Equityworld Futures | Tunggu Data Inflasi, “Rally” Wall Street Terhenti

Equityworld Futures | Tunggu Data Inflasi, “Rally” Wall Street Terhenti

Equityworld Futures | Bursa saham AS atau Wall Street berakhir di zona merah pada penutupan perdagangan Senin (26/2/2024) waktu setempat (Selasa pagi WIB). Para investor menunggu data inflasi utama Amerika Serikat.

Equityworld Futures | Harga Emas Nggak Kemana-Mana, Tunggu Kabar Penting dari AS

S&P 500 ditutup turun 0,38 persen pada 5.069,53. Nasdaq Komposit melemah 0,13 persen menjadi 15.976,25. Dow Jones Industrial Average (DJIA) tergelincir 62,30 poin atau 0,16 persen ke posisi 39.069,23.

Pada Senin, saham Amazon masuk ke indeks 30 saham di Dow Jones menggantikan Walgreens Boots Alliance. Pertimbangan masuknya Amazon dalam indeks DJIA berdasarkan harga saham, bukan kapitalisasi pasar. Penambahan raksasa e-commerce ini akan meningkatkan eksposur indeks terhadap teknologi dan ritel konsumen. Mengakhiri sesi Senin, saham Amazon melemah 0,15 persen.

Imbal hasil Treasury AS naik di tengah saham-saham yang mengalami tekanan. Imbal hasil Treasury AS tenor 10 tahun bergerak naik menjadi 4,2 persen.
Saham-saham memasuki pekan ini dengan nilai yang tinggi setelah indeks-indeks utama mencatatkan bullish berkat laporan pendapatan perusahaan pembuat chip, Nvidia. S&P 500 dan Dow mencapai rekor tertinggi pada hari Jumat.

Investor kini mengamati apakah momentum sektor kecerdasan buatan atau AI dapat bertahan seiring dengan masih adanya risiko ekonomi dan inflasi. Pada perdagangan Senin, pelaku pasar juga menantikan indeks harga pengeluaran konsumsi pribadi bulanan, yang merupakan ukuran inflasi The Fed yang akan dirilis pada hari Kamis.

Kepala investasi di NorthEnd Private Wealth Alex McGrath mengatakan, saat ini reli didukung sentimen AI yang berlanjut.

“Nvidia dan banyak perusahaan semikonduktor lain tampaknya percaya pada pemikiran bahwa AI dapat terus mendorong reli ini,” kata McGrath mengutip CNBC. Menurut kepala strategi investasi Oppenheimer John Stoltzfus, sentimen investor terhadap saham telah meningkat berkat musim pendapatan yang lebih baik dari perkiraan.

“Hal ini terjadi bahkan ketika pasar harus mencerna kemungkinan bahwa Federal Reserve akan tetap waspada terhadap inflasi yang tinggi ketika mempertimbangkan apakah, kapan, dan seberapa besar bank sentral tersebut akan menurunkan suku bunganya tahun ini,” katanya.

Data Biro Sensus dan Departemen Perumahan dan Pembangunan Perkotaan mencatat, penjualan rumah baru pada bulan Januari mencapai 661.000, meningkat 1,5 persen dari sebelumnya. Jumlah tersebut meleset dari perkiraan Dow Jones sebesar 680.000 atau naik 2,4 persen.

Pelaku pasar menanti sejumlah rilis ekonomi, termasuk data pesanan barang tahan lama bulan Januari pada hari Selasa dan persediaan grosir bulan Januari pada hari Rabu. Angka belanja konsumen dan PCE akan dirilis pada hari Kamis.

Equityworld Futures | Data Ekonomi AS Bakal Jadi Perhatian Wall Street Pekan Ini

Equityworld Futures | Data Ekonomi AS Bakal Jadi Perhatian Wall Street Pekan Ini

Equityworld Futures | Laporan keuangan Nvidia mendorong saham di wall street sentuh rekor tertinggi pekan lalu. Pada pekan ini, data inflasi baru akan menguji reli di wall street.

Equityworld Futures | Harga Emas Turun Tipis Pada Senin (26/2) Pagi Saat Dolar AS Menguat

Dikutip dari Yahoo Finance, ditulis Senin (26/2/2024), indeks S&P 500 dan Dow Jones naik 1 persen, sedangkan indeks Nasdaq bertambah 0,6 persen pada pekan lalu. Indeks Dow Jones dan S&P 500 ditutup pada rekor tertinggi pada Jumat, 23 Februari 2024.

