasar spot turun 0,4% menjadi US$ 1.782,81 per ons, sedangkan emas berjangka AS tergerus 0,1% pada US$ 1.781,70.

Inflasi di AS “Super Hot” Harga Emas Makin Ngenes! | PT Equity World

Emas turun di bawah level psikologis US$ 1.800 awal pekan ini karena pencalonan Ketua Fed Jerome Powell untuk periode kedua yang mendukung pengetatan kebijakan moneter lebih cepat. Hal ini berdampak pada penguatan dolar dan membuat emas lebih mahal bagi pembeli dengan mata uang selain dolar.

“Pasar emas tertekan kekhawatiran bahwa Fed mungkin akan mengurangi pembelian aset dan menaikkan suku bunga lebih cepat daripada yang diantisipasi sebelumnya,” kata Direktur Perdagangan Logam High Ridge Futures, David Meger.

Suku bunga tinggi meningkatkan biaya peluang memegang emas batangan yang tidak memberikan imbal hasil.
“Investor emas juga mengabaikan kemungkinan inflasi moderat, mengingat penurunan harga energi baru-baru ini,” kata analis ED&F Man Capital Markets Edward Meir.

Tekanan pada emas juga berasal dari penurunan klaim pengangguran awal AS ke level terendah sejak 1969.
Presiden Fed San Francisco Mary Daly mengatakan pihaknya akan terbuka mempercepat pengurangan pembelian aset bank sentral jika inflasi tetap tinggi dan pertumbuhan lapangan kerja kuat.

Adapun harga platinum di pasar spot turun 0,1% menjadi US$ 968,55 per ons, sementara paladium melemah 1% menjadi US$ 1.849,19 dan perak turun 0,8% menjadi US$ 23,46.

PT Equity World | Wall Street: Nasdaq koreksi terseret pelemahan Tesla dan saham sektor teknologi

PT Equity World | Wall Street ditutup bervariasi setelah indeks Nasdaq melemah. Koreksi Nasdaq datang usai investor melepas Tesla dan saham di sektor Big Tech lainnya, guna membeli saham dengan valuasi lebih rendah.

Selasa (23/11), indeks Dow Jones Industrial Average ditutup naik 0,55% pada 35.813,8 poin, indeks S&P 500 menguat 0,17% menjadi 4.690,7 dan indeks Nasdaq Composite melemah 0,5% ke 15.775,14.

Bursa Saham Asia Bervariasi, Investor Cermati Imbal Hasil Obligasi AS | PT Equity World

Setelah ditutup di level tertinggi sepanjang masa pada Jumat (19/11), Nasdaq telah anjlok sekitar 1,8% hingga penutupan sesi ini. Walau begitu, Nasdaq tetap melesat 22% sepanjang tahun ini.

Sementara itu, indeks S&P 500 sukses menguat karena kenaikan imbal hasil pada US Treasury. Yield US Treasury memperpanjang kenaikan karena investor meningkatkan ekspektasi kenaikan suku bunga Federal Reserve (The Fed) di tahun depan setelah Jerome Powell kembali dinominasikan oleh Presiden Joe Biden sebagai Ketua The Fed untuk masa jabatan kedua.

Pada perdagangan sesi ini, saham Tesla anjlok lebih dari 4% dan Microsoft turun 0,6%. Keduanya menyeret pergerakan Nasdaq, lebih dari saham lainnya. Rencana kenaikan suku bunga cenderung membuat saham growth stock kurang menarik bagi investor.

“Pasar sedang dikejutkan oleh liburan yang dipersingkat minggu, dan itu mengambil isyarat dari kenaikan suku bunga baru-baru ini, memberi investor alasan tambahan untuk mengambil keuntungan di pasar yang dinilai terlalu tinggi,” kata Sam Stovall, Chief Investment Strategist CFRA Research di New York.

Di sisi lain, saham-saham perbankan justru diuntungkan dengan peluang kenaikan suku bunga. Alhasil, indeks bank pada S&P 500 melonjak 2%, dengan Goldman Sachs, JPMorgan dan Bank of America semuanya reli.

