Equityworld Futures | Arah Wall Street Pekan Ini: Investor Pantau Bank Besar AS di saat Shutdown Berlanjut

Equityworld Futures | Arah Wall Street Pekan Ini: Investor Pantau Bank Besar AS di saat Shutdown Berlanjut

Equityworld Futures | Bursa saham Amerika Serikat (AS) pekan ini akan dipengaruhi oleh laporan keuangan kuartalan bank-bank besar untuk menilai kesehatan ekonomi Negeri Paman Sam, di tengah terhentinya arus data ekonomi akibat penutupan sementara (shutdown) pemerintahan federal.

Equityworld Futures | XAU/USD Naik ke Dekat $4.050,00 saat Tarif 100% Trump Memicu Permintaan Safe-Haven

Indeks saham utama Wall Street melemah pada Jumat (10/10/2025) setelah komentar Presiden Donald Trump memperburuk ketegangan dagang dengan China

Aksi jual tersebut menghentikan laju penguatan pasar menjelang peringatan tiga tahun reli bull market indeks acuan S&P 500 pada Minggu (12/10/2025).

“Pasar memang sudah berada pada level jenuh beli dan wajar jika terjadi sedikit volatilitas. Namun pada akhirnya, semuanya kembali pada kondisi ekonomi dan laba korporasi, dan musim laporan keuangan sudah di depan mata,” ujar Matthew Miskin, Co-Chief Investment Strategist di Manulife John Hancock Investments dikutip dari Reuters, Senin (13/10/2025)

Dengan valuasi pasar saham AS mendekati level tertinggi dalam lima tahun terakhir serta kekhawatiran atas euforia berlebih terhadap sektor teknologi dan kecerdasan buatan (AI), musim laporan keuangan kuartal III/2025 akan menjadi kunci untuk menjaga momentum reli saham

Meski sempat melemah tajam, indeks S&P 500 masih menguat lebih dari 11% sejak awal tahun dan hanya terpaut sekitar 3% dari rekor tertingginya.

“Pasar terus bergerak naik secara bertahap. Penopangnya adalah prospek laba yang lebih kuat. Jika dilihat dari fundamentalnya, kondisinya masih cukup solid,” kata Garrett Melson, Portfolio Strategist di Natixis Investment Managers Solutions.

Reli saham AS juga diiringi kenaikan harga berbagai aset lain seperti emas, perak, dan bitcoin. Sejumlah pejabat terkemuka, termasuk Direktur Pelaksana IMF Kristalina Georgieva dan CEO JPMorgan Jamie Dimon, baru-baru ini menyampaikan peringatan agar pasar tetap waspada.

JPMorgan akan menjadi salah satu bank besar pertama yang membuka musim laporan keuangan pada Selasa (14/10/2025), disusul Goldman Sachs, Wells Fargo, dan Citigroup. Sementara Bank of America dan Morgan Stanley dijadwalkan merilis laporan pada Rabu (15/10/2025).

Data pasar tenaga kerja AS yang melemah belakangan ini telah memicu kekhawatiran terhadap perlambatan ekonomi dan mendorong Federal Reserve kembali memangkas suku bunga.
“Bank adalah jendela untuk melihat kondisi ekonomi AS,” ujar Irene Tunkel, Chief U.S. Equity Strategist di BCA Research. “Jika kita melihat konsumen masih berbelanja dan permintaan kredit meningkat, mungkin tanda-tandanya belum menuju kontraksi ekonomi.”
Selain bank, perusahaan besar lain seperti Johnson & Johnson dan manajer aset BlackRock juga akan merilis kinerja mereka pekan depan. Secara keseluruhan, laba perusahaan dalam indeks S&P 500 diperkirakan naik 8,8% pada kuartal III/2025 dibandingkan periode yang sama tahun lalu, menurut data LSEG IBES.
“Sebagian besar sentimen positif pasar saat ini didorong oleh ekspektasi pertumbuhan laba,” kata Chuck Carlson, CEO Horizon Investment Services. “Jika ekspektasi itu mulai goyah, pasar secara keseluruhan bisa tertekan.”

Di sisi lain, perhatian juga tertuju pada Washington, di mana Partai Republik dan Demokrat masih berupaya mencapai kesepakatan untuk mengakhiri penutupan pemerintahan yang dimulai sejak 1 Oktober.

Pasar sejauh ini belum bereaksi besar terhadap situasi tersebut, namun para analis memperingatkan dampak terhadap ekonomi akan meningkat jika penutupan berlangsung lebih lama.

