Equityworld Futures | wall Street Memerah Usai Omicron Terkonfirmasi Masuk AS

Equityworld Futures | Bursa Efek Wall Street berguguran hingga lebih dari 1 persen akibat varian virus corona Omicron yang terkonfirmasi telah masuk ke Amerika Serikat (AS). Kejadian ini semakin diperburuk oleh kabar dari bank sentral AS The Federal Reserve (The Fed) terkait inflasi.

Dalam pemantauan CNNIndonesia.com, pada Rabu (1/12) pagi, beberapa indeks masih mengalami penguatan di antaranya S&P 500 naik 1,51 persen, Nasdaq naik 1,33 persen, FTSE 100 naik 1,24 persen, dan Dow Jones naik 1,17 persen.

‘Hilal’ Kebangkitan Emas Belum Keliatan, Adanya Nyungsep! | Equityworld Futures

Namun perolehan tersebut justru membalik ketika kasus pertama Omicron diumumkan. Indeks-indeks tersebut berguguran seperti S&P 500 turun 1,18 persen, Nasdaq turun 1,83 persen, dan Dow Jones turun 1,34 persen.

Di lain sisi, Kepala The Fed Jerome Powell mengungkapkan pemangku kepentingan harus bersiap untuk merespons kemungkinan inflasi yang tidak akan mereda hingga semester kedua tahun depan.

Sebelumnya, Selasa (30/11), saham di Wall Street telah jatuh setelah Powell mengejutkan pasar dengan memberi sinyal bahwa bank sentral akan mempercepat program Tapering di tengah lonjakan inflasi.

“Pasar bergulat dengan kekhawatiran kembar yakni varian Omicron dan kebijakan Powell yang lebih cepat dari yang diharapkan,” kata Kepala Investasi Independent Advisor Alliance Chris Zaccarelli, dikutip dari Reuters, Kamis (2/12).

Ekonom New York Life Investments Lauren Goodwin mengatakan dirinya tidak terkejut melihat volatilitas bursa, sebab kekhawatiran investor diakibatkan kurangnya informasi tentang omicron dan sinyal terbaru dari The Fed.

Sebagai informasi, Pusat Kontrol Kesehatan AS mengumumkan telah mendeteksi kasus pertama varian omicron dari penumpang yang berasal dari Afrika Selatan.

Badan Kesehatan Dunia (WHO) mengungkapkan pihaknya perlu banyak informasi mengenai transmisi varian omicron dan merek yakni vaksin akan bekerja untuk melawan varian ini.

Equityworld Futures | Ada Kabar Buruk Bagi Bursa Saham Global, Awas IHSG Jeblok!

Equityworld Futures | Membaiknya sentimen pelaku pasar global membuat Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) sempat menguat hingga 0,6% di awal perdagangan Selasa kemarin. Tetapi semua berubah dalam waktu singkat, IHSG berbalik terpuruk lebih dari 1,1% ke 6.533,932. Pada perdagangan Rabu (1/12), IHSG berisiko merosot lebih lanjut, sebab ada kabar buruk bagi bursa saham global.

Di awal perdagangan IHSG mampu menguat setelah pernyataan Presiden Amerika Serikat (AS), Joe Biden, mengatakan tidak perlu melakukan lockdown akibat Omicron.

Wall Street Terjungkal Akibat Sentimen Omicron | Equityworld Futures

“Jika masyarakat sudah divaksin dan mengenakan masker, tidak perlu lagi dilakukan lockdown. Selain itu tidak akan ada pembatasan perjalanan,” kata Biden dalam konferensi pers Senin kemarin, sebagaimana diwartakan CNBC International.

Pernyataan Biden tersebut membuat sentimen pelaku pasar membaik, bursa saham pun menghijau.

Namun, semua berubah seketika setelah CEO Moderna, Stephane Bancel mengatakan kepada Financial Times jika dia memperkirakan vaksin yang ada saat ini kurang efektif melawan Omicron.

Senin lalu, Bancel juga mengatakan akan memerlukan waktu beberapa bulan jika harus mengembangkan vaksin baru.

Kini kabar buruk lainnya bagi bursa saham global datang dari kemungkinan bank sentral AS (The Fed) akan mempercepat tapering atau pengurangan nilai program pembelian aset (quantitative easing/QE).

