Equity World | Bursa Asia Memerah, IHSG Melemah 0,67 Persen

Equity World | Bursa Asia Memerah, IHSG Melemah 0,67 Persen

Equity World | Pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) melemah pada akhir sesi I perdagangan hari ini, Kamis (13/2/2020), di tengah pelemahan bursa Asia.

Berdasarkan data Bloomberg, IHSG parkir di level 5.873,29 dengan pelemahan 0,67 persen atau 39,79 poin pada akhir sesi I dari level penutupan perdagangan sebelumnya.

Pada perdagangan Rabu (12/2/2020), IHSG menutup pergerakannya di teritori negatif yakni level 5.913,08 dengan pelemahan 0,69 persen atau 41,32 poin.

Sebelum kembali melemah, indeks sempat bangkit ke zona hijau dengan dibuka naik 0,15 persen atau 8,83 poin di posisi 5.921,91 pada Kamis (13/2) pagi. Sepanjang perdagangan sesi I, IHSG bergerak fluktuatif di level 5.873,29 – 5.929,50.

Seluruh 9 sektor menetap di wilayah negatif pada akhir sesi I, dipimpin infrastruktur (-1,54 persen), pertanian (-1,38 persen), dan barang konsumen (-1,18 persen).

Sebanyak 119 saham menguat, 240 saham melemah, dan 321 saham stagnan dari 680 saham yang diperdagangkan di Bursa Efek Indonesia.

Saham PT Unilever Indonesia Tbk. (UNVR) dan PT Telekomunikasi Indonesia (Persero) Tbk. (TLKM) yang masing-masing turun 3,29 persen dan 1,83 persen menjadi penekan utama pelemahan IHSG pada akhir sesi I.

Sejalan dengan IHSG, indeks Bisnis-27 melemah 0,66 persen atau 3,53 poin ke level 530,63, sedangkan indeks saham syariah Jakarta Islamic Index melorot 1,37 persen atau 8,58 poin ke posisi 619,21 pada akhir sesi I.

Mayoritas indeks saham di Asia juga bergerak negatif, di antaranya indeks Nikkei 225 dan Topix Jepang yang masing-masing turun 0,2 persen dan 0,39 persen, serta indeks Kospi Korea Selatan yang terkoreksi 0,23 persen.

Di China, indeks Shanghai Composite dan CSI 300 China masing-masing melemah 0,53 persen dan 0,48 persen. Adapun indeks Hang Seng Hong Kong turun 0,37 persen.

Di pasar spot, nilai tukar rupiah melemah 14 poin atau 0,1 persen ke level Rp13.688 per dolar AS pukul 11.54 WIB, setelah dibuka terapresiasi tipis 0,01 persen atau 1 poin di posisi 13.673.

Equity World

IHSG Berakhir Memerah Saat Saham Asia Terangkat | Equity World

Dilansir Bloomberg, mayoritas mata uang di Asia melemah saat pasar mencermati lonjakan kasus baru terinfeksi virus corona (coronavirus) Covid-19 di China. Indeks saham di kawasan ini pun terseret ke zona merah.

Padahal, tren baru-baru ini menunjukkan bahwa laju infeksi virus tersebut mulai stabil.

Pada Rabu (12/2/2020), provinsi Hubei, jantung wabah virus itu, menambahkan 14.840 kasus baru selama periode 24 jam. Lonjakan kasus ini terjadi setelah komisi kesehatan setempat merevisi metode untuk menghitung jumlah kasus terinfeksi.

“Pasar mengambil jeda untuk mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi dengan virus corona dan akan mencari tahu data tersebut dalam beberapa hari ke depan,” ujar Steve Brice, kepala strategi investasi di Standard Chartered Private Bank, kepada Bloomberg TV.

“Kekhawatirannya adalah jika data itu merupakan langkah mundur dalam hal reklasifikasi dan karena itu, tren jumlah kasus baru yang melambat masih ada, atau ini pertanda tren tersebut akan berbalik dan menjadi lebih mengkhawatirkan,” tambahnya.

Equity World | Wall Street Cetak Rekor, Bursa Saham Asia Kompak Menghijau

Equity World | Wall Street Cetak Rekor, Bursa Saham Asia Kompak Menghijau

Equity World | Seluruh bursa saham utama kawasan Asia kompak menutup perdagangan kedua di pekan ini, Selasa (11/2/2020), di zona hijau.

Pada penutupan perdagangan, indeks Shanghai naik 0,39%, indeks Hang Seng menguat 1,26%, indeks Straits Times terapresiasi 0,39%, dan indeks Kospi bertambah 1%. Untuk diketahui, perdagangan di bursa saham Jepang pada hari ini sedang diliburkan.

