Equityworld Futures | Jualan Emas Antam Rekor 34 Ton, Gimana Tren Saham ANTM?

Equityworld Futures | Jualan Emas Antam Rekor 34 Ton, Gimana Tren Saham ANTM?

Equityworld Futures | Manajemen PT Antam Tbk (ANTM) membukukan penjualan bersih belum diaudit (unaudited) sepanjang tahun lalu sebesar Rp 32,81 triliun atau naik 30% dibandingkan dengan penjualan bersih (audited) tahun 2018 sebesar Rp 25,24 triliun.

Hanya saja, perseroan belum mengungkapkan besaran laba bersih perusahaan. Pada 2019, berdasarkan laporan highlights yang disampaikan di Bursa Efek Indonesia, Sekretaris Perusahaan Antam Kunto Hendrapawoko, menjelaskan capaian produksi dan penjualan feronikel tertinggi sepanjang sejarah perusahaan.

Volume produksi unaudited feronokel mencapai 25.713 ton nikel dalam feronikel (TNi), sementara volume penjualan unaudited feronikel mencapai 26,348 TNi.

Antam juga mencatat penjualan emas tertinggi sepanjang seharah perusahaan yakni penjualan unaudited sebesar 34 ton emas (1.093.864 troy oz) atau naik 22% dibandingkan dengan tahun 2018 sebesar 27,89 ton (896.812 troy oz).

Equityworld Futures

Di bawah Bayang-Bayang Corona, Harga Emas Antam Cari Aman | Equityworld Futures

“Khusus kuartal 4-2019, penjualan unaudited emas tercatat sebesas 7.307 kg atau 7,31 ton emas (234.925 troy oz),” tulis Kunto dalam keterbukaan informasi di BEI, Senin (3/2/2020).

Namun berdasarkan data BEI, Saham ANTM hari ini masih minus 0,69% di level Rp 715/saham. Secara year to date, saham ANTM minus 14,88% dengan kapitalisasi pasar Rp 17,18 triliun. Saham ANTM hari ini diperdagangkan sebanyak 25,63 juta saham dan nilai perdagangan Rp 18,37 miliar.

Dipengaruhi Virus Corona, IHSG Turun 0,91% Ikuti Kejatuhan Bursa Asia

PT Equity World | Dipengaruhi Virus Corona, IHSG Turun 0,91% Ikuti Kejatuhan Bursa Asia

PT Equity World | Indeks harga saham gabungan (IHSG) Kamis (30/1), ditutup turun 55,45 poin atau 0,91%. Meski turun cukup dalam, IHSG tidak sendirian. Pasalnya bursa saham Asia lainnya turun lebih dalam. Memimpin koreksi bursa Asia yaitu indeks Hang Seng yang anjlok 2,62%, diikuti indeks Nikkei 225 turun 1,72%, kemudian Kospi 1,71%, serta Strait Times turun 0,37%. Sementara itu indeks Taiwan yang mengawali perdagangan setelah libur tahun baru Imlek hari ini, langsung jatuh 5,75%.

Pasar pun harus bersiap menghadapi kejatuhan indeks Shanghai Composite, ketika perdagangan dimulai kembali pada 3 Februari mendatang, yang diperkirakan akan mengikuti nasib indek saham Taiwan. Adapun jatuhnya bursa Asia masih dipengaruhi sentimen virus corona yang kini telah menginfeksi lebih dari 7.000 orang di 15 negara di dunia, dan telah menelan korban jiwa sebanyak 170 orang.

Ekonom pemerintah Tiongkok memperkirakan merebaknya wabah virus corona akan menekan laju pertumbuhan ekonomi Negeri Panda tersebut menjadi hanya 5% pada triwulan I 2020. Sentimen virus corona yang menghantam pasar saham global juga turut membuat perdagangan saham di Bursa Efek Indonesia (BEI) sepi transaksi. Total nilai transaksi saham hari ini tercatat hanya mencapai 5,64 triliun dari 6,16 miliar saham.