“Saat ini perekonomian sangat kuat dan inflasi juga sangat tinggi, oleh karena itu menurut pandangan saya akan tepat jika mempertimbangkan menyelesaikan tapering lebih cepat, mungkin beberapa bulan lebih awal,” kata ketua The Fed, Jerome Powell di hadapan Senat AS, sebagaimana diwartakan CNBC International, Selasa (30/11).

Percepatan tapering menjadi kejutan bagi pasar yang berisiko menimbulkan gejolak. Apalagi ketika tapering dipercepat, ada peluang The Fed juga menaikkan suku bunga lebih awal. Bursa saham Eropa dan AS (Wall Street) yang merosot akibat Omicron makin rontok merespon pernyataan Powell. kemerosotan tersebut tentunya berisiko merembet ke pasar Asia hari ini.

“Saya mengharapkan The Fed akan mendiskusikan percepatan tapering pada rapat bulan Desember,” tambah Powell.

Secara teknikal, efek dari duet pola Doji dan Shooting star langsung terlihat pada perdagangan Jumat (26/11), IHSG jeblok hingga lebih dari 2%, dan berlanjut lagi Selasa kemarin. Pola Doji di bentuk pada awal Senin (22/11) yang memberikan sinyal netral. Artinya, pelaku pasar masih ragu-ragu menentukan arah, apakah lanjut naik atau balik turun.

Kemudian pada Kamis (25/11), IHSG yang gagal mempertahankan penguatan tajam membentuk pola Shooting Star. Pola ini merupakan sinyal reversal atau berbalik arahnya harga suatu aset.

Awal pekan ini, IHSG juga jeblok lagi ke bawah 6.500 hingga menyentuh rerata pergerakan 50 hari (moving average 50/MA 50), sebelum akhirnya berbalik naik. MA 50 di kisaran 6.500 menjadi support terdekat yang akan menahan penurunan IHSG. Tetapi, jika ditembus, IHSG berisiko merosot ke 6.470.

Support selanjutnya berada di kisaran 6.430.

Tekanan bagi IHSG masih cukup besar jika melihat indikator stochastic pada grafik harian dan 1 jam yang bergerak turun tetapi belum mencapai wilayah jenuh jual (oversold).

Stochastic merupakan leading indicator, atau indikator yang mengawali pergerakan harga. Ketika Stochastic mencapai wilayah overbought (di atas 80) atau oversold (di bawah 20), maka harga suatu instrumen berpeluang berbalik arah.

Artinya ketika belum mencapai wilayah oversold, belum ada pemicu IHSG untuk rebound.

Namun, selama bertahan di atas 6.500, IHSG memiliki peluang menguat ke 6.600. Penembusan di atas area tersebut akan membuka peluang ke 6.630 dan menutup gap (celah) yang terjadi Selasa kemarin.

Equityworld Futures | Emas Lagi-Lagi Gagal Melesat, Tanda Omicron Tak Berbahaya?

Equityworld Futures | Kecemasan akan penyebaran virus corona varian Omicron membuat harga emas menguat di awal perdagangan awal pekan kemarin. Sayangnya, penguatan tersebut gagal dipertahankan, dan emas justru mengakhiri perdagangan di zona merah.

Melansir data Refintiv, emas menutup perdagangan Senin (29/11) di US$ 1.785,01/troy ons, melemah 0,38% di pasar spot. Di awal perdagangan, emas sempat menguat 0,41% ke US$ 1.799/troy ons.

Kekhawatiran Omicron Mereda, Kilau Emas Ikut Meredup | Equityworld Futures

Pada Jumat pekan lalu, harga emas dunia sempat melesat kembali ke atas US$ 1.800/troy ons, tetapi akhirnya mengakhiri perdagangan di bawahnya.

“Pergerakan emas di hari Jumat menunjukkan apa yang seharusnya dilakukan emas. Kekhawatiran akan virus corona Omicron akan mendorong kenaikan harga emas,” kata Craig Erlam, analis pasar senior di OANDA, sebagaimana dilansir Kitco, Jumat (26/11).

Corona Omicron yang dikatakan lebih mudah menyebar ketimbang varian Delta membuat pelaku pasar khawatir akan kemungkinan diterapkannya lockdown lagi, dan membuat perekonomian global kembali melambat.

