Equity World | Reli Harga Emas Lanjut, Kini Catat Kenaikan Tertinggi 3 Minggu

Equity World | Reli Harga Emas Lanjut, Kini Catat Kenaikan Tertinggi 3 Minggu

Equity World | Harga emas naik lebih dari 1 persen ke puncak tiga minggu pada hari Selasa. Ini karena dolar dan imbal hasil Treasury AS turun, dengan investor berharap Federal Reserve AS dapat mengadopsi pendekatan yang kurang agresif untuk kenaikan suku bunga.

Equity World | Bursa Asia Menghijau, Mengikuti Jejak Wall Street Reli untuk Hari ke-2

Dikutip dari CNBC, Rabu (5/10/2022), harga emas di pasar spot naik 1,57 persen menjadi USD 1.725,87 per ounce, tertinggi sejak 13 September.

Sementara untuk harga emas berjangka AS naik 1, persen menjadi USD 1.734,80.

Patokan imbal hasil Treasury AS 10-tahun mereda. Sementara dolar AS memperpanjang penurunannya, membuat emas lebih murah bagi pemegang mata uang lainnya.

“Pasar adalah semacam penetapan harga di mana Fed akan mundur sedikit di sini dan itulah mengapa Anda melihat pergerakan ini kembali naik dalam emas dan perak,” kata Bob Haberkorn, ahli strategi pasar senior di RJO Futures.

Ke depan, data non-farm payrolls AS yang akan dirilis pada hari Jumat dapat menawarkan lebih banyak kejelasan tentang pengetatan kebijakan Fed.

“Jika data pekerjaan keluar lebih lemah dari perkiraan, emas akan reli. Jika keluar lebih kuat, pasar mungkin menafsirkan itu juga, The Fed dapat terus melanjutkan di sini dengan suku bunga, ”tambah Haberkorn.

Harga emas mencatatkan persentase kenaikan harian terbesar sejak Maret pada hari Senin. Namun, kenaikan suku bunga AS meningkatkan biaya peluang memegang emas batangan dengan hasil nol.

“Emas belum keluar dari masalah, tapi setidaknya kita telah melihat rebound yang sangat kuat. Langkah pertama didorong oleh short covering,” kata Ole Hansen, kepala strategi komoditas di Saxo Bank.

Bank pemasok emas telah mengurangi pengiriman ke India menjelang festival besar demi fokus pada China, Turki, dan pasar lain di mana premi yang lebih baik ditawarkan, tiga pejabat bank dan dua operator brankas mengatakan kepada Reuters.

Harga emas dalam dua minggu ke depan akan sangat penting. Semua mata tertuju pada putaran terbaru data ketenagakerjaan dan inflasi, karena emas menunjukkan tanda-tanda yang menjanjikan di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik dan mengintensifkan volatilitas pasar.

Ahli strategi pasar senior RJO Futures Frank Cholly, mengatakan harga emas dunia mengalami perkembangan penting pertengahan minggu ini karena harga naik dari posisi terendah 2,5 tahun dan menuju level USD 1.700 per ons.

Pekan lalu, berjangka Comex Desember diperdagangkan pada USD 1,673.70, naik lebih dari 1 persen tetapi turun untuk bulan keenam berturut-turut.

“Pada hari Rabu pekan lalu, emas mengalami pembalikan utama. Kami membuat ayunan baru dari posisi terendah dan berakhir dengan penutupan yang lebih tinggi. Kami memiliki beberapa tindak lanjut Kamis dan Jumat. Melihat grafik emas, ini sangat positif. Kami beralih dari tren jangka pendek turun ke samping dan naik sekarang,” kata Cholly.

Menurutnya, jika pasar emas dapat kembali di atas USD 1.700, tren naik akan tercapai, dan kemungkinan mencapai USD 1.740 per once. Sebelum minggu ini, emas sangat negatif, terutama setelah penurunan di bawah USD 1.680.

Sementara, menurut ahli strategi DailyFX Michael Boutros, menyebut penurunan yang lebih tajam di bawah USD 1.600 bisa membuka pintu untuk aksi jual yang lebih signifikan ke USD 1.290 per once.

“Secara teknis sangat suram di sini. Jika harga emas bisa naik di atas USD 1.706, kita bisa menghilangkan penembusan turun ini. Tapi langkah yang lebih tinggi perlu terjadi dalam dua minggu ke depan. Jika tidak, tren turun akan mengambil alih. Apa yang terjadi dalam dua minggu ke depan dalam harga adalah yang terpenting. Kecepatan dan besarnya kenaikan suku bunga Fed yang luar biasa memberi tekanan berat pada emas,” kata Boutros.