PT Equity World

Bursa Saham Asia Berguguran di Tengah Kekhawatiran Virus Corona | PT Equity World

Direktur Riset dan Investasi Pilarmas Investindo Sekuritas Maximilianus Nico Demus menyebut faktor yang juga mempengaruhi pergerakan di pasar saham hari ini adalah keputusan bank sentral AS mempertahankan suku bunga acuannya. Sedangkan faktor dalam negeri, yakni data realisasi investasi 2019. Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) mencatat realisasi investasi sebesar Rp 809,6 triliun di sepanjang 2019, dengan penyerapan tenaga kerja sebanyak 1 juta orang. Penyerapan tenaga kerja ini diakui Kepala BKPM belum maksimal.

Sebanyak 271 saham harganya turun, 129 naik, dan selebihnya stagnan atau tidak berubah. Investor asing pun juga melepas aset-asetnya di pasar saham Indonesia dengan catatan jual bersih (net sell) saham Rp 336,63 miliar di pasar reguler. Adapun saham-saham yang paling signifikan menekan laju IHSG ke zona merah didominasi oleh emiten berkapitalisasi pasar besar seperti Astra International Tbk (ASII) yang turun 2,93%, disusul Bank Mandiri Tbk (BMRI) turun 1,92%, kemudian H.M. Sampoerna Tbk (HMSP) turun 2,3%. Sementara itu investor asing ramai-ramai melepas saham Bank Central Asia Tbk (BBCA) dan Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) masing-masing sebesar Rp 185,8 miliar dan Rp 114,5 miliar. Adapun harga saham BBCA turun 0,66% sedangkan BBRI turun 0,87%.

Equity World | Kepanikan Virus Corona Mereda, Wall Street Dibuka Menguat

Equity World | Kepanikan Virus Corona Mereda, Wall Street Dibuka Menguat

Equity World | Setelah mengalami aksi jual terbesar dalam 3 bulan terakhir, bursa Amerika Serikat (AS) dibuka menguat pada perdagangan Selasa (28/01/2020) setelah investor mengatasi kepanikan seputar wabah virus Corona.

Indeks Dow Jones Industrial Average naik 100 poin (0,4%) pada pembukaan perdagangan pukul 08:30 waktu setempat (21:30 WIB), tetapi surut menjadi 57,5 poin (0,2%) selang 15 menit kemudian ke 28.596,41. Indeks Nasdaq naik 49,5 poin (0,54%) ke 9.189,3 dan S&P 500 tumbuh 11,8 poin (0,36%) ke 3.255,96.

“Bursa mencoba untuk stabil dan berbalik menguat meski upaya tersebut cenderung tentatif dan minim alasan,” tutur Adam Crisafulli, pendiri Vital Knowledge, dalam laporan risetnya, sebagaimana dikutip CNBC International.

Sinyal kenaikan ini muncul setelah Wall Street mengalami koreksi terbesarnya sejak Oktober pada Senin kemarin. Indek Dow Jones anjlok lebih dari 450 poin sedangkan indeks S&P 500 mencatatkan koreksi 1%, pertama dalam 74 hari perdagangan.

Indeks Nasdaq pun ikut-ikutan membukukan koreksi harian terbesar sejak Agustus 2019, menyusul kekhawatiran seputar penyebaran virus Corona yang dikhawatirkan mengganggu ekonomi global. Di China, virus ini membunuh lebih dari 100 orang dan menulari 4.500 lainnya.

Departemen Dalam Negeri AS menganjurkan warga negaranya untuk menghindari China karena wabah tersebut. Presiden AS Donald Trump mengatakan bahwa dia memiliki “komunikasi yang sangat dekat” dengan Beijing terkait virus tersebut.

“Dari perspektif investasi, tantangan terbesar virus Corona Wuhan adalah minimnya perbandingan historis yang bisa membantu mengukur risikonya,” tutur Nicholas Colas, Co-founder DataTrek Research, sebagaimana dikutip CNBC International.

