PT Equityworld | Wall Street ‘Kebakaran’! Ambles Serempak, IHSG Piye?

PT Equityworld | Pasar keuangan RI ditutup beragam pada awal pekan ini, Senin (11/10/2021) kemarin. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) tidak mampu mendaki level psikologis 6.500, sementara rupiah sukses menguat di hadapan dolar Amerika Serikat (AS).

Indeks bursa saham acuan nasional tersebut ditutup melemah 0,34% ke level 6.459,69. Padahal, IHSG sempat menyentuh level psikologisnya di 6.500 pada awal perdagangan sesi I kemarin. Namun, hal tersebut tak berlangsung lama dan hingga perdagangan hari ini berakhir, IHSG tak kunjung kembali ke zona hijau.

Ramalan Emas Hari Ini: Siapkan Mental, Harga Bakal Turun Lagi | PT Equityworld

Data perdagangan mencatat nilai transaksi Senin kemarin kembali turun menjadi Rp 16,2 triliun. Investor asing tercatat masih melakukan pembelian bersih (net buy) mencapai Rp 554 miliar di pasar reguler.

Rilis data penjualan ritel yang menunjukkan perbaikan tak mampu mengangkat IHSG. Bank Indonesia (BI) melaporkan indeks penjualan riil (IPR) tumbuh 2,1% secara bulanan (month-on-month/mom) di bulan Agustus 2021.

Penjualan ritel secara bulanan mengalami akselerasi jika dibandingkan dengan bulan sebelumnya yang terkontraksi 5% mom.

Secara tahunan, penjualan ritel juga membaik. Hal ini tercermin dari kontraksi yang lebih rendah yakni di angka -2,9% (year-on-year/yoy). Sementara di bulan Juli penjualan eceran mencatatkan minus 2,9% yoy.

Pekan lalu, IHSG sudah naik cukup signifikan dengan apresiasi 2,19%. Dengan kenaikan yang cukup signifikan tersebut, sebenarnya IHSG rawan terkoreksi pada perdagangan hari ini sebagai akibat adanya aksi ambil untung (profit taking) investor.

Sementara, nilai tukar rupiah sukses menguat melawan dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan Senin, melanjutkan kinerja apik pekan lalu. Meski demikian, laju penguatan rupiah masih tertahan di Rp 14.200/US$, sebab pelaku pasar tidak melihat adanya perubahan waktu tapering.

Melansir data Refinitiv, rupiah membuka perdagangan dengan menguat 0,14% ke Rp 14.200/US$. Level tersebut sekaligus menjadi yang terkuat pada Senin, rupiah setelahnya memangkas penguatan hingga tersisa 0,04% saja.

Di akhir perdagangan rupiah mempertebal penguatan lagi menjadi 0,11% ke Rp 14.205/US$. Sementara itu sepanjang pekan lalu rupiah tercatat menguat 0,59%.

Rupiah mampu melanjutkan penguatan sebab dolar AS sedang tertekan pasca rilis data tenaga kerja Jumat pekan lalu. Data tenaga kerja merupakan salah satu acuan bank sentral AS (The Fed) dalam menetapkan kebijakan moneter.

Departemen Tenaga Kerja AS melaporkan sepanjang bulan September perekonomian Negeri Paman Sam mampu menyerap 194.000 tenaga kerja di luar sektor pertanian (non-farm payrolls/NFP), sangat jauh di bawah hasil survei Reuters sebanyak 500.000 tenaga kerja.

Dengan rilis data tersebut, peluang kenaikan suku bunga pada tahun depan kembali dipertanyakan pelaku pasar. Kendati, tapering tetap akan dilakukan akhir tahun ini.

PT Equityworld | Dolar AS Tetap Perkasa, Emas Tambah Sengsara…

PT Equityworld | Harga emas dunia turun tipis pada perdagangan pagi ini. Ke depan, harga emas akan ditentukan oleh dinamika nilai tukar dolar Amerika Serikat (AS).

