Equity World | Harga Emas Hari Ini Ambruk, Ini Rinciannya dari 1 Gram Hingga 1 Kg

Equity World | Harga Emas Hari Ini Ambruk, Ini Rinciannya dari 1 Gram Hingga 1 Kg

Equity World | Harga emas hari ini keluaran Logam Mulia Antam 24 karat, Kamis (20/10/2022), mengalami penurunan harga bila dibandingkan dengan kemarin. Harga emas hari ini turun Rp 7.000 per gram ke level Rp 9.333.000 per gram.

Equity World | Wall Street Menurun, Sentimen Kinerja Korporasi Sudah Habis?

Untuk satuan harga emas terkecil ukuran 0,5 gram saat ini berada di angka Rp 516.500. Sementara itu harga emas 10 gram dijual sebesar Rp 8.825.000. Sedangkan untuk ukuran emas yang terbesar, yakni 1.000 gram (1 kg) dibanderol dengan harga sebesar Rp 873.600.000.

Jika ditarik dalam sepekan terakhir, pergerakan harga emas Antam terpantau bergerak di rentang Rp 933.000/gram – Rp 945.000/gram. Sementara dalam sebulan terakhir pergerakannya ada di rentang Rp 930.000/gram – Rp 962.000/gram.

Sementara harga buyback emas Antam hari ini juga ikut turun Rp 7.000 per gram dan membuat harga buyback saat ini berada di level Rp 815.000 per gram. Harga buyback ini berarti jika Anda ingin menjual emas, maka Antam akan membelinya dengan harga tersebut.

Sesuai dengan PMK No. 34/PMK 10/2017, pembelian emas batangan akan dikenakan PPh 22 sebesar 0,9%. Artinya, jika ingin mendapatkan potongan pajak lebih rendah, sebesar 0,45%, harus menyertakan nomor NPWP untuk transaksinya.

Rincian Harga Emas Antam 1 Gram hingga 1000 Gram Hari Ini

Emas batangan 0,5 gram Rp 516.500
Emas batangan 1 gram Rp 933.000
Emas batangan 2 gram Rp 1.806.000
Emas batangan 3 gram Rp 2.684.000
Emas batangan 5 gram Rp 4.440.000
Emas batangan 10 gram Rp 8.825.000
Emas batangan 25 gram Rp 21.937.000
Emas batangan 50 gram Rp 43.795.000
Emas batangan 100 gram Rp 87.512.000
Emas batangan 250 gram Rp 218.515.000
Emas batangan 500 gram Rp 436.820.000
Emas batangan 1000 gram Rp 873.600.000

Demikian rincian keluaran Antam 1 gram hingga 1000 gram, Kamis 20 Oktober 2022.

Equity World | Tetap Waspada IHSG, Kenaikan Bursa Asia Rapuh!

Equity World | Tetap Waspada IHSG, Kenaikan Bursa Asia Rapuh!

Equity World | Mayoritas bursa Asia-Pasifik dibuka menguat pada perdagangan Rabu (19/10/2022), di tengah masih menghijaunya bursa saham Amerika Serikat (AS) pada perdagangan Selasa kemarin.

Equity World | Duh Emas! Menguat 3 Hari, tapi Masih Dipandang Sebelah Mata

Indeks Nikkei Jepang dibuka menguat 0,37%, Straits Times Singapura naik tipis 0,09%, ASX 200 Australia bertambah 0,22%, dan KOSPI Korea Selatan juga naik tipis 0,08%.

Namun untuk indeks Hang Seng Hong Kong dibuka melemah 0,19% dan Shanghai Composite China juga turun 0,19%.

Bursa Asia-Pasifik yang secara mayoritas menguat terjadi di tengah masih menghijaunya bursa saham AS, Wall Street pada perdagangan Selasa kemarin waktu AS.

Indeks Dow Jones Industrial Average (DJIA) ditutup melesat 1,12% ke posisi 30.523,8, S&P 500 melonjak 1,16% ke 3.720,5, dan Nasdaq Composite menguat 0,9% menjadi 10.772,4.

Penguatan Wall Street sedikit terpangkas, setelah pada awal perdagangan kemarin sempat melesat lebih dari 2%. Wall Street cenderung berombak pada Selasa kemarin, karena banyak investor tampaknya kurang percaya diri.

Meski cenderung terpangkas, tetapi reli Wall Street berlanjut di perdagangan hari kedua pada pekan ini, di mana hal ini masih ditopang oleh kinerja keuangan beberapa emiten AS yang solid pada kuartal III-2022.

Bursa Asia-Pasifik yang secara mayoritas menguat terjadi di tengah masih menghijaunya bursa saham AS, Wall Street pada perdagangan Selasa kemarin waktu AS.

Indeks Dow Jones Industrial Average (DJIA) ditutup melesat 1,12% ke posisi 30.523,8, S&P 500 melonjak 1,16% ke 3.720,5, dan Nasdaq Composite menguat 0,9% menjadi 10.772,4.

Penguatan Wall Street sedikit terpangkas, setelah pada awal perdagangan kemarin sempat melesat lebih dari 2%. Wall Street cenderung berombak pada Selasa kemarin, karena banyak investor tampaknya kurang percaya diri.

Meski cenderung terpangkas, tetapi reli Wall Street berlanjut di perdagangan hari kedua pada pekan ini, di mana hal ini masih ditopang oleh kinerja keuangan beberapa emiten AS yang solid pada kuartal III-2022.

Namun, dampak dari kenaikan suku bunga agresif bank sentral AS (Federal Reserve/The Fed) mungkin mulai menghambat pasar tenaga kerja.

