Equityworld Futures | Harga Minyak Naik Tipis Rabu (1/4) Pagi, Brent Kembali Reli Usai Rekor Kenaikan Maret

Equityworld Futures | Harga Minyak Naik Tipis Rabu (1/4) Pagi, Brent Kembali Reli Usai Rekor Kenaikan Maret

Equityworld Futures | Harga minyak dunia kembali menguat pada awal perdagangan Rabu (1/4/2026), dengan kontrak Brent front-month melanjutkan reli setelah mencatat kenaikan bulanan tertinggi sepanjang sejarah pada Maret.

Equityworld Futures | Prakiraan Harga Emas: Pembeli XAU/USD tetap dibatasi di bawah $4.600

Melansir Reuters, kontrak Brent untuk pengiriman Juni naik 66 sen atau 0,63% ke level US$104,63 per barel pada pukul 00.10 GMT.

Berdasarkan data LSEG, Brent mencatat lonjakan hingga 64% sepanjang Maret, kenaikan bulanan terbesar sejak pencatatan dimulai pada 1988.

Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) untuk Mei naik 96 sen atau 0,95% ke US$102,34 per barel. Kontrak WTI Juni juga menguat 0,49% ke level US$93,62 per barel.

Kenaikan harga terjadi di tengah volatilitas tinggi di Timur Tengah. Meski ada sinyal diplomasi antara Amerika Serikat dan Iran untuk mengakhiri konflik, risiko gangguan pasokan masih membayangi pasar.

Analis LSEG menilai, kombinasi terbatasnya kemajuan diplomasi, serangan terhadap jalur pelayaran, serta ancaman terhadap infrastruktur energi membuat risiko pasokan tetap condong ke arah kenaikan harga.

Harga minyak sempat melemah lebih dari US$3 pada perdagangan Selasa setelah muncul laporan yang belum terkonfirmasi bahwa Iran siap mengakhiri perang.

Presiden AS Donald Trump juga menyebut konflik bisa berakhir dalam dua hingga tiga pekan.

Namun, analis menilai meskipun konflik mereda, kerusakan infrastruktur energi berpotensi membuat pasokan tetap ketat dalam jangka pendek.

Selain itu, Trump mengindikasikan perang bisa dihentikan sebelum Selat Hormuz dibuka kembali. Kondisi ini memperbesar ketidakpastian pasar energi.

Di sisi lain, survei Reuters menunjukkan produksi minyak OPEC turun 7,3 juta barel per hari pada Maret akibat gangguan ekspor terkait penutupan Selat Hormuz.

Sejalan dengan itu, proyeksi harga minyak global juga direvisi naik tajam. Survei ekonom Reuters memperkirakan harga Brent rata-rata mencapai US$82,85 per barel pada 2026, melonjak sekitar 30% dibanding proyeksi Februari sebesar US$63,85—kenaikan tahunan terbesar sejak data dikumpulkan pada 2005.

Profil Perusahaan

Ilustrasi Transaksi

Legalitas Bisnis

Hubungi Kami

Equityworld Futures | Wall Street Terkoreksi, Gejolak Timur Tengah Guncang Pasar Global

Equityworld Futures | Wall Street Terkoreksi, Gejolak Timur Tengah Guncang Pasar Global

Equityworld Futures | Bursa saham Amerika Serikat (AS) atau Wall Street merosot pada perdagangan, Senin, 30 Maret 2026, terimbas harga minyak dunia yang terus melonjak.

Equityworld Futures | Harga Emas Dunia Naik Dua Hari Beruntun, Tapi Cetak Penurunan Bulanan

Mengutip CNBC, indeks utama kompak turun pada Senin malam. Futures S&P 500 tercatat melemah 0,4 persen, sementara futures Nasdaq 100 turun lebih dalam sebesar 0,7 persen. Sedangkan futures Dow Jones Industrial Average terkoreksi 145 poin atau sekitar 0,3 persen.

Tekanan terhadap pasar saham terjadi seiring kenaikan harga minyak global, setelah laporan Bloomberg menyebut Iran menyerang kapal tanker minyak Kuwait di perairan Dubai. Meski otoritas Dubai memastikan seluruh awak kapal selamat, insiden tersebut tetap memicu kekhawatiran pasar.