Pada Senin (11/10/2021) pukul 07:03 WIB, harga emas dunia di pasar spot tercatat US$ 1.753,76/troy ons. Turun 0,17% dibandingkan posisi akhir pekan lalu.

Bursa Saham Asia Tergelincir pada Awal Pekan | PT Equityworld

Nasib harga emas sangat ditentukan oleh nilai tukar dolar AS. Dua aset ini memiliki hubungan yang berbanding terbalik, ketika dolar AS lesu maka harga emas akan menanjak.

Ini karena emas adalah aset yang dibanderol dalam dolar AS. Ketika dolar AS melemah, maka emas menjadi lebih murah bagi investor yang memegang mata uang lain. Permintaan emas naik, harga pun terungkit.

Demikian pula jika dolar AS menguat. Harga emas jadi lebih mahal bagi investor yang memiliki mata uang lain sehingga permintaan terhadap sang logam mulia akan turun dan harga pun mengikuti.

Equityworld Futures | Awal Sesi, IHSG dan Rupiah Kompak Menghjau

Equityworld Futures | Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) bergerak di zona hijau pada awal perdagangan di Bursa Efek Indonesia (BEI) Jumat (8/10/2021). Demikian juga dengan mata uang rupiah terhadap dollar AS yang menguat pada awal perdagangan di pasar spot.

Melansir data RTI, pukul 09.10 WIB, IHSG berada pada level 6.462,94 atau naik 46,55 poin (0,73 persen) dibanding penutupan sebelumnya pada level 6.416,39.

Senat Kasih Solusi Utang AS, Wall Street Menguat | Equityworld Futures

Sebanyak 255 saham melaju di zona hijau dan 123 saham di zona merah. Sedangkan 182 saham lainnya stagnan. Adapun nilai transaksi hingga saat ini mencapai Rp 1,8 triliun dengan volume 2,8 miliar saham.

Pagi ini bursa saham asia hijau dengan kenaikan indeks Nikkei 2,08 persen, Hang Seng Hong Kong 0,61 persen, Shanghai Komposit 0,96, dan Strait Times 0,12 persen.

Wall Street pagi ini ditutup positif dengan kenaikan indeks Dow Jones Industrial Average (DJIA) 0,98 persen, indeks S&P 500 sebesar 0,83 persen, dan indeks acuan saham teknologi AS, Nasdaq 1,05 persen.

Analis Panin Sekuritas William Harranto yang memprediksi IHSG bakal menguat. Dia bilang, saat ini terjadi sector rotation antara pertambangan dengan consumer goods, dan IHSG masih dalam trend menguat.

“IHSG masih memiliki katalis positif dari net buy asing dan window dressing sehingga masih dalam tren menguat. Hari ini IHSG berpotensi bergerak mixed cenderung menguat dalam range 6.300 – 6.457,” kata William.

Sementara nilai tukar rupiah terhadap dollar AS di pasar spot pagi ini juga menguat.

Melansir data Bloomberg, pukul 09.02 WIB rupiah bergerak pada level Rp 14.210 per dollar AS, atau naik 6 poin (0,05 persen) dibanding penutupan sebelumnya Rp 14.216 per dollar AS.

Pengamat pasar uang Ariston Tjendra mengatakan, penguatan rupiah terjadi karena membaiknya ekonomi di Indonesia, cadangan devisa yang besar, dan kenaikan harga komoditas.

“Pemulihan ekonomi Indonesia yang didukung cadangan devisa yang besar dan harga komoditas yang tinggi bisa membantu menahan pelemahan nilai tukar rupiah,” kata Ariston kepada Kompas.com.

Ariston mengatakan, penguatan nilai tukar rupiah terhadap dollar AS kemungkinan akan tertahan hari ini dengan kenaikan tingkat imbal hasil obligasi pemerintah AS yang mencapai level tertinggi sejak 17 Juni 2021.