Bursa saham Benua Kuning sukses mengekor jejak Wall Street yang ditutup menguat pada perdagangan kemarin, Senin (10/2/2020). Pada perdagangan kemarin, indeks Dow Jones naik 0,6%, indeks S&P 500 menguat 0,73%, dan indeks Nasdaq Composite terapresiasi 1,13%. Indeks S&P 500 dan Nasdaq Composite ditutup di level tertinggi sepanjang masa.

Jika dihitung di sepanjang bulan Februari (hingga penutupan perdagangan kemarin), indeks S&P 500 tercatat sudah melejit hingga 3,92%.

Rilis data ekonomi yang menggembirakan sukses memantik aksi beli di bursa saham AS di sepanjang bulan ini. Pada awal pekan kemarin, Manufacturing PMI AS periode Januari 2020 versi Institute for Supply Management (ISM) diumumkan di level 50,9, di atas konsensus yang sebesar 48,5, seperti dilansir dari Forex Factory.

Sebagai informasi, angka di atas 50 berarti aktivitas manufaktur membukukan ekspansi jika dibandingkan dengan bulan sebelumnya, sementara angka di bawah 50 menunjukkan adanya kontraksi.

Ekspansi aktivitas manufaktur AS pada bulan lalu menandai ekspansi pertama dalam enam bulan.

Kemudian, penciptaan lapangan kerja periode Januari 2020 (di luar sektor pertanian) versi Automatic Data Processing (ADP) diumumkan sebanyak 291.000, di atas konsensus yang dihimpun oleh Dow Jones sebanyak 150.000. Penciptaan lapangan kerja tersebut jauh lebih tinggi jika dibandingkan dengan capaian bulan Desember yang hanya sebanyak 199.000.

Melansir CNBC International, penciptaan lapangan kerja yang sebanyak 291.000 pada bulan lalu merupakan capaian terbaik sejak Mei 2015.

Lebih lanjut, Services PMI periode Januari 2020 versi ISM diumumkan di level 55,5, di atas konsensus yang sebesar 55,1, seperti dilansir dari Forex Factory.

Teranyar menjelang akhir pekan kemarin, penciptaan lapangan kerja periode Januari 2020 (di luar sektor pertanian) versi resmi pemerintah AS diumumkan sebanyak 225.000, jauh di atas ekspektasi yang sebanyak 163.000, seperti dilansir dari Forex Factory.

Rilis data ekonomi yang menggembirakan tersebut memberikan harapan bahwa laju perekonomian AS akan membaik di tahun 2020.

Belum lama ini, pembacaan awal atas angka pertumbuhan ekonomi AS periode kuartal IV-2019 diumumkan di level 2,1% (QoQ annualized), sesuai dengan konsensus yang dihimpun oleh Dow Jones.

Untuk keseluruhan tahun 2019, perekonomian AS hanya tumbuh 2,3%, menandai laju pertumbuhan terlemah dalam tiga tahun. Untuk diketahui, pada tahun 2017 perekonomian AS tumbuh sebesar 2,4%, diikuti pertumbuhan sebesar 2,9% pada tahun 2018.

Laju pertumbuhan tersebut juga berada di bawah target yang dipatok oleh pemerintahan Presiden AS Donald Trump. Pasca resmi memangkas tingkat pajak korporasi dan individu pada tahun 2017, Gedung Putih memproyeksikan pertumbuhan ekonomi untuk setidaknya berada di level 3%.

Di sisi lain, kinerja bursa saham Asia dibatasi oleh terus meluasnya infeksi virus Corona. Virus Corona sendiri merupakan virus yang menyerang sistem pernafasan manusia. Gejala dari paparan virus Corona meliputi batuk, sakit tenggorokan, sakit kepala, dan demam, seperti dilansir dari CNN International.

Berpusat di China, kasus infeksi virus Corona juga dilaporkan telah terjadi di negara-negara lain. Dilansir dari halaman Johns Hopkins, hingga kini setidaknya sebanyak 28 negara telah mengonfirmasi terjadinya infeksi virus Corona di wilayah mereka.

China, Hong Kong, Korea Selatan, Taiwan, Thailand, AS, Vietnam, Prancis, Jerman, Inggris, Nepal, dan Kanada termasuk ke dalam daftar negara yang sudah melaporkan infeksi virus Corona.

Melansir CNBC International, hingga kemarin sebanyak 1.016 orang di China telah meninggal akibat infeksi virus Corona, dengan jumlah kasus mencapai lebih dari 42.000.

