Equity World | Prediksi Harga Emas Dunia Pekan Ini, Siap-Siap Anjlok?

Equity World | Prediksi Harga Emas Dunia Pekan Ini, Siap-Siap Anjlok?

Equity World | Jakarta Setelah mencapai level tertinggi USD 2.055 per ons pada pekan lalu, penguatan kurs dolar Amerika Serikat (AS) membuat harga emas dunia terbebani. Hal ini memaksa logam mulia tersebut untuk mengakhiri minggu lalu ke level yang lebih rendah .

Equity World | Laju Bursa Wall Street Bakal Tertahan Pelemahan Perbankan AS

Analis menunjukkan perbedaan dalam ekspektasi suku bunga Bank Sentral AS, Federal Reserve (The Fed) sebagai kebisingan tambahan di dalam perdagangan emas.

“Minggu lalu adalah tentang dolar, yang telah mengalami reli signifikan, menghilangkan sebagian daya tarik emas,” kata Analis Pasar Senior OANDA Edward Moya dikutip dari Kitco, Senin (15/5/2023)

Kepala Strategi Komoditas Global TD Securities, Bart Melek menyatakan, ada juga kesenjangan yang melebar antara ekspektasi pasar dan apa yang dikatakan dot plot Fed.

“Bahkan jika Fed lebih dovish daripada sekarang, ada risiko bahwa pasar mungkin harus mendekati titik tersebut. Itulah harga emas di sini,” kata Melek kepada Kitco News.
Potensi Kenaikan Suku Bunga The Fed

Narasi yang saling bertentangan sedang berkembang antara The Fed yang menandakan jeda pada bulan Juni dan beberapa pejabat Fed menyerukan kenaikan suku bunga lebih banyak.

“Dan jika inflasi inti masih di atas 5 persen di pertengahan atau akhir musim panas, Anda tidak perlu heran jika Fed jauh lebih hawkish,” kata Moya

Artinya jalan bagi harga emas untuk menuju rekor tertinggi akan lebih kompleks daripada yang diyakini beberapa orang.

“Saya masih bullish tapi tidak seagresif. Saya ragu ketika orang bertaruh terhadap dolar, jangan heran pergerakan lebih tinggi bertahan sedikit lebih lama. Ini bisa mengganggu emas. Tapi latar belakang makro bagus. Kami masih melihat resesi di paruh kedua tahun ini atau awal 2024,” kata Moya.

Equity World | Bursa Asia Dibuka Memerah Lagi, Kecuali Nikkei-Hang Seng

Equity World | Bursa Asia Dibuka Memerah Lagi, Kecuali Nikkei-Hang Seng

Equity World | Mayoritas bursa Asia-Pasifik dibuka melemah pada perdagangan Jumat (12/5/2023), setelah Amerika Serikat (AS) mencatatkan lebih banyak data yang menunjukkan inflasi makin mereda meski untuk mencapai target 2% masih cukup jauh.

Equity World | Bursa Saham Asia Beragam Usai Rilis Data Ekonomi AS

Per pukul 08:30 WIB, indeks Nikkei 225 Jepang menguat 0,78% dan Hang Seng Hong Kong bertambah 0,26%.

Sedangkan untuk indeks Shanghai Composite China melemah 0,21%, Straits Times Singapura terkoreksi 0,67%, ASX 200 Australia turun tipis 0,06%, dan KOSPI Korea Selatan terdepresiasi 0,55%.

Inflasi China yang terbilang rendah masih akan menjadi perhatian pasar di Asia-Pasifik pada hari ini dan mereka khawatir bahwa negara raksasa ekonomi kedua di dunia ini bisa mengalami “lost decade” atau “dasawarsa yang hilang” seperti Jepang 30 tahun yang lalu.

Sebelumnya kemarin, data dari pemerintah China menunjukkan inflasi pada bulan lalu turun ke 0,1% (year-on-year/yoy), dibandingkan periode sebelumnya yang masih tumbuh 0,7% (yoy) dan ekspektasi pasar pada survei Reuters di 0,4% (yoy).

