PT Equityworld | Wall Street Menguat Imbas Meredanya Kekhawatiran Dampak Varian Omicron

PT Equityworld | Bursa saham Amerika Serikat (AS) menguat tipis pada perdagangan Rabu, 8 Desember 2021. Hal ini seiring investor terus bertaruh dampak varian baru COVID-19, omicron tidak akan mengancam seperti yang diperkirakan banyak orang sebelumnya.

Pada penutupan perdagangan wall street, indeks Dow Jones naik 35,32 poin atau 0,1 persen mencapai 35.754,75. Indeks S&P 500 bertambah 0,3 persen menjadi 4.701,21. Indeks Nasdaq menguat 0,6 persen menjadi 15.786,99.

Bursa Saham Asia Lesu Imbas Investor Cermati Risiko Dampak Omicron | PT Equityworld

Pergerakan wall street didorong sejumlah kabar mengenai vaksin. Pfizer dan BioNTech mengatakan, tiga dosis vaksinnya efektif untuk menetralkan varian omicron, berdasarkan tes laboratorium awalnya. Mereka juga mengatakan dua dosis masih dapat melindungi terhadap penyakit parah.

Saham Pfizer naik 6,3 persen pada bulan lalu sedikit turun. Banyak yang sudah mengantisipasi varian baru akan dapat dikelola, sebuah harapan yang membantu mendorong penguatan pada Senin, dan reli berikutnya pada perdagangan Selasa, 30 November 2021.

“Investor telah dikondisikan oleh sejarah pasar untuk membeli, bertahan lama, dan setiap aksi jual untuk mendapatkan lebih lama,” ujar Head of Trading and Research Harvest Volatility Management, Mike Zigmont, dilansir dari CNBC, Kamis (9/12/2021).

Namun, saham terkait perjalanan terus menguat seiring berita tersebut sehingga memberikan investor kepercayaan tambahan untuk membuka kembali taruhan. Saham Norwegian Cruise Line melompat 8,2 persen, dan catat penguatan terbesar di indeks S&P 500. Diikuti saham Carnival dan Royal Carribean yang masing-masing naik lebih dari lima persen.

Saham maskapai dan kasino juga membuat pergerakan besar termasuk United Airlines dan Las Vegas Sands masing-masing naik lebih dari 4 persen. Saham ETF Invesco Dynamic Leisure and Entertainment naik 1,1 persen.

Zigmont menuturkan, pasar saham sangat teknikal saat ini, investor dan trader masuk ke saham setelah melihat level terbawah. Hal ini untuk merealisasikan keuntungan dari apa yang dipikirkan akan terjadi selanjutnya. “Namun, level tertinggi baru itu mungkin tidak akan datang sampai Januari,” kata dia.

PT Equityworld | Alon-alon Waton Kelakon, Harga Emas Naik Terus Nih!

PT Equityworld | Harga emas dunia naik tipis pada perdagangan pagi hari ini. Ke depan, bagaimanakah prospek harga sang logam mulia?

Pada Rabu (8/12/2021) pukul 06:53 WIB, harga emas di pasar spot tercatat US$ 1.784,36/troy ons. Naik tipis 0,02% dibandingkan hari sebelumnya.

Perlahan tetapi pasti, harga emas mulai berbalik menuju tren kenaikan. Dalam sepekan terakhir, harga komoditas ini membukukan pertumbuhan 0,61% secara year-on-year.

Wall Street Reli, Nasdaq Melesat 3% | PT Equityworld

Wang Tao, Analis Komoditas Reuters, memperkirakan harga emas masih bisa naik lagi. Bahkan bukan tidak mungkin kembali ke atas US$ 1.800/troy ons.

“Harga emas mungkin akan menguji titik resistance US$ 1.789/troy ons. Jika tertembus, maka harga bisa naik ke US$ 1.805/troy ons,” sebut Wang dalam risetnya.

Menurut Wang, tren koreksi harga emas rasanya sudah berakhir. Kini uptrend sudah di depan mata dan investor boleh memasang target harga di US$ 1.819/troy ons.

Namun investor juga patut waspada, karena harga masih berisiko terkoreksi. Titik support harga emas berada di US$ 1.769/troy ons.

“Melihat pergerakan harian, harga emas sudah menembus titik resistance US$ 1.781/troy ons dan punya kesempatan menuju US$ 1.803/troy ons. Akan tetapi, dalam waktu dekat sepertnya kenaikan agak terbatas,” lanjut Wang.

