Equityworld Futures | Akankah Harga Emas Dunia Pekan Ini Menguat Kembali?

Equityworld Futures | Akankah Harga Emas Dunia Pekan Ini Menguat Kembali?

Equityworld Futures | Harga emas dunia mengalami koreksi pada penutupan perdagangan Jumat pekan lalu. Meskipun terkoreksi, emas tetap berada di jalur kenaikan mingguan untuk pertama kalinya dalam tiga minggu terakhir.

Equityworld Futures | Kilau Harga Emas Spot Sedikit Meredup ke US$1.975,80 pada Senin (20/11) Pagi

Investor meyakini bahwa bank sentral Amerika Serikat, The Federal Reserve (the Fed), telah menghentikan kenaikan suku bunga pada tahun ini yang memengaruhi nilai tukar dolar AS dan imbal hasil Treasury yang lebih rendah.

Pada perdagangan Jumat (17/11/2023), harga emas di pasar spot ditutup melemah sebanyak 0,04% di posisi US$ 1.980,01 per ons. Dalam sepekan terakhir, terjadi kenaikan harga sebesar 2,23%.

Sementara itu, hingga pukul 06.00 WIB Senin (20/11/2023), harga emas di pasar spot dibuka lebih rendah, turun sebanyak 0,16% di posisi US$ 1.976,78 per ons.

Dolar AS sedang mengalami penurunan mingguan, membuat emas menjadi lebih terjangkau bagi pembeli yang menggunakan mata uang lainnya. Di samping itu, imbal hasil obligasi Treasury 10 tahun berada di dekat posisi terendah dalam dua bulan.

Data klaim tunjangan pengangguran AS yang meningkat pada minggu lalu menambah bukti bahwa ekonomi AS sedang mengalami perlambatan. Selain itu, tingkat inflasi AS melandai menjadi 3,2% (year on year/yoy) pada Oktober 2023, turun dari 3,7% (yoy) pada September 2023.

Perlambatan pasar tenaga kerja dan data inflasi konsumen yang lebih lemah dari perkiraan mendorong pelaku pasar untuk merevisi pandangan mereka terhadap langkah-langkah yang akan diambil oleh The Federal Reserve di masa depan.

Menurut CME FedWatch, para pelaku pasar saat ini memproyeksikan bahwa The Fed akan mempertahankan suku bunga pada pertemuan kebijakan 12-13 Desember mendatang.

Kondisi ini diharapkan memberikan dampak positif pada harga emas, yang sangat peka terhadap perubahan suku bunga AS. Kenaikan suku bunga AS cenderung membuat dolar AS dan imbal hasil Treasury menguat, merugikan emas karena membuatnya lebih sulit dibeli dan menurunkan permintaan. Emas juga tidak memberikan imbal hasil, sehingga kenaikan imbal hasil US Treasury membuat emas kurang menarik.

Sebaliknya, suku bunga yang lebih rendah akan melemahkan dolar AS dan imbal hasil Treasury, mengurangi opportunity cost dari kepemilikan emas. Hal ini membuat emas menjadi lebih menarik bagi investor.

Minggu ini, investor menantikan data risalah rapat Federal Open Market Committee (FOMC) yang dijadwalkan akan dirilis pada Rabu. Risalah tersebut diharapkan dapat memberikan sinyal lebih jelas mengenai kebijakan suku bunga ke depan.

“Ada potensi besar emas terus mengalami kenaikan ke depan, tetapi saat ini, emas mungkin perlu mengalami koreksi sedikit sebelum memulai kenaikan berikutnya. Emas sedang mencoba menembus level US$ 2.000 per ons,” ujar Everett Millman, seorang analis dari Gainesville Coins, kepada Reuters.

Equityworld Futures | Wall Street & Bursa Global Kena Profit Taking usai Reli 5 Hari

Equityworld Futures | Wall Street & Bursa Global Kena Profit Taking usai Reli 5 Hari

Equityworld Futures | Wall Street & sejumlah bursa global menghentikan reli lima hari pada hari Kamis karena investor mengambil aksi profit taking, sementara harga minyak merosot hampir US$4 per barel ke level terendah dalam empat bulan, di tengah sinyal meningkatnya pasokan AS dan lemahnya permintaan Tiongkok.

Equityworld Futures | Harga Emas Dunia Hari Ini Naik Gara-Gara Data Pengangguran Naik

Pada akhir sesi, ukuran saham MSCI di seluruh dunia (.MIWD00000PUS) turun tipis 0,13%, dan saham-saham di Wall Street mencatat sedikit keuntungan atau kerugian.