Rendahnya inflasi terjadi meski bank sentral China (People’s Bank of China/PBoC) memangkas suku bunganya dan menyuntikkan likuiditas ke perekonomian.

Inflasi tinggi bisa menggerus daya beli masyarakat, sebaliknya inflasi yang rendah bisa berarti daya beli masyarakat lemah atau masyarakat enggan berbelanja dan memilih saving. Sehingga, tingkat inflasi yang tepat, bisa merupakan indikator kesehatan dan pertumbuhan ekonomi.

Masyarakat China lebih memilih untuk menahan belanja. Artinya, masyarakat China masih belum optimistis terhadap kondisi perekonomian.

Bursa Asia-Pasifik yang cenderung melemah terjadi di tengah masih cenderung lesunya bursa saham AS, Wall Street kemarin, meski inflasi terus melandai.

Indeks Dow Jones Industrial Average (DJIA) ditutup melemah 0,66% dan S&P 500 turun 0,17%. Namun untuk indeks Nasdaq Composite berakhir naik 0,18%.

Beberapa data ekonomi yang dirilis kemarin mempengaruhi pergerakan kiblat bursa saham dunia ini. Indeks harga produsen (IHP) dilaporkan tumbuh 0,2% pada April dari bulan sebelumnya. Rilis tersebut lebih rendah dari ekspektasi Dow Jones sebesar 0,3%.

Secara tahunan (year-on-year/yoy), IHP Negeri Paman Sam tumbuh 4,9%, juga lebih rendah dari ekspektasi.

Selain itu klaim tunjangan pengangguran bertambah sebanyak 246.000 orang dalam sepekan yang berakhir 6 Mei, bertambah 22.000 orang dari pekan sebelumnya. Kenaikan ini merupakan yang tertinggi sejak akhir Oktober 2021.

“Wall Street tidak terkejut dengan data inflasi produsen dan klaim tunjangan pengangguran. Indeks harga produsen diperkirakan terus menurun setelah rantai pasokan mulai normal kembali, sementara kenaikan tingkat pengangguran menunjukkan bukti pasar tenaga kerja mulai melemah,” kata Edward Moya, analis pasar senior di Oanda, sebagaimana dilansir CNBC International.

Meski data-data terbaru kembali meredupkan ekspektasi kenaikan suku bunga pada bulan depan, Wall Street masih belum mampu menguat.

Likuiditas di Amerika Serikat memang terus mengetat setelah bank sentral AS (Federal Reserve/The Fed) menaikkan suku bunga hingga 500 basis poin (bp) menjadi 5% – 5,25%.

Seperti diketahui, semakin ketat likuiditas maka semakin kurang mendukung bursa saham.

Equity World | Harga Emas Hari Ini Melempem Gara-gara Aksi Ambil Untung

Equity World | Harga Emas Hari Ini Melempem Gara-gara Aksi Ambil Untung

Equity World | Jakarta Harga logam mulia yang kerap dijadikan investasi oleh masyarakat kembali kehilangan kemilaunya. Harga emas hari ini di pasar global melemah dipicu optimisme suku bunga Federal Reserve tahun ini memudar setelah laporan inflasi AS, memicu aksi ambil untung di antara beberapa investor.

Equity World | Yaaah Penonton Kecewa, Harga Emas pun Merana….

Melansir laman financial post yang melansir Reuters, Kamis (11/5/2023), menyebutkan, harga emas di pasar spot turun 0,2 persen menjadi USD 2.030,70 per ons. Sementara harga emas berjangka AS menetap 0,3 persen lebih rendah menjadi USD 2.037,10.

“Masih ada risiko Fed harus mempertahankan suku bunga lebih tinggi untuk waktu yang lebih lama… Emas akan membutuhkan lebih banyak penurunan suku bunga untuk dihargai secara agresif agar dapat melanjutkan relinya,” kata Edward Moya, Analis Pasar senior di OANDA.