Equity World

Duh! Bursa Asia Menghijau, IHSG Drop Nyaris 1% | Equity World

Riset dari Standard & Poor’s (S&P) menyebutkan bahwa virus Corona akan memangkas pertumbuhan ekonomi China sekitar 1,2 persentase poin. Jadi, kalau pertumbuhan ekonomi China pada tahun ini diperkirakan berada di level 6%, maka virus Corona akan memangkasnya menjadi 4,8% saja.

Untuk diketahui, pada tahun 2019 perekonomian Negeri Panda tercatat tumbuh sebesar 6,1%, melambat signifikan dari yang sebelumnya 6,6% pada tahun 2018. Melansir CNBC International yang mengutip Reuters, pertumbuhan ekonomi China pada tahun 2019 merupakan yang terlemah sejak tahun 1990.

“Pada tahun 2019, konsumsi menyumbang sekitar 3,5 persentase poin dari pertumbuhan ekonomi China yang sebesar 6,1%. Dengan perkiraan konsumsi domestik turun 10%, maka pertumbuhan ekonomi secara keseluruhan akan berkurang sekitar 1,2 persentase poin,” tulis riset S&P.

Meluasnya infeksi virus Corona di China terbukti sukses dalam menggangu kegiatan ekonomi masyarakat dan perusahaan-perusahaan di sana.
Perkembangan terbaru, kini beberapa provinsi dan distrik telah mengabarkan kepada perusahaan-perusahaan untuk tak beroperasi hingga tanggal 1 Maret, seperti dilansir dari CNBC International yang mengutip pejabat-pejabat pemerintahan China.

Sejauh ini, China merupakan negara dengan nilai perekonomian terbesar kedua di planet bumi, sekaligus pemain utama dalam rantai pasok dunia. Lantas, dampak dari tekanan terhadap perekonomian China dipastikan akan sangat terasa bagi perekonomian global.

Equity World | Korban Corona 1.000 Lebih, Bursa Asia Berani ke Zona Hijau

Equity World | Korban Corona 1.000 Lebih, Bursa Asia Berani ke Zona Hijau

Equity World | Bursa saham Asia pada perdagangan pagi mulai berani bergerak ke zona hijau, setelah terus tertekan karena sentimen negatif virus corona.

Bursa saham Hong Kong melonjak pada pembukaan dimana, indeks Hang Seng naik 1,0% atau 272,91 poin menjadi 27.514,25. Shanghai Composite Index Cina dibuka 0,14% atau bertambah 4,05 poin ke pada 2.894,54. Indeks Komposit Shenzhen naik 0,11% ke level 1.759,26.

Investor terus mengamati perkembangan wabah virus corona yang sedang berlangsung. Ketidakpastian mulai berakhir setelah para pekerja mulai kembali ke pabrik-pabrik.

“Ada risiko penuruna pertumbuhan PDB Tiongkok selama Q1 20 dan 2020 mendapatkan momentum,” kata Richard Grace, ahli strategi mata uang senior dan kepala ekonomi internasional di Commonwealth Bank of Australia, dalam risetnya seperti dikutip dari CNBC International.

“Dengan ekonomi Tiongkok menyumbang sekitar 17% dari PDB dunia, tetapi memperhitungkan kontribusi signifikan terhadap pertumbuhan ekonomi global, risiko penurunan yang lebih besar ke pertumbuhan global jelas,” kata Grace.

Equity World

Ikuti Jejak Wall Street & Bursa Asia, IHSG ke Zona Hijau | Equity World

Dampaknya PDB AS juga bisa terkena dampaknya. Survei CNBC terhadap 11 ahli selama akhir pekan lalu dihasilkan estimasi PDB kuartal pertama rata-rata hanya 1,2%, turun hampir satu poin dari kuartal keempat. Ekonom melihat kenaikan kembali ke pertumbuhan 2% pada kuartal kedua, tergantung pada tingkat keparahan virus di Cina dan di negara lain.

Sementara itu dari AS, Dow Jones Industrial Average naik 174,31 poin menjadi ditutup pada 29.276,82 sementara S&P 500 menambahkan 0,6% untuk mengakhiri hari perdagangannya di 3.352,09. Nasdaq Composite ditutup 1% lebih tinggi pada 9,628.3.