“Kenaikan yield tenor 10 tahun saat ini kr kisaran 1,59 persen, atau mencapai level tertinggi sejak 17 Juni 2021, bisa mendorong penguatan dollar AS,” tambah Ariston.

Ariston memproyeksikan hari ini rupiah bisa bergerak pada kisaran Rp 14.230 per dollar AS hingga Rp 14.200 per dollar AS.

Disclaimer: Artikel ini bukan untuk mengajak membeli atau menjual saham. Segala rekomendasi dan analisa saham berasal dari analis dari sekuritas yang bersangkutan, dan Kompas.com tidak bertanggung jawab atas keuntungan atau kerugian yang timbul. Keputusan investasi ada di tangan Investor. Pelajari dengan teliti sebelum membeli/menjual saham.

Equityworld Futures | Investor Optimistis AS Mampu Bayar Utang, Wall Street Unjuk Gigi

Equityworld Futures | Bursa saham Amerika Serikat atau Wall Street kembali menguat pada penutupan perdagangan Rabu (Kamis pagi WIB). Investor optimistis bahwa Partai Demokrat dan Republik mencapai kesepakatan untuk mencegah gagal bayar utang pemerintah.

Mengutip Antara, Kamis, 7 Oktober 2021, indeks Dow Jones Industrial Average bertambah 102,32 poin atau 0,30 persen menjadi 34.416,99. Indeks S&P 500 menguat 17,83 poin atau 0,41 persen, menjadi 4.363,55. Indeks Komposit Nasdaq meningkat 68,08 poin atau 0,47 persen menjadi 14.501,91.

Rekomendasi Emas 7 Oktober 2021: Naik Sekalipun USD Menguat dan Yields AS Naik | Equityworld Futures

Pada awal sesi, ketiga indeks utama diperdagangkan lebih rendah, dengan Dow Jones turun lebih dari 400 poin di posisi terendah.

Delapan dari 11 sektor utama S&P 500 berakhir di zona hijau, dengan sektor utilitas terangkat 1,53 persen, melampaui sektor lainnya. Sementara itu, sektor energi tergelincir 1,05 persen, merupakan kelompok dengan kinerja terburuk.

Volume transaksi di bursa AS mencapai 10,6 miliar saham, dibandingkan dengan rata-rata 11,0 miliar selama 20 hari perdagangan terakhir.

Senat top AS dari Partai Republik Mitch McConnell mengatakan akan mendukung perpanjangan plafon utang federal hingga Desember. Dukungan ini akan mencegah gagal bayar dalam sejarah negara Paman Sayam yang pasti menimbulkan korban ekonomi paling besar.

“McConnell membuat beberapa komentar dovish tentang perpanjangan plafon utang untuk sementara,” kata pendiri dan manajer portofolio di Infrastructure Capital Advisors, Jay Hatfield.

Di sisi lain, sejumlah saham lebih rendah akibat data penambahan pekerja swasta yang memicu spekulasi bahwa The Fed mulai menahan kebijakan moneternya. Sementara saham-saham pertumbuhan berkapitalisasi besar seperti Amazon dan Microsoft naik lebih dari 1,0 persen setelah turunnya imbal hasil obligasi pemerintah AS.

Adapun Laporan Ketenagakerjaan Nasional ADP menunjukkan data penggajian swasta meningkat 568 persen pekerjaan bulan lalu. Sementara payroll non pertanian (NFP) baru akan dirilis Jumat, besok.

Equityworld Futures | Yield Treasury dan Dolar AS Naik, Harga Emas Terkikis

Equityworld Futures | Harga emas melemah pada akhir perdagangan Selasa (5/10/2021) karena kenaikan imbal hasil obligasi pemerintah dan dolar AS kuat merusak daya tarik logam safe haven tersebut.