Perusahaan raksasa teknologi AS, Microsoft Corp sedikit berubah setelah perseroan melaporkan telah merumahkan di bawah 1.000 karyawan minggu ini, menjadi perusahaan teknologi AS terbaru yang memangkas pekerjaan atau memperlambat perekrutan di tengah perlambatan ekonomi global.

Jalan The Fed telah membuat banyak investor khawatir hal itu dapat memiringkan ekonomi ke dalam resesi dengan membuat kesalahan kebijakan dan menaikkan suku bunga terlalu banyak.

Pejabat Fed sebagian besar telah sinkron dalam komentar tentang perlunya bank sentral untuk menekan inflasi.

Sebuah laporan dari lembaga pemeringkat internasional, Fitch Ratings mengatakan pihaknya telah memangkas perkiraan pertumbuhan AS untuk tahun ini dan berikutnya dan ditetapkan untuk memperingatkan bahwa kenaikan suku bunga The Fed dan inflasi akan mendorong ekonomi ke dalam resesi gaya 1990.

Investor kini masih mengawasi dengan ketat perilisan kinerja keuangan emiten di AS untuk menilai dampak dari inflasi yang masih meninggi dan kenaikan suku bunga The Fed.

Pasar juga memperkirakan The Fed masih akan bersikap hawkish dengan menaikkan suku bunga acuannya pada pertemuan November mendatang.

Mengacu pada FedWatch, sebanyak 94,8% para pelaku pasar memproyeksikan The Fed akan menaikkan suku bunga acuan sebesar 75 basis poin (bp) dan membawa tingkat suku bunga Fed ke kisaran 3,75%-4%.

Sementara itu, imbal hasil (yield) obligasi pemerintah AS (US Treasury) yang masih berada di atas kisaran 4% turut menjadi penyebab fluktuasinya Wall Street kemarin.

Dilansir dari CNBC International, yield Treasury berjangka pendek yakni tenor 2 tahun cenderung naik menjadi 4,454%.

Sedangkan untuk yield Treasury benchmark tenor 10 tahun juga cenderung naik menjadi 4,054% pada akhir perdagangan hari ini

Equity World | Lonjakan Wall Street Dorong Saham Asia-Pasifik Selasa (18/10) Pagi Bergerak Lebih Tinggi

Equity World | Lonjakan Wall Street Dorong Saham Asia-Pasifik Selasa (18/10) Pagi Bergerak Lebih Tinggi

Equity World | Saham di Asia-Pasifik diperdagangkan lebih tinggi pada hari Selasa (17/10) setelah reli Wall Street semalam.

Equity World | Kode Keras Buat IHSG, Bursa Asia Melesat!

Indeks Nikkei 225 bergerak naik 1,46% dan Topix juga telah melonjak 1,23 persen.

Yen Jepang menyentuh 149,08 melawan dolar dan terakhir diperdagangkan di dekat 148,90.

Indeks Kospi . Korea Selatan juga bergerak 1,13% lebih tinggi dan Kosdaq naik 2,16 persen.

Indeks MSCI dari saham Asia Pasifik di luar Jepang bertambah 0,46 persen.

Di Australia, S&P/ASX 200 naik 1,27 persen.

Reserve Bank of Australia diperkirakan akan merilis notulen rapat untuk pertemuan Oktober.

China menunda pelaporan data produk domestik bruto, dan banyak rilis ekonomi untuk kuartal ketiga yang lain, seperti yang telah diumumkan di situs web Biro Statistik Nasional.

Langkah yang tidak biasa itu terjadi saat Partai Komunis China mengadakan Kongres Nasional ke-20.

Semalam di AS, indeks utama melonjak menyusul beberapa laporan pendapatan yang lebih baik dari perkiraan.

Dow Jones Industrial Average bertambah 550,99 poin, atau 1,86%, menjadi ditutup pada 30.185,82.

S&P 500 melonjak 2,65% menjadi 3.677,95.

Saham teknologi Nasdaq Composite melonjak 3,43% untuk hari terbaiknya sejak Juli, berakhir di 10.675,80.

Data inflasi Selandia Baru untuk kuartal ketiga lebih panas dari yang diharapkan

Harga konsumen Selandia Baru naik 7,2% pada kuartal ketiga dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu, jauh lebih tinggi dari 6,6% yang diprediksi oleh analis dalam jajak pendapat Reuters.

Harga naik 2,2% dari kuartal kedua, didorong oleh makanan, perumahan dan utilitas, kata Stats NZ.

Pendorong utama inflasi tahunan 7,2 persen hingga kuartal September 2022 adalah perumahan dan utilitas rumah tangga karena kenaikan harga untuk konstruksi, persewaan perumahan, dan tarif otoritas local.

Dibandingkan dengan kuartal sebelumnya, inflasi tahunan sedikit berkurang dari 7,3% yang dilaporkan di bulan Juli, yang merupakan level tertinggi dalam 32 tahun.

Reli hari Senin di bursa Wall Street berakhir dengan semua sektor ditutup lebih dari 10% dari tertinggi 52 minggu dipimpin layanan komunikasi yang naik lebih dari 40% dari level kunci.

Imbal hasil treasury AS memangkas kerugian, pulih dari posisi terendahnya.

Imbal hasil Treasury 2-tahun sekarang turun sekitar 5 basis poin menjadi 4,45%, sedangkan imbal hasil 10-tahun tidak berubah tepat di atas 4 persen.

Hasil bergerak berlawanan dengan harga, dan basis poin sama dengan 0,01 poin persentase.

Khususnya, rebound untuk imbal hasil tidak menyebabkan pergerakan besar di pasar ekuitas, di mana Nasdaq masih naik lebih dari 3% untuk sesi tersebut.