Equity World | Neraca Pembayaran Surplus, IHSG Turun 0,7% terseret Bursa Saham Asia

Equity World | Neraca Pembayaran Surplus, IHSG Turun 0,7% terseret Bursa Saham Asia

Equity World | Indeks harga saham gabungan (IHSG) pada sesi I perdagangan Senin (10/2), turun 42,27 poin atau 0,70% ke level 5.957,34. Kinerja IHSG terseret bursa saham Asia lainnya yang juga turun, dengan hanya indeks Shanghai Composite yang bergerak positif pada siang ini. Hingga pukul 12.45, indeks Strait Times memimpin koreksi bursa saham Asia dengan koreksi 0,71%, diikuti indeks Hang Seng yang turun 0,68%, Kospi turun 0,63%, serta Nikkei 225 turun 0,55%. Sedangkan indeks Shanghai naik tipis 0,07%.

Koreksi pada IHSG terjadi di tengah positifnya neraca pembayaran Indonesia kuartal IV yang mencatatkan surplus US$ 4,3 miliar, lebih baik dibandingkan periode triwulan sebelumnya yang defisit US$ 46 juta. Namun IHSG terseret kinerja bursa saham global dan Asia yang memerah. Sementara ini hanya indeks Shanghai yang hijau karena aktivitas bisnis di sana sudah dimulai kembali setelah pemerintah mencabut sejumlah restriksi, dan sarana transportasi sudah mulai beroperasi meski jumlah korban virus corona terus bertambah.

“Market berbalik naik tipis merefleksikan kabar bahwa aktivitas bisnis di Tiongkok sudah dimulai kembali. Tapi secara keseluruhan masih ada kekhawatiran pasar belum sepenuhnya menyerap dampak wabah virus corona,” kata analis Argonaut James McGlew seperti dilansir Reuters. Dia menilai kebijakan pemerintah Tiongkok membuka kembali aktivitas bisnis lebih merupakan gestur simbolis bukan karena mereka berhasil mengendalikan wabah.

Equity World

‘Dihantui’ Virus Corona, Bursa Saham Asia Kompak Melemah | Equity World

Hingga hari ini wabah virus corona telah menyebabkan jumlah korban meninggal lebih banyak dibandingkan wabah SARS pada 2002/2003. Lebih dari 900 orang meninggal, virus pun telah menyebar ke 27 negara menginfeksi lebih dari 300 orang di luar Tiongkok. Adapun total perdagangan saham di bursa domestik hingga siang ini mencapai 2,97 miliar saham dengan nilai transaksi mencapai 2,57 triliun. Sebanyak 254 saham harganya turun, 94 saham naik, dan 120 lainnya tidak bergerak alias stagnan.

Koreksi terutama didorong oleh beberapa indeks sektoral seperti agri yang turun hingga 2,12%, diikuti aneka industri 1,48%, industri dasar 1,29%, konsumer 0,56%, serta finance 0,80%. Beberapa saham yang signifikan menekan laju IHSG di antaranya Astra Agro Lestari Tbk (AALI) yang turun 2,49%, Astra International Tbk (ASII) turun 1,95%, Indah Kiat Pulp and Paper Tbk (INKP) turun 3,31%, serta Pabrik Kertas Tjiwi Kimia Tbk (TKIM) turun 3,11%. Selain itu saham Indocement Tunggal Prakasa Tbk (INTP) juga turun 1,3%, Indofood Sukses Makmur Tbk (INDF) turun 1,27%, serta saham-saham bank juga berguguran menekan indeks sektor keuangan.

Equity World | Bursa Saham Asia Melemah, Akhir Sesi Satu IHSG Masih Hijau

Equity World | Bursa Saham Asia Melemah, Akhir Sesi Satu IHSG Masih Hijau

Equity World | Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengawali perdagangan terakhir di pekan ini, Jumat (7/2/2020), di zona hijau.

Pada pembukaan perdagangan, IHSG menguat 0,02% ke level 5.988,06. Per akhir sesi satu, apresiasi indeks saham acuan di Indonesia tersebut telah bertambah lebar menjadi 0,15% ke level 5.996,29.

Jika apresiasi IHSG bertahan hingga akhir perdagangan, maka akan menandai apresiasi selama empat hari beruntun.

Kinerja IHSG berbanding terbalik dengan seluruh bursa saham utama kawasan Asia yang justru sedang bergerak di zona merah. Hingga berita ini diturunkan, indeks Nikkei terpangkas 0,17%, indeks Shanghai turun 0,59%, indeks Hang Seng melemah 0,78%, indeks Straits Times jatuh 0,71%, dan indeks Kospi terkoreksi 1,04%.

