Equityworld Futures | Bursa Saham Asia Rontok Ikuti Wall Street

Equityworld Futures | Bursa saham Asia Pasifik tergelincir pada perdagangan Selasa pagi (5/10/2021) seiring wall street yang tertekan. Indeks Nasdaq turun lebih dari dua persen.

Bursa saham Asia, di Jepang, indeks Nikkei 225 turun 2,25 persen, saham kolongmerat Fast Retailing melemah 3,6 persen, indeks Korea Selatan Kospi tergelincir 0,95 persen. Saham di Australia ikuti tren penurunan tersebut. Indeks ASX 200 merosot 0,32 persen.

Investor Lepas Saham Big Tech, Wall Street Ditutup Melemah | Equityworld Futures

The Reserve Bank of Australia pun mengambil tindakan dan akan mengumumkan keputusan suku bunga pada sekitar pukul 11.30 waktu setempat. Demikian dilansir dari CNBC, Selasa pekan ini.

Indeks MSCI Asia Pasifik di luar Jepang susut 0,18 persen. Bursa di China daratan libur pada perdagangan saham Selasa, 5 Oktober 2021.

Indeks Dolar AS Turun
Di wall street, indeks S&P 500 turun 1,3 persen ke posisi 4.300,46. Sementara indeks Dow Jones Industrial Average turun 323,54 poin menjadi 34.002,92. Nasdaq Composite jatuh 2,14 persen dengan nilai sekitar 14.255,49.

Indeks dolar AS berada di posisi 93,82, dan indeks ini turun dari posisi sebelumnya di atas 94. Yen Jepang diperdagangkan di kisaran 110,97 per dolar AS.

Harga minyak menguat pada jam perdagangan di Asia. Harga minyak Brent berjangka naik 0,18 persen menjadi USD 81,41 per barel. Harga minyak berjangka Amerika Serikat menguat 0,13 persen ke posisi USD 77,72 per barel.

Equityworld Futures | Wall Street Menguat, Data Ekonomi AS Membaik

Equityworld Futures | Memasuki kuartal terakhir tahun 2021, saham-saham Wall Street ditutup menguat pada perdagangan Jumat (2/10). Adapun kenaikan ini didorong oleh data ekonomi Amerika Serikat yang positif serta kemajuan dalam pemulihan pandemi COVID-19.

Dikutip dari Reuters, Senin (4/10), Dow Jones Industrial Average (.DJI) naik 482,54 poin, atau 1,43 persen menjadi 34.326,46. Sementara S&P 500 (.SPX) naik 49,5 poin, atau 1,15 persen menjadi 4.357,04; dan Nasdaq Composite (.IXIC) bertambah 118,12 poin, atau 0,82 persen menjadi 14.566,70.

Harga emas mendekati level tertinggi 2 pekan ke level US$1.764,6 | Equityworld Futures

Ketiga indeks saham utama AS bergerak naik-turun di awal sesi. Namun tren kenaikan mulai terlihat jelang akhir pekan lalu.

Perdagangan saham juga semakin mendapatkan momentum setelah Gedung Putih mengumumkan bahwa Presiden AS Joe Biden tengah melakukan negosiasi mengenai RUU belanja infrastruktur.

Emiten farmasi, Merck & Co Inc (MRK.N) mengungkapkan bahwa sebuah penelitian baru-baru ini menunjukkan obat oral eksperimental untuk COVID-19 mengurangi risiko kematian dan rawat inap sekitar 50 persen. Penelitian ini membuat saham perseroan melonjak 8,4 persen dan meningkatkan sentimen pembukaan kembali ekonomi.

Sejumlah data ekonomi yang dirilis pada hari Jumat menunjukkan peningkatan belanja konsumen, aktivitas pabrik yang dipercepat dan pertumbuhan inflasi yang meningkat. Hal ini dapat mendorong Federal Reserve AS untuk mempercepat pengetatan kebijakan moneter yang akomodatif.

Dari 11 sektor utama di S&P 500, semua kecuali saham kesehatan (.SPXHC) berakhir lebih tinggi. Sektor ini terbebani oleh penurunan 11,4 persen saham pembuat vaksin COVID Moderna Inc (MRNA.O) setelah adanya berita tentang penelitian Merck.

