PT Equity World | Kamis, 24 Juni 2021: Harga Emas Hari Ini Melempem, Dah Kehabisan Bensin!

<a href="http://&lt;!– wp:paragraph –> <p>PT Equity World |<a href="http://equity-jakarta.com">http://equity-jakarta.com</a&gt; Kamis, 24 Juni 2021: Harga Emas Hari Ini Melempem, Dah Kehabisan Bensin!</p> PT Equity World | Harga emas hari ini terpangkas setelah dua hari ke belakang mengalami kenaikan, khususnya emas Antam di Pegadaian. Merujuk ke laman resmi Pegadaian, harga emas Antam turun tipis Rp2.000 dari Rp973.000 per gram menjadi Rp971.000 per gram pada Kamis, 24 Juni 2021.

Lonjakan harga tersebut membuat logam mulia Antam seberat 0,5 gram ikut terpangkas menjadi Rp539.000. Kemudian, membeli emas Antam cetakan 2 gram dan 3 kini juga menjadi lebih murah, masing-masing menjadi Rp1.879.000 dan Rp4.619.000.

Lain emas Antam lain pula emas UBS. Sejak awal pekan, harga emas UBS selalu stagnan. Emas UBS dibanderol seharga Rp933.000 per gram. Kemudian, harga emas UBS berukuran 0,5 gram dan 2 gram per hari ini masing-masing dihargai sebesar Rp499.000 dan Rp1.852.000.

quity World | Bursa Saham Asia Beragam, Investor Cermati Saham Teknologi

PT Equity World | Bursa Saham Asia Beragam, Investor Cermati Saham Teknologi

PT Equity World | Bursa saham Asia Pasifik bervariasi pada perdagangan saham Rabu pagi, (23/6/2021). Hal ini dipengaruhi indeks Nasdaq yang berisi saham teknologi catat rekor tertinggi di wall street.

Indeks Jepang Nikkei 225 naik 0,36 persen pada awal sesi perdagangan saham. Indeks Topix menguat. Berdasarkan catatan dari pertemuan bank sentral Jepang pada April 2021 menunjukkan anggota setuju mengenai stimulus untuk mendorong ekonomi maju. Hasil dari stimulus yang diberikan mendorong pemulihan ekonomi Jepang dan negara lainnya lebih cepat.

Indeks saham Korea Selatan Kospi menguat 0,27 persen. Indeks Australia melemah 0,16 persen. Indeks MSCI Asia Pasifik di luar Jepang menguat 0,13 persen. Demikian dilansir dari CNBC, Rabu (23/6/2021).

Saham teknologi di Asia Pasifik menguat pada perdagangan Rabu pagi. Di Jepang, saham Softbank Group naik 0,14 persen. Sementara itu, saham Naver menguat 6,14 persen.

Harga Emas Antam Hari ini 23 Juni, Turun ke Rp930 Ribu | PT Equity World

Kenaikan saham tersebut setelah indeks Nasdaq sentuh posisi tertinggi intraday baru dengan naik 0,79 persen ke posisi 14.253,37. Indeks S&P 500 menguat 0,51 persen menjadi 4.246,44. Indeks Dow Jones menanjak 68,61 poin ke posisi 33.945,58.

Indeks dolar AS berada di kisaran 91,73 setelah sempat sentuh posisi 91,8. Yen Jepang diperdagangkan di kisaran 110,70 per dolar AS. Harga minyak menguat pada jam perdagangan di Asia. Harga minyak berjangka Brent naik USD 74,86 per barel. Harga minyak berjangka Amerika Serikat mendaki 0,12 persen ke posisi USD 72,94 per barel.

Sebelumnya, bursa saham Amerika Serikat (AS) atau wall street menguat pada perdagangan Selasa, 22 Juni 2021 waktu setempat. Indeks S&P 500 berada di bawah rekor penutupan baru, dan indeks Nasdaq naik ke level tertinggi sepanjang masa seiring bitcoin kembali ke posisi intraday.

Pada penutupan perdagangan wall street, indeks Dow Jones naik 68,61 poin ke posisi 33.945,58. Indeks S&P 500 menguat 0,5 persen ke posisi 4.246,44. Indeks Nasdaq bertambah 0,8 persen ke posisi rekor intraday baru di posisi 14.253,27.