Terus meluasnya infeksi virus Corona menjadi faktor yang menekan kinerja bursa saham Benua Kuning. Virus Corona sendiri merupakan virus yang menyerang sistem pernafasan manusia. Gejala dari paparan virus Corona meliputi batuk, sakit tenggorokan, sakit kepala, dan demam, seperti dilansir dari CNN International.

Berpusat di China, kasus infeksi virus Corona juga dilaporkan telah terjadi di negara-negara lain. Melansir publikasi Johns Hopkins, hingga kini setidaknya sebanyak 28 negara telah mengonfirmasi terjadinya infeksi virus Corona di wilayah mereka.

China, Hong Kong, Korea Selatan, Taiwan, Thailand, AS, Vietnam, Prancis, Jerman, Inggris, Nepal, dan Kanada termasuk ke dalam daftar negara yang sudah melaporkan infeksi virus Corona.

Melansir CNBC International, hingga kemarin, Kamis (6/2/2020), sebanyak 636 orang di China telah meninggal akibat infeksi virus Corona, dengan jumlah kasus mencapai lebih dari 31.000.

Riset dari Standard & Poor’s (S&P) menyebutkan bahwa virus Corona akan memangkas pertumbuhan ekonomi China sekitar 1,2 persentase poin. Jadi, kalau pertumbuhan ekonomi China pada tahun ini diperkirakan berada di level 6%, maka virus Corona akan memangkasnya menjadi 4,8% saja.

Untuk diketahui, pada tahun 2019 perekonomian Negeri Panda tercatat tumbuh sebesar 6,1%, melambat signifikan dari yang sebelumnya 6,6% pada tahun 2018. Melansir CNBC International yang mengutip Reuters, pertumbuhan ekonomi China pada tahun 2019 merupakan yang terlemah sejak tahun 1990.

“Pada tahun 2019, konsumsi menyumbang sekitar 3,5 persentase poin dari pertumbuhan ekonomi China yang sebesar 6,1%. Dengan perkiraan konsumsi domestik turun 10%, maka pertumbuhan ekonomi secara keseluruhan akan berkurang sekitar 1,2 persentase poin,” tulis riset S&P.

Equity World

Harga Emas Antam Terus Naik, Sentuh Rp 772 Ribu per Gram | Equity World

Meluasnya infeksi virus Corona memang datang di saat yang sangat tidak tepat, yakni kala masyarakat China tengah merayakan hari raya Tahun Baru China atau yang dikenal dengan istilah Imlek di Indonesia.

Selama libur Tahun Baru China, masyarakat China biasanya kembali ke kampung halamannya, sama seperti yang dilakukan masyarakat Indonesia pada hari raya Idul Fitri. Dalam periode tersebut, konsumsi masyarakat China biasanya akan meningkat drastis.

Pemerintah China sendiri sejatinya memperkirakan bahwa akan ada sebanyak tiga miliar perjalanan pada Tahun Baru China kali ini, naik dibandingkan tahun lalu yaitu 2,99 miliar perjalanan. Dari tiga miliar perjalanan tersebut, 2,43 miliar diperkirakan ditempuh dengan mobil, 440 juta dengan kereta api, 79 juta dengan pesawat terbang, dan 45 juta dengan kapal laut.

Namun, kemungkinan besar estimasi tersebut akan meleset jauh, mengingat banyak wilayah di China yang dikarantina guna menekan meluasnya infeksi virus Corona.

Bahkan, pemerintah China memutuskan untuk memperpanjang libur Tahun Baru China di negaranya. Sejatinya, libur Tahun Baru China pada awalnya dijadwalkan untuk berlangsung pada tanggal 24 hingga 30 Januari 2020.

Berlaku secara nasional, pemerintah China kemudian memperpanjang libur Tahun Baru China hingga akhir pekan kemarin.

Equity World | Bursa Asia Ditutup Naik, Eropa Dibuka Menguat

Equity World | Bursa Asia Ditutup Naik, Eropa Dibuka Menguat

Equity World | Bursa saham regional Asia pada penutupan sore ini Rabu (5/2/2020) bervariasi dengan kecenderungan naik. Sementara bursa saham Eropa dibuka dengan tren menguat.

Mengacu data Bloomberg, hingga sore ini pukul 16.00 WIB, indeks Asia Pasifik di luar Jepang, MSCI index naik 6,95 poin (0,49 persen) mencapai 1.346, indeks Nikkei 225 Jepang ditutup naik 234 poin (1,02 persen) mencapai 23.319, Shanghai SE composite di Tiongkok naik 34 poin (1,25 persen) mencapai 2.818, indeks Hang Seng di Hong Kong naik 110 poin (0,42 persen) mencapai 26.786, dan Kospi di Korea Selatan ditutup naik 7 poin (0,36 persen) mencapai 2.165, bursa Australia ASX 200 naik 27 (0,39 persen) mencapai 6.976.