PT Equityworld | Wall Street berseri, Dow naik hampir 650 poin karena meredanya kekhawatiran Omicron

PT Equityworld | Wall Street berseri untuk memulai pekan ini, Senin (6/12). Dow menghapus kerugiannya dari pekan sebelumnya karena investor menepis kekhawatiran akan ancaman yang muncul dari varian Covid-19 Omicron.

Melansir Reuters, Dow Jones Industrial Average naik 646,95 poin atau 1,87% menjadi 35.227,03, S&P 500 naik 53,24 poin atau 1,17% menjadi 4.591,67, dan Nasdaq Composite bertambah 139,68 poin atau 0,93% menjadi 15.225,15.

Harga Emas Mereda karena Penguatan Dolar | PT Equityworld

Indeks Nilai S&P 500 naik 1,5%, mengungguli mitra pertumbuhannya, yang naik 0,9%.

Indeks Transportasi Dow Jones yang sensitif secara ekonomi mengungguli pasar yang lebih luas dengan kenaikan 2,3%. Sementara saham kecil Russell 2000 naik 2%.

Dari tiga rata-rata utama Wall Street, Dow naik paling tinggi dan industri dan kebutuhan pokok konsumen, naik sekitar 1,6%, adalah sektor terkuat S&P diikuti oleh energi dan utilitas, naik 1,5%.

Tetapi penurunan perusahaan vaksin Covid-19 mengurangi kenaikan pada sektor perawatan kesehatan.

Varian Omicron telah menyebabkan alarm dan beberapa pembatasan baru di seluruh dunia, investor tampaknya diyakinkan oleh Dr. Anthony Fauci, pejabat tinggi penyakit menular AS, yang mengatakan kepada CNN bahwa “sejauh ini tampaknya tidak ada tingkat keparahan yang besar untuk itu.” Namun, dia mengatakan bahwa studi lebih lanjut diperlukan.

“Orang-orang tidak terlalu khawatir tentang varian ini,” kata King Lip, kepala analis investasi di Baker Avenue Asset Management di San Francisco.

Lip juga mengutip dorongan dari berita bahwa bank sentral China akan memotong jumlah uang tunai yang harus disimpan bank sebagai cadangan, berpotensi meningkatkan perusahaan luar negeri yang menjual produk di China serta ekonomi China.

Asal tahu, Wall Street telah berayun liar sejak 26 November karena investor mencerna berita tentang varian Omicron dan kemudian komentar hawkish Ketua Federal Reserve Jerome Powell pekan lalu tentang pengurangan lebih cepat pembelian obligasi pemerintah untuk mengatasi lonjakan inflasi.

Penutupan indeks S&P pada hari Senin adalah 2,3% di bawah di mana diperdagangkan sebelum investor mulai bereaksi terhadap virus Omicron.

“Jika kekuatan hari ini di blue chips dapat mempertahankan dirinya sendiri, itu mungkin memberi sisa pasar kemampuan untuk mulai merasa percaya diri,” kata Robert Pavlik, manajer portofolio senior di Dakota Wealth Management.

Namun, Goldman Sachs pada hari Sabtu memangkas prospek pertumbuhan ekonomi Amerika Serikat (AS) menjadi 3,8% untuk 2022, mengutip risiko dan ketidakpastian seputar munculnya Omicron.

Investor juga bersiap untuk potensi pukulan terhadap pendapatan perusahaan, terutama di antara pengecer, restoran, dan perusahaan perjalanan.

Tiga persentase kenaikan terbesar sektor industri adalah maskapai penerbangan yang dipimpin oleh United Airlines naik 8,3% dan indeks S&P Airline ditutup naik 5,5%.

Penguat kuat lainnya dalam saham terkait perjalanan termasuk Norwegian Cruise Line Holdings, yang berakhir naik 9,5%. Perusahaan persewaan liburan Airbnb menambahkan 8,5%.

Penurunan terdalam termasuk pembuat vaksin Covid-19 seperti Moderna Inc, turun 13,5% dan Pfizer turun 5%, karena investor mengantisipasi pengembangan vaksin dengan perlindungan khusus untuk Omicron dapat memakan waktu berbulan-bulan.

