PT Equity World | Pergerakan Harga Emas Hari Ini, Kamis 20 Januari 2022, Kembali Kinclong

PT Equity World | Harga emas berpeluang menguat pada perdagangan Kamis (20/1/2022), didukung oleh aksi jual dolar AS di tengah tingkat imbal hasil obligasi AS seri 10 tahun yang turun setelah sempat melejit ke level tertinggi.

Mengutip data Bloomberg, Kamis (20/1/2022), harga emas kembali turun setelah sempat melambung dengan Comex tercatat turun 1 poin atau 0,05 persen ke US$1.844 per troy ons. Sementara harga emas spot turun 0,68 poin atau 0,04 persen ke US$1.839 per troy ons.
Kamis Pagi, Mayoritas Saham Asia Rebound | PT Equity World

Sementara itu imbal hasil Treasury 10-tahun AS menyentuh tertinggi baru dua tahun di 1,90 persen pada Rabu (19/1/2022) waktu setempat, tetapi kemudian berakhir turun ke 1,82 persen.

Tim riset Monex Investindo Futures (MIFX) menyebutkan, harga emas berpotensi ke zona hijau, didukung oleh Presiden AS Biden menyoroti upaya Kepala negosiator Perdagangan Katherine Tai untuk menenangkan pergolakan perdagangan China-Amerika.

“Selain itu ketegangan antara Rusia dan Ukraina juga semakin berpeluang memicu minat investor terhadap aset aman emas. Presiden AS Biden secara langsung memperingatkan Rusia untuk tidak menyerang Ukraina dan jika mereka melakukannya, mereka akan kehilangan akses ke dolar AS,” jelasnya dalam riset harian, Kamis (20/1/2022).

MIFX memperkirakan hari ini emas berpeluang dibeli untuk menguji level resistance ke US$1.846 selama harga bertahan di atas level support US$1.835 per troy ons.

“Namun, penurunan lebih rendah dari level support tersebut berpeluang memicu aksi jual terhadap harga emas menguji level support selanjutnya di US$1.832 per troy ons,” sambungnya.

PT Equity World | Wall Street Terperosok, Nasdaq Anjlok 2,6 Persen

PT Equity World | Bursa saham Amerika Serikat berguguran pada akhir perdagangan Selasa (18/1/2022) waktu setempat karena kenaikan imbal hasil obligasi pemerintah AS dan penurunan pendapatan Goldman Sachs.

Berdasarkan data Bloomberg, Rabu (19/1/2022), indeks Dow Jones Industrial Average ditutup melemah 1,51 persen atau 543,34 poin ke 35.368,47, S&P 500 anjlok 1,84 persen atau 85,74 poin ke 4.577,11, dan Nasdaq tergelincir 2,60 persen atau 386,86 poin ke 14.506,90.


Harga Emas Dunia Tergerus Jelang Pertemuan The Fed | PT Equity World

Penurunan Nasdaq yang mencapai 2,6 persen merupakan penutupan terendah sejak Oktober 2021 karena Wall Street terus mempertimbangkan kemungkinan kenaikan suku bunga yang lebih cepat dari perkiraan oleh Federal Reserve. Adapun imbal hasil obligasi Treasury AS tenor 10 tahun naik ke level tertinggi dalam dua tahun, menjadi 1,865 persen.

“Aksi jual adalah kelanjutan dari apa yang telah kita lihat sejauh ini tahun ini, semua tentang suku bunga. Kenaikan imbal hasil seri 10 tahun memiliki implikasi besar bagi internal pasar,” kata David Lefkowitz, kepala ekuitas untuk Amerika di UBS Global Wealth Management kepada Yahoo Finance Live.

Wall Street sempat libur pada Senin untuk memperingati Hari Martin Luther King Jr. kemudian melanjutkan perdagangan pada Selasa di tengah kesibukan laporan keuangan perusahaan yang diumumkan menjelang sesi perdagangan. Goldman Sachs (GS), PNC Bank (PNC) dan Bank of New York Mellon (BK ) merilis laporan pendapatan selama tiga bulan terakhir tahun 2021 sebelum pasar dibuka.

“Sektor perbankan investasi dengan lonjakan advisory benar-benar terlihat di Goldman Sachs, tetapi saya pikir pendapatan perdagangan akan menjadi sedikit lebih ringan karena volatilitas yang disebabkan oleh pandemi mulai mereda,” kata analis bank senior dan manajer portofolio abrdn Jon Curra.

