Equityworld Futures | Wall Street Bervariasi di Tengah Penutupan Pemerintah AS

Equityworld Futures | Wall Street Bervariasi di Tengah Penutupan Pemerintah AS

Equityworld Futures | Indeks S&P 500 mencatat rekor penutupan tertinggi dalam sesi perdagangan yang bergejolak pada Jumat (3/10). Ekspektasi pasar terhadap penurunan suku bunga tetap kuat, meskipun penutupan sebagian pemerintah Amerika Serikat telah memasuki hari ketiga.

Equityworld Futures | Sejarah Dunia! Harga Emas Resmi Memasuki Level US$ 3.900

Selain S&P 500, Dow Jones Industrial Average juga mencetak rekor penutupan baru. Sementara Nasdaq Composite justru melemah di akhir sesi.

Mengutip Reuters, Rata-rata Industri Dow Jones (.DJI) naik 238,56 poin atau 0,51 persen menjadi 46.758,28. Indeks S&P 500 (.SPX) menguat tipis 0,44 poin atau 0,01 persen menjadi 6.715,79. Sementara itu, Nasdaq Composite (.IXIC) turun 63,54 poin atau 0,28 persen menjadi 22.780,51.

Sektor teknologi S&P 500 (.SPLRCT) melemah, dipimpin penurunan saham Applied Materials (AMAT.O) sebesar 2,7 persen setelah perusahaan itu memperkirakan kerugian US$600 juta terhadap pendapatan tahun fiskal 2026. Saham Tesla (TSLA.O) juga turun 1,4 persen. Sebaliknya, sektor utilitas (.SPLRCU) naik 1,2 persen dan memimpin penguatan di antara sektor lainnya.

Laporan penggajian nonpertanian AS untuk September seharusnya dirilis Jumat, namun tertunda akibat penutupan pemerintah. Investor masih mencerna survei dari Institute for Supply Management (ISM) yang menunjukkan kontraksi ketenagakerjaan sektor jasa selama empat bulan berturut-turut. Data ini memperkuat harapan akan pemangkasan suku bunga lebih lanjut oleh Federal Reserve (The Fed).

“Rasanya momentum memang berpihak pada investor selama beberapa hari terakhir,” kata Mona Mahajan, Kepala Strategi Investasi di Edward Jones.

“Mungkin karena ada potensi dampak terhadap perekonomian atau beberapa data ketenagakerjaan yang lebih lemah, ekspektasinya adalah kita masih berada dalam situasi di mana The Fed akan memangkas suku bunga,” imbuhnya.

The Fed memangkas suku bunga pada September untuk pertama kalinya sejak Desember, di tengah pelemahan pasar tenaga kerja. Sebelumnya, laporan hari Rabu menunjukkan penurunan jumlah tenaga kerja swasta sebesar 32.000 pada September, serta revisi turun 3.000 pada Agustus.

Secara mingguan, Dow Jones naik 1,1 persen, S&P 500 juga naik 1,1 persen, dan Nasdaq menguat 1,3 persen.

Meski pasar umumnya cenderung mengabaikan penutupan pemerintah, sejumlah analis menilai bahwa jika berlangsung lama, situasi ini bisa menambah ketidakpastian bagi investor dan pembuat kebijakan The Fed.

“Pasar umumnya mengabaikan penutupan pemerintah karena biasanya tidak berlangsung lama dan tidak memiliki dampak negatif jangka panjang terhadap perekonomian,” ujar Anthony Saglimbene, Kepala Strategi Pasar di Ameriprise Financial, Michigan.

“Namun, semakin lama hal ini berlangsung, artinya pengumpulan data untuk laporan yang sangat penting bisa tertunda, atau bisa mengaburkan sebagian data yang nantinya akan kita dapatkan karena pengumpulan data tidak dilakukan dalam jangka waktu yang lama,” tambah Saglimbene.