Equity World | Emas Antam Dibanderol Rp932 Ribu/Gram, Berikut Daftar Lengkap Harganya

Equity World | Emas Antam Dibanderol Rp932 Ribu/Gram, Berikut Daftar Lengkap Harganya

Equity World | Harga emas PT Aneka Tambang (Antam) pada perdagangan hari ini tidak mengalami perubahan. Emas Antam masih dijual Rp932.000 per gram. Sama halnya dengan buyback atau harga yang didapat jika pemegang emas ingin menjual emas batangannya masih dibanderol Rp 826.000 per gram. Mengutip dari laman logammulia.com, Senin (6/12/2021), cetakan emas terkecil yakni 0,5 gram, berada di level Rp516.000. Sedangkan, untuk satuan 5 gram, dihargai Rp4.435.000, dan 10 gram Rp 8.815.000.

Bursa Saham Asia Tersungkur, Investor Cermati Gejolak Harga Bitcoin | Equity World

Lebih lanjut, untuk harga emas 50 gram dijual sebesar Rp 43.745.000. Sementara untuk ukuran emas yang terbesar, yakni 500 gram dan 1.000 gram masing-masing dibanderol sebesar Rp436.320.000 dan Rp872.600.000. Sekedar informasi, harga emas Antam tersebut berlaku di kantor Antam Pulogadung, Jakarta. Adapun sesuai dengan PMK No. 34/PMK 10/2017 pembelian emas batangan dikenakan PPh 22 sebesar 0,9%. Jika ingin mendapatkan potongan pajak lebih rendah, yaitu sebesar 0,45%, sertakan nomor NPWP setiap kali transaksi.

Berikut rincian harga pecahan emas batangan Antam: Emas 0,5 gram: Rp 516.000 Emas 1 gram: Rp 932.000 Emas 2 gram: Rp 1.804.000 Emas 3 gram: Rp 2.681.000 Emas 5 gram: Rp 4.435.000

Equityworld Futures | Harga Emas Hari Ini, Jumat 3 Desember 2021, Investor Pantau Omicron

Equityworld Futures | Harga emas berhasil rebound pagi ini seiring dengan kekhawatiran pasar terhadap penyebaran varian omicron.

Harga emas spot berakhir turun US$13,52 ke level US$1767,95 pada hari Kamis karena dipicu oleh sentimen penguatan dolar AS yang disebabkan optimisnya data Unemployment Claims AS, serta hawkish-nya sikap ketua Fed Jerome Powell.

Wall Street Cs Berakhir Menguat, Dow Jones Melonjak 1,83 Persen | Equityworld Futures

Pada Jumat (3/12/2021) pukul 07.53 WIB, harga emas spot naik 0,15 persen atau 2,57 poin menjadi US$1.771,31 per troy ounce. Harga emas Comex kontrak Februari 2022 meningkat 0,47 persen atau 8,2 poin menuju US$1.771,31 per troy ounce.

Laporan Monex Investindo Futures menyebutkan emas berpeluang bergerak turun pagi ini (3/12/2021) karena outlook penguatan dolar AS. Namun, waspadai permintaan aset safe haven logam mulia di balik isu virus omicron.

“Emas berpeluang bergerak turun selama bergerak di bawah level resistance di 1.775 karena berpotensi bergerak turun menguji level support terdekat di 1.763,” papar Monex.

Namun, jika bergerak naik hingga menembus ke atas level 1.775, emas berpeluang dibeli karena berpotensi naik lebih lanjut membidik resistance selanjutnya di 1.783.

Level Resistance : 1775 – 1783 – 1793.

Equityworld Futures | wall Street Memerah Usai Omicron Terkonfirmasi Masuk AS

Equityworld Futures | Bursa Efek Wall Street berguguran hingga lebih dari 1 persen akibat varian virus corona Omicron yang terkonfirmasi telah masuk ke Amerika Serikat (AS). Kejadian ini semakin diperburuk oleh kabar dari bank sentral AS The Federal Reserve (The Fed) terkait inflasi.

Dalam pemantauan CNNIndonesia.com, pada Rabu (1/12) pagi, beberapa indeks masih mengalami penguatan di antaranya S&P 500 naik 1,51 persen, Nasdaq naik 1,33 persen, FTSE 100 naik 1,24 persen, dan Dow Jones naik 1,17 persen.

