PT Equity World | Ekonomi AS Tumbuh, Wall Street Ditutup Naik

PT Equity World | Bursa utama Wall Street ditutup menguat pada perdagangan Rabu (22/12) waktu setempat. Nasdaq memimpin kenaikan sebesar 1,2 persen diikuti S&P 500 yang meningkat 1,02 persen dan DJIA naik 0,9 persen.

Pergerakan Wall Street pun diperkirakan masih akan dijalur positif. “Wall Street memiliki kekuatan sejak kemarin hingga hari ini, sehingga pasar umumnya positif minggu ini setelah cukup banyak tekanan minggu lalu,” kata kepala strategi ekuitas di Bank Wealth Management AS, Terry Sandven, dikutip AP, Kamis (23/12).

Bursa Asia Menghijau Kamis (23/12) Pagi, Kekhawatiran Omicron Mereda | PT Equity World

Lonjakan terbaru kasus Covid-19 yang disebabkan oleh varian omicron telah menimbulkan kekhawatiran di pasar. Kekhawatiran terhadap varian omicron ini meningkat bersamaan dengan kekhawatiran tentang kenaikan inflasi dan dampaknya terhadap pertumbuhan ekonomi.

Meski demikian, sejumlah data ekonomi AS yang membaik mampu meningkatkan kepercayaan investor. Pada Rabu, Departemen Perdagangan mengumumkan ekonomi AS tumbuh pada tingkat 2,3 persen pada kuartal ketiga, sedikit lebih baik dari yang diperkirakan sebelumnya.

Namun, analis memperingatkan pelaku pasar masih harus tetap mengantisipasi penyebaran varian baru Covid-19. Pasalnya laju pertumbuhan ekonomi berpotensi tertahan jika penyebaran meluas. Volatilitas pasar diperkirakan juga akan meningkat.

“Pasar sedikit tidak pasti dengan adanya varian omicron, tetapi pasar terlihat lebih yakin bahwa tidak akan berubah menjadi penguncian lain,” kata ahli strategi pasar global senior di Wells Fargo Investment Institute, Scott Wren.

Pemerintah di Asia dan Eropa telah memperketat kontrol perjalanan atau menunda rencana untuk melonggarkan pembatasan yang sudah ada. Di AS, Presiden Joe Biden pada Selasa mengumumkan bahwa pemerintah akan menyediakan alat tes cepat dan meningkatkan upaya vaksinasi.

Bank sentral AS, Federal Reserve, mengatakan akan mempercepat proses pemotongan pembelian obligasi yang telah membantu mempertahankan suku bunga rendah. Pengurangan stimulus ini berpotensi membuka pintu untuk kenaikan suku bunga dari bank sentral pada tahun 2022.

PT Equity World | Pergerakan Harga Emas 22 Desember 2021, Masih Tertekan Dolar AS?

PT Equity World |Harga emas menguat pada awal perdagangan hari ini, Rabu (22/12/2021), setelah tergelincir sebelumnya di tengah penguatan dolar AS.

Berdasarkan data Bloomberg, kontrak emas paling aktif untuk pengiriman Februari 2022 di Comex New York Exchange terpantau menguat 0,05 persen atau 0,9 poin ke US$1.789,60 per troy ounce pada pukul 08.24 WIB.

Wall Street Perkasa, Indeks Dow Jones Melonjak 1,6 Persen | PT Equity World

Sementara itu, harga emas di pasar spot menguat tipis 0,02 persen atau 0,28 poin ke US$1.789,55 per troy ounce.

Harga emas mampu memulihkan pelemahan yang terjadi kemarin, Selasa (21/12/2021) karena dolar AS dan imbal hasil obligasi pemerintah AS menguat.

Emas Comex pada Selasa tergelincir 5,9 poin atau 0,33 persen ke US$1.788,70 per troy ounce. Emas di pasar spot juga melemah 0,2 persen menjadi US$1.786,50 per troy ounce.
“Terdapat risiko pada perdagangan karena ekuitas AS bangkit kembali setelah kerugian kemarin dan dolar juga pulih bersama dengan imbal hasil obligasi pemerintah AS, semuanya sedikit menekan emas,” kata Phillip Streible, Kepala Strategi Pasar Blue Line Futures, seperti dilansir Antara, Rabu (22/12/2021).