Equity World

Bursa Saham Asia Melemah Terdampak Wabah Virus Korona | Equity World

Membandingkan kondisi sekarang dengan wabah SARS pada 2003, lanjut dia, tidak akan sebanding karena perubahan demografis China dan dinamika ekonominya.

Pelaku pasar juga mencermati musim laporan keuangan. Raksasa farmasi Pfizer membukukan kinerja kuartal IV-2019 lebih buruk secara triwulanan, sehingga sahamnya turun 2,6%. Di sisi lain, laba bersih produsen motor gede (moge) Harley-Davidson mengalahkan ekspektasi pasar tetapi pendapatannya turun sehingga sahamnya anjlok 4,6%.

Menurut data FactSet, 67% perusahaan yang menjadi konstituen indeks S&P 500 membukukan laba bersih lebih baik dari perkiraan pasar. Apple akan menjadi salah satu emiten yang paling ditunggu rilis laporan keuangannya pada Selasa sore setelah penutupan pasar.

Dari sisi makroekonomi, data penjualan barang tahan lama (durable goods) AS bakal dirilis pada pukul 08:30 waktu setempat, disusul data keyakinan konsumen serta hasil survei The Fed Richmond dan Dallas satu setengah jam kemudian.

Equity World | Virus corona menumbangkan Wall Street

Equity World | Virus corona menumbangkan Wall Street

Equity World | Wall Street merosot pada perdagangan Senin (27/1). Tertekan makin banyak kasus suspect virus corona yang terkonfirmasi, meningkatkan kekhawatiran akan dampak virus terhadap perekonomian global.

Melansir Reuters, indeks Dow Jones Industrial Average turun 453,93 poin atau 1,57% menjadi 28.535,8, indeks S&P 500 kehilangan 51,84 poin atau 1,57% menjadi 3.243,63, dan Nasdaq Composite turun 175,60 poin atau 1,89% menjadi 9.139,31.

Sejauh ini ada 2.862 kasus yang dikonfirmasi di China dan jumlah kematian di China telah meningkat menjadi 81. Direktur jenderal Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) sedang melakukan perjalanan ke China untuk bertemu dengan pejabat pemerintah dan kesehatan. Di Amerika Serikat (AS), kasus corona kelima dikonfirmasi pada akhir pekan.

“China adalah pendorong terbesar pertumbuhan global sehingga ini tidak bisa dimulai di tempat yang lebih buruk,” kata Alec Young, direktur pelaksana penelitian pasar global di FTSE Russell.

“Pasar membenci ketidakpastian, dan virus corona adalah ketidakpastian utama karena tidak ada yang tahu seberapa buruk itu akan berdampak pada ekonomi global.”

Equity World

Bursa Sore: Pelemahan Kian Dalam, IHSG Tergerus 111 Poin | Equity World

Saham maskapai United dan Delta keduanya turun lebih dari 3,3%. Saham game seperti Las Vegas Sands dan Wynn Resorts masing-masing turun 6,8% dan 8,1%. MGM Resorts turun 3,9%.

Saham perjalanan Expedia, Carnival, dan Marriott Internasional semuanya turun setidaknya 2,1%. Saham konsumen dengan eksposure ke China seperti Apple, Disney, Nike dan Estee Lauder semua turun setidaknya 1,8%.

Equity World | Ngeri! Virus Corona Mengganas, Waspada Saham-saham Berguguran

Equity World | Ngeri! Virus Corona Mengganas, Waspada Saham-saham Berguguran

Equity World | Sepekan kemarin, pasar keuangan dalam negeri bergerak tak kompak, kala rupiah dan SUN ditutup menguat, indeks bursa saham tanah air malah melemah. Pasar masih mencemaskan penyebaran virus corona baru yang akhir-akhir ini terjadi.

Pada penutupan perdagangan terakhir pekan kemarin Jumat (24/1/2020), indeks harga saham gabungan (IHSG) terkoreksi 0,082% ke posisi 6.244,11. Dalam sepekan terakhir, IHSG melorot 0,8%.

