Equity World | Bursa Saham Asia Berakhir Variatif

Equity World | Bursa Saham Asia Berakhir Variatif

Equity World | Saham di Asia bervariasi dalam perdagangan Kamis sore (20/2/2020), dengan China memangkas suku bunga pinjaman (LPR) karena negara itu bergulat dengan dampak ekonomi dari wabah virus Corona yang sedang berlangsung.

Saham China Daratan naik pada sore hari, dengan komposit Shanghai naik sekitar 0,5%. Komposit Shenzhen juga naik 1,031% sedangkan komponen Shenzhen naik 1,26%. Indeks Hang Seng Hong Kong, di sisi lain, tergelincir 0,81%.

Dalam sebuah langkah yang sebagian besar sesuai dengan harapan, People’s Bank of China mengumumkan pengurangan suku bunga pinjaman Kamis hari ini. LPR 1-tahun berkurang 10 basis poin, sedangkan LPR 5-tahun mengalami pengurangan 5 basis poin. Pengumuman itu muncul beberapa hari setelah PBoC mengurangi suku bunga untuk pinjaman jangka menengah.

Di tempat lain, saham di Jepang naik. Nikkei 225 menumpahkan kenaikan sebelumnya tetapi tetap di wilayah positif karena diperdagangkan 0,32% lebih tinggi.

Dengan saham indeks kelas berat dan konglomerat Softbank Group melonjak 2,95%. Indeks Topix juga naik 0,21%. Kospi Korea Selatan adalah 0,71% lebih rendah.

Saham-saham di Australia mencatat kenaikan karena indeks ASX 200 naik 0,29%. Pergerakan itu terjadi ketika rilis sebelumnya menunjukkan tingkat pengangguran Australia naik secara musiman di Januari.

Data dari Biro Statistik Australia menunjukkan tingkat pengangguran yang disesuaikan secara musiman di Januari naik menjadi 5,3% dari pembacaan 5,1% pada bulan Desember.

Setelah rilis itu, dolar Australia berpindah tangan pada $ 0,6641 setelah melihat tertinggi sebelumnya di $ 0,6696 seperti mengutip cnbc.com.

Saham maskapai Qantas melonjak lebih dari 5% setelah perusahaan mengumumkan pada hari Kamis bahwa mereka menyesuaikan kapasitasnya dengan Asia hingga setidaknya akhir Mei. Perubahan itu terjadi di tengah wabah koronavirus yang sedang berlangsung, situasi yang menurut maskapai itu “sedang berlangsung dan prospeknya tidak pasti.”

Equity World

IHSG ditutup menguat seiring kenaikan bursa Asia | Equity World

Secara keseluruhan, indeks MSCI Asia ex-Jepang lebih rendah 0,57%.

Semalam di Wall Street, S&P 500 dan Nasdaq Composite menyentuh rekor tertinggi. Indeks luas ditutup 0,5% lebih tinggi pada 3,386.15 sementara Nasdaq menambahkan sekitar 0,9% untuk mengakhiri hari perdagangannya di 9.817,18.

Dow Jones Industrial Average juga naik 115,84 poin menjadi ditutup pada 29.348,03.

Indeks dolar AS, yang melacak greenback terhadap sekeranjang rekan-rekannya, berada di 99,695 setelah menyentuh level terendah sebelumnya di 99,528.

Yen Jepang diperdagangkan pada 111,38 per dolar setelah melihat pelemahan tajam kemarin dari level di bawah 110,4.

Harga minyak lebih tinggi pada sore hari jam perdagangan Asia, dengan patokan minyak mentah berjangka internasional Brent naik 0,14% menjadi US$59,20 per barel. Minyak mentah berjangka AS naik 0,34% menjadi US$53,47 per barel.

Equity World | Penjualan Apple Lesu, Wall Street Melemah

Equity World | Penjualan Apple Lesu, Wall Street Melemah

Equity World | Bursa Saham Amerika Serikat (AS), Wall Street berakhir melemah dengan dua indeks utama, Dow dan S&P 500 turun. Penjualan Apple yang menurun menjadi peringatan bahwa dampak wabah virus corona berpengaruh pada perusahaan AS.

Dow Jones Industrial Average turun 165,89 poin atau 0,56%, menjadi 29.232,19, S&P 500 kehilangan 9,87 poin, atau 0,29%, menjadi 3.370,29. Sedangkan Nasdaq Composite naik 1,57 poin, atau 0,02%, menjadi 9.732,74.

Perusahaan teknologi paling berharga di dunia, Apple memperkirakan target penjualan pada triwulanan pertama tahun ini tidak akan mencapai target. Penyebabnya, produksi iPhone yang lebih lambat dan melemahnya permintaan di China karena virus corona. Saham Apple pun turun 1,8% pada USD319.

“Tentu saja ini bukan kabar baik, tetapi saya juga tidak menganggapnya sebagai bencana. Secara umum, investor tidak terlalu khawatir dengan berita dari Apple karena membaca teknologi atau pasar secara keseluruhan,” ujar Direktur Pelaksana Perdagangan Ekuitas Wedbush Securities Michael James, dilansir dari Reuters, Rabu (19/2/2020).