Volume perdagangan di Wall Street mencapai 11,02 miliar saham, lebih tinggi dibandingkan rata-rata perdagangan saham selama 20 hari terakhir sebanyak 10,70 miliar saham.

PT Equity World | Data Ketenagakerjaan AS Anjlok, Harga Emas Dunia Meroket

PT Equity World | Harga emas dunia meroket lebih dari 2 persen pada perdagangan Kamis, setelah dolar AS jatuh karena data ketenagakerjaan mingguan Amerika yang anjlok.

Mengutip CNBC, Jumat (1/10/2021) harga emas di pasar spot melonjak 1,7 persen menjadi USD1.755,56 per ounce setelah melesat 2,2 persen ke level tertinggi satu pekan di awal sesi.

Awas, prediksi IHSG Jumat (1/10) terkoreksi, untuk trading cermati 3 saham ini | PT Equity World

Sementara, emas berjangka Amerika Serikat ditutup melejit 2 persen menjadi USD1.757 per ounce.

Jumlah warga Amerika yang mengajukan klaim baru untuk tunjangan pengangguran meningkat pekan lalu, data menunjukkan pada Kamis, yang dapat mendorong kekhawatiran perlambatan pasar tenaga kerja.

“Ini juga menyebabkan ketidakpastian tentang tapering The Fed, karena mereka ingin pasar tenaga kerja yang solid untuk mengumumkan tapering ,” kata konsultan independent, Robin Bhar, menambahkan penundaan apapun bisa berdampak positif bagi emas.

Emas juga “bergerak menuju beberapa pembelian fisik baru, dengan sejumlah investor mencari lindung nilai terhadap ketidakpastian ekonomi, kenaikan inflasi,” ucap Bhar.

Tetapi meningkatnya prospek tapering The Fed, yang secara luas diperkirakan dimulai pada November, dan peluang imbal hasil US Treasury terus menguat, diprediksi menambah lebih banyak tekanan pada emas yang tidak memberikan bunga, papar Han Tan, Kepala Analis Exinity.

Pengurangan stimulus bank sentral dan kenaikan suku bunga cenderung mendorong imbal hasil surat utang pemerintah lebih tinggi, meningkatkan opportunity cost memegang emas yang tidak memberikan bunga.

“Dolar AS yang lebih kuat dan imbal hasil yang lebih tinggi adalah kombinasi beracun bagi emas,” kata Commerzbank dalam sebuah catatan.

“Dalam jangka pendek, risiko penurunan harga lebih lanjut mendominasi, artinya level USD1.700 sudah bisa segera dicapai,” kata bank itu.

“Selama emas tetap berada di bawah tekanan, perak juga kemungkinan akan kesulitan untuk keluar dari tekanan.”

Perak meroket hampir 2,5 persen menjadi USD22,04 per ounce, tetapi ditetapkan untuk penurunan bulanan keempat berturut-turut.

Platinum melesat 1,3 persen menjadi USD962,61 per ounce, sementara paladium melonjak 2,4 persen menjadi USD1.901,41 per ounce.

PT Equity World | Pecah! IHSG Tembus 6.220, 5 Saham Ini Diborong Asing

PT Equity World | Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) akhirnya tembus 6.200 tepatnya 6.220, atau naik 0,92% pada awal perdagangan sesi I, Kamis ini (30/9/2021).

Dengan demikian, akhirnya IHSG tembus lagi 6.200 setelah sempat dicatatkan pada awal Agustus lalu di lebel 6.203,431. Beberapa kali IHSG terjun bebas bahkan mendekati di bawah 6.000 dan seakan sulit tembus 6.200 sampai akhirnya hari ini berhasil.

Dollar AS Perkasa, Harga Emas Jatuh ke Level Terendah 7 Minggu | PT Equity World

Data BEI mencatat nilai transaksi pada perdagangan hari ini Rp 4,6 triliun dengan volume perdagangan 5,22 miliar saham. Investor asing masuk sebesar Rp 253 miliar di pasar reguler.

