Equity World | IHSG Tergelincir, Investor Asing Lepas Saham Emiten Kapitalisasi Besar

Equity World | IHSG Tergelincir, Investor Asing Lepas Saham Emiten Kapitalisasi Besar

Equity World | Gerak Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) alami koreksi pada awal sesi perdagangan Kamis, (17/6/2021). Tekanan terhadap IHSG ini mengikuti bursa saham Asia dan wall street yang tertekan. Serta aksi jual investor asing.

Pada pra pembukaan perdagangan, IHSG merosot 0,25 persen ke posisi 6.063. Pada pukul 09.06 WIB, IHSG tergelincir 0,54 persen ke posisi 6.045. Indeks saham LQ45 susut 0,91 persen ke posisi 877. Sebagian besar indeks saham acuan tertekan.

Sebanyak 249 saham melemah sehingga menekan IHSG. 115 saham menguat dan 166 saham diam di tempat. Pada awal sesi perdagangan, IHSG berada di kisaran 6.063 dan terendah 6.034. Total frekuensi perdagangan saham 117.729 kali dengan volume perdagangan 2,2 miliar saham. Nilai transaksi harian saham Rp 1,1 triliun. Investor asing jual saham Rp 56 miliar di seluruh pasar.

Sebagian besar sektor saham melemah kecuali sektor saham IDXCylical naik 0,16 persen dan sektor saham IDXTechno menanjak 0,67 persen.

Mayday! Bursa Saham Asia Berguguran, IHSG Bernasib Sama? | Equity World

Sektor saham IDXFinance susut 0,76 persen, sektor saham IDXNoncylical melemah 0,62 persen dan sektor saham IDXInfrastruktur turun 0,77 persen.

Saham-saham masuk top gainers antara lain:

-Saham ATIC naik 25 persen

-Saham PORT naik 25 persen

-Saham TRUE naik 24,74 persen

-Saham PRAS naik 23,44 persen

-Saham TECH naik 15,24 persen

Saham-saham yang masuk top losers antara lain:

-Saham PANI melemah 6,98 persen

-Saham YELO melemah 6,80 persen

-Saham MBTO melemah 6,77 persen

-Saham BCAP melemah 6,75 persen

-Saham BABP melemah 6,75 persen

Equity World | Semua Mata Tertuju pada The Fed, Ada Kejutan Hari Ini?

Equity World | Semua Mata Tertuju pada The Fed, Ada Kejutan Hari Ini?

Equity World | Pasar modal nasional bergerak variatif pada perdagangan kemarin, dengan reli di bursa saham dan koreksi di pasar surat utang dan rupiah. Hari ini, memantau ketat arah dan sinyal kebijakan moneter Amerika Serikat (AS).

Pada perdagangan Selasa (15/6/2021), Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup dengan apresiasi 0,14% ke level 6.089,03 setelah sempat terkoreksi sepanjang perdagangan. Nilai transaksi mencapai Rp 10,6 triliun dan investor asing membukukan pembelian bersih (net buy) senilai Rp 214 miliar di pasar reguler. Sebanyak 183 saham naik, 334 turun, dan sisanya 135 flat.

Penguatan tersebut mengikuti tren kawasan, di mana mayoritas bursa Asia ditutup menguat. Indeks Nikkei Jepang melesat 0,96%, Straits Times Singapura naik 0,69%, dan KOSPI Korea Selatan terapresiasi 0,2%. Sebaliknya, bursa Hang Seng Hong Kong dan Shanghai Composite China ditutup di zona merah. Indeks Hang Seng melemah 0,71% dan Shanghai merosot 0,92%.

Wall Street tergelincir, investor kembali khawatir menanti hasil pertemuan The Fed | Equity World

Penguatan terjadi setelah Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan surplus neraca perdagangan US$ 2,37 miliar. Nilai ekspor sebesar US$ 16,6 miliar, melonjak 58,76% secara tahunan, menjadi pertumbuhan tertinggi sejak Januari 2010.

Kabar baik datang dari nilai impor yang tumbuh lebih tinggi, mencapai 66,68%, yang mengindikasikan permintaan barang modal dan bahan baku untuk keperluan manufaktur meningkat. Nyaris 80% impor Indonesia merupakan gabungan keduanya, sehingga peningkatan impor juga bisa diartikan sebagai mulai bergeliatnya aktivitas industri nasional.