Bitcoin bergerak fluktuaktif dan menembus di bawah posisi USD 30.000 dan kemudian menghijau. Pada satu titik, mata uang kripto terbesar tersebut menghapus semua keuntungan 2021. Di sisi lain, saham Tesla naik hampir 0,5 persen dari titik terendahnya.

Saham teknologi memimpin reli pasar seiring saham Netflix naik 2,3 persen. Saham Amazon, Apple dan Microsoft menguat satu persen. Saham Facebook melonjak dua persen. Saham Alphabet naik setelah Komisi Eropa membuka penyelidikan ke unit periklanan Google.

Pada Senin, 21 Juni 2021, indeks Dow Jones naik 580 poin ke posisi terbaiknya sejak 5 Maret seiring saham yang berkaitan dengan pemulihan ekonomi kembali menguat. Saham tersebut sempat terpukul karena proyeksi terbaru the Federal Reserve tentang inflasi dan kenaikan suku bunga.

“Ini adalah waktu yang genting, saham telah melewati periode relatif lama tanpa aksi jual besar-besaran, dan ada kepekaan yang meningkat terhadap setiap ucapan dari the Fed saat mencoba untuk bertransisi ke awal normalisasi,” ujar Invesco Chief Global Market Strategist, Kristina Hooper dalam catatannya, Rabu (23/6/2021).

Ketua the Fed Jerome Powell bersaksi di depan Dewan Perwakilan Rakyat AS pada Selasa waktu setempat tentang tanggapan bank sentral terhadap pandemi COVID-19. Pernyataannya mendukung gagasan the Fed siap segera mulai membahas penghapusan beberapa langkah stimulus yang belum pernah terjadi sebelum yang diberlakukan selama pandemi COVID-19.

Indeks mencapai level tertinggi saat Powell menjawab pertanyaan dari anggota DPR. Powell optimistis dengan pemulihan ekonomi dan mempertahankan kekuatan inflasi bersifat sementara. Mungkin ada beberapa pembelian dari para pelaku pasar yang khawatir kalau Powell akan sedikit lebih hawkish atau agresif pada kenaikan suku bunga dari pada bank sentral pada pekan lalu.

“Sejak terakhir kali kami bertemu, ekonomi telah menunjukkan perbaikan berkelanjutan. Vaksinasi yang meluas telah bergabung dengan tindakan kebijakan moneter dan fiskal yang belum pernah terjadi sebelumnya dalam memberikan dukungan kuat untuk pemulihan,” ujar dia.

Ia menambahkan, indikator kegiatan ekonomi dan lapangan kerja terus menguat dan produk domestik bruto (PDB) riil pada 2021 tampaknya berada di jalur untuk mencatat tingkat kenaikan tercepat dalam beberapa dekade.

“Inflasi telah meningkat terutama dalam beberapa bulan terakhir,” ujar dia.

Namun, ia mencatat sebagian besar dari efek sementara dan inflasi akan kembali ke dua persen dalam jangka panjang.

PT Equity World | Bursa Saham Asia Menguat Tersengat Wall Street

PT Equity World | Bursa Saham Asia Menguat Tersengat Wall Street

PT Equity World | Bursa saham Asia Pasifik menguat pada perdagangan Selasa pagi (22/6/2021) mengikuti bursa saham Amerika Serikat (AS) atau wall street yang melonjak.

Di Jepang, indeks Nikkei 225 naik 1,82 persen pada awal sesi perdagangan. Lonjakan indeks Nikkei setelah alami koreksi lebih dari tiga persen pada perdagangan saham Senin, 21 Juni 2021. Indeks Topix menguat 1,76 persen.

Indeks saham Korea Selatan Kospi menguat 0,72 persen. Indeks saham Australia mendaki 0,32 persen. Indeks saham MSCI Asia Pasifik di luar Jepang naik 0,18 persen. Demikian dilansir dari CNBC, Selasa (22/6/2021).

Di wall street, indeks Dow Jones menguat 586,89 poin ke posisi 33.876,97. Indeks S&P 500 naik 1,4 persen menjadi 4.224,79. Sementara itu, indeks Nasdaq bertambah 0,79 persen menjadi 14.141,48.