Indeks energi pada S&P 500 juga melesat 3% dan merupakan sektor dengan kinerja terbaik. Dukungan datang setelah harga minyak naik ke level tertinggi dalam satu minggu usai langkah Amerika Serikat (AS) dan negara konsumen lainnya untuk melepaskan puluhan juta barel minyak dari cadangan untuk mencoba mendinginkan pasar gagal memenuhi beberapa harapan.

Survei IHS Markit menunjukkan, aktivitas bisnis AS melambat moderat pada November di tengah kekurangan tenaga kerja dan penundaan bahan baku, tetapi tetap nyaman di wilayah ekspansi karena kekuatan di sektor manufaktur.

Indeks volatilitas CBOE sempat naik ke level tertinggi lebih dari satu bulan sebelumnya pada hari Selasa.

PT Equity World | IHSG Hari Ini Melemah di Tengah Beragamnya Indeks Saham Global

PT Equity World | Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dibuka melemah pada perdagangan Selasa (23/11/2021) pagi pukul 09.00 WIB di zona merah pada angka 6.716. Posisi tertinggi IHSG pagi ini berada di level 6.727 dan terendah ada di level 6.714.

IHSG sudah diperdagangkan dengan volume 258.856 juta lembar dan nilai transaksi yang terjadi mencapai Rp135.400 miliar untuk 22.233 kali transaksi. Kemudian pagi ini setidaknya ada 189 saham yang bergerak menguat dan 53 saham melemah sementara 230 sisanya ada di posisi stagnan.

Wall Street “Mixed”, Bursa Eropa Melemah | PT Equity World

Analis Artha Sekuritas Dennies Christopher Jordan menjelaskan, meskipun terjadi pelemahan pada pagi ini, ia memprediksi akan terjadi penguatan. Secara teknikal IHSG berhasil ditutup di rekor tertinggi dengan volume yang cukup tinggi didorong oleh optimisme menyambut window dressing.

“Saat ini investor cenderung mengabaikan kekhawatiran akan inflasi dan tapering AS namun investor akan terus mencermati perkembangan dan rilis data ekonomi,” jelas dia dalam analisa harian yang dikutip Tirto.id, Selasa (23/11/2021).

Bursa Amerika Serikat ditutup beragam, Dow Jones ditutup 35.619,25 (+0,05%), NASDAQ ditutup 15.854,80 (-1,26%), S&P 500 ditutup 4.682,95 (-0,32%). Wall Street ditutup mixed pada perdagangan Senin dengan S&P 500 dan Nasdaq melorot, menyusul pengumuman masa jabatan kedua Gubernur The Fed Jerome Powell.

Pencalonan Powell disambut oleh banyak investor yang berharap tidak ada perubahan besar di The Fed karena memandu ekonomi melalui pemulihan dari pandemi.

Bank sentral akan mengumumkan kembalinya kebijakan pra-pandemi pada akhir 2021. Investor sedang menunggu banyak data ekonomi minggu ini, termasuk pembacaan aktivitas bisnis IHS, pengeluaran konsumsi pribadi, dan risalah pertemuan terbaru The Fed.

PT Equity World | Harga emas spot stabil di US$ 1.845 per ons troi pada perdagangan pagi ini (22/11)

PT Equity World | Harga emas stabil pada perdagangan awal pekan ini, setelah mencapai level terendahnya dalam hampir dua minggu. Pergerakan emas ini didukung pelemahan dolar Amerika Serikat (AS).

Senin (22/11) pukul 08.30 WIB, harga emas spot sedikit berubah ke US$ 1.845,48 per ons troi. Sementara itu, harga emas berjangka untuk kontrak pengiriman Februari 2022 turun 0,3% menjadi US$ 1.846,80 per ons troi.

Banyak Resiko Menjelang Harga Mengarah ke $1,900. | PT Equity World

Pergerakan emas yang stabil didukung indeks dolar AS yang turun 0,1% dari posisi tertinggi yang dicetak Jumat (19/11). The greenback yang lebih lemah mengurangi biaya emas batangan bagi pembeli yang memegang mata uang lainnya.

Di sisi lain, Federal Reserve secara terbuka memperdebatkan apakah akan mengurangi pembelian aset lebih cepat, dengan salah satu pejabat bank sentral yang paling berpengaruh, memberi sinyal pada hari Jumat bahwa gagasan itu akan dibahas pada pertemuan The Fed berikutnya.