Meski demikian, kabar baik neraca perdagangan ini tidak cukup untuk membantu rupiah menguat. Padahal, surplus yang didapatkan menjadi sumber pasokan devisa nasional, sehingga secara psikologis semestinya membantu memulihkan sentimen terhadap rupiah di pasar uang.

Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) tercatat melemah di kurs tengah Bank Indonesia (BI) dan di pasar spot. Kemarin, kurs tengah BI atau kurs acuan Jakarta Interbank Spot Dollar Rate/Jisdor di level Rp 14.244 per dolar AS atau melemah 0,15%.

Sementara itu, di pasar spot mata uang Tanah Air juga melemah sebesar 0,14% ke Rp 14.220/US$. Depresiasi rupiah kemarin merupakan salah satu yang terdalam di antara mata uang utama Asia, hanya lebih baik dari peso Filipina.

Sentimen penekannya berasal dari situasi pandemi yang makin runyam menyusul penyebaran virus Covid-19 varian baru asal India. Berdasarkan data Kementerian Kesehatan per Selasa (15/6/2021) hingga pukul 12:00 WIB, kasus Covid-19 ddi Indonesia mencapai 1,927 juta orang.

Kasus aktif atau jumlah pasien yang harus mendapatkan perawatan tercatat naik 1.590 orang, sehingga totalnya 116.787 orang. Dengan jumlah spesimen yang diperiksa sebanyak 108.800 spesimen, dan 7,5% kasus positif dari keseluruhan tes.

Dalam apel akbar penanganan pandemi tadi malam, Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan menyatakan bahwa okupansi Wisma Atlet yang digunakan untuk menampung pasien penderita Covid-19 telah mencapai 70%, dari semula posisi 5 Juni sebanyak 30%.

Kabar baik itu memicu aksi jual di pasar obligasi pemerintah, karena investor kian yakin ekonomi akan membaik dan mereka memilih memburu aset investasi berisiko yang menjanjikan keuntngan lebih tinggi, yakni saham.

Harga mayoritas obligasi pemerintah atau Surat Berharga Negara (SBN) terpantau melemah pada perdagangan Selasa (15/6/2021), ditandai naiknya imbal hasil (yield) SBN di hampir semua tenor. Yield SBN tenor 10 tahun berkode FR0087 yang merupakan acuan obligasi negara naik sebesar 6 basis poin (bp) ke 6,418%

Hanya SBN berjatuh tempo 3 tahun dan 25 tahun yang yield-nya mengalami penurunan dan ramai diburu investor masing-masing sebesar 1,7 dan 0,1 bp. Yield berlawanan arah dari harga, sehingga kenaikan yield menunjukkan harga obligasi yang melemah, demikian juga sebaliknya. Satuan penghitungan basis poin setara dengan 1/100 dari 1%.

PT Equityworld | Wall Street Variatif, Nasdaq Meroket 104 Poin

PT Equityworld | Wall Street Variatif, Nasdaq Meroket 104 Poin

PT Equityworld | Saham-saham di Amerika Serikat (AS), Wall Street, berakhir beragam pada akhir perdagangan Senin waktu setempat. Indeks S&P 500 dan Nasdaq tercatat mencapai rekor penutupan tertinggi.

Melansir Xinhua, Selasa, 15 Juni 2021, indeks Dow Jones turun 0,25 persen atau 85,85 poin menjadi 34.393,75. Sementara indeks S&P 500 meningkat 0,18 persen atau 7,71 poin menjadi 4.255,15, dan Nasdaq meroket 0,74 persen atau 104,72 poin menjadi 14.174,14.

Mengutip Antara, enam dari 11 sektor utama S&P 500 berakhir di zona hijau, dengan sektor teknologi memimpin kenaikan sebesar 1,04 persen, memimpin kenaikan. Sementara itu, sektor material tergelincir 1,28 persen, menjadikannya kelompok dengan kinerja terburuk.