Dari sisi kebijakan moneter, Presiden Fed Chicago Austan Goolsbee menyatakan masih berhati-hati untuk berkomitmen pada serangkaian pemotongan suku bunga karena inflasi tetap di atas target.

Menurut FedWatch Tool milik CME Group, pelaku pasar memperkirakan pemangkasan suku bunga sebesar 25 basis poin hampir pasti terjadi pada pertemuan The Fed bulan Oktober, dengan kemungkinan 84 persen terjadi pemotongan tambahan pada Desember.

Sementara itu, saham USA Rare Earth (USAR.O) melonjak 14,3 persen setelah CEO Barbara Humpton mengatakan kepada CNBC bahwa perusahaan tersebut “berkomunikasi erat” dengan Gedung Putih.

Di Bursa Efek New York (NYSE), jumlah saham yang naik melampaui yang turun dengan rasio 1,72 banding 1. Sebanyak 686 saham mencatat harga tertinggi baru, sementara 55 saham mencatat harga terendah baru.

Demo Ewf
Demo Equityworld

Equityworld Futures | Harga Minyak Ditutup Anjlok 2% ke Level Terendah Empat Bulan Kamis (2/10)

Equityworld Futures | Harga Minyak Ditutup Anjlok 2% ke Level Terendah Empat Bulan Kamis (2/10)

Equityworld Futures | Harga minyak dunia turun sekitar 2% ke posisi terendah dalam empat bulan pada Kamis (2/10/2025), memperpanjang penurunan untuk hari keempat berturut-turut.

Equityworld Futures | Harga Emas Tiba-Tiba Ambruk Setelah Cetak Rekor, Apa yang Terjadi?

Kekhawatiran terhadap potensi kelebihan pasokan menjelang pertemuan OPEC+ akhir pekan ini menjadi faktor utama tekanan harga.

Melansir Reuters, kontrak berjangka Brent ditutup melemah US$1,24 atau 1,9% ke US$64,11 per barel, level terendah sejak 2 Juni.

Sementara itu, West Texas Intermediate (WTI) AS turun US$1,30 atau 2,1% ke US$60,48 per barel, terendah sejak 30 Mei.

Tiga sumber yang mengetahui pembicaraan menyebutkan, OPEC+ berpotensi menyepakati peningkatan produksi hingga 500.000 barel per hari pada November, tiga kali lipat dari kenaikan di bulan Oktober. Langkah ini sejalan dengan ambisi Arab Saudi merebut kembali pangsa pasar.

“Kami percaya September menjadi titik balik, dengan pasar minyak kini menuju surplus besar pada kuartal IV 2025 hingga tahun depan,” tulis analis JPMorgan.

Menurut JPMorgan, tambahan pasokan OPEC+, turunnya pengolahan kilang global karena perawatan, serta pelemahan permintaan musiman akan mempercepat akumulasi stok minyak.

Hal senada diungkap HFI Research, yang memperkirakan persediaan minyak AS dan global akan terus meningkat hingga akhir tahun, memperlemah pasar lebih lanjut.

Data terbaru Energy Information Administration (EIA) juga menunjukkan stok minyak mentah, bensin, dan distilat AS naik minggu lalu seiring pelemahan permintaan.

“Proyeksi permintaan minyak global masih bervariasi, namun secara rata-rata sudah direvisi turun 150.000 barel per hari sepanjang Januari–September,” tulis analis PVM Energy.

Dari sisi geopolitik, para menteri keuangan G7 berkomitmen memperketat tekanan pada Rusia, termasuk membidik pihak-pihak yang meningkatkan impor minyaknya.

AS juga akan memberikan intelijen kepada Ukraina untuk menyerang infrastruktur energi Rusia, seperti kilang dan pipa, guna memangkas pendapatan Kremlin.

Namun, analis UBS Giovanni Staunovo menilai potensi gangguan pasokan Rusia masih terbatas. “Selama belum ada gangguan nyata, dampak pada harga akan kecil,” ujarnya.