Dia menambahkan bahwa investor sedang membeli segala jenis penurunan yang dapat diterima karena khawatir tentang ketidakpastian termasuk pukulan ekonomi dari Covid-19 dan level 1.800 dolar AS tetap menjadi titik pivot utama untuk emas.

Dolar AS menutup beberapa kerugiannya, sementara sentimen risiko pulih sebagian setelah aksi jual di pasar global.

“Namun, logam mulia dapat memperoleh tawaran beli baru pada tahun 2022 jika ekspektasi inflasi tetap tinggi sementara imbal hasil nominal tetap tertekan,” kata Han Tan, kepala analis pasar di Exinity.

Emas sering dianggap sebagai lindung nilai terhadap lonjakan besar harga konsumen (inflasi), tetapi kenaikan suku bunga dapat mengekang tekanan inflasi sementara juga mengurangi daya tarik emas yang tidak memberikan imbal hasil.

Kendati demikian, investor emas masih belum memiliki nyali untuk segala jenis kerugian, sebagaimana dibuktikan oleh kemunduran cepat baru-baru ini pada reli di atas 1.800 dolar AS, kata Jeffrey Halley, analis pasar senior di OANDA.

Perdagangan juga tampak kurang bergairah karena investor bersiap untuk liburan Natal akhir pekan. Banyak pasar global, termasuk untuk logam mulia, akan ditutup pada Jumat (24/12/2021) untuk memperingati perayaan Natal.

PT Equity World | Wall Street Ditutup Melemah karena Kekhawatiran Omicron

PT Equity World | Indeks utama Wall Street ditutup melemah signifikan pada perdagangan Senin (20/12/2021) setempat. Pelemahan ini terjadi karena investor khawatir tentang varian baru Covid-19, Omicron yang berpotensi melemahkan rebound ekonomi.

Dikutip dari Reuters, S&P 500 kehilangan 51,34 poin, atau 1,11 persen, menjadi berakhir pada 4.569,30 poin, sedangkan Nasdaq Composite kehilangan 186,47 poin, atau 1,23 persen, menjadi 14.983,22. Dow Jones Industrial Average turun 436,74 poin, atau 1,23 persen, menjadi 34.928,70.

‘Bulan Madu’ Harga Emas Kayaknya Mau Berakhir… | PT Equity World

Sementara S&P 500 diperdagangkan di bawah rata-rata pergerakan 50 hari, menjadi level teknis utama. Kelompok S&P 500 yang sensitif secara ekonomi seperti keuangan dan material termasuk di antara penurunan sektor terbesar.

Investor telah mengambil sikap yang lebih defensif sejauh bulan ini, dengan sektor-sektor seperti kebutuhan pokok konsumen, properti dan utilitas memimpin kenaikan. S&P 500 tetap naik sekitar 20 persen sejauh ini pada tahun 2021.

“Mengingat kekuatan pasar sepanjang tahun ini, dalam beberapa hal Anda bisa melihat investor mengambil beberapa keuntungan dan mencari kejelasan yang lebih besar di tahun baru,” ujar Kepala Strategi Investasi State Street Global Advisors, Michael Arone.

Sedangkan, saham Oracle Corp jatuh setelah pembuat perangkat lunak bisnis mengatakan akan membeli perusahaan catatan medis elektronik Cerner Corp seharga 28,3 miliar dolar AS.

Saham dijual secara luas karena kasus virus corona melonjak di New York City dan di sekitar Amerika Serikat selama akhir pekan, menghancurkan harapan untuk musim liburan yang lebih normal. Pemimpin Inggris mengatakan dia akan mengambil lebih banyak langkah untuk memperlambat penyebaran Omicron jika diperlukan, setelah Belanda memulai penguncian keempat dan ketika negara-negara Eropa lainnya mempertimbangkan pembatasan.

“Saya pikir (pasar saham) turun karena ketakutan COVID dan bagaimana ketakutan itu dapat memperpanjang masalah rantai pasokan yang berkelanjutan dan bagaimana hal itu akan berdampak pada keuntungan untuk perusahaan,” ucap Chief Executive Officer Horizon Investment Services, Chuck Carlson.