Salah satu dampak langsungnya adalah terhambatnya publikasi sejumlah laporan ekonomi penting oleh lembaga pemerintah. Laporan ketenagakerjaan bulanan yang seharusnya dirilis pada 3 Oktober telah tertunda, dan investor khawatir hal ini juga akan memengaruhi publikasi data inflasi serta penjualan ritel pekan depan.

Biro Statistik Tenaga Kerja AS (BLS) menyatakan laporan Indeks Harga Konsumen (CPI) bulanan—yang menjadi acuan utama tren inflasi—akan diterbitkan pada 24 Oktober, mundur dari jadwal semula pada Rabu (15/10/2025).

BLS menegaskan, selain laporan CPI yang penting untuk perhitungan manfaat Jaminan Sosial, tidak ada data ekonomi lain yang akan dipublikasikan hingga layanan pemerintahan kembali normal.

Michael Pearce, Deputi Kepala Ekonom AS di Oxford Economics menuturkan, jika penutupan tersebut berlanjut hingga pekan depan, laporan ketenagakerjaan Oktober akan ikut terdampak, dan itu akan membuat interpretasi datanya semakin sulit.

“Dengan banyaknya data ekonomi yang tidak tersedia selama penutupan ini, kabut data ekonomi semakin tebal,” katanya.

Demo Ewf
Demo Equityworld

Equityworld Futures | Harga Emas Menuju Kenaikan Delapan Pekan, Didorong Kuatnya Permintaan Safe Haven

Equityworld Futures | Harga Emas Menuju Kenaikan Delapan Pekan, Didorong Kuatnya Permintaan Safe Haven

Equityworld Futures | Harga emas bertahan stabil di bawah US$ 4.000 per ons troi pada Jumat (10/10/2025) dan bersiap untuk kenaikan mingguan kedelapan berturut-turut, didorong oleh ketegangan geopolitik dan ekonomi yang masih ada serta meningkatnya ekspektasi penurunan suku bunga AS lebih lanjut.

Equityworld Futures | Harga Emas Menguat Jumat (10/10) Pagi, Menuju Kenaikan Mingguan Kedelapan Beruntun

Mengutip Reuters,Jumat (10/10/2025) harga emas spot turun 0,2% menjadi US$ 3.968,69 per ons troi pada pukul 03.40 GMT, tetapi naik 2,2% untuk minggu ini. Harga emas berjangka AS untuk pengiriman Desember naik 0,3% menjadi US$ 3.982,6.

“Pasar opsi menunjukkan peningkatan volatilitas di samping perlindungan penurunan untuk emas selama tahap akhir reli ini, dan tampaknya ini saat yang tepat bagi para investor emas untuk mengambil untung. Namun, saya perkirakan penurunan harga dapat dibatasi,” kata analis senior City Index, Matt Simpson.

Pemerintah Israel meratifikasi gencatan senjata dengan Hamas pada hari Jumat, membuka jalan untuk menangguhkan permusuhan di Gaza dalam waktu 24 jam dan membebaskan sandera Israel yang ditahan di sana dalam waktu 72 jam setelahnya, bahkan ketika serangan Israel di wilayah kantong yang terkepung itu terus berlanjut.

Analis ANZ mengatakan dalam sebuah catatan bahwa pertumbuhan ekonomi yang melambat, inflasi yang lebih tinggi, perubahan lanskap geopolitik, dan diversifikasi dari aset AS dan dolar akan menjaga permintaan investasi dan pembelian emas oleh bank sentral tetap kuat, sementara pemangkasan suku bunga yang baru juga akan mendukung logam tersebut.

Harga emas batangan melonjak melewati US$ 4.000 per ons untuk pertama kalinya pada hari Rabu, mencapai rekor tertinggi US$ 4.059,05. Aset non-imbal hasil ini, yang secara tradisional dianggap sebagai lindung nilai selama ketidakpastian geopolitik dan ekonomi, telah naik sekitar 52% tahun ini.

Relinya didorong oleh ketegangan geopolitik, pembelian bank sentral yang kuat, meningkatnya arus masuk dana perdagangan valuta asing (ETF), ekspektasi pemangkasan suku bunga AS, dan ketidakpastian ekonomi terkait tarif.

Risalah rapat Federal Reserve AS bulan September, yang dirilis pada hari Rabu, menunjukkan bahwa para pejabat Fed sepakat bahwa risiko terhadap pasar kerja AS cukup tinggi untuk membenarkan pemangkasan suku bunga, tetapi tetap waspada di tengah inflasi yang membandel.

The Fed melanjutkan siklus pemangkasan suku bunganya pada bulan September dengan pemangkasan sebesar 25 basis poin. Para pedagang memperkirakan pemangkasan sebesar 25 basis poin masing-masing pada bulan Oktober dan Desember, dengan peluang masing-masing sebesar 95% dan 80%.