Tantangan terbesar pada pekan ini kemungkinan besar dari pembacaan terbaru the Personel Consumption Expenditures (PCE) index atau indeks pengeluaran konsumsi pribadi yang merupakan ukuran inflasi pilihan bank sentral Amerika Serikat (AS) atau the Federal Reserve (the Fed).

Tinjauan terhadap kepercayaan konsumen dan perkembangan terkini pada sektor manufaktur juga akan menjadi fokus selama pekan ini. Pada pekan ini, laporan kuartalan dari Salesforce, Lowe’s, Macy’s, Okta dan Best Buy juga akan rilis.

Terakhir kali laporan indeks harga konsumen atau consumer price index lebih tinggi dari perkiraan mengguncang pasar dan memicu aksi jual saham.

Mengutip Yahoo Finance, hal tersebut dapat terjadi lagi. Pembacaan rilis inflasi terbaru dijadwalkan pada Kamis pekan ini. Ekonom perkirakan inflasi inti tahunan yang tidak termasuk kategori makanan dan energi yang bergejolak akan mencapai 2,4 persen pada Januari 2024. Selama bulan sebelumnya, ekonom prediksi inflasi inti 0,4 persen.

Kenaikan harga bulanan 0,4 persen merupakan peningkatan signifikan dari 0,2 persen pada bulan sebelumnya, dan mencerminkan kekhawatiran yang semakin besar kalau inflasi masih bertahan tinggi dari perkiraan awal.

Equityworld Futures | Analis Prediksi Harga Emas dan Minyak Perkasa, Ini Faktor Pendorongnya

Equityworld Futures | Analis Prediksi Harga Emas dan Minyak Perkasa, Ini Faktor Pendorongnya

Equityworld Futures | Analis Citi prediksi harga emas dan harga minyak dunia dapat melambung masing-masing ke USD 3.000 per ons dan USD 100 per barel dalam jangka waktu 12 hingga 18 bulan ke depan.

Equityworld Futures | Lagi-Lagi! Harga Emas Ditolong Oleh Perang

Dikutip dari CNBC, ditulis Kamis (22/2/2024), kenaikan ini dapat disebabkan dari tiga faktor, salah satunya aksi bank sentral. Kepala Riset Komoditas Citi untuk Amerika Utara Aakash Doshi melihat, emas yang saat ini dijual seharga USD 2.016 dapat melonjak hingga 50% apabila berbagai bank sentral meningkatkan pembelian logam mulia, terjadi stagflasi, dan resesi global.

Demam Emas

Analis di Citi, termasuk Doshi, melaporkan faktor yang akan menjadi penyebab kenaikan emas hingga USD 3.000 adalah percepatan tren dedolarisasi yang terjadi di berbagai bank sentral negara berkembang. Hal ini juga akan menyebabkan krisis kepercayaan pada dolar Amerika Serikat (AS).

Doshi menambahkan, hal ini dapat menyebabkan peningkatan pembelian emas bank sentral yang dapat menggantikan konsumsi perhiasan sebagai pendorong terbesar transaksi emas.

Pembelian emas oleh berbagai bank sentral telah “meningkat ke level rekor” beberapa tahun ini. Citi menduga diversifikasi pasar dan mengurangi risiko kredit seiring aksi beli emas tersebut. Bank sentral Rusia dan China membeli emas secara besar-besaran, disusul oleh India, Turki, dan India.

Dewan Emas Dunia melaporkan bank sentral di seluruh dunia membeli emas dengan jumlah rata-rata lebih dari 1.000 ton selama dua tahun ini. Doshi menyatakan apabila jumlah rata-rata pembelian emas kembali ke 2.000 ton, pasar emas dapat menjadi lebih optimistis.

Equityworld Futures | Harga emas naik seiring pelemahan dolar AS

Equityworld Futures | Harga emas naik seiring pelemahan dolar AS

Equityworld Futures | Harga emas berjangka di divisi COMEX New York Mercantile Exchange naik pada Selasa (Rabu pagi WIB) karena data pelemahan dolar Amerika Serikat (AS).