Harga emas dunia naik sebanyak 0,7 persen setelah data menunjukkan Indeks Harga Konsumen (CPI) AS naik 4,9 persen pada April dari tahun sebelumnya, meski angka ini lebih rendah dari ekspektasi kenaikan 5 persen, sebelum berbalik negatif. CPI bulan ke bulan di bulan April naik 0,4 persen setelah naik 0,1 persen di bulan Maret.

Data tersebut mengganggu momentum adannya kenaikan suku bunga ke-11 berturut-turut pada bulan Juni, dengan sebagian besar kontrak berjangka terkait dengan taruhan suku bunga Fed pada jeda.

“Tetapi harga emas mungkin akan berjuang dalam jangka pendek seiring inflasi inti yang tidak berubah dari bulan lalu dan jauh di atas target Fed,” kata Ole Hansen, Kepala Strategi Komoditas di Saxo Bank.

Sementara emas dianggap sebagai lindung nilai terhadap inflasi, kenaikan suku bunga menumpulkan daya tarik bullion yang tidak memberikan imbal hasil.

Equity World | IHSG Ditutup Lunglai ke Posisi 6.769 Usai 241 Saham Layu

Equity World | IHSG Ditutup Lunglai ke Posisi 6.769 Usai 241 Saham Layu

Equity World | Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup di level 6.769 pada Senin (8/5). Indeks saham melemah 18 poin atau minus 0,27 persen dari perdagangan sebelumnya.

Equity World | Cerah Lagi, Harga Emas Dunia Kembali Naik ke USD 2.021,37 per Ons.

Mengutip RTI Infokom, investor melakukan transaksi sebesar Rp11,3 triliun dengan jumlah saham yang diperdagangkan sebanyak 23,92 miliar saham.

Pada penutupan kali ini, 304 saham menguat, 240 terkoreksi, dan 187 lainnya stagnan. Terpantau, dua dari 11 indeks sektoral melemah dipimpin sektor kesehatan, yakni minus 0,5 persen.

Beralih ke bursa asing, bursa saham Asia bergerak bergerak bervariasi. Tercatat Nikkei 225 di Jepang melemah 0,71 persen, indeks Hang Seng Composite di Hong Kong menguat 1,24 persen, dan indeks Kospi Korea Selatan menguat 0,49 persen.

Sementara, bursa saham Eropa kompak bergerak di zona hijau. Terpantau indeks FTSE 100 di Inggris menguat 0,98 persen, indeks DAX di Jerman 0,07 persen, dan indeks CAC 40 di Prancis 0,15 persen.

Seperti Eropa. bursa Amerika juga kompak menguat. Indeks S&P 500 menguat 1,85 persen, indeks NYSE Composite 1,74 persen, dan indeks NASDAQ Composite 2,25 persen.

Equity World | Awal Pekan Bursa Jepang Jeblok, China & Hong Kong Melesat

Equity World | Awal Pekan Bursa Jepang Jeblok, China & Hong Kong Melesat

Equity World | Bursa Asia-Pasifik dibuka beragam pada perdagangan Senin (6/5/2023). Per pukul 08:30 WIB, indeks Nikkei 225 Jepang melemah 0,5%, dan Straits Times Singapura terpangkas 0,25%.

Equity World | Bursa Saham Asia Bervariasi Tersengat Lonjakan Wall Street

Sementara Hang Seng Hong Kong menguat 0,84%, Shanghai Composite China naik 0,35%, dan KOSPI Korea Selatan terapresiasi 0,72%.

Dari Jepang investor mencermati data PMI yang dirilis oleh Jibun Bank di mana hasilnya aktivitas manufaktur Negeri Sakura tersebut stagnan. Sementara investor juga menanti hasil neraca dagang China yang diprakirakan akan turun menjadi US$74,3 miliar dari sebelumnya US$88,19 miliar, menurut konsensus Tradingeconomics.