Permintaan stok minyak dari China, sebagai importir terbesar dunia, turut membatasi penurunan harga.

Sementara itu, Colonial Pipeline, jaringan bahan bakar terbesar di AS, kembali beroperasi usai sempat terganggu perawatan sistem.

Demo Ewf
Demo Equityworld

Equityworld Futures | Wall Street Ditutup Menguat, Sektor Kesehatan Jadi Pendorong Utama

Equityworld Futures | Wall Street Ditutup Menguat, Sektor Kesehatan Jadi Pendorong Utama

Equityworld Futures | Indeks saham utama Amerika Serikat (AS) atau Wall Street ditutup naik pada Rabu (1/10), ditopang penguatan saham sektor kesehatan. Investor mengabaikan data penggajian swasta yang lebih lemah dari perkiraan serta ketidakpastian terkait hari pertama penutupan pemerintahan AS.

Equityworld Futures | Shutdown Pemerintah AS, Harga Emas Cetak Rekor Tertinggi Lagi

Mengutip Reuters, rata-rata Industri Dow Jones (.DJI) naik 43,21 poin atau 0,09 persen menjadi 46.441,10. Indeks S&P 500 (.SPX) menguat 22,74 poin atau 0,34 persen ke level 6.711,20, dan Nasdaq Composite (.IXIC) naik 95,15 poin atau 0,42 persen menjadi 22.755,16.

Laporan pekerjaan Departemen Tenaga Kerja bulan September diperkirakan akan tertunda jika pemerintah belum dibuka kembali pada Jumat. Investor tentu memperhatikan laporan ketenagakerjaan nasional ADP.

ADP melaporkan penurunan tenaga kerja swasta sebesar 32.000 pada September, setelah revisi turun 3.000 pada Agustus. Angka ini jauh di bawah perkiraan ekonom yang memproyeksikan pertumbuhan 50.000 pada September dan laporan sebelumnya yang memperkirakan kenaikan 54.000 di Agustus.

Sementara itu, data dari Institute for Supply Management menunjukkan manufaktur AS mulai bergerak menuju pemulihan pada September. Setelah sempat dibuka melemah, ketiga indeks utama AS akhirnya berbalik menguat. Dari 11 sektor utama S&P 500, sektor kesehatan mencatatkan kenaikan terbesar, didorong oleh penguatan saham perusahaan farmasi.

Reli sektor kesehatan dipicu pernyataan Presiden AS Donald Trump dan kesepakatan dengan Pfizer (PFE.N). Perusahaan farmasi itu setuju menurunkan harga obat resep dalam program Medicaid dibandingkan biaya di negara maju lainnya dengan imbalan keringanan tarif. Trump berharap langkah ini diikuti perusahaan farmasi lain.

“Kemarin adalah katalisator bagi sektor perawatan kesehatan,” kata Lara Castleton, kepala konstruksi dan strategi portofolio AS di Janus Henderson Investors.

Ia menambahkan sektor tersebut berpotensi reli setelah sepanjang tahun tertinggal dibanding pasar lain.

“Orang-orang tidak serta merta menghindarinya, tetapi mereka tidak terlalu banyak dialokasikan ke bidang perawatan kesehatan seperti halnya ke bidang teknologi dan semua kehebohan AI,” ujarnya.
Selain sektor kesehatan, teknologi juga menjadi pendorong besar bagi S&P 500. Saham Micron (MU.O) melonjak 8,9 persen, sementara indeks chip Philadelphia (.SOX) naik 2 persen

Demo Ewf
Demo Equityworld

Equityworld Futures | Jangan Kaget! Harga Emas Akhir Tahun Bisa Tembus Segini

Equityworld Futures | Jangan Kaget! Harga Emas Akhir Tahun Bisa Tembus Segini

Equityworld Futures | Harga emas terus melambung tinggi mencapai level tertinggi sepanjang sejarah atau all-time high (ATH). Ketidakpastian ekonomi imbas tensi geopolitik, perang dagang, hingga kebijakan suku bunga bank sentral Amerika Serikat, Federal Reserve alias The Fed, dinilai menjadi biang kerok melonjaknya harga logam mulia ini.