Harga minyak mentah Brent berjangka dilaporkan naik sekitar 2 persen, sementara minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) melonjak hingga 3 persen dalam perdagangan lanjutan.

Pada sesi reguler sebelumnya, pergerakan indeks Wall Street juga cenderung bervariasi. Indeks S&P 500 turun 0,39 persen dan mencatat penurunan tiga hari berturut-turut. Indeks Nasdaq Composite melemah 0,73 persen, sedangkan Dow Jones Industrial Average justru menguat tipis 0,11 persen atau naik 49,50 poin.

Penurunan S&P 500 membuat indeks tersebut kini terkoreksi lebih dari 9 persen dari level penutupan tertingginya, terutama akibat tekanan di sektor teknologi yang turun lebih dari 1 persen.

Kepala Strategi Pasar BRiley Wealth Management, Art Hogan, menilai pelemahan pasar saat ini masih tergolong wajar sebagai bagian dari siklus koreksi.

“Ada beberapa narasi yang beredar, tetapi saya pikir investor jangka panjang harus ingat bahwa koreksi 10% adalah hal yang normal. Itu terjadi sepanjang waktu. Rata-rata, setiap dua tahun kita mengalami koreksi 10 persen,” ujarnya seperti dikutip dari CNBC.

Profil Perusahaan

Ilustrasi Transaksi

Legalitas Bisnis

Hubungi Kami

Equityworld Futures | Harga BBM Diprediksi Naik 10% per 1 April 2026, RON 92 Melonjak Segini

Equityworld Futures | Harga BBM Diprediksi Naik 10% per 1 April 2026, RON 92 Melonjak Segini

Equityworld Futures | Konflik geopolitik di Timur Tengah khususnya perang antara Iran dengan Amerika Serikat–Israel serta pembatasan di jalur strategis Selat Hormuz berdampak pada lonjakan harga minyak global. Kondisi ini turut mendorong penyesuaian harga bahan bakar minyak (BBM) non-subsidi di Indonesia secara bertahap.

Equityworld Futures | Harga Emas Dunia Berpotensi Melesat Pekan Ini, Analis Ungkap Sentimennya

Pengamat Ekonomi Wisnu Wibowo mengatakan, kenaikan harga BBM non-subsidi merupakan konsekuensi dari lonjakan harga minyak dunia. Sebagai contoh, harga minyak Brent untuk kontrak berjangka Mei naik 2,92% menjadi USD 115,86 per barel pada awal perdagangan hari ini.

Dengan lonjakan harga minyak dunia tersebut, harga BBM diproyeksi bisa naik antara 5%-10%. Dengan kisaran kenaikan itu, harga BBM RON 92 diperkirakan akan naik Rp 1.000.

“Range kenaikan segitu dalam kondisi normal. Jadi bisa dihitung kenaikannya, jika Pertamax RON 92 Rp 12.000-an misalnya, ya antara Rp 1.000-an,” ujar dia kepada Liputan6.com, Senin (30/3/2026).

Sebagai informasi, pada periode Februari ke Maret 2026, sejumlah produk BBM non-subsidi di tanah air mengalami kenaikan. Pertamax naik dari Rp11.800 menjadi Rp12.300 per liter, Pertamax Green (RON 95) dari Rp12.450 menjadi Rp12.900, serta Pertamax Turbo dari Rp12.700 menjadi Rp13.100 per liter.

Untuk jenis solar non-subsidi, harga Dexlite naik dari Rp13.250 menjadi Rp14.200 per liter dan Pertamina Dex dari Rp13.500 menjadi Rp14.500 per liter. Sementara itu, BBM bersubsidi seperti Pertalite dan Solar masih ditahan masing-masing di harga Rp10.000 dan Rp6.800 per liter.

Dia menjelaskan, mekanisme penentuan harga BBM non-subsidi disesuaikan secara berkala mengikuti tren harga minyak dunia, khususnya acuan Mean of Platts Singapore (MOPS) dan Argus yang merupakan lembaga independen yang juga menentukan harga komoditas global.