Demo Ewf
Demo Equityworld

Equityworld Futures | Wall Street Ditutup Bervariasi, Indeks S&P 500 dan Nasdaq Cetak Rekor Intraday

Equityworld Futures | Wall Street Ditutup Bervariasi, Indeks S&P 500 dan Nasdaq Cetak Rekor Intraday

Equityworld Futures | Pasar saham Amerika Serikat (AS) atau yang dikenal dengan Wall Street ditutup bervariasi pada Rabu (8/10/2025) sore waktu setempat (Kamis pagi WIB).

Equityworld Futures | Harga Emas Tembus Rekor Baru!

Indeks S&P 500 dan Nasdaq Composite mencetak rekor intraday dan penutupan tertinggi sepanjang masa pada hari Rabu.

Sehari sebelumnya, pasar baru saja terkoreksi setelah mencatat reli selama tujuh hari berturut-turut, akibat saham Oracle yang anjlok.

Indeks S&P 500 naik 0,58 persen dan ditutup pada level 6.753,72, didukung oleh kenaikan sektor teknologi informasi, utilitas, dan industri.

Ketiga sektor tersebut mencatatkan rekor penutupan tertinggi baru.

Lalu, indeks Nasdaq Composite naik 1,12 persen dan ditutup pada level 23.043,38. Sementara itu, indeks Dow Jones Industrial Average turun 1,20 poin dan mengakhiri hari pada 46.601,78.

Pasar saham menunjukkan sedikit respons terhadap rilis risalah rapat Federal Reserve September ketika terjadi pemotongan suku bunga pertama kali pada 2025.

Risalah rapat tersebut menunjukkan bahwa The Fed terpecah terkait keputusan berapa kali pemangkasan suku bunga akan terjadi.

Pada perdagangan kemarin, saham Nvidia naik 2 persen setelah CEO Jensen Huang mengatakan adanya peningkatan permintaan dalam beberapa bulan terakhir.

Ia juga mengonfirmasi keterlibatan perusahaan dalam pendanaan startup kecerdasan buatan milik Elon Musk, xAI, dan mengatakan ada peluang pembiayaan yang mereka lakukan.

Langkah itu diambil sehari setelah sebelumnya saham perusahaan chip AI tersebut ditutup melemah.

Senada, saham Oracle juga melemah setelah mencatat margin keuntungan yang lebih rendah pada bisnis cloud.

Laporan yang sama mengeklaim bahwa perusahaan merugi dalam beberapa kesepakatan penyewaan chip Nvidia.

Banyak pengamat pasar mendesak investor untuk menyeimbangkan kembali portofolio mereka, sekaligus mengakui bahwa mungkin ada potensi kenaikan lebih lanjut sebelum reli AI berakhir.
Sementara itu, penutupan pemerintah yang sedang berlangsung memasuki hari kedelapan pada Rabu kemarin.

Senat kembali menolak rancangan undang-undang pendanaan sementara yang saling bertentangan.

Pemungutan suara ini menandai keenam kalinya Senat gagal mengajukan rancangan undang-undang untuk membuka kembali pemerintahan.

Penghentian sejauh ini tidak terlalu membebani pasar saham, tetapi menimbulkan risiko yang lebih besar terhadap sentimen seiring berjalannya waktu, mengingat potensi pukulan terhadap ekonomi AS.

Demo Ewf
Demo Equityworld

Equityworld Futures | Wall Street Loyo, Bursa Saham Asia Pasifik Dibuka Beragam

Equityworld Futures | Wall Street Loyo, Bursa Saham Asia Pasifik Dibuka Beragam

Equityworld Futures | Bursa saham Asia-Pasifik diperdagangkan beragam pada hari Rabu, mengikuti jejak kerugian Wall Street Amerika Serikat (AS). Setelah Bank Dunia menaikkan perkiraan pertumbuhan kawasan tersebut pada hari Selasa. Itu terjadi setelah musim panas yang menyaksikan ketidakpastian akibat tarif AS mengguncang ekonomi global.

Equityworld Futures | Harga Emas Tembus US$ 4.000 di Pasar Amerika, Diramal Makin Menggila

Dikutip dari CNBC, Rabu (8/10/2025) indeks saham Nikkei 225 Jepang sedikit berubah, sementara indeks saham Topix naik 0,62%. ASX/S&P 200 Australia turun 0,3%.

Kontrak berjangka indeks Hang Seng Hong Kong berada pada level 27.165, lebih tinggi dibandingkan penutupan Selasa di level 26.957,77. Pasar Tiongkok Daratan dan Korea Selatan tutup karena hari libur.