Berikut saham-saham yang diborong asing pada awal perdagangan sesi I, pukul 9.25 WIB, kamis ini. Sebagian besar merupakan saham-saham dengan kapitalisasi pasar di atas Rp 100 triliun.

Saham-saham Big Cap yang Diborong

  1. Bank BRI (BBRI) net buy Rp 307 M, saham +2,14% Rp 3.820
  2. Bank Central Asia (BBCA) net buy Rp 130 M, saham +1,44% Rp 33.375
  3. Bank Mandiri (BMRI) net buy Rp 52 M, saham +2,08% Rp 6.125
  4. Telkom Indonesia (TLKM) net buy Rp 25 M, saham +0,57% Rp 3.550
  5. Bukit Asam (PTBA) net buy Rp 34 M, saham +2,65% Rp 2.710

Tim Riset CNBC Indonesia menilai, untuk perdagangan hari ini, sentimen yang berpeluang untuk menggerakkan pasar antara lain rilis data ekonomi global hingga perkembangan kasus gagal bayar bunga obligasi pengembang properti raksasa China Evergrande.

Biro Statistik Nasional (National Bureau Statistic/NBS) melaporkan data aktivitas manufaktur China yang tercermin pada Indeks Manajer Pembelian (Purchasing Manager’s Index/PMI) periode September 2021 mengalami kontraksi ke angka 49,6, dari sebelumnya pada Agustus lalu di angka 50,1.

Namun, data PMI Jasa China periode September mengalami ekspansi ke angka 53,2, dari sebelumnya pada Agustus lalu di angka 47,5.

Purchasing Managers’ Index (PMI) menggunakan angka 50 menjadi ambang batas. Di atas 50 artinya ekspansi, sementara di bawahnya berarti kontraksi.

Sebelumnya, Ekonom dari Goldman Sachs memangkas proyeksi produk domestik bruto (PDB) China di tahun ini menjadi 7,8% dari sebelumnya 8,4%. Pemangkasan tersebut cukup tajam, sebab China dikatakan akan menghadapi tantangan dari pembatasan konsumsi energi.

“Kendala pertumbuhan yang relatif baru berasal dari peningkatan regulasi untuk target konsumsi dan intensitas energi yang ramah lingkungan,” kata ekonom Goldman Sachs dalam sebuah laporan yang dikutip CNBC International.

Sementara itu, investor di China saat ini masih menanti rilis data PMI manufaktur periode September 2021 versi Caixin/Markit.

Investor di Asia juga akan memantau perkembangan masalah keuangan China Evergrande, setelah Reuters melaporkan bahwa beberapa pemegang obligasi tidak menerima pembayaran kupon jatuh tempo pada Rabu kemarin.

Purchasing Managers’ Index (PMI) menggunakan angka 50 menjadi ambang batas. Di atas 50 artinya ekspansi, sementara di bawahnya berarti kontraksi.

Sebelumnya, Ekonom dari Goldman Sachs memangkas proyeksi produk domestik bruto (PDB) China di tahun ini menjadi 7,8% dari sebelumnya 8,4%. Pemangkasan tersebut cukup tajam, sebab China dikatakan akan menghadapi tantangan dari pembatasan konsumsi energi.

“Kendala pertumbuhan yang relatif baru berasal dari peningkatan regulasi untuk target konsumsi dan intensitas energi yang ramah lingkungan,” kata ekonom Goldman Sachs dalam sebuah laporan yang dikutip CNBC International.

Sementara itu, investor di China saat ini masih menanti rilis data PMI manufaktur periode September 2021 versi Caixin/Markit.

Investor di Asia juga akan memantau perkembangan masalah keuangan China Evergrande, setelah Reuters melaporkan bahwa beberapa pemegang obligasi tidak menerima pembayaran kupon jatuh tempo pada Rabu kemarin.

PT Equity World | Parlemen AS Alami Buntu Anggaran, Wall Street Rontok!