Menjelang musim laporan pendapatan emiten, investor akan menetapkan fokus mereka pada laba perusahaan dan metrik perusahaan lainnya, bergeser setidaknya untuk sementara dari kekhawatiran seputar pengetatan kebijakan moneter Federal Reserve dan ketidakpastian ekonomi yang telah mengguncang saham dalam beberapa pekan terakhir.

Kekhawatiran atas kenaikan suku bunga yang lebih cepat dari perkiraan telah membebani pasar saham 2022 sejauh ini. S&P 500 turun 2,79 persen year-to-date, sementara Dow telah kehilangan 1,84 persen. Nasdaq telah merosot 5,93 persen sejak awal tahun ini, dengan lebih dari saham sepertiga perusahaan dalam indeks setidaknya terpangkas 50 persen dari posisi tertinggi 52-minggu, menurut data Bloomberg.

“Sangat menarik untuk melihat pasar mencerna transisi ini dari lampu hijau ke lampu kuning. Ini hanya lingkungan yang jauh berbeda dari yang kita alami sejak dasar pandemi,” kata kepala Strategi Pasar FS Investments Troy Gayeski.

Namun, prospek untuk tahun 2022 tetap positif dengan sejumlah analis pasar yang mengantisipasi kenaikan sekalipun imbal hasilnya tidak mungkin menyamai return jumbo saham pada 2021. Namun pasar saham berada dalam kondisi yang baik untuk pengembalian yang solid di masa depan.

PT Equity World | Bursa Asia Menguat, Investor Pertimbangkan Pemulihan Ekonomi

PT Equity World | Mayoritas bursa Asia menguat pada perdagangan Selasa (18/1) pagi. Pukul 08.20 WIB, indeks Nikkei 225 naik 229,25 poin atau 0,81% ke 28,564,86, Taiex turun 36,93 poin atau 0,24% je 17,479,21, Kospi naik 1,71 poin atau 0,02% ke 2.890,73, ASX 200 naik 18,20 poin atau 0,25% ke 7.435,50, Straits Times naik 8,53 poin atau 0,26% ke 3.296,72 dan FTSE Malaysia turun 12,41 poin atau 0,80% ke 1.542,92.

Bursa Asia menguat karena investor mempertimbangkan pemulihan ekonomi dari pandemi.

Gerak Emas Dunia Stabil | PT Equity World

Saham di Jepang dan Australia naik, tetapi indeks di Korea Selatan turun.

Saham global telah tergelincir tahun ini, terseret penurunan saham AS. Pertanyaan kunci saat ini adalah apakah keuntungan perusahaan akan menghidupkan kembali sentimen, meskipun biaya dan tantangan lebih tinggi dari varian virus Omicron.

“Akan menarik untuk melihat apakah investor tergoda kembali sekarang karena musim pendapatan sedang berlangsung,” kata Craig Erlam, analis pasar senoor di Oanda dalam sebuah catatan seperti dikutip Bloomberg.

“Munculnya Omicron mungkin berarti bawah banyak perusahaan tidak menikmati kinerja seperti yang diharapkan sebelumnya, tetapi itu tidak berarti akan ada banyak hal yang positif yang bisa diambil.”

Sementara itu, pembukaan pasar China akan dibingkai melawan harapan pelonggaran moneter lebih lanjut setelah penurunan suku bunga kebijakan pada Senin (17/1).

PT Equity World | Harga Emas Spot Koreksi ke US$ 1.814,08 Per Ons Troi Pada Pagi Ini (17/1)

PT Equity World | Harga emas melemah pada awal perdagangan hari ini, setelah imbal hasil US Treasury naik karena sinyal hawkish dari Federal Reserve dan pasar mulai memperhitungkan pengurangan neraca yang lebih cepat dari yang diantisipasi.

Senin (17/1) pukul 08.10 WIB, harga emas spot turun 0,2% ke US$ 1.814,08 per ons troi. Serupa, harga emas berjangka turun tipis 0,1% menjadi US$ 1.815,00 per ons troi.

Saham Asia Pasifik Dibuka Bervariasi | PT Equity World

Sentimen negatif bagi emas datang usai imbal hasil US Treasury tenor acuan 10-tahun melayang di dekat posisi tertinggi dalam dua tahun yang dicapai pada pekan sebelumnya.