Di sisi lain, Presiden Bundesbank Jens Weidmann, secara terbuka menentang pernyataan resmi European Bank Central (ECB) dan memperingatkan bahwa inflasi mungkin tetap di atas 2% untuk beberapa waktu. Dia pun menyebut bahwa ECB harus menghindari komitmen apa pun untuk menjaga agar keran uang tetap terbuka.

Kenaikan suku bunga akan mengurangi daya tarik emas karena suku bunga yang lebih tinggi meningkatkan biaya peluang logam tanpa bunga.

Dari Gedung Putih disebutkan akan ada lebih banyak laporan tentang pilihan Presiden Joe Biden untuk ketua The Fed berikutnya yang akan diberikan pada awal pekan ini.

Permintaan emas fisik di hub utama Asia melemah minggu lalu. Meskipun dealer India melihat ada potensi pada musim pernikahan mendatang untuk mengerek minat baru pada emas batangan.

Equity World | Bursa Asia Dibuka Beragam, Semoga IHSG Baik-baik Saja

Equity World | Bursa Asia dibuka cenderung beragam pada perdagangan Jumat (19/11/2021), di tengah beragamnya pergerakan bursa saham Amerika Serikat (AS) pada perdagangan Kamis (18/11/2021) waktu AS.

Indeks Nikkei Jepang dibuka menguat 0,38% dan KOSPI Korea Selatan bertambah 0,31% pada perdagangan pagi hari ini.

Jumat Pagi, Mayoritas Saham Asia Pasifik Dibuka Menguat | Equity World

Sedangkan indeks Hang Seng Hong Kong dibuka ambles 1,57%, Shanghai Composite China turun tipis 0,05%, dan Straits Times Singapura melemah 0,14%.

Investor Asia akan mengamati pergerakan pasar saham China dan Hong Kong pada hari ini, setelah aksi jual masif di saham teknologi China yang terdaftar di kedua indeks tersebut sehari sebelumnya.

Indeks teknologi Hang Seng pada perdagangan kemarin ambles 3%, diperberat oleh saham-saham teknologi China yang ditutup ambruk. Saham Alibaba pada perdagangan kemarin ditutup ambruk lebih dari 5%, JD dan Baidu juga terjatuh.

Perkiraan pasar terhadap kinerja keuangan Alibaba pada kuartal III-2021 juga meleset, karena perlambatan pertumbuhan ekonomi di China membebani hasil.

Perseroan melaporkan laba bersih sebesar 200,69 miliar yuan (US$ 31,4 miliar), kurang dari perkiraan pasar sebesar 204,93 miliar yuan, tetapi masih meningkat 29% (year-on-year/yoy). Perusahaan melaporkan laba per saham 11,20 yuan, kurang dari perkiraan 12,36 yuan dan penurunan 38% (yoy).

Sementara itu dari Jepang dan Korea Selatan pada hari ini telah merilis data inflasinya pada periode Oktober 2021, di mana Jepang merilis data inflasi dari sektor konsumen yakni Indeks Harga Konsumen (IHK) atau consumer price index (CPI) dan Korea Selatan merilis Indeks Harga Produsen (IHP) atau producer price index (PPI).

Pemerintah setempat melaporkan IHK Negeri Sakura pada Oktober lalu tercatat turun menjadi 0,1% secara tahunan (year-on-year/yoy). Sedangkan secara bulanan (month-on-month/mom), IHK Jepang juga turun menjadi -0,2%, dari sebelumnya pada September lalu sebesar 0,4%.

Adapun IHK inti (CPI), yang tidak termasuk harga makanan, tetapi termasuk biaya bahan bakar, masih sama dari periode sebelumnya, yakni sebesar 0,1% (yoy).

Angka IHK inti juga sesuai dengan perkiraan pasar dalam polling Reuters yang memperkirakan di angka 0,1%.

Harga bahan bakar yang lebih tinggi terjadi jelang musim dingin ketika permintaan energi meningkat dan dikhawatirkan akan memberikan pukulan bagi konsumen Jepang karena negara tersebut melihat adanya peningkatan aktivitas ekonomi di berbagai negara setelah sempat memberlakukan keadaan darurat akibat pandemi virus corona (Covid-19).