Investor sedang mencari isyarat baru dari bank sentral tentang prospek inflasi, setelah data terbaru menunjukkan ekonomi AS mendapatkan kembali momentum tetapi tidak terlalu panas. Hal ini telah meredakan kekhawatiran investor tentang inflasi.

Wall Street turun pada awal perdagangan pekan ini |PT Equityworld

Sementara The Fed telah meyakinkan bahwa setiap lonjakan inflasi akan bersifat sementara. Para pembuat kebijakan dapat mulai membahas pengurangan pembelian obligasi pada pertemuan Selasa-Rabu 15 dan 16 Juni 2021. Namun, sebagian besar analis tidak memperkirakan keputusan sebelum konferensi tahunan Jackson Hole, Wyoming, bank sentral pada Agustus.

Setiap perubahan dalam retorika dovish Fed dapat menjungkirbalikkan pasar ekuitas. Indeks acuan S&P telah naik 13,1 persen tahun ini, sedangkan Indeks Dow Jones dan Indeks Nasdaq masing-masing naik 12,7 persen dan 9,2 persen.

PT Equityworld | Wall Street Melesat Setelah Imbal Hasil Obligasi AS Diturunkan

PT Equityworld | Wall Street Melesat Setelah Imbal Hasil Obligasi AS Diturunkan

PT Equityworld | Pada penutupan perdagangan pekan lalu, ketiga indeks utama Wall Street kembali melesat. Penurunan imbal hasil obligasi s atau US Treasury disambut baik oleh investor.

Dilansir dari Reuters, Senin (14/6), indeks Dow Jones menguat 13,36 poin ke posisi 34.479,60; S&P 500 naik 0,2 persen ke posisi tertinggi baru 4.247,44; dan Nasdaq bertambah 0,4 persen ke posisi 14.069,42.

Selama sepekan, Dow melemah 0,8 persen. Sementara S&P 500 naik 0,4 persen dan Nasdaq menguat 1,9 persen.

Kenaikan Wall Street juga dipengaruhi oleh investor yang mengabaikan data kenaikan laju inflasi yang naik 5 persen (yoy) pada Mei 2021, laju tercepat sejak 2008.

Selain itu, dorongan saham juga dipengaruhi oleh penurunan imbal hasil US Treasury yang berada di bawah 1,43 persen. Ini merupakan level terendah dalam tiga bulan terakhir, setelah pekan lalu di atas 1,77 persen.

Sejumlah saham ‘meme’ atau saham ritel yang naik imbas ramainya di media sosial, juga meningkat. Saham AMC melonjak lebih dari 15 persen dan GameStop naik hampir 6 persen. Namun kedua saham itu kembali tertekan karena momentum di Reddit memudar.

Volume di bursa saham AS mencapai 9,11 miliar saham, sedikit lebih rendah dari 20 hari terakhir sebanyak 10,56 miliar saham.

Duh! IHSG Rawan Koreksi, Pilih Saham Apa Hari Ini? | PT Equityworld

Sementara itu, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) diprediksi terkoreksi hari ini. Analis Reliance Sekuritas Lanjar Nafi mengatakan laju IHSG akan bergerak di level support 6.044 dan level tertinggi 6.118 di sepanjang perdagangan hari ini. Pekan lalu, Jumat (11/6), IHSG ditutup melemah ke level 6.095 atau turun 0,20 persen.

“Secara teknikal IHSG membentuk pola false break resistance 6.118 dan fractal 6.103. Pola candlestick bearish counter attack dengan Indikator Stochastic dan RSI yang mengarah ke area jenuh. Indikasi terkoreksi pada perdagangan selanjutnya ,” tulis Lanjar dalam risetnya, Senin (14/6).

Sementara itu, Vice President Research Department William Surya Wijaya mengatakan pergerakan IHSG hingga saat ini terlihat masih berada dalam fase konsolidasi wajar. Menurut William, jika resisten level terdekat berhasil ditembus dalam beberapa waktu mendatang maka IHSG berpotensi untuk kembali pada jalur uptrend jangka pendeknya.

Di sisi lain William mengatakan laju IHSG ditopang oleh perekonomian Indonesia yang stabil dan kuat. Hal ini terlihat dari beberapa data perekonomian yang telah terlansir. “Hari ini IHSG masih berpotensi bergerak dalam rentang terbatas,” ujarnya.