Namun IHSG tak sendirian, mayoritas bursa saham kawasan Asia pekan kemarin juga mencatatkan koreksi. Indeks Strait Times ambles 1,2% dalam sepekan, indkes KLCI juga terpangkas 1,4%. Indeks bursa saham China dan Hang Seng bahkan anjlok masing-masing sebesar 3,2% dan 3,8%. Sementara itu indeks Kospi dan Nikkei masing-masing turun 0,2% dan 0,9%.

Melihat kinerja tersebut, IHSG mengokohkan diri berada di posisi runner up jika dibandingkan dengan kinerja enam bursa saham utama kawasan Asia lainnya. Walau IHSG mengalami koreksi, nilai tukar rupiah malah makin perkasa di hadapan dolar.

Pada hari terakhir perdagangan minggu kemarin, rupiah di pasar spot dihargai Rp 15.565/US$. Dalam sepekan rupiah mencatatkan penguatan 0,48% dan menjadi mata uang paling perkasa kedua di benua kuning setelah Yen kalau dilihat secara mingguan.

Dilihat lebih jauh, keperkasaan rupiah ini mulai terjadi sejak awal tahun. Dari awal tahun rupiah mengalami reli tak terbendung dan menjadi mata uang paling perkasa di dunia. Tak tanggung-tanggung, belum genap sebulan di tahun 2020 ini, rupiah telah mencatatkan penguatan lebih dari 2%.

Gubernur Bank Indonesia (BI), Perry Warjiyo menilai penguatan rupiah yang terjadi akhir-akhir ini dikarenakan fundamental ekonomi Indonesia yang terus membaik. “Penguatan rupiah didorong oleh pasokan valas dari eksportir dan aliran modal asing sejalan prospek ekonomi Indonesia yang terjaga dan ketidakpastian global yang menurun” kata Perry, Kamis (23/1/2020).

Equity World

Harga Emas 24 Karat Antam Hari Ini, 27 Januari 2020. Naik Rp6.000 per Gram | Equity World

Mendukung penguatan rupiah, pasar SUN juga mengalami apresiasi sepekan kemarin. Kenaikan harga obligasi rupiah pemerintah tercermin dari penurunan tingkat imbal hasilnya.

Di hari terakhir perdagangan, seri acuan obligasi rupiah yang paling menguat adalah yang bertenor 15 tahun dengan penurunan imbal hasil mencapai 11,6 basis poin. Investor asing masih masuk ke pasar SUN senilai Rp 3,84 triliun sepekan kemarin.

Walau rupiah dan pasar SUN tanah air masih menguat, pasar tetap saja cemas dengan merebaknya virus corona yang akhir-akhir ini jadi sorotan. Perkembangan terbaru menunjukkan bahwa korban meninggal sudah mencapai 56 orang. Jumlah kasus pun tiap hari bertambah. Kabar teranyar, CNBC Internasional melaporkan hingga 26 Januari 2020 jumlah kasus sudah mencapai 2.116 kasus.

Walau kasus dan jumlah korban meninggal paling banyak ditemukan di Wuhan sebagai lokasi pertama virus ini muncul, jumlah negara lain yang melaporkan penemuan kasus ini juga semakin bertambah.

Sampai saat ini negara yang sudah melaporkan adanya penemuan virus corona baru yaitu Jepang, Korea Selatan, Hong Kong, Macau, Thailand, Taiwan, Vietnam, Nepal, Perancis, Australia, Canada hingga Amerika Serikat. Korban terus berjatuhan dan dunia menjadi waspada akan kemungkinan pandemi seperti SARS tujuh belas tahun silam.

Equity World | Wall Street mixed, Nasdaq kembali cetak rekor

Equity World | Wall Street mixed, Nasdaq kembali cetak rekor

Equity World | Wall Street bergerak mixed pada perdagangan Kamis (23/1). Kemarin Nasdaq Composite berakhir di rekor terbaru ditopang oleh lonjakan saham Netflix. Nasdaq menguat 0,2% ke 9.402,48.