‘Hilal’ Kebangkitan Emas Belum Keliatan, Adanya Nyungsep! | Equityworld Futures

Namun perolehan tersebut justru membalik ketika kasus pertama Omicron diumumkan. Indeks-indeks tersebut berguguran seperti S&P 500 turun 1,18 persen, Nasdaq turun 1,83 persen, dan Dow Jones turun 1,34 persen.

Di lain sisi, Kepala The Fed Jerome Powell mengungkapkan pemangku kepentingan harus bersiap untuk merespons kemungkinan inflasi yang tidak akan mereda hingga semester kedua tahun depan.

Sebelumnya, Selasa (30/11), saham di Wall Street telah jatuh setelah Powell mengejutkan pasar dengan memberi sinyal bahwa bank sentral akan mempercepat program Tapering di tengah lonjakan inflasi.

“Pasar bergulat dengan kekhawatiran kembar yakni varian Omicron dan kebijakan Powell yang lebih cepat dari yang diharapkan,” kata Kepala Investasi Independent Advisor Alliance Chris Zaccarelli, dikutip dari Reuters, Kamis (2/12).

Ekonom New York Life Investments Lauren Goodwin mengatakan dirinya tidak terkejut melihat volatilitas bursa, sebab kekhawatiran investor diakibatkan kurangnya informasi tentang omicron dan sinyal terbaru dari The Fed.

Sebagai informasi, Pusat Kontrol Kesehatan AS mengumumkan telah mendeteksi kasus pertama varian omicron dari penumpang yang berasal dari Afrika Selatan.

Badan Kesehatan Dunia (WHO) mengungkapkan pihaknya perlu banyak informasi mengenai transmisi varian omicron dan merek yakni vaksin akan bekerja untuk melawan varian ini.

Equityworld Futures | Ada Kabar Buruk Bagi Bursa Saham Global, Awas IHSG Jeblok!

Equityworld Futures | Membaiknya sentimen pelaku pasar global membuat Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) sempat menguat hingga 0,6% di awal perdagangan Selasa kemarin. Tetapi semua berubah dalam waktu singkat, IHSG berbalik terpuruk lebih dari 1,1% ke 6.533,932. Pada perdagangan Rabu (1/12), IHSG berisiko merosot lebih lanjut, sebab ada kabar buruk bagi bursa saham global.

Di awal perdagangan IHSG mampu menguat setelah pernyataan Presiden Amerika Serikat (AS), Joe Biden, mengatakan tidak perlu melakukan lockdown akibat Omicron.

Wall Street Terjungkal Akibat Sentimen Omicron | Equityworld Futures

“Jika masyarakat sudah divaksin dan mengenakan masker, tidak perlu lagi dilakukan lockdown. Selain itu tidak akan ada pembatasan perjalanan,” kata Biden dalam konferensi pers Senin kemarin, sebagaimana diwartakan CNBC International.

Pernyataan Biden tersebut membuat sentimen pelaku pasar membaik, bursa saham pun menghijau.

Namun, semua berubah seketika setelah CEO Moderna, Stephane Bancel mengatakan kepada Financial Times jika dia memperkirakan vaksin yang ada saat ini kurang efektif melawan Omicron.

Senin lalu, Bancel juga mengatakan akan memerlukan waktu beberapa bulan jika harus mengembangkan vaksin baru.

Kini kabar buruk lainnya bagi bursa saham global datang dari kemungkinan bank sentral AS (The Fed) akan mempercepat tapering atau pengurangan nilai program pembelian aset (quantitative easing/QE).

“Saat ini perekonomian sangat kuat dan inflasi juga sangat tinggi, oleh karena itu menurut pandangan saya akan tepat jika mempertimbangkan menyelesaikan tapering lebih cepat, mungkin beberapa bulan lebih awal,” kata ketua The Fed, Jerome Powell di hadapan Senat AS, sebagaimana diwartakan CNBC International, Selasa (30/11).

Percepatan tapering menjadi kejutan bagi pasar yang berisiko menimbulkan gejolak. Apalagi ketika tapering dipercepat, ada peluang The Fed juga menaikkan suku bunga lebih awal. Bursa saham Eropa dan AS (Wall Street) yang merosot akibat Omicron makin rontok merespon pernyataan Powell. kemerosotan tersebut tentunya berisiko merembet ke pasar Asia hari ini.

“Saya mengharapkan The Fed akan mendiskusikan percepatan tapering pada rapat bulan Desember,” tambah Powell.