Equityworld Futures | Harga Emas Akhirnya Tembus Rekor US$3.800, Tertinggi Sepanjang Masa!

Bahkan untuk nilai logam mulia Antam yang menjadi patokan harga emas di Indonesia, hari ini sudah mencapai Rp 2.198.000 per gram. Namun apakah harga emas ini akan terus melambung tinggi atau malah turun dan mulai terkoreksi?

Pengamat Ekonomi Mata dan Komoditas, Ibrahim Assuaibi mengatakan nilai logam mulia akan terus naik. Kondisi ini utamanya dipengaruhi oleh pergerakan harga emas dunia yang diperkirakan terus menguat.

Ia menjelaskan penguatan harga emas global ini utamanya dipengaruhi dua faktor, yakni kondisi ekonomi Amerika Serikat (AS) yang kerap menjadi poros perdagangan dan ekonomi dunia, serta kedua akibat dari tensi geopolitik berkepanjangan.

Dari sisi perekonomian AS terdapat perang dagang, rencana penurunan suku bunga The Fed, hingga melemahnya pasar tenaga kerja Negeri Paman Sam jadi pendorong utama. Sementara dari faktor geopolitik, banyaknya konflik bersenjata di area Timur Tengah antara Israel melawan Palestina, serta di Eropa antara Rusia dengan Ukraina yang didukung NATO menjadi biang Keroknya.

“Nah ketegangan ini yang membuat harga emas berlanjut. Sekarang sudah hampir mendekati US$ 3.800 per troy ons, tinggal US$ 7 lagi,” kata Ibrahim kepada detikcom.

Ia memperkirakan harga emas dunia bisa mencapai US$ 3.850 per troy ons hingga akhir 2025, sehingga harga emas di Indonesia yang mengikuti harga global akan ikut naik di atas Rp 2.300.000 per gram.

“Di akhir tahun, kemungkinan besar di bulan Oktober-November US$ 3.850 per troy ons akan tercapai. Jadi, karena perang dagang ini luar biasa, bayangkan 100%, semua negara berdampak semua oleh Trump. Nah sedangkan Trump sendiri menjabat sampai tahun 2028,” paparnya.

Belum lagi dalam perdagangan domestik di Indonesia, harga emas ikut terkerek imbas pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar. Ditambah harga emas global yang terus mengalami kenaikan seperti sekarang ini, membuat lanjut harga emas domestik jadi sangat tinggi.

“Jadi kenapa sih kalau harga logam mulia itu naik ya karena rupiahnya melemah kan. Rupiah kemarin melemah cukup tajam Ya bahkan hampir mendekati level Rp 16.800 kan. Akhirnya pada saat harga emas dunia naik rupiah melemah, ini yang membuat harga logam mulia terus mengalami kenaikan yang cukup signifikan,” terang Ibrahim.

Demo Ewf
Demo Equityworld

Equityworld Futures | Wall Street Hentikan Pelemahan Usai AS Rilis Data Inflasi, Nasdaq Balik Arah

Equityworld Futures | Wall Street Hentikan Pelemahan Usai AS Rilis Data Inflasi, Nasdaq Balik Arah

Equityworld Futures | Indeks Wall Street ditutup naik pada perdagangan Jumat (26/9), tetapi secara mingguan masih mencatatkan penurunan setelah investor mencermati rilis data inflasi Amerika Serikat (AS).