Berikut beberapa saham unggulan yang direkomendasikan William: PT Indofood CBP Sukses Makmur Tbk (ICBP), PT Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI), PT Indo Tambangraya Megah Tbk (ITMG), PT Semen Indonesia (Persero) Tbk (SMGR), PT Bank Mandiri Tbk (BMRI), PT Astra Agro Lestari Tbk (AALI), dan PT Wijaya Karya Tbk (WIKA).

PT Equityworld | Inflasi AS Tembus 5%, Wall Street Ijo, IHSG-Rupiah Ikutan?

PT Equityworld | Inflasi AS Tembus 5%, Wall Street Ijo, IHSG-Rupiah Ikutan?

PT Equityworld | Pasar keuangan Tanah Air menunjukkan tajinya pada perdagangan Kamis (10/6) kemarin. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) melonjak hampir 1%, kemudian diikuti oleh penguatan tipis rupiah dan kenaikan harga obligasi pemerintah atau Surat Berharga Negara (SBN).

IHSG ditutup dengan apresiasi 0,99% ke level 6.107,53 pada perdagangan kemarin. Indeks acuan pasar modal sukses ditutup menembus level psikologis 6.100.

Nilai transaksi IHSG kemarin sebesar Rp 12 triliun dan terpantau investor asing membeli bersih Rp 239 miliar di pasar reguler. Tercatat 267 saham melesat, 201 terkoreksi, sisanya 177 stagnan.

Bank Indonesia (BI) lagi-lagi membawa kabar gembira. Setelah kemarin mengumumkan hasil Survei Konsumen yang oke punya, hari ini MH Thamrin merilis hasil Survei Penjualan Eceran yang tidak kalah keren.

BI melaporkan, penjualan ritel yang dicerminkan oleh Indeks Penjualan Riil (IPR) pada April 2021 berada di 220,4. Naik 17,3% dibandingkan bulan sebelumnya (month-month/mtm) dan 15,6% dari April 2020 (year-on-year/yoy).

Kali terakhir penjualan ritel mampu tumbuh positif secara tahunan adalah pada November 2019. Artinya, kontraksi sudah terjadi selama 16 bulan beruntun dan baru terputus bulan ini.

Emas merayap naik setelah data inflasi AS lebih tinggi | PT Equityworld

“Responden menyampaikan peningkatan kinerja penjualan eceran didorong meningkatnya permintaan selama Ramadan didukung berbagai program potongan harga (diskon). Peningkatan penjualan terjadi pada mayoritas kelompok komoditas yang disurvei, terutama Subkelompok Sandang, Kelompok Makanan, Minuman dan Tembakau serta Kelompok Bahan Bakar Kendaraan Bermotor,” sebut laporan BI.

Pada Mei 2021, penjualan ritel diperkirakan mampu kembali tumbuh positif baik secara bulanan maupun tahunan. BI memperkirakan IPR Mei 2021 sebesar 223,9, naik 1,6% mtm dan 12,9% yoy.

Sementara, rupiah akhirnya menguat tipis melawan dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan kemarin. Padahal, di awal perdagangan rupiah sempat menguat cukup tajam.

Melansir data Refinitiv, rupiah membuka perdagangan dengan menguat 0,07%, setelahnya sempat stagnan di Rp 14.250/US$. Tidak lama, rupiah kembali ke zona merah, menguat hingga 0,25% ke Rp 14.215/US$.

Sayangnya, level tersebut menjadi yang terkuat hari ini, setelahnya rupiah memangkas penguatan dan mengakhiri perdagangan di Rp 14.245/US$ atau menguat 0,04%.

Pelaku pasar menanti rilis data inflasi AS pada Kamis malam, yang bisa memberikan gambaran bagaimana “nasib” isu taper tantrum membuat laju penguatan rupiah tertahan.

Inflasi merupakan salah satu acuan bank sentral AS (The Fed) untuk melakukan tapering atau pengurangan nilai program pembelian aset (quantitative easing/QE).

Tapering merupakan isu utama yang ditakutkan pelaku pasar karena dapat menimbulkan gejolak yang disebut taper tantrum. Saat itu terjadi, dolar AS akan sangat kuat, dan rupiah terpukul.