Sedangkan di Korea Selatan, PPI Negeri Ginseng pada Oktober melonjak dan menjadi kenaikan yang tercepat dalam 13 tahun terakhir. Hal ini didorong oleh melonjaknya harga komoditas energi seperti minyak mentah dunia.

Berdasarkan data dari bank sentral Korea Selatan (Bank of Korea/BoK), PPI bulan lalu melonjak 8,9% (yoy), dari sebelumnya pada September lalu yang naik 7,6%. Hal ini menjadikan laju tercepat sejak Oktober 2008.

Sebagai rincian, kenaikan PPI Korea Selatan pada bulan lalu ditopang oleh naiknya harga produksi barang-barang industri, yakni melonjak 15,4% dan kenaikan harga komoditas batu bara dan minyak bumi sebesar 85,6%.

Sementara harga produksi listrik, gas dan air ledeng, barang-barang pertanian, peternakan dan perikanan, dan jasa juga masing-masing tumbuh 6,2%, 2,6% dan 2,4%.

Beragamnya bursa Asia pada hari ini cenderung mengikuti pergerakan bursa saham AS, Wall Street pada perdagangan Kamis (18/11/2021) kemarin.

Indeks Dow Jones mengakhiri perdagangan Kamis kemarin dengan melemah 0,17% ke 35.870,95, sementara S&P 500 dan Nasdaq masing-masing menguat 0,34% dan 0,45% ke 4.704,54 dan 15.993,71.

Tingginya inflasi di AS dan berbagai negara menjadi salah satu kecemasan para pelaku pasar. Hari sebelumnya, ketiga indeks utama Wall Street berakhir di zona merah, kemudian bursa Asia. dan Eropa menyusul kemarin.

Selain itu kasus Covid-19 yang kembali menanjak di Eropa membuat sentimen pelaku pasar sedikit memburuk.

Sementara itu dari data ekonomi, rilis klaim tunjangan pengangguran mingguan per pekan lalu tercatat di angka 268.000 atau sedikit lebih tinggi dari ekspektasi ekonom dalam polling Dow Jones yang memperkirakan angka 260.000, dari posisi pekan sebelumnya 267.000 klaim.

“Laporan ekonomi baru-baru ini masih kuat, tetapi pergerakan pasar saham hari ini menandakan bahwa ia sudah mendiskon siklus Covid-19,” tutur Jim Paulsen, Kepala Perencana Investasi Leuthold Group seperti dikutip CNBC International.

Equity World | Harga emas terkoreksi pada Kamis (18/11) pagi, investor cermati pernyataan The Fed

Equity World | Harga emas terkoreksi tipis pada perdagangan Kamis (18/11) pagi. Pukul 07.23 WIB, harga emas spot ada di US$ 1.868,99 per ons troi, naik 0,08% dari sehari sebelumnya yang ada di US$ 1.867,48 per ons troi.

Harga emas naik, karena investor melacak aliran komentar dari pejabat Federal Reserve tentang bagaimana bank harus atau tidak seharusnya menanggapi lonjakan inflasi.

Investor Berburu Safe Haven, Harga Emas Mengkilap | Equity World

Mengutip Bloomberg, Presiden The Fed Bank of San Francisco Mary Daly mengatakan, dia punya pandangan lebih bullish pada ekonomi selama setahun terakhir, tetapi masih terlalu dini untuk mengambil tindakan pada suku bunga.

Daly juga mengatakan bank sentral tidak dapat memastikan berapa lama tingkat inflasi yang tinggi akan berlangsung.

Komentarnya mengikuti komentar yang lebih hawkish dari Presiden Fed St. Louis James Bullard, yang mengatakan bank sentral harus mempercepat pengurangan stimulus moneter dalam menghadapi lonjakan inflasi AS.

Investor juga mencerna AS yang baik dari perkiraan penjualan eceran pada Oktober, menambah tanda-tanda pemulihan ekonomi pada jalurnya. Sementara itu inflasi Inggris naik lebi cepat dari yang diperkirakan ke level tertinggi dalam satu dekade.

Avtar Sand, manajer senior komoditas Phillip Futures Pte mengatakan, dari perspektif teknis, harga emas telah menembus level US$ 1.840 dan volume perdagangan menjadi lebih besar.