Equity World

Penjualan Apple Lesu, Wall Street Melemah | Equity World

Investor juga mengamati dampak virus corona pada pertumbuhan ekonomi dunia dan pendapatan dari epidemi di China. Diharapkan sentimen negatif ini hanya bersifat sementara.

Selain Apple, pembuat chip yang terpapar karena virus Corona di China adalah indeks Philadelphia SE Semiconductor merosot 1,4%. Sedangkan sektor teknologi S&P yang lebih luas. SLRCT kehilangan 0,4%

Sementara itu, saham Walmart Inc (WMT.N) naik 1,5%, setelah peritel terbesar dunia itu memperkirakan pertumbuhan online yang lambat untuk tahun ini dan melaporkan hasil yang lemah untuk kuartal liburan. Conagra Brands Inc (CAG.N) merosot 6,1% setelah perusahaan makanan kemasan menurunkan laba setahun penuh dan prospek penjualan.

Equity World | Mayoritas Bursa Asia Turun, IHSG Sesi Pertama Ditutup Naik 0,49%

Equity World | Mayoritas Bursa Asia Turun, IHSG Sesi Pertama Ditutup Naik 0,49%

Equity World | Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup naik 0,49% ke level 5.896 pada perdagangan sesi pertama hari ini (18/2). IHSG menjadi katalis positif di saat bursa Asia lainnya berada di zona merah pada siang hari ini. Nikkei 225 Index di Jepang misalnya, turun 1,4% pada pukul 12.00 WIB. Pada saat yang sama, Hang Seng Index dan Shanghai Composite Index turun 1,35% dan 0,39%. Begitu juga dengan Strait Times Index menurun 0,53%.

Penurunan bursa Asia sejalan dengan data perekonomian Jepang pada kuartal IV 2019. Pertumbuhan ekonominya minus 1,6% dibanding kuartal sebelumnya. Pencapaian ini merupakan yang terendah dalam enam tahun terakhir. “Kami sedikit kecewa dengan data perekonomian Produk Domestik Bruto (PDB) kuartal IV-2019 Jepang yang negatif,” kata Direktur Riset dan Investasi Pilarmas Investindo Sekuritas Maximilianus Nico Demus dalam risetnya, hari ini (18/2).

Berdasarkan analisis secara teknikal, Nico menilai IHSG berpeluang bergerak variatif. Meski begitu, IHSG hari ini berpotensi melemah dan diperdagangkan pada level 5.842 hingga 5.890. Pada perdagangan sesi pertama, ada 5 miliar unit saham yang ditransaksikan senilai Rp 2,11 triliun. Sebanyak 197 saham yang ditutup meningkat, 138 terkoreksi, dan 145 stagnan. Sektor saham yang ditutup menguat pada sesi pertama yakni industri dasar 2,08%. Saham penopang industri dasar, salah satunya Charoen Pokphand Indonesia (CPIN) naik 2,28%. Lalu, harga saham Barito Pacific (BRPT) dan Semen Indonesia (SMGR) masing-masing naik 3,39% dan 1,94%.

Equity World

Masih Pagi IHSG Sudah Melemah Mengekor Bursa Asia | Equity World

Begitu juga dengan harga saham Indocement Tunggal Prakarsa (INTP) meningkat 2,38% menjadi Rp 17.200 per lembar. Kemudian, harga saham Indah Kiat Pulp and Paper (INKP) dan Pabrik Kertas Tjiwi Kimia (TKIM) naik 4,72% dan 6,31%.

Sektor aneka industri juga meningkat 1,39% pada sesi pertama perdaganngan hari ini. Saham-saham yang menopang yakni Astra International (ASII) naik 1,64%, Astra Otoparts (AUTO) 3,04%, dan Sri Rejeki Isman (SRIL) 5,61%. Meksi begitu, ada beberapa saham berkapitalisasi besar di sektor aneka industri yang turun. Harga saham Gaya Abadi Sempurna (SLIS) turun 0,42%, Uni-Charm Indonesia (UCIP) 3,01%, dan Multistrada Arah Sarana (MASA) 1,6%. Sejak pembukaan hingga penutupan perdagangan sesi pertama, investor asing membeli saham Rp 114,88 miliar. Pembelian di pasar negosiasi dan tunai nilainya Rp 120,03 miliar. Saham yang diborong asing di pasar negosiasi dan tunai pada sesi pertama yaitu Bakrie & Brothers (BNBR) senilai Rp 61,45 miliar.

Equity World | Perusahaan Indonesia Melantai di Bursa Saham Wall Street, New York

Equity World | Perusahaan Indonesia Melantai di Bursa Saham Wall Street, New York

Equity World | Untuk pertama kali, perusahaan Indonesia dibidang sektor minyak dan gas bumi terdaftar dalam bursa saham terbesar di dunia, The New York Stock Exchange (NYSE), Wall Street, kota New York. Setelah melalui proses selama hampir satu tahun, perusahaan Indonesia Energy Corporation Limited berhasil melantai dan meyakinkan para investor asing untuk membeli saham dan berinvestasi ke Indonesia.