Dalam kondisi tersebut, emas merupakan aset safe haven kembali dilirik.

Namun, kekhawatiran tersebut mereda setelah Presiden Amerika Serikat (AS), Joe Biden, mengatakan tidak perlu melakukan lockdwon akibat Omicron.

“Jika masyarakat sudah divaksin dan mengenakan masker, tidak perlu lagi dilakukan lockdown. Selain itu tidak akan ada pembatasan perjalanan,” kata Biden dalam konferensi pers Senin kemarin, sebagaimana diwartakan CNBC International.

Meski demikian, para ekonom dan analis melihat Omicron akan membawa harga emas naik, tetapi jika virus baru tersebut berdampak pada aktivitas ekonomi dan arah kebijakan moneter.

Saat ini, tingginya inflasi membuat beberapa bank sentral, termasuk The Fed (bank sentral AS), mulai mengetatkan kebijakan moneternya. Hal tersebut yang membuat emas pada pekan lalu jeblok nyaris 3%.

Rilis notula rapat kebijakan moneter The Fed minggu lalu menunjukkan banyak anggota dewan siap untuk mempercepat normalisasi jika inflasi terus tinggi, emas melemah tipis saja.

Pasca rilis notula tersebut, pelaku pasar kini melihat ada probabilitas The Fed akan menaikkan suku bunga di bulan Juni 2022, lebih cepat dari sebelumnya semester II-2022. Selain itu, pasar juga melihat suku bunga akan dinaikkan sebanyak 3 kali.

Suku bunga merupakan salah satu “musuh” utama emas, ketika suku bunga di AS naik maka daya tarik emas sebagai aset tanpa imbal hasil akan menurun. Selain itu, opportunity cost berinvestasi emas juga akan mengalami peningkatan.

Inflasi yang tinggi menjadi alasan The Fed diperkirakan akan agresif menaikkan suku bunga, tetapi jika Omicron berdampak pada pelambatan ekonomi, dan The Fed akhirnya tidak agresif dalam menaikkan suku bunga, tentunya berpeluang mendongkrak harga emas.

Equityworld Futures | Varian Omicron Merebak di Afrika, Ini Prediksi Wall Street Pekan Depan

Equityworld Futures | Pergerakan Wall Street pada pekan depan diprediksi akan terhambat dengan merebaknya varian baru virus Covid-19 dari Afrika Selatan bernama Omicron. Padahal, tiga indeks acuannya sedang mengalami penurunan lebih dari 2 persen.

“Saat pasar merayakan akhir dari pandemi. Boom. Ternyata ini belum berakhir,” kata Kepala Investasi Cumberland Advisors, David Kotok, dilansir Reuters, Jumat (26/11/2021).

Bursa Asia Merah Membara, Hati-hati Nular ke IHSG | Equityworld Futures

David mencermati kekhawatiran pasar terkait varian baru ini bisa membawa banyak aset ekuitas merosot tajam, terutama karena aksi profit taking investor untuk mengamankan asetnya.

“Semua hal yang berkaitan dengan kebijakan moneter, perputaran bisnis, perkiraan pertumbuhan PDB, pemulihan sektor pariwisata dan perhotelan bakal tertahan,” ujarnya.

Seperti diketahui, Dow Jones Industrial Average (DJI) jatuh -2,53% di level 34.899, S&P 500 (SPX) merosot tajam -2,27% di 4.594, dan Nasdaq Composite (IXIC) anjlok -2,23%.

Penurunan tersebut turut mengubah Cboe Volatility Index (VIX) atau Indeks Volatilitas Cboeyang dikenal sebagai pengukur ketahanan volatilitas Wall Street, yang melonjak tajam 54,04%.

Pejabat AS mengatakan pada hari Jumat bahwa mereka akan memberlakukan pembatasan perjalanan dari delapan negara di wilayah selatan Afrika sebagai tanggapan atas varian baru yang ditemukan di Afrika Selatan.

Portfolio Manager The Financial Enhancement Group, Andrew Thrasher mengaku khawatir bahwa reli di sejumlah saham teknologi bigcaps di indeks S&P 500, mencakup Apple Inc (AAPL), Amazon.com Inc (AMZN), Microsoft Corp (MSFT), bakal memicu penurunan pasar lebih besar.