Equity World

Bursa Saham Asia Dukung Penanganan Virus Corona | Equity World

Di Asia Tenggara, bursa Malaysia KLCI naik 0,9 poin (0,06 persen) menjadi 1.536, Strait Times Singapura pada pukul 16.00 ditutup naik 43 poin (1,38 persen) mencapai 3.200, bursa Thailand Thai set 50 index naik 9 poin (0,8 persen) menjadi 1.032.

Sementara mayoritas indeks saham di Eropa menguat di awal perdagangan. Indeks FTSE100 di Inggris naik 57,6 (0,7 persen) menjadi 7.497, DAX di Jerman naik 161,9 (1,21) mencapai 13.442, dan CAC 40 di Prancis naik 59,7 (1,0 persen) menjadi 5.994.

PT Equityworld | Mayoritas laporan kinerja melebih target, Wall Street kembali dibuka menguat

PT Equityworld | Mayoritas laporan kinerja melebih target, Wall Street kembali dibuka menguat

PT Equityworld | Wall Street kembali dibuka menguat. Kenaikan sektor teknologi membantu indeks utama Wall Street menguat untuk hari kedua pada Selasa (4/2).

Kemarin, Wall Street berhasil unggul setelah intervensi baru oleh People’s Bank of China (PBoCC) menenangkan saraf investor.

Seperti diketahui, China menyuntikkan CNY 1,7 triliun setara US$ 242,74 miliar melalui reverse repo pada hari Senin dan Selasa. Hal ini membantu bursa saham China membalikkan keadaan setelah anjlok pada Senin (3/2).

Stimulus meningkatkan sentimen investor bahkan ketika beberapa ekonom memangkas perkiraan mereka untuk pertumbuhan global 2020 karena virus corona yang menyebar cepat telah menghambat pertumbuhan di ekonomi terbesar kedua di dunia itu.

“Investor tampaknya bereaksi positif terhadap langkah-langkah yang saat ini diambil oleh otoritas China,” kata Art Hogan, Kepala Strategi Pasar National Securities kepada Reuters.

“Apakah virus memiliki dampak yang langgeng pada ekonomi global yang lebih luas tergantung pada kemampuan pemerintah-pemerintah utama dunia untuk secara efektif menggunakan sumber daya untuk mengatasi wabah itu.”

Sembilan dari 11 sektor S&P utama berhasil melesat, dipimpin oleh kenaikan 1,7% dalam stok energi karena harga minyak rebound. Peningkatan lebih dari 1,5% terjadi pada saham Apple Inc dan Microsoft Corp membantu indeks teknologi naik 1,8%.

Tapi Alphabet Inc tergelincir 3,4% setelah bisnis periklanan Google dan data baru tentang YouTube dan Google Cloud mengecewakan investor.

Dow Jones Industrial Average naik 444,78 poin, atau 1,57%, pada 28.844,59, S&P 500 naik 46,03 poin, atau 1,42%, pada 3.294,95 dan Nasdaq Composite naik 137,94 poin, atau 1,49%, di 9.411,34.

PT Equityworld

Bank Sentral China Pangkas Suku Bunga Acuan, Wall Street Melaju | PT Equityworld

Kekhawatiran tentang dampak ekonomi dari wabah virus corona mulai terkikis setelah 70% dari hampir setengah perusahaan S&P 500 yang telah melaporkan sejauh ini telah melampaui estimasi pendapatan.

Kinerja Ralph Lauren Corp melonjak 6,4% setelah laba kuartal liburan pengecer mengalahkan ekspektasi pasar. Sementara perusahaan asuransi kesehatan, Centene Corp, tergelincir sekitar 0,5%, terbebani oleh lonjakan biaya medis triwulanan

Investor juga mengamati perlombaan pencalonan presiden Demokrat AS yang memulai awal yang kacau pada hari Senin, dengan para pejabat menyalahkan “inkonsistensi” atas keterlambatan yang tidak terbatas dalam hasil kaukus negara.

Masalah yang maju melebihi jumlah decliners dengan rasio 4,63 banding 1 di NYSE dan dengan rasio 4,71 banding 1 di Nasdaq. Indeks S&P mencatat 43 tertinggi baru 52-minggu dan dua terendah baru, sedangkan Nasdaq mencatat 71 tertinggi baru dan 14 terendah baru

Equityworld Futures | Ikuti Jejak Wall Street, Bursa Saham Asia Menghijau

Equityworld Futures | Ikuti Jejak Wall Street, Bursa Saham Asia Menghijau

Equityworld Futures | Mayoritas bursa saham utama kawasan Asia mengawali perdagangan kedua di pekan ini, Selasa (4/2/2020), di zona hijau.