Dalam pukulan lebih lanjut terhadap sentimen pasar, Senator AS Joe Manchin mengatakan pada hari Minggu bahwa dia tidak akan mendukung tagihan investasi domestik Biden senilai 1,75 triliun dolar AS, yang merupakan pukulan yang berpotensi fatal. Goldman Sachs memangkas perkiraan PDB kuartalan AS untuk 2022 setelah komentar Manchin.

Perkembangan itu terjadi ketika Federal Reserve memutuskan pekan lalu untuk mengakhiri stimulus era pandemi lebih cepat, dengan bank sentral memberi sinyal setidaknya tiga perempat poin kenaikan suku bunga pada akhir 2022.

PT Equity World | Bursa Saham Asia Lesu, Investor Cermati Perkembangan Omicron

PT Equity World | Bursa saham Asia Pasifik melemah pada perdagangan Senin pagi (20/12/2021). China mengumumkan suku bunga acuan pinjaman dan investor cermati perkembangan varian Omicron membayangi bursa saham Asia.

Di Jepang, indeks Nikkei 225 melemah 0,66 persen, dan indeks Topix susut 0,78 persen. Indeks Korea Selatan Kospi merosot 0,63 persen. Di Australia, indeks S&P ASX tergelincir 0,35 persen. Indeks MSCI Asia Pasifik di luar Jepang susut 0,33 persen. Demikian dilansir dari CNBC, Senin pekan ini.

Bursa Asia Kompak Melemah pada Perdagangan Pagi Ini (20/12) | PT Equity World

China akan umumkan suku bunga pinjaman satu tahun pada Senin pagi. Sejumlah ekonom dan trader berharap ada pemangkasan suku bunga pinjaman. Investor juga akan mencermati perkembangan varian baru COVID-19, omicron. WHO mengingatkan kalau jumlah kasus dapat meningkat 1,5-3 hari seiring penyebaran di komunitas.

Di sisi lain, indeks dolar AS berada di posisi 96,64 dari posisi sebelumnya di bawah 96. Yen Jepang diperdagangkan di kisaran 113,52 per dolar AS.

Sebelumnya, bursa saham Amerika Serikat (AS) atau wall street alami tekanan pada perdagangan Jumat, 17 Desember 2021. Wall street bergejolak seiring kekhawatiran kebijakan pengetatan moneter oleh the Federal Reserve (the Fed) di tengah pandemi COVID-19 yang masih berlangsung.

Pada penutupan perdagangan wall street, indeks Dow Jones melemah 532,20 poin atau 1,5 persen ke posisi 35.365,44. Indeks S&P 500 tergelincir 1 persen ke posisi 4.620,64. Indeks Nasdaq susut kurang dari 0,1 persen ke posisi 15.169,68.

Indeks acuan utama melemah selama sepekan dengan indeks Nasdaq mencatat koreksi terbesar. Indeks Nasdaq turun hampir tiga persen, sedangkan indeks Dow Jones dan S&P 500 tergelincir 1,7 persen dan 1,9 persen.

Pada Jumat, 17 Desember 2021 bertepatan dengan berakhirnya opsi saham, opsi indeks, saham berjangka dan indeks berjangka. Ini peristiwa triwulanan yang dikenal sebagai “quadruple witching” yang biasa disertai dengan peningkatan volatilitas.

Sektor keuangan S&P 500 menjadi penghambat terbesar pada Jumat pekan ini dengan kerugian 2,3 persen setelah saham bank mengungguli pada sesi sebelumnya. Goldman Sachs melemah hampir 4 persen. Sementara itu, saham Bank of America dan JP Morgan turun lebih dari 2 persen.

Equity World | Emas Dunia Curi Panggung Kemenangan dari Dolar AS

Equity World | Harga emas dunia menguat tajam pada akhir perdagangan Kamis waktu setempat (Jumat pagi WIB). Logam mulia bangkit dari kerugian dua sesi sebelumnya didorong melemahnya dolar, setelah Federal Reserve AS memutuskan untuk mempercepat penarikan stimulus era pandemi dalam langkah yang diperkirakan secara luas.