“(Varian baru) ini menyalakan api bagi investor menjual asetnya dan bisa mendorong pasar lebih rendah. Ini telah memicu api bearish (tren penurunan) itu,” katanya.

Sementara itu, sejumlah analis justru melihat penurunan pasar yang disebabkan Covid-19 sebagai peluang untuk membeli saham buy on weakness. Mereka mengharapkan pasar bisa terus berada dalam jalur pemulihannya dengan lebih cepat.

“Setiap kejatuhan optimisme adalah peluang pembelian yang baik,” tulis Bill Smead, pendiri Smead Capital Management, dalam catatannya.

PT Equity World | Bursa Asia Kebakaran, Waspada Buat IHSG

PT Equity World | Bursa Asia dibuka berjatuhan pada perdagangan Jumat (26/11/2021), karena investor kembali khawatir dengan ditemukannya varian baru virus corona (Covid-19) dari Afrika Selatan oleh beberapa ilmuwan.

Indeks Nikkei dibuka melemah 0,58%, Hang Seng Hong Kong ambles 1,39%, Shanghai Composite China terkoreksi 0,37%, Straits Times Singapura merosot 1,09%, dan KOSPI Korea Selatan terdepresiasi 0,41%.

Harga emas spot naik tipis ke US$ 1.792,62 per ons troi pada pagi ini (26/11) | PT Equity World

Sentimen negatif datang dari seputar virus corona (Covid-19), di mana varian baru Covid-19 kembali muncul banyak mutasi lonjakan, B.1.1.529. Varian Covid-19 ini disebut telah terdeteksi di Afrika Selatan.

Kemunculan pertama varian ini sempat dikabarkan di Bostwana, Rabu (24/11/2021) lalu. Kini varian itu juga disebut sudah ditemukan di Hong Kong.

Dalam penjelasan ilmuwan Afrika, varian B.1.1.529 mengandung beberapa mutasi yang terkait dengan peningkatan resistensi antibodi. Ini diyakini ilmuwan dapat mengurangi efektivitas vaksin, bersama dengan mutasi yang umumnya membuatnya lebih menular.

Sementara itu, Organisasi Kesehatan Dunia (World Health Organization/WHO) sendiri mengatakan tengah meminta pertemuan darurat untuk memantau varian itu. Hal ini penting di tengah makin melonjaknya kasus Covid-19 di Eropa dan dunia yang memasuki musim liburan akhir tahun.

“Kami belum tahu banyak tentang ini. Apa yang kita ketahui adalah bahwa varian ini memiliki sejumlah besar mutasi,” kata pimpinan teknis WHO untuk Covid-19, Dr. Maria Van Kerkhove, dalam tanya jawab yang disiarkan langsung di media sosial organisasi, Kamis (25/11/2021).

Pertemuan itu akan memutuskan ke mana B.1.1.529 akan diklasifikasikan. Apakah varian menarik atau perlu diperhatikan.

“Saat ini, para peneliti sedang berkumpul untuk memahami di mana mutasi ini berada di protein lonjakan dan situs pembelahan furin, dan apa artinya itu bagi diagnostik atau terapi kami dan vaksin kami,” kata Van Kerkhove lagi.

Koreksinya pasar saham Asia pada hari ini terjadi di tengah minimnya sentimen positif di pasar global pada hari ini, karena pasar keuangan Amerika Serikat (AS) tidak dibuka pada perdagangan Kamis (25/11/2021) karena sedang libur memperingati hari Thanksgiving.

Meskipun sentimen pasar global cenderung sepi, tetapi kabar baik datang dari Benua Eropa, di mana indeks saham kawasan Eropa ditutup menguat pada perdagangan Kamis waktu setempat.

European Stoxx 600 ditutup menguat 0,44%. Mayoritas bursa saham Benua Biru sukses mengakhiri perdagangan di zona hijau kemarin.

Tiga indeks saham acuan utama Eropa yakni FTSE, CAC dan DAX juga kompak menghijau dengan apresiasi masing-masing 0,33%, 0,48%, dan 0,25%. Meskipun angka infeksi Covid-19 harian di Eropa masih terus meningkat, tetapi pasar saham ditutup dengan ceria.