Profil Perusahaan

Ilustrasi Transaksi

Legalitas Bisnis

Hubungi Kami

Equityworld Futures | Harga Minyak Dunia Naik 1% Kamis (26/3) Pagi: Brent ke US$103,35 & WTI ke US$91,40

Equityworld Futures | Harga Minyak Dunia Naik 1% Kamis (26/3) Pagi: Brent ke US$103,35 & WTI ke US$91,40

Equityworld Futures | Harga minyak naik pada Kamis (26/3/2026), memulihkan sebagian kerugian sehari sebelumnya, saat investor meninjau kembali prospek meredanya konflik di Timur Tengah setelah Iran mengatakan masih meninjau proposal gencatan senjata dari AS yang telah mengganggu aliran energi global.

Equityworld Futures | Harga Emas Dunia Melonjak Didorong Penurunan Harga Minyak 26 Maret 2026

Melansir Reuters, minyak mentah Brent naik US$1,13 atau 1,1% menjadi US$103,35 per barel, sementara minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) naik US$1,08 atau 1,2% menjadi US$91,40 per barel. Kedua patokan ini sebelumnya anjlok lebih dari 2% pada Rabu (25/3/2026).

Meski sedang meninjau proposal, Menteri Luar Negeri Iran menegaskan bahwa negara tersebut tidak berniat mengadakan perundingan untuk mengakhiri konflik yang semakin meluas di Timur Tengah.

Juru bicara Gedung Putih Karoline Leavitt mengatakan, Presiden Donald Trump akan menekan Iran lebih keras jika Teheran gagal menerima kenyataan bahwa negara tersebut “telah dikalahkan secara militer.”

“Optimisme terkait gencatan senjata memudar,” kata Tsuyoshi Ueno, ekonom senior di NLI Research Institute.

Ia menambahkan bahwa standar yang ditetapkan Washington tampak tinggi, membuat harga minyak rentan terhadap volatilitas lebih lanjut tergantung pada negosiasi dan tindakan militer kedua belah pihak.

Proposal 15 poin Trump, yang disampaikan melalui Pakistan, mencakup penghapusan stok uranium tinggi Iran, penghentian pengayaan uranium, pengurangan program rudal balistik, dan penghentian pendanaan untuk sekutu regional, menurut tiga sumber kabinet Israel yang mengetahui rencana tersebut.

Konflik ini hampir menghentikan seluruh pengiriman melalui Selat Hormuz, jalur yang biasanya menyalurkan sekitar seperlima pasokan minyak mentah dan gas alam cair dunia.

Badan Energi Internasional (IEA) menyebutnya sebagai gangguan pasokan minyak terbesar sepanjang sejarah.

India membeli kargo gas petroleum cair (LPG) pertama dari Iran dalam beberapa tahun setelah AS sementara mencabut sanksi terhadap minyak dan bahan bakar olahan Teheran, menurut sumber.

Perdana Menteri Jepang Sanae Takaichi meminta kepala IEA Fatih Birol untuk pelepasan stok minyak tambahan secara terkoordinasi, sebagai upaya Tokyo menghadapi potensi konflik Timur Tengah yang berkepanjangan.

Produksi minyak Irak menurun, dengan tangki penyimpanan mencapai kapasitas kritis, kata tiga pejabat energi Irak pada Rabu.

Menambah kekhawatiran pasokan, setidaknya 40% kapasitas ekspor minyak Rusia terhenti akibat serangan drone Ukraina, serangan yang diperdebatkan pada pipa utama, dan penyitaan kapal tanker, menurut perhitungan Reuters berdasarkan data pasar.

Profil Perusahaan

Ilustrasi Transaksi

Legalitas Bisnis

Hubungi Kami

Equityworld Futures | Minyak Ambles 5%, Harapan Damai Timur Tengah Tekan Harga

Equityworld Futures | Minyak Ambles 5%, Harapan Damai Timur Tengah Tekan Harga

Equityworld Futures | Harga minyak dunia kembali tertekan pada perdagangan Rabu pagi (25/3/2026), dengan penurunan mendekati 5% seiring meredanya kekhawatiran pasar terhadap gangguan pasokan dari Timur Tengah.