Equity World | Kekhawatiran Resesi Bebani Bursa Saham Asia

Equity World | Kekhawatiran Resesi Bebani Bursa Saham Asia

Equity World | Bursa saham Asia Pasifik merosot pada Senin (17/10/2022), seiring kekhawatiran resesi membebani ekspektasi berlanjutnya pengetatan kebijakan moneter di seluruh dunia.

Equity World | Harga Emas Antam Stagnan, Tetap Murah!

Mengutip CNBC, indeks Nikkei 225 turun 1,53 persen di awal perdagangan. Indeks Topix turun 1,07 persen. Dolar Amerika Serikat terus melayang berada di level tertinggi 32 tahun terhadap yen Jepang, terakhir diperdagangkan di 148,55 per dolar.

Sementara itu, di Australia, indeks S&P/ASX 200 turun 1,59 persen. Indeks Kospi Korea Selatan turun 1,35 persen dan Kosdaq turun 1,33 persen. Indeks MSCI dari saham Asia Pasifik di luar Jepang turun 0,6 persen.

Pada minggu ini, beberapa negara di kawasan itu dijadwalkan untuk melaporkan data inflasi, sementara Australia akan merilis statistik pengangguran dan China akan mengumumkan keputusan suku bunga pinjamannya.

Selama akhir pekan, Presiden China Xi Jinping memberikan pidato pada upacara pembukaan Kongres Nasional ke-20 Partai Komunis China yang berkuasa, di mana ia memperingatkan terhadap gangguan oleh kekuatan luar di Taiwan, sebuah pulau yang memiliki pemerintahan sendiri yang dilihat Beijing sebagai tempat provinsi pelarian.

Dia juga mengatakan China, tidak akan pernah berjanji untuk meninggalkan penggunaan kekuatan untuk reunifikasi. Saham AS ditutup lebih rendah minggu sebelumnya setelah survei University of Michigan menunjukkan ekspektasi inflasi meningkat.

Equity World | Kabar Baik Buat IHSG, Wall Street Cerah, Bursa Asia Meroket!

Equity World | Kabar Baik Buat IHSG, Wall Street Cerah, Bursa Asia Meroket!

Equity World | Bursa Asia-Pasifik dibuka cenderung cerah pada perdagangan Jumat (14/10/2022), menyusul bursa saham Amerika Serikat (AS) yang berhasil rebound pada perdagangan Kamis kemarin.

Equity World |Mantap! Harga Emas Berhasil Memanjat

Indeks Nikkei 225 Jepang dibuka melonjak 1,38%, Hang Seng Hong Kong melejit 1,92%, Shanghai Composite China menguat 0,7%, Straits Times Singapura melesat 0,94%, ASX 200 Australia melompat 1,52%, dan KOSPI Korea Selatan terdongkrak 1,75%.

Dari China, data inflasi pada periode September 2022 akan dirilis pada hari ini. Konsensus pasar dalam survei Reuters memperkirakan inflasi dari sisi konsumen (Indeks Harga Konsumen/IHK) China pada bulan lalu naik menjadi 2,8% (year-on-year/yoy), dari sebelumnya pada Agustus lalu di 2,5%.

Sedangkan inflasi dari sisi produsen (Indeks Harga Produsen/IHP) diprediksi melonjak menjadi 1% (yoy), dari sebelumnya pada Agustus lalu di 2,3%.

Sementara itu dari Singapura, Produk domestik bruto (PDB) tumbuh 4,4% pada kuartal III-2022, dari sebelumnya periode yang sama tahun lalu di angka 4,5%., menurut data pemerintah,

Angka ini jauh lebih tinggi dari yang diprediksi oleh analis dalam survei Reuters sebesar 3,4%, dan sejalan dengan pertumbuhan pada kuartal kedua.

Bursa Asia-Pasifik yang cenderung cerah terjadi di tengah berhasil rebound-nya bursa saham AS, Wall Street pada perdagangan Kamis kemarin.

Indeks Dow Jones ditutup meroket 2,83% ke posisi 30.038,72, S&P 500 terbang 2,6% ke 3.669,91, dan Nasdaq Composite melejit 2,23% menjadi 10.649,15.

Pembalikan arah secara frontal merupakan respon pelaku pasar atas data inflasi AS per September 2022. Biro Statistik Tenaga Kerja AS melaporkan inflasi dari sisi konsumen (IHK) AS mencapai ke 8,2% (yoy) pada September lalu.

Laju inflasi memang lebih rendah dibandingkan pada Agustus yang tercatat 8,3% (yoy) tetapi masih di atas ekspektasi pasar yakni 8,1% (yoy).

Secara bulanan (month-to-month/mtm), inflasi tercatat 0,4% pada September atau meningkat dibandingkan pada Agustus yang tercatat 0,1%. Inflasi inti menyentuh 6,6 % (yoy) pada September, level tertingginya sejak 1982 atau 40 tahun terakhir.

Data inflasi membuat pelaku pasar menghapus harapan mereka jika bank sentral AS (Federal Reserve/The Fed) akan melonggarkan kebijakan moneter dalam waktu dekat.

Namun, pelaku pasar juga mulai meyakini jika inflasi AS sudah mencapai puncaknya dan akan terus melandai ke depan.

Kedua faktor itulah yang membuat perdagangan kemarin berlangsung sangat “liar”. Bursa saham ambruk pada awal perdagangan sebagai respon atas data inflasi yang masih di atas ekspektasi.

Namun, pelaku pasar kemudian berbalik arah. Reli secara masif terjadi setelah dua jam perdagangan. Indeks Dow Jones melonjak hingga 600 poin sampai pukul 11: 30 pagi waktu setempat.