PT Equity World | Bursa saham Amerika Serikat (Wall Street) turun tajam pada Selasa (Rabu WIB). Imbal hasil Treasury AS mendekati level tertinggi tiga bulan dan anggota parlemen di Washington tengah mengalami kebuntuan anggaran.

Melansir CNBC International, Rabu, 29 September 2021, Nasdaq Composite turun 2,83 persen menjadi 14.546,68 dan S&P 500 turun 2,04 persen menjadi 4.352,63. Indeks Dow Jones Industrial Average kehilangan 569,38 poin atau 1,63 persen menjadi ke level 34.299,99.

Wall Street & Eropa Jeblok 2%, Berani Lihat IHSG Hari Ini? | PT Equity World

Imbal hasil Treasury 10-tahun melanjutkan kenaikannya pada Selasa, yaitu naik 1,567 persen. Investor bertaruh The Fed akan memenuhi janjinya untuk memotong stimulus pembelian obligasi darurat karena inflasi melonjak.

Imbal hasil 10-tahun, yang diperdagangkan serendah 1,13 persen baru-baru ini pada Agustus, telah berbalik secara dramatis ke level tertinggi sejak Juni setelah Fed mengisyaratkan akan mengurangi USD120 miliar dalam pembelian obligasi bulanan.

Saham teknologi turun dengan Facebook, Microsoft, dan Alphabet kehilangan lebih dari tiga persen, sementara Amazon turun lebih dari dua persen.

PT Equity World | Harga Emas Tertekan Penguatan Dolar

PT Equity World | Harga emas nyaris tak berubah pada akhir perdagangan Senin (Selasa pagi WIB). Kenaikan harga emas dibatasi oleh menguatnya dolar dan imbal hasil obligasi pemerintah AS yang lebih tinggi, sementara investor menunggu Federal Reserve untuk petunjuk lebih lanjut tentang strategi tapering.

Melansir Antara, Selasa, 28 September 2021, kontrak emas paling aktif untuk pengiriman Desember di divisi Comex New York Exchange naik tipis USD0,3 atau 0,02 persen, menjadi USD1.752 per ounce. Jumat pekan lalu, emas berjangka di level USD1,9 atau menguat tipis 0,11 persen menjadi USD1.751,70.

Bursa Saham Asia Tergelincir Gara-Gara Imbal Hasil Obligasi AS Melonjak | PT Equity World

“Kami masih memiliki beberapa kekhawatiran di luar sana yang menjaga daya tarik safe haven tetap hidup saat harganya turun. Tetapi kami terus melihat dolar membuat keuntungan dan menjaga sedikit tekanan pada kompleks komoditas, terutama emas,” kata direktur perdagangan logam di High Ridge Futures, David Meger.

Indeks dolar naik 0,1 persen terhadap enam mata uang utama pesaingnya, membuat emas lebih mahal bagi pemegang mata uang lainnya, sementara imbal hasil obligasi pemerintah AS 10-tahun yang dijadikan acuan naik ke level tertinggi dalam tiga bulan.

Fokus pasar sekarang akan tertuju pada pidato pejabat The Fed minggu ini, termasuk Ketua Jerome Powell di depan Kongres tentang respons kebijakan bank sentral terhadap pandemi.

Logam mulia lainnya, perak untuk pengiriman Desember naik 26,9 sen atau 1,2 persen, menjadi USD22,694 per ounce. Platinum untuk pengiriman Oktober naik USD1,70 atau 0,17 persen, menjadi USD981,6 per ounce.

PT Equity World | Bursa Asia Cerah, Shanghai Melesat! Badai Evergrande Pudar?

PT Equity World | Bursa Asia dibuka di zona hijau pada perdagangan Senin (27/9/2021) awal pekan ini, di mana investor Asia kembali memantau perkembangan krisis likuiditas Evergrande yang masih terjadi pada hari ini.

Indeks Nikkei Jepang dibuka menguat 0,36%, Hang Seng Hong Kong bertambah 0,63%, Shanghai Composite China melesat 0,73%, Straits Times Singapura terapresiasi 0,37%, dan KOSPI Korea Selatan naik tipis 0,01%.