Sementara indeks S&P 500 naik tipis 0,11% ke 3.325,54. Dow Jones Industrial Average justru melemah 0,09% ke 29.160,09.

Indeks S&P 500 dan Nasdaq sempat turun sebelum kabar menjelang penutupan perdagangan bahwa Gilead Sciences Inc tengah menilai obat eksperimental Ebola sebagai pengobatan yang mungkin bagi virus corona yang tengah menyebar. World Health Organization (WHO) mengatakan bahwa terlalu dini untuk menyatakan keadaan darurat kesehatan global.

“Virus ini bukan pengalihan, ini adalah sesuatu yang akan dimanfaatkan oleh para trader,” kata Chuck Carlson, kepada eksekutif Horizon Investment Services kepada Reuters.

Penyebaran virus corona telah menekan pasar saham global. Kekhawatiran pasar adalah adanya keengganan orang untuk bepergian di tengah penyebaran virus ini sehingga bisa menekan ekonomi.

Sementara itu, rilis kinerja kuartal keempat mulai muncul. Para analis memperkirakan, laba kuartal keempat akan turun 0,7% dari tahun sebelumnya. Dari 74 perusahaan penghuni S&P 500 yang telah melaporkan kinerja, sekitar 67,6% mencapai kinerja lebih dari ekspektasi.

“Pasar saham mendatar yang mengindikasikan bahwa pasar merasa nyaman dengan kinerja emiten dan ekspektasi mulai naik,” kata Carlson.

Equity World

Harga emas Antam hari ini turun Rp 3.000 menjadi Rp 768.000 per gram | Equity World

Kemarin, harga saham Netflix melonjak 7,2%, menutup penurunan sebelumnya yang dipicu oleh prediksi kinerja yang mengecewakan di awal pekan. Harga saham Union Pacific Corp naik 3,5% setelah operator jalur kereta ini mengatakan bahwa kesepakatan fase satu Amerika Serikat (AS) dan China akan membalikkan volume yang selama ini turun.

Meski sejumlah saham naik tinggi, ada pula saham-saham yang memberatkan langkah indeks. Harga saham Freeport-McMoRan turun 2,8% meski emiten ini melaporkan kinerja yang lebih tinggi daripada ekspektasi. Tapi, investor fokus pada penurunan produksi Freeport di Indonesia.

Comcast Corp pun mencatat kinerja yang lebih tinggi daripada ekspektasi. Tapi, perusahaan penyiaran ini kehilangan pelanggan lebih dari prediksi analis dan mengantarkan harga sahamnya turun 3,8%.

Equity World | Bursa Asia ‘Berdarah’, IHSG & Rupiah Unjuk Gigi

Equity World | Bursa Asia ‘Berdarah’, IHSG & Rupiah Unjuk Gigi

Equity World | Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) sukses mematahkan rangkaian pelemahannya dan berakhir di zona hijau pada perdagangan hari ini, Kamis (23/1/2020), ketika rata-rata bursa saham di Asia tertekan.

Berdasarkan data Bloomberg, pergerakan IHSG ditutup di level 6.249,21 dengan kenaikan 0,25 persen atau 15,76 poin dari level penutupan perdagangan sebelumnya.

Pada perdagangan Rabu (22/1/2020), IHSG mengakhiri pergerakannya di level 6.233,45 dengan penurunan 0,08 persen atau 4,70 poin, koreksi hari ketiga berturut-turut.

Indeks mulai bangkit ke zona hijau dengan dibuka naik 0,17 persen atau 10,54 poin di posisi 6.244 pada Kamis (23/1) pagi. Sepanjang perdagangan, IHSG bergerak di level 6.229,13 – 6.255,04.