Equityworld Futures | Harga Emas Terbang Lagi, Tapi ‘Aroma’ Bahaya Makin Tercium

Mengacu data Refinitiv per pukul 10.25 WIB, harga minyak Brent berada di US$99,11 per barel, turun dari posisi US$104,49 pada penutupan sebelumnya.

Sementara itu, minyak West Texas Intermediate (WTI) tercatat di US$88,48 per barel, melemah dari US$92,35. Koreksi ini menandai pembalikan arah setelah lonjakan tajam yang sempat terjadi di awal pekan.

Jika ditarik lebih jauh, pergerakan harga dalam beberapa hari terakhir menunjukkan volatilitas tinggi. Brent sempat menyentuh US$112,19 pada 20 Maret, sebelum perlahan turun ke kisaran US$90-an. WTI juga bergerak serupa, dari US$98,32 menjadi di bawah US$90 dalam waktu singkat.

Melansir dari Reuters, penurunan ini dipicu meningkatnya ekspektasi gencatan senjata antara Amerika Serikat dan Iran. Pemerintah AS dilaporkan telah mengirimkan proposal perdamaian berisi 15 poin untuk mengakhiri konflik yang selama ini mengganggu distribusi energi global.

Analis Nissan Securities Investment Hiroyuki Kikukawa menyebut pasar mulai melakukan aksi ambil untung setelah harga sempat melonjak. Ekspektasi meredanya konflik mendorong pelaku pasar untuk mengurangi posisi, meski arah negosiasi masih belum pasti.

Selama konflik berlangsung, distribusi minyak dan gas global terganggu, terutama di Selat Hormuz jalur vital yang menampung sekitar seperlima pasokan energi dunia. Gangguan ini bahkan disebut sebagai salah satu yang terbesar oleh Badan Energi Internasional (IEA).

Di tengah situasi tersebut, Arab Saudi meningkatkan ekspor melalui pelabuhan Yanbu di Laut Merah hingga mendekati 4 juta barel per hari. Langkah ini menjadi penyangga sementara untuk menjaga aliran pasokan global di luar jalur Hormuz.

Sinyal lain yang meredakan pasar datang dari Iran, yang menyatakan kapal non-hostile masih dapat melintas di Selat Hormuz dengan koordinasi tertentu. Pernyataan ini sedikit menurunkan kekhawatiran pasar terhadap potensi penutupan jalur strategis tersebut.

Meski begitu, risiko belum sepenuhnya sirna. Ketegangan militer di kawasan masih berlangsung, dan setiap eskalasi baru terutama yang menyasar fasilitas energi berpotensi mendorong harga kembali melonjak.

Profil Perusahaan

Ilustrasi Transaksi

Legalitas Bisnis

Hubungi Kami

Equityworld Futures | Wall Street Bangkit di Tengah Perang Iran dan AS, Harga Minyak Tergelincir

Equityworld Futures | Wall Street Bangkit di Tengah Perang Iran dan AS, Harga Minyak Tergelincir

Equityworld Futures | Bursa saham Amerika Serikat (AS) atau Wall Street ditutup menguat pada perdagangan Senin (16/3/2026) waktu setempat, sementara harga minyak dunia justru terkoreksi setelah reli tajam pada pekan sebelumnya.

Equityworld Futures | Harga Emas Nyaris Sentuh USD 5.000, Konflik Timur Tengah Bikin Pasar Deg-degan

Mengutip CNBC Selasa (17/4/2026), indeks Dow Jones Industrial Average naik 387,94 poin atau 0,83 persen ke level 46.946,41. Sementara itu, S&P 500 menguat 1,01 persen ke posisi 6.699,38 dan Nasdaq Composite naik 1,22 persen menjadi 22.374,18.

Penguatan saham didorong oleh sejumlah emiten teknologi. Saham Meta naik lebih dari 2 persen setelah muncul laporan bahwa perusahaan tersebut tengah mempertimbangkan pemutusan hubungan kerja terhadap lebih dari 20 persen karyawannya. Namun, laporan tersebut oleh pihak perusahaan disebut masih bersifat spekulatif.