Saat ini pelaku pasar di Asia-Pasifik juga cenderung khawatir dengan krisis perbankan di AS yang dapat makin meluas jika tidak ada penanganan yang lebih komprehensif dari pemerintah AS.

Hal ini terjadi setelah bank regional AS yakni PacWest berencana karena perusahaan berencana untuk menjual asetnya, meski saat ini mereka tengah mempertimbangkan opsi strategis.

Saham PacWest Bancorp anjlok hingga 51%, Alhasil, saham perbankan regional di AS kembali terpukul karena kekhawatiran investor akan memburuknya krisis perbankan.
Di lain sisi, investor juga masih cenderung kecewa dengan pernyataan bank sentral AS (Federal Reserve/The Fed) yang belum akan segera melunak dengan memangkas suku bunga.

Sebelumnya pada Kamis dini hari waktu Indonesia, The Fed memutuskan untuk kembali menaikkan suku bunga acuannya sebesar 25 basis poin (bp), sesuai dengan ekspektasi pasar.

Dengan ini, maka The Fed telah menaikkan suku bunga acuannya sebanyak sepuluh kali dan dilakukan secara beruntun sejak Maret tahun lalu demi menjinakkan inflasi yang sudah melambung cukup tinggi.

Bahkan, suku bunga The Fed saat ini menjadi yang tertinggi sejak 2006 atau 12 tahun terakhir.

The Fed mengatakan bahwa masih terlalu dini menganggap siklus kenaikan suku bunga telah berakhir, sehingga dalam waktu dekat mereka tidak akan memangkas suku bunga acuannya. Tetapi, Chairman The Fed, Jerome Powell mengisyaratkan akan mengakhiri kenaikan suku bunga.

“Kami di komite berpandangan bahwa inflasi tidak akan turun secepat itu. Ini akan memakan waktu, jika ramalan itu benar. Tetapi dalam waktu dekat kami tidak akan memangkas suku bunga,” ujar Powell.

Equity World | Bursa Asia Bergerak Mixed Pada Perdagangan Jumat (5/5) Pagi

Equity World | Bursa Asia Bergerak Mixed Pada Perdagangan Jumat (5/5) Pagi

Equity World | Bursa Asia bergerak variasi pada perdagangan Jumat (5/5) pagi. Pukul 08.19 WIB, indeks Hang Seng naik 112,27 poin atau 0,56% ke 18.701,18, Taiex naik 35,57 poin atau 0,86% ke 6,776,30, ASX 200 turun 2,91 poin atau 0,04% ke 7.190,20, Straits Times turun 0,49 poin atau 0,01% ke 3.268,01 dan FTSE Malaysia turun 3,83 poin atau 0,27% ke 1.442,71.

Equity World | Wall Street Masih Tertekan Akibat Krisis Bank yang Lebih Dalam

Pergerakan bursa Asia dibayangi pelemahan Wall Street yang dipicu oleh turunnya saham bank regional.

Selain itu, kekhawatiran akan krisis keuangan yang lebih parah meningkatkan taruhan para pedagang tentang pemangkasan suku bunga oleh The Fed.

Saham Australia turun, sementara pasar Jepang masih tutup.

Mengutip Bloomberg, industri keuangan terpukul oleh sejumlah bank AS termasuk Western Alliance Bancorp, PacWest Bancorp dan First Horizon Corp yang tengah menghadapi masalah.

Sementara penyelidikan terhadap peran Goldman Sachs Group inc dalam kepelatana Silicon Valley Bank juga membebani sentimen.

Saham ANZ Group Holding Ltd naik di awal perdagangan, setelah laba semester eprtamanya sesuai ekspektasi analis.

“Kami berhati-hati pada bank di seluruh wilayah,” kata Jonatan Garner, Chief Asia and Emerging Market Strategist untuk Morgan Stanley.

“Ketika kita melihat Australia, kenaikan lebih lanjut dari RBA tidak diharapkan oleh pasar dan kita memiliki perekonomian yang secara inheren diungkit dari sisi konsumen. Ini menimbulkan masalah tentang kualitas kredit perbankan ke depan.”