“Mungkin ini terakhir kali kita melihat inflasi yang lebih tinggi daripada ekspektasi dan selanjutnya inflasi akan melandai. Apa yang terjadi pada perdagangan intraday membuktikan sifat alamiah dari “pemburu” di bursa,” tutur Liz Ann Sonders, chief investment strategist Charles Schwab, dikutip dari CNBC International.

Chief investment strategist Baker Avenue Asset Management, King Lip mengatakan pembalikan arah lebih ditopang oleh teknikal.

Sedangkan inflasi dari sisi produsen (Indeks Harga Produsen/IHP) diprediksi melonjak menjadi 1% (yoy), dari sebelumnya pada Agustus lalu di 2,3%.

Sementara itu dari Singapura, Produk domestik bruto (PDB) tumbuh 4,4% pada kuartal III-2022, dari sebelumnya periode yang sama tahun lalu di angka 4,5%., menurut data pemerintah,

Angka ini jauh lebih tinggi dari yang diprediksi oleh analis dalam survei Reuters sebesar 3,4%, dan sejalan dengan pertumbuhan pada kuartal kedua.

Bursa Asia-Pasifik yang cenderung cerah terjadi di tengah berhasil rebound-nya bursa saham AS, Wall Street pada perdagangan Kamis kemarin.

Indeks Dow Jones ditutup meroket 2,83% ke posisi 30.038,72, S&P 500 terbang 2,6% ke 3.669,91, dan Nasdaq Composite melejit 2,23% menjadi 10.649,15.

Pembalikan arah secara frontal merupakan respon pelaku pasar atas data inflasi AS per September 2022. Biro Statistik Tenaga Kerja AS melaporkan inflasi dari sisi konsumen (IHK) AS mencapai ke 8,2% (yoy) pada September lalu.

Laju inflasi memang lebih rendah dibandingkan pada Agustus yang tercatat 8,3% (yoy) tetapi masih di atas ekspektasi pasar yakni 8,1% (yoy).

Secara bulanan (month-to-month/mtm), inflasi tercatat 0,4% pada September atau meningkat dibandingkan pada Agustus yang tercatat 0,1%. Inflasi inti menyentuh 6,6 % (yoy) pada September, level tertingginya sejak 1982 atau 40 tahun terakhir.

Data inflasi membuat pelaku pasar menghapus harapan mereka jika bank sentral AS (Federal Reserve/The Fed) akan melonggarkan kebijakan moneter dalam waktu dekat.

Namun, pelaku pasar juga mulai meyakini jika inflasi AS sudah mencapai puncaknya dan akan terus melandai ke depan.

Kedua faktor itulah yang membuat perdagangan kemarin berlangsung sangat “liar”. Bursa saham ambruk pada awal perdagangan sebagai respon atas data inflasi yang masih di atas ekspektasi.

Namun, pelaku pasar kemudian berbalik arah. Reli secara masif terjadi setelah dua jam perdagangan. Indeks Dow Jones melonjak hingga 600 poin sampai pukul 11: 30 pagi waktu setempat.

“Mungkin ini terakhir kali kita melihat inflasi yang lebih tinggi daripada ekspektasi dan selanjutnya inflasi akan melandai. Apa yang terjadi pada perdagangan intraday membuktikan sifat alamiah dari “pemburu” di bursa,” tutur Liz Ann Sonders, chief investment strategist Charles Schwab, dikutip dari CNBC International.

Chief investment strategist Baker Avenue Asset Management, King Lip mengatakan pembalikan arah lebih ditopang oleh teknikal.

Equity World | Perdagangan Pasar Asia Pasifik Mixed Menunggu Data Inflasi AS

Equity World | Perdagangan Pasar Asia Pasifik Mixed Menunggu Data Inflasi AS

Equity World | Saham di Asia Pasifik bergerak mixed pada pembukaan perdagangan Kamis (13/10). Investor kini menunggu data inflasi dari Amerika Serikat (AS) yang akan dirilis nanti.

Equity World |’Awan Cerah’ Mulai Muncul, Wall Street Kompak Menguat

Di Australia, S&P/ ASX 200 adalah 0,3% lebih tinggi.

Nikkei 225 di Jepang sedikit lebih rendah dan Topix turun 0,28%. Yen Jepang menguat di pagi hari Asia setelah menyentuh 146,98 per dolar. Kospi Korea Selatan turun 0,36% dan Kosdaq kehilangan 0,92%.

Indeks MSCI dari saham Asia Pasifik di luar Jepang berada tepat di atas garis datar. Pasar Thailand tutup untuk hari libur Kamis.

Ekonom memperkirakan harga konsumen AS telah meningkat 0,3% pada September 2022 dibandiingkan bulan sebelumnya dan naik 8,1% dari periode yang sama tahun lalu. Pada Agustus 2022, angka indeks harga konsumen (CPI) naik 0,1% dari angka Juli dan naik 8,3% dibandingkan dengan bulan yang sama di tahun sebelumnya.

Saham AS jatuh dalam semalam, dengan S&P 500 mencapai penutupan terendah sejak November 2020.

Saham Toshiba naik lebih dari 9% setelah laporan sebuah konsorsium berpotensi mengakuisisi perusahaan sekitar US$ 19 miliar.

Kyodo News melaporkan bahwa dana yang berbasis di Tokyo yang memimpin grup tersebut, Japan Industrial Partners, meminta beberapa perusahaan termasuk Chubu Electric Power dan Orix untuk mengambil bagian dalam langkah tersebut. Laporan ini disampaikan disebutkan orang-orang yang mengetahui masalah tersebut.

Toshiba dapat dihapus dari daftar bursa (delisting) jika pembelian selesai.

Saham AS Ditutup Melemah

Ketiga indeks utama ditutup lebih rendah pada Rabu (Kamis pagi WIB) setelah sesi volatil antara keuntungan dan kerugian sepanjang hari.