Equityworld Futures | Tunggu Hasil Rapat The Fed, Harga Emas Malah Lari Kencang

Kontrak emas paling aktif untuk pengiriman April tercatat naik 15,70 dolar AS atau 0,78 persen menjadi ditutup pada 2.039,80 dolar AS per ounce.

China telah menurunkan suku bunga utama untuk kredit perumahan dalam rangka mendorong sektor properti. Hal tersebut berpotensi meningkatkan permintaan logam, sehingga mendukung kenaikan harga emas.

Kemudian, para pelaku pasar juga menanti pengumuman risalah pertemuan kebijakan moneter Bank Sentral pada hari ini.

The Conference Board melaporkan bahwa Leading Economic Index (LEI) turun 0,4 persen pada bulan Januari setelah sempat menurun 0,2 persen pada bulan Desember. Para ekonom memperkirakan penurunan indeks yang lebih kecil, yakni 0,3 persen.

Terkait logam mulia perak, untuk pengiriman Maret turun 33,90 sen atau 1,44 persen menjadi ditutup pada 23,136 dolar per ounce. Harga platinum untuk pengiriman April naik 0,80 dolar AS atau 0,09 persen ditutup menjadi 914,30 dolar per ounce.

Equityworld Futures | Wall Street Sudah Memasang Taruhan pada Pertandingan Ulang Biden-Trump

Equityworld Futures | Wall Street Sudah Memasang Taruhan pada Pertandingan Ulang Biden-Trump

Equityworld Futures | Sembilan bulan sebelum pemilihan presiden, para investor sudah memikirkan bagaimana pasar keuangan mungkin akan bereaksi terhadap hasil pemilu, dan bagaimana mereka akan bertransaksi untuk mempersiapkan diri menghadapinya. Pasar saham telah melonjak ke level tertinggi dalam beberapa minggu terakhir, sementara hasil obligasi pemerintah, yang menjadi dasar tingkat bunga bagi konsumen dan perusahaan, turun dari puncak terbaru pada bulan Oktober. Meskipun ketidakpastian dalam membuat prediksi politik, para pengelola uang sudah mempertimbangkan bagaimana pemilu dapat mengubah suasana di pasar.

Equityworld Futures | Timur Tengah Kembali Memanas, Emas pun Berkilau Lagi

Gelombang merah, gelombang biru, atau pemerintahan yang terbagi? Kombinasi yang dianggap investor paling mungkin untuk menyebabkan pergeseran dalam pasar keuangan pada bulan November — dan karenanya skenario yang diperhatikan oleh para trader — adalah gelombang merah, di mana mantan Presiden Donald J. Trump kembali ke Gedung Putih bersama dengan kemenangan Partai Republik di Kongres. Ketika Trump memenangkan pemilihan presiden pada 2016, dan Partai Republik menjaga kendali DPR dan Senat, harapan akan penurunan pajak dan lingkungan regulasi yang lebih longgar memengaruhi harapan pertumbuhan dan indeks saham utama naik. Kebijakan tersebut, yang mengurangi pendapatan pemerintah dan meningkatkan kebutuhan pinjamannya, juga mendorong kenaikan tajam dalam hasil obligasi pemerintah. Dalam hal gelombang merah, para investor mengharapkan hal yang serupa. “Saya rasa secara garis besar Anda akan melihat sesuatu yang mirip,” kata Erik Weisman, ekonom kepala dan manajer portofolio di MFS Investment Management.

Gelombang biru — kemenangan Demokrat di Kongres dan pencalonan kembali Presiden Biden — dianggap kurang mungkin terjadi, dan oleh karena itu mendapat perhatian lebih sedikit, meskipun hasil tersebut juga bisa menyebabkan peningkatan pengeluaran pemerintah dan biaya pinjaman yang lebih tinggi. Dan jika pemilu menghasilkan pemerintahan yang terbagi, seperti sekarang, maka prospek kebuntuan legislatif lebih lanjut kemungkinan akan meredakan respons di pasar. “Yang penting adalah adanya gelombang merah atau tidak,” kata Mike Gladchun, manajer portofolio asosiasi di manajer dana Loomis Sayles.