Mengutip Antara, Jumat, 17 Desember 2021, kontrak emas paling aktif untuk pengiriman Februari di Divisi Comex New York Exchange, melonjak USD33,7 atau 1,91 persen menjadi USD1.798,20 per ons. Emas di pasar spot juga menguat sekitar satu persen menjadi USD1.795,41 per ons.

Wall Street Nyungsep, Imbas Investor Lepas Saham Teknologi | Equity World

Indeks dolar yang mengukur greenback terhadap enam mata uang utama saingannya memperpanjang penurunan ke level terendah satu minggu, membuat emas yang dihargakan dalam dolar AS lebih murah bagi pemegang mata uang lainnya.

Pengumuman Federal Reserve tentang kebijakan moneter mengindikasikan bahwa Fed akan memangkas program pembelian asetnya sebesar USD30 miliar per bulan untuk mengakhiri pembelian obligasi pada Maret 2022, dan menaikkan suku bunga tiga kali pada 2022.

Pernyataan hawkish Federal Reserve itu sudah dalam ekspektasi pasar, memberikan pengaruh terbatas pada emas. “Pasar emas telah mencerna dampak dari percepatan tapering Fed,” kata Analis Standard Chartered Suki Cooper.

Kasus varian Omicron yang meningkat dengan cepat, juga berperan mendorong investor ke safe haven emas. “Pasar telah fokus pada pengurangan risiko dan data inflasi, tetapi kekhawatiran atas Omicron dan transmisibilitasnya yang berdampak pada mobilitas global dapat mulai mengumpulkan fokus yang lebih besar,” katanya.

Mendukung kasus suku bunga yang lebih tinggi, data menunjukkan klaim pengangguran mingguan AS tetap pada level yang konsisten dengan kondisi pasar tenaga kerja yang ketat.
Kemungkinan suku bunga AS lebih tinggi
Analis mengatakan emas naik meskipun ada kemungkinan suku bunga AS lebih tinggi, yang meningkatkan peluang kerugian memegang emas, karena prospek kenaikan suku bunga telah diperkirakan sebelum pengumuman Fed.

Bank-bank sentral utama lainnya juga berubah lebih hawkish minggu ini, dengan bank sentral Inggris (BoE) menjadi ekonomi G7 pertama yang menaikkan suku bunga setelah pandemi.

“Terlepas dari dolar yang lebih lemah, Ada beberapa elemen pendukung untuk emas, termasuk masalah geopolitik dan permintaan fisik yang terpendam,” kata analis StoneX, Rhona O’Connell.

Sementara itu, logam mulia lainnya, perak untuk pengiriman Maret naik 94 sen atau 4,36 persen menjadi USD22,485 per ons. Sedangkan platinum untuk pengiriman Januari naik USD34,7 atau 3,88 persen, menjadi USD928,9 per ons.

Equity World | Mayoritas bursa Asia menguat pada Kamis (16/12), mengikuti kenaikan Wall Street

Equity World | Mayoritas bursa Asia menguat pada perdagangan Kamis (16/12) pagi. Pukul 08.20 WIB, indeks Nikkei 225 naik 524,70 poin atau 1,84% ke 28.986,22, Taiex naik 122,02 poin atau 0,70% ke 17.783,15.

Kospi naik 13,12 poin atau 0,44% ke 3.002,51, ASX 200 turun 27,88 poin atau 0,38% ke 7.299,60, Straits Times naik 5,73 poin atau 0,19% ke 3.120,56 dan FTSE Malaysia naik 2,57 poin atau 0,17% ke 1.485,38.

Harga Emas Meredup, Tertekan Dolar jelang Putusan the Fed | Equity World

Bursa Asia naik, menyusul reli saham di AS yang didorong oleh spekulasi bahwa pengetatan kebijakan Federal Reserve akan membantu memerangi inflasi tanpa menggagalkan pertumbuhan ekonomi.

Saham Jepang memimpin kenaikan bursa reguonal, indeks Korea Selatan naik dan bursa Australia tergelincir.

Mengutip Bloomberg, bank sentral AS akan menggandakan kecepatan untuk mengurangi pembelian obligasi menjadi US$ 30 miliar per bulan dan memproyeksikan tiga kenaikan suku bunga seperempat poin pada tahun 2022. Tiga lainnya pada tahun 2023 dan dua lagi pada 2024.