Harga emas hari ini di Pegadaian, Selasa 22 Juni 2021 | PT Equity World

Indeks dolar AS berada di posisi 91,89. Angka ini lebih rendah setelah sentuh posisi 92. Yen Jepang diperdagangkan di kisaran 110,37 per dolar AS.

Sebelumnya, bursa saham Amerika Serikat (AS) atau wall street menguat pada perdagangan Senin, 21 Juni 2021.

Pasar memulihkan kondisi dari kerugian tajam yang disebabkan perubahan kebijakan bank sentral AS atau the Federal Reserve (the Fed).

Pada penutupan perdagangan wall street, indeks Dow Jones melonjak 586,89 poin atau hampir 1,8 persen menjadi 33.876,97, dan mencatat hari terbaiknya sejak 5 Maret. Indeks S&P 500 menguat 1,4 persen menjadi 4.224,79. Indeks Nasdaq bertambah 0,8 persen menjadi 14.141,48. Hal ini seiring sejumlah nama perusahaan teknologi ermasuk Amazon, Tesla, Nvidia dan Tentflix mencatat kerugian.

Saham komoditas yang terpukul keras pekan lalu kembali memimpin pasar seiring sektor energi S&P 500 menguat. Devon Energy naik hampir 7 persen. Sementara Occidental Petroleum menguat 5,4 persen.

Pembukaan kembali ekonomi ekonomi mendorong saham Norwegian Cruise Line dan Boeing yang naik lebih dari tiga persen. Sektor saham bank termasuk JPMorgan, Bank of America, dan Goldman Sachs juga menguat. Indeks kapitalisasi kecil Russell 2000 melonjak lebih dari dua persen.

Wall street melemah pada pekan lalu seiring investor mencerna proyeksi ekonomi baru the Fed dan khawatir kenaikan suku bunga datang lebih cepat dari yang diharapkan. Pada Rabu pekan lalu, bank sentral AS menaikkan harapan inflasi dan memperkirakan kenaikan suku bunga pada 2023.

“The Fed terinspirasi aksi jual sepertinya sudah berlebihan. Pergeseran hawkish the Fed yang tiba-tiba pekan lalu, dengan dua kenaikan suku bunga sekarang diharapkan pada 2023 membuat pasar lengah,” ujar Senior Financial Market Analyst City Index Fiona Cincotta, dilansir dari CNBC, Selasa, 22 Juni 2021.

Presiden the Fed St Louis Jim Bullard menuturkan, kalau wajar bagi bank sentral untuk sedikit lebih hawkish dan melihat suku bunga lebih tinggi setelah 2022.

Indeks Dow Jones turun 3,5 persen pada pekan lalu. Sedangkan indeks S&P 500 dan Nasdaq masing-masing turun 1,9 persen dan 0,2 persen pada pekan ini.

“Langkah kejutan the Fed menuju tapering yang membawa pasar lebih rendah pekan lalu hanyalah momen pengakuan untuk tren pengetatan yang dimulai beberapa bulan lalu,” ujar Chief US Equity Strategist Mike Wilson.

Ia menambahkan, ketika dikombinasikan dengan tingkat perubahan puncak dalam revisi ekonomi dan pendapatan sehingga itu membuat musim panas lebih sulit.

Di sisi lain wall street tangguh dalam menghadapi penurunan di bursa saham Asia dan bitcoin. Indeks Jepang Nikkei melemah 4 persen dengan produsne mobil Nissan dan Honda memimpin penurunan.

Sementara itu, bitcoin tergelincir lebih dari tujuh persen menjadi USD 32.500 seiring China melanjutkan tindakan keras terhadap penambangan uang kripto.

Kurva imbal hasil surat berharga AS mendatar pada pekan lalu sehingga menekan sektor bank. Hal itu juga mengirimkan sinyal potensi perlambatan ekonomi. Imbal hasil surat berharga AS dua tahun naik sehingga mencerminkan harapan kenaikan suku bunga the Fed.

Sementara itu, imbal hasil jangka panjang bertenor 10 tahun melemah seiring optimisme yang berkurang terhadap pertumbuhan ekonomi.

PT Equity World | Awal Perdagangan, IHSG Anjlok Tinggalkan Zona 6.000

PT Equity World | Awal Perdagangan, IHSG Anjlok Tinggalkan Zona 6.000

PT Equity World | Indeks harga saham gabungan (IHSG) pada perdagangan Senin (21/6/2020) dibuka melemah di tengah negatifnya bursa saham AS.