Ketegangan geopolitik bisa menjadi salah satu pendorong jangka pendek yang membuat emas di atas USD 1.700.

Perkembangan terakhir melihat Rusia mencaplok empat wilayah di tenggara Ukraina, berjanji untuk menggunakan segala cara yang diperlukan untuk mempertahankan wilayah tersebut.

“Jika eskalasi di Rusia mulai meningkatkan kekhawatiran tentang kemungkinan ancaman nuklir nyata, itu akan positif untuk emas. Namun, penting untuk diingat bahwa setiap kenaikan geopolitik dalam emas kemungkinan hanya sementara,” kata kepala strategi komoditas global TD Securities Bart Melek.

Melek mengatakan, setiap kali ada peningkatan risiko geopolitik, setidaknya ada kenaikan sementara. Tetapi mengingat situasi kebijakan moneter, akan sulit untuk mengubah tren bearish emas secara keseluruhan.

Pada akhirnya, dolar AS terus menguat. Prospeknya tidak berubah. The Fed akan terus menaikkan suku bunga.

Equity World | Harga Emas Naik karena Penurunan Dolar, Perak Melompat 7%

Equity World | Harga Emas Naik karena Penurunan Dolar, Perak Melompat 7%

Equity World | Harga emas melonjak 2% pada perdagangan Senin (3/10/2022) didorong pelemahan dolar AS dan imbal hasil obligasi. Hal ini menarik minat investor pada emas dan perak yang berpotensi menjadi hari terbaik sejak akhir 2008.

Equity World | Breaking News: Harga Emas Meroket 2% Lebih!

Harga emas di pasar spot naik 2,41% menjadi US$ 1.699,6744 per ons, kenaikan harian terbesar sejak 8 Maret. Sementara harga emas berjangka AS menguat 2,21% menjadi US$ 1.708,90.

Sementara harga perak melonjak 8,89% menjadi US$ 20,69 per onbs, tertinggi sejak pertengahan Agustus 2022.

“Sepanjang September, semuanya dilanda risiko dan over-sold (jenuh jual),” kata Kepala Pedagang di US Global Investors, Michael Matousek.

Sementara pelemahan dolar membantu permintaan emas batangan yang dihargakan dengan greenback bagi pembeli luar negeri.

Adapun imbal hasil Treasury AS 10 tahun turun ke level terendah lebih 1 minggu, mendukung permintaan emas dengan imbal hasil nol.

Pelemahan dolar AS memberi emas sedikit kelonggaran. Emas batangan melakukan pemulihan sejak meluncur ke level terendah April 2020 pekan lalu.

“Harga emas telah menemukan dukungan karena baru-baru ini menurun secara keseluruhan,” kata Matousek.

Dia menambahkan beberapa pelaku pasar menilai Federal Reserve AS (the Fed) mungkin mengurangi kenaikan suku bunga, sehingga akan mendukung emas.
BACA JUGA

Wah Harga Emas Rebound dari Level Terendah 2,5 Tahun

Mendukung permintaan safe-haven logam, aktivitas manufaktur AS September tumbuh pada laju paling lambat dalam 2,5 tahun.

“Anda harus melihat penutupan di atas US$ 1.700 untuk membuat bulls (emas) bangkit kembali,” kata analis Kitco Metals, Jim Wyckoff.

Sementara palladium melonjak 2,78% menjadi US$ 2218.0171 dan platinum naik 4,93% menjadi US$ 901,3346 per ons.

Equity World | Harga Emas Bangkit, Naik ke Posisi Tertinggi Satu Minggu

Equity World | Harga Emas Bangkit, Naik ke Posisi Tertinggi Satu Minggu

Equity World | Harga emas naik ke posisi tertinggi satu minggu pada perdagangan akhir pekan lalu karena dolar AS mundur dari level tertinggi.

Equity World | Sambut Oktober, Data Inflasi Jadi ‘Kunci’ Laju IHSG

Tetapi emas menuju kuartal terburuk sejak Maret tahun lalu, karena kekhawatiran kenaikan suku bunga besar yang dilakukan Federal Reserve AS.

Mengutip CNBC, Senin (3/10/2022), harga emas di pasar spot naik 0,06 persen menjadi USD1,661,79 per ounce dan telah naik 1,4 persen sejauh minggu ini.

Sementara emas berjangka AS naik 0,05 persen menjadi USD1,669,10.