Setali tiga uang, obligasi pemerintah pun menguat. investor kembali memburu SBN pada Kamis, ditandai dengan menurunnya yield SBN acuan di semua tenor. SBN tenor 3 tahun menjadi yang paling terbanyak diburu oleh investor, terlihat dariyield-nya yang mengalami penurunan signifikan, yakni sebesar 9,4 basis poin (bp) ke level 4,7%.

Sementara itu,yield SBN bertenor 10 tahun dengan kode FR0087 yang merupakan acuan obligasi negara juga turun signifikan sebesar 9,2 bp ke posisi 6,437% pada kemarin.

Yield berlawanan arah dari harga, sehingga penurunan yield menunjukkan harga obligasi yang sedang menguat, demikian juga sebaliknya. Satuan penghitungan basis poin setara dengan 1/100 dari 1%.

PT Equityworld | Kamis Pagi, Saham Asia Pasifik Bergerak Ketat, Seputar Garis Datar

PT Equityworld | Kamis Pagi, Saham Asia Pasifik Bergerak Ketat, Seputar Garis Datar

PT Equityworld | Saham di kawasan Asia-Pasifik bergerak ketat di seputar garis datar pada pembukaan perdagangan Kamis pagi (9/6/2021). Pasar berhati-hati menunggu data inflasi AS yang akan dirilis Kamis waktu setempat.

Di Jepang, Nikkei 225 dibuka melayang di bawah dan di atas garis datar Kospi Korea Selatan juga tak jauh berbeda, sebentar ke zona merah dan kemudian masuk zona hijau, dengan pergerakan sangat ketat di seputar garis datar. Sementara itu, saham di Australia menguat, dengan S&P/ASX 200 0,17% lebih tinggi.

Investor Sambut Pembagian Dividen dan Merger, IHSG Masih Berpotensi Terkoreksi | PT Equityworld

Semalam di Amerika Serikat, Dow turun 152,68 poin menjadi 34.447,14 sementara S&P 500 tergelincir 0,18% menjadi 4.219,55. Nasdaq Composite terkoreksi sekitar 0,1% menjadi 13.911,75. Pasar wait and see dan sangat berhati-hati menjelang data inflasi konsumen AS. Indeks harga konsumen AS untuk bulan Mei, yang akan dilaporkan pada pukul 8:30 pagi ET Kamis, diperkirakan akan menunjukkan inflasi utama sebesar 4,7%. Di pasar uang, indeks dolar AS, yang melacak greenback terhadap sekeranjang rekan-rekannya, berada di 90,12 setelah baru-baru ini memantul dari bawah level 90. Yen Jepang diperdagangkan pada 109,61 per dolar, lebih lemah dari level di sekitar 109,2 terhadap greenback yang terlihat awal pekan ini. Dolar Australia berpindah tangan pada $0,7729, setelah melihat penurunan baru-baru ini dari sekitar $0,776.

PT Equityworld | Wall Street konsolidasi, investor masih menunggu data inflasi

PT Equityworld | Wall Street konsolidasi, investor masih menunggu data inflasi

PT Equityworld | Wall Street bergerak mixed. Nasdaq Composite menguat di tengah penurunan S&P 500 dan Dow Jones Industrial Average.

Selasa (8/6) pukul 21.23 WIB, Dow Jones turun 0,20% ke 34.561. S&P 500 melemah 0,05% ke 4.224. Sedangkan Nasdaq Composite menguat 0,39% ke 13.933.

Investor masih menahan diri menjelang rilis data inflasi utama akhir pekan ini. Sementara saham Tesla melesat setelah laporan penjualan di China melonjak 29% secara bulanan pada bulan Mei.

Saham Tesla naik 2,9% dalam pra-perdagangan. Harga saham produsen kendaraan listrik China NIO Inc, Li Auto Inc dan Xpeng Inc naik antara 1,6% dan 2,2%.

Saham teknologi utama diperdagangkan sedikit lebih tinggi, dengan saham FAANG naik antara 0,3% dan 0,6% karena investor mencerna kemungkinan dampak dari rencana global untuk meningkatkan pajak pada perusahaan multinasional besar.