Equity World | Cemas Menanti Pengumuman the Fed dan Batas Utang AS, Wall Street Anjlok 1%

Equity World | Cemas Menanti Pengumuman the Fed dan Batas Utang AS, Wall Street Anjlok 1%

Equity World | Wall Street turun tajam pada hari Selasa (2/5/2023) karena investor semakin khawatir bahwa gejolak di sektor perbankan belum terkendali, dan menjelang rapat Federal Reserve.

Equity World | Asia Bergerak Mixed pada Perdagangan Mode Liburan

Dow Jones jatuh 1,08% ke 33.684,53. S&P 500 yang mencakup berbagai sektor melemah 1,16% ke 4.119,58 dan Nasdaq yang penuh dengan perusahaan teknologi turun 1,08% ke 12.080,51.

Saham PacWest Bancorp turun sekitar 26,5%, mengurangi kerugian sebelumnya. Western Alliance Bank turun sekitar 20,4% dan New York Community Bancorp turun sekitar 7%. SPDR S&P Regional Banking ETF, yang melacak sejumlah bank menengah, turun sekitar 7%.

Bank-bank besar pun tak luput dari penurunan. Wells Fargo turun 4,7%, Citigroup turun 3,1% dan Bank of America turun 3,9%.

Saham JPMorgan Chase turun 1,7% setelah mencatat kenaikan 2,1% pada hari Senin, menyusul pembelian sebagian besar aset First Republic Bank.

Meskipun CEO Jamie Dimon menjamin pemegang saham hari Senin bahwa kerusuhan di sektor perbankan telah terkendali, investor tetap terlihat cemas. Bersama dengan pengumuman kenaikan suku bunga Fed yang dijadwalkan pada hari Rabu, dan ketakutan tentang batas utang Pemerintah AS, itu menciptakan badai kekhawatiran di Wall Street.

Menteri Keuangan Amerika Serikat Janet Yellen pada Senin (1/5/2023) memperingatkan bahwa AS mungkin kehabisan uang untuk membayar utang pada tanggal 1 Juni, lebih awal dari perkiraan pemerintah dan Wall Street.

Berdasarkan data bulanan yang dirilis pada hari Selasa oleh Biro Statistik Tenaga Kerja, lapangan kerja yang tersedia mencapai 9,59 juta pada bulan Maret. Angka tersebut turun dari yang sebelumnya direvisi ke atas yaitu 9,974 juta yang dilaporkan pada bulan Februari dan mewakili bulan ketiga berturut-turut penurunan jumlah lapangan kerja yang tersedia.

Menurut perkiraan konsensus pada Refinitiv, para ekonom mengharapkan adanya 9,775 juta lowongan kerja yang tersedia.

Equity World | Harga Emas Tertekan Penguatan Kurs Dolar AS di Awal Mei

Equity World | Harga Emas Tertekan Penguatan Kurs Dolar AS di Awal Mei

Equity World | JAKARTA. Harga emas melemah pada hari Senin (1/5) karena penguatan dolar Amerika Serikat (AS). Para pelaku pasar berhati-hati menunggu keputusan kenaikan suku bunga Federal Reserve pada rapat yang digelar 2-3 Mei 2023 esok.

Equity World | Harga Emas Terkoreksi, Investor Menimbang Keputusan Penyelamatan First Republic Bank

Senin(1/5) pukul 14.59 WIB, harga emas spot turun 0,5% menjadi US$ 1.980,78 per ons troi. Sedangkan harga emas berjangka AS turun 0,5% menjadi US$ 1.989,20 per ons troi.

Indeks dolar yang mencerminkan nilai tukar dolar AS terhadap mata uang utama dunia menguat 0,2%. Penguatan nilai tukar dolar AS membuat emas batangan dengan harga greenback lebih mahal untuk pembeli yang memegang mata uang lain.