Pada pembukaan perdagangan, indeks Hang Seng naik 0,51%, indeks Straits Times menguat 0,62%, dan indeks Kospi terapresiasi 0,11%.

Bursa saham Benua Kuning berhasil bangkit pasca sudah diterpa tekanan jual dengan intensitas yang besar pada perdagangan kemarin, Senin (3/2/2020).

Bursa saham Benua Kuning mengekor kinerja Wall Street yang ditutup menguat pada dini hari tadi. Pada penutupan perdagangan, indeks Dow Jones naik 0,51%, indeks S&P 500 menguat 0,73%, dan indeks Nasdaq Composite terapresiasi 1,34%.

Wall Street berhasil bangkit pasca sudah babak belur pada pekan kemarin. Di sepanjang pekan kemarin, indeks Dow Jones anjlok 2,55%, indeks S&P 500 ambruk 2,16%, dan indeks Nasdaq Composite terkoreksi 1,76%.

Pada perdagangan terakhir di pekan kemarin, Jumat (31/1/2020), indeks Dow Jones jatuh 2,09%, indeks S&P 500 melemah 1,77%, dan indeks Nasdaq Composite terkoreksi 1,59%. Indeks Dow Jones mencatatkan kinerja harian terburuk sejak Agustus 2019, sementara indeks S&P 500 menorehkan kinerja harian terburuk sejak Oktober 2019.

Rilis data ekonomi yang menggembirakan menjadi faktor yang memantik aksi beli di bursa saham AS. Kemarin, Manufacturing PMI AS periode Januari 2020 versi Institute for Supply Management (ISM) diumumkan di level 50,9, di atas konsensus yang sebesar 48,5, seperti dilansir dari Forex Factory.

Sebagai informasi, angka di atas 50 berarti aktivitas manufaktur membukukan ekspansi jika dibandingkan dengan bulan sebelumnya, sementara angka di bawah 50 menunjukkan adanya kontraksi.

Equityworld Futures

Inflasi Naik Karena Harga Rokok, Sri Mulyani: Hanya Musiman | Equityworld Futures

Ekspansi aktivitas manufaktur AS pada bulan Januari merupakan ekspansi pertama dalam enam bulan.

Di sisi lain, kinerja bursa saham Asia dibatasi oleh meluasnya infeksi virus Corona. Virus Corona sendiri merupakan virus yang menyerang sistem pernafasan manusia. Gejala dari paparan virus Corona meliputi batuk, sakit tenggorokan, sakit kepala, dan demam, seperti dilansir dari CNN International.

Berpusat di China, kasus infeksi virus Corona juga dilaporkan telah terjadi di negara-negara lain. Hingga hari ini, setidaknya sebanyak 22 negara telah mengonfirmasi terjadinya infeksi virus Corona di wilayah mereka.

China, Korea Selatan, Taiwan, Thailand, AS, Vietnam, Prancis, Jerman, Inggris, Nepal, dan Kanada termasuk ke dalam daftar negara yang sudah melaporkan infeksi virus Corona.

Melansir Bloomberg, hingga hari Sabtu (1/2/2020) sebanyak 304 orang di China telah meninggal akibat infeksi virus Corona, dengan jumlah kasus mencapai lebih dari 14.000. Padahal hingga akhir pekan sebelumnya, jumlah korban meninggal baru mencapai 56 orang.

Equityworld Futures | Bursa China Seret Saham Asia Melemah Lebih Lanjut

Equityworld Futures | Bursa China Seret Saham Asia Melemah Lebih Lanjut

Equityworld Futures | Bursa saham China terjerembab dan menyeret bursa Asia melemah lebih lanjut pada perdagangan hari ini, Senin (3/2/2020), di tengah memburuknya wabah virus corona (coronavirus).

Di sisi lain, langkah-langkah dukungan dari pemerintah China membantu membendung penurunan di pasar saham wilayah lain. Kontrak berjangka AS naik dan kontrak berjangka di Eropa bergerak ke posisi lebih tinggi.

Berdasarkan data Bloomberg, indeks MSCI Asia Pacific melemah 0,8 persen pukul 7 pagi waktu London (pukul 15.00 WIB).

Pada saat yang sama, indeks Shanghai Composite China meluncur 7,7 persen, indeks Topix Jepang ditutup melorot 0,7 persen, dan indeks S&P/ASX 200 Australia turun tajam 1,3 persen.