Salah satu ide perdagangan pemilu yang paling dibicarakan mencerminkan strategi yang sudah populer dan terkait dengan harapan bahwa Federal Reserve akan segera mulai memangkas suku bunga. “Jika ada waktu untuk bertaruh lebih awal, ini adalah saatnya,” kata Gladchun, yang menambahkan bahwa meskipun ia belum melakukan perdagangan pada pemilu, ia sudah berdiskusi tentang investasi terkait hal tersebut. Selama enam bulan terakhir, investor telah bertaruh pada perbedaan yang membesar antara tingkat bunga jangka pendek, yang berkaitan erat dengan kebijakan Federal Reserve, dan hasil jangka panjang, yang juga dipengaruhi oleh pertumbuhan, inflasi, dan seberapa besar pemerintah perlu meminjam. Jika inflasi terus menurun dan Federal Reserve mulai memangkas suku bunga acuannya, seperti banyak yang diperkirakan tahun ini, tingkat hasil pasar jangka pendek biasanya diharapkan turun. Sementara itu, kekuatan ekonomi dan kekhawatiran tentang peminjaman pemerintah diperkirakan akan menjaga tingkat hasil jangka panjang tetap tinggi. Gelombang merah akan menjadi alasan lain untuk bertaruh pada selisih yang semakin membesar antara tingkat bunga jangka pendek dan jangka panjang, kata para investor. “Akan terlalu dini untuk melakukan perdagangan ini jika itu adalah satu-satunya alasan, tetapi ada banyak alasan lain yang sudah masuk akal tanpa memikirkan pemilu,” kata Calvin Tse, kepala riset di BNP Paribas. “Pemilu adalah angin ekor positif potensial untuk perdagangan tersebut.”

Meskipun demikian, ada risiko dalam merencanakan perdagangan jauh sebelum pemilu, tidak sedikit karena Trump masih terlibat dalam pertempuran hukum di banyak front, termasuk tentang kelayakan hukumnya untuk bahkan tampil di surat suara pada November.

Pasar saham mungkin lebih sulit diprediksi daripada obligasi, dengan para investor mengatakan bahwa mereka saat ini lebih menyukai perdagangan yang akan menghasilkan keuntungan dari volatilitas yang lebih tinggi daripada bertaruh pada arah tertentu dalam harga. Meskipun pengurangan pajak dan deregulasi kemungkinan akan disambut baik oleh korporasi Amerika, tingkat hasil obligasi yang lebih tinggi — dan, dengan demikian, biaya pinjaman yang lebih tinggi — tidak. Sulit juga untuk memperkirakan bagaimana Federal Reserve akan bereaksi terhadap kebijakan fiskal stimulus jika ekonomi terus tumbuh. (Trump baru-baru ini mengatakan bahwa jika dia terpilih, dia tidak akan kembali menunjuk Jerome H. Powell untuk masa jabatan ketua Fed yang lain.)

Hal itu bisa menyebabkan volatilitas di pasar obligasi juga. Ide lain yang sedang dibicarakan di antara para investor adalah untuk bertaruh pada penguatan dolar. Trump telah mengatakan bahwa ia akan memberlakukan tarif baru pada impor, yang cenderung meningkatkan nilai dolar dengan membuatnya kurang menarik untuk dibelanjakan pada barang-barang asing. Sementara itu, beberapa investor khawatir tentang efek simpati otoriter yang dimiliki Trump pada kekuatan sistem hukum AS, yang menopang status negara tersebut sebagai pusat keuangan global. “Jika Trump dianggap tidak baik bagi pemerintahan hukum, maka hal itu tidak baik untuk dolar,” kata Weisman dari MFS Investment Management. “Apakah Anda ingin memiliki aset AS di dunia di mana pemerintahan hukum mungkin tidak sebesar pengaruhnya seperti dulu?”

Equityworld Futures | Wall Street Anjlok Imbas Turunnya Harga Produsen

Equityworld Futures | Wall Street Anjlok Imbas Turunnya Harga Produsen

Equityworld Futures | Indeks utama saham Amerika Serikat (AS) alias Wall Street ditutup anjlok pada perdagangan Jumat (16/2). Hal itu dipicu oleh turunnya harga produsen yang lebih tinggi dari perkiraan.Indeks utama saham Amerika Serikat (AS) alias Wall Street ditutup anjlok pada perdagangan Jumat (16/2). Hal itu dipicu oleh turunnya harga produsen yang lebih tinggi dari perkiraan.

Equityworld Futures | Harga Emas Tetap Berkilau, Sanggup Bertahan Pekan Ini?