Dilansir dari Antara, kontrak harga emas paling aktif untuk pengiriman Desember di divisi Comex New York Exchange, merosot 6,7 poin atau 0,38 persen ke US$1.760,90 per troy ounce. Sehari sebelumnya, Senin (4/10/2021), emas berjangka naik 9,2 poin atau 0,52 persen ke US$1.776,60.

Bursa Saham Asia Semringah Tertular Penguatan Wall Street | Equityworld Futures

“Kenaikan dolar AS dan imbal hasil obligasi, setelah kemunduran yang terlihat selama beberapa hari terakhir dan rebound di pasar ekuitas, mendorong emas turun,” kata Direktur Perdagangan Logam High Ridge Futures David Meger, dikutip Rabu (6/10/2021).

Dolar AS menguat mendekati level tertinggi satu tahun pekan lalu terhadap rival utamanya, sehingga membuat emas lebih mahal bagi pemegang mata uang lainnya.

Sementara itu, Imbal hasil obligasi Treasury AS 10 tahun yang dijadikan acuan, yang pekan lalu naik ke level tertinggi sejak Juni di 1,5670 persen, terakhir naik ke level 1,5223 persen.

Data tenaga kerja non-farm payroll AS yang akan dirilis pada Jumat (8/10) diperkirakan menunjukkan peningkatan berkelanjutan di pasar tenaga kerja, yang dapat mendorong Federal Reserve AS untuk mulai mengurangi stimulus moneternya sebelum akhir tahun.

Pengurangan stimulus dan suku bunga yang lebih tinggi mengangkat imbal hasil obligasi, membebani emas karena meningkatkan peluang kerugian memegang emas yang tidak berbunga.

“Sementara emas masih bisa bergerak lebih tinggi, pergerakan signifikan akan membutuhkan menembus di atas resistensi teknis, terutama rata-rata pergerakan 21 hari,” kata analis Saxo Bank Ole Hansen.

Equityworld Futures | Bursa Saham Asia Rontok Ikuti Wall Street

Equityworld Futures | Bursa saham Asia Pasifik tergelincir pada perdagangan Selasa pagi (5/10/2021) seiring wall street yang tertekan. Indeks Nasdaq turun lebih dari dua persen.

Bursa saham Asia, di Jepang, indeks Nikkei 225 turun 2,25 persen, saham kolongmerat Fast Retailing melemah 3,6 persen, indeks Korea Selatan Kospi tergelincir 0,95 persen. Saham di Australia ikuti tren penurunan tersebut. Indeks ASX 200 merosot 0,32 persen.

Investor Lepas Saham Big Tech, Wall Street Ditutup Melemah | Equityworld Futures

The Reserve Bank of Australia pun mengambil tindakan dan akan mengumumkan keputusan suku bunga pada sekitar pukul 11.30 waktu setempat. Demikian dilansir dari CNBC, Selasa pekan ini.

Indeks MSCI Asia Pasifik di luar Jepang susut 0,18 persen. Bursa di China daratan libur pada perdagangan saham Selasa, 5 Oktober 2021.

Indeks Dolar AS Turun
Di wall street, indeks S&P 500 turun 1,3 persen ke posisi 4.300,46. Sementara indeks Dow Jones Industrial Average turun 323,54 poin menjadi 34.002,92. Nasdaq Composite jatuh 2,14 persen dengan nilai sekitar 14.255,49.

Indeks dolar AS berada di posisi 93,82, dan indeks ini turun dari posisi sebelumnya di atas 94. Yen Jepang diperdagangkan di kisaran 110,97 per dolar AS.

Harga minyak menguat pada jam perdagangan di Asia. Harga minyak Brent berjangka naik 0,18 persen menjadi USD 81,41 per barel. Harga minyak berjangka Amerika Serikat menguat 0,13 persen ke posisi USD 77,72 per barel.