“Pasar emas berada di area di mana kita dapat melihat beberapa pergerakan lebih tinggi tetapi itu semua tergantung pada apa yang dilakukan dolar dan nilai tukar hingga akhir pekan,” kata Daniel Pavilonis, ahli strategi pasar senior di RJO Futures.

Emas turun 7,7 persen secara kuartalan sejauh ini. Ini juga akan menjadi penurunan bulanan keenam berturut-turut, penurunan bulanan terpanjang dalam empat tahun.

Emas menunjukkan reaksi diam setelah Presiden Rusia Vladimir Putin menandatangani perjanjian untuk mencaplok empat wilayah Ukraina yang sebagian diduduki oleh pasukannya.

“Kami benar-benar menghadapi lingkungan inflasi tinggi, yang pada akhirnya menjadi alasan mengapa The Fed harus begitu agresif. Kekuatan makro ini benar-benar melemahkan selera investasi dari emas sehingga investor tidak melihat logam sebagai lindung nilai safe haven yang tepat,” kata Daniel Ghali, ahli strategi komoditas di TD Securities.

Kenaikan suku bunga meredupkan daya tarik bullion karena meningkatkan biaya peluang memegang aset yang tidak memberikan imbal hasil.

Sementara harga perak naik 0,92 persen menjadi USD18,98 per ounce, dan platinum turun 0,71 persen menjadi USD858,75.

Sedangkan palladium anjlok 1,51 persen menjadi USD2.167,59 per ounce.

Equity World | Harga Emas Menguat 4 Hari Beruntun, Tapi……

Equity World | Harga Emas Menguat 4 Hari Beruntun, Tapi……

Equity World | Harga emas terus merangkak naik meski pelan-pelan. Pada perdagangan Jumat (30/9/2022) pukul 06:18 WIB, harga emas dunia di pasar spot berada di US$ 1.662,19 per troy ons. Harga emas menguat 0,11%.

Equity World | Wall Street Berguguran Lagi, Semoga IHSG Kuat Hadapi Tekanan

Penguatan hari ini memperpanjang tren positif yang sudah berlangsung dalam empat hari. Pada perdagangan kemarin, harga emas juga menguat tipis 0,05% ke posisi US$ 1.660,29 per troy ons.

Dalam sepekan, harga emas sudah menguat 1,16% secara point to point. Dalam sebulan, harga emas masih menyusut 3,6% sementara dalam setahun melorot 5,4%.

Emas menguat pelan-pelan sejak Selasa pekan ini setelah ambruk ke level terendahnya dalam 29 bulan. Emas bergerak dari harga US$ 1.621,57 per troy ons pada Senin untuk kemudian naik terus sejak Selasa dan mampu menembus level US$ 1.659 per troy ons pada Rabu.

Menjelang akhir pekan emas terus menguat dan kembali mendekati level US$ 1.700 per troy ons.

Analis OANDA Edward Moya menjelaskan kenaikan harga emas ditopang oleh melemahnya dolar Amerika Serikat (AS) dan menurunnya yield surat utang pemerintah AS.

Kondisi ini membuat emas semakin menarik karena emas lebih terjangkau untuk dibeli dan lebih menguntungkan.

Indeks dolar pada pagi hari ini melandai ke 112,25 yang merupakan posisi terendahnya sejak Kamis pekan lalu atau dalam enam hari perdagangan. Sementara itu, yield surat utang pemerintah AS tenor 10 tahun ditutup pada posisi 3,71% pada perdagangan kemarin atau terendah dalam tiga hari terakhir.

Dolar AS melemah terutama terhadap poundsterling setelah bank sentral Inggris memutuskan untuk melakukan operasi moneter dengan membeli surat utang pemerintah Inggris.

“Dolar yang sedikit melemah jelas memberi nafas baru bagi pergerakan emas,” tutur Moya, dikutip dari Reuters.

Namun, analis TD Securities mengingatkan emas masih rawan pelemahan karena kebijakan hawkish bank sentral Amerika Serikat (AS) The Federal Reserve (The Fed).

“Pelaku pasar masih berekspektasi jika The Fed akan menaikkan suku bunga dalam waktu lama. Emas masih bisa melandai dalam periode kenaikan tersebut,” tutur TD Securities.

Equity World | Wow! Putin Bikin Harga Emas Meroket Nyaris 2%

Equity World | Wow! Putin Bikin Harga Emas Meroket Nyaris 2%

Equity World | Emas mulai bangkit setelah hancur lebur. Emas akhirnya menemukan katalis baru untuk mengangkat pamornya yakni aneksasi Rusia ke empat wilayah Ukraina.