Salah satu katalis positifnya adalah regulator Eropa yang memberikan lampu hijau untuk vaksinasi Covid-19 bagi mereka kelompok usia sangat muda di rentang 5-11 tahun.

Dari sisi makro, beberapa rilis data ekonomi menjadi perhatian pelaku pasar. Di Jerman, pertumbuhan ekonominya di kuartal III-2021 mencatatkan ekspansi sebesar 1,7% secara kuartalan (quarter-on-quarter/qoq).

Angka pertumbuhan ekonomi Jerman tersebut lebih rendah dari perkiraan konsensus pasar di 2% qoq. Secara tahunan (year-on-year/yoy), Produk Domestik Bruto (PDB) Jerman masih tumbuh 2,5%.

Inflasi yang tinggi dan kenaikan kasus Covid-19 yang meningkat turut membebani sentimen konsumen. Hal ini tercermin dari survei konsumen GfK Jerman yang drop ke level -1,6 pada bulan November, padahal di periode sebelumnya masih berada di teritori positif.

Inflasi memang menjadi permasalahan yang harus ditinjau secara hati-hati. Pejabat bank sentral Uni Eropa (Europe Central Bank/ECB) melihat bahwa inflasi yang meningkat mungkin akan berlangsung lebih lama daripada yang diantisipasi. Namun mereka masih ‘kekeuh’ bahwa inflasi yang tinggi saat ini hanya bersifat temporer.

PT Equity World | Harga Emas Turun karena Data Ekonomi AS

PT Equity World | Harga emas melemah pada Rabu (25/11/2021) karena bagusnya data ekonomi Amerika Serikat (AS) mengangkat dolar dan imbal hasil obligasi AS menjelang risalah pertemuan bank sentral, Federal Reserve (The Fed) November yang dapat memberikan isyarat kenaikan suku bunga di masa depan.

Harga emas di pasar spot turun 0,4% menjadi US$ 1.782,81 per ons, sedangkan emas berjangka AS tergerus 0,1% pada US$ 1.781,70.

Inflasi di AS “Super Hot” Harga Emas Makin Ngenes! | PT Equity World

Emas turun di bawah level psikologis US$ 1.800 awal pekan ini karena pencalonan Ketua Fed Jerome Powell untuk periode kedua yang mendukung pengetatan kebijakan moneter lebih cepat. Hal ini berdampak pada penguatan dolar dan membuat emas lebih mahal bagi pembeli dengan mata uang selain dolar.

“Pasar emas tertekan kekhawatiran bahwa Fed mungkin akan mengurangi pembelian aset dan menaikkan suku bunga lebih cepat daripada yang diantisipasi sebelumnya,” kata Direktur Perdagangan Logam High Ridge Futures, David Meger.

Suku bunga tinggi meningkatkan biaya peluang memegang emas batangan yang tidak memberikan imbal hasil.
“Investor emas juga mengabaikan kemungkinan inflasi moderat, mengingat penurunan harga energi baru-baru ini,” kata analis ED&F Man Capital Markets Edward Meir.

Tekanan pada emas juga berasal dari penurunan klaim pengangguran awal AS ke level terendah sejak 1969.
Presiden Fed San Francisco Mary Daly mengatakan pihaknya akan terbuka mempercepat pengurangan pembelian aset bank sentral jika inflasi tetap tinggi dan pertumbuhan lapangan kerja kuat.

Adapun harga platinum di pasar spot turun 0,1% menjadi US$ 968,55 per ons, sementara paladium melemah 1% menjadi US$ 1.849,19 dan perak turun 0,8% menjadi US$ 23,46.

PT Equity World | Wall Street: Nasdaq koreksi terseret pelemahan Tesla dan saham sektor teknologi

PT Equity World | Wall Street ditutup bervariasi setelah indeks Nasdaq melemah. Koreksi Nasdaq datang usai investor melepas Tesla dan saham di sektor Big Tech lainnya, guna membeli saham dengan valuasi lebih rendah.

Selasa (23/11), indeks Dow Jones Industrial Average ditutup naik 0,55% pada 35.813,8 poin, indeks S&P 500 menguat 0,17% menjadi 4.690,7 dan indeks Nasdaq Composite melemah 0,5% ke 15.775,14.