Dow Jones Industrial Average (.DJI) kehilangan 0,13%, S&P 500 (.SPX) bertambah 0,12% dan Nasdaq Composite (.IXIC) hampir tidak berubah. Suasana di Wall Street tidak terbantu oleh anjloknya saham Cisco Systems (CSCO.O) dan Walmart (WMT.N) menyusul perkiraan permintaan yang mengecewakan.

Beberapa analis berpendapat bahwa pasar saham kemungkinan besar tidak akan turun tajam untuk saat ini, meskipun terjadi kenaikan tajam baru-baru ini, karena investor merayakan prospek bahwa suku bunga AS mungkin telah mencapai puncaknya.

“Risiko positif terhadap inflasi dan risiko negatif terhadap pertumbuhan berarti aliran data yang positif terhadap risiko kemungkinan besar tidak akan bertahan hingga tahun 2024, namun tidak jelas apakah akan ada cukup data untuk menyangkal narasi yang menggembirakan, jika mungkin tidak berkelanjutan, sebelum akhir tahun ini. ” kata analis di Citi.

Meski begitu, harga minyak turun ke level yang terakhir terlihat pada 7 Juli, dengan minyak mentah AS merosot 4,9% menjadi $72,89 per barel dan Brent berada di $77,46, turun 4,6% hari ini.

Harga minyak jatuh sebagian karena stok minyak mentah AS naik 3,6 juta barel pada pekan lalu menjadi 421,9 juta barel, data pemerintah menunjukkan pada hari Rabu, jauh melebihi ekspektasi analis dalam jajak pendapat Reuters.

Di Eropa, indeks STOXX 600 pan-Eropa (.STOXX) kehilangan 0,72% dari level tertinggi satu bulan. Dolar AS tergelincir setelah data menunjukkan jumlah orang Amerika yang mengajukan klaim baru tunjangan pengangguran mencapai level tertinggi dalam tiga bulan pada minggu lalu, menunjukkan melambatnya pasar tenaga kerja yang dapat membantu upaya Federal Reserve melawan inflasi.

Indeks dolar mempersempit penurunan sebelumnya dan datar, sementara euro juga sedikit berubah pada $1,08485.

Pelemahan dolar menguntungkan harga emas, yang melonjak 1,2% menjadi $1,980.42 per ounce.

Indikasi melemahnya pasar tenaga kerja AS membebani imbal hasil Treasury. Obligasi obligasi 10 tahun turun 9,2 basis poin menjadi 4,445%, dari 4,537% pada akhir Rabu.
Surat utang 2 tahun terakhir turun 8,5 basis poin menjadi 4,846%, dari 4,916%.

“Jika Anda tidak mendapatkan konfirmasi arah perlambatan ekonomi dari setiap data setiap hari, kita berisiko kehabisan momentum pada perdagangan besar,” kata ahli strategi Societe Generale FX, Kit Juckes. “Sampai kita sampai pada titik di mana penurunan suku bunga akan segera terjadi, semuanya akan terhenti. Aksi jual dolar adalah stop-start, reli pasar obligasi benar-benar stop-start dan pasar ekuitas akan terhenti. seluruh tempat.”

Imbal hasil obligasi 10-tahun Jerman merosot ke level terendah dalam dua bulan di 2,588%, sementara sterling merosot ke level terendah enam bulan terhadap euro karena para dealer di London semakin mendekati prediksi mereka mengenai kapan Bank of England (BoE) akan mulai melakukan pemotongan. tarif. EUR/GVD
Saat ini banyak pihak yang berpikir hal ini mungkin terjadi pada bulan Mei, meskipun pembuat kebijakan BoE Meg Greene memperingatkan bahwa investor kehilangan pesan yang baru-baru ini ditekankan oleh bank sentral bahwa suku bunga akan tetap lebih tinggi untuk jangka waktu yang lebih lama.
“Saya pikir pasar secara global belum benar-benar memperhatikan hal ini,” kata Greene kepada Bloomberg Television, seraya menambahkan bahwa BoE tidak berbicara tentang pemotongan suku bunga.

Equityworld Futures | Reli Wall Street, Obat Kuat Buat Saham Raksasa RI

Equityworld Futures | Reli Wall Street, Obat Kuat Buat Saham Raksasa RI

Equityworld Futures | Pasar saham global berpesta usai data inflasi teranyar Amerika Serikat (AS) yang mendingin yang memicu reli di Wall Street hingga obligasi pemerintah US Treasury. Saham big cap dalam negeri juga bangkit pada Rabu (15/11/2023).