Respons pasar terhadap The Fed sejauh ini menunjukkan beberapa investor lega dari kejelasan kebijakan yang lebih banyak setelah periode ketidakpastian.

“Reaksi pasar awal tidak selalu bertahan, tetapi kami menduga baik The Fed maupun investor puas bahwa The Fed menyadari dan merespons risiko inflasi, sambil mengambil pendekatan yang terukur dan bergantung pada data dalam meresponsnya,” kata Steve Englander, kepala penelitian global G10 FX di Standard Chartered Bank dalam sebuah catatan seperti dikutip Bloomberg.

Equity World | Wall Street Jatuh Jelang Keputusan Fed

Equity World | Tiga indeks utama saham di bursa Wall Street jatuh pada akhir perdagangan Selasa (Rabu pagi WIB). Saham teknologi memimpin penurunan menjelang keputusan Bank Sentral AS (Fed) yang berencana mempercepat akhir dari program pembelian obligasi (tapering off) untuk mendinginkan ekonomi akibat inflasi panas.

Nasdaq Composite memimpin penurunan, jatuh 1,14% menjadi 15.237,64. S&P 500 turun 0,75% menjadi ditutup pada 4.634,09. Dow Jones Industrial Average lebih baik daripada rekan-rekannya, turun 106,77 poin, atau 0,30%, menjadi 35.544,18.

Bursa Asia mixed pada perdagangan Rabu (15/12), investor menanti keputusan The Fed | Equity World

Saham teknologi merupakan sumber utama pelemahan pada hari Selasa. Microsoft adalah hambatan utama pada rata-rata pasar, jatuh 3,2%. Saham perangkat lunak sesama Adobe turun 6,6%.

Di tempat lain, pembuat mobil Ford turun hampir 1,9% menyusul berita bahwa pada tahun 2030 Toyota akan menginvestasikan $35 miliar ke kendaraan elektronik bertenaga baterai, sebuah ruang di mana Ford telah berusaha untuk memantapkan dirinya sebagai pemimpin. Saham Tesla turun 0,8% setelah pengajuan dengan Securities and Exchange Commission mengungkapkan bahwa CEO Elon Musk menjual $906,5 juta saham lagi.

Saham Netflix, Apple dan Amazon semuanya mengakhiri sesi di wilayah negatif juga.

“Nama-nama besar sekarang mulai jatuh di pinggir jalan, persis seperti yang terjadi pada 2018, terakhir kali kami memiliki semacam gagasan koreksi bergulir itu,” kata kepala investasi Morgan Stanley, Mike Wilson pada “Halftime Report” CNBC.

Wall Street ambles menyusul data inflasi November untuk indeks harga produsen yang menunjukkan peningkatan tahun-ke-tahun sebesar 9,6%. Indeks naik 0,8% bulan ke bulan, di atas perkiraan ekonom 0,5%.

Pertemuan Fed

Pembacaan inflasi yang lebih panas dari perkiraan datang karena Federal Reserve juga memulai pertemuan dua hari pada hari Selasa. Bank sentral akan merilis pernyataan pada hari Rabu waktu AS dengan proyeksi triwulanan untuk ekonomi, inflasi dan suku bunga. Ketua Jerome Powell juga akan mengadakan konferensi pers.

Investor akan mengamati dengan cermat karena Fed berencana untuk mempercepat akhir dari program pembelian obligasi. Saat ini, program pembelian aset bank sentral akan berakhir pada Juni 2022, tetapi beberapa pejabat telah berbicara untuk mengakhiri pembelian lebih cepat.

Survei Fed CNBC terbaru menunjukkan bahwa para profesional investasi dan ekonom memperkirakan The Fed akan mengurangi pembelian asetnya pada bulan Maret dan memulai kenaikan suku bunga pada bulan Juni.

Di sisi positif untuk pasar, saham bank-bank besar naik seiring dengan suku bunga, dengan Goldman Sachs dan Bank of America masing-masing menambahkan lebih dari 1%. Bank daerah juga mengungguli.

Di bidang Covid, Pfizer mengumumkan bahwa obatnya terbukti efektif dalam analisis akhir, termasuk terhadap varian omicron baru. Namun, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) memperingatkan pada hari Selasa bahwa varian baru tampaknya menyebar lebih cepat daripada versi virus sebelumnya.