Berdasarkan data bursa hingga pukul 09.10 WIB, indeks harga saham gabungan turun 87,3 poin (1,46%) menjadi 5.918.

Adapun kumpulan saham unggulan yang tergabung dalam Investor33 turun menjadi ke 386,4. Indeks LQ45 ambles jadi 846,4 dan Indeks syariah yang tergabung dalam Jakarta Islamic Index (JII) turun menjadi 535,6.

Kebakaran! IHSG Anjlok 2% Lebih pada Pembukaan Sesi Pertama! | PT Equity World

Sementara bursa AS Wall Street jatuh pada perdagangan Jumat (18/6/2021), dengan Dow Jones Industrial Average membukukan kerugian mingguan terburuk sejak Oktober. Indeks Dow Jones turun 533,37 poin, atau 1,6%, menjadi 33.290,08. S&P 500 jatuh 1,3% menjadi 4.166,45.

Adapun indeks harga saham gabungan (IHSG) pada perdagangan, Jumat (18/6/2021) ditutup melemah 61,32 poin atau 1,01% ke level 6.007,1. Nilai transaksi harian di Bursa Efek Indonesia (BEI) mencapai Rp 16,99 triliun. Investor asing mencatat transaksi jual bersih di semua pasar sebesar Rp 193,77 miliar.

Equity World | Bursa Asia beragam pagi ini, menanti rilis kebijakan moneter BoJ

Equity World | Bursa Asia beragam pagi ini, menanti rilis kebijakan moneter BoJ

Equity World | Bursa saham Asia-Pasifik beragam pada perdagangan Jumat (18/6) pagi menyusul penurunan indeks Dow Jones Industrial Average di Wall Street.

Melansir CNBC, indeks Nikkei 225 naik 0,14% dan indeks Topix tergelincir 0,55%. Kospi Korea Selatan diperdagangkan sedikit lebih tinggi.

S&P/ASX 200 di Australia naik 0,17%. Saham perusahaan tambang Australia terkoreksi menyusul jatuhnya harga komoditas. Saham Rio Tinto turun 1,48%, Fortescue Metals Group turun 1,28%, dan BHP turun 2,47%.

Indeks MSCI Asia Pasifik di luar Jepang diperdagangkan sedikit lebih rendah.

Bank of Japan (BoJ) dijadwalkan akan merilis pernyataannya tentang kebijakan moneter pada hari Jumat ini, termasuk keputusan suku bunganya.

Wall Street ditutup bervariasi, Indeks Dow Jones merosot 210,22 poin | Equity World

Semalam di Wall Street, Dow Jones Industrial Average turun 210,22 poin menjadi 33.823,45, S&P 500 tergelincir sedikit ke 4.221,86, dan Nasdaq Composite naik 0,87% menjadi 14.161,35.

Indeks dolar AS, yang melacak greenback terhadap sekeranjang rekan-rekannya, berada di 91,868 menyusul kenaikan baru-baru ini dari bawah 91.

Yen Jepang diperdagangkan pada 110,26 per dolar, lebih kuat dari level di atas 110,5 terhadap greenback yang terlihat kemarin. Dolar Australia berada di US$0,7548 karena berjuang untuk pulih setelah turun dari atas US$0,768 awal pekan ini.

Harga minyak lebih rendah di pagi hari pada jam perdagangan Asia, dengan harga minyak mentah Brent turun 0,1% menjadi US$73,01 per barel. Sedangkan harga minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) turun 0,15% menjadi US$70,93 per barel.

Equity World | IHSG Tergelincir, Investor Asing Lepas Saham Emiten Kapitalisasi Besar

Equity World | IHSG Tergelincir, Investor Asing Lepas Saham Emiten Kapitalisasi Besar

Equity World | Gerak Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) alami koreksi pada awal sesi perdagangan Kamis, (17/6/2021). Tekanan terhadap IHSG ini mengikuti bursa saham Asia dan wall street yang tertekan. Serta aksi jual investor asing.