Hal tersebut terjadi usai Gubernur Federal Reserve Jerome Powell mengatakan bahwa ekonomi Amerika Serikat (AS) siap untuk memulai kebijakan moneter yang lebih ketat. Sementara pejabat The Fed lainnya juga mengisyaratkan bahwa bank sentral bersiap untuk mulai menaikkan suku bunga pada bulan Maret.

Emas dianggap sebagai lindung nilai inflasi, tetapi komoditas logam mulia ini sangat sensitif terhadap kenaikan suku bunga AS, yang meningkatkan biaya peluang memegang emas batangan yang tidak memberikan imbal hasil.

Sementara itu, pembuat kebijakan Bank of Japan sedang memperdebatkan seberapa cepat mereka dapat mulai mengirim sinyal kenaikan suku bunga dalam pertemuan minggu ini.

Pasar kini menanti data dari China yang akan dirilis pada hari ini yang diperkirakan menunjukkan penjualan ritel dan output industri melambat lebih lanjut pada bulan Desember.

Pembelian emas fisik tersendat di India pada minggu lalu, karena harga naik dan meningkatnya kasus virus corona mendorong konsumen untuk menunda pembelian. Sementara permintaan di konsumen utama China stabil saat perayaan Tahun Baru Imlek mendekat.

Equity World | Bursa Asia Melemah pada Perdagangan Jumat (14/1) Pagi, Terseret Penurunan Wall Street

Equity World | Bursa Asia melemah pada perdagangan Jumat (14/1) pagi. Pukul 08.26 WIB, indeks Nikkei 225 turun 364,39 poin atau 1,28% ke 28.127,92, Hang Seng turun243,91 poin atau 1% ke 24.185,86, Taiex turun 22,50 poin atau 0,11% ke 18.417,78.

Kospi turun 29,22 poin atau 0,99% ke 2.932,67, ASX 200 turun 61,66 poin atau 0,82% ke 7.412,60, Straits Times naik 9,50 poin atau 0,30% ke 3.266,83 dan FTSE Malaysia turun 9,58 poin atau 0,62% ke 1.559,75.

Kemilau Emas Dunia Meredup | Equity World

Bursa Asia terkoreksi setelah sejumlah pejabat The Fed mengisyaratkan mereka akan memerangi inflasi secara agresif dan Nasdaq jatuh ke level terendah sejak Oktober.

Saham di Australia, Jepang dan Korea melemah.

Mengutip Bloomberg, pejabat The Fed Lael Brainadr mengatakan kenaikan suku bunga The Fed paling cepat akan dilakukan pada Maret, untuk memastikan bahwa tekanan harga bisa dikendalikan.

Kenaikan suku bunga, hasil dari pertumbuhan ekonomi yang kuat dapat mendorong investor untuk menuju saham bernilai, yang cenderung lebih siklis dan menawarkan arus kas jangka pendek.

“Kami berada dalam posisi dimana banyak yang positif untuk ekuitas mungkin bergerak ke netral atau negatif, sementara masih ada beberapa alternatif, itu membuat pasar ekuitas matang untuk lebih banyak fluktuasi selama beberapa bulan ke depan seperti yang kita lihat bagaimana data terguncang dan bagaimana Fed bereaksi,” kata Sarah Hunt, manajer portofolio Alpine Woods Capital Investors seperti dikutip Bloomberg.

Equity World | Harga Emas Makin Mahal Usai Dolar AS Melemah

Equity World | Harga emas menguat pada perdagangan Rabu. Kenaikan harga emas didorong oleh data inflasi Amerika Serikat (AS) yang masih berada dalam ekspektasi sehingga melemahkan dolar AS dan mendorong pembelian dari investor yang tampaknya telah memperhitungkan kemungkinan soal kenaikan suku bunga Bank Sentral AS atau Federal Reserve (The Fed).

Dikutip dari CNBS, Kamis (13/1/2022), harga emas di pasar spot naik 0,2 persen ke level USD 1.825,83 per ounce, memperpanjang kenaikan setelah mengalami lonjakan terbesar sejak pertengahan Desember pada perdagangan Selasa lalu.