Equityworld Futures | Harga Emas Dunia Hari Ini Loyo, Sekarang Dipatok Segini

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) melonjak 1,53% dan kembali ke atas 6.900, di level 6.965 pada perdagangan Rabu (15/11/2023). Indeks saham big cap berkualitas LQ45 juga terbang 1,9%.

Kuartet empat saham bank kakap, yang merupakan soko guru IHSG, kompak menghijau. Saham PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI) melejit 3,94%, saham PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk (BBNI) naik 2,25%, dan PT Bank Mandiri (Persero) Tbk (BMRI) menguat 1,29%.

Selain itu, saham PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) terangkat 1,12%.

Saham big cap penghuni LQ45 lainnya, emiten e-commerce dan jasa ride hailing PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk (GOTO) terdongkrak 4,94 %, PT Bank Jago Tbk (ARTO) melambung 11,71%.

Nama lainnya, saham Grup Emtek EMTK dan tambang emas-tembaga MDKA masing-masing melompat 8,33% dan 4,68%. Saham bank pelat merah BBTN dan BRIS juga naik 3,74% dan 3,72%.

Sebanyak 32 saham LQ45 yang menguat pada Rabu, tiga stagnan, dan hanya 10 yang melemah.

Ini menandakan optimisme pasar saham domestik yang kembali.

Maklum, saham big cap, sebagian karena porsi investor asing yang tinggi, sangat sensitif dengan kondisi makro dan kebijakan moneter global, terutama AS. Karenanya, turunnya yield obligasi AS (yang menandakan reli di pasar obligasi), melemahnya dolar AS, dan melonjaknya Wall Street menjadi angin segar untuk saham-saham raksasa RI.

Wall Street Gembira

Bursa saham AS Wall Street kompak ditutup menguat pada Selasa (14/11/2023) waktu setempat setelah data yang dinanti-nanti para investor yakni inflasi memberi kabar menggembirakan.

Dow Jones melonjak 1,43% , S&P 500 melesat 1,91% an Nasdaq melejit 2,37% pada Selasa (14/11/2203). Tren positif kembali dilanjutkan pada Rabu (15/11/2023). Dow Jones ditutup terapresiasi 0,47% di level 34.991,21, S&P 500 naik 0,16% di level 4.502,88, dan Nasdaq menguat 0,07% di level 14.103,84.

Wall Street kompak menghijau karena data inflasi yang lebih lemah dari perkiraan mendukung pandangan bahwa bank sentral AS The Federal Reserve (The Fed)mungkin tidak akan menaikkan suku bunga.

Inflasi AS melandai ke 3,2% (year on year/yoy) pada Oktober 2023, lebih rendah dibandingkan 3,7% (yoy) pada September serta di bawah ekspektasi pasar (3,3%). Ini adalah kali pertama inflasi AS melandai dalam empat bulan terakhir.

Data menunjukkan harga konsumen AS secara bulanan (month to month/mtm) tidak berubah pada Oktober karena masyarakat AS membayar lebih sedikit untuk bensin, dan kenaikan inflasi tahunan merupakan yang terkecil dalam dua tahun terakhir.

“Katalis yang jelas adalah laporan inflasi yang lebih lemah dari perkiraan. Mendapatkan pembacaan inflasi yang lebih lemah memberi pasar kenyamanan tambahan bahwa Fed tidak perlu menerapkan sejumlah besar kebijakan pembatasan tambahan untuk terus menurunkan harga konsumen,” ujar Craig Fehr, kepala strategi investasi di Edward Jones, dikutip dari CNBC International.

Sejak Maret 2022, The Fed telah menaikkan suku bunga kebijakannya sebesar 525 basis poin ke level 5,25-5,50% untuk melawan inflasi yang tinggi.

Ekspektasi terhadap penurunan suku bunga The Fed tahun depan juga bergeser mengikuti data yang dirilis hari ini. Suku bunga berjangka AS pada hari Selasa memperkirakan peluang penurunan suku bunga sebesar 65% di bulan Mei 2024, dibandingkan dengan 34% pada hari Senin, menurut alat FedWatch CME.

Investor juga fokus pada negosiasi yang dilakukan anggota parlemen AS mengenai rancangan undang-undang pendanaan karena mereka menghadapi tenggat waktu akhir minggu ini untuk mendanai pemerintah federal.

Indeks Volatilitas, atau VIX, yang dikenal sebagai “pengukur ketakutan” Wall Street, telah jatuh dari level tertingginya di bulan Oktober, dan baru-baru ini merosot selama delapan sesi berturut-turut. VIX sempat di level 23,08 pada 23 Oktober 2023 sebelum per 15 November berada di 14,16.