Pada pra pembukaan perdagangan, IHSG merosot 0,25 persen ke posisi 6.063. Pada pukul 09.06 WIB, IHSG tergelincir 0,54 persen ke posisi 6.045. Indeks saham LQ45 susut 0,91 persen ke posisi 877. Sebagian besar indeks saham acuan tertekan.

Sebanyak 249 saham melemah sehingga menekan IHSG. 115 saham menguat dan 166 saham diam di tempat. Pada awal sesi perdagangan, IHSG berada di kisaran 6.063 dan terendah 6.034. Total frekuensi perdagangan saham 117.729 kali dengan volume perdagangan 2,2 miliar saham. Nilai transaksi harian saham Rp 1,1 triliun. Investor asing jual saham Rp 56 miliar di seluruh pasar.

Sebagian besar sektor saham melemah kecuali sektor saham IDXCylical naik 0,16 persen dan sektor saham IDXTechno menanjak 0,67 persen.

Mayday! Bursa Saham Asia Berguguran, IHSG Bernasib Sama? | Equity World

Sektor saham IDXFinance susut 0,76 persen, sektor saham IDXNoncylical melemah 0,62 persen dan sektor saham IDXInfrastruktur turun 0,77 persen.

Saham-saham masuk top gainers antara lain:

-Saham ATIC naik 25 persen

-Saham PORT naik 25 persen

-Saham TRUE naik 24,74 persen

-Saham PRAS naik 23,44 persen

-Saham TECH naik 15,24 persen

Saham-saham yang masuk top losers antara lain:

-Saham PANI melemah 6,98 persen

-Saham YELO melemah 6,80 persen

-Saham MBTO melemah 6,77 persen

-Saham BCAP melemah 6,75 persen

-Saham BABP melemah 6,75 persen

Equity World | Semua Mata Tertuju pada The Fed, Ada Kejutan Hari Ini?

Equity World | Semua Mata Tertuju pada The Fed, Ada Kejutan Hari Ini?

Equity World | Pasar modal nasional bergerak variatif pada perdagangan kemarin, dengan reli di bursa saham dan koreksi di pasar surat utang dan rupiah. Hari ini, memantau ketat arah dan sinyal kebijakan moneter Amerika Serikat (AS).

Pada perdagangan Selasa (15/6/2021), Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup dengan apresiasi 0,14% ke level 6.089,03 setelah sempat terkoreksi sepanjang perdagangan. Nilai transaksi mencapai Rp 10,6 triliun dan investor asing membukukan pembelian bersih (net buy) senilai Rp 214 miliar di pasar reguler. Sebanyak 183 saham naik, 334 turun, dan sisanya 135 flat.

Penguatan tersebut mengikuti tren kawasan, di mana mayoritas bursa Asia ditutup menguat. Indeks Nikkei Jepang melesat 0,96%, Straits Times Singapura naik 0,69%, dan KOSPI Korea Selatan terapresiasi 0,2%. Sebaliknya, bursa Hang Seng Hong Kong dan Shanghai Composite China ditutup di zona merah. Indeks Hang Seng melemah 0,71% dan Shanghai merosot 0,92%.

Wall Street tergelincir, investor kembali khawatir menanti hasil pertemuan The Fed | Equity World

Penguatan terjadi setelah Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan surplus neraca perdagangan US$ 2,37 miliar. Nilai ekspor sebesar US$ 16,6 miliar, melonjak 58,76% secara tahunan, menjadi pertumbuhan tertinggi sejak Januari 2010.

Kabar baik datang dari nilai impor yang tumbuh lebih tinggi, mencapai 66,68%, yang mengindikasikan permintaan barang modal dan bahan baku untuk keperluan manufaktur meningkat. Nyaris 80% impor Indonesia merupakan gabungan keduanya, sehingga peningkatan impor juga bisa diartikan sebagai mulai bergeliatnya aktivitas industri nasional.

Meski demikian, kabar baik neraca perdagangan ini tidak cukup untuk membantu rupiah menguat. Padahal, surplus yang didapatkan menjadi sumber pasokan devisa nasional, sehingga secara psikologis semestinya membantu memulihkan sentimen terhadap rupiah di pasar uang.

Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) tercatat melemah di kurs tengah Bank Indonesia (BI) dan di pasar spot. Kemarin, kurs tengah BI atau kurs acuan Jakarta Interbank Spot Dollar Rate/Jisdor di level Rp 14.244 per dolar AS atau melemah 0,15%.