Secara teknikal, efek dari duet pola Doji dan Shooting star langsung terlihat pada perdagangan Jumat (26/11), IHSG jeblok hingga lebih dari 2%, dan berlanjut lagi Selasa kemarin. Pola Doji di bentuk pada awal Senin (22/11) yang memberikan sinyal netral. Artinya, pelaku pasar masih ragu-ragu menentukan arah, apakah lanjut naik atau balik turun.

Kemudian pada Kamis (25/11), IHSG yang gagal mempertahankan penguatan tajam membentuk pola Shooting Star. Pola ini merupakan sinyal reversal atau berbalik arahnya harga suatu aset.

Awal pekan ini, IHSG juga jeblok lagi ke bawah 6.500 hingga menyentuh rerata pergerakan 50 hari (moving average 50/MA 50), sebelum akhirnya berbalik naik. MA 50 di kisaran 6.500 menjadi support terdekat yang akan menahan penurunan IHSG. Tetapi, jika ditembus, IHSG berisiko merosot ke 6.470.

Support selanjutnya berada di kisaran 6.430.

Tekanan bagi IHSG masih cukup besar jika melihat indikator stochastic pada grafik harian dan 1 jam yang bergerak turun tetapi belum mencapai wilayah jenuh jual (oversold).

Stochastic merupakan leading indicator, atau indikator yang mengawali pergerakan harga. Ketika Stochastic mencapai wilayah overbought (di atas 80) atau oversold (di bawah 20), maka harga suatu instrumen berpeluang berbalik arah.

Artinya ketika belum mencapai wilayah oversold, belum ada pemicu IHSG untuk rebound.

Namun, selama bertahan di atas 6.500, IHSG memiliki peluang menguat ke 6.600. Penembusan di atas area tersebut akan membuka peluang ke 6.630 dan menutup gap (celah) yang terjadi Selasa kemarin.

Equityworld Futures | Emas Lagi-Lagi Gagal Melesat, Tanda Omicron Tak Berbahaya?

Equityworld Futures | Kecemasan akan penyebaran virus corona varian Omicron membuat harga emas menguat di awal perdagangan awal pekan kemarin. Sayangnya, penguatan tersebut gagal dipertahankan, dan emas justru mengakhiri perdagangan di zona merah.

Melansir data Refintiv, emas menutup perdagangan Senin (29/11) di US$ 1.785,01/troy ons, melemah 0,38% di pasar spot. Di awal perdagangan, emas sempat menguat 0,41% ke US$ 1.799/troy ons.

Kekhawatiran Omicron Mereda, Kilau Emas Ikut Meredup | Equityworld Futures

Pada Jumat pekan lalu, harga emas dunia sempat melesat kembali ke atas US$ 1.800/troy ons, tetapi akhirnya mengakhiri perdagangan di bawahnya.

“Pergerakan emas di hari Jumat menunjukkan apa yang seharusnya dilakukan emas. Kekhawatiran akan virus corona Omicron akan mendorong kenaikan harga emas,” kata Craig Erlam, analis pasar senior di OANDA, sebagaimana dilansir Kitco, Jumat (26/11).

Corona Omicron yang dikatakan lebih mudah menyebar ketimbang varian Delta membuat pelaku pasar khawatir akan kemungkinan diterapkannya lockdown lagi, dan membuat perekonomian global kembali melambat.

Dalam kondisi tersebut, emas merupakan aset safe haven kembali dilirik.

Namun, kekhawatiran tersebut mereda setelah Presiden Amerika Serikat (AS), Joe Biden, mengatakan tidak perlu melakukan lockdwon akibat Omicron.

“Jika masyarakat sudah divaksin dan mengenakan masker, tidak perlu lagi dilakukan lockdown. Selain itu tidak akan ada pembatasan perjalanan,” kata Biden dalam konferensi pers Senin kemarin, sebagaimana diwartakan CNBC International.

Meski demikian, para ekonom dan analis melihat Omicron akan membawa harga emas naik, tetapi jika virus baru tersebut berdampak pada aktivitas ekonomi dan arah kebijakan moneter.

Saat ini, tingginya inflasi membuat beberapa bank sentral, termasuk The Fed (bank sentral AS), mulai mengetatkan kebijakan moneternya. Hal tersebut yang membuat emas pada pekan lalu jeblok nyaris 3%.

Rilis notula rapat kebijakan moneter The Fed minggu lalu menunjukkan banyak anggota dewan siap untuk mempercepat normalisasi jika inflasi terus tinggi, emas melemah tipis saja.