Bank Thailand dan Bank Sentral Selandia Baru akan merilis keputusan kebijakan mereka pada hari ini.

Di AS, tiga indeks utama ditutup melemah. S&P 500 melemah pada hari Selasa, terbebani oleh penurunan saham Oracle karena investor khawatir tentang profitabilitas perdagangan kecerdasan buatan.

Wall Street juga menantikan perkembangan lebih lanjut dari Washington dengan penutupan pemerintah AS yang memasuki minggu kedua.

Indeks pasar umum melemah 0,38% dan ditutup pada level 6.714,59, mengakhiri tren kenaikan 7 hari berturut-turut, sementara Nasdaq Composite turun 0,67% dan ditutup pada level 22.788,36. Dow Jones Industrial Average turun 91,99 poin, atau 0,2%, dan ditutup pada level 46.602,98.

Demo Ewf
Demo Equityworld

Equityworld Futures | Harga Emas Terus Melonjak, Industri Perhiasan Mulai Ketar-Ketir

Equityworld Futures | Harga Emas Terus Melonjak, Industri Perhiasan Mulai Ketar-Ketir

Equityworld Futures | Lonjakan harga emas yang belum menunjukkan tanda-tanda melambat mulai menimbulkan kekhawatiran di kalangan pelaku industri perhiasan. Di tengah gejolak ekonomi global, harga logam mulia terus meroket hingga menembus rekor baru, bahkan naik lebih dari 50% dalam setahun terakhir.

Equityworld Futures | Harga Emas Tembus US$ 4.000 di Pasar Amerika, Diramal Makin Menggila

Dikutip dari CNBC Internasional, bagi perusahaan perhiasan berskala menengah yang berusaha menawarkan produk emas dengan harga lebih terjangkau dibanding merek-merek mewah, reli harga emas menjadi tantangan besar.

Menurut Goldman Sachs, lonjakan harga emas dipicu oleh meningkatnya minat investor terhadap aset aman di tengah kekhawatiran resesi dan ketidakpastian pasar. Emas kini mencatat kenaikan dua digit selama tiga tahun berturut-turut dan nyarus menembus level US$ 4.000 per ounce.

Analis UBS memperkirakan harga emas masih akan terus menguat seiring ekspektasi penurunan suku bunga, pelemahan dolar AS, serta ketidakstabilan politik global. UBS bahkan merevisi proyeksi arus masuk emas tahun ini menjadi 830 metrik ton, hampir dua kali lipat dari perkiraan awal 450 metrik ton.

“Risiko utama bagi emas adalah jika pertumbuhan ekonomi AS membaik dan The Fed terpaksa menaikkan suku bunga karena tekanan inflasi,” tulis UBS dalam laporannya.

Sementara itu, laporan Goldman Sachs pada akhir September memperkirakan harga emas akan naik sekitar 6% hingga pertengahan 2026, mencapai US$ 4.000 per troy ounce. Bank investasi itu membagi pembeli emas menjadi dua kelompok, yaitu pembeli jangka panjang (conviction buyers) dan pembeli oportunistis yang masuk saat harga dianggap menarik.

Goldman juga memperkirakan bank-bank sentral akan terus menambah cadangan emas setidaknya tiga tahun ke depan. “Bank sentral di negara berkembang masih memiliki porsi emas yang lebih kecil dibanding negara maju, dan mereka terus menambah kepemilikan sebagai bagian dari strategi diversifikasi,” tulis analis Goldman Sachs Lina Thomas.

Data survei Dewan Emas Dunia (World Gold Council) pada Juli menunjukkan 95% bank sentral memperkirakan kepemilikan emas global akan meningkat dalam setahun mendatang.

Kenaikan harga emas terjadi di tengah ketidakpastian ekonomi global, yang semakin diperburuk oleh kebijakan tarif impor tinggi dari Presiden AS Donald Trump. Meskipun Trump menegaskan emas tidak akan dikenai tarif, kebijakan tarif tinggi terhadap negara lain tetap mengguncang rantai pasok global.

Beberapa produsen perhiasan besar seperti Pandora dan Signet mulai menyiapkan langkah antisipasi, termasuk kemungkinan menaikkan harga produk atau mencari bahan alternatif untuk menekan biaya produksi.

Sementara itu, merek seperti Mejuri, yang dikenal menawarkan perhiasan emas dengan harga lebih terjangkau, juga mulai merasakan tekanan. Bulan lalu, perusahaan ini mengumumkan kenaikan harga karena melonjaknya biaya emas, perak, dan tarif impor.