Sementara itu, di pasar spot mata uang Tanah Air juga melemah sebesar 0,14% ke Rp 14.220/US$. Depresiasi rupiah kemarin merupakan salah satu yang terdalam di antara mata uang utama Asia, hanya lebih baik dari peso Filipina.

Sentimen penekannya berasal dari situasi pandemi yang makin runyam menyusul penyebaran virus Covid-19 varian baru asal India. Berdasarkan data Kementerian Kesehatan per Selasa (15/6/2021) hingga pukul 12:00 WIB, kasus Covid-19 ddi Indonesia mencapai 1,927 juta orang.

Kasus aktif atau jumlah pasien yang harus mendapatkan perawatan tercatat naik 1.590 orang, sehingga totalnya 116.787 orang. Dengan jumlah spesimen yang diperiksa sebanyak 108.800 spesimen, dan 7,5% kasus positif dari keseluruhan tes.

Dalam apel akbar penanganan pandemi tadi malam, Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan menyatakan bahwa okupansi Wisma Atlet yang digunakan untuk menampung pasien penderita Covid-19 telah mencapai 70%, dari semula posisi 5 Juni sebanyak 30%.

Kabar baik itu memicu aksi jual di pasar obligasi pemerintah, karena investor kian yakin ekonomi akan membaik dan mereka memilih memburu aset investasi berisiko yang menjanjikan keuntngan lebih tinggi, yakni saham.

Harga mayoritas obligasi pemerintah atau Surat Berharga Negara (SBN) terpantau melemah pada perdagangan Selasa (15/6/2021), ditandai naiknya imbal hasil (yield) SBN di hampir semua tenor. Yield SBN tenor 10 tahun berkode FR0087 yang merupakan acuan obligasi negara naik sebesar 6 basis poin (bp) ke 6,418%

Hanya SBN berjatuh tempo 3 tahun dan 25 tahun yang yield-nya mengalami penurunan dan ramai diburu investor masing-masing sebesar 1,7 dan 0,1 bp. Yield berlawanan arah dari harga, sehingga kenaikan yield menunjukkan harga obligasi yang melemah, demikian juga sebaliknya. Satuan penghitungan basis poin setara dengan 1/100 dari 1%.

PT Equityworld | Wall Street Variatif, Nasdaq Meroket 104 Poin

PT Equityworld | Wall Street Variatif, Nasdaq Meroket 104 Poin

PT Equityworld | Saham-saham di Amerika Serikat (AS), Wall Street, berakhir beragam pada akhir perdagangan Senin waktu setempat. Indeks S&P 500 dan Nasdaq tercatat mencapai rekor penutupan tertinggi.

Melansir Xinhua, Selasa, 15 Juni 2021, indeks Dow Jones turun 0,25 persen atau 85,85 poin menjadi 34.393,75. Sementara indeks S&P 500 meningkat 0,18 persen atau 7,71 poin menjadi 4.255,15, dan Nasdaq meroket 0,74 persen atau 104,72 poin menjadi 14.174,14.

Mengutip Antara, enam dari 11 sektor utama S&P 500 berakhir di zona hijau, dengan sektor teknologi memimpin kenaikan sebesar 1,04 persen, memimpin kenaikan. Sementara itu, sektor material tergelincir 1,28 persen, menjadikannya kelompok dengan kinerja terburuk.

Investor sedang mencari isyarat baru dari bank sentral tentang prospek inflasi, setelah data terbaru menunjukkan ekonomi AS mendapatkan kembali momentum tetapi tidak terlalu panas. Hal ini telah meredakan kekhawatiran investor tentang inflasi.

Wall Street turun pada awal perdagangan pekan ini |PT Equityworld

Sementara The Fed telah meyakinkan bahwa setiap lonjakan inflasi akan bersifat sementara. Para pembuat kebijakan dapat mulai membahas pengurangan pembelian obligasi pada pertemuan Selasa-Rabu 15 dan 16 Juni 2021. Namun, sebagian besar analis tidak memperkirakan keputusan sebelum konferensi tahunan Jackson Hole, Wyoming, bank sentral pada Agustus.