Equity World | Wall Street Akhirnya Rebound, Mampukah IHSG Ikut Bangkit?

Seperti diketahui, kelompok pro Rusia di Ukraina Timur mengumumkan kemenangan di referendum yang digelar hampir sepekan kemarin. Mereka mengklaim mayoritas mendukung bergabungnya wilayah tersebut dengan Kremlin yang dipimpin Presiden Vladimir Putin.

Perlu diketahui ada empat wilayah yang mengadakan referendum. Yakni Zaporizhzhia selatan, Kherson selatan, Lugansk Timur dan Donetsk.

Badan jajak pendapat lokal di wilayah Zaporizhzhia selatan mengatakan 93,11% pemilih memilih aneksasi Rusia. Di Kherson selatan, 87,05% pemilih juga disebut memilih aneksasi.

Di wilayah Lugansk timur angkanya mencapai 98,42%. Sedangkan di Donetsk badan pemungutan suara mengatakan 99,23%.

Hasil referendum tersebut diperkirakan akan meningkatkan ketegangan Rusia-Ukraina. Emas pun kemudian kembali dipertimbangkan sebagai investasi untuk menghadapi situasi dunia yang bisa kembali tidak menentu.

Kembali manjurnya sentimen perang untuk mendongrak emas menjadi kabar gembira buat pemegang emas. Emas naik tajam pada penutupan perdagangan Rabu meskipun hanya sebentar dan kembali melandai pada hari ini.

Merujuk pada data Refinitiv, pada perdagangan Rabu (28/9/2022) emas ditutup menguat 1,88% ke posisi US$ 1.659,44 per troy ons. Penguatan ini adalah yang tertinggi sejak 8 Maret lalu di mana harga emas naik 2,7% sehari.

Penguatan emas kemarin membawa emas menjauh ke level US$ 1.500 per troy ons. Emas kini berada di kisaran US$ 1.650 per troy ons setelah sempat terpuruk di kisaran US$ 1.620 per troy ons.

Namun, harga emas kembali melandai pada pagi hari ini. Pada pukul 06:33 WIB, harga emas dunia di pasar spot berada di US$ 1.657,37 per troy ons. Harga emas melandai tipis 0,13%.

Dalam sepekan, harga emas melemah 0,79% secara point to point. Dalam sebulan, harga emas menyusut 4,6% sementara dalam setahun anjlok 3,9%.

Sepanjang tahun ini, isu perang Rusia-Ukraina sulit sekali mengangkat pamor emas. Pengecualian terjadi pada Maret 2022 di mana perang Rusia-Ukraina baru mulai serta pertengahan April saat perundingan Rusia-Ukraina menemui jalan buntu.

Dibandingkan perang, kebijakan hawkish bank sentral Amerika Serikat (AS) The Federal Reserve/The Fed lebih banyak menggerakkan emas. Emas anjlok setiap kali The Fed menaikkan suku bunga acuan.

“Faktor Rusia dan diskusi mengenai aneksasi…Mungkin itu yang membuat pelaku pasar emas kembali menaikkan taruhannya ke emas,” tutur analis dari High Ridge Futures, seperti dikutip Reuters.

Namun, analis dari TD Securities mengingatkan penguatan emas lebih didorong oleh rencana bank sentral Inggris (Bank of England/BoE) untuk membeli surat utang pemerintah.

“Kebijakan tersebut akan membuat yield melandai,” ujar TD Securities.

Melandainya yield surat utang pemerintah Inggris akan membuat emas lebih menarik. Emas tidak menawarkan imbal hasil sehingga kenaikan yield surat utang negara maju akan membuat investor meninggalkan emas dan memilih berinvestasi di surat utang.

Namun, Goldman Sachs mengingatkan pelemahan emas masih bisa berlanjut terutama karena masih hawkishnya kebijakan The Fed.

Equity World | Wall Street Merosot, Indeks S&P 500 Ditutup Dekat Level Terendah dalam 2 Tahun

Equity World | Wall Street Merosot, Indeks S&P 500 Ditutup Dekat Level Terendah dalam 2 Tahun

Equity World | Wall Street merosot lebih dalam ke pasar bearish, dengan indeks S&P 500 mencatat penutupan terendah dalam hampir dua tahun. Sentimen utama datang karena Federal Reserve menunjukkan keinginan untuk kenaikan suku bunga lebih lanjut, dengan risiko melempar ekonomi ke dalam keterpurukan.