“Meski kami telah berupaya menahan dampaknya tanpa mengorbankan kualitas, beberapa harga produk akan kami sesuaikan mulai Senin, 29 September,” tulis Mejuri dalam email kepada pelanggan. Perusahaan itu juga mengembangkan produk baru seperti emas solid 10 karat agar tetap bisa menawarkan perhiasan berkualitas dengan harga terjangkau.

Demo Ewf
Demo Equityworld

Equityworld Futures | Wall Street Bervariasi di Tengah Penutupan Pemerintah AS

Equityworld Futures | Wall Street Bervariasi di Tengah Penutupan Pemerintah AS

Equityworld Futures | Indeks S&P 500 mencatat rekor penutupan tertinggi dalam sesi perdagangan yang bergejolak pada Jumat (3/10). Ekspektasi pasar terhadap penurunan suku bunga tetap kuat, meskipun penutupan sebagian pemerintah Amerika Serikat telah memasuki hari ketiga.

Equityworld Futures | Sejarah Dunia! Harga Emas Resmi Memasuki Level US$ 3.900

Selain S&P 500, Dow Jones Industrial Average juga mencetak rekor penutupan baru. Sementara Nasdaq Composite justru melemah di akhir sesi.

Mengutip Reuters, Rata-rata Industri Dow Jones (.DJI) naik 238,56 poin atau 0,51 persen menjadi 46.758,28. Indeks S&P 500 (.SPX) menguat tipis 0,44 poin atau 0,01 persen menjadi 6.715,79. Sementara itu, Nasdaq Composite (.IXIC) turun 63,54 poin atau 0,28 persen menjadi 22.780,51.

Sektor teknologi S&P 500 (.SPLRCT) melemah, dipimpin penurunan saham Applied Materials (AMAT.O) sebesar 2,7 persen setelah perusahaan itu memperkirakan kerugian US$600 juta terhadap pendapatan tahun fiskal 2026. Saham Tesla (TSLA.O) juga turun 1,4 persen. Sebaliknya, sektor utilitas (.SPLRCU) naik 1,2 persen dan memimpin penguatan di antara sektor lainnya.

Laporan penggajian nonpertanian AS untuk September seharusnya dirilis Jumat, namun tertunda akibat penutupan pemerintah. Investor masih mencerna survei dari Institute for Supply Management (ISM) yang menunjukkan kontraksi ketenagakerjaan sektor jasa selama empat bulan berturut-turut. Data ini memperkuat harapan akan pemangkasan suku bunga lebih lanjut oleh Federal Reserve (The Fed).

“Rasanya momentum memang berpihak pada investor selama beberapa hari terakhir,” kata Mona Mahajan, Kepala Strategi Investasi di Edward Jones.

“Mungkin karena ada potensi dampak terhadap perekonomian atau beberapa data ketenagakerjaan yang lebih lemah, ekspektasinya adalah kita masih berada dalam situasi di mana The Fed akan memangkas suku bunga,” imbuhnya.

The Fed memangkas suku bunga pada September untuk pertama kalinya sejak Desember, di tengah pelemahan pasar tenaga kerja. Sebelumnya, laporan hari Rabu menunjukkan penurunan jumlah tenaga kerja swasta sebesar 32.000 pada September, serta revisi turun 3.000 pada Agustus.

Secara mingguan, Dow Jones naik 1,1 persen, S&P 500 juga naik 1,1 persen, dan Nasdaq menguat 1,3 persen.

Meski pasar umumnya cenderung mengabaikan penutupan pemerintah, sejumlah analis menilai bahwa jika berlangsung lama, situasi ini bisa menambah ketidakpastian bagi investor dan pembuat kebijakan The Fed.

“Pasar umumnya mengabaikan penutupan pemerintah karena biasanya tidak berlangsung lama dan tidak memiliki dampak negatif jangka panjang terhadap perekonomian,” ujar Anthony Saglimbene, Kepala Strategi Pasar di Ameriprise Financial, Michigan.

“Namun, semakin lama hal ini berlangsung, artinya pengumpulan data untuk laporan yang sangat penting bisa tertunda, atau bisa mengaburkan sebagian data yang nantinya akan kita dapatkan karena pengumpulan data tidak dilakukan dalam jangka waktu yang lama,” tambah Saglimbene.

Dari sisi kebijakan moneter, Presiden Fed Chicago Austan Goolsbee menyatakan masih berhati-hati untuk berkomitmen pada serangkaian pemotongan suku bunga karena inflasi tetap di atas target.

Menurut FedWatch Tool milik CME Group, pelaku pasar memperkirakan pemangkasan suku bunga sebesar 25 basis poin hampir pasti terjadi pada pertemuan The Fed bulan Oktober, dengan kemungkinan 84 persen terjadi pemotongan tambahan pada Desember.