Pergerakan Harga Emas Hari Ini, Senin 27 September 2021, di Bawah US$1.760 | PT Equity World

Data keuntungan industri China periode Agustus akan dirilis pada hari ini pukul 09:30 waktu setempat atau pukul 08:30 WIB.

Di lain sisi, perkembangan krisis keuangan perusahaan properti terbesar kedua di China, Evergrande Group juga masih akan dipantau oleh investor, mengingat hingga saat ini, perseroan belum memberikan penjelasan kapan bunga obligasi senilai US$ 83 juta dalam denominasi dolar Amerika Serikat (AS) yang jatuh tempo pada Kamis (23/9/2021) pekan lalu.

Evergrande mempunyai waktu 30 hari untuk memberikan penjelasan terkait pembayaran bunga obligasi tersebut, sebelum secara teknis dikatakan gagal bayar (default).

Sebelumnya pada pekan lalu, masalah keuangan Evergrande sempat membuat pasar saham Asia berjatuhan hingga dua hari beruntun. Tak hanya pasar saham Asia, bursa saham AS (Wall Street) pun ikut berjatuhan.

Namun, sentimen dari Evergrande sebenarnya sempat berkurang di pasar pada Rabu (22/9/2021) pekan lalu, di mana pemerintah berniat untuk menyelesaikan krisis likuiditas Evergrande dengan cara menyuntikkan dana hingga ratusan triliun Rupiah.

Sementara itu dari Negeri Paman Sam, bursa Wall Street pada penutupan perdagangan Jumat (24/9/2021) pekan lalu ditutup bervariasi dengan mayoritas menguat, namun penguatannya cenderung tipis-tipis saja.

Indeks Dow Jones Industrial Average (DJIA) ditutup naik 0,1% ke level 34.798 dan S&P 500 menguat 0,15% ke 4.455,5. Namun untuk Nasdaq kembali terkoreksi tipis 0,03% ke 15.047,7.

Mulai terpangkasnya penguatan Dow Jones dan S&P disebabkan karena investor di AS yang juga mengkhawatirkan dampak ambruknya raksasa properti China Evergrande Group yang nyaris gagal bayar (default).

Selain itu, kebijakan tegas pemerintah China yang melarang bitcoin memperburuk sentimen pasar, terutama menekan saham teknologi. Bank sentral China mengatakan bahwa semua kegiatan terkait mata uang kripto adalah ilegal.

Bank sentral China juga menegaskan bahwa bursa mata uang kripto China adalah ilegal. Pada Jumat pekan lalu, Bitcoin anjlok 9% sedangkan ethereum ambruk 11%.

Saham terkait kripto anjlok di pembukaan. Saham bursa bitcoin yakni Coinbase anjlok lebih dari 3% dan saham Tesla yang berinvestasi di bitcoin turun 1%.

Equity World | Wall Street Dibuka Menguat Saat The Fed dan Evergrande Tidak Lagi Bikin Cemas

Equity World | Bursa saham Amerika Serikat atau Wall Street dibuka menguat pada perdagangan Kamis pagi waktu setempat untuk memperpanjang tren kenaikan sejak kemarin.

Hal ini menyusul harapan krisis Evergrande Group di China mereda sementara bank sentral AS (Federal Reserve/ The Fed ) terindikasi masih tetap dovish (pro-stimulus pasar).

Wall Street terangkat sikap Fed, indeks Dow Jones melonjak 506,50 poin | Equity World

Indeks Dow Jones Industrial Average (DJI) dibuka menguat 37,98 poin, atau 0,11%, pada pembukaan di 34.296,30. Hingga pukul 01.00 WIB, DJI berada di posisi 528,65 poin atau 1,54% menjadi 34.786,97.

Sedangkan S&P 500 (SPX) dibuka lebih tinggi sebesar 11,11 poin, atau 0,25%, pada 4.406,75. Hingga pukul 01.05 WIB SPX naik 54,57 poin, atau 1,24%, menjadi 4.450,21.

Nasdaq Composite (IXIC) naik 63,16 poin, atau 0,42%, menjadi 14.960,00 pada pembukaan. Kemudian IXIC naik 127,12 poin atau 0,85% menjadi 15.023,97.