Di sisi lain, saham Nvidia juga menguat lebih dari 1 persen seiring dimulainya konferensi teknologi tahunan GTC pada Senin.

Penguatan ini terjadi setelah S&P 500 mencatat penurunan selama tiga pekan berturut-turut dan pada Jumat lalu ditutup di level terendah sepanjang tahun ini.

Sementara itu, pasar energi mengalami pergerakan berlawanan. Harga minyak dunia turun pada perdagangan Senin setelah sebelumnya melonjak tajam akibat meningkatnya ketegangan di kawasan Timur Tengah.

Pekan lalu, harga minyak jenis Brent sempat menembus 100 dollar AS per barrel untuk pertama kalinya sejak 2022. Lonjakan tersebut dipicu oleh terganggunya lalu lintas kapal di Selat Hormuz, jalur strategis yang dilalui sekitar seperlima pasokan minyak dunia, sejak pecahnya konflik Iran.

Namun pada perdagangan Senin, harga minyak mulai terkoreksi. Minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) turun 5,28 persen dan ditutup di level 93,50 dollar AS per barrel, setelah sempat diperdagangkan di atas 100 dollar AS pada perdagangan semalam. Sementara itu, Brent crude turun 2,84 persen menjadi 100,21 dollar AS per barrel.
Penurunan harga minyak terjadi setelah Menteri Keuangan Amerika Serikat Scott Bessent menyatakan bahwa pemerintah AS mengizinkan kapal tanker minyak Iran untuk melintas di Selat Hormuz.

Selain itu, laporan Wall Street Journal menyebutkan bahwa Amerika Serikat segera mengumumkan pembentukan koalisi negara-negara yang akan mengawal kapal melalui selat tersebut guna menjaga kelancaran jalur perdagangan energi.
Meski demikian, pernyataan Presiden Amerika Serikat Donald Trump kepada wartawan pada Senin siang menunjukkan bahwa koalisi tersebut belum sepenuhnya terbentuk. Trump bahkan mendorong negara-negara lain untuk ikut berpartisipasi dalam pengamanan jalur pelayaran tersebut.

Setelah pernyataan itu, harga minyak sempat bangkit dari posisi terendahnya, meskipun tetap ditutup melemah pada akhir sesi.

Di sisi lain, penguatan Wall Street juga sempat lebih tinggi pada awal perdagangan. Indeks Dow Jones bahkan sempat naik lebih dari 600 poin atau sekitar 1,3 persen sebelum akhirnya memangkas sebagian kenaikannya. Sementara itu, S&P 500 dan Nasdaq sempat menguat masing-masing sekitar 1,4 persen dan 1,6 persen.

Sebelumnya pada Jumat, Trump memerintahkan serangan terhadap aset militer Iran yang berada di Pulau Kharg. Meski serangan tersebut tidak mengenai infrastruktur minyak, Trump menyatakan bahwa Amerika Serikat dapat mempertimbangkan untuk menyerang fasilitas energi Iran jika negara tersebut terus memblokir Selat Hormuz.

Profil Perusahaan

Ilustrasi Transaksi

Legalitas Bisnis

Hubungi Kami

Equityworld Futures | Wall Street Babak Belur di Tengah Lonjakan Harga Minyak hingga Potensi Stagflasi

Equityworld Futures | Wall Street Babak Belur di Tengah Lonjakan Harga Minyak hingga Potensi Stagflasi

Equityworld Futures | Indeks bursa Wall Street Amerika Serikat (AS) ditutup anjlok pada perdagangan saham Jumat (13/3) di tengah lonjakan harga minyak. Seiring dengan itu, pasar terus menanti perkembangan konflik AS–Iran.

Equityworld Futures | Kenapa Harga Emas Tak Banyak Gerak saat Perang Iran vs AS-Israel?

S&P 500 turun 0,61% ke level 6.632,19 dan Nasdaq Composite melemah 0,93% menjadi 22.105,36. Adapun Dow Jones Industrial Average juga terkoreksi 119,38 poin atau 0,26% ke level 46.558,47.