Equityworld Futures | Harga Emas Terus Naik, Hampir Sentuh US$3.800

Dow Jones Industrial Average naik 299,97 poin atau 0,65% ke 46.247,29. S&P 500 menguat 0,59% ke 6.643,70 dan Nasdaq Composite menanjak 0,44% ke 22.484,07. Kenaikan ini menghentikan tren pelemahan tiga hari beruntun. Namun selama sepekan Nasdaq turun 0,7% dan S&P 500 melemah 0,3%. Keduanya mencatat penurunan mingguan pertama dalam empat pekan terakhir.

Dow Jones juga ikut terkoreksi 0,2% secara mingguan. Investor juga mencermati rilis indeks harga pengeluaran konsumsi pribadi (Personal Consumption Expenditures/PCE) Agustus.

Data menunjukkan inflasi inti, yang tidak memasukkan harga makanan dan energi, naik 2,9% secara tahunan, sesuai dengan perkiraan ekonom Dow Jones. Selain inflasi inti, data inflasi AS Agustus juga menunjukkan indeks semua item naik 2,7% secara tahunan dan 0,3% secara bulanan.

Menurut alat CME FedWatch, pasar tetap memperhitungkan dua kali pemangkasan suku bunga masing-masing 25 basis poin pada pertemuan Federal Reserve mendatang, sejalan dengan proyeksi bank sentral.

Namun, hasil ini hanya memberi dampak terbatas ke pasar. Kontrak berjangka saham sempat naik, tetapi investor menimbang data ekonomi lain yang terbit sebelumnya. Pada Kamis, Departemen Tenaga Kerja AS melaporkan rendahnya angka pengangguran.
Seiring dengan itu Biro Analisis Ekonomi merevisi pertumbuhan produk domestik bruto (PDB) kuartal kedua menjadi 3,8%. Kondisi ini meredam optimisme pasar karena menunjukkan ekonomi masih cukup kuat, sehingga memberi Fed lebih sedikit alasan untuk segera menurunkan suku bunga.

Kepala Strategi Pasar Global TradeStation, David Russell, menilai investor kembali masuk setelah Wall Street melemah tiga hari berturut-turut. Menurutnya, data klaim pengangguran dan revisi PDB sempat memicu kekhawatiran bahwa The Fed tidak akan segera menurunkan suku bunga.

“Namun, data inflasi PCE yang sesuai perkiraan meredakan kecemasan pasar,” kata Russell, dikutip CNBC, Senin (29/9).

Meski begitu, pasar tertekan oleh pelemahan saham sektor teknologi. Saham Oracle jatuh lebih dari 8% sepanjang pekan, menyeret kinerja emiten perangkat lunak dan kecerdasan buatan (AI) lainnya di tengah keraguan investor terhadap prospek perdagangan AI.

Demo Ewf
Demo Equityworld

Equityworld Futures | Wall Street Ditutup Melemah Usai AS Rilis Data Ekonomi

Equityworld Futures | Wall Street Ditutup Melemah Usai AS Rilis Data Ekonomi

Equityworld Futures | Bursa saham Amerika Serikat (AS) atau Wall Street ditutup melemah pada perdagangan Kamis (25/9), dengan sebagian besar sektor di indeks S&P 500 turun.

Equityworld Futures | Harga Emas Naik Tipis, Perak Melesat: Tapi Jangan Bahagia Dulu

Hal ini dipicu data ekonomi yang menambah ketidakpastian pasar terkait prospek pemangkasan suku bunga oleh Federal Reserve (The Fed).

Mengutip Reuters, indeks Dow Jones Industrial Average terkoreksi 173,96 poin atau 0,38 persen menjadi 45.947,32. S&P 500 turun 33,25 poin atau 0,50 persen ke level 6.604,72, sementara Nasdaq Composite melemah 113,16 poin atau 0,50 persen menjadi 22.384,70.

Data terbaru menunjukkan klaim awal tunjangan pengangguran AS turun 14.000 menjadi 218.000 pada pekan yang berakhir 20 September. Selain itu, ekonomi AS tumbuh lebih cepat dari perkiraan pada kuartal II berkat konsumsi rumah tangga dan investasi bisnis yang kuat.