Adapun indeks Hang Seng Hong Kong naik 0,2 persen, Kospi Korea Selatan fluktuatif, dan indeks futures Euro Stoxx 50 naik tipis 0,1 persen. Di Amerika Serikat, indeks futures bertambah setelah indeks saham acuannya merosot 1,8 persen pada perdagangan Jumat (31/1/2020).

Jumlah total pasien terinfeksi wabah virus corona telah melewati angka 17.000 secara nasional sementara sedikitnya 360 orang meninggal di China hingga Senin (3/2/2020), menurut Komisi Kesehatan Nasional China.

Investor menghadapi lebih banyak gejolak setelah pasar ekuitas global pekan lalu membukukan pekan terburuknya sejak Agustus di tengah kekhawatiran atas goyahnya pertumbuhan akibat penyebaran virus tersebut.

Pada Senin (3/2), People’s Bank of China (PBOC) atau Bank Rakyat China menginjeksi uang tunai ke dalam sistem keuangannya. Ini merupakan bagian dari serangkaian langkah untuk menopang pasar keuangan Negeri Tirai Bambu.

Equityworld Futures

Corona Nggak Kira-kira, Bursa Asia Juga Dibikin Babak Belur | Equityworld Futures

PBOC menginjeksi dana 900 miliar yuan atau US$129 miliar dengan seven-day reverse repurchase agreements sebesar 2,4 persen, juga suntikan 300 miliar yuan atau US$45 miliar dengan 14-day contracts sebesar 2,55 persen.

Hal tersebut merupakan upaya PBOC memastikan kecukupan likuiditas ketika bursa saham jatuh begitu dibuka pertama kali hari ini setelah libur Imlek. Injeksi dana segar itu memotong beban biaya pinjaman sebesar 10 basis poin.

Pihak otoritas telah berjanji untuk menyediakan likuiditas berlimpah dan mendesak investor untuk mengevaluasi dampak virus corona secara objektif.

Namun menurut Andrew Harmstone, manajer portofolio di Morgan Stanley Investment Management, saat ini belum waktunya untuk kembali masuk ke dalam pasar dan melakukan pembelian.

“Kita harus melihat lebih banyak puncak dari aksi jual ataupun resolusi atas penyebaran virus,” tambahnya, kepada Bloomberg TV di Singapura.

Equityworld Futures | Jualan Emas Antam Rekor 34 Ton, Gimana Tren Saham ANTM?

Equityworld Futures | Jualan Emas Antam Rekor 34 Ton, Gimana Tren Saham ANTM?

Equityworld Futures | Manajemen PT Antam Tbk (ANTM) membukukan penjualan bersih belum diaudit (unaudited) sepanjang tahun lalu sebesar Rp 32,81 triliun atau naik 30% dibandingkan dengan penjualan bersih (audited) tahun 2018 sebesar Rp 25,24 triliun.

Hanya saja, perseroan belum mengungkapkan besaran laba bersih perusahaan. Pada 2019, berdasarkan laporan highlights yang disampaikan di Bursa Efek Indonesia, Sekretaris Perusahaan Antam Kunto Hendrapawoko, menjelaskan capaian produksi dan penjualan feronikel tertinggi sepanjang sejarah perusahaan.

Volume produksi unaudited feronokel mencapai 25.713 ton nikel dalam feronikel (TNi), sementara volume penjualan unaudited feronikel mencapai 26,348 TNi.

Antam juga mencatat penjualan emas tertinggi sepanjang seharah perusahaan yakni penjualan unaudited sebesar 34 ton emas (1.093.864 troy oz) atau naik 22% dibandingkan dengan tahun 2018 sebesar 27,89 ton (896.812 troy oz).

Equityworld Futures

Di bawah Bayang-Bayang Corona, Harga Emas Antam Cari Aman | Equityworld Futures

“Khusus kuartal 4-2019, penjualan unaudited emas tercatat sebesas 7.307 kg atau 7,31 ton emas (234.925 troy oz),” tulis Kunto dalam keterbukaan informasi di BEI, Senin (3/2/2020).

Namun berdasarkan data BEI, Saham ANTM hari ini masih minus 0,69% di level Rp 715/saham. Secara year to date, saham ANTM minus 14,88% dengan kapitalisasi pasar Rp 17,18 triliun. Saham ANTM hari ini diperdagangkan sebanyak 25,63 juta saham dan nilai perdagangan Rp 18,37 miliar.

Design a site like this with WordPress.com
Get started