Bursa Saham Asia Bervariasi, Investor Cermati Imbal Hasil Obligasi AS | PT Equity World

Setelah ditutup di level tertinggi sepanjang masa pada Jumat (19/11), Nasdaq telah anjlok sekitar 1,8% hingga penutupan sesi ini. Walau begitu, Nasdaq tetap melesat 22% sepanjang tahun ini.

Sementara itu, indeks S&P 500 sukses menguat karena kenaikan imbal hasil pada US Treasury. Yield US Treasury memperpanjang kenaikan karena investor meningkatkan ekspektasi kenaikan suku bunga Federal Reserve (The Fed) di tahun depan setelah Jerome Powell kembali dinominasikan oleh Presiden Joe Biden sebagai Ketua The Fed untuk masa jabatan kedua.

Pada perdagangan sesi ini, saham Tesla anjlok lebih dari 4% dan Microsoft turun 0,6%. Keduanya menyeret pergerakan Nasdaq, lebih dari saham lainnya. Rencana kenaikan suku bunga cenderung membuat saham growth stock kurang menarik bagi investor.

“Pasar sedang dikejutkan oleh liburan yang dipersingkat minggu, dan itu mengambil isyarat dari kenaikan suku bunga baru-baru ini, memberi investor alasan tambahan untuk mengambil keuntungan di pasar yang dinilai terlalu tinggi,” kata Sam Stovall, Chief Investment Strategist CFRA Research di New York.

Di sisi lain, saham-saham perbankan justru diuntungkan dengan peluang kenaikan suku bunga. Alhasil, indeks bank pada S&P 500 melonjak 2%, dengan Goldman Sachs, JPMorgan dan Bank of America semuanya reli.

Indeks energi pada S&P 500 juga melesat 3% dan merupakan sektor dengan kinerja terbaik. Dukungan datang setelah harga minyak naik ke level tertinggi dalam satu minggu usai langkah Amerika Serikat (AS) dan negara konsumen lainnya untuk melepaskan puluhan juta barel minyak dari cadangan untuk mencoba mendinginkan pasar gagal memenuhi beberapa harapan.

Survei IHS Markit menunjukkan, aktivitas bisnis AS melambat moderat pada November di tengah kekurangan tenaga kerja dan penundaan bahan baku, tetapi tetap nyaman di wilayah ekspansi karena kekuatan di sektor manufaktur.

Indeks volatilitas CBOE sempat naik ke level tertinggi lebih dari satu bulan sebelumnya pada hari Selasa.

PT Equity World | IHSG Hari Ini Melemah di Tengah Beragamnya Indeks Saham Global

PT Equity World | Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dibuka melemah pada perdagangan Selasa (23/11/2021) pagi pukul 09.00 WIB di zona merah pada angka 6.716. Posisi tertinggi IHSG pagi ini berada di level 6.727 dan terendah ada di level 6.714.

IHSG sudah diperdagangkan dengan volume 258.856 juta lembar dan nilai transaksi yang terjadi mencapai Rp135.400 miliar untuk 22.233 kali transaksi. Kemudian pagi ini setidaknya ada 189 saham yang bergerak menguat dan 53 saham melemah sementara 230 sisanya ada di posisi stagnan.

Wall Street “Mixed”, Bursa Eropa Melemah | PT Equity World

Analis Artha Sekuritas Dennies Christopher Jordan menjelaskan, meskipun terjadi pelemahan pada pagi ini, ia memprediksi akan terjadi penguatan. Secara teknikal IHSG berhasil ditutup di rekor tertinggi dengan volume yang cukup tinggi didorong oleh optimisme menyambut window dressing.

“Saat ini investor cenderung mengabaikan kekhawatiran akan inflasi dan tapering AS namun investor akan terus mencermati perkembangan dan rilis data ekonomi,” jelas dia dalam analisa harian yang dikutip Tirto.id, Selasa (23/11/2021).

Bursa Amerika Serikat ditutup beragam, Dow Jones ditutup 35.619,25 (+0,05%), NASDAQ ditutup 15.854,80 (-1,26%), S&P 500 ditutup 4.682,95 (-0,32%). Wall Street ditutup mixed pada perdagangan Senin dengan S&P 500 dan Nasdaq melorot, menyusul pengumuman masa jabatan kedua Gubernur The Fed Jerome Powell.