Setiap perubahan dalam retorika dovish Fed dapat menjungkirbalikkan pasar ekuitas. Indeks acuan S&P telah naik 13,1 persen tahun ini, sedangkan Indeks Dow Jones dan Indeks Nasdaq masing-masing naik 12,7 persen dan 9,2 persen.

PT Equityworld | Wall Street Melesat Setelah Imbal Hasil Obligasi AS Diturunkan

PT Equityworld | Wall Street Melesat Setelah Imbal Hasil Obligasi AS Diturunkan

PT Equityworld | Pada penutupan perdagangan pekan lalu, ketiga indeks utama Wall Street kembali melesat. Penurunan imbal hasil obligasi s atau US Treasury disambut baik oleh investor.

Dilansir dari Reuters, Senin (14/6), indeks Dow Jones menguat 13,36 poin ke posisi 34.479,60; S&P 500 naik 0,2 persen ke posisi tertinggi baru 4.247,44; dan Nasdaq bertambah 0,4 persen ke posisi 14.069,42.

Selama sepekan, Dow melemah 0,8 persen. Sementara S&P 500 naik 0,4 persen dan Nasdaq menguat 1,9 persen.

Kenaikan Wall Street juga dipengaruhi oleh investor yang mengabaikan data kenaikan laju inflasi yang naik 5 persen (yoy) pada Mei 2021, laju tercepat sejak 2008.

Selain itu, dorongan saham juga dipengaruhi oleh penurunan imbal hasil US Treasury yang berada di bawah 1,43 persen. Ini merupakan level terendah dalam tiga bulan terakhir, setelah pekan lalu di atas 1,77 persen.

Sejumlah saham ‘meme’ atau saham ritel yang naik imbas ramainya di media sosial, juga meningkat. Saham AMC melonjak lebih dari 15 persen dan GameStop naik hampir 6 persen. Namun kedua saham itu kembali tertekan karena momentum di Reddit memudar.

Volume di bursa saham AS mencapai 9,11 miliar saham, sedikit lebih rendah dari 20 hari terakhir sebanyak 10,56 miliar saham.

Duh! IHSG Rawan Koreksi, Pilih Saham Apa Hari Ini? | PT Equityworld

Sementara itu, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) diprediksi terkoreksi hari ini. Analis Reliance Sekuritas Lanjar Nafi mengatakan laju IHSG akan bergerak di level support 6.044 dan level tertinggi 6.118 di sepanjang perdagangan hari ini. Pekan lalu, Jumat (11/6), IHSG ditutup melemah ke level 6.095 atau turun 0,20 persen.

“Secara teknikal IHSG membentuk pola false break resistance 6.118 dan fractal 6.103. Pola candlestick bearish counter attack dengan Indikator Stochastic dan RSI yang mengarah ke area jenuh. Indikasi terkoreksi pada perdagangan selanjutnya ,” tulis Lanjar dalam risetnya, Senin (14/6).

Sementara itu, Vice President Research Department William Surya Wijaya mengatakan pergerakan IHSG hingga saat ini terlihat masih berada dalam fase konsolidasi wajar. Menurut William, jika resisten level terdekat berhasil ditembus dalam beberapa waktu mendatang maka IHSG berpotensi untuk kembali pada jalur uptrend jangka pendeknya.

Di sisi lain William mengatakan laju IHSG ditopang oleh perekonomian Indonesia yang stabil dan kuat. Hal ini terlihat dari beberapa data perekonomian yang telah terlansir. “Hari ini IHSG masih berpotensi bergerak dalam rentang terbatas,” ujarnya.

Berikut beberapa saham unggulan yang direkomendasikan William: PT Indofood CBP Sukses Makmur Tbk (ICBP), PT Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI), PT Indo Tambangraya Megah Tbk (ITMG), PT Semen Indonesia (Persero) Tbk (SMGR), PT Bank Mandiri Tbk (BMRI), PT Astra Agro Lestari Tbk (AALI), dan PT Wijaya Karya Tbk (WIKA).

PT Equityworld | Inflasi AS Tembus 5%, Wall Street Ijo, IHSG-Rupiah Ikutan?

PT Equityworld | Inflasi AS Tembus 5%, Wall Street Ijo, IHSG-Rupiah Ikutan?