Pasca rilis notula tersebut, pelaku pasar kini melihat ada probabilitas The Fed akan menaikkan suku bunga di bulan Juni 2022, lebih cepat dari sebelumnya semester II-2022. Selain itu, pasar juga melihat suku bunga akan dinaikkan sebanyak 3 kali.

Suku bunga merupakan salah satu “musuh” utama emas, ketika suku bunga di AS naik maka daya tarik emas sebagai aset tanpa imbal hasil akan menurun. Selain itu, opportunity cost berinvestasi emas juga akan mengalami peningkatan.

Inflasi yang tinggi menjadi alasan The Fed diperkirakan akan agresif menaikkan suku bunga, tetapi jika Omicron berdampak pada pelambatan ekonomi, dan The Fed akhirnya tidak agresif dalam menaikkan suku bunga, tentunya berpeluang mendongkrak harga emas.

Equityworld Futures | Varian Omicron Merebak di Afrika, Ini Prediksi Wall Street Pekan Depan

Equityworld Futures | Pergerakan Wall Street pada pekan depan diprediksi akan terhambat dengan merebaknya varian baru virus Covid-19 dari Afrika Selatan bernama Omicron. Padahal, tiga indeks acuannya sedang mengalami penurunan lebih dari 2 persen.

“Saat pasar merayakan akhir dari pandemi. Boom. Ternyata ini belum berakhir,” kata Kepala Investasi Cumberland Advisors, David Kotok, dilansir Reuters, Jumat (26/11/2021).

Bursa Asia Merah Membara, Hati-hati Nular ke IHSG | Equityworld Futures

David mencermati kekhawatiran pasar terkait varian baru ini bisa membawa banyak aset ekuitas merosot tajam, terutama karena aksi profit taking investor untuk mengamankan asetnya.

“Semua hal yang berkaitan dengan kebijakan moneter, perputaran bisnis, perkiraan pertumbuhan PDB, pemulihan sektor pariwisata dan perhotelan bakal tertahan,” ujarnya.

Seperti diketahui, Dow Jones Industrial Average (DJI) jatuh -2,53% di level 34.899, S&P 500 (SPX) merosot tajam -2,27% di 4.594, dan Nasdaq Composite (IXIC) anjlok -2,23%.

Penurunan tersebut turut mengubah Cboe Volatility Index (VIX) atau Indeks Volatilitas Cboeyang dikenal sebagai pengukur ketahanan volatilitas Wall Street, yang melonjak tajam 54,04%.

Pejabat AS mengatakan pada hari Jumat bahwa mereka akan memberlakukan pembatasan perjalanan dari delapan negara di wilayah selatan Afrika sebagai tanggapan atas varian baru yang ditemukan di Afrika Selatan.

Portfolio Manager The Financial Enhancement Group, Andrew Thrasher mengaku khawatir bahwa reli di sejumlah saham teknologi bigcaps di indeks S&P 500, mencakup Apple Inc (AAPL), Amazon.com Inc (AMZN), Microsoft Corp (MSFT), bakal memicu penurunan pasar lebih besar.

“(Varian baru) ini menyalakan api bagi investor menjual asetnya dan bisa mendorong pasar lebih rendah. Ini telah memicu api bearish (tren penurunan) itu,” katanya.

Sementara itu, sejumlah analis justru melihat penurunan pasar yang disebabkan Covid-19 sebagai peluang untuk membeli saham buy on weakness. Mereka mengharapkan pasar bisa terus berada dalam jalur pemulihannya dengan lebih cepat.

“Setiap kejatuhan optimisme adalah peluang pembelian yang baik,” tulis Bill Smead, pendiri Smead Capital Management, dalam catatannya.

PT Equity World | Bursa Asia Kebakaran, Waspada Buat IHSG

PT Equity World | Bursa Asia dibuka berjatuhan pada perdagangan Jumat (26/11/2021), karena investor kembali khawatir dengan ditemukannya varian baru virus corona (Covid-19) dari Afrika Selatan oleh beberapa ilmuwan.

Indeks Nikkei dibuka melemah 0,58%, Hang Seng Hong Kong ambles 1,39%, Shanghai Composite China terkoreksi 0,37%, Straits Times Singapura merosot 1,09%, dan KOSPI Korea Selatan terdepresiasi 0,41%.