Pencalonan Powell disambut oleh banyak investor yang berharap tidak ada perubahan besar di The Fed karena memandu ekonomi melalui pemulihan dari pandemi.

Bank sentral akan mengumumkan kembalinya kebijakan pra-pandemi pada akhir 2021. Investor sedang menunggu banyak data ekonomi minggu ini, termasuk pembacaan aktivitas bisnis IHS, pengeluaran konsumsi pribadi, dan risalah pertemuan terbaru The Fed.

PT Equity World | Harga emas spot stabil di US$ 1.845 per ons troi pada perdagangan pagi ini (22/11)

PT Equity World | Harga emas stabil pada perdagangan awal pekan ini, setelah mencapai level terendahnya dalam hampir dua minggu. Pergerakan emas ini didukung pelemahan dolar Amerika Serikat (AS).

Senin (22/11) pukul 08.30 WIB, harga emas spot sedikit berubah ke US$ 1.845,48 per ons troi. Sementara itu, harga emas berjangka untuk kontrak pengiriman Februari 2022 turun 0,3% menjadi US$ 1.846,80 per ons troi.

Banyak Resiko Menjelang Harga Mengarah ke $1,900. | PT Equity World

Pergerakan emas yang stabil didukung indeks dolar AS yang turun 0,1% dari posisi tertinggi yang dicetak Jumat (19/11). The greenback yang lebih lemah mengurangi biaya emas batangan bagi pembeli yang memegang mata uang lainnya.

Di sisi lain, Federal Reserve secara terbuka memperdebatkan apakah akan mengurangi pembelian aset lebih cepat, dengan salah satu pejabat bank sentral yang paling berpengaruh, memberi sinyal pada hari Jumat bahwa gagasan itu akan dibahas pada pertemuan The Fed berikutnya.

Di sisi lain, Presiden Bundesbank Jens Weidmann, secara terbuka menentang pernyataan resmi European Bank Central (ECB) dan memperingatkan bahwa inflasi mungkin tetap di atas 2% untuk beberapa waktu. Dia pun menyebut bahwa ECB harus menghindari komitmen apa pun untuk menjaga agar keran uang tetap terbuka.

Kenaikan suku bunga akan mengurangi daya tarik emas karena suku bunga yang lebih tinggi meningkatkan biaya peluang logam tanpa bunga.

Dari Gedung Putih disebutkan akan ada lebih banyak laporan tentang pilihan Presiden Joe Biden untuk ketua The Fed berikutnya yang akan diberikan pada awal pekan ini.

Permintaan emas fisik di hub utama Asia melemah minggu lalu. Meskipun dealer India melihat ada potensi pada musim pernikahan mendatang untuk mengerek minat baru pada emas batangan.

Equity World | Bursa Asia Dibuka Beragam, Semoga IHSG Baik-baik Saja

Equity World | Bursa Asia dibuka cenderung beragam pada perdagangan Jumat (19/11/2021), di tengah beragamnya pergerakan bursa saham Amerika Serikat (AS) pada perdagangan Kamis (18/11/2021) waktu AS.

Indeks Nikkei Jepang dibuka menguat 0,38% dan KOSPI Korea Selatan bertambah 0,31% pada perdagangan pagi hari ini.

Jumat Pagi, Mayoritas Saham Asia Pasifik Dibuka Menguat | Equity World

Sedangkan indeks Hang Seng Hong Kong dibuka ambles 1,57%, Shanghai Composite China turun tipis 0,05%, dan Straits Times Singapura melemah 0,14%.

Investor Asia akan mengamati pergerakan pasar saham China dan Hong Kong pada hari ini, setelah aksi jual masif di saham teknologi China yang terdaftar di kedua indeks tersebut sehari sebelumnya.

Indeks teknologi Hang Seng pada perdagangan kemarin ambles 3%, diperberat oleh saham-saham teknologi China yang ditutup ambruk. Saham Alibaba pada perdagangan kemarin ditutup ambruk lebih dari 5%, JD dan Baidu juga terjatuh.

Perkiraan pasar terhadap kinerja keuangan Alibaba pada kuartal III-2021 juga meleset, karena perlambatan pertumbuhan ekonomi di China membebani hasil.