Kurang Tenaga, Wall Street Dibuka Mixed, Dow Berbalik Minus | PT Equityworld

Namun, Wall Street jatuh ke dalam jeda minggu ini setelah melonjak ke rekor tertinggi melalui musim pendapatan yang kuat di bulan Mei.

Investor sekarang menunggu isyarat lebih lanjut tentang kebijakan tapering dari Federal Reserve setelah rilis inflasi Kamis pekan ini. “Ini adalah jeda yang sangat baik dan sehat yang telah diambil pasar dan saya memperkirakan itu tetap berada dalam kisaran ini sampai ada data yang mengejutkan,” kata Sean O’Hara, presiden Pacer ETF di Malvern, Pennsylvania. .

Ekonomi AS bersiap untuk rebound tajam dari kemerosotan yang disebabkan oleh Covid. Data inflasi baru-baru ini menunjukkan hal yang sama. Tetapi pemulihan pasar tenaga kerja pun tengah terhenti.

PT Equityworld | Wall Street melemah tipis, investor menanti data inflasi AS

PT Equityworld | Wall Street melemah tipis, investor menanti data inflasi AS

PT Equityworld | Wall Street melemah tipis di awal perdagangan pekan ini. Investor tetap waspada menjelang data inflasi utama akhir pekan ini, sementara saham teknologi kelas berat sebagian besar mengabaikan kesepakatan pajak perusahaan global minimal oleh G7.

Senin (7/6) pukul 21.30 WIB, Dow Jones Industrial Average turun 0,18% ke 34.695. Indeks S&P 500 melemah 0,19% ke 4.221. Sedangkan Nasdaq Composite turun tipis 0,04% ke 13.811.

Negara-negara anggota G7 sepakat pada hari Sabtu untuk mendukung tarif pajak perusahaan global minimum setidaknya 15%. Dengan aturan ini, akan lebih besar pajak yang berasal dari perusahaan multinasional seperti Amazon dan Google.

Tetapi analis mengatakan implikasi pasar langsung akan minimal karena rinciannya masih harus dinegosiasikan selama beberapa bulan mendatang.

PT Equityworld | Harga minyak terkoreksi tipis pada perdagangan Selasa (8/6) pagi |

“Meskipun semuanya terdengar bagus, jalan menuju implementasi (kesepakatan pajak) penuh dengan aral melintang,” kata Ken Polcari, Managing Partner di Kace Capital Advisors. Dia mengatakan tidak akan bereaksi dengan menjadi penjual di salah satu dari nama-nama emiten yang bakal kena pajak ini.

Harga saham emiten chip turun di tengah kekhawatiran pembatasan COVID-19 yang berkepanjangan di Taiwan.

Pasar saham Amerika Serikat (AS) menguat pada Jumat lalu setelah laporan pekerjaan bulanan AS yang hangat meredakan kekhawatiran investor atas pengurangan program stimulus besar-besaran Federal Reserve.

Investor menunggu data harga konsumen Mei yang akan dirilis pada hari Kamis untuk menilai pola inflasi dalam perekonomian. “Pasar terikat kisaran karena kecemasan atas data inflasi akhir pekan ini sehingga membatasi saham,” kata Peter Cardillo, kepala ekonom pasar di Spartan Capital Securities di New York.

quityworld Futures | Info Harga Emas 24 Karat di Pegadaian, Hari Ini, Senin 7 Juni 2021, Awal Pekan Stabil Tak Berubah

Equityworld Futures | Info Harga Emas 24 Karat di Pegadaian, Hari Ini, Senin 7 Juni 2021, Awal Pekan Stabil Tak Berubah

Equityworld Futures | Pada hari ini, Senin (7/6/2021), harga emas batangan 24 karat yang dijual di Pegadaian tidak mengalami perubahan. Harga emas ini tidak berubah dibanding hari sebelumnya baik untuk cetakan Antam maupun di UBS.

Melansir laman resmi Pegadaian, emas Antam untuk ukuran terkecil yakni 0,5 gram dibandreol Rp 554.000, sementara untuk ukuran 1 gram dijual seharga Rp1.003.000.