Sementara itu, saham USA Rare Earth (USAR.O) melonjak 14,3 persen setelah CEO Barbara Humpton mengatakan kepada CNBC bahwa perusahaan tersebut “berkomunikasi erat” dengan Gedung Putih.

Di Bursa Efek New York (NYSE), jumlah saham yang naik melampaui yang turun dengan rasio 1,72 banding 1. Sebanyak 686 saham mencatat harga tertinggi baru, sementara 55 saham mencatat harga terendah baru.

Demo Ewf
Demo Equityworld

Equityworld Futures | Harga Minyak Ditutup Anjlok 2% ke Level Terendah Empat Bulan Kamis (2/10)

Equityworld Futures | Harga Minyak Ditutup Anjlok 2% ke Level Terendah Empat Bulan Kamis (2/10)

Equityworld Futures | Harga minyak dunia turun sekitar 2% ke posisi terendah dalam empat bulan pada Kamis (2/10/2025), memperpanjang penurunan untuk hari keempat berturut-turut.

Equityworld Futures | Harga Emas Tiba-Tiba Ambruk Setelah Cetak Rekor, Apa yang Terjadi?

Kekhawatiran terhadap potensi kelebihan pasokan menjelang pertemuan OPEC+ akhir pekan ini menjadi faktor utama tekanan harga.

Melansir Reuters, kontrak berjangka Brent ditutup melemah US$1,24 atau 1,9% ke US$64,11 per barel, level terendah sejak 2 Juni.

Sementara itu, West Texas Intermediate (WTI) AS turun US$1,30 atau 2,1% ke US$60,48 per barel, terendah sejak 30 Mei.

Tiga sumber yang mengetahui pembicaraan menyebutkan, OPEC+ berpotensi menyepakati peningkatan produksi hingga 500.000 barel per hari pada November, tiga kali lipat dari kenaikan di bulan Oktober. Langkah ini sejalan dengan ambisi Arab Saudi merebut kembali pangsa pasar.

“Kami percaya September menjadi titik balik, dengan pasar minyak kini menuju surplus besar pada kuartal IV 2025 hingga tahun depan,” tulis analis JPMorgan.

Menurut JPMorgan, tambahan pasokan OPEC+, turunnya pengolahan kilang global karena perawatan, serta pelemahan permintaan musiman akan mempercepat akumulasi stok minyak.

Hal senada diungkap HFI Research, yang memperkirakan persediaan minyak AS dan global akan terus meningkat hingga akhir tahun, memperlemah pasar lebih lanjut.

Data terbaru Energy Information Administration (EIA) juga menunjukkan stok minyak mentah, bensin, dan distilat AS naik minggu lalu seiring pelemahan permintaan.

“Proyeksi permintaan minyak global masih bervariasi, namun secara rata-rata sudah direvisi turun 150.000 barel per hari sepanjang Januari–September,” tulis analis PVM Energy.

Dari sisi geopolitik, para menteri keuangan G7 berkomitmen memperketat tekanan pada Rusia, termasuk membidik pihak-pihak yang meningkatkan impor minyaknya.

AS juga akan memberikan intelijen kepada Ukraina untuk menyerang infrastruktur energi Rusia, seperti kilang dan pipa, guna memangkas pendapatan Kremlin.

Namun, analis UBS Giovanni Staunovo menilai potensi gangguan pasokan Rusia masih terbatas. “Selama belum ada gangguan nyata, dampak pada harga akan kecil,” ujarnya.

Permintaan stok minyak dari China, sebagai importir terbesar dunia, turut membatasi penurunan harga.

Sementara itu, Colonial Pipeline, jaringan bahan bakar terbesar di AS, kembali beroperasi usai sempat terganggu perawatan sistem.

Demo Ewf
Demo Equityworld

Equityworld Futures | Wall Street Ditutup Menguat, Sektor Kesehatan Jadi Pendorong Utama

Equityworld Futures | Wall Street Ditutup Menguat, Sektor Kesehatan Jadi Pendorong Utama

Equityworld Futures | Indeks saham utama Amerika Serikat (AS) atau Wall Street ditutup naik pada Rabu (1/10), ditopang penguatan saham sektor kesehatan. Investor mengabaikan data penggajian swasta yang lebih lemah dari perkiraan serta ketidakpastian terkait hari pertama penutupan pemerintahan AS.