Equity World | Harga Emas Spot Rebound dari Level Terendah 2,5 Tahun

Selasa (27/9), indeks Dow Jones Industrial Average ditutup turun 0,43% ke 29.134,99, indeks S&P 500 melemah 0,21% menjadi 3.647,29 dan indeks Nasdaq Composite menguat 0,25% ke 10.829,50.

Tujuh dari 11 sektor pada indeks S&P 500 turun, dengan sektor utilitas dan kebutuhan konsumen, masing-masing turun sekitar 1,7% dan memimpin pelemahan.

Sementara, sektor energi menguat 1,2% setelah Swedia meluncurkan penyelidikan kemungkinan sabotase setelah kebocoran besar di dua pipa Rusia yang memuntahkan gas ke Laut Baltik.

Dengan hasil kali ini, indeks utama S&P 500 sudah turun sekitar 24% dari rekor penutupan tertinggi pada 3 Januari.

Pekan lalu, The Fed mengisyaratkan bahwa suku bunga tinggi dapat bertahan hingga 2023, dan indeks S&P 500 menghapus kenaikan terakhirnya dari reli musim panas dan mencatat penutupan terendah sejak November 2020.

S&P 500 pun sudah turun selama enam sesi berturut-turut, penurunan beruntun terpanjang sejak Februari 2020.

Katalis utama datang setelah Presiden The Fed St. Louis James Bullard membuat alasan untuk kenaikan suku bunga lebih lanjut, sementara Presiden The Fed Chicago Charles Evans mengatakan bank sentral perlu menaikkan suku setidaknya satu poin persentase tahun ini.

“Ini mengecewakan, tapi tidak mengejutkan,” kata Robert Pavlik, Senior Portfolio Manager Dakota Wealth di Fairfield, Connecticut.

“Orang-orang khawatir tentang Federal Reserve, arah suku bunga, kesehatan ekonomi,” tambah Pavlik.

Analis di Wells Fargo sekarang melihat bank sentral Amerika Serikat (AS) itu mengambil kisaran target untuk suku bunga dana The Fed menjadi antara 4,75% dan 5,00% pada kuartal I-2023.

Pada perdagangan ini, saham Tesla naik 2,5% dan Nvidia menguat 1,5%, dengan kedua perusahaan membantu menjaga indeks Nasdaq berakhir positif.

Trader menukarkan saham Tesla senilai lebih dari US$ 17 miliar, lebih banyak dari saham lainnya.

Pada perdagangan hari Selasa, imbal hasil US Treasury tenor acuan 10-tahun menyentuh level tertinggi dalam lebih dari 12 tahun, di tengah komentar hawkish dari pejabat The Fed.

Kekhawatiran tentang keuntungan perusahaan yang terkena dampak dari melonjaknya harga dan ekonomi yang lebih lemah juga mengguncang Wall Street dalam dua minggu terakhir.

Analis telah memangkas ekspektasi pendapatan perusahaan pada S&P 500 untuk kuartal ketiga dan keempat, serta untuk setahun penuh.

Untuk kuartal ketiga, analis sekarang melihat laba per saham pada indeks S&P 500 hanya naik 4,6% secara tahunan, dibandingkan dengan pertumbuhan 11,1% yang diharapkan pada awal Juli.

Equity World | Wall Street Tersungkur, Indeks Dow Jones Mengkonfirmasi Pasar Bearish

Equity World | Wall Street Tersungkur, Indeks Dow Jones Mengkonfirmasi Pasar Bearish

Equity World | Wall Street merosot lebih dalam dan masuk pasar bearish pada perdagangan awal pekan ini. Di mana indeks S&P 500 dan Dow ditutup koreksi lebih dari 1% karena investor khawatir bahwa keagresifan Federal Reserve terhadap inflasi dapat membuat ekonomi Amerika Serikat (AS) turun tajam.

Equity World | Harga Emas Menguat, Sinyal Kengerian Resesi Dunia Kian Nyata?

Senin (26/9), indeks Dow Jones Industrial Average ditutup anjlok 1,11% ke 29.260,81, indeks S&P 500 ambles 1,03% menjadi 3.655,04 dan indeks Nasdaq Composite turun 0,6% ke 10.802,92.

Sepuluh dari 11 sektor pada indeks S&P 500 turun. Koreksi terbesar terjadi pada sektor di real estate dan energi yang melemah 2,6%

Sementara itu penguatan pada saham Amazon dan Costco Wholesale Corp, membantu membatasi pelemahan pada indeks Nasdaq.