Wall Street Menguat, Data Inflasi Mendukung Taruhan The Fed | Equity World

Sedangkan harga emas berjangka AS ditutup naik 0,5 persen pada USD 1.827,3.

Nilai tukar dolar AS jatuh ke level terendah dua bulan setelah data inflasi AS mencatat kenaikan tahunan terbesar dalam hampir empat dekade, membuat emas lebih menarik bagi investor luar negeri. Imbal hasil benchmark 10-tahun AS juga tergelincir.

Analis Standard Chartered Suki Cooper mengatakan harga emas telah bertahan sangat baik bahkan ketika pasar terus mencari kenaikan suku bunga The Fed pertama di bulan Maret.

“Secara historis, emas cenderung menaikkan harga lebih awal. Tindakan harga menunjukkan bahwa pasar telah memperhitungkan hambatan kenaikan suku bunga dan ruang lingkup untuk penguatan dolar AS jangka pendek,” kata dia.

Inflasi

Sementara emas dianggap sebagai lindung nilai terhadap inflasi yang melonjak, kenaikan suku bunga yang dihasilkan diterjemahkan ke dalam peningkatan biaya peluang memegang emas batangan tanpa bunga.

Direktur Perdagangan Logam High Ridge Futures, David Meger mengatakan, tekanan inflasi bangunan kemungkinan akan membuat harga emas tetap dalam tren naik dalam beberapa minggu mendatang, mendorongnya di atas resistensi teknis di kiasaran USD 1.830.

Pembatasan kenaikan harga emas menjadi keuntungan bagi Wall Street karena angka inflasi meredakan beberapa kekhawatiran tentang kenaikan suku bunga yang lebih cepat dari perkiraan.

“Emas sepertinya berada di tempat yang baik karena imbal hasil Treasury tidak akan reli lebih tinggi sampai pasar keuangan memiliki kepastian limpasan neraca dan itu tidak akan terjadi sampai setidaknya beberapa pertemuan Fed lagi,” ungkap Edward Moya, analis pasar senior di broker OANDA.

Sementara itu, harga silver naik 1,7 persen menjadi USD 23,16 per ounce, platinum naik 0,9 persen ke level USD 979,39. Sementara paladium turun 0,5 persen menjadi USD 1.911,09.

Equity World | Wall Street Melesat Tersengat Saham Teknologi

Equity World | Bursa saham Amerika Serikat (AS) atau wall street menguat pada perdagangan Selasa, 11 Januari 2022. Indeks Nasdaq memimpin penguatan di wall street.

Pada penutupan perdagangan, indeks Nasdaq menguat 1,41 persen menjadi 15.153,45. Indeks Nasdaq reli pada perdagangan Selasa sore dari sesi sebelumnya melemah dalam empat hari. Indeks S&P 500 bertambah 0,92 persen menjadi 4.713,07. Sedangkan indeks Dow Jones naik 0,51 persen ke posisi 36.252,02.

Investor Respons Positif Komentar The Fed Angkat Bursa Asia | Equity World

Wall street bergejolak pada awal 2022 seiring kenaikan suku bunga telah menekan bursa saham. Namun, sentimen suku bunga mereda seiring imbal hasil treasury AS bertenor 10 tahun turun di bawah 1,75 persen.

“Lebih dari segalanya, ini hanya penangguhan dari sejumlah aksi jual yang ekstrem selama beberapa minggu terakhir, benar-benar sejak awal tahun,” ujar Chief Investment Officer Bryn Mawr Trust Wealth Management, Jeff Mills, dilansir dari CNBC, Rabu (12/1/2022).

Ia menambahkan, pihaknya menilai terlalu dini untuk saham teknologi sudah mencapai posisi bawah.

Saham teknologi kapitalisasi besar membantu mendukung penguatan bursa saham. Saham Amazon naik 2,4 persen. Saham Apple dan Nvidia masing-masing naik 1,7 persen dan 1,5 persen.

Saham Illumina melonjak 17 persen setelah perseroan keluarkan prospek pendapatan 2022 yang melampaui konsensus.

Di sisi lain saham Exxon Mobil naik lebih dari 4 persen karena harga minyak AS mencapai USD 80 per barel. Saham Peloton melompat 6,4 persen.