Mengutip Reuters, Senin (19/2), S&P 500 (.SPX), kehilangan 24,18 poin atau 0,49 persen menjadi 5.005,15 poin, sedangkan Nasdaq Composite (.IXIC) kehilangan 132,38 poin atau 0,83 persen menjadi 15.775,65. Rata-rata Industri Dow Jones (.DJI), turun 149,48 poin atau 0,39 persen menjadi 38.623,64.

“Sebuah laporan Departemen Tenaga Kerja menunjukkan harga-harga produsen meningkat lebih dari perkiraan pada bulan Januari, menambah kekhawatiran bahwa inflasi akan meningkat setelah berbulan-bulan mengalami penurunan,” tulis laporan Reuters.

Data tersebut dapat mendorong The Fed untuk menunda penurunan suku bunga. Awal pekan ini, laporan harga konsumen yang tinggi memicu aksi jual di pasar ekuitas meskipun penurunan penjualan ritel bulan Januari pada hari Kamis memicu harapan penurunan suku bunga.

“Data inflasi minggu ini pasti akan membuat The Fed setidaknya mengambil jeda (menurunkan suku bunga) hingga musim panas,” kata Kepala Investasi BMO, Carol Schleif.

Di sisi lain, imbal hasil Treasury melonjak setelah laporan tersebut karena para pedagang menambah spekulasi bahwa The Fed mungkin menunda penurunan suku bunga pertama hingga bulan Juni.
“Suku bunga yang lebih tinggi untuk jangka waktu yang lebih lama benar-benar merupakan narasi pasar yang berkelanjutan,” kata Chief Executive Officer di AXS Investments, Greg Bassuk.

Adapun, dua pejabat Fed menyatakan kehati-hatian. Presiden Fed Atlanta Raphael Bostic mengatakan ia memerlukan lebih banyak bukti bahwa tekanan inflasi telah mereda, namun ia terbuka untuk menurunkan suku bunga dalam beberapa bulan ke depan.

Sementara, Presiden Fed San Francisco Mary Daly mengatakan masih banyak pekerjaan yang harus dilakukan untuk memastikan inflasi stabil.

Equityworld Futures | Harga Emas Dunia Anjlok ke Level Terendah, Kini di Bawah USD 2.000

Equityworld Futures | Harga Emas Dunia Anjlok ke Level Terendah, Kini di Bawah USD 2.000

Equityworld Futures | Harga emas memperpanjang penurunannya dan diperdagangkan di bawah level USD 2.000 per ons pada hari Rabu. Anjloknya harga emas dunia ini sehari setelah data inflasi AS yang lebih baik dari perkiraan mendorong investor menurunkan taruhan terhadap penurunan suku bunga Federal Reserve lebih awal, sementara paladium melonjak lebih dari 7%.

Equityworld Futures | Jatuh ke Bawah US$ 2,000, Harga Emas Diramal Masih Sulit Naik

Dikutip dari CNBC, Kamis (15/2/2024), harga emas di pasar spot turun 0,1% pada USD 1,991.09 per ounce — harga terendah sejak 13 Desember. Emas batangan turun sekitar 1,4% pada hari Selasa.

Katalis bagi tren emas yang lebih rendah lagi adalah konfirmasi bahwa The Fed mungkin tidak dapat menurunkan suku bunga dalam waktu dekat, tambahnya.

Data pada hari Selasa menunjukkan harga konsumen AS naik lebih dari perkiraan pada bulan Januari, yaitu kenaikan tahunan sebesar 3,1%, di atas perkiraan ekonom dalam jajak pendapat Reuters yang memperkirakan kenaikan sebesar 2,9%.
Perkiraan Suku Bunga AS

Para pedagang sekarang memperkirakan tiga kali penurunan suku bunga sebesar 25 basis poin pada tahun 2024, turun dari empat basis poin, sejalan dengan “dot plot” The Fed yang dirilis pada bulan Desember. Bank sentral AS mungkin menunggu hingga Juni sebelum memangkas suku bunga.

Suku bunga yang lebih tinggi meningkatkan biaya peluang untuk memegang emas batangan.

Investor sekarang akan fokus pada data penjualan ritel dan indeks harga produsen AS yang akan dirilis masing-masing pada hari Kamis dan Jumat. Setidaknya lima pejabat Fed akan berbicara minggu ini.