Setelah dua minggu, sebagian besar pasar saham AS mengalami kerugian stabil, Dow Jones Industrial Average mengonfirmasi telah berada di pasar bearish sejak awal Januari.

Indeks S&P 500 pun sudah mengkonfirmasi berada di pasar bearish pada bulan Juni dan pada hari Senin mengakhiri sesi di bawah penutupan terendah sejak pertengahan Juni, serta memperpanjang aksi jual keseluruhan tahun ini.

Dengan sinyal The Fed pada pekan lalu bahwa suku bunga tinggi dapat bertahan hingga 2023, S&P 500 telah melepaskan keuntungan terakhir yang dibuat dalam reli musim panas lalu.

“Investor hanya menyerah,” kata Jake Dollarhide, Chief Executive Officer Longbow Asset Management di Tulsa, Oklahoma.

“Ini ketidakpastian tentang tanda air tinggi untuk suku bunga dana The Fed. Apakah 4,6%, apakah 5%? Apakah sekitar 2023?”

Keyakinan di antara para pedagang saham juga terguncang oleh pergerakan dramatis di pasar valuta asing global karena sterling mencapai titik terendah sepanjang masa di tengah kekhawatiran bahwa rencana fiskal baru pemerintah Inggris yang dirilis Jumat mengancam akan membebani keuangan negara itu.

Itu menambah lapisan volatilitas ekstra ke pasar, di mana investor khawatir tentang resesi global di tengah inflasi yang tinggi selama beberapa dekade. Indeks Volatilitas CBOE, melayang di dekat tertinggi tiga bulan.

Dow sekarang sudah ambles 20,5% dari rekor penutupan tertinggi yang terjadi pada 4 Januari. Menurut definisi yang banyak digunakan, mengakhiri sesi turun 20% atau lebih dari rekor penutupan tertinggi menegaskan Dow telah berada di pasar bearish sejak mencapai puncak di Januari lalu.

Sedangkan, indeks S&P 500 belum turun di bawah level terendah harian pada 17 Juni. Sejauh ini, S&P 500 sudah turun sekitar 23% pada tahun 2022.

Pada sesi kali ini, saham operator kasino Wynn Resorts, Las Vegas Sands Corp dan Melco Resorts & Entertainment melonjak antara 11,8% hingga 25,5% setelah Makau berencana untuk membuka grup tur China daratan pada November untuk pertama kalinya dalam hampir tiga tahun.

Equity World | Harga Emas Diprediksi Anjlok ke USD 1.600 per Ons Usai Suku Bunga The Fed Naik

Equity World | Harga Emas Diprediksi Anjlok ke USD 1.600 per Ons Usai Suku Bunga The Fed Naik

Equity World | Jakarta Harga emas diperdagangkan mendekati posisi terendah dalam 2,5 tahun setelah Federal Reserve menempatkan dolar AS dan imbal hasil Treasury lebih tinggi. Keadaan makro ini kemungkinan akan mendorong lebih banyak orang menjauh dari emas, menciptakan peluang pembelian yang besar.

Equity World | Alamak! Harga Emas Terbenam di Level Terendah 2,5 Tahun

Dikutip dari Kitco News, Senin (26/9/2022), menurut para ahli, volatilitas di pasar dan permainan FX yang dramatis tidak membuat emas tidak tersentuh karena logam mulia turun 1,7 persen lagi minggu ini. Setelah menaikkan suku bunga sebesar 75 basis poin untuk ketiga kalinya berturut-turut, The Fed menaikkan suku bunga menjadi 4,4 persen pada akhir 2022 dan menjadi 4,6 persen pada 2023.

Untuk pasar, ini bisa diterjemahkan ke dalam kenaikan 75 basis poin lagi di bulan November dan peningkatan tambahan 50 basis poin di bulan Desember.

“Kami telah melihat peningkatan signifikan dalam perkiraan pasar tentang apa yang akan dilakukan suku bunga dana federal selama tahun depan. Ini adalah perbedaan yang cukup besar dari sebulan yang lalu, dan ini sejalan dengan Fed yang lebih agresif. Harga riil naik. Itu negatif untuk emas. Biaya carry yang tinggi dan biaya peluang yang tinggi mungkin akan mendorong modal menjauh,” kata TD Kepala strategi pasar komoditas global sekuritas Bart Melek kepada Kitco News.

Selain itu, jenis hawkishness ini berarti bahwa puncak reli dolar AS masih beberapa waktu lagi, yang merupakan berita buruk bagi emas. Sebagai informasi, Hawkish adalah istilah yang menggambarkan kebijakan moneter cenderung kontraktif seperti kenaikan suku bunga.