Peresmian saham perdana atau listing kepada publik melalui initial public offering (IPO) ini ditandai dengan penandatanganan pencatatan saham tersebut dan pemukulan lonceng oleh CEO Indonesia Energy Corporation (IEC) Dr. Wirawan Jusuf. Ia didampingi oleh Sekjen Dewan Energi Nasional Djoko Siswanto, Konsul Jendral Republik Indonesia untuk New York, Arifi Saiman dan Duta Besar Perwakilan Tetap RI untuk PBB, Dian Triansyah Djani.

“Kita berharap dengan perusahaan kami disini, bukan hanya (untuk) IPO saja. IPO hanya sebuah permulaan dalam perjalanan yang sangat panjang”, kata Dr Wirawan Jusuf, CEO dari IEC, saat ditemui team VOA di gedung bursa saham New York.

“Kita harus membuat nama Indonesia bangga dengan cara membuat semua investor mendapatkan deviden yang bagus, profit yang bagus dari hasil pembelian saham IEC”, tambah Dr Wirawan yang juga co-founder dari IEC.

Sementara Sekjen Dewan Energi Nasional, DR Djoko Siswanto sangat antusias dengan IPO dari perusahaan migas. “Pemerintah Indonesia sangat mendukung adanya IPO perusahaan energi, karena ini pertama kali. Kita sangat mendukung dan mudah-mudahan ini akan membawa investasi ke Indonesia untuk melakukan eksplorasi migas”, kata Djoko Siswanto yang datang khusus ke New York untuk acara ini.

Equity World

Wall Street Kembali Tergelincir Akibat Kekhawatiran Virus Corona | Equity World

Peresmian saham IEC dengan kode “INDO” dalam lantai bursa saham New York ini, mendapat sambutan dari para pelaku keuangan dan ekonomi kota New York. Bahkan, bendera Merah Putih dikibarkan berdampingan dengan bendera Ameria di depan gedung bursa yang menghadap ke area pusat keuangan, Wall Street.

“Ini adalah event bersejarah yang luar biasa bukan hanya untuk Indonesia Energy Company tapi juga untuk Indonesia. Ini adalah perusahaan pertama Indonesia yang melakukan direct listing dalam bursa saham New York, dan IPO terakhir dalam dekade ini”, ujar Frank Ingriselli, Presiden dari IEC.

Dukungan juga datang dari Kantor Konsulat Republik Indonesia untuk New York. “Ini akan mendorong perusahaan atau dunia usaha lain yang ada di Indonesia, untuk bisa mengikuti jejak dari perusahaan ini untuk bisa hadir di kota New York, khususnya di bursa efek New York,” ujar Konjen RI Arifi Saiman.

Perusahaan Indonesia lainnya yang pernah tercatat dalam bursa saham NYSE adalah perusahaan yang bergerak dalam bidang telekomunikasi yaitu PT Indosat dan PT Telkom. Namun PT Indosat resmi mundur pada tahun 2013.

PT Equityworld | Saham Konsumer Kembali Dilego, IHSG Jatuh 6 Hari Beruntun

PT Equityworld | Saham Konsumer Kembali Dilego, IHSG Jatuh 6 Hari Beruntun

PT Equityworld | Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengawali perdagangan keempat di pekan ini, Kamis (13/2/2020), di zona hijau.

Pada pembukaan perdagangan, IHSG naik 0,15% ke level 5.921,91. Sayang, per akhir sesi satu IHSG justru membukukan koreksi yang cukup signifikan.

Per akhir sesi satu, indeks saham acuan di Indonesia tersebut terkoreksi 0,67% ke level 5.873,3. Per akhir sesi dua, koreksi IHSG adalah sebesar 0,7% ke level 5.871,95.

Koreksi IHSG pada hari ini menandai koreksi selama enam hari beruntun.

IHSG mengalami nasib yang sama dengan bursa saham utama kawasan Asia. Walaupun dibuka menguat, bursa saham utama kawasan Asia kemudian meluncur turun ke zona merah: indeks Nikkei turun 0,14%, indeks Shanghai melemah 0,71%, indeks Hang Seng terkoreksi 0,34%, indeks Straits Times jatuh 0,2%, dan indeks Kospi berkurang 0,24%.

Pada pagi hari, bursa saham Benua Kuning sempat sukses mengekor jejak Wall Street yang ditutup menguat pada perdagangan kemarin, Rabu (12/2/2020). Pada perdagangan kemarin, indeks Dow Jones naik 0,94%, indeks S&P 500 menguat 0,65%, dan indeks Nasdaq Composite terapresiasi 0,9%. Ketiga indeks saham acuan di AS tersebut ditutup di level tertinggi sepanjang masa.

Rilis data ekonomi yang menggembirakan masih menjadi faktor yang memantik aksi beli di bursa saham AS. Menjelang akhir pekan kemarin, penciptaan lapangan kerja periode Januari 2020 (di luar sektor pertanian) versi resmi pemerintah AS diumumkan sebanyak 225.000, jauh di atas ekspektasi yang sebanyak 163.000, seperti dilansir dari Forex Factory.