Komite Pasar Terbuka Federal atawa Federal Open Market Committee (FOMC) akan bertemu pada 2-3 Mei. Sebagian besar investor memperkirakan kenaikan suku bunga 25 basis poin.

“Jika Fed secara tak terduga hawkish, maka itu bukan pertanda baik untuk emas. Namun, saya tidak berpikir harga akan jatuh di bawah level US$ 1.930,” kata Ilya Spivak, kepala makro global di Tastylive kepada Reuters.

Data pada hari Jumat menyoroti bahwa belanja konsumen AS tidak berubah pada bulan Maret. Sementara tekanan inflasi yang mendasari tetap kuat. Hal ini dapat membuat bank sentral AS menaikkan suku bunga.

Emas dikenal sebagai lindung nilai inflasi. Tetapi kenaikan suku bunga cenderung menumpulkan daya tarik aset dengan imbal hasil nol.

Harga emas naik lebih dari 1% pada bulan April karena kekhawatiran baru atas gejolak di sektor perbankan AS meningkatkan daya tarik safe-haven bagi investor.

“Jika kita melihat penurunan yang berarti dalam data ekonomi AS yang memperluas ekspektasi penurunan suku bunga untuk paruh tahun ini, maka harga emas bisa naik di atas angka $2.000,” tambah Spivak.

Sementara itu JPMorgan Chase & Co mengatakan bahwa pihaknya telah mengakuisisi sebagian besar aset dan menanggung kewajiban tertentu dari First Republic Bank.

Aktivitas manufaktur China secara tak terduga menyusut pada bulan April. Kontraksi aktivitas manufaktur meningkatkan tekanan pada pembuat kebijakan yang berusaha untuk meningkatkan ekonomi yang berjuang untuk lepas landas pasca-Covid.

Di antara logam mulia lainnya, harga perak spot naik 0,3% menjadi US$ 25,11 per ons troi. Harga platinum turun 0,6% menjadi US$ 1.067,41. Harga paladium turun 0,4% menjadi US$ 1.494,88.

Banyak pasar Asia dan Eropa tutup pada hari Senin untuk liburan May Day.

Equity World | Data Ekonomi AS Bikin Harga Emas Dunia Cling!

Equity World | Data Ekonomi AS Bikin Harga Emas Dunia Cling!

Equity World | Harga emas dunia sedikit lebih tinggi pada akhir perdagangan Kamis (Jumat pagi WIB), berbalik menguat dari penurunan sehari sebelumnya meski masih bercokol di bawah level psikologis USD2.000. Ini karena data ekonomi AS yang lebih rendah dari perkiraan mendorong permintaan safe-haven terhadap logam kuning.

Equity World | Wall Street Dibuka Naik Terkerek Sentimen Meta pada Kamis (27/4)

Dikutip dari Antara, Jumat, 28 April 2023, kontrak emas paling aktif untuk pengiriman Juni di Divisi Comex New York Exchange, terkerek USD3 atau 0,15 persen menjadi USD1.999 per ounce, setelah menyentuh level tertinggi sesi di USD2.013,30 dan terendah di USD1.982.

PDB AS tumbuh

Departemen Perdagangan AS melaporkan produk domestik bruto (PDB) AS tumbuh pada tingkat tahunan 1,1 persen pada kuartal pertama 2023, turun dari tingkat pertumbuhan 2,6 persen dalam tiga bulan terakhir 2022 dan juga lebih rendah dari perkiraan 2,00 persen oleh para ekonom.

Data yang lebih rendah dari perkiraan menimbulkan kekhawatiran tentang potensi resesi ekonomi. Dolar AS menguat setelah rilis data yang menghambat kenaikan emas lebih lanjut.

Klaim pengangguran dan perumahan

Departemen Tenaga Kerja AS melaporkan bahwa klaim pengangguran awal AS mencapai 230 ribu dalam pekan yang berakhir 22 April, turun 16 ribu dari minggu sebelumnya.