Enam dari sembilan sektor berakhir di wilayah positif, dipimpin industri dasar (+1,25 persen) dan aneka industri (+0,64 persen). Tiga sektor lainnya melemah, dipimpin perdagangan yang turun 0,67 persen.

Adapun dari 676 saham yang diperdagangkan di Bursa Efek Indonesia (BEI) hari ini, sebanyak 182 saham menguat, 219 saham melemah, dan 275 saham stagnan.

Saham PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk. (BBRI) dan PT Barito Pacific Tbk. (BRPT) yang masing-masing naik 0,64 persen dan 3,02 persen menjadi pendorong utama IHSG.

Equity World

Saham-Saham di Asia Melemah ‘Terserang’ Virus Korona | Equity World

Di sisi lain, pelemahan saham PT Bank Mandiri (Persero) Tbk. (BMRI) dan PT United Tractors Tbk. (UNTR) masing-masing sebesar 0,32 persen dan 1,21 persen menjadi penekan utama sekaligus membatasi besarnya penguatan IHSG.

Menurut Direktur Indosurya Bersinar Sekuritas, William Surya Wijaya, pola gerak IHSG dipengaruhi data perekonomian tentang suku bunga hari ini.

Melalui Rapat Dewan Gubernur (RDG) yang berakhir Kamis (23/1), Bank Indonesia memutuskan untuk mempertahankan suku bunga acuan BI 7-Day Reverse Repo Rate di 5,00 persen.

Sejalan dengan kebijakan tersebut, suku bunga deposit facility dan lending facility dipatok tetap di 4,25 persen dan 5,75 persen masing-masing.

Sementara itu, lanjut William, IHSG terlihat masih berada dalam rentang konsolidasi wajar di tengah penantian untuk kenaikan lanjutan.

“Support level terlihat dapat terjaga dengan baik, capital inflow secara ytd yang masih tercatat lebih besar dibanding outflow sepanjang tahun sebelumnya masih menunjukkan minat investor terhadap pasar modal Indonesia,” papar William melalui hasil risetnya.

Bersama IHSG, nilai tukar rupiah ditutup menguat 7 poin atau 0,05 persen di level Rp13.639 per dolar AS, setelah terapresiasi 23 poin dan berakhir di posisi 13.646 pada Rabu (22/1).

Meski demikian, indeks saham lain di Asia mayoritas tertekan di zona merah, di antaranya adalah indeks Nikkei 225 dan Topix Jepang yang masing-masing ditutup melemah 0,98 persen dan 0,78 persen.

Di China, indeks Shanghai Composite dan CSI 300 China bahkan anjlok 2,75 persen dan 3,10 persen. Adapun indeks Kospi Korea Selatan dan Hang Seng Hong Kong berakhir melorot 0,93 persen dan 1,52 persen masing-masing.

Dilansir Reuters, bursa Asia turun tajam di tengah meningkatnya kekhawatiran investor atas penyebaran virus corona (coronavirus) baru asal China menjelang libur Tahun Baru Imlek.

Pelemahan bursa Asia hari ini didorong bursa China yang anjlok sekitar 3 persen, penurunan harian terbesar sejak 6 Mei 2019.

Di pasar mata uang, nilai tukar yuan China melemah ke level terendahnya dalam dua pekan. Sebaliknya, aset-aset investasi aman (safe haven) seperti yen Jepang, emas, dan obligasi AS menanjak setelah pemerintah China memulai blokade kota Wuhan, tempat virus ini bermula.

Kematian di China akibat coronavirus baru bertambah menjadi 17 pada Rabu (22/1/2020), dengan hampir 600 kasus dikonfirmasi.

Penularan wabah ini telah membangkitkan kekhawatiran atas pengalaman wabah Sindrom Pernapasan Akut Parah, atau SARS, sekitar 17 tahun lalu yang menelan hampir 800 nyawa.

“Pasar mengekspresikan kekhawatiran tentang prospek pertumbuhan,” ujar Michael McCarthy, kepala strategi pasar di CMC Markets, Sydney.