Sentimen The Fed
Ketua the Fed Jerome Powell bersaksi di depan komite Senat pada Selasa waktu setempat. Ia berharap rantai pasokan yang yang dinormalisasi untuk membantu mengurangi tekanan inflasi pada 2022. Akan tetapi, the Fed tidak akan takut untuk menaikkan suku bunga lebih jauh dari yang diproyeksikan jika inflasi tetap tinggi.

“Jika kami harus menaikkan suku bunga lebih dari waktu ke waktu, kami akan melakukannya. Kami akan menggunakan alat kami untuk mengembalikan inflasi,” ujar Powell.

Namun, saham dan obligasi bergerak menguat selama pidato Powell. Hal ini lantaran Powell tidak mengumumkan perubahan kebijakan yang dipercepat dari apa yang telah diisyaratkan oleh bank sentral.

“Powell mencatat pengurangan neraca akan terjadi pada 2022, dan ini jalan panjang untuk kembali normal,” ujar Ian Lyngen dari BMO kepada klien.

Ia menuturkan, komentar Powell konsisten dengan langkah menaikkan suku bunga dengan asumsi tidak ada pembalikan dramatis dalam laju kenaikan harga konsumen.

Katalis Pekan Ini
Pergerakan wall street pada perdagangan Selasa mengikuti reli tajam pada awal pekan. Hal itu membuat indeks Nasdaq hapus penurunan 2,7 persen. Indeks Nasdaq susut 3,1 persen sejak awal 2022 dan lebih dari lima persen dari rekor penutupan tertinggi pada November 2021.

Investor akan mendapatkan pandangan terbaru tentang keadaan ekonomi pada akhir pekan ini dengan data inflasi yang akan dirilis pada Rabu. Selain itu, rilis kinerja keuangan bank besar pada Jumat pekan ini.

Equity World | Mulai Dilirik, Simak Potensi dan Keuntungan Emas Digital

Equity World | Produk emas digital makin dilirik seiring dengan kian banyaknya pedagang emas digital itu sendiri. Emas digital hadir menawarkan berbagai fitur unggulan yang sebelumnya tak dimiliki oleh emas fisik. Namun, selain kelebihan, risiko tetap membayangi produk emas digital itu sendiri.

Presiden Komisioner HFX Internasional Sutopo Widodo menjelaskan, pada prinsipnya emas digital sama saja dengan emas fisik. Yang membedakannya adalah cara transaksi dan sistem penyimpanannya. Jika membeli emas fisik, maka kita akan mendapat emas tersebut sesuai dengan gramasi yang dibeli.

Harga Emas: Naik adalah Jalan Ninjaku! | Equity World

“Sementara untuk emas digital, ketika seseorang membeli emas, perusahaan pengelola platform akan menyimpan emasnya di fasilitas brankas perusahaan. Sementara pembeli hanya mendapat faktur pembelian dan bukti kepemilikan,” kata Sutopo kepada Kontan.co.id, Senin (10/1).

Dengan demikian, pemilik emas digital tak perlu was-was takut kehilangan karena ada jaminan dan lisensi dari pemerintah. Namun, di satu sisi, Sutopo menyebut hal ini juga menjadi risiko karena sebagai pembeli, kita belum tentu bisa memastikan keberadaan fisik asli emas tersebut.

Namun, pemerintah kini sudah mengharuskan para pedagang emas digital untuk bergabung ke pasar fisik emas digital yang disediakan oleh bursa berjangka. Melalui pasar ini, nantinya para pedagang emas digital akan diverifikasi kepemilikan emas fisiknya sesuai dengan emas digital yang dipasarkan. Alhasil, tidak akan ada lagi kejadian membeli emas digital, namun tidak ada emas fisiknya.

Sementara perencana keuangan Financia Consulting Eko Endarto mengatakan membeli emas digital memberikan beberapa keuntungan selama emas dalam bentuk fisiknya memang tersedia dan disimpan. Masyarakat bisa melakukan pembelian dengan gramasi yang kecil dan dikumpulkan hingga akhirnya nanti bisa dicetak dengan gramasi tertentu.

Oleh karena itu, Eko mengingatkan kepada masyarakat untuk memilih pedagang emas digital yang memang sudah terpercaya guna memastikan keamanan transaksi. Salah satunya adalah dengan memastikan pedagang emas digital tersebut mengantongi izin resmi dari regulator, dalam hal ini adalah Badan Pengawasan Perdagangan Berjangka dan Komoditi (Bappebti).