Secara mingguan, ketiga indeks tercatat di zona merah. S&P 500 merosot 1,6% sepanjang pekan ini dan mencatat penurunan tiga pekan berturut-turut untuk pertama kalinya dalam sekitar satu tahun terakhir. Dow Jones turun sekitar 2%, sedangkan Nasdaq yang didominasi saham teknologi merosot 1,3%.

Di sisi lain, harga minyak dunia melanjutkan kenaikan. Kontrak berjangka West Texas Intermediate naik 3,11% menjadi US$ 98,71 per barel. Sementara kontrak berjangka Brent Crude menguat 2,67% ke US$ 103,14 per barel dan ditutup di atas US$ 100 per barel untuk pertama kalinya sejak Agustus 2022.
Lonjakan harga minyak itu setelah Pemimpin Tertinggi Iran yang baru, Mojtaba Khamenei, menyatakan Selat Hormuz harus tetap ditutup sebagai “alat untuk menekan musuh.” Lalu lintas kapal di jalur pelayaran strategis tersebut dilaporkan hampir terhenti sejak Amerika Serikat dan Israel meluncurkan serangan terhadap Iran pada akhir Februari.

Pada Jumat lalu, Menteri Pertahanan Amerika Serikat Pete Hegseth menepis kekhawatiran penutupan Selat Hormuz yang dinilai akan terus menjadi masalah. Ia menilai gangguan di jalur pelayaran strategis tersebut tidak akan berlangsung lama.

“Kami telah mengatasinya, dan tidak perlu khawatir tentang hal itu,” ucap Hegseth dalam konferensi pers di Pentagon, dikutip CNBC International pada Senin (16/3).

Kepala Investasi Makro Global di Mount Lucas Management, David Aspell mengatakan pasar saat ini dibayangi kekhawatiran di Wall Street. Hal itu karena kenaikan harga minyak dapat memicu lingkungan stagflasi, yakni inflasi yang lebih tinggi disertai melambatnya pertumbuhan ekonomi.
Menurutnya, kekhawatiran tersebut juga mendorong investor menurunkan ekspektasi terhadap pemangkasan suku bunga oleh Federal Reserve tahun ini. Perdagangan futures fed funds bahkan tidak lagi memperkirakan pemotongan suku bunga pada September.

Di samping itu, ia mengatakan laba perusahaan cukup baik meski saat ini sentimennya sangat sulit. Ia juga menyebut kenaikan harga minyak juga turut memengaruhi sentimen pasar.
“Sementara valuasi ekuitas sebelumnya juga mencerminkan jalur suku bunga yang kini mulai dipertanyakan,” kata Aspell.

Profil Perusahaan

Ilustrasi Transaksi

Legalitas Bisnis

Hubungi Kami

Equityworld Futures | Breaking News: Harga Minyak Dunia Melonjak, IHSG Terkoreksi Lebih dari 1%

Equityworld Futures | Breaking News: Harga Minyak Dunia Melonjak, IHSG Terkoreksi Lebih dari 1%

Equityworld Futures | Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengalami penurunan lebih dari 1% pada awal sesi perdagangan hari ini, Jumat (13/3/2026). Pada sekitar pukul 09.27 WIB, IHSG tercatat melemah 1,06% hingga berada di posisi 7.284,41.

Equityworld Futures | Harga Emas Hari Ini Melorot Tajam, Harga Perak Ikut Amblas

Sebanyak 463 saham mengalami penurunan harga, sementara 151 saham mencatat kenaikan dan 344 saham tidak mengalami perubahan. Nilai transaksi tercatat mencapai Rp2,19 triliun dengan volume perdagangan sebesar 5,2 miliar saham yang terjadi dalam 321.800 kali transaksi.

Pergerakan IHSG pada pagi hari ini sejalan dengan tren yang terjadi di pasar saham Asia. Indeks S&P/ASX 200 di Australia turun sekitar 0,3% pada awal perdagangan kawasan Asia, sedangkan Nikkei 225 Jepang melemah 2% dan indeks yang lebih luas, TOPIX, turun sekitar 1,4%.

Di Korea Selatan, indeks saham utama KOSPI jatuh hampir 3%, sementara indeks saham berkapitalisasi kecil KOSDAQ terkoreksi hampir 2%.