Presiden Fed Chicago Austan Goolsbee menyatakan dirinya tidak nyaman jika suku bunga diturunkan terlalu cepat karena inflasi masih berisiko. Komentar ini muncul setelah The Fed pekan lalu memangkas suku bunga pertama sejak Desember sebesar 25 basis poin, dengan sinyal kemungkinan pemangkasan lanjutan.

Ekspektasi investor terhadap pemangkasan tambahan 25 basis poin pada pertemuan Oktober kini turun menjadi 83,4 persen dari 92 persen sehari sebelumnya, menurut CME FedWatch Tool.

Sebagian besar sektor S&P 500 ditutup melemah, kecuali energi yang naik 0,9 persen dan teknologi menguat tipis 0,03 persen berkat lonjakan saham Intel sebesar 8,9 persen. Sementara itu, saham CarMax anjlok 20,1 persen usai melaporkan penurunan laba kuartal II, dan saham Accenture turun 2,7 persen meski pendapatannya melampaui ekspektasi.

Di Bursa New York (NYSE), saham yang turun melampaui yang naik dengan rasio 3,11 banding 1. Terdapat 110 saham menyentuh level tertinggi baru dan 109 saham mencapai level terendah baru.

Di Nasdaq, 1.166 saham naik dan 3.502 saham turun dengan rasio 3 banding 1. Volume transaksi bursa AS mencapai 19,58 miliar saham, lebih tinggi dibanding rata-rata 20 hari terakhir sebesar 17,99 miliar saham.

Demo Ewf
Demo Equityworld

Equityworld Futures | Transaksi Saham di Wall Street Melonjak Meski Indeks Terkoreksi

Equityworld Futures | Transaksi Saham di Wall Street Melonjak Meski Indeks Terkoreksi

Equityworld Futures | Bursa saham Amerika Serikat (AS) ditutup melemah pada perdagangan Rabu (24/9), meski nilai transaksi harian melonjak menjadi salah satu yang tertinggi dalam sebulan terakhir.

Equityworld Futures | Usai Terbang 3 Hari, Harga Emas Langsung Ambruk: Bandar Mulai Ragu?

Mengutip Reuters, Investor melakukan aksi ambil untung setelah indeks utama sempat mencetak rekor baru, sementara komentar Ketua The Fed Jerome Powell tentang valuasi aset yang ‘cukup tinggi’ memicu kehati-hatian pasar.

Volume transaksi di bursa AS mencapai 18,04 miliar saham, melampaui rata-rata 20 hari terakhir sebesar 17,75 miliar saham. Lonjakan ini terjadi di tengah ketidakpastian arah kebijakan moneter, terutama soal kecepatan dan besaran pemangkasan suku bunga.

Powell sehari sebelumnya mengatakan harga aset saat ini terlihat ‘cukup tinggi’, mengingatkan kembali ucapan Alan Greenspan pada 1996 tentang “irrational exuberance” yang mendorong valuasi melambung. Komentar ini membuat sebagian investor melepas saham setelah reli panjang mengangkat indeks Dow Jones, S&P 500, Nasdaq, dan Russell 2000 ke rekor tertinggi.

Pada penutupan, Dow Jones turun 171,50 poin (0,37 persen) ke 46.121,28. S&P 500 melemah 18,94 poin (0,28 persen) ke 6.637,98, sedangkan Nasdaq terkoreksi 75,62 poin (0,33 persen) ke 22.497,86.

Sektor material jadi pemberat setelah saham Freeport-McMoRan anjlok 17 persen akibat force majeure di tambang Grasberg, Indonesia.

Di sisi lain, sektor energi naik 1,2 persen seiring harga minyak yang mencapai level tertinggi tujuh minggu terakhir setelah data menunjukkan penurunan besar pada persediaan minyak mentah AS.