Rilis data ekonomi yang menggembirakan tersebut memberikan harapan bahwa laju perekonomian AS akan membaik di tahun 2020.

PT Equityworld

IHSG Lawan Arus Bursa Asia, Merosot ke 5.862 | PT Equityworld

Belum lama ini, pembacaan awal atas angka pertumbuhan ekonomi AS periode kuartal IV-2019 diumumkan di level 2,1% (QoQ annualized), sesuai dengan konsensus yang dihimpun oleh Dow Jones.

Untuk keseluruhan tahun 2019, perekonomian AS hanya tumbuh 2,3%, menandai laju pertumbuhan terlemah dalam tiga tahun. Untuk diketahui, pada tahun 2017 perekonomian AS tumbuh sebesar 2,4%, diikuti pertumbuhan sebesar 2,9% pada tahun 2018.

Laju pertumbuhan tersebut juga berada di bawah target yang dipatok oleh pemerintahan Presiden AS Donald Trump. Pasca resmi memangkas tingkat pajak korporasi dan individu pada tahun 2017, Gedung Putih memproyeksikan pertumbuhan ekonomi untuk setidaknya berada di level 3%.

Di sisi lain, terus meluasnya infeksi virus Corona menjadi sentimen negatif yang membayangi perdagangan hari ini, hingga akhirnya menyeret bursa saham kawasan regional ke zona merah.

Virus Corona sendiri merupakan virus yang menyerang sistem pernafasan manusia. Gejala dari paparan virus Corona meliputi batuk, sakit tenggorokan, sakit kepala, dan demam, seperti dilansir dari CNN International.

Berpusat di China, kasus infeksi virus Corona juga dilaporkan telah terjadi di negara-negara lain. Melansir publikasi Johns Hopkins, hingga kini setidaknya sebanyak 28 negara telah mengonfirmasi terjadinya infeksi virus Corona di wilayah mereka.

China, Hong Kong, Korea Selatan, Taiwan, Thailand, AS, Vietnam, Prancis, Jerman, Inggris, Nepal, dan Kanada termasuk ke dalam daftar negara yang sudah melaporkan infeksi virus Corona.

Melansir CNBC International, hingga kemarin sebanyak 1.310 orang di provinsi Hubei telah meninggal akibat infeksi virus Corona, dengan jumlah kasus mencapai lebih dari 48.000. Untuk keseluruhan China, jumlah korban meninggal tercatat sebanyak 1.367, dengan jumlah kasus mencapai lebih dari 59.000.

Riset dari Standard & Poor’s (S&P) menyebutkan bahwa virus Corona akan memangkas pertumbuhan ekonomi China sekitar 1,2 persentase poin. Jadi, kalau pertumbuhan ekonomi China pada tahun ini diperkirakan berada di level 6%, maka virus Corona akan memangkasnya menjadi 4,8% saja.

Untuk diketahui, pada tahun 2019 perekonomian Negeri Panda tercatat tumbuh sebesar 6,1%, melambat signifikan dari yang sebelumnya 6,6% pada tahun 2018. Melansir CNBC International yang mengutip Reuters, pertumbuhan ekonomi China pada tahun 2019 merupakan yang terlemah sejak tahun 1990.

“Pada tahun 2019, konsumsi menyumbang sekitar 3,5 persentase poin dari pertumbuhan ekonomi China yang sebesar 6,1%. Dengan perkiraan konsumsi domestik turun 10%, maka pertumbuhan ekonomi secara keseluruhan akan berkurang sekitar 1,2 persentase poin,” tulis riset S&P.

Equity World | Bursa Asia Memerah, IHSG Melemah 0,67 Persen

Equity World | Bursa Asia Memerah, IHSG Melemah 0,67 Persen

Equity World | Pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) melemah pada akhir sesi I perdagangan hari ini, Kamis (13/2/2020), di tengah pelemahan bursa Asia.

Berdasarkan data Bloomberg, IHSG parkir di level 5.873,29 dengan pelemahan 0,67 persen atau 39,79 poin pada akhir sesi I dari level penutupan perdagangan sebelumnya.

Pada perdagangan Rabu (12/2/2020), IHSG menutup pergerakannya di teritori negatif yakni level 5.913,08 dengan pelemahan 0,69 persen atau 41,32 poin.

Sebelum kembali melemah, indeks sempat bangkit ke zona hijau dengan dibuka naik 0,15 persen atau 8,83 poin di posisi 5.921,91 pada Kamis (13/2) pagi. Sepanjang perdagangan sesi I, IHSG bergerak fluktuatif di level 5.873,29 – 5.929,50.

Seluruh 9 sektor menetap di wilayah negatif pada akhir sesi I, dipimpin infrastruktur (-1,54 persen), pertanian (-1,38 persen), dan barang konsumen (-1,18 persen).

Sebanyak 119 saham menguat, 240 saham melemah, dan 321 saham stagnan dari 680 saham yang diperdagangkan di Bursa Efek Indonesia.