“Sepertinya reli dolar ini tidak mencapai puncaknya. Lingkungan pasar saat ini kemungkinan akan tetap meresahkan. Ekspektasi kenaikan suku bunga Fed secara luas berayun. Kita tidak akan melihat penurunan itu sampai kita melihat inflasi turun. Masalahnya adalah kita tidak melihat ekonomi melemah dengan cepat. Ketika kita melakukannya, saat itulah Anda akan melihat puncak dolar. Untuk emas, itu semua tentang ketika kita melihatnya,” kata Analis pasar senior OANDA Edward Moya.

Menurut Moya, dengan Dow menyentuh level terendah tahun ini pada hari Jumat dan lebih banyak volatilitas ke depan, emas tidak mungkin melihat reli yang kuat dalam jangka pendek.

“Kami tidak akan terburu-buru untuk membeli emas dulu. Ada instrumen volatilitas rendah di luar sana yang sekarang memberi Anda beberapa hasil. Itu menghilangkan emas,” tambah Moya.

Akhirnya, emas akan menjadi tempat yang aman lagi karena selera terhadap ekuitas berkurang. Tapi sebelum itu terjadi, ekonomi perlu melambat, dan inflasi perlu melambat. “Begitu kita mulai melihat inflasi bergerak ke tingkat tipe yang lebih jinak, The Fed dapat dengan cepat berbalik. Saat mereka beralih dari dovish ke hawkish, mereka bisa pergi ke arah lain. Tapi itu tidak mungkin dalam waktu dekat,” kata Moya.

Risiko besar untuk logam mulia adalah penurunan di bawah USD 1.600 per ounce. “Jika kita menembus USD 1.600, maka USD 1.540 akan menjadi batas di mana kita mulai melihat pembeli muncul. Emas akan mendapat keuntungan dari arus safe-haven di luar negeri,” kata Moya.

Disisi lain, jika melihat emas jatuh di bawah USD 1.600 per ounce. Maka volatilitas akan lebih tinggi ke depan. Saat volatilitas meningkat, margin call meningkat. Posisi buy tidak dapat diperpanjang. Moya tidak akan melihat reentrance posisi yang besar, intinya emas dalam kondisi yang buruk.

Sebenarnya, dalam menentukan harga emas itu dilihat dari data ketenagakerjaan dan inflasi yang akan datang dari bulan September. “Pasar masih melihat kondisi tenaga kerja yang sangat ketat di AS dan implikasinya bahwa tekanan upah akan terus menjadi masalah,” kata Moya.

Panggilan konsensus pasar mencari ekonomi AS telah menciptakan 300.000 posisi pada bulan September, dengan tingkat pengangguran di 3,5 persen, yang mendekati posisi terendah 50 tahun. Pada catatan positif, emas pada level ini adalah titik masuk yang bagus bagi pembeli.

“Ini membuat emas fisik lebih murah. Ini adalah peluang pembelian. The Fed telah menekankan bahwa mereka memiliki mandat ganda. Dan ketika inflasi terkendali, The Fed dapat dengan cepat membalikkan pada 2023. Suku bunga riil akan jauh lebih bersahabat dengan emas. Saya mengharapkan emas untuk melakukannya dengan baik dalam jangka panjang,” jelas Moya.

Namun, untuk saat ini, resistance berada di USD 1.678-80, dan support berada di sekitar level USD 1.580 per ons untuk emas.

Equity World | Alamak! Harga Emas Terbenam di Level Terendah 2,5 Tahun

Equity World | Alamak! Harga Emas Terbenam di Level Terendah 2,5 Tahun

Equity World | Harga emas mencoba bangkit pada pagi hari ini. Pada perdagangan Senin (26/9/2022) pukul 06:01 WIB, harga emas dunia di pasar spot berada di US$ 1.644,09 per troy ons. Harga emas menguat tipis 0,06%.

Equity World | Wall Street Terguncang, Investor Siap Hadapi Banyak Tekanan

Penguatan hari ini berbanding terbalik dengan penutupan perdagangan terakhir pekan lalu. Pada perdagangan Jumat (23/9/2022), harga emas anjlok 1,64% ke posisi US$ 1.643,09 per troy ons. Posisi tersebut adalah yang terendah sejak awal April 2020 atau hampir 2,5 tahun.

Dalam sepekan, harga emas masih anjlok 1,9% secara point to point. Dalam sebulan, harga emas menyusut 5,3% sementara dalam setahun anjlok 6%.