S&P 500 turun 0,33%, jatuh ke 3.577,03, penutupan terendah sejak November 2020 dan kerugian harian keenam berturut-turut.

Dow Jones Industrial Average turun 28,34 poin, atau 0,10%, menjadi ditutup pada 29.210,85. Nasdaq Composite turun 0,09% menjadi ditutup pada 10.417,10.

Risalah Federal Reserve (Fed) menunjukkan bank sentral AS itu melihat lebih banyak kenaikan suku bunga dan menahannya lebih tinggi sampai inflasi menunjukkan tanda-tanda mereda.

Risalah tersebut mencerminkan diskusi regulator menjelang kenaikan 0,75 poin persentase terakhir, kenaikan ketiga berturut-turut sebesar itu yang disampaikan tahun ini.

Bank sentral terkejut dengan laju inflasi yang terus-menerus, tetapi tetap optimis bahwa kenaikan suku bunga akan membantu mengendalikan kenaikan harga.

Equity World | Indeks Hang Seng Pimpin Koreksi di Bursa Saham Asia

Equity World | Indeks Hang Seng Pimpin Koreksi di Bursa Saham Asia

Equity World | Bursa saham Asia Pasifik melemah pada perdagangan saham, Senin, (10/10/2022) dengan indeks Hong Kong Hang Seng pimpin koreksi.

Equity World | Peringatan Bagi IHSG! Bursa Asia Ambrol

Saham Australia turun lebih dari 1 persen pada Senin pagi, 10 Oktober 2022 pada hari yang tenang di wilayah tersebut, seiring beberapa bursa utama ditutup karena libur.

Indeks S&P/ASX 200 turun 1,47 persen di awal perdagangan. Kemudian indeks ASX 200 tergelincir 1,63 persen. Sementara itu, indeks Hang Seng merosot lebih dari dua persen pada awal sesi perdagangan, dan indeks Hang Seng teknologi terpangkas 3,17 persen.

Di bursa saham China, indeks Shanghai melemah 0,39 persen setelah libur sepekan. Indeks Shenzhen merosot 1 persen. Bursa di Jepang, Korea Selatan, Taiwan dan Malaysia tutup untuk karena libur pada Senin.

Akhir pekan ini, Bank of Korea akan mengadakan pertemuan penetapan kebijakan, Singapura akan mengumumkan perkiraan PDB untuk kuartal III dan China merilis data inflasi.

Perusahaan Manufaktur Semikonduktor Taiwan dan Fast Retailing Jepang akan melaporkan pendapatan. Kemudian, AS akan merilis data inflasi untuk September.

Sementara itu, pada Jumat di AS, indeks saham utama turun lebih dari 2 persen setelah data menunjukkan tingkat pengangguran menurun pada September, yang memicu kekhawatiran bahwa bank sentral AS atau the Fed akan terus menaikkan suku bunga secara agresif.

Indeks manajer pembelian layanan Caixin berada di 49,3 pada September, menurut sebuah laporan yang diterbitkan Sabtu. Hal itu merupakan penurunan tajam dari 55 pada Agustus.

Tanda 50 poin memisahkan pertumbuhan dari kontraksi. Pembacaan PMI membandingkan aktivitas dari bulan ke bulan.

Pembatasan COVID-19 di negara tersebut menyebabkan aktivitas layanan di China berkontraksi pada September untuk pertama kalinya sejak Mei, menurut laporan itu.

“Perusahaan yang melaporkan pengurangan aktivitas sering berkomentar bahwa pandemi dan tindakan selanjutnya untuk menahan virus telah membatasi operasi dan membebani permintaan pada September,” tulis manajemen Caixin dalam keterangan resminya, dikutip dari CNBC, Senin, 10 Oktober 2022.

Bursa saham Asia Pasifik melemah pada perdagangan Jumat, 7 Oktober 2022. Koreksi bursa saham Asia ini terjadi jelang rilis laporan pekerjaan AS. Tambahan pekerjaan diharapkan 275 ribu pada September 2022, dan tingkat pengangguran di kisaran 3,7 persen.

Indeks Hang Seng melemah 1,27 persen. Indeks Hang Seng teknologi merosot 2,96 persen. Indeks Jepang Nikkei turun 0,71 persen ke posisi 27.116,11. Indeks Topix melemah 0,82 persen. Di Australia, indeks ASX 200 merosot 0,8 persen ke posisi 6.762,80.

Indeks Korea Selatan Kospi melemah 0,22 persen ke posisi 2.232,84. Indeks Kosdaq susut 1,07 persen ke posisi 698,49. Indeks MSCI Asia Pasifik di luar Jepang tergelincir 1,29 persen.

Sebelumnya, bursa saham Amerika Serikat (AS) atau wall street anjlok pada perdagangan Jumat, 7 Oktober 2022. Hal ini seiring pelaku pasar evaluasi laporan pekerjaan September 2022 yang menunjukkan tingkat pengangguran terus menurun dan memicu kenaikan suku bunga.

Pada penutupan perdagangan wall street, indeks Dow Jones melemah 630,15 poin atau 2,1 persen ke posisi 29.296,79. Indeks S&P 500 anjlok 2,8 persen menjadi 3.639,66. Indeks Nasdaq tersungkur 3,8 persen menjadi 10.652,41.

Koreksi pada Jumat pekan ini juga memangkas kenaikan wall street pada awal pekan. Selama sepekan, indeks Dow Jones naik 2 persen, indeks S&P 500 bertambah 1,5 persen. Indeks Nasdaq menguat 0,7 persen.