Sementara, imbal hasil (yield) obligasi pemerintah atau kerap disebut US Treasury, yang telah memicu sebagian besar volatilitas baru-baru ini, turun tajam ke 4,44% seiring rilis data inflasi AS terbaru setelah sempat menembus 5% untuk pertama kalinya dalam 16 tahun pada Oktober, memberikan amunisi tambahan bagi kenaikan saham. Yield obligasi pemerintah RI bertenor 10-tahun juga merosot ke 6,83% dari hari sebelumnya 6,95%.

Indeks dolar juga melorot ke 104,11 pada 15 November usai sempat ke 107,35 pada 3 Oktober lalu. Ini kabar baik untuk rupiah dan pasar saham RI.

Nilai tukar rupiah menguat drastis dalam perdagangan Rabu (15/11). Dilansir dari Refinitiv, rupiah sempat menguat 1,46% ke posisi Rp15.460/US$, sebelum akhirnya menguat 0,92%.

Dari pasar saham Asia, Nikkei 225 naik 2,5%, Hang Seng meroket 3,92%, Shanghai Composite 0,55%, Straits Times Singapura menguat 0,69%. Dari Eropa, FTSE 100 Index London menghijau 0,98%, Dax Frankfurt naik 0,27%.

Equityworld Futures | Moody’s Pangkas Prospek Peringkat Utang AS, Wall Street Ditutup Bervariasi

Equityworld Futures | Moody’s Pangkas Prospek Peringkat Utang AS, Wall Street Ditutup Bervariasi

Equityworld Futures | Bursa saham AS atau Wall Street ditutup bervariasi pada akhir perdagangan Senin (13/11/2023) waktu setempat atau Selasa pagi WIB. Pergerakan saham di Wall Street tertekan setelah Moody’s Investors Service memangkas prospek peringkat utang AS menjadi negatif.

Equityworld Futures | Harga Emas Hari Ini Naik atau Turun

S&P 500 ditutup turun tipis 0,08 persen pada level 4.411,55. Nasdaq Komposit melemah 0,22 persen di posisi 13.767,74. Sementara itu, Dow Jones Industrial Average bertambah 0,16 persen atau 54,77 poin ke posisi 34.337,87.

Investor menantikan pembacaan indeks harga konsumen pada bulan Oktober, yang akan dirilis pada hari Selasa, sebagai katalis berikutnya bagi pasar. Inflasi umum diperkirakan naik menjadi 3,3 persen YoY dan 0,1 persen MoM, menurut ekonom yang disurvei oleh Dow Jones.

Jumat lalu, Moody’s menggarisbawahi adanya defisit fiskal AS sangat besar. Lembaga pemeringkat ini menegaskan kembali bahwa peringkat kredit Amerika berada di level AAA, yang merupakan posisi tertinggi. Tiga bulan lalu, Fitch juga menurunkan peringkat default jangka panjang penerbit mata uang asing AS menjadi AA+ dari AAA. Penurunan peringkat sebagai dampak memburuknya fiskal AS, dan meningkatnya beban utang.

Imbal hasil Treasury AS bergerak cenderung datar pada hari Senin meskipun prospeknya negatif. Surat utang Treasury AS tenor 10 tahun juga mencatat imbal hasil 4,6 persen atau naik sekitar 1 basis poin.

“Kami melihat reaksi investor terhadap pemangkasan dari Moody’s, namun kami juga melihat kegelisahan terhadap beberapa perkembangan besar yang tertunda minggu ini,” kata Greg Bassuk, CEO AXS Investments.

“Kami pikir semua perhatian terfokus pada data inflasi minggu ini dan kebijakan Fed ke depannya,” lanjut dia.

Bassuk memperkirakan volatilitas pasar akan terus berlanjut hingga akhir tahun, terutama mengingat kondisi geopolitik saat ini yang sedang berlangsung. Kondisi yang dikombinasikan dengan data ekonomi yang beragam tentu akan meningkatkan volatilitas pasar.

Equityworld Futures | Wall Street Melonjak Ditopang Saham Teknologi

Equityworld Futures | Wall Street Melonjak Ditopang Saham Teknologi

Equityworld Futures | Indeks Utama Saham Amerika Serikat atau Wall Street ditutup menguat pada perdagangan Jumat (10/11). Kenaikan tersebut ditopang oleh saham-saham teknologi.