Kendati menguat pada pagi hari ini, harga emas kini menjauh dari level psikologis US$ 1.600 dan mendekat ke level US$ 1.500. Harga emas juga sudah turun US$ 156 sepanjang tahun ini.

Analis dari OANDA Edward Moya menjelaskan ambruknya harga emas tidak bisa dilepaskan dari melambungnya dolar Amerika Serikat (AS) dan yield surat utang pemerintah AS.
Penguatan dolar AS membuat emas tidak menarik karena makin mahal. Emas juga tidak menawarkan imbal hasil sehingga kenaikan yield membuat emas tidak menarik.

Indeks dolar AS melonjak ke 113 pada akhir pekan lalu, titik tertingginya dalam 20 tahun terakhir. Sementara itu, yield surat utang pemerintah AS melonjak ke 3,69% atau posisi tertinggi sejak April 2010.

Kencangnya pergerakan dolar AS dan yield inilah yang membuat isu resesi menjadi kurang laku untuk mengangkat harga emas. Emas biasanya akan semakin dicari saat ekonomi memburuk karena dinilai sebagai aset aman.

Kendati menguat pada pagi hari ini, harga emas kini menjauh dari level psikologis US$ 1.600 dan mendekat ke level US$ 1.500. Harga emas juga sudah turun US$ 156 sepanjang tahun ini.

Analis dari OANDA Edward Moya menjelaskan ambruknya harga emas tidak bisa dilepaskan dari melambungnya dolar Amerika Serikat (AS) dan yield surat utang pemerintah AS.
Penguatan dolar AS membuat emas tidak menarik karena makin mahal. Emas juga tidak menawarkan imbal hasil sehingga kenaikan yield membuat emas tidak menarik.

Indeks dolar AS melonjak ke 113 pada akhir pekan lalu, titik tertingginya dalam 20 tahun terakhir. Sementara itu, yield surat utang pemerintah AS melonjak ke 3,69% atau posisi tertinggi sejak April 2010.

Kencangnya pergerakan dolar AS dan yield inilah yang membuat isu resesi menjadi kurang laku untuk mengangkat harga emas. Emas biasanya akan semakin dicari saat ekonomi memburuk karena dinilai sebagai aset aman.

Equity World | Harga Emas Hari Ini Menguat, Tapi Masa Depannya Diramal Suram

Equity World | Harga Emas Hari Ini Menguat, Tapi Masa Depannya Diramal Suram

Equity World | Harga emas menguat tipis. Pada perdagangan Jumat (23/9/2022) pukul 06:22 WIB, harga emas dunia di pasar spot berada di US$ 1.671,38 per troy ons. Harga emas menguat 0,05%.

Equity World | Harga Emas Hari Ini Menguat, Tapi Masa Depannya Diramal Suram

Penguatan hari ini membalikkan tren negatif pada perdagangan kemarin di mana harga emas menyusut 0,19% ke posisi US$ 1.670,55 per troy ons.

Dalam sepekan, harga emas melemah tipis 0,22% secara point to point. Dalam sebulan, harga emas menyusut 4,4% sementara dalam setahun melorot 4,1%.

Analis dari Religare Broking Sugandha Sachdeva mengatakan kenaikan suku bunga acuan The Federal Reserve (The Fed) dalam waktu cepat dan kemungkinan berlangsung lama akan menekan pertumbuhan ekonomi. Jika ekonomi terus memburuk maka emas bisa terus menguat karena semakin dicari sebagai aset aman.

Harga emas yang terus melandai juga meningkatkan minat banyak orang untuk mencoba peruntungan dengan membeli emas.

“Kenaikan suku bunga acuan The Fed tentu saja membebani emas tetapi kekhawatiran resesi juga semakin nyata. Kondisi ini akan kembali meningkatkan minat untuk membeli emas di harga yang rendah,” tutur Sachdeva, seperti dikutip dari Reuters.

Kendati demikian, harga emas sangat rawan dengan pelemahan ke depan. Terlebih, The Fed sudah kembali menegaskan komitmen mereka untuk membawa inflasi ke kisaran 2% sehingga kebijakan moneter agresif masih bertahan lama.

Analis dari TD Securities Bart Melek bahkan memperkirakan emas akan terus jatuh ke bawah US$ 1.600 per troy ons.

“Secara keseluruhan, banyak faktor yang membuat tren negatif emas berlanjut termasuk komitmen The Fed. Dalam waktu yang tidak lama lagi, emas bisa jatuh ke kisaran di bawah US$ 1.600,” ujarnya.

Design a site like this with WordPress.com
Get started