PT Equityworld | Pasar keuangan Tanah Air menunjukkan tajinya pada perdagangan Kamis (10/6) kemarin. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) melonjak hampir 1%, kemudian diikuti oleh penguatan tipis rupiah dan kenaikan harga obligasi pemerintah atau Surat Berharga Negara (SBN).

IHSG ditutup dengan apresiasi 0,99% ke level 6.107,53 pada perdagangan kemarin. Indeks acuan pasar modal sukses ditutup menembus level psikologis 6.100.

Nilai transaksi IHSG kemarin sebesar Rp 12 triliun dan terpantau investor asing membeli bersih Rp 239 miliar di pasar reguler. Tercatat 267 saham melesat, 201 terkoreksi, sisanya 177 stagnan.

Bank Indonesia (BI) lagi-lagi membawa kabar gembira. Setelah kemarin mengumumkan hasil Survei Konsumen yang oke punya, hari ini MH Thamrin merilis hasil Survei Penjualan Eceran yang tidak kalah keren.

BI melaporkan, penjualan ritel yang dicerminkan oleh Indeks Penjualan Riil (IPR) pada April 2021 berada di 220,4. Naik 17,3% dibandingkan bulan sebelumnya (month-month/mtm) dan 15,6% dari April 2020 (year-on-year/yoy).

Kali terakhir penjualan ritel mampu tumbuh positif secara tahunan adalah pada November 2019. Artinya, kontraksi sudah terjadi selama 16 bulan beruntun dan baru terputus bulan ini.

Emas merayap naik setelah data inflasi AS lebih tinggi | PT Equityworld

“Responden menyampaikan peningkatan kinerja penjualan eceran didorong meningkatnya permintaan selama Ramadan didukung berbagai program potongan harga (diskon). Peningkatan penjualan terjadi pada mayoritas kelompok komoditas yang disurvei, terutama Subkelompok Sandang, Kelompok Makanan, Minuman dan Tembakau serta Kelompok Bahan Bakar Kendaraan Bermotor,” sebut laporan BI.

Pada Mei 2021, penjualan ritel diperkirakan mampu kembali tumbuh positif baik secara bulanan maupun tahunan. BI memperkirakan IPR Mei 2021 sebesar 223,9, naik 1,6% mtm dan 12,9% yoy.

Sementara, rupiah akhirnya menguat tipis melawan dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan kemarin. Padahal, di awal perdagangan rupiah sempat menguat cukup tajam.

Melansir data Refinitiv, rupiah membuka perdagangan dengan menguat 0,07%, setelahnya sempat stagnan di Rp 14.250/US$. Tidak lama, rupiah kembali ke zona merah, menguat hingga 0,25% ke Rp 14.215/US$.

Sayangnya, level tersebut menjadi yang terkuat hari ini, setelahnya rupiah memangkas penguatan dan mengakhiri perdagangan di Rp 14.245/US$ atau menguat 0,04%.

Pelaku pasar menanti rilis data inflasi AS pada Kamis malam, yang bisa memberikan gambaran bagaimana “nasib” isu taper tantrum membuat laju penguatan rupiah tertahan.

Inflasi merupakan salah satu acuan bank sentral AS (The Fed) untuk melakukan tapering atau pengurangan nilai program pembelian aset (quantitative easing/QE).

Tapering merupakan isu utama yang ditakutkan pelaku pasar karena dapat menimbulkan gejolak yang disebut taper tantrum. Saat itu terjadi, dolar AS akan sangat kuat, dan rupiah terpukul.

Setali tiga uang, obligasi pemerintah pun menguat. investor kembali memburu SBN pada Kamis, ditandai dengan menurunnya yield SBN acuan di semua tenor. SBN tenor 3 tahun menjadi yang paling terbanyak diburu oleh investor, terlihat dariyield-nya yang mengalami penurunan signifikan, yakni sebesar 9,4 basis poin (bp) ke level 4,7%.

Sementara itu,yield SBN bertenor 10 tahun dengan kode FR0087 yang merupakan acuan obligasi negara juga turun signifikan sebesar 9,2 bp ke posisi 6,437% pada kemarin.

Yield berlawanan arah dari harga, sehingga penurunan yield menunjukkan harga obligasi yang sedang menguat, demikian juga sebaliknya. Satuan penghitungan basis poin setara dengan 1/100 dari 1%.

Design a site like this with WordPress.com
Get started