Equityworld Futures | Harga Emas Rebound Pada Perdagangan Senin (13/11) Pagi

Mengutip Reuters, Senin (13/11), Dow Jones Industrial Average (.DJI) naik 391,16 poin menjadi 34.283,1, S&P 500 (.SPX) naik 67,89 poin menjadi 4.415,24, dan Nasdaq Composite (.IXIC) naik 276,66 poin menjadi 13.798,11.

“Ekuitas bangkit kembali dari penurunan pada sesi sebelumnya menyusul komentar hawkish Ketua Federal Reserve Jerome Powell tentang suku bunga,” tulis laporan itu.

Di sisi lain, investor juga fokus pada imbal hasil Treasury, yang sedikit turun dari level tertingginya dalam 16 tahun. Serta kebijakan moneter apakah The Fed akan menaikkan suku bunga untuk mengendalikan inflasi atau kapan bank sentral dapat mulai menurunkan suku bunganya.

“Suku bunga telah sedikit berubah di sini dan saya pikir itulah salah satu alasan kita melihat kenaikan ini selama beberapa minggu terakhir,” kata CEO Horizon Investment, Chuck Carlson.

Lebih lanjut, pada minggu ini, investor akan fokus kepada laporan indeks harga konsumen atau inflasi serta rilis data harga produsen dan penjualan ritel.

“Secara umum, ekspektasi yang dimiliki investor adalah bahwa data inflasi yang akan datang akan berdampak positif bagi pasar dan saya pikir mereka ingin sedikit lebih maju,” kata Partner Cherry Lane Investments, Rick Meckler.

Adapun, saham-saham Wall Street yang naik dalam sepekan melebihi jumlah yang turun dengan rasio 2,7 banding 1 di NYSE. Ada 70 titik tertinggi baru dan 152 titik terendah baru di NYSE.

Equityworld Futures | Jelang Akhir Pekan, IHSG Ciut ke Level 6.829

Equityworld Futures | Jelang Akhir Pekan, IHSG Ciut ke Level 6.829

Equityworld Futures | Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada pembukaan perdagangan menjelang akhir pekan ini, Jumat, 10 November 2023, berada di posisi 6.838,23.

Equityworld Futures | Emas Ditolong Perang, Harganya Gak Anjlok Meski Fed Galak

Mengacu data RTI hingga pukul 9.15 WIB, IHSG berada di level 6.829,67 atau turun 8,55 poin setara 0,13 persen. IHSG sempat menyentuh level tertinggi di 6.838,91 dan level terendahnya di 6.812,20.

Sebanyak 231 saham emiten melemah di perdagangan pagi ini. Sementara, 163 saham lainnya menguat dan sebanyak 221 saham stagnan.

Untuk sementara, total transaksi yang tercatat hingga pukul 9.15 WIB sebanyak Rp922,63 miliar dengan total saham yang diperdagangkan 2,01 miliar saham.

Wall Street ambruk

Sementara itu, indeks-indeks utama Wall Street turun pada penutupan perdagangan Kamis (Jumat pagi WIB), dipicu imbal hasil (yield) obligasi Pemerintah AS yang naik setelah lelang obligasi 30 tahun yang mengecewakan dan komentar dari Ketua Federal Reserve Jerome Powell.

Indeks Dow Jones Industrial Average turun 220,33 poin atau 0,65 persen menjadi 33.891,94. Sementara indeks S&P 500 merosot 35,43 poin atau 0,81 persen menjadi 4.347,35. Sedangkan indeks Komposit Nasdaq merosot 128,97 poin atau 0,94 persen menjadi 13.521,45.

Penurunan tersebut menandai persentase penurunan satu hari terbesar bagi S&P dan Nasdaq sejak 26 Oktober dan terbesar bagi Dow Jones sejak 27 Oktober.

Saham-saham bergerak sedikit lebih turun sebelum komentar Powell karena imbal hasil naik setelah lemahnya lelang obligasi Pemerintah AS tenor 30 tahun senilai USD24 miliar dengan permintaan utang sebesar 2,24 kali lipat dari penjualan obligasi.

Equityworld Futures | Wall Street Beragam Jelang Pidato Bos The Fed, Pasar Tak Cemas Lagi

Equityworld Futures | Wall Street Beragam Jelang Pidato Bos The Fed, Pasar Tak Cemas Lagi

Equityworld Futures | Bursa saham Amerika Serikat di Wall Street, New York ditutup beragam pada akhir perdagangan Rabu (8/11/2023) waktu setempat. Reli saham pada November tampak memudar lantaran para investor menunggu pidato dari Ketua Federal Reserve Jerome Powell terkait arah suku bunga acuan.