Saham yang terkait dengan pemulihan ekonomi global menguat di pembukaan. Saham Freeport-McMoRan lompat nyaris 1%. Las Vegas Sands, yang memiliki eksposur China, melompat 1,5%. Saham energi juga menguat.

Volume perdagangan saham di bursa AS mencapai 9,84 miiar saham dengan rata-rata 10,07 miliar saham selama 20 hari perdagangan terakhir.

Di antara sektor industri utama S&P 500, sektor energi naik 3,4% dan saham keuangan mencatat kenaikan 2,5%. Real estate dan utilitas adalah satu-satunya sektor dari 11 yang mencetak kerugian, keduanya turun sekitar 0,5%.

Saham penyedia layanan TI, Salesforce, ditutup naik 7% dan perusahaan tersebut merupakan dorongan besar bagi S&P dan Dow selama sesi tersebut setelah menaikkan perkiraan pendapatan tahunannya.

Indeks Hang Seng Hong Kong berbalik menguat lebih dari 1% dari koreksi pekan ini. Saham Evergrande Group melesat lebih dari 17% setelah berkomitmen membayar kewajiban utangnya kepada para pemegang obligasi lokal.

Namun, investor global masih menunggu apakah perseroan akan membayar bunga obligasi, senilai USD 83 juta yang akan jatuh tempo pada Kamis. Pemerintah China menegaskan Evergrande untuk menghindari gagal bayar (default) obligasi berbasis dolar AS.

Secara bersamaan, Wall Street Journal melaporkan bahwa pemerintah China sudah bersiap menyikapi “kemungkinan badai” jika Evergrande gagal. Bursa saham menguat setelah The Fed mempertahankan suku bunga acuannya di level sekarang.

Dow Jones lompat 340 poin (+1%) kemarin, menjadi reli harian pertama dalam 5 hari terakhir, dan juga yang tertinggi sejak 20 Juli. Indeks S&P 500 melompat 0,95%, yang juga menghentikan koreksi 4 hari, menjadi yang terbaik sejak 23 Juli. Nasdaq lompat 1,02%, sedangkan Russell 2000 lompat 1,48%.

“Jika kemajuan terus terjadi seperti yang diharapkan, Komite menilai laju pembelian aset yang moderat mungkin bisa dijalankan,” tutur The Fed usai rapat kemarin.

Bank sentral terkuat di dunia ini telah membeli aset obligasi dari pasar senilai USD 120 miliar per bulan. Departemen Tenaga Kerja AS merilis klaim tunjangan pengangguran awal, yang berujung pada angka 351.000 per pekan lalu, atau lebih buruk dari estimasi pasar sebanyak 320.000. Pekan sebelumnya, angka klaim tunjangan awal berada di level 332.000.

Beberapa perusahaan akan merilis kinerja keuangannya per kuartal III-2021, termasuk Nike. Indeks Manajer Pembelian (Purchasing Managers’ Index/PMI) manufaktur dan jasa juga akan dirilis.

Meredanya kekhawatiran atas potensi default oleh pengembang properti China Evergrande juga menambah optimisme pasar. Namun Reuters melaporkan bahwa beberapa pemegang obligasi dolar perusahaan telah putus asa untuk mendapatkan pembayaran kupon pada batas waktu penting Kamis.

Equity World | Pergerakan Harga Emas Hari Ini, Kamis 23 September 2021, The Fed Hawkish

Equity World | Harga emas berpotensi melemah pada hari ini setelah Bank Sentral AS, Federal Reserve mengeluarkan pernyataan dengan nada yang hawkish terkait kebijakan moneternya.

Tim riset Monex Investindo Futures menyebutkan, harga emas berakhir turun pada penutupan perdagangan Rabu (22/9/2021), waktu setempat sebesar US$6,37 ke level $1.7667,78 per troy ounce karena The Fed yang memberikan pernyataan hawkish pada pertemuan yang dilangsungkan dini hari.