Equityworld Futures | Wall Street Menguat, Data Ekonomi AS Membaik

Equityworld Futures | Memasuki kuartal terakhir tahun 2021, saham-saham Wall Street ditutup menguat pada perdagangan Jumat (2/10). Adapun kenaikan ini didorong oleh data ekonomi Amerika Serikat yang positif serta kemajuan dalam pemulihan pandemi COVID-19.

Dikutip dari Reuters, Senin (4/10), Dow Jones Industrial Average (.DJI) naik 482,54 poin, atau 1,43 persen menjadi 34.326,46. Sementara S&P 500 (.SPX) naik 49,5 poin, atau 1,15 persen menjadi 4.357,04; dan Nasdaq Composite (.IXIC) bertambah 118,12 poin, atau 0,82 persen menjadi 14.566,70.

Harga emas mendekati level tertinggi 2 pekan ke level US$1.764,6 | Equityworld Futures

Ketiga indeks saham utama AS bergerak naik-turun di awal sesi. Namun tren kenaikan mulai terlihat jelang akhir pekan lalu.

Perdagangan saham juga semakin mendapatkan momentum setelah Gedung Putih mengumumkan bahwa Presiden AS Joe Biden tengah melakukan negosiasi mengenai RUU belanja infrastruktur.

Emiten farmasi, Merck & Co Inc (MRK.N) mengungkapkan bahwa sebuah penelitian baru-baru ini menunjukkan obat oral eksperimental untuk COVID-19 mengurangi risiko kematian dan rawat inap sekitar 50 persen. Penelitian ini membuat saham perseroan melonjak 8,4 persen dan meningkatkan sentimen pembukaan kembali ekonomi.

Sejumlah data ekonomi yang dirilis pada hari Jumat menunjukkan peningkatan belanja konsumen, aktivitas pabrik yang dipercepat dan pertumbuhan inflasi yang meningkat. Hal ini dapat mendorong Federal Reserve AS untuk mempercepat pengetatan kebijakan moneter yang akomodatif.

Dari 11 sektor utama di S&P 500, semua kecuali saham kesehatan (.SPXHC) berakhir lebih tinggi. Sektor ini terbebani oleh penurunan 11,4 persen saham pembuat vaksin COVID Moderna Inc (MRNA.O) setelah adanya berita tentang penelitian Merck.

Volume perdagangan di Wall Street mencapai 11,02 miliar saham, lebih tinggi dibandingkan rata-rata perdagangan saham selama 20 hari terakhir sebanyak 10,70 miliar saham.

PT Equity World | Data Ketenagakerjaan AS Anjlok, Harga Emas Dunia Meroket

PT Equity World | Harga emas dunia meroket lebih dari 2 persen pada perdagangan Kamis, setelah dolar AS jatuh karena data ketenagakerjaan mingguan Amerika yang anjlok.

Mengutip CNBC, Jumat (1/10/2021) harga emas di pasar spot melonjak 1,7 persen menjadi USD1.755,56 per ounce setelah melesat 2,2 persen ke level tertinggi satu pekan di awal sesi.

Awas, prediksi IHSG Jumat (1/10) terkoreksi, untuk trading cermati 3 saham ini | PT Equity World

Sementara, emas berjangka Amerika Serikat ditutup melejit 2 persen menjadi USD1.757 per ounce.

Jumlah warga Amerika yang mengajukan klaim baru untuk tunjangan pengangguran meningkat pekan lalu, data menunjukkan pada Kamis, yang dapat mendorong kekhawatiran perlambatan pasar tenaga kerja.

“Ini juga menyebabkan ketidakpastian tentang tapering The Fed, karena mereka ingin pasar tenaga kerja yang solid untuk mengumumkan tapering ,” kata konsultan independent, Robin Bhar, menambahkan penundaan apapun bisa berdampak positif bagi emas.

Emas juga “bergerak menuju beberapa pembelian fisik baru, dengan sejumlah investor mencari lindung nilai terhadap ketidakpastian ekonomi, kenaikan inflasi,” ucap Bhar.