Equityworld Futures | Masih Tertekan, Harga Emas Berjangka Turun 4 Hari Beruntun

Berdasarkan data Bloomberg, Kamis (9/11/2023), indeks Dow Jones Industrial Average ditutup turun 0,12% atau 40,33 poin ke 34.112,27, sementara S&P 500 naik 0,10% atau 4,40 poin ke 4.382,78, dan Nasdaq menanjak 0,08% atau 10,56 poin ke 13.650,41.
Di tengah tanda-tanda jenuh beli investor, S&P 500 yang hanya menguat 0,1% masih mencatatkan kenaikan kedelapan berturut-turut. Indikator “pengukur rasa takut” Wall Street atau yang disebut VIX mengalami penurunan terpanjang sejak Oktober 2015.
Adapun imbal hasil obligasi pemerintah AS tenor sepuluh tahun turun di bawah 4,5% setelah lelang surat utang senilai US$40 miliar.

Penjualan obligasi AS memberikan pengaruh yang semakin besar terhadap saham. Hal ini berdasarkan data Citigroup Inc. yang menunjukkan S&P 500 telah bergerak sekitar 1% ke segala arah pada hari lelang sejak awal tahun 2022, melampaui rata-rata dekade sebelumnya. Analisis Citigroup membuat para pedagang waspada terhadap penjualan obligasi teno 30 tahun senilai US$24 miliar pada hari Kamis.

Wall Street juga terus mencermati pidato para anggota Fed. Berbicara singkat pada Rabu (8/11/2023), Powell tidak mengomentari prospek suku bunga. Dia akan memiliki lebih banyak waktu untuk mengungkapkan pandangannya pada Kamis dalam panel mengenai tantangan kebijakan.

“Akan menarik untuk mendengar apakah dia membuat komentar mengenai pergerakan suku bunga jangka panjang baru-baru ini. Jika nadanya sedikit lebih hawkish dibandingkan minggu lalu, hal itu bisa saja terjadi, dan menjadi katalis untuk pasar yang kami pikir bisa terjadi,” kata Matt Maley dari Miller Tabak + Co.

Sementara itu, pedagang swap memperkirakan hampir tidak ada peluang kenaikan suku bunga pada Desember 2023, dan memperkirakan tingkat suku bunga acuan The Fed saat ini yang sekitar 5,25% hingga 5,5% akan menandai puncak siklus pengetatan moneter.

Senior analis pasar Oanda Craig Erlam mengatakan bahkan jika bank sentral berpandangan bahwa suku bunga bisa turun tahun depan, tidak realistis mengharapkan mereka mengatakannya pada saat ini karena akan membingungkan dan melemahkan pesan mereka bahwa suku bunga harus tetap lebih tinggi untuk jangka waktu lebih lama.

“Kami terus melihat perdagangan yang lesu di pasar saham pada Rabu, dengan investor berjuang melawan komentar hawkish dari bank sentral terhadap ekspektasi ekonomi yang suram dan spekulasi seputar penurunan suku bunga tahun depan,” kata Erlam.

Ahli strategi UBS Group AG memperkirakan S&P 500 akan berakhir pada tahun 2024 di sekitar 4,600 poin atau menyiratkan kenaikan hanya sekitar 5% dari level saat ini. Prediksi konservatif itu karena mereka melihat pertumbuhan yang lebih lemah akan merugikan pendapatan emiten.

“Margin keuntungan emiten menghadapi hambatan termasuk leverage operasi yang negatif, upah yang kaku, memburuknya kekuatan harga dan meningkatnya beban bunga,” tulis Jonathan Golub dan Patrick Palfrey.

Sementara itu, kepala ekonom Hoisington Investment Management Co., Lacy Hunt, melihat penurunan imbal hasil obligasi AS baru-baru ini sebagai awal dari reli yang akan meningkat ketika perekonomian AS mengalami penurunan tajam.

“Untuk pasar obligasi, keadaan tidak menentu karena perekonomian sedang menuju hard landing. Tetapi ini adalah proses yang membutuhkan waktu. Perekonomian AS mempunyai kesulitan yang sangat serius yang akan menghantui kita dalam jangka waktu yang lama di masa depan,” kata Hunt dalam sebuah wawancara di Bloomberg Television.