National Association of Realtors (NAR) melaporkan indeks penjualan rumah tertunda AS, indikator utama penjualan rumah berdasarkan penandatanganan kontrak, turun 5,2 persen menjadi 78,9 pada Maret, penurunan pertama kali dalam empat bulan. Para ekonom memperkirakan indeks naik 0,5 persen.

Sementara itu, pertemuan kebijakan Federal Reserve dijadwalkan minggu depan. Namun terlepas dari tanda-tanda pertumbuhan yang lambat, beberapa pejabat Fed menyerukan kenaikan suku bunga lagi tahun ini, terutama karena inflasi tetap jauh di atas kisaran target bank sentral.

Skenario seperti itu menjadi pertanda buruk bagi emas dan logam lainnya, mengingat hal itu mendorong peluang kerugian memegang aset yang tidak memberikan imbal hasil. Logam mulia lainnya, perak untuk pengiriman Juli naik 13,80 sen atau 0,55 persen menjadi USD25,209 per ounce. Platinum untuk pengiriman Juli merosot USD12,80 atau 1,16 persen menjadi USD1.093,20 per ounce.

Equity World | Wall Street Begerak 2 Arah, Indeks Nasdaq Naik 55 Poin

Equity World | Wall Street Begerak 2 Arah, Indeks Nasdaq Naik 55 Poin

Equity World | Wall Street ditutup dua arah pada perdagangan Rabu (26/4/2023) waktu setempat. Bursa Saham AS bergerak mixed dengan indeks Nasdaq menguat didorong saham teknologi.

Equity World | Kinerja Microsoft Cemerlang, Wall Street Ikut Terbang

Mengutip Reuters, Kamis (27/4/2023), indeks Dow Jones Industrial Average (.DJI) turun 228,96 poin, atau 0,68%, menjadi 33.301,87, S&P 500 (.SPX) kehilangan 15,64 poin, atau 0,38%, menjadi 4.055,99 dan Nasdaq Composite (.IXIC) naik 55,19 poin, atau 0,47% menjadi 11.584,35.

Saham teknologi (.SPLRCT) melonjak 1,7%, membantu Nasdaq membukukan kenaikan 0,5%, sedangkan S&P 500 dan Dow Jones ditarik lebih rendah oleh pelemahan di sektor yang sensitif secara ekonomi seperti industri (.SPLRCI) dan transportasi (.DJT), mengisyaratkan meningkatnya kegelisahan resesi.

Indeks Dow Transports, yang secara luas dipandang sebagai barometer kesehatan ekonomi, mencatat penurunan terbesar dalam dua hari dalam sekitar 11 bulan.

“Pasar cukup sepi dari sudut pandang berita; data pagi ini tidak terlalu berdampak,” kata Sal Bruno, kepala investasi di IndexIQ di New York. “(Resesi) masih di luar sana sebagai risiko yang cukup signifikan, tetapi sulit menentukan waktunya.”

Penghasilan optimis dari Microsoft (MSFT.O), Alphabet Inc (GOOGL.O) dan Boeing Co (BA.N) mengambil pukulan dari beberapa data ekonomi yang mengecewakan, yang menunjukkan pelemahan pengeluaran perusahaan pada barang modal inti.

“Sebagian besar perusahaan mengalahkan perkiraan, tetapi standar itu telah ditetapkan cukup rendah,” tambah Bruno. “Tetapi banyak (perusahaan) juga berbicara tentang ekspektasi ke depan tentang potensi resesi yang terjadi di paruh tahun 2023.”

Perselisihan kongres yang sedang berlangsung tentang menaikkan plafon utang federal juga menambah kecemasan investor.

“Batas utang mewakili potensi peristiwa risiko yang akan berdampak negatif bagi pasar modal,” kata Bill Northey, direktur investasi senior di U.S. Bancorp di Helena, Montana.

Saham Eropa ditutup lebih rendah, terseret oleh saham perawatan kesehatan setelah Uni Eropa menerbitkan usulan perbaikan industri farmasi UE yang banyak diantisipasi.

Design a site like this with WordPress.com
Get started