“Virus corona telah memicu sebagian kehati-hatian. Tidak ada alasan untuk memperkirakan pandemi global sekarang, tetapi ada perubahan posisi di pasar keuangan,” tambahnya, seperti dilansir Reuters.

Sejumlah kasus akibat virus ini telah terdeteksi di Beijing, Shanghai, Makau, Hong Kong, Jepang, dan Amerika Serikat. Wali Kota Wuhan menutup jaringan transportasi dan mendesak warga untuk tidak bepergian karena khawatir dengan penyebaran wabah itu.

Namun, ada kekhawatiran virus tersebut dapat menyebar dengan cepat, mengingat jutaan orang China bepergian ke dalam dan luar negeri ini selama liburan Tahun Baru Imlek, yang dimulai pada Jumat (24/1/2020).

PT Equityworld | Reli Wall Street terhenti, kekhawatiran virus Corona menyelimuti pasar

PT Equityworld | Reli Wall Street terhenti, kekhawatiran virus Corona menyelimuti pasar

PT Equityworld | Indeks acuan Wall Street tergelincir pada perdagangan Selasa (21/1). Terseret kekhawatiran tentang dampak dari wabah virus mematikan di China dan prospek pertumbuhan yang suram dari dana moneter internasional (IMF).

Melansir Reuters, pukul 10:09 pagi waktu setempat, indeks Dow Jones Industrial Average turun 0,15% pada 29.302,69. Indeks S&P 500 turun 0,23% menjadi 3.322.12, dan Nasdaq Composite tergelincir 0,09% menjadi 9.380,87.

Suasana hati investor AS tengah masam mengawali perdagangan pasca libur panjang akhir pekan. Pasalnya, pejabat China mengonfirmasi bahwa wabah virus corona telah merenggut enam korban jiwa.

Wabah virus yang bisa menyebar terhadap manusia ini telah memicu ketakutan dan menghidupkan kembali kenangan kasus SARS (Severe Acute Respiratory Syndrome).

Kasus virus corona ini tepat menjelang libur Tahun Baru China (Imlek), berdampak pada saham perjalan di antaranya Delta Air Lines Inc, United Airlines Holdings Inc, dan American Airlines Group Inc turun antara 1,5% dan 2,6%.

PT Equityworld

Virus Corona Bikin Geger Wall Street, Ini Kata Sri Mulyani | PT Equityworld

Operator hotel dan kasino Las Vegas Sands Corp dan Wynn Resorts Ltd turun sekitar 5%. Pemilik Booking.com, Booking Holdings dan Tripadvisor keduanya turun lebih dari 2%.

“(Wabah virus di China) tampaknya menjadi negatif terbesar,” kata Scott Brown, kepala ekonom Raymond James di St. Petersburg, Florida.

“Tapi ini lebih merupakan sentimen global. Kita mungkin melihat pasar AS mencoba untuk meludahkannya karena tidak memiliki banyak dampak pada ekonomi AS.”

Sentimen negatif lainnya yakni kabar dari IMF yang memangkas perkiraan pertumbuhan global untuk tahun 2020 dan 2021.

Direktur Pelaksana IMF Kristalina Georgieva mengatakan, perlambatan pertumbuhan global tampaknya telah mencapai titik terendahnya, tidak terlihat ada rebound.

PT Equityworld | Bursa saham Asia jatuh akibat kekhawatiran wabah virus corona baru dari China

PT Equityworld | Bursa saham Asia jatuh akibat kekhawatiran wabah virus corona baru dari China

PT Equityworld | Bursa saham Asia turun lebih rendah pada perdagangan Selasa (21/1) dipicu kekhawatiran menyebarnya wabah virus corona baru yang jadi penyebab merebaknya pneumonia (penyakit infeksi yang menyebabkan peradangan). Kondisi ini membuat pelaku pasar menghindari aset berisiko seperti saham.