Beberapa saham mencatat pergerakan signifikan. Lithium Americas melonjak hampir dua kali lipat ke USD 6,01 setelah Reuters melaporkan pemerintah AS mempertimbangkan mengambil porsi 10 persen saham perusahaan itu. General Motors juga naik 2,3 persen setelah mendapat rekomendasi kenaikan peringkat dari UBS.

Sebaliknya, Micron Technology turun 2,8 persen usai laporan kinerja kuartalan, dan Oracle melemah 1,7 persen terkait rencana penerbitan obligasi USD 15 miliar.

Dari sisi makroekonomi, penjualan rumah baru di AS melonjak 20,5 persen pada Agustus, jauh di atas ekspektasi. Namun, perhatian investor kini tertuju pada rilis indeks personal consumption expenditures (PCE) akhir pekan ini, indikator inflasi utama The Fed yang akan menentukan arah suku bunga ke depan.

Demo Ewf
Demo Equityworld

Equityworld Futures | Wall Street: Dow, S&P 500 dan Nasdaq Ditutup Melemah Terseret Komentar Powell

Equityworld Futures | Wall Street: Dow, S&P 500 dan Nasdaq Ditutup Melemah Terseret Komentar Powell

Equityworld Futures | Wall Street ditutup melemah usai memecahkan rekor penutupan tertinggi dalam tiga sesi terakhir. Sentimen datang setelah Ketua Federal Reserve Jerome Powell mengatakan bahwa bank sentral AS perlu menyeimbangkan kekhawatiran inflasi dengan melemahnya pasar tenaga kerja dalam keputusan suku bunga mendatang.

Equityworld Futures | Harga Emas Cetak Rekor Termahal Usai The Fed Sebut Ekonomi AS Memprihatinkan

Nasdaq memimpin penurunan, dengan saham Nvidia anjlok 2,8% setelah menguat di sesi sebelumnya, ketika produsen chip tersebut mengumumkan rencana investasi hingga $100 miliar di OpenAI.

Selasa (23/9/2025), indeks Dow Jones Industrial Average ditutup turun 88,76 poin atau 0,19% menjadi 46.292,78, indeks S&P 500 melemah 36,83 poin atau 0,55% ke 6.656,92 dan indeks Nasdaq Composite melemah 215,50 poin, atau 0,95%, menjadi 22.573,47.

Pada sesi ini, saham Amazon.com, Microsoft, dan Apple juga melemah.

Dalam komentarnya pada hari Selasa, Powell hanya memberikan sedikit petunjuk kapan ia memperkirakan The Fed akan memangkas suku bunga berikutnya. The Fed pekan lalu memangkas suku bunga untuk pertama kalinya tahun ini dan mengindikasikan kemungkinan pemangkasan lebih lanjut.

“Peristiwa penting hari ini adalah pidato Powell. Ia agak dovish, tetapi juga menunjukkan kehati-hatian, dan itu menunjukkan bahwa meskipun ia membuka peluang untuk pemangkasan suku bunga berikutnya, sebenarnya tidak ada petunjuk kapan dan seberapa besar pemangkasan suku bunga berikutnya,” kata Peter Cardillo, kepala ekonom pasar di Spartan Capital Securities di New York.

“Pasar mulai mengalami aksi jual karena hal itu,” katanya, menambahkan: “Pasar juga siap untuk semacam penurunan.”

Powell juga mengatakan harga ekuitas dinilai cukup tinggi. Tiga indeks utama AS mencatat rekor penutupan tertinggi selama tiga sesi sebelumnya.

Rekan-rekan Powell sebelumnya memberikan komentar mengenai kedua sisi argumen kebijakan tersebut.

Wakil Ketua Pengawasan The Fed, Michelle Bowman, mengatakan bahwa The Fed dapat meredam kekhawatiran tentang inflasi yang terus-menerus dan perlu berkomitmen untuk memangkas suku bunga guna mendukung pasar tenaga kerja.