Tetapi meningkatnya prospek tapering The Fed, yang secara luas diperkirakan dimulai pada November, dan peluang imbal hasil US Treasury terus menguat, diprediksi menambah lebih banyak tekanan pada emas yang tidak memberikan bunga, papar Han Tan, Kepala Analis Exinity.

Pengurangan stimulus bank sentral dan kenaikan suku bunga cenderung mendorong imbal hasil surat utang pemerintah lebih tinggi, meningkatkan opportunity cost memegang emas yang tidak memberikan bunga.

“Dolar AS yang lebih kuat dan imbal hasil yang lebih tinggi adalah kombinasi beracun bagi emas,” kata Commerzbank dalam sebuah catatan.

“Dalam jangka pendek, risiko penurunan harga lebih lanjut mendominasi, artinya level USD1.700 sudah bisa segera dicapai,” kata bank itu.

“Selama emas tetap berada di bawah tekanan, perak juga kemungkinan akan kesulitan untuk keluar dari tekanan.”

Perak meroket hampir 2,5 persen menjadi USD22,04 per ounce, tetapi ditetapkan untuk penurunan bulanan keempat berturut-turut.

Platinum melesat 1,3 persen menjadi USD962,61 per ounce, sementara paladium melonjak 2,4 persen menjadi USD1.901,41 per ounce.

PT Equity World | Pecah! IHSG Tembus 6.220, 5 Saham Ini Diborong Asing

PT Equity World | Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) akhirnya tembus 6.200 tepatnya 6.220, atau naik 0,92% pada awal perdagangan sesi I, Kamis ini (30/9/2021).

Dengan demikian, akhirnya IHSG tembus lagi 6.200 setelah sempat dicatatkan pada awal Agustus lalu di lebel 6.203,431. Beberapa kali IHSG terjun bebas bahkan mendekati di bawah 6.000 dan seakan sulit tembus 6.200 sampai akhirnya hari ini berhasil.

Dollar AS Perkasa, Harga Emas Jatuh ke Level Terendah 7 Minggu | PT Equity World

Data BEI mencatat nilai transaksi pada perdagangan hari ini Rp 4,6 triliun dengan volume perdagangan 5,22 miliar saham. Investor asing masuk sebesar Rp 253 miliar di pasar reguler.

Berikut saham-saham yang diborong asing pada awal perdagangan sesi I, pukul 9.25 WIB, kamis ini. Sebagian besar merupakan saham-saham dengan kapitalisasi pasar di atas Rp 100 triliun.

Saham-saham Big Cap yang Diborong

  1. Bank BRI (BBRI) net buy Rp 307 M, saham +2,14% Rp 3.820
  2. Bank Central Asia (BBCA) net buy Rp 130 M, saham +1,44% Rp 33.375
  3. Bank Mandiri (BMRI) net buy Rp 52 M, saham +2,08% Rp 6.125
  4. Telkom Indonesia (TLKM) net buy Rp 25 M, saham +0,57% Rp 3.550
  5. Bukit Asam (PTBA) net buy Rp 34 M, saham +2,65% Rp 2.710

Tim Riset CNBC Indonesia menilai, untuk perdagangan hari ini, sentimen yang berpeluang untuk menggerakkan pasar antara lain rilis data ekonomi global hingga perkembangan kasus gagal bayar bunga obligasi pengembang properti raksasa China Evergrande.

Biro Statistik Nasional (National Bureau Statistic/NBS) melaporkan data aktivitas manufaktur China yang tercermin pada Indeks Manajer Pembelian (Purchasing Manager’s Index/PMI) periode September 2021 mengalami kontraksi ke angka 49,6, dari sebelumnya pada Agustus lalu di angka 50,1.

Namun, data PMI Jasa China periode September mengalami ekspansi ke angka 53,2, dari sebelumnya pada Agustus lalu di angka 47,5.