Sebaliknya, obligasi safe-haven dan yen naik lebih tinggi karena investor diingatkan akan kerusakan ekonomi yang disebabkan oleh virus SARS pada tahun 2003, khususnya mengingat ancaman penularan ketika ratusan juta orang bepergian untuk liburan menjelang Tahun Baru Imlek.

“Ini adalah perkembangan yang cukup esensial sehingga pasar akan memantaunya pada radar risiko, seolah-olah keadaan berubah kritis itu dapat memberikan pukulan besar bagi industri penerbangan dan pukulan knockout terhadap pariwisata lokal,” kata Stephen Innes, ahli strategi pasar Asia Pasifik di AxiCorp seperti dilansir Reuters, Selasa (21/1).

PT Equityworld

Saham Asia Bersinar Pasca China Pertahankan Suku Bunga Pinjaman Tidak Berubah | PT Equityworld

Karena kehawatiran verus ini, indeks MSCI dari saham Asia Pasifik di luar Jepang tergelincir 1%. Hong Kong, yang menderita parah selama wabah SARS, bursa sahamnya jatuh 2%.

Sementara, Nikkei Jepang kehilangan 0,8% dan Shanghai blue chips turun 1,5%, karena perusahaan penerbangan di bawah tekanan. Kondisi ini juga menyebar ke berjangka E-Mini untuk S&P 500 yang turun 0,4%, sementara EUROSTOXX 50 berjangka kehilangan 0,3%.

Equityworld Futures | Didukung Wall Street, bursa saham Tokyo dibuka lebih tinggi

Equityworld Futures | Didukung Wall Street, bursa saham Tokyo dibuka lebih tinggi

Equityworld Futures | Saham-saham Tokyo dibuka lebih tinggi pada perdagangan Senin pagi, mengikuti jejak kuat Wall Street di rekor tertinggi baru akhir pekan lalu didukung data perumahan yang lebih baik dari perkiraan untuk Desember.

Pada pukul 09.15 pagi, indeks acuan Nikkei 225 di Bursa Efek Tokyo (TSE) bertambah 55,26 poin atau 0,23 persen, dari tingkat penutupan Jumat (17/1/2020), menjadi diperdagangkan di 24.096,52 poin.

Sementara itu, indeks Topix yang lebih luas dari semua saham papan utama di pasar Tokyo naik 9,34 poin atau 0,54 persen, menjadi diperdagangkan pada 1.744,78 poin.

Mayoritas kategori industri maju ke wilayah positif, dengan besi dan baja, serta saham-saham terkait transportasi udara dan kelautan paling banyak mencatat kenaikan pada menit-menit pembukaan setelah bel perdagangan pagi.
Wall Street melonjak ke rekor tertinggi baru pada penutupan perdagangan Jumat (17/1/2020), dengan indeks-indeks utama terangkat dalam kenaikan mingguan terkuat sejak Agustus, menyusul data perumahan AS yang poisitif dan tanda-tanda ketahanan dalam ekonomi China meningkatkan harapan rebound pertumbuhan global.

Equityworld Futures

Rekomendasi Saham dan Pergerakan IHSG Hari Ini, 20 Januari 2020 | Equityworld Futures

Sentimen pasar minggu lalu semakin cerah, setelah Amerika Serikat dan China menandatangani kesepakatan perdagangan Fase 1, menghentikan sengketa tarif 18 bulan yang telah membebani pasar keuangan secara global.

Indeks Dow Jones Industrial Average naik 50,46 poin atau 0,17 persen, menjadi ditutup pada 29.348,10 poin. Indeks S&P 500 bertambah 12,81 poin atau 0,39 persen, menjadi berakhir di 3.329,62 poin. Indeks Komposit Nasdaq berakhir meningkat 31,81 poin atau 0,34 persen, menjadi 9.388,94 poin.

Sepanjang pekan lalu, S&P 500 menambahkan 1,96 persen, Dow naik 1,82 persen dan Nasdaq meningkat 2,29 persen.

Design a site like this with WordPress.com
Get started