Equityworld Futures | Wall Street Ditutup Naik, Investor Menanti Sabda Jerome Powell

Equityworld Futures | Wall Street Ditutup Naik, Investor Menanti Sabda Jerome Powell

Equityworld Futures | Bursa saham Amerika Serikat (AS) di Wall Street, New York parkir di zona hijau pada perdagangan Senin (6/11/2023) waktu setempat karena investor menunggu panduan dari pengambil kebijakan Bank Sentral Federal Reserve akhir pekan ini mengenai jalur suku bunga.

Equityworld Futures | Harga Emas Jatuh! Tenang Masih Bisa Tembus US$ 2.000 Asal….

Berdasarkan data Bloomberg, Selasa (7/11/2023), indeks Dow Jones Industrial Average ditutup naik 0,10% atau 34,54 poin ke 34.095,86, S&P 500 menanjak 0,18% atau 7,64 poin ke 4.365,98, dan Nasdaq melejit 0,30% atau 40,50 poin ke 13.518,78.

Pasar saham AS pekan lalu membukukan persentase kenaikan mingguan terbesarnya dalam kurun waktu sekitar satu tahun, karena laporan payroll AS yang lebih lemah dari perkiraan pada Jumat mengirim imbal hasil obligasi AS lebih rendah. Hal ini juga terjadi di tengah pandangan bahwa The Fed sudah selesai menaikkan suku bunga dan mungkin mulai memangkasnya tahun depan.

Saat ini ekspektasi pasar bahwa The Fed akan mempertahankan suku bunga stabil pada pertemuan bulan Desember adalah sebesar 90,4%, turun dari 95,2% pada Jumat (3/11/2023), namun di atas 74,4% pada minggu lalu. Ekspektasi penurunan suku bunga setidaknya 25 basis poin telah meningkat menjadi lebih dari 50% pada pertemuan Mei 2024, menurut indikator FedWatch CME.

Pasar akan mencari kejelasan lebih lanjut mengenai niat The Fed dari para pejabat yang akan berbicara akhir pekan ini, termasuk Ketua Jerome Powell, dan anggota yang memberikan suara seperti Ketua Fed New York John Williams dan Presiden Fed Dallas Lorie Logan.

“Kecuali ada sesuatu dalam data ekonomi yang mendorong hal ini, Anda tidak akan melihat mereka mengubah sikap mereka,” kata Stephen Massocca, Wakil Presiden Wedbush Securities di San Francisco, mengutip Reuters, Selasa (7/11/2023).

Ekspektasi The Fed kemungkinan akan selesai dengan kenaikan suku bunga membuat S&P 500 naik 5,85% minggu lalu dan Nasdaq naik 6,61%, atau lompatan mingguan terbesar sejak November 2022.

“Apa pun daya beli yang menguat pada hari Jumat, tidak ada lagi saat ini sehingga banyak dari saham-saham tersebut yang kembali turun, dan imbal hasil [yield] obligasi sedikit lebih tinggi,” kata Massocca.

Sementara itu, imbal hasil obligasi pemerintah AS tenor 10 tahun, yang turun ke level terendah lima minggu pada Jumat lalu, berbalik arah hingga mencapai level tertinggi mendekati 4,67% pada Senin, menjelang lelang treasury minggu ini sekitar US$112 miliar dalam obligasi tenor tiga tahun, surat utang tenor 10 tahun, serta obligasi tenor 30 tahun.

Adapun kalender rilis data ekonomi AS untuk minggu ini tidak banyak, dengan angka klaim pengangguran mingguan yang akan dirilis pada Kamis dan laporan sentimen konsumen Universitas Michigan pada Jumat.

Walt Disney, Instacart, dan Biogen termasuk di antara perusahaan besar yang melaporkan pendapatan minggu ini.

Equityworld Futures | Harga Emas Tergelincir Jelang Pidato Ketua The Fed

Equityworld Futures | Harga Emas Tergelincir Jelang Pidato Ketua The Fed

Equityworld Futures | Harga emas tergelincir pada Senin (6/11) setelah imbal hasil US Treasury sedikit naik menjelang pidato Ketua Federal Reserve Jerome Powell akhir pekan ini untuk kejelasan lebih lanjut mengenai prospek suku bunga.

Equityworld Futures | Harga Emas Hari Ini Turun! Jadi Berapa?

Harga emas di pasar spot turun 0,4% menjadi US$ 1.983.49 per ounce pada 0444 GMT setelah naik di atas level US$ 2.000 pada Jumat pekan lalu. Harga emas berjangka AS turun 0,4% menjadi US$ 1,990.60.