Pergerakan saham Selasa menandai hari kedua berturut-turut untuk Wall Street. Namun, Dow dan S&P 500 masih berada dalam jarak 3% dari rekor tertinggi intraday, Nasdaq sekitar 6%.

Equity World | Harga Emas Dunia Terkerek Penguatan USD

Equity World | Harga emas dunia sedikit menguat pada akhir perdagangan Senin (Selasa pagi). Investor menyesuaikan posisi menjelang pertemuan bank-bank sentral utama minggu ini, serta Federal Reserve kemungkinan akan memberi sinyal untuk mengurangi langkah-langkah dukungan ekonomi era pandemi.

Dikutip dari Antara, Selasa, 14 Desember 2021, kontrak emas paling aktif untuk pengiriman Februari di divisi Comex New York Exchange, terkerek USD3,5 atau 0,2 persen menjadi USD1.788 per ons. Emas spot juga menguat 0,2 persen menjadi USD1.786 per ons.

Wall Street Ambruk Jelang Pertemuan The Fed | Equity World

“Ini hari yang cukup tenang untuk emas karena pasar menunggu pertemuan FOMC untuk melihat apa yang bank sentral katakan tentang inflasi dan suku bunga,” kata ahli strategi pasar senior di RJO Futures, Bob Haberkorn.

Hal yang mencegah emas lolos dari kisaran USD1.760 hingga USD1.795 baru-baru ini, adalah menguatnya dolar, membuat harga emas lebih mahal bagi pembeli dengan mata uang lainnya.

“Dalam jangka pendek hingga menengah, emas tidak akan ke mana-mana sampai kita mendapatkan gambaran tentang seberapa besar Fed mempercepat tapering dan apakah mereka sangat hawkish dalam pernyataan mereka,” kata Kepala Analis Pasar di CMC Markets Inggris, Michael Hewson.

Meskipun emas dianggap sebagai lindung nilai inflasi, kenaikan suku bunga meningkatkan peluang kerugian memegang emas yang tidak memberikan imbal hasil.

Selain The Fed, Bank Sentral Eropa, Bank Sentral Inggris, dan Bank Sentral Jepang juga dijadwalkan bertemu pekan ini.

Emas diprediksi melemah pada paruh pertama 2022 saat siklus kenaikan suku bunga dimulai. Commerzbank memperkirakan emas di USD1.900 pada akhir 2022, sekitar USD200 lebih rendah dari perkiraan sebelumnya.

Sementara itu, penyebaran varian Omicron covid-19 semakin mendukung emas. Menteri Kesehatan Inggris menyatakan jumlah kasus baru Omicron di negara itu berlipat ganda setiap dua hingga tiga hari.

Logam mulia lainnya, perak untuk pengiriman Maret naik 13,3 sen atau 0,6 persen menjadi USD22,328 per ons. Platinum untuk pengiriman Januari turun USD9,6 atau 1,03 persen menjadi USD924,6 per ons.

Equity World | Wall St. Rekor Saat Inflasi “Super Hot”, Kabar Baik Bagi IHSG

Equity World | Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) sukses menguat 1,75% sepanjang pekan lalu ke 6.652,922, setelah sebelumnya melemah dalam dua minggu beruntun.

Di awal pekan ini, Senin (13/12) IHSG berpeluang kembali menguat melihat bursa saham Amerika Serikat (AS) yang menguat pada perdagangan Jumat pekan lalu. Indeks S&P 500 bahkan mencatat rekor penutupan tertinggi sepanjang masa.

Selisih harga emas Antam dan harga buyback Rp 106.000, Sabtu 11 Desember 2021 | Equity World

Wall Street masih mampu menguat meski inflasi di Amerika Serikat terus menanjak. Departemen Tenaga Kerja AS melaporkan inflasi berdasarkan consumer price index (CPI) di bulan November tumbuh 6,8% year-on-year (yoy) menjadi yang tertinggi sejak 1982.

Tetapi, banyak pelaku pasar yang melihat inflasi di AS bisa lebih tinggi lagi. Triliuner Jeffrey Gundlach, yang dijuluki sang “raja obligasi” misalnya, memprdiksi inflasi di AS segera mencapai 7%.