Equityworld Futures | Harga Emas Menguat di Pekan Penuh Rilis Data

Equityworld Futures | Harga Emas Menguat di Pekan Penuh Rilis Data

Equityworld Futures | Harga emas menguat tipis di awal pekan ini. Investor menunggu pernyataan dari sejumlah pejabat Federal Reserve Amerika Serikat (AS) dalam minggu yang penuh data.

Equityworld Futures | Harga Emas Minggu ini Berpotensi Turun Efek Penguatan USD dan Konflik Timur Tengah

Senin (12/2) pukul 15.34 WIB, harga emas spot menguat 0,09% ke US$ 2.026,12 per ons troi. Sedangkan harga emas kontrak April 2024 juga menguat 0,09% ke US$ 2.040,70 per ons troi.

“Emas sangat tangguh, mengingat kita telah melihat penurunan hampir 60 basis poin (untuk tahun 2024) sejak level tertinggi di bulan Januari,” kata Kyle Rodda, analis pasar keuangan di Capital.com kepada Reuters.

“Posisinya netral, dan jika data memburuk sehingga melemahkan dolar dan memperdalam taruhan penurunan suku bunga AS, maka emas akan bersinar lagi. Risiko besar minggu ini adalah indeks harga konsumen (CPI) – jika hal ini terjadi, maka akan terjadi pengujian lagi di US$ 2.000 per ons troi,” imbuh dia.

Perdagangan diperkirakan akan sepi selama jam perdagangan Asia karena libur pasar di Tiongkok, Hong Kong, Jepang, Korea Selatan, Singapura, Taiwan, Vietnam, dan Malaysia.

Spekulan emas COMEX menaikkan posisi beli mereka sebanyak 10.616 kontrak menjadi 82.591 dalam pekan yang berakhir 6 Februari, menurut data pada hari Jumat.

Pelaku pasar akan fokus pada data CPI AS pada hari Selasa (13/2), data penjualan ritel pada hari Kamis (15/2) dan data indeks harga produksi (PPI) pada hari Jumat (16/2), serta menunggu pernyataan dari pejabat Fed pada minggu ini.

Beberapa pejabat Fed, termasuk Ketua Jerome Powell, pekan lalu mengatakan mereka ingin melihat lebih banyak bukti bahwa inflasi akan terus menurun sebelum menurunkan suku bunga.

Para trader telah mengesampingkan penurunan suku bunga pada pertemuan The Fed berikutnya di bulan Maret, menurut aplikasi probabilitas suku bunga LSEG, IRPR. Ini menunjukkan sekitar 65% kemungkinan penurunan suku bunga pada pertemuan bulan Mei.

Equityworld Futures | Wall Street Kompak Menguat, Dipengaruhi Laporan Ketenagakerjaan

Equityworld Futures | Wall Street Kompak Menguat, Dipengaruhi Laporan Ketenagakerjaan

Equityworld Futures | Indeks utama saham Amerika Serikat (AS) alias Wall Street ditutup menguat pada perdagangan Jumat (2/2). Salah satunya S&P 500 yang berhasil mencatatkan rekor tertinggi sepanjang masa karena pendapatan yang kuat dan laporan ketenagakerjaan bulan Januari yang meningkatkan kepercayaan terhadap perekonomian.

Equityworld Futures | Pemilik Emas Mesti Siap-Siap Ya, Harganya Bisa Jatuh Lagi Nih

Mengutip Reuters, Senin (5/2), S&P 500 naik 1,07 persen mengakhiri sesi pada 4.958,61 poin. Kemudian Nasdaq menguat 1,74 persen menjadi 15.628,95 poin. Dow Jones Industrial Average naik 0,35 persen menjadi 38.654,42 poin.

“Hasil kuartalan yang solid dari Meta Platforms (META.O) dan Amazon.com (AMZN.O) membantu mendongkrak indeks S&P 500 (.SPX) dan Indeks Komposit Nasdaq (.IXIC),” tulis laporan Reuters.

Adapun, ketiga indeks saham utama AS mencatat kenaikan mingguan keempat berturut-turut.

“Pendapatan sebagian besar perusahaan kuat pada minggu ini, dan kami percaya pertemuan The Fed adalah bullish karena pertemuan tersebut menetapkan ekspektasi penurunan suku bunga pada bulan Mei atau Juni dengan tepat,” kata Manajer Portofolio Infracap, Jay Hatfield.