“Faktor utama yang akan mempengaruhi emas dalam waktu dekat adalah imbal hasil US Treasury 10-tahun… jika Anda mulai melihat kenaikan imbal hasil, emas bisa menembus di bawah level support utama di sekitar US$ 1.974,” kata Kelvin Wong. analis pasar senior untuk Asia Pasifik di OANDA seperti dilansir Reuters.

Imbal hasil US Treasury tenor 10-tahun yang menjadi acuan naik ke level 4,5910% setelah mencapai level terendah dalam lima minggu pada hari Jumat. Kenaikan yield US Treasury mengurangi daya tarik terhadap emas batangan yang tidak memberikan imbal hasil.

Data pada hari Jumat menunjukkan pertumbuhan lapangan kerja Amerika Serikat (AS) AS melambat pada bulan Oktober, dan kenaikan upah tahunan adalah yang terkecil dalam hampir 2,5 tahun. Ini menunjukkan membaiknya kondisi pasar tenaga kerja di AS.

Laporan ketenagakerjaan yang lemah meningkatkan ekspektasi bahwa The Fed mungkin akan menyelesaikan kampanye kenaikan suku bunganya, sehingga mengirim dolar ke level terendah dalam enam minggu.

Para trader sekarang memperkirakan 95% kemungkinan bahwa bank sentral AS akan mempertahankan suku bunga pada bulan Desember dan 86% kemungkinan bahwa pelonggaran kebijakan pertama akan dilakukan segera pada bulan Juni tahun depan.

Investor akan memperhatikan isyarat mengenai jalur suku bunga The Fed, dengan setidaknya sembilan anggota The Fed akan menyampaikan pidatonya minggu ini, termasuk pidato Powell pada tanggal 9 November.

Equityworld Futures | Wall Street Reli Bullish! Kenaikan Suku Bunga The Fed Usai?

Equityworld Futures | Wall Street Reli Bullish! Kenaikan Suku Bunga The Fed Usai?

Equityworld Futures | Bursa Amerika Serikat (AS) Wall Street dibuka kompak di zona hijau pada perdagangan Rabu (1/11/2023), seiring pelaku pasar yang bertaruh bahwa bank sentral AS (Federal Reserve/The Fed) telah selesai menaikkan suku bunga.

Equityworld Futures | Kepada Pemilik Emas, Berdoalah Semoga Pengangguran AS Melesat

Dow Jones dibuka menguat 0,71% di posisi 33.511,98, sementara S&P 500 naik 0,99% di posisi 4.279,74, begitu juga dengan Nasdaq terapresiasi 1,23% diposisi 13.222,01.

Imbal hasil obligasi Treasury 10-tahun yang menjadi acuan turun 14 basis poin menjadi sekitar 4,65%. Hal ini terjadi setelah imbal hasil acuan mencapai 5% bulan lalu.

Pergerakan ini terjadi setelah The Fed sekali lagi mempertahankan suku bunganya dan meningkatkan penilaiannya terhadap perekonomian AS. Di satu sisi, Ketua The Fed, Jerome Powell tidak menutup kemungkinan adanya kenaikan suku bunga pada pertemuan Desember nanti.

“Kami memperkirakan Powell akan berbicara keras dan melakukan yang terbaik untuk menjaga pasar agar tidak menganggap dua kali suku bunga ditahan berturut-turut sebagai lampu hijau untuk aset berisiko,” kata Chris Zaccarelli, kepala investasi di Independent Advisor Alliance.

Namun, “kami terkejut melihat betapa rincinya beliau menyampaikan bahwa The Fed masih mengkhawatirkan inflasi dan tidak akan ragu untuk menaikkan suku bunga lagi dalam waktu dekat,” lanjutnya.

Saham Moderna turun 10% di awal perdagangan setelah raksasa farmasi itu melaporkan kerugian tajam pada kuartal ketiga. SolarEdge anjlok lebih dari 15% setelah membukukan kerugian tak terduga dan memperkirakan pendapatan kuartal keempat yang suram.

Pergerakan dipengaruhi oleh biaya tenaga kerja yang turun 0,8% pada kuartal ketiga dibandingkan ekspektasi kenaikan 0,7% dari ekonom yang disurvei oleh Dow Jones.

Klaim pengangguran mingguan pada hari Kamis naik lebih tinggi menjadi 217,000 untuk pekan yang berakhir 28 Oktober, lebih besar dari 210,000 pada minggu sebelumnya dan estimasi konsensus Dow Jones sebesar 214,000.

Di sisi ekonomi, statistik nonfarm payrolls, tingkat pengangguran dan upah per jam yang diawasi ketat akan dirilis pada Jumat pukul 19.30 WIB.

Design a site like this with WordPress.com
Get started