Sementara itu, ekonomi AS menambahkan 263.000 pekerjaan pada September 2022, sedikit di bawah perkiraan Dow Jones sebesar 275.000. Namun, tingkat pengangguran berada di 3,5 persen, turun dari 3,7 persen pada bulan sebelumnya sebagai tanda gambaran pekerjaan yang terus menguat bahkan ketika the Federal Reserve mencoba memperlambat ekonomi dengan kenaikan suku bunga untuk membendung inflasi.

“Sementara data seperti yang diharapkan, penurunan tingkat pengangguran tampaknya menjadi obsesi pasar karena apa artinya bagi the Fed,” ujar Chief Investment Officer Bleakley Financial, Peter Boockvar, dikutip dari CNBC, Sabtu (8/10/2022).

Ia menambahkan, ketika dikombinasikan dengan tingkat klaim pengangguran awal yang rendah, laju pemutusan hubungan kerja (PHK) tetap tidak terdengar dan ini tentu saja membuat bank sentral AS atau the Federal Reserve (the Fed) bersemangat untuk melanjutkan kenaikan suku bunga agresif.

Tingkat pengangguran turun memicu lonjakan suku bunga yang pada gilirannya membebani saham. Imbal hasil obligasi AS bertenor dua tahun naik 6 basis poin menjadi 4,31 persen.

Di sisi lain, saham Advanced Micro Devices melemah setelah produsen chip memperingatkan pendapatan kuartal III 2022 akan lebih rendah dari yang diantisipasi. Saham Levi Strauss tergelincir seiring pemangkasan panduan kinerja. Selain itu, saham Intel dan Nvidia masing-masing turun 5 persen dan 7 persen.

“Kesimpulan yang telah dicapai oleh banyak orang yang telah kami ajak bicara adalah the Fed tidak hanya tidak akan membantu pasar, tetapi dalam mengejar stabilitas harga terus berlanjut sampai ada sesuatu yang pecah di pasar modak,” ujar Analis Saham Wells Fargo, Christopher Harvey.

Ia menilai, apa yang menjadi fokus the Fed semakin terpusat yaitu stabilitas harga. “Kemungkinan akan bantu katalisasi dislokasi,” ujar dia.

Sementara itu, saham FedEx melemah hampir tiga persen setelah Reuters melaporkan divisi pengiriman diprediksi catat volume rendah.

Equity World | Nikkei – Hang Seng Ambles 1%, Awas IHSG Nyusul!

Equity World | Nikkei – Hang Seng Ambles 1%, Awas IHSG Nyusul!

Equity World | Bursa Asia-Pasifik dibuka cenderung melemah pada perdagangan Jumat (7/10/2022), di mana investor juga menanti serangkaian data tenaga kerja Amerika Serikat (AS) karena data ini akan memandu keputusan moneter bank sentral AS pada November 2022. Pergerakan tersebut tentunya menjadi kabar buruk bagi Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pagi ini.

Equity World | Wall Street Jatuh Menanti Data Tenaga Kerja September, Dow Turun Hampir 350 Poin

Hanya indeks Straits Times Singapura yang dibuka di zona hijau pada hari ini, yakni dibuka naik 0,11%.

Sedangkan sisanya dibuka di zona merah. Indeks Nikkei 225 Jepang dibuka ambles 1,24%, Hang Seng Hong Kong merosot 1,05%, ASX 200 Australia melemah 0,64%, dan KOSPI Korea Selatan tergelincir 1,02%.

Sementara untuk pasar saham China hingga hari ini masih belum dibuka. Pekan ini merupakan Golden Week atau libur panjang di China, memperingati serangkaian Hari Nasional China.

Bursa Asia-Pasifik yang cenderung terkoreksi pada hari ini terjadi di tengah merosotnya kembali bursa saham AS, Wall Street pada perdagangan Kamis kemarin.

Indeks Dow Jones ditutup ambles 1,15% ke posisi 29.926,94, S&P 500 merosot 1,02% ke 3.744,52, dan Nasdaq Composite melemah 0,68% menjadi 11.073,31.

“Pasar saham kembali berjuang karena pasar menanti data penggajian AS yang sangat dinanti-nanti … dan karena komentar dari pejabat The Fed yang mempertahankan getaran lebih dibutuhkan,” kata seorang analis ANZ Research dalam laporan riset hariannya, dikutip dari CNBC International.

Dari pasar obligasi, yield US Treasury tenor 10 tahun kembali naik dan menyentuh 3,8%, sedangkan yield Treasury tenor 2 tahun yang lebih sensitif terhadap kenaikan suku bunga naik hingga 4,2%.

Investor global masih menantikan rilis data di AS pada hari ini, terutama data yang akan menunjukkan bagaimana situasi pasar tenaga kerja di Negeri Paman Sam pada September 2022, memberi bank sentral AS (Federal Reserve/The Fed) informasi lain tentang kampanye kenaikan suku bunganya.

Konsensus analis Dow Jones memprediksikan bahwa data tenaga kerja di sektor non-pertanian (NFP) akan bertambah 275.000 pekerjaan dan angka pengangguran akan tetap di 3,7%.

Namun, jika NFP bertambah, maka akan menambah kekhawatiran akan The Fed yang kian agresif di pertemuan selanjutnya untuk meredam inflasi.

“Sekali lagi, investor mencari kabar buruk untuk menjadi kabar baik, bahkan jika laporan September lebih rendah dari yang diharapkan, pertumbuhan upah kemungkinan akan bertahan dan tidak membuat Fed agresif,” tutur Chris Senyek, analis di Wolfe Research, dilansir dari CNBC International.

“Sementara saham saat ini rentan terhadap kenaikan besar, kami sangat percaya bahwa basis bearish jangka menengah tetap ada,” tambahnya.