Purchasing Managers’ Index (PMI) menggunakan angka 50 menjadi ambang batas. Di atas 50 artinya ekspansi, sementara di bawahnya berarti kontraksi.

Sebelumnya, Ekonom dari Goldman Sachs memangkas proyeksi produk domestik bruto (PDB) China di tahun ini menjadi 7,8% dari sebelumnya 8,4%. Pemangkasan tersebut cukup tajam, sebab China dikatakan akan menghadapi tantangan dari pembatasan konsumsi energi.

“Kendala pertumbuhan yang relatif baru berasal dari peningkatan regulasi untuk target konsumsi dan intensitas energi yang ramah lingkungan,” kata ekonom Goldman Sachs dalam sebuah laporan yang dikutip CNBC International.

Sementara itu, investor di China saat ini masih menanti rilis data PMI manufaktur periode September 2021 versi Caixin/Markit.

Investor di Asia juga akan memantau perkembangan masalah keuangan China Evergrande, setelah Reuters melaporkan bahwa beberapa pemegang obligasi tidak menerima pembayaran kupon jatuh tempo pada Rabu kemarin.

Purchasing Managers’ Index (PMI) menggunakan angka 50 menjadi ambang batas. Di atas 50 artinya ekspansi, sementara di bawahnya berarti kontraksi.

Sebelumnya, Ekonom dari Goldman Sachs memangkas proyeksi produk domestik bruto (PDB) China di tahun ini menjadi 7,8% dari sebelumnya 8,4%. Pemangkasan tersebut cukup tajam, sebab China dikatakan akan menghadapi tantangan dari pembatasan konsumsi energi.

“Kendala pertumbuhan yang relatif baru berasal dari peningkatan regulasi untuk target konsumsi dan intensitas energi yang ramah lingkungan,” kata ekonom Goldman Sachs dalam sebuah laporan yang dikutip CNBC International.

Sementara itu, investor di China saat ini masih menanti rilis data PMI manufaktur periode September 2021 versi Caixin/Markit.

Investor di Asia juga akan memantau perkembangan masalah keuangan China Evergrande, setelah Reuters melaporkan bahwa beberapa pemegang obligasi tidak menerima pembayaran kupon jatuh tempo pada Rabu kemarin.

PT Equity World | Parlemen AS Alami Buntu Anggaran, Wall Street Rontok!

PT Equity World | Bursa saham Amerika Serikat (Wall Street) turun tajam pada Selasa (Rabu WIB). Imbal hasil Treasury AS mendekati level tertinggi tiga bulan dan anggota parlemen di Washington tengah mengalami kebuntuan anggaran.

Melansir CNBC International, Rabu, 29 September 2021, Nasdaq Composite turun 2,83 persen menjadi 14.546,68 dan S&P 500 turun 2,04 persen menjadi 4.352,63. Indeks Dow Jones Industrial Average kehilangan 569,38 poin atau 1,63 persen menjadi ke level 34.299,99.

Wall Street & Eropa Jeblok 2%, Berani Lihat IHSG Hari Ini? | PT Equity World

Imbal hasil Treasury 10-tahun melanjutkan kenaikannya pada Selasa, yaitu naik 1,567 persen. Investor bertaruh The Fed akan memenuhi janjinya untuk memotong stimulus pembelian obligasi darurat karena inflasi melonjak.

Imbal hasil 10-tahun, yang diperdagangkan serendah 1,13 persen baru-baru ini pada Agustus, telah berbalik secara dramatis ke level tertinggi sejak Juni setelah Fed mengisyaratkan akan mengurangi USD120 miliar dalam pembelian obligasi bulanan.

Saham teknologi turun dengan Facebook, Microsoft, dan Alphabet kehilangan lebih dari tiga persen, sementara Amazon turun lebih dari dua persen.

Design a site like this with WordPress.com
Get started