Equityworld Futures | Shutdown Pemerintah AS, Harga Emas Cetak Rekor Tertinggi Lagi

Mengutip Reuters, rata-rata Industri Dow Jones (.DJI) naik 43,21 poin atau 0,09 persen menjadi 46.441,10. Indeks S&P 500 (.SPX) menguat 22,74 poin atau 0,34 persen ke level 6.711,20, dan Nasdaq Composite (.IXIC) naik 95,15 poin atau 0,42 persen menjadi 22.755,16.

Laporan pekerjaan Departemen Tenaga Kerja bulan September diperkirakan akan tertunda jika pemerintah belum dibuka kembali pada Jumat. Investor tentu memperhatikan laporan ketenagakerjaan nasional ADP.

ADP melaporkan penurunan tenaga kerja swasta sebesar 32.000 pada September, setelah revisi turun 3.000 pada Agustus. Angka ini jauh di bawah perkiraan ekonom yang memproyeksikan pertumbuhan 50.000 pada September dan laporan sebelumnya yang memperkirakan kenaikan 54.000 di Agustus.

Sementara itu, data dari Institute for Supply Management menunjukkan manufaktur AS mulai bergerak menuju pemulihan pada September. Setelah sempat dibuka melemah, ketiga indeks utama AS akhirnya berbalik menguat. Dari 11 sektor utama S&P 500, sektor kesehatan mencatatkan kenaikan terbesar, didorong oleh penguatan saham perusahaan farmasi.

Reli sektor kesehatan dipicu pernyataan Presiden AS Donald Trump dan kesepakatan dengan Pfizer (PFE.N). Perusahaan farmasi itu setuju menurunkan harga obat resep dalam program Medicaid dibandingkan biaya di negara maju lainnya dengan imbalan keringanan tarif. Trump berharap langkah ini diikuti perusahaan farmasi lain.

“Kemarin adalah katalisator bagi sektor perawatan kesehatan,” kata Lara Castleton, kepala konstruksi dan strategi portofolio AS di Janus Henderson Investors.

Ia menambahkan sektor tersebut berpotensi reli setelah sepanjang tahun tertinggal dibanding pasar lain.

“Orang-orang tidak serta merta menghindarinya, tetapi mereka tidak terlalu banyak dialokasikan ke bidang perawatan kesehatan seperti halnya ke bidang teknologi dan semua kehebohan AI,” ujarnya.
Selain sektor kesehatan, teknologi juga menjadi pendorong besar bagi S&P 500. Saham Micron (MU.O) melonjak 8,9 persen, sementara indeks chip Philadelphia (.SOX) naik 2 persen

Demo Ewf
Demo Equityworld

Equityworld Futures | Jangan Kaget! Harga Emas Akhir Tahun Bisa Tembus Segini

Equityworld Futures | Jangan Kaget! Harga Emas Akhir Tahun Bisa Tembus Segini

Equityworld Futures | Harga emas terus melambung tinggi mencapai level tertinggi sepanjang sejarah atau all-time high (ATH). Ketidakpastian ekonomi imbas tensi geopolitik, perang dagang, hingga kebijakan suku bunga bank sentral Amerika Serikat, Federal Reserve alias The Fed, dinilai menjadi biang kerok melonjaknya harga logam mulia ini.

Equityworld Futures | Harga Emas Akhirnya Tembus Rekor US$3.800, Tertinggi Sepanjang Masa!

Bahkan untuk nilai logam mulia Antam yang menjadi patokan harga emas di Indonesia, hari ini sudah mencapai Rp 2.198.000 per gram. Namun apakah harga emas ini akan terus melambung tinggi atau malah turun dan mulai terkoreksi?

Pengamat Ekonomi Mata dan Komoditas, Ibrahim Assuaibi mengatakan nilai logam mulia akan terus naik. Kondisi ini utamanya dipengaruhi oleh pergerakan harga emas dunia yang diperkirakan terus menguat.

Ia menjelaskan penguatan harga emas global ini utamanya dipengaruhi dua faktor, yakni kondisi ekonomi Amerika Serikat (AS) yang kerap menjadi poros perdagangan dan ekonomi dunia, serta kedua akibat dari tensi geopolitik berkepanjangan.

Dari sisi perekonomian AS terdapat perang dagang, rencana penurunan suku bunga The Fed, hingga melemahnya pasar tenaga kerja Negeri Paman Sam jadi pendorong utama. Sementara dari faktor geopolitik, banyaknya konflik bersenjata di area Timur Tengah antara Israel melawan Palestina, serta di Eropa antara Rusia dengan Ukraina yang didukung NATO menjadi biang Keroknya.

“Nah ketegangan ini yang membuat harga emas berlanjut. Sekarang sudah hampir mendekati US$ 3.800 per troy ons, tinggal US$ 7 lagi,” kata Ibrahim kepada detikcom.