Selain data NFP, investor juga akan menanti rilis angka pengangguran AS per September 2022. Rilis data ekonomi tersebut akan menjadi salah satu data masukkan untuk The Fed sebelum memutuskan kebijakan moneter selanjutnya.

Konsensus analis Trading Economics memprediksikan angka pengangguran masih akan bertahan pada 3,7%, posisi yang sama pada bulan sebelumnya.

Sebagai informasi, Departemen Tenaga Kerja AS melaporkan angka pengangguran pada Agustus 2022 berada di 3,7%, naik dari bulan Juli 2022 di 3,5% dan menjadi posisi tertinggi sejak Februari 2022. Jumlah pengangguran meningkat 344.000 orang menjadi 6 juta orang, sedangkan tingkat penyerapan tenaga kerja juga naik 442.000 pekerjaan.

Jika angka pengangguran stagnan, kemungkinan dampak terhadap pergerakan bursa saham tidak terlalu signifikan. Namun, jika angka pengangguran turun, maka akan menjadi sentimen negatif. Meskipun, hal tersebut merupakan berita baik.

Pada situasi saat ini, berita baik pada data ekonomi AS akan menjadi berita buruk karena mencerminkan bahwa pasar tenaga masih ketat, sehingga meningkatkan potensi The Fed untuk kembali agresif untuk meredam inflasi hingga mencapai targetnya di 2%.

Dari kabar korporasi di Asia-Pasifik, saham pembuat chip Korea Selatan, Samsung Electronics mengumumkan penurunan laba operasinya hingga 31,7% pada kuartal III-2022, dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu. Hal ini karena melambatnya permintaan semikonduktor.

Laba operasional turun menjadi 10,8 triliun won Korea (US$ 7,65 miliar), dari sebelumnya sebesar 15,8 triliun won pada kuartal III-2021. Hal ini menjadi penurunan pertama dalam laba kuartalan sejak kuartal keempat 2019.

Namun, penjualan masih naik menjadi 77 triliun won Korea pada kuartal III-2022, dari sebelumnya sebesar 73,98 triliun won pada periode yang sama tahun lalu. Saham Samsung Electronics pun ambles 1,95% setelah dirilisnya kinerja keuangan pada kuartal III-2022.

Equity World | Reli 2 Hari Terhenti, Wall Street Terseret Data Tenaga Kerja AS

Equity World | Reli 2 Hari Terhenti, Wall Street Terseret Data Tenaga Kerja AS

Equity World | Wall Street ditutup lebih rendah pada hari Rabu (5/10), tidak dapat mempertahankan lonjakannya. Setelah data ekonomi terbaru menunjukkan permintaan tenaga kerja Amerika Serikat (AS) yang kuat lagi menyarankan Federal Reserve mempertahankan suku bunga lebih tinggi lebih lama.

Equity World | Reli 2 Hari Terhenti, Wall Street Terseret Data Tenaga Kerja AS

Melansir Reuters, Dow Jones Industrial Average turun 42,45 poin atau 0,14% menjadi 30.273,87, S&P 500 kehilangan 7,65 poin atau 0,20% menjadi 3.783,28, dan Nasdaq Composite turun 27,77 poin atau 0,25% menjadi 11.148,64.

Pejabat The Fed bersikeras pada pengetatan suku bunga agresif untuk memerangi inflasi. Sebuah pesan yang dikhawatirkan pasar akan mengarah pada hard landing dan kemungkinan resesi.

Namun, investor juga mencari penawaran di pasar yang tampak oversold. Rasio harga terhadap pendapatan ke depan berada di 15,9, mendekati rata-rata historisnya, turun dari sekitar 22 sebelum penurunan besar pasar tahun ini.

“Dengan melawan, bagi saya itu adalah indikator yang menguntungkan bahwa reli ini bisa berjalan,” kata Sam Stovall, kepala analis investasi CFRA Research di New York.

“Itu juga menegaskan bahwa investor percaya, pedagang percaya, bahwa masih ada lagi yang akan terjadi dalam reli ini,” katanya.

ADP National Employment melaporkan, pengusaha swasta AS meningkatkan perekrutan pada bulan September. Data ini menunjukkan kenaikan suku bunga dan kondisi keuangan yang lebih ketat belum mengekang permintaan tenaga kerja karena The Fed memerangi inflasi yang tinggi.

Indeks ketenagakerjaan industri jasa Institute for Supply Management melonjak dalam tanda lain tenaga kerja tetap kuat karena industri secara keseluruhan melambat moderat pada bulan September.

The Fed diperkirakan akan memberikan kenaikan suku bunga 75 basis poin keempat berturut-turut pada bertemu 1-2 November, menurut alat FedWatch CME.

Presiden Fed San Francisco Mary Daly mengatakan kepada Bloomberg TV dalam sebuah wawancara bahwa inflasi bermasalah dan bank sentral AS akan tetap berada di jalurnya.

“Jalannya jelas: kami akan menaikkan tarif ke wilayah yang membatasi, lalu menahannya di sana untuk sementara waktu,” katanya. “Kami berkomitmen untuk menurunkan inflasi, tetap berada di jalur sampai kami benar-benar selesai.”

Sebelumnya, Indeks S&P 500 naik 5,7% pada hari Senin dan Selasa karena imbal hasil US Treasury turun tajam karena data ekonomi AS yang lebih lemah, perubahan haluan Inggris pada usulan pemotongan pajak yang telah mengguncang pasar, dan kenaikan suku bunga Australia yang lebih kecil dari perkiraan.

Lalu, imbal hasil US treasury melonjak lagi pada hari Rabu setelah data ekonomi yang lebih lemah gagal untuk meningkatkan harapan yang mulai tumbuh The Fed mungkin berputar ke sikap kebijakan yang kurang hawkish.