Penurunan tersebut terjadi seiring meningkatnya kekhawatiran para pelaku pasar mengenai pasokan minyak di tengah konflik yang diperkirakan berlangsung dalam waktu lama.

Harga minyak dunia telah melonjak lebih dari 38% dalam kurun waktu kurang dari dua minggu akibat ancaman serius terhadap jalur distribusi global.

Harga minyak mentah Brent Crude Oil tercatat mencapai US$100,72 per barel, sedangkan West Texas Intermediate (WTI) berada di level US$95,37 per barel.

Lonjakan harga ini dipicu oleh serangan terhadap dua kapal tanker serta fasilitas pelabuhan minyak di wilayah perairan Irak yang menimbulkan kekhawatiran terkait keamanan pelayaran di Selat Hormuz. Militer Iran bahkan memperingatkan bahwa harga minyak berpotensi melonjak hingga mencapai US$200 per barel.

Di sisi lain, di tengah operasi militer besar yang dilakukan oleh Amerika Serikat dan Israel, badan intelijen AS menilai bahwa struktur kepemimpinan pemerintahan Iran saat ini masih solid dan belum menunjukkan tanda-tanda akan runtuh. Laporan tersebut juga menegaskan bahwa rezim di Teheran tetap mempertahankan kendali penuh terhadap masyarakatnya.

Posisi pemimpin tertinggi Iran juga disebut telah diambil alih oleh putra Ali Khamenei, yaitu Mojtaba Khamenei, dengan tujuan menjaga stabilitas pemerintahan. Sementara itu, kelompok milisi Kurdi Iran sempat menawarkan bantuan untuk melakukan pemberontakan, namun tawaran tersebut ditolak oleh Presiden Amerika Serikat Donald Trump karena pihak intelijen meragukan kemampuan persenjataan mereka.

Berdasarkan laporan terbaru, Mojtaba dalam pidato publik pertamanya sejak dipilih sebagai pemimpin tertinggi Iran menegaskan bahwa Selat Hormuz harus tetap ditutup. Kebijakan tersebut dimaksudkan untuk menjadikan selat tersebut sebagai alat tekanan terhadap pihak musuh.

Profil Perusahaan

Ilustrasi Transaksi

Legalitas Bisnis

Hubungi Kami

Equityworld Futures | Wall Street Beragam, Cuma Nasdaq yang Raup Cuan

Equityworld Futures | Wall Street Beragam, Cuma Nasdaq yang Raup Cuan

Equityworld Futures | Saham Amerika Serikat (AS) di Wall Street ditutup beragam pada perdagangan Rabu waktu setempat (Kamis WIB), karena harga minyak berjangka global melanjutkan tren kenaikannya sehingga menutupi laporan inflasi yang sangat dinantikan.

Equityworld Futures | Harga Emas Dunia Turun ke USD 5.170 per Ons

Mengutip Xinhua, Kamis, 12 Maret 2026, indeks Dow Jones Industrial Average turun 0,61 persen menjadi 47.417,27. Indeks S&P 500 merosot 0,08 persen menjadi 6.775,8. Indeks Nasdaq Composite naik 0,08 persen menjadi 22.716,14.

Sebanyak delapan dari 11 sektor utama S&P 500 berakhir merah, dengan sektor barang konsumsi pokok dan real estat memimpin penurunan dengan masing-masing turun 1,29 persen dan 1,12 persen. Sementara itu, sektor energi dan teknologi memimpin kenaikan dengan masing-masing bertambah 2,48 persen dan 0,35 persen.

Adapun harga minyak mentah berjangka West Texas Intermediate (WTI) naik 4,55 persen pada perdagangan Rabu meskipun ada upaya intervensi besar-besaran dari Badan Energi Internasional (IEA).

Badan tersebut mengumumkan anggotanya akan melepaskan 400 juta barel minyak dari cadangan, menandai pelepasan strategis terbesar yang pernah dilakukan. Ini sebagai upaya langsung untuk mengurangi gangguan pasokan parah yang dipicu oleh konflik yang sedang berlangsung.