“Harga emas perlu menjaga momentum untuk menarik lindung nilai inflasi dari treasuries.”

Equity World | Wall St menguat didukung data ekonomi yang lebih baik dari perkiraan

Equity World | Wall Street ditutup lebih tinggi pada akhir perdagangan Selasa (Rabu pagi WIB), didukung data ekonomi yang lebih baik dari perkiraan dengan angka penjualan ritel mengisyaratkan kesehatan konsumen yang kuat dan mengurangi kekhawatiran tentang Federal Reserve yang mungkin harus menjadi lebih agresif dalam menghadapi kenaikan inflasi.

Indeks Dow Jones Industrial Average bertambah 54,77 poin atau 0,15 persen, menjadi 36.142,22 poin. Indeks S&P 500 naik 18,10 poin atau 0,39 persen, menjadi 4.700,90 poin. Indeks Komposit Nasdaq melonjak 120,01 poin atau 0,76 persen, menjadi 15.973,86 poin.

Terangkat Wall Street, Bursa Jepang Bergerak Naik Pagi Ini |Equity World

Empat dari 11 sektor utama S&P 500 berakhir di zona hijau, dengan sektor consumer discretionary dan teknologi masing-masing terangkat 1,38 persen dan 1,07 persen, memimpin kenaikan. Sedangkan sektor real estate tergelincir 0,65 persen, merupakan kelompok dengan kinerja terburuk

Data menunjukkan penjualan ritel melonjak 1,7 persen pada Oktober, kenaikan terbesar sejak Maret dan di atas perkiraan 1,4 persen, menunjukkan orang Amerika telah memulai belanja liburan lebih awal dalam upaya untuk menghindari kekurangan barang di tengah rantai pasokan yang meregang.

Pengecer Home Depot Inc melonjak 5,73 persen menjadi ditutup pada rekor tertinggi dan memiliki persentase kenaikan satu hari terbesar sejak April 2020 setelah penjualan triwulanannya hampir 2 miliar dolar AS mengalahkan perkiraan dan dengan mudah melampaui perkiraan laba per saham.

“Ini membuat orang-orang lega karena prospek ritel masih cukup cerah,” kata Brian Jacobsen, ahli strategi investasi senior di Allspring Global Investments di Menomonee Falls, Wisconsin.

“Prospeknya adalah di mana harga-harga naik tetapi belanja konsumen masih kuat dan sepertinya rantai pasokan tertekan tetapi kami masih bisa mendapatkan barang-barang di rak.”

Walmart Inc, pengecer konvensional terbesar di negara itu, menaikkan perkiraan penjualan dan laba tahunannya. Namun, sahamnya menyerahkan kenaikan awal, dan jatuh 2,55 persen, persentase penurunan harian terbesar sejak Mei, karena kemacetan rantai pasokan mengurangi margin dan membebani sektor kebutuhan pokok konsumen.

Pengecer Target Corp, Macy’s Inc dan Kohl’s Corp akan menyampaikan laporan keuangan mereka minggu ini.

Data lain pada hari itu menunjukkan produksi manufaktur AS melonjak ke level tertinggi dua setengah tahun pada Oktober.

Data positif membantu investor melihat komentar masa lalu dari Presiden Federal Reserve St. Louis, James Bullard, yang menyerukan sikap lebih hawkish oleh bank sentral dalam menanggapi kenaikan inflasi.

Sebaliknya, Presiden Bank Federal Reserve San Francisco, Mary Daly pada Selasa (16/11) menyerukan kesabaran bank sentral dalam menghadapi inflasi tinggi yang, dia prediksi, kemungkinan akan memudar dengan sendirinya saat pandemi mereda.

Investor juga telah mengamati kemungkinan bahwa Presiden Joe Biden dapat memilih ketua baru Federal Reserve karena masa jabatan Jerome Powell akan berakhir pada Februari 2022, dengan Biden mengatakan pada Selasa (16/11) sore bahwa ia akan membuat keputusan akhir dalam waktu sekitar empat hari.

Saham teknologi juga bergerak lebih tinggi, naik 1,07 persen, sebagian terangkat oleh lonjakan 7,89 persen di pembuat chip Qualcomm Inc, yang naik setelah mengatakan pembuat mobil Jerman BMW akan menggunakan chipnya dalam sistem bantuan pengemudi dan sistem swa-kemudi generasi berikutnya.