Perseroan melaporkan laba bersih sebesar 200,69 miliar yuan (US$ 31,4 miliar), kurang dari perkiraan pasar sebesar 204,93 miliar yuan, tetapi masih meningkat 29% (year-on-year/yoy). Perusahaan melaporkan laba per saham 11,20 yuan, kurang dari perkiraan 12,36 yuan dan penurunan 38% (yoy).

Sementara itu dari Jepang dan Korea Selatan pada hari ini telah merilis data inflasinya pada periode Oktober 2021, di mana Jepang merilis data inflasi dari sektor konsumen yakni Indeks Harga Konsumen (IHK) atau consumer price index (CPI) dan Korea Selatan merilis Indeks Harga Produsen (IHP) atau producer price index (PPI).

Pemerintah setempat melaporkan IHK Negeri Sakura pada Oktober lalu tercatat turun menjadi 0,1% secara tahunan (year-on-year/yoy). Sedangkan secara bulanan (month-on-month/mom), IHK Jepang juga turun menjadi -0,2%, dari sebelumnya pada September lalu sebesar 0,4%.

Adapun IHK inti (CPI), yang tidak termasuk harga makanan, tetapi termasuk biaya bahan bakar, masih sama dari periode sebelumnya, yakni sebesar 0,1% (yoy).

Angka IHK inti juga sesuai dengan perkiraan pasar dalam polling Reuters yang memperkirakan di angka 0,1%.

Harga bahan bakar yang lebih tinggi terjadi jelang musim dingin ketika permintaan energi meningkat dan dikhawatirkan akan memberikan pukulan bagi konsumen Jepang karena negara tersebut melihat adanya peningkatan aktivitas ekonomi di berbagai negara setelah sempat memberlakukan keadaan darurat akibat pandemi virus corona (Covid-19).

Sedangkan di Korea Selatan, PPI Negeri Ginseng pada Oktober melonjak dan menjadi kenaikan yang tercepat dalam 13 tahun terakhir. Hal ini didorong oleh melonjaknya harga komoditas energi seperti minyak mentah dunia.

Berdasarkan data dari bank sentral Korea Selatan (Bank of Korea/BoK), PPI bulan lalu melonjak 8,9% (yoy), dari sebelumnya pada September lalu yang naik 7,6%. Hal ini menjadikan laju tercepat sejak Oktober 2008.

Sebagai rincian, kenaikan PPI Korea Selatan pada bulan lalu ditopang oleh naiknya harga produksi barang-barang industri, yakni melonjak 15,4% dan kenaikan harga komoditas batu bara dan minyak bumi sebesar 85,6%.

Sementara harga produksi listrik, gas dan air ledeng, barang-barang pertanian, peternakan dan perikanan, dan jasa juga masing-masing tumbuh 6,2%, 2,6% dan 2,4%.

Beragamnya bursa Asia pada hari ini cenderung mengikuti pergerakan bursa saham AS, Wall Street pada perdagangan Kamis (18/11/2021) kemarin.

Indeks Dow Jones mengakhiri perdagangan Kamis kemarin dengan melemah 0,17% ke 35.870,95, sementara S&P 500 dan Nasdaq masing-masing menguat 0,34% dan 0,45% ke 4.704,54 dan 15.993,71.

Tingginya inflasi di AS dan berbagai negara menjadi salah satu kecemasan para pelaku pasar. Hari sebelumnya, ketiga indeks utama Wall Street berakhir di zona merah, kemudian bursa Asia. dan Eropa menyusul kemarin.

Selain itu kasus Covid-19 yang kembali menanjak di Eropa membuat sentimen pelaku pasar sedikit memburuk.

Sementara itu dari data ekonomi, rilis klaim tunjangan pengangguran mingguan per pekan lalu tercatat di angka 268.000 atau sedikit lebih tinggi dari ekspektasi ekonom dalam polling Dow Jones yang memperkirakan angka 260.000, dari posisi pekan sebelumnya 267.000 klaim.

“Laporan ekonomi baru-baru ini masih kuat, tetapi pergerakan pasar saham hari ini menandakan bahwa ia sudah mendiskon siklus Covid-19,” tutur Jim Paulsen, Kepala Perencana Investasi Leuthold Group seperti dikutip CNBC International.

Design a site like this with WordPress.com
Get started