Profil Perusahaan

Ilustrasi Transaksi

Legalitas Bisnis

Hubungi Kami

Equityworld Futures | Wall Street Melemah di Tengah Eskalasi Konflik Iran, Investor Waspadai Stagflasi

Equityworld Futures | Wall Street Melemah di Tengah Eskalasi Konflik Iran, Investor Waspadai Stagflasi

Equityworld Futures | Bursa saham Amerika Serikat (AS), Wall Street, ditutup bervariasi pada perdagangan Selasa (10/3) setelah reli awal memudar seiring meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah.

Equityworld Futures | Harga Emas Turun saat Perang di Timteng, Tak Lagi Jadi Safe Haven?

Sentimen pasar memburuk setelah muncul laporan Iran menempatkan ranjau di Selat Hormuz, jalur pelayaran energi paling vital di dunia. Presiden AS Donald Trump merespons laporan dengan ancaman pembalasan serta kembali menyerukan agar Iran menyerah sepenuhnya.

Mengutip Reuters pada Rabu (11/3), indeks S&P 500 turun 14,44 poin atau 0,21 persen menjadi 6.781,55. Indeks Dow Jones Industrial Average melemah 36,66 poin atau 0,08 persen menjadi 47.704,14. Sementara Nasdaq Composite naik tipis 2,24 poin atau 0,01 persen ke level 22.698,19.

“Pasar sebelumnya menunjukkan kekuatan dan kini telah kehilangan semuanya,” kata Senior portfolio strategist di Ingalls & Snyder di New York, Tim Ghriskey.

Katanya, optimisme pasar yang sempat muncul dari berbagai pernyataan Gedung Putih dengan cepat memudar.

“Anda melihat berbagai headline dari Gedung Putih yang memberi harapan kepada pasar, lalu pemikiran yang lebih jernih muncul dan pasar menyadari bahwa ini masih jauh dari selesai,” ujarnya.

Pasalnya, ketidakpastian semakin meningkat setelah Menteri Pertahanan AS Pete Hegseth memperingatkan hari Selasa (10/3) menjadi hari paling intens sejauh ini dalam operasi militer terhadap Iran.

Konflik tersebut sempat memicu lonjakan tajam harga minyak dunia, meningkatkan kekhawatiran inflasi di tengah pelemahan pasar tenaga kerja AS. Kondisi ini menimbulkan risiko stagflasi, yaitu situasi ketika inflasi tinggi terjadi bersamaan dengan perlambatan ekonomi.

Meski demikian, pasar masih berharap konflik dapat mereda dalam waktu dekat. Harapan tersebut muncul setelah pemerintahan Trump memberi sinyal kemungkinan pelonggaran sanksi minyak terhadap Rusia, yang berpotensi menambah pasokan global dan menekan harga energi.

Harga minyak mentah pun berbalik turun tajam. Kontrak berjangka minyak mentah AS dan Brent untuk pengiriman bulan terdekat ditutup merosot lebih dari 11 persen.

“Ketika Anda melihat pergerakan parabola seperti itu, baik pada emas, minyak atau apa pun, biasanya akan terjadi pembalikan yang cukup tajam begitu ada berita dari sisi sebaliknya,” kata Senior wealth adviser dan market strategist di Murphy & Sylvest di Elmhurst Illinois, Paul Nolte.

Di tengah tekanan pasar, saham sektor semikonduktor justru menguat dengan kenaikan pada Nvidia, SanDisk, dan Western Digital.

Indeks S&P Software & Select Services kembali menjadi sektor dengan kinerja terburuk setelah beberapa bulan terakhir tertekan oleh kekhawatiran disrupsi akibat perkembangan kecerdasan buatan (AI).

Pergerakan pasar selanjutnya juga bakal dipengaruhi sejumlah data ekonomi penting yang akan dirilis pekan ini, termasuk laporan inflasi AS melalui Indeks Harga Konsumen (CPI), revisi pertumbuhan ekonomi kuartal keempat, serta data Personal Consumption Expenditures (PCE) yang menjadi indikator inflasi favorit bank sentral AS.

Profil Perusahaan

Ilustrasi Transaksi

Legalitas Bisnis

Hubungi Kami

Design a site like this with WordPress.com
Get started