Saham PT Unilever Indonesia Tbk. (UNVR) dan PT Telekomunikasi Indonesia (Persero) Tbk. (TLKM) yang masing-masing turun 3,29 persen dan 1,83 persen menjadi penekan utama pelemahan IHSG pada akhir sesi I.

Sejalan dengan IHSG, indeks Bisnis-27 melemah 0,66 persen atau 3,53 poin ke level 530,63, sedangkan indeks saham syariah Jakarta Islamic Index melorot 1,37 persen atau 8,58 poin ke posisi 619,21 pada akhir sesi I.

Mayoritas indeks saham di Asia juga bergerak negatif, di antaranya indeks Nikkei 225 dan Topix Jepang yang masing-masing turun 0,2 persen dan 0,39 persen, serta indeks Kospi Korea Selatan yang terkoreksi 0,23 persen.

Di China, indeks Shanghai Composite dan CSI 300 China masing-masing melemah 0,53 persen dan 0,48 persen. Adapun indeks Hang Seng Hong Kong turun 0,37 persen.

Di pasar spot, nilai tukar rupiah melemah 14 poin atau 0,1 persen ke level Rp13.688 per dolar AS pukul 11.54 WIB, setelah dibuka terapresiasi tipis 0,01 persen atau 1 poin di posisi 13.673.

Equity World

IHSG Berakhir Memerah Saat Saham Asia Terangkat | Equity World

Dilansir Bloomberg, mayoritas mata uang di Asia melemah saat pasar mencermati lonjakan kasus baru terinfeksi virus corona (coronavirus) Covid-19 di China. Indeks saham di kawasan ini pun terseret ke zona merah.

Padahal, tren baru-baru ini menunjukkan bahwa laju infeksi virus tersebut mulai stabil.

Pada Rabu (12/2/2020), provinsi Hubei, jantung wabah virus itu, menambahkan 14.840 kasus baru selama periode 24 jam. Lonjakan kasus ini terjadi setelah komisi kesehatan setempat merevisi metode untuk menghitung jumlah kasus terinfeksi.

“Pasar mengambil jeda untuk mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi dengan virus corona dan akan mencari tahu data tersebut dalam beberapa hari ke depan,” ujar Steve Brice, kepala strategi investasi di Standard Chartered Private Bank, kepada Bloomberg TV.

“Kekhawatirannya adalah jika data itu merupakan langkah mundur dalam hal reklasifikasi dan karena itu, tren jumlah kasus baru yang melambat masih ada, atau ini pertanda tren tersebut akan berbalik dan menjadi lebih mengkhawatirkan,” tambahnya.

Equity World | Wall Street Cetak Rekor, Bursa Saham Asia Kompak Menghijau

Equity World | Wall Street Cetak Rekor, Bursa Saham Asia Kompak Menghijau

Equity World | Seluruh bursa saham utama kawasan Asia kompak menutup perdagangan kedua di pekan ini, Selasa (11/2/2020), di zona hijau.

Pada penutupan perdagangan, indeks Shanghai naik 0,39%, indeks Hang Seng menguat 1,26%, indeks Straits Times terapresiasi 0,39%, dan indeks Kospi bertambah 1%. Untuk diketahui, perdagangan di bursa saham Jepang pada hari ini sedang diliburkan.

Bursa saham Benua Kuning sukses mengekor jejak Wall Street yang ditutup menguat pada perdagangan kemarin, Senin (10/2/2020). Pada perdagangan kemarin, indeks Dow Jones naik 0,6%, indeks S&P 500 menguat 0,73%, dan indeks Nasdaq Composite terapresiasi 1,13%. Indeks S&P 500 dan Nasdaq Composite ditutup di level tertinggi sepanjang masa.

Jika dihitung di sepanjang bulan Februari (hingga penutupan perdagangan kemarin), indeks S&P 500 tercatat sudah melejit hingga 3,92%.

Rilis data ekonomi yang menggembirakan sukses memantik aksi beli di bursa saham AS di sepanjang bulan ini. Pada awal pekan kemarin, Manufacturing PMI AS periode Januari 2020 versi Institute for Supply Management (ISM) diumumkan di level 50,9, di atas konsensus yang sebesar 48,5, seperti dilansir dari Forex Factory.

Sebagai informasi, angka di atas 50 berarti aktivitas manufaktur membukukan ekspansi jika dibandingkan dengan bulan sebelumnya, sementara angka di bawah 50 menunjukkan adanya kontraksi.

Ekspansi aktivitas manufaktur AS pada bulan lalu menandai ekspansi pertama dalam enam bulan.

Kemudian, penciptaan lapangan kerja periode Januari 2020 (di luar sektor pertanian) versi Automatic Data Processing (ADP) diumumkan sebanyak 291.000, di atas konsensus yang dihimpun oleh Dow Jones sebanyak 150.000. Penciptaan lapangan kerja tersebut jauh lebih tinggi jika dibandingkan dengan capaian bulan Desember yang hanya sebanyak 199.000.

Melansir CNBC International, penciptaan lapangan kerja yang sebanyak 291.000 pada bulan lalu merupakan capaian terbaik sejak Mei 2015.