Harga emas spot naik tipis ke US$ 1.792,62 per ons troi pada pagi ini (26/11) | PT Equity World

Sentimen negatif datang dari seputar virus corona (Covid-19), di mana varian baru Covid-19 kembali muncul banyak mutasi lonjakan, B.1.1.529. Varian Covid-19 ini disebut telah terdeteksi di Afrika Selatan.

Kemunculan pertama varian ini sempat dikabarkan di Bostwana, Rabu (24/11/2021) lalu. Kini varian itu juga disebut sudah ditemukan di Hong Kong.

Dalam penjelasan ilmuwan Afrika, varian B.1.1.529 mengandung beberapa mutasi yang terkait dengan peningkatan resistensi antibodi. Ini diyakini ilmuwan dapat mengurangi efektivitas vaksin, bersama dengan mutasi yang umumnya membuatnya lebih menular.

Sementara itu, Organisasi Kesehatan Dunia (World Health Organization/WHO) sendiri mengatakan tengah meminta pertemuan darurat untuk memantau varian itu. Hal ini penting di tengah makin melonjaknya kasus Covid-19 di Eropa dan dunia yang memasuki musim liburan akhir tahun.

“Kami belum tahu banyak tentang ini. Apa yang kita ketahui adalah bahwa varian ini memiliki sejumlah besar mutasi,” kata pimpinan teknis WHO untuk Covid-19, Dr. Maria Van Kerkhove, dalam tanya jawab yang disiarkan langsung di media sosial organisasi, Kamis (25/11/2021).

Pertemuan itu akan memutuskan ke mana B.1.1.529 akan diklasifikasikan. Apakah varian menarik atau perlu diperhatikan.

“Saat ini, para peneliti sedang berkumpul untuk memahami di mana mutasi ini berada di protein lonjakan dan situs pembelahan furin, dan apa artinya itu bagi diagnostik atau terapi kami dan vaksin kami,” kata Van Kerkhove lagi.

Koreksinya pasar saham Asia pada hari ini terjadi di tengah minimnya sentimen positif di pasar global pada hari ini, karena pasar keuangan Amerika Serikat (AS) tidak dibuka pada perdagangan Kamis (25/11/2021) karena sedang libur memperingati hari Thanksgiving.

Meskipun sentimen pasar global cenderung sepi, tetapi kabar baik datang dari Benua Eropa, di mana indeks saham kawasan Eropa ditutup menguat pada perdagangan Kamis waktu setempat.

European Stoxx 600 ditutup menguat 0,44%. Mayoritas bursa saham Benua Biru sukses mengakhiri perdagangan di zona hijau kemarin.

Tiga indeks saham acuan utama Eropa yakni FTSE, CAC dan DAX juga kompak menghijau dengan apresiasi masing-masing 0,33%, 0,48%, dan 0,25%. Meskipun angka infeksi Covid-19 harian di Eropa masih terus meningkat, tetapi pasar saham ditutup dengan ceria.

Salah satu katalis positifnya adalah regulator Eropa yang memberikan lampu hijau untuk vaksinasi Covid-19 bagi mereka kelompok usia sangat muda di rentang 5-11 tahun.

Dari sisi makro, beberapa rilis data ekonomi menjadi perhatian pelaku pasar. Di Jerman, pertumbuhan ekonominya di kuartal III-2021 mencatatkan ekspansi sebesar 1,7% secara kuartalan (quarter-on-quarter/qoq).

Angka pertumbuhan ekonomi Jerman tersebut lebih rendah dari perkiraan konsensus pasar di 2% qoq. Secara tahunan (year-on-year/yoy), Produk Domestik Bruto (PDB) Jerman masih tumbuh 2,5%.

Inflasi yang tinggi dan kenaikan kasus Covid-19 yang meningkat turut membebani sentimen konsumen. Hal ini tercermin dari survei konsumen GfK Jerman yang drop ke level -1,6 pada bulan November, padahal di periode sebelumnya masih berada di teritori positif.

Inflasi memang menjadi permasalahan yang harus ditinjau secara hati-hati. Pejabat bank sentral Uni Eropa (Europe Central Bank/ECB) melihat bahwa inflasi yang meningkat mungkin akan berlangsung lebih lama daripada yang diantisipasi. Namun mereka masih ‘kekeuh’ bahwa inflasi yang tinggi saat ini hanya bersifat temporer.

Design a site like this with WordPress.com
Get started