“Jangan lupa riset pedagangnya, sudah berapa lama melakukan penjualan, lalu testimoni dari para pembeli sebelumnya, emasnya produk dari perusahaan tambang mana, dan yang paling penting memang memiliki emas fisiknya untuk dicetak,” imbuh Eko.

Sebagai instrumen investasi, emas digital menghadirkan peluang yang menarik. Pasalnya, berdasarkan penelusuran Kontan.co.id, selisih harga beli dan buybacknya cukup kompetitif, dalam artian tidak terlalu jauh.

Sebagai contoh, emas fisik keluaran PT Aneka Tambang Tbk (ANTM) saat ini dihargai dengan harga Rp 933.000 per gram dengan harga buyback Rp 828.000 per gram. Coba bandingkan dengan emas digital milik salah satu pedagang, yang harganya saat ini Rp 858.264 per gram. Sementara untuk harga buyback-nya sebesar Rp 843.244 per gram.

Para pedagang emas digital juga menawarkan fitur cetak emas digital menjadi emas fisik dengan gramasi tertentu. Nantinya, para pembeli tinggal mengikuti petunjuk di masing-masing platform untuk melakukan pencetakan dan akan dikenakan biaya cetak. Adapun, besaran harganya tergantung masing-masing pedagang.

Sementara untuk melakukan transaksi emas digital, umumnya calon pembeli hanya perlu memilih pedagang terlebih dahulu. Lalu membuat akun, kemudian transaksi jual-beli bisa dilakukan melalui website ataupun aplikasi masing-masing pedagang emas digital.

Equity World | Bursa Saham Asia Merosot, Investor Cermati Perkembangan Kasus COVID-19

Equity World | Bursa saham Asia-Pasifik merosot pada perdagangan Senin pagi (10/1/2022) imbas investor cermati keberlanjutan kasus COVID-19 serta kenaikan suku bunga Amerika Serikat (AS).

Di Korea Selatan, indeks Kospi menyusut 1,18 persen dan Kosdaq turun setidaknya 1,7 persen. Indeks acuan di Australia, indeks ASX 200 koreksi 0,1 persen setelah melemah.

Wall Street Merosot, Waspadai Investasi 2022, Termasuk Kripto | Equity World

Indeks sektor saham keuangan tergelincir turun 0,08 persen. Indeks material dan energi di negeri kangguru ini menguat dengan kenaikan masing-masing 1,25 persen dan 1,29 persen.

Hal serupa dialami sektor saham penambang utama. Saham Rio Tinto melonjak 1,86 persen, Fortescue meroket 2,75 perse dan BHP bergerak positif sebesar 1,89 persen. Bursa saham Jepang masih tutup untuk hari libur umum.

Sementara itu, imbal hasil obligasi tenor 10 tahunan naik setidaknya 1,8 persen pada Jumat, 7 Januari 2022.

Pergerakan positif ini terjadi usai rilis dari nonfarm payrolls pada Desember yang berisi laporan yang terdapat penambahan sekitar 199.000 pekerjaan di akhir tahun itu. Jumlah tersebut jauh di bawah ekspetasi pasar yang mana memproyeksikan penambahan lowongan kerja sebanyak 422.000.

Pekan lalu, laporan dari pertemuan the Federal Reserve AS (The Fed) pada Desember menunjukkan para eksekutf siap secara proaktif memaggil kebalo dukungan kebijakan.

Langkah ini mengindikasikan bank sentral berencana untuk mengecilkan neraca lain di samping menaikkan suku bunga.

Sentimen di Pasar
Kasus COVID-19 kian meningkat signifikan di seluruh dunia khususnya varian omicorn yang memiliki kemampuan penularan tinggi. AS, Inggris dan Australia melaporkan rekor jumlah kasus dalam beberapa minggu terakhir ini.

“Studi awal menunjukkan meskipun Omicron jauh lebih menular daripada Delta, untungnya potensi menyebabkan rawat inap kecil. Apalagi jika orang tersebut sudah divaksinasi dan mempunyai imun yang baik maka semakin mengurangi risiko rawat inap,” kata Analis ANZ Research dalam catatan pagi, dikutip dari laman CNBC, Senin (10/1/2021).