Ia memperkirakan harga emas dunia bisa mencapai US$ 3.850 per troy ons hingga akhir 2025, sehingga harga emas di Indonesia yang mengikuti harga global akan ikut naik di atas Rp 2.300.000 per gram.

“Di akhir tahun, kemungkinan besar di bulan Oktober-November US$ 3.850 per troy ons akan tercapai. Jadi, karena perang dagang ini luar biasa, bayangkan 100%, semua negara berdampak semua oleh Trump. Nah sedangkan Trump sendiri menjabat sampai tahun 2028,” paparnya.

Belum lagi dalam perdagangan domestik di Indonesia, harga emas ikut terkerek imbas pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar. Ditambah harga emas global yang terus mengalami kenaikan seperti sekarang ini, membuat lanjut harga emas domestik jadi sangat tinggi.

“Jadi kenapa sih kalau harga logam mulia itu naik ya karena rupiahnya melemah kan. Rupiah kemarin melemah cukup tajam Ya bahkan hampir mendekati level Rp 16.800 kan. Akhirnya pada saat harga emas dunia naik rupiah melemah, ini yang membuat harga logam mulia terus mengalami kenaikan yang cukup signifikan,” terang Ibrahim.

Demo Ewf
Demo Equityworld

Equityworld Futures | Wall Street Hentikan Pelemahan Usai AS Rilis Data Inflasi, Nasdaq Balik Arah

Equityworld Futures | Wall Street Hentikan Pelemahan Usai AS Rilis Data Inflasi, Nasdaq Balik Arah

Equityworld Futures | Indeks Wall Street ditutup naik pada perdagangan Jumat (26/9), tetapi secara mingguan masih mencatatkan penurunan setelah investor mencermati rilis data inflasi Amerika Serikat (AS).

Equityworld Futures | Harga Emas Terus Naik, Hampir Sentuh US$3.800

Dow Jones Industrial Average naik 299,97 poin atau 0,65% ke 46.247,29. S&P 500 menguat 0,59% ke 6.643,70 dan Nasdaq Composite menanjak 0,44% ke 22.484,07. Kenaikan ini menghentikan tren pelemahan tiga hari beruntun. Namun selama sepekan Nasdaq turun 0,7% dan S&P 500 melemah 0,3%. Keduanya mencatat penurunan mingguan pertama dalam empat pekan terakhir.

Dow Jones juga ikut terkoreksi 0,2% secara mingguan. Investor juga mencermati rilis indeks harga pengeluaran konsumsi pribadi (Personal Consumption Expenditures/PCE) Agustus.

Data menunjukkan inflasi inti, yang tidak memasukkan harga makanan dan energi, naik 2,9% secara tahunan, sesuai dengan perkiraan ekonom Dow Jones. Selain inflasi inti, data inflasi AS Agustus juga menunjukkan indeks semua item naik 2,7% secara tahunan dan 0,3% secara bulanan.

Menurut alat CME FedWatch, pasar tetap memperhitungkan dua kali pemangkasan suku bunga masing-masing 25 basis poin pada pertemuan Federal Reserve mendatang, sejalan dengan proyeksi bank sentral.

Namun, hasil ini hanya memberi dampak terbatas ke pasar. Kontrak berjangka saham sempat naik, tetapi investor menimbang data ekonomi lain yang terbit sebelumnya. Pada Kamis, Departemen Tenaga Kerja AS melaporkan rendahnya angka pengangguran.
Seiring dengan itu Biro Analisis Ekonomi merevisi pertumbuhan produk domestik bruto (PDB) kuartal kedua menjadi 3,8%. Kondisi ini meredam optimisme pasar karena menunjukkan ekonomi masih cukup kuat, sehingga memberi Fed lebih sedikit alasan untuk segera menurunkan suku bunga.

Kepala Strategi Pasar Global TradeStation, David Russell, menilai investor kembali masuk setelah Wall Street melemah tiga hari berturut-turut. Menurutnya, data klaim pengangguran dan revisi PDB sempat memicu kekhawatiran bahwa The Fed tidak akan segera menurunkan suku bunga.

“Namun, data inflasi PCE yang sesuai perkiraan meredakan kecemasan pasar,” kata Russell, dikutip CNBC, Senin (29/9).

Meski begitu, pasar tertekan oleh pelemahan saham sektor teknologi. Saham Oracle jatuh lebih dari 8% sepanjang pekan, menyeret kinerja emiten perangkat lunak dan kecerdasan buatan (AI) lainnya di tengah keraguan investor terhadap prospek perdagangan AI.

Demo Ewf
Demo Equityworld

Design a site like this with WordPress.com
Get started