Equity World | Reli Harga Emas Lanjut, Kini Catat Kenaikan Tertinggi 3 Minggu

Equity World | Reli Harga Emas Lanjut, Kini Catat Kenaikan Tertinggi 3 Minggu

Equity World | Harga emas naik lebih dari 1 persen ke puncak tiga minggu pada hari Selasa. Ini karena dolar dan imbal hasil Treasury AS turun, dengan investor berharap Federal Reserve AS dapat mengadopsi pendekatan yang kurang agresif untuk kenaikan suku bunga.

Equity World | Bursa Asia Menghijau, Mengikuti Jejak Wall Street Reli untuk Hari ke-2

Dikutip dari CNBC, Rabu (5/10/2022), harga emas di pasar spot naik 1,57 persen menjadi USD 1.725,87 per ounce, tertinggi sejak 13 September.

Sementara untuk harga emas berjangka AS naik 1, persen menjadi USD 1.734,80.

Patokan imbal hasil Treasury AS 10-tahun mereda. Sementara dolar AS memperpanjang penurunannya, membuat emas lebih murah bagi pemegang mata uang lainnya.

“Pasar adalah semacam penetapan harga di mana Fed akan mundur sedikit di sini dan itulah mengapa Anda melihat pergerakan ini kembali naik dalam emas dan perak,” kata Bob Haberkorn, ahli strategi pasar senior di RJO Futures.

Ke depan, data non-farm payrolls AS yang akan dirilis pada hari Jumat dapat menawarkan lebih banyak kejelasan tentang pengetatan kebijakan Fed.

“Jika data pekerjaan keluar lebih lemah dari perkiraan, emas akan reli. Jika keluar lebih kuat, pasar mungkin menafsirkan itu juga, The Fed dapat terus melanjutkan di sini dengan suku bunga, ”tambah Haberkorn.

Harga emas mencatatkan persentase kenaikan harian terbesar sejak Maret pada hari Senin. Namun, kenaikan suku bunga AS meningkatkan biaya peluang memegang emas batangan dengan hasil nol.

“Emas belum keluar dari masalah, tapi setidaknya kita telah melihat rebound yang sangat kuat. Langkah pertama didorong oleh short covering,” kata Ole Hansen, kepala strategi komoditas di Saxo Bank.

Bank pemasok emas telah mengurangi pengiriman ke India menjelang festival besar demi fokus pada China, Turki, dan pasar lain di mana premi yang lebih baik ditawarkan, tiga pejabat bank dan dua operator brankas mengatakan kepada Reuters.

Harga emas dalam dua minggu ke depan akan sangat penting. Semua mata tertuju pada putaran terbaru data ketenagakerjaan dan inflasi, karena emas menunjukkan tanda-tanda yang menjanjikan di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik dan mengintensifkan volatilitas pasar.

Ahli strategi pasar senior RJO Futures Frank Cholly, mengatakan harga emas dunia mengalami perkembangan penting pertengahan minggu ini karena harga naik dari posisi terendah 2,5 tahun dan menuju level USD 1.700 per ons.

Pekan lalu, berjangka Comex Desember diperdagangkan pada USD 1,673.70, naik lebih dari 1 persen tetapi turun untuk bulan keenam berturut-turut.

“Pada hari Rabu pekan lalu, emas mengalami pembalikan utama. Kami membuat ayunan baru dari posisi terendah dan berakhir dengan penutupan yang lebih tinggi. Kami memiliki beberapa tindak lanjut Kamis dan Jumat. Melihat grafik emas, ini sangat positif. Kami beralih dari tren jangka pendek turun ke samping dan naik sekarang,” kata Cholly.

Menurutnya, jika pasar emas dapat kembali di atas USD 1.700, tren naik akan tercapai, dan kemungkinan mencapai USD 1.740 per once. Sebelum minggu ini, emas sangat negatif, terutama setelah penurunan di bawah USD 1.680.

Sementara, menurut ahli strategi DailyFX Michael Boutros, menyebut penurunan yang lebih tajam di bawah USD 1.600 bisa membuka pintu untuk aksi jual yang lebih signifikan ke USD 1.290 per once.

“Secara teknis sangat suram di sini. Jika harga emas bisa naik di atas USD 1.706, kita bisa menghilangkan penembusan turun ini. Tapi langkah yang lebih tinggi perlu terjadi dalam dua minggu ke depan. Jika tidak, tren turun akan mengambil alih. Apa yang terjadi dalam dua minggu ke depan dalam harga adalah yang terpenting. Kecepatan dan besarnya kenaikan suku bunga Fed yang luar biasa memberi tekanan berat pada emas,” kata Boutros.

Ketegangan geopolitik bisa menjadi salah satu pendorong jangka pendek yang membuat emas di atas USD 1.700.

Perkembangan terakhir melihat Rusia mencaplok empat wilayah di tenggara Ukraina, berjanji untuk menggunakan segala cara yang diperlukan untuk mempertahankan wilayah tersebut.

“Jika eskalasi di Rusia mulai meningkatkan kekhawatiran tentang kemungkinan ancaman nuklir nyata, itu akan positif untuk emas. Namun, penting untuk diingat bahwa setiap kenaikan geopolitik dalam emas kemungkinan hanya sementara,” kata kepala strategi komoditas global TD Securities Bart Melek.

Melek mengatakan, setiap kali ada peningkatan risiko geopolitik, setidaknya ada kenaikan sementara. Tetapi mengingat situasi kebijakan moneter, akan sulit untuk mengubah tren bearish emas secara keseluruhan.

Pada akhirnya, dolar AS terus menguat. Prospeknya tidak berubah. The Fed akan terus menaikkan suku bunga.

Design a site like this with WordPress.com
Get started