Pembuat mobil listrik Tesla Inc membukukan kemajuan pertamanya dalam empat sesi, bahkan ketika CEO Elon Musk menjual 930 juta dolar sahamnya. Saham Tesla telah jatuh lebih dari 15 persen minggu lalu setelah Musk mulai menjual saham.

JPMorgan Chase & Co juga menggugat Tesla sebesar 162,2 juta dolar AS atas pelanggaran kontrak terkait dengan waran saham.

Volume transaksi di bursa AS mencapai 10,53 miliar saham, dibandingkan dengan rata-rata 11,02 miliar untuk sesi penuh selama 20 hari perdagangan terakhir.

Equity World | Rekomendasi Saham dan Pergerakan IHSG Hari Ini, Selasa 16 November 2021

Equity World | Laju indeks harga saham gabungan (IHSG) pada hari ini bakal dipengaruhi sentimen global termasuk pelemahan yang terjadi di bursa saham AS.

Kemarin (15/11/2021), IHSG parkir pada posisi 6.616,02, turun 0,53 persen atau 35,02 poin. Investor asing di seluruh pasar membukukan penjualan bersih sebesar 678 miliar rupiah.

Saham Asia Pasifik Bergerak Turun, Investor Tunggu Rilis Kebijakan Moneter | Equity World

Sementara itu, Dow Jones Industrial Average di bursa AS ditutup turun 0,04 persen atau 12,86 poin ke 36.087,45 pada Senin waktu setempat.

Associate Director of Research and Investment Pilarmas Investindo Sekuritas Maximilianus Nico Demus mengatakan, berdasarkan analisa teknikal, pihaknya melihat saat ini IHSG memiliki peluang bergerak melemah dan diperdagangkan pada 6.550 – 6.675.

“Dari sentimen global, data perekonomian China kemarin ternyata lebih baik daripada yang diperkirakan. Penjualan ritel mengalami kenaikkan diikuti dengan produksi industri,” jelas dia dalam riset harian, Selasa (16/11/2021).

Menurutnya, data ekonomi yang membaik di China membuat situasi dan kondisi lebih baik lantaran memberikan pelaku pasar global ketenangan bahwa laju ekonomi terbesar kedua di dunia tersebut ternyata tidak separah yang dibayangkan.

Hari ini, Nico merekomendasikan investor untuk mencermati saham TAPG dengan support dan resistensi 655-730, saham SSMS pada 1.095-1.290, dan saham KLBF pada 1.565-1.680.

Secara terpisah, tim riset PT OCBC Sekuritas menjelaskan, pasar saham di Asia-Pasifik turun pada Selasa pagi karena investor menantikan rilis risalah rapat kebijakan moneter dari Reserve Bank of Australia.

Secara teknikal, IHSG berada pada pola bearish di zona perdagangan 6.562-6.645. OCBC Sekuritas merekomendasi investor mencermati saham ASSA (hold), MIKA (spec buy), BANK (spec buy), BIRD (sell on strength), dan DMMX (spec buy).

Disclaimer: Berita ini tidak bertujuan mengajak membeli atau menjual saham. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. Bisnis.com tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.

PT Equityworld | Ada yang Bilang Harga Emas Bakal ke US$ 1.900/Oz! Menarik

PT Equityworld | Harga emas dunia bergerak turun pada perdagangan pagi ini. Mungkin investor hanya gatal mencairkan cuan, karena harga sang logam mulia sudah naik selama berhari-hari.

Pada Jumat (12/11/2021) pukul 07:37 WIB, harga emas dunia di pasar spot tercatat US$ 1.859,3/troy ons. Turun 0,12% dari hari sebelumnya.

Wall Street berupaya bangkit setelah koreksi dua hari sebelumnya | PT Equityworld

Koreksi pagi ini terjadi setelah harga emas menjalani reli panjang. Sebelumnya, harga emas sudah naik selama enam hari beruntun. Dalam enam hari tersebut, kenaikan harga mencapai 5,19%.