Sayangnya sisi positif itu masih menyisakan dampak negatif berupa kekurangan pasokan yang terus berkembang biak. Jelas perjalanan rollercoaster inflasi belum berakhir.

Indeks dolar AS naik 0,09 persen ke posisi 95,80. Yen Jepang diperdagangkan di kisaran 115,62. Harga minyak pada jam perdagangan di Asia cenderung turun. Harga minyak Amerika Serikat melemah 0,44 persen menjadi USD 78,55 per barel.

“Ketegangan geopolitik kemungkinan berdampak pada pasar komoditas pekan ini. Pasar gas berada di ujung tanduk karena ketegangan tetap tinggi di Ukraina. Sementara kerusuhan di Kazakhstan mengancam pasokan logam utama,” tulis Analis ANZ Research.

PT Equityworld | Ngeri! Crash Terbesar, Wall Street Diramal Ambrol Hingga 90%

PT Equityworld | Bursa saham Amerika Serikat (AS) atau yang biasa disebut Wall Street merosot dalam dua hari terakhir pasca rilis notula rapat kebijakan moneter bank sentral AS (The Fed). Tetapi bukan itu kabar buruknya, di tahun ini Wall Street diprediksi akan mengalami crash, bahkan hingga 90%.

Jika prediksi tersebut jitu, maka bursa saham global juga bisa terseret termasuk Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG). Maklum saja, Wall Street merupakan kiblat bursa saham dunia, saat jeblok pada perdagangan Rabu (5/1), bursa Asia dan Eropa ikut rontok sehari setelahnya.

Jumat Pagi, Mayoritas Saham Asia Pasifik Dibuka Rebound | PT Equityworld

Prediksi tersebut diberikan oleh Harry Dent, seorang ekonom dan juga penulis buku best seller “Zero Hour: Turn the Greatest Political and Financial Upheaval in Modern History to Your Advantage”

Berbicara dengan Kitco, Dent mengatakan pasar finansial akan menghadapi kemerosotan terbesar dalam sejarah di tahun ini. Aset berisiko seperti saham diramal akan mengalami beberapa gelombang aksi jual. Gelombang pertama akan menyebabkan indeks S&P 500 merosot hingga 40%, dan keseluruhan fase bearish akan membuat S&P jeblok hingga 90%.

“Ini akan menjadi crash terbesar dalam hidup anda, dan ini kemungkinan terjadi di 2022. Secara keseluruhan kemerosotan bisa mencapai 80% hingga 90%,” kata Dent, sebagaimana dilansir Kitco, Kamis (6/1).

Pendiri HS Dent Publishing ini mengatakan saat ini sudah terjadi “bubble terbesar dalam sejarah” akibat stimulus moneter yang diberikan bank sentral AS (The Fed).

Seperti disebutkan sebelumnya jebloknya Wall Street dalam dua hari terakhir dipicu rilis notula The Fed yang menunjukkan normalisasi kebijakan moneter kemungkinan dilakukan lebih cepat. Tidak hanya agresif menaikkan suku bunga, beberapa anggota The Fed juga melihat nilai neraca (balance sheet) juga bisa dikurangi.

“Peserta rapat kebijakan moneter secara umum mencatat bahwa, melihat outlook individual terhadap perekonomian, pasar tenaga kerja dan inflasi, mungkin diperlukan kenaikan suku bunga lebih awal atau dengan laju yang lebih cepat dari yang diperkirakan sebelumnya. Beberapa peserta juga mencatat akan tepat jika segera mulai mengurangi nilai neraca setelah suku bunga dinaikkan,” tulis notula The Fed yang dikutip Reuters, Kamis (6/1).

Dengan adanya kemungkinan The Fed mengurangi neracanya, dengan menjual obligasinya, maka likuiditas di perekonomian akan kembali terserap, dan diharapkan mampu meredam tingginya inflasi.

Tetapi efek sampingnya, likuiditas diserap lebih cepat dan berisiko menjadi ketat, yang tidak menguntungkan bagi pasar saham.

Meski memprediksi crash terbesar sepanjang sejarah yang bisa terjadi, Dent menyebut hal tersebut akan diikuti oleh peluang beli terbaik sepanjang hidup.

“Kita akan memiliki peluang beli terbaik sepanjang hidup pada akhir 2023 atau setelahnya,” kata Dent.

Design a site like this with WordPress.com
Get started