Bursa Saham Asia Bervariasi, Investor Cermati Perkembangan Evergrande | Equity World

“Di sesi Asia, harga emas berpotensi dijual menguji support US$1.760 per troy ounce selama harga bertahan di bawah level US$1.771 per troy ounce,” jelas Monex dalam risetnya, Kamis (23/9/2021).

Sebagai alternatif, jika emas naik ke atas level tersebut, maka emas berpeluang dibeli menguji resisten US$1.775 per troy ounce.

Seperti diketahui, emas dianggap sebagai lindung nilai terhadap inflasi yang lebih tinggi, tetapi kenaikan suku bunga Fed akan menumpulkan daya tarik emas karena hal itu akan meningkatkan peluang kerugian memegang logam yang tidak memberikan imbal hasil.

Di dalam negeri, harga emas batangan 24 karat PT Aneka Tambang Tbk., hari ini terpantau turun dibandingkan harga kemarin.

Berdasarkan informasi dari Unit Bisnis Pengolahan dan Pemurnian Logam Mulia Antam, harga dasar emas 24 karat ukuran 1 gram dijual senilai Rp924.000 atau turun Rp2.000 dari harga sebelumnya pada Rabu (21/9/2021).

Sementara itu, emas satuan terkecil dengan ukuran 0,5 gram dijual Rp512.000 atau turun Rp1.000 dari harga kemarin. Sementara itu untuk harga emas 24 karat ukuran 5 gram hari ini dibanderol Rp4.395.000.

Equity World | Bursa Asia mixed, dibayangi kegagalan Evergrande dan keputusan The Fed

Equity World | Bursa Asia dibuka bervariasi pada perdagangan Rabu (22/9) pagi. Pukul 08.21 WIB, indeks Nikkei 225 trun 234,02 poin atau 0,78% ke 29.607,67, Taiex turun 359,73 poin atau 2,07% ke 16.921,99, ASX 200 naik 18,98 poin atau 9,26% ke 7.292,80, Staits Times turun 17,49 poin atau 0,57% ke 3.045,04 dan FTSE Malaysia turun 7,09 poin atau 0,46% ke 1.523,35.

Pergerakan bursa Asia yang cenderung mixed lantaran investor cenderung hati-hati di tengah kegelisahan yang berkepanjangan tentang dampak dari kegagalan yang membayangi China Evergrande dan antisipasi keputusan Federal Reserve.

Harga Emas Meroket Dipicu Kekhawatiran Krisis Evergrande | Equity World

Secara global, pasar telah tenang setelah aksi jual tajam pada hari Senin, karena analis telah meremehkan ancaman masalah Evergrande menjadi “momen Lehman” dan memicu krisis keuangan.

Tetapi saham hampir tidak memantul dan komoditas tetap berada di bawah tekanan karena kekhawatiran bergeser ke konsekuensi ekonomi.

“Bencana Evergrande semakin memicu kekhawatiran atas dampak dari tindakan keras China yang meluas,” kata analis di Rabobank mengatakan dalam sebuah catatan kepada klien, menunjukkan aturan baru tentang segala hal mulai dari game online hingga tingkat utang pengembang.

“Sebagai konsekuensinya, Evergrande mungkin dapat dilihat bukan sebagai pemicu krisis potensial, melainkan gejala dari perubahan kebijakan yang lebih luas yang mengancam pertumbuhan China karena politik mendominasi pertimbangan ekonomi.”

Evergrande melewatkan pembayaran bunga yang jatuh tempo pada hari Senin untuk setidaknya dua kreditur bank terbesarnya, menurut laporan Bloomberg pada hari Selasa.

Tes berikutnya tampak pada hari Kamis ketika perusahaan akan membayar $83,5 juta bunga obligasi – kegagalan untuk melakukannya dalam waktu 30 hari akan membuat obligasi gagal bayar.

Kesulitan perusahaan telah menyebar ke pengembang lain, dan indeks utang korporat China dengan imbal hasil tinggi – sebagian besar dikeluarkan oleh perusahaan properti – telah runtuh. Tetapi investor sekarang mengantisipasi semacam respons regulasi dari Beijing dan berharap dampak global dapat diatasi.

Design a site like this with WordPress.com
Get started