Lonjakan harga emas terjadi akibat kekhawatiran investor terhadap percepatan laju inflasi global. Di Amerika Serikat (AS), misalnya, laju inflasi pada Oktober 2021 mencapai 6.2% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya (year-on-year/yoy). Ini adalah rekor tercepat sejak Oktober 1990.

Dalam situasi inflasi tinggi, berinvestasi di emas menjadi menguntungkan karena sifat alamiahnya sebagai lindung nilai (hedge) terhadap inflasi. Menyimpan emas akan membantu menopang daya beli ketika inflasi tinggi, karena dalam jangka panjang harga emas pasti naik. Pasokan emas terbatas, hanya segini saja yang dikasih sama Tuhan, makanya harga pasti bakal naik.

“Sekali lagi, data inflasi begitu ‘panas’. Emas adalah pelindung inflasi yang terbaik, sehingga kami meyakini data inflasi akan menjadi modal reli harga emas pada pekan dan bulan-bulan mendatang,” tegas David Meger, Direktur Perdagangan Logam di High Ridge Futures, seperti dikutip dari Reuters.

“Data inflasi kemungkinan akan menjadi dorongan bagi harga emas untuk menuju ke level US$ 1.900/troy ons,” tambah Bob Haberkorn, Senior Market Strategist di RJO Futures, juga dikutip dari Reuters.

PT Equityworld | Wall Street Lanjutkan Pelemahan

PT Equityworld | Wall Street melanjutkan pelemahan pada Rabu (10/11/2021) seiring mencuatnya kekhawatiran inflasi.

Seperti dilaporkan Reuters, indeks Dow Jones Industrial Average di Bursa Efek New York, Amerika Serikat, turun 240,04 poin, atau sekitar 0,66 persen, menjadi 36.079,94. Indeks S&P 500 melemah 38,54 poin, atau sekitar 0,82 persen, menjadi 4.646,71. Indeks komposit Nasdaq merosot 263,84 poin, atau sekitar 1,66 persen, menjadi 15.622,70.

Harga Emas Turun Tipis, Investor Menanti Data Inflasi AS | PT Equityworld

Laporan yang dirilis Departemen Tenaga Kerja AS menunjukkan bahwa pada periode 12 bulan sampai Oktober 2021 indeks harga konsumen meningkat 6,2 persen, peningkatan tertajam sejak November 1990.

Sehari sebelumnya, Departemen Tenaga Kerja AS merilis laporan yang menunjukkan indeks harga produsen mengalami peningkatan tajam akibat kurang tersedianya barang mentah dan tenaga kerja.

Enam dari 11 sektor utama indeks S&P 500 melemah dengan indeks sektor teknologi merosot 1 persen. Saham Apple dan Microsoft masing-masing anjlok 1,92 persen dan 1,53 persen.

Saham perusahaan manufaktur mobil elektrik Tesla Inc melambung 2,9 persen setelah sempat terjun bebas pada sesi sebelumnya.

Harga emas berjangka di COMEX New York Mercantile Exchange turun seiring menguatnya nilai tukar dolar AS. Harga emas untuk pengiriman Desember 2021 turun 1 persen menjadi US$1.848,3 per ons. Indeks dolar AS naik 0,97 persen menjadi 94,87.

Bursa saham Eropa menguat pada Rabu, dengan indeks STOXX 600 Eropa naik 0,2 persen, seiring melonjaknya saham sektor media.

Indeks FTSE 100 di Bursa Efek London, Inggris, naik 66,11 poin, atau sekitar 0,91 persen, menjadi 7.340,15. Indeks DAX di Bursa Efek Frankfurt, Jerman, meningkat 27,36 poin, atau sekitar 0,17 persen, menjadi 16.067,83.

Indeks IBEX 35 di Bolsa de Madrid, Spanyol, menguat 66,90 poin, atau sekitar 0,74 persen, menjadi 9.141,80. Indeks Cac 40 di Euronext, Paris, Perancis, berakhir datar dengan pergerakan naik hanya 1,89 poin menjadi 7.045,16.

Nilai tukar pound sterling melemah 0,6 persen terhadap dolar AS menjadi US$1,3484 per pound. Terhadap euro, nilai tukar pound menguat 0,1 persen menjadi 1,1704 euro per pound.

Design a site like this with WordPress.com
Get started