“Inflasi di bulan November sebenarnya menjadi kabar bagus, sebab banyak analis melihat bisa lebih tinggi lagi,” kata Ryan Detrick, kepala strategi pasar di LPL Financial, sebagaimana dilansir CNBC International, Jumat (10/12).

Secara teknikal, IHSG Jumat lalu sukses menembus resisten di 6.630, target selanjutnya kini di 6.670. IHSG berpeluang ke level psikologis 6.700 jika level tersebut juga dilewati.
Meski kemarin menguat, IHSG masih berfluktuasi dan tekanan masih ada dari duet pola Doji dan Shooting star. IHSG pun jeblok sejak Jumat (26/11).

Pola Doji di bentuk pada awal Senin (22/11) yang memberikan sinyal netral. Artinya, pelaku pasar masih ragu-ragu menentukan arah, apakah lanjut naik atau balik turun.

Kemudian pada Kamis (25/11), IHSG yang gagal mempertahankan penguatan tajam membentuk pola Shooting Star. Pola ini merupakan sinyal reversal atau berbalik arahnya harga suatu aset.

Penurunan IHSG selalu tertahan rerata pergerakan 50 hari (moving average 50/MA 50), sebelum akhirnya rebound.

MA 50 kini berada di kisaran 6.580 yang menjadi support kuat jika IHSG kembali terkoreksi dan menembus ke bawah 6.630 dan level psikologis 6.600.

Risiko terjadinya koreksi terlihat dari grafik 1 jam dimana indikator Stochastic berada di wilayah jenuh jual (oversold).

Stochastic merupakan leading indicator, atau indikator yang mengawali pergerakan harga. Ketika Stochastic mencapai wilayah overbought (di atas 80) atau oversold (di bawah 20), maka harga suatu instrumen berpeluang berbalik arah.

PT Equityworld | Jumat Pagi, Mayoritas Saham Asia Pasifik Dibuka Koreksi

PT Equityworld | Saham di kawasan Asia-Pasifik pada Jumat pagi (10/12/2021) mayoritas dibuka terkoreksi. Investor berhati-hati memantau perkembangan virus varian omicron dan juga menantikan data inflasi utama di AS.

Nikkei 225 Japan memperpanjang kerugian dari sesi sebelumnya dan turun 0,16% di awal perdagangan. Indeks Topix diperdagangkan sedikit lebih tinggi.

Wall Street Ambruk Jelang Rilis Data Inflasi AS | PT Equityworld

Di Korea Selatan, Kospi turun 0,67% sedangkan Kosdaq turun 0,55%.

Saham Australia juga diperdagangkan lebih rendah. ASX 200 turun 0,3%, dengan subindex energi turun 1,13% menyusul penurunan harga minyak semalam.

Nama-nama energi di Australia mengalami tekanan jual: saham Santos turun 1,36%, Oil Search turun 1,45% dan Woodside Petroleum turun 0,63%.

Sesi Jumat pagi di Asia mengikuti penurunan semalam di Wall Street. “Pasar lebih berhati-hati menghadapi risiko berkaitan dengan kekhawatiran menjelang laporan IHK AS malam ini,” Ray Attrill, kepala strategi valuta asing di National Australia Bank, mengatakan dalam catatan pagi.

Di Amerika Serikat, Departemen Tenaga Kerja akan merilis indeks harga konsumen November Jumat pagi waktu setempat, yang mengukur biaya puluhan item. Perkiraan menunjukkan pembacaan itu bisa menandai level tertinggi dari tahun ke tahun sejak 1982.

Perkiraan lonjakan inflasi bukanlah berita baru bagi pasar, investor akan melihat seberapa panas levelnya dan reaksi seperti apa dari Federal Reserve AS.

Di pasar mata uang, dolar AS terakhir diperdagangkan pada 96,271 melawan sekeranjang rekan-rekannya. Yen Jepang berpindah tangan di 113,44 sementara dolar Australia relatif datar di $0,7145.

Harga minyak menetap lebih rendah semalam, dengan Brent turun 1,9% pada $74,42 per barel dan minyak mentah AS turun 2% pada $70,94.

Design a site like this with WordPress.com
Get started