Lalu untuk ukuran yang sama, harga emas UBS dibandrol seharga Rp968.000, sedangkan untuk ukuran 0,5 gram, harga emas UBS dipatok Rp517.000.

IPO Jumbo GoTo Diramal Tembus Rp 17 T, Siapa Mampu Borong?| Equityworld Futures

Hal ini berbanding terbalik untuk hari Minggu (6/6/2021), dimana harga emas baik di Pegadaian maupun UBS dibuka dengan harga yang naik dibanding hari sebelumnya, Sabtu (5/6/2021).

Hari kemarin, harga emas 24 karat UBS ukuran terkecil yakni 0,5 gram dipatok seharga Rp517.000, naik Rp8.000 dari posisi hari sebelumnya.

Sementara itu, emas Antam ukuran terkecil dibanderol Rp554.000, naik Rp 11.000 dari harga pada hari Jumat (4/6/2021).

Equityworld Futures | Meski IHSG Jenuh, Cuan Tetap Bisa Mampir Lewat Menu Saham Pilihan

Equityworld Futures | Meski IHSG Jenuh, Cuan Tetap Bisa Mampir Lewat Menu Saham Pilihan

Equityworld Futures | Secara teknikal Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) bergerak konfirmasi breakout MA50 dengan pergerakan momentum yang optimis pada indikator RSI dan Stochastic.

IHSG (+0.99%) ditutup menguat 59.94 poin ke level 6.091.51 dengan saham-saham BBCA, BBRI, DCII, BMRI dan CPIN yang memimpin penguatan hingga akhir sesi perdagangan. Net capital in flow cukup besar terjadi pada pasar reguler sebesar 888.85 miliar dengan total investor asing melakukan net buy sebesar Rp1,15 triliun disemua pasar.

” Optimisme akan data ekonomi yang menunjang pemulihan ekonomi Indonesia masih menjadi dorongan positif untuk ekuitas,” ujar Head Of Research Reliance Sekuritas Indonesia Lanjar Nafi di Jakarta, Jumat (4/6/2021).

Mayoritas indeks saham Asia kembali bervariasi. Pelemahan terjadi pada indeks HangSeng (-1.13%) dan CSI300 (-0.66%) dan penguatan pada indeks Nikkei (+0.39%) dan TOPIX (+0.84%) naik. Presiden Joe Biden mengumumkan rencana untuk mengubah larangan AS terhadap investasi diperusahaan yang terkait dengan militer China yang juga dapat memperluas pengawasan ke perusahaan yang lebih luas.

Bursa Eropa mayoritas dibuka melemah diawal sesi perdagangan. Indeks Eurostoxx (-0.42%), FTSE (-0.80%), DAX (-0.41%) dan CAC40 (-0.31%) turun dengan ekuitas berjangka AS pada hari kamis karena investor mempertimbangkan perubahan terbaru dalam hubungan AS-China serta komentar dari The Fed tentang potensi pengurangan stimulus.

Wall Street Terseret Pelemahan Sektor Teknologi | Equityworld Futures

Saham-saham pertambangan dan real estate menyeret indeks lebih rendah di Eropa.

” Sentimen selanjutnya investor masih terkena trigger kemajuan antara hubungan AS-China,” terangnya.

Adapun pergerakan IHSG, namun pergerakan berpotensi menjenuh setelah overshoot resistance MA50 secara psikologis. Sehingga diperkirakan IHSG berpotensi bergerak tertahan diakhir pekan dengan support resistance 6.031-6.111.

” Saham-saham yang dapat dicermati secara teknikal diantaranya; BSDE, INCO, CTRA, ACST, ADHI, ERAA, LPPF,” paparnya.

Sekadar informasi, IHSG mampu melonjak hingga akhir perdagangan, Kamis (3/6/2021). IHSG naik 0,99% atau 59,93 poin ke 6.091,5.

Tercatat 235 saham naik, 258 saham turun, dan 157 saham stagnan. Nilai transaksi menyentuh Rp12,67 triliun.

Total volume transaksi bursa mencapai 22,03 miliar saham. Investor asing mencatat net buy Rp1,15 triliun di seluruh pasar.

Design a site like this with WordPress.com
Get started