Lebih lanjut, Services PMI periode Januari 2020 versi ISM diumumkan di level 55,5, di atas konsensus yang sebesar 55,1, seperti dilansir dari Forex Factory.

Teranyar menjelang akhir pekan kemarin, penciptaan lapangan kerja periode Januari 2020 (di luar sektor pertanian) versi resmi pemerintah AS diumumkan sebanyak 225.000, jauh di atas ekspektasi yang sebanyak 163.000, seperti dilansir dari Forex Factory.

Rilis data ekonomi yang menggembirakan tersebut memberikan harapan bahwa laju perekonomian AS akan membaik di tahun 2020.

Belum lama ini, pembacaan awal atas angka pertumbuhan ekonomi AS periode kuartal IV-2019 diumumkan di level 2,1% (QoQ annualized), sesuai dengan konsensus yang dihimpun oleh Dow Jones.

Untuk keseluruhan tahun 2019, perekonomian AS hanya tumbuh 2,3%, menandai laju pertumbuhan terlemah dalam tiga tahun. Untuk diketahui, pada tahun 2017 perekonomian AS tumbuh sebesar 2,4%, diikuti pertumbuhan sebesar 2,9% pada tahun 2018.

Laju pertumbuhan tersebut juga berada di bawah target yang dipatok oleh pemerintahan Presiden AS Donald Trump. Pasca resmi memangkas tingkat pajak korporasi dan individu pada tahun 2017, Gedung Putih memproyeksikan pertumbuhan ekonomi untuk setidaknya berada di level 3%.

Di sisi lain, kinerja bursa saham Asia dibatasi oleh terus meluasnya infeksi virus Corona. Virus Corona sendiri merupakan virus yang menyerang sistem pernafasan manusia. Gejala dari paparan virus Corona meliputi batuk, sakit tenggorokan, sakit kepala, dan demam, seperti dilansir dari CNN International.

Berpusat di China, kasus infeksi virus Corona juga dilaporkan telah terjadi di negara-negara lain. Dilansir dari halaman Johns Hopkins, hingga kini setidaknya sebanyak 28 negara telah mengonfirmasi terjadinya infeksi virus Corona di wilayah mereka.

China, Hong Kong, Korea Selatan, Taiwan, Thailand, AS, Vietnam, Prancis, Jerman, Inggris, Nepal, dan Kanada termasuk ke dalam daftar negara yang sudah melaporkan infeksi virus Corona.

Melansir CNBC International, hingga kemarin sebanyak 1.016 orang di China telah meninggal akibat infeksi virus Corona, dengan jumlah kasus mencapai lebih dari 42.000.

Equity World

Duh! Bursa Asia Menghijau, IHSG Drop Nyaris 1% | Equity World

Riset dari Standard & Poor’s (S&P) menyebutkan bahwa virus Corona akan memangkas pertumbuhan ekonomi China sekitar 1,2 persentase poin. Jadi, kalau pertumbuhan ekonomi China pada tahun ini diperkirakan berada di level 6%, maka virus Corona akan memangkasnya menjadi 4,8% saja.

Untuk diketahui, pada tahun 2019 perekonomian Negeri Panda tercatat tumbuh sebesar 6,1%, melambat signifikan dari yang sebelumnya 6,6% pada tahun 2018. Melansir CNBC International yang mengutip Reuters, pertumbuhan ekonomi China pada tahun 2019 merupakan yang terlemah sejak tahun 1990.

“Pada tahun 2019, konsumsi menyumbang sekitar 3,5 persentase poin dari pertumbuhan ekonomi China yang sebesar 6,1%. Dengan perkiraan konsumsi domestik turun 10%, maka pertumbuhan ekonomi secara keseluruhan akan berkurang sekitar 1,2 persentase poin,” tulis riset S&P.

Meluasnya infeksi virus Corona di China terbukti sukses dalam menggangu kegiatan ekonomi masyarakat dan perusahaan-perusahaan di sana.
Perkembangan terbaru, kini beberapa provinsi dan distrik telah mengabarkan kepada perusahaan-perusahaan untuk tak beroperasi hingga tanggal 1 Maret, seperti dilansir dari CNBC International yang mengutip pejabat-pejabat pemerintahan China.

Sejauh ini, China merupakan negara dengan nilai perekonomian terbesar kedua di planet bumi, sekaligus pemain utama dalam rantai pasok dunia. Lantas, dampak dari tekanan terhadap perekonomian China dipastikan akan sangat terasa bagi perekonomian global.

Equity World | Korban Corona 1.000 Lebih, Bursa Asia Berani ke Zona Hijau

Equity World | Korban Corona 1.000 Lebih, Bursa Asia Berani ke Zona Hijau

Equity World | Bursa saham Asia pada perdagangan pagi mulai berani bergerak ke zona hijau, setelah terus tertekan karena sentimen negatif virus corona.

Bursa saham Hong Kong melonjak pada pembukaan dimana, indeks Hang Seng naik 1,0% atau 272,91 poin menjadi 27.514,25. Shanghai Composite Index Cina dibuka 0,14% atau bertambah 4,05 poin ke pada 2.894,54. Indeks Komposit Shenzhen naik 0,11% ke level 1.759,26.