Lebih lanjut, pemerintah AS menambahkan 353.000 pekerjaan pada bulan Januari. Angka itu melampaui perkiraan para analis, sementara pertumbuhan upah secara tak terduga meningkat.

Tanda-tanda tambahan dari kekuatan ekonomi membuat bank sentral AS kemungkinan besar akan menunda pemangkasan suku bunga. Ketua Fed Jerome Powell pada hari Rabu menolak gagasan penurunan suku bunga pada bulan Maret.
Adapun, pasar keuangan memproyeksi kemungkinan penurunan suku bunga sebesar 25 basis poin pada pertemuan The Fed bulan Maret.

Equityworld Futures | Harga Emas Tetap Berkilau Meski The Fed Bikin Kecewa

Equityworld Futures | Harga Emas Tetap Berkilau Meski The Fed Bikin Kecewa

Equityworld Futures | Harga emas tetap menguat meski bank sentral Amerika Serikat (AS) The Federal Reserve (The Fed) belum memberi sinyal pemangkasan suku bunga pada Maret mendatang.

Equityworld Futures | Harga emas naik karena investor bersiap respons pertemuan FOMC

Pada perdagangan Rabu (31/1/2024) harga emas di pasar spot ditutup menguat 0,16% di posisi US$ 2039,32 per troy ons.

Sementara, hingga pukul 06.00 WIB Kamis (1/2/2024), harga emas di pasar spot bergerak lebih tinggi atau naik 0,04% di posisi US$ 2040,05 per troy ons.

The Fed pada Kamis dini hari waktu Indonesia memutuskan untuk menahan suku bunga di level 5,25%-5,50% untuk pertemuan keempat berturut-turut, sejalan dengan perkiraan para pelaku pasar.

The Fed dalam pernyataan resminya mengatakan pemangkasan suku bunga tidak layak dilakukan selama mereka belum yakin jika inflasi bergerak ke arah 2%.
“Komite sangat berkomitmen untuk membawa inflasi ke target sasaran 2%. Inflasi sudah melandai dalam setahun terakhir tetapi kamu masih memberi perhatian penuh terhadap risiko inflasi” tutur pernyataan The Fed dalam situs resminya.

Keinginan pelaku pasar melihat pemangkasan suku bunga dalam waktu dekat sepertinya belum akan terwujud.Chairman The Fed Jerome Powell dalam konferensi pers, Rabu waktu AS atau Kamis dini hari waktu Indonesia, mengatakan jika ekonomi AS saat ini masih sangat kuat.
Dengan ekonomi dan inflasi AS yang masih kuat, Powell menegaskan jika The Fed belum cukup percaya diri untuk memangkas suku bunga pada pertemuan Federal Open Market Committee (FOMC) Maret mendatang.

Pernyataan The Fed sebelumnya, yang dikeluarkan pada Desember 2023, mengatakan akan mempertimbangkan “penguatan kebijakan tambahan”, dengan bahasa yang mengecualikan pertimbangan penurunan suku bunga. Pernyataan tersebut merupakan pukulan bagi investor yang memperkirakan penurunan suku bunga akan dimulai pada awal Maret 2024.

Harga emas sangat sensitif terhadap pergerakan suku bunga AS. Kenaikan suku bunga AS akan membuat dolar AS dan imbal hasil US Treasury menguat. Kondisi ini tak menguntungkan emas karena dolar yang menguat membuat emas sulit dibeli sehingga permintaan turun. Emas juga tidak menawarkan imbal hasil sehingga kenaikan imbal hasil US Treasury membuat emas kurang menarik.

Namun, suku bunga yang lebih rendah akan membuat dolar AS dan imbal hasil US Treasury melemah, sehingga dapat menurunkan opportunity cost memegang emas. Sehingga emas menjadi lebih menarik untuk dikoleksi.

Indeks dolar dan imbal hasil US Treasury tetap melemah meski The Fed belum mengindikasikan pemangkasan suku bunga. Indeks dolar ke possi 103,274 pada perdagangan kemarin, melemah dibandingkan Rabu di posisi 103,397.

Imbal hasil US Treasury melandai ke 3,965% dari 4,057% pada Rabu.

Design a site like this with WordPress.com
Get started