Investor terus mengamati perkembangan wabah virus corona yang sedang berlangsung. Ketidakpastian mulai berakhir setelah para pekerja mulai kembali ke pabrik-pabrik.

“Ada risiko penuruna pertumbuhan PDB Tiongkok selama Q1 20 dan 2020 mendapatkan momentum,” kata Richard Grace, ahli strategi mata uang senior dan kepala ekonomi internasional di Commonwealth Bank of Australia, dalam risetnya seperti dikutip dari CNBC International.

“Dengan ekonomi Tiongkok menyumbang sekitar 17% dari PDB dunia, tetapi memperhitungkan kontribusi signifikan terhadap pertumbuhan ekonomi global, risiko penurunan yang lebih besar ke pertumbuhan global jelas,” kata Grace.

Equity World

Ikuti Jejak Wall Street & Bursa Asia, IHSG ke Zona Hijau | Equity World

Dampaknya PDB AS juga bisa terkena dampaknya. Survei CNBC terhadap 11 ahli selama akhir pekan lalu dihasilkan estimasi PDB kuartal pertama rata-rata hanya 1,2%, turun hampir satu poin dari kuartal keempat. Ekonom melihat kenaikan kembali ke pertumbuhan 2% pada kuartal kedua, tergantung pada tingkat keparahan virus di Cina dan di negara lain.

Sementara itu dari AS, Dow Jones Industrial Average naik 174,31 poin menjadi ditutup pada 29.276,82 sementara S&P 500 menambahkan 0,6% untuk mengakhiri hari perdagangannya di 3.352,09. Nasdaq Composite ditutup 1% lebih tinggi pada 9,628.3.

Equity World | Neraca Pembayaran Surplus, IHSG Turun 0,7% terseret Bursa Saham Asia

Equity World | Neraca Pembayaran Surplus, IHSG Turun 0,7% terseret Bursa Saham Asia

Equity World | Indeks harga saham gabungan (IHSG) pada sesi I perdagangan Senin (10/2), turun 42,27 poin atau 0,70% ke level 5.957,34. Kinerja IHSG terseret bursa saham Asia lainnya yang juga turun, dengan hanya indeks Shanghai Composite yang bergerak positif pada siang ini. Hingga pukul 12.45, indeks Strait Times memimpin koreksi bursa saham Asia dengan koreksi 0,71%, diikuti indeks Hang Seng yang turun 0,68%, Kospi turun 0,63%, serta Nikkei 225 turun 0,55%. Sedangkan indeks Shanghai naik tipis 0,07%.

Koreksi pada IHSG terjadi di tengah positifnya neraca pembayaran Indonesia kuartal IV yang mencatatkan surplus US$ 4,3 miliar, lebih baik dibandingkan periode triwulan sebelumnya yang defisit US$ 46 juta. Namun IHSG terseret kinerja bursa saham global dan Asia yang memerah. Sementara ini hanya indeks Shanghai yang hijau karena aktivitas bisnis di sana sudah dimulai kembali setelah pemerintah mencabut sejumlah restriksi, dan sarana transportasi sudah mulai beroperasi meski jumlah korban virus corona terus bertambah.

“Market berbalik naik tipis merefleksikan kabar bahwa aktivitas bisnis di Tiongkok sudah dimulai kembali. Tapi secara keseluruhan masih ada kekhawatiran pasar belum sepenuhnya menyerap dampak wabah virus corona,” kata analis Argonaut James McGlew seperti dilansir Reuters. Dia menilai kebijakan pemerintah Tiongkok membuka kembali aktivitas bisnis lebih merupakan gestur simbolis bukan karena mereka berhasil mengendalikan wabah.

Equity World

‘Dihantui’ Virus Corona, Bursa Saham Asia Kompak Melemah | Equity World

Hingga hari ini wabah virus corona telah menyebabkan jumlah korban meninggal lebih banyak dibandingkan wabah SARS pada 2002/2003. Lebih dari 900 orang meninggal, virus pun telah menyebar ke 27 negara menginfeksi lebih dari 300 orang di luar Tiongkok. Adapun total perdagangan saham di bursa domestik hingga siang ini mencapai 2,97 miliar saham dengan nilai transaksi mencapai 2,57 triliun. Sebanyak 254 saham harganya turun, 94 saham naik, dan 120 lainnya tidak bergerak alias stagnan.

Koreksi terutama didorong oleh beberapa indeks sektoral seperti agri yang turun hingga 2,12%, diikuti aneka industri 1,48%, industri dasar 1,29%, konsumer 0,56%, serta finance 0,80%. Beberapa saham yang signifikan menekan laju IHSG di antaranya Astra Agro Lestari Tbk (AALI) yang turun 2,49%, Astra International Tbk (ASII) turun 1,95%, Indah Kiat Pulp and Paper Tbk (INKP) turun 3,31%, serta Pabrik Kertas Tjiwi Kimia Tbk (TKIM) turun 3,11%. Selain itu saham Indocement Tunggal Prakasa Tbk (INTP) juga turun 1,3%, Indofood Sukses Makmur Tbk (INDF) turun 1,27%, serta saham-saham bank juga berguguran menekan indeks sektor keuangan.

Equity World | Bursa Saham Asia Melemah, Akhir Sesi Satu IHSG Masih Hijau

Equity World | Bursa Saham Asia Melemah, Akhir Sesi Satu IHSG Masih Hijau

Equity World | Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengawali perdagangan terakhir di pekan ini, Jumat (7/2/2020), di zona hijau.

Pada pembukaan perdagangan, IHSG menguat 0,02% ke level 5.988,06. Per akhir sesi satu, apresiasi indeks saham acuan di Indonesia tersebut telah bertambah lebar menjadi 0,15% ke level 5.996,29.

Jika apresiasi IHSG bertahan hingga akhir perdagangan, maka akan menandai apresiasi selama empat hari beruntun.

Kinerja IHSG berbanding terbalik dengan seluruh bursa saham utama kawasan Asia yang justru sedang bergerak di zona merah. Hingga berita ini diturunkan, indeks Nikkei terpangkas 0,17%, indeks Shanghai turun 0,59%, indeks Hang Seng melemah 0,78%, indeks Straits Times jatuh 0,71%, dan indeks Kospi terkoreksi 1,04%.

Terus meluasnya infeksi virus Corona menjadi faktor yang menekan kinerja bursa saham Benua Kuning. Virus Corona sendiri merupakan virus yang menyerang sistem pernafasan manusia. Gejala dari paparan virus Corona meliputi batuk, sakit tenggorokan, sakit kepala, dan demam, seperti dilansir dari CNN International.

Berpusat di China, kasus infeksi virus Corona juga dilaporkan telah terjadi di negara-negara lain. Melansir publikasi Johns Hopkins, hingga kini setidaknya sebanyak 28 negara telah mengonfirmasi terjadinya infeksi virus Corona di wilayah mereka.

China, Hong Kong, Korea Selatan, Taiwan, Thailand, AS, Vietnam, Prancis, Jerman, Inggris, Nepal, dan Kanada termasuk ke dalam daftar negara yang sudah melaporkan infeksi virus Corona.

Melansir CNBC International, hingga kemarin, Kamis (6/2/2020), sebanyak 636 orang di China telah meninggal akibat infeksi virus Corona, dengan jumlah kasus mencapai lebih dari 31.000.

Riset dari Standard & Poor’s (S&P) menyebutkan bahwa virus Corona akan memangkas pertumbuhan ekonomi China sekitar 1,2 persentase poin. Jadi, kalau pertumbuhan ekonomi China pada tahun ini diperkirakan berada di level 6%, maka virus Corona akan memangkasnya menjadi 4,8% saja.

Untuk diketahui, pada tahun 2019 perekonomian Negeri Panda tercatat tumbuh sebesar 6,1%, melambat signifikan dari yang sebelumnya 6,6% pada tahun 2018. Melansir CNBC International yang mengutip Reuters, pertumbuhan ekonomi China pada tahun 2019 merupakan yang terlemah sejak tahun 1990.

“Pada tahun 2019, konsumsi menyumbang sekitar 3,5 persentase poin dari pertumbuhan ekonomi China yang sebesar 6,1%. Dengan perkiraan konsumsi domestik turun 10%, maka pertumbuhan ekonomi secara keseluruhan akan berkurang sekitar 1,2 persentase poin,” tulis riset S&P.

Equity World

Harga Emas Antam Terus Naik, Sentuh Rp 772 Ribu per Gram | Equity World

Meluasnya infeksi virus Corona memang datang di saat yang sangat tidak tepat, yakni kala masyarakat China tengah merayakan hari raya Tahun Baru China atau yang dikenal dengan istilah Imlek di Indonesia.

Selama libur Tahun Baru China, masyarakat China biasanya kembali ke kampung halamannya, sama seperti yang dilakukan masyarakat Indonesia pada hari raya Idul Fitri. Dalam periode tersebut, konsumsi masyarakat China biasanya akan meningkat drastis.

Pemerintah China sendiri sejatinya memperkirakan bahwa akan ada sebanyak tiga miliar perjalanan pada Tahun Baru China kali ini, naik dibandingkan tahun lalu yaitu 2,99 miliar perjalanan. Dari tiga miliar perjalanan tersebut, 2,43 miliar diperkirakan ditempuh dengan mobil, 440 juta dengan kereta api, 79 juta dengan pesawat terbang, dan 45 juta dengan kapal laut.

Namun, kemungkinan besar estimasi tersebut akan meleset jauh, mengingat banyak wilayah di China yang dikarantina guna menekan meluasnya infeksi virus Corona.

Bahkan, pemerintah China memutuskan untuk memperpanjang libur Tahun Baru China di negaranya. Sejatinya, libur Tahun Baru China pada awalnya dijadwalkan untuk berlangsung pada tanggal 24 hingga 30 Januari 2020.

Berlaku secara nasional, pemerintah China kemudian memperpanjang libur Tahun Baru China hingga akhir pekan kemarin.

Design a site like this with WordPress.com
Get started