Di sesi ini, saham Boeing, yang membantu membatasi penurunan Dow Jones, setelah naik 2% setelah mendapatkan pesanan dari Uzbekistan Airways senilai lebih dari $8 miliar.

Setelah bel penutupan, saham Micron Technology naik 0,7% karena perusahaan melaporkan hasil dan memberikan proyeksi yang optimistis. Saham tersebut mengakhiri sesi reguler dengan kenaikan 1,1%.

Demo Ewf
Demo Equityworld

Equityworld Futures | Wall Street Kembali Cetak Rekor Berkat Saham Teknologi

Equityworld Futures | Wall Street Kembali Cetak Rekor Berkat Saham Teknologi

Equityworld Futures | Bursa saham Amerika Serikat (AS) atau wall street kembali mencetak rekor pada Senin, 22 September 2025. Kenaikan wall street didorong saham teknologi.

Equityworld Futures | Sejarah Lagi! Harga Emas Pecah Rekor Tertinggi Sepanjang Masa

Mengutip CNBC, Selasa (23/9/2025), indeks S&P 500 mencapai rekor tertinggi baru. Kenaikan indeks saham acuan itu didorong lonjakan saham teknologi Nvidia seiring pengumuman kemitraan dengan OpenAI. Hal tersebut memicu optimisme investor tentang masa depan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI).

Indeks S&P 500 ditutup naik 0,44% ke posisi 6.693,75. Sedangkan Indeks Nasdaq melambung 0,70% dan ditutup ke posisi 22.788,98. Indeks Dow Jones bertambah 66,27 poin atau 0,14% dan ditutup ke posisi 46.381,54.

Bersamaan dengan S&P 500, Nasdaq dan Dow Jones telah mencapai rekor tertinggi intraday sepanjang masa selama sesi tersebut dan ditutup pada rekor tertinggi.

Saham meski memulai perdagangan dengan harga lebih rendah, saham-saham tersebut akhirnya ditutup menguat, ditopang oleh saham Nvidia dan perusahaan lainnya. Saham perusahaan chip AI tersebut naik 3,9% setelah perusahaan tersebut akan menginvestasikan USD 100 miliar atau Rp 1.659 triliun (asumsi kurs rupiah terhadap dolar AS di kisaran 16.590) di OpenAI untuk pembangunan pusat data.

Demo Ewf
Demo Equityworld

Equityworld Futures | Harga Minyak Menguat Seiring Meningkatnya Ketegangan di Eropa dan Timur Tengah

Equityworld Futures | Harga Minyak Menguat Seiring Meningkatnya Ketegangan di Eropa dan Timur Tengah

Equityworld Futures | Harga minyak menguat di sesi perdagangan Asia pada hari ini, didorong oleh ketegangan geopolitik di Eropa dan Timur Tengah. Di mana, prospek pasokan minyak yang lebih banyak dan kekhawatiran tentang dampak tarif perdagangan terhadap permintaan bahan bakar global turut membebani.

Equityworld Futures | Harga Emas Melesat Lagi, Seberapa Cepat Bisa Tembus US$4.000?

Senin (22/9/2025) pukul 10.50 WIB, harga minyak mentah jenis Brent untuk kontrak pengiriman November 2025 naik 34 sen atau 0,54% menjadi US$ 67,07 per barel.

Sementara , harga minyak mentah jenis West Texas Intermediate (WTI) untuk kontrak pengiriman Oktober 2025 berada di level US$ 63,02 per barel, naik 34 sen, atau 0,54%.

Kontrak WTI untuk Oktober 2025 berakhir pada hari ini, sementara kontrak pengiriman November 2025 yang lebih aktif berhasil naik 36 sen, atau 0,58% ke US$ 62,76 per barel.

“Laporan akhir pekan lalu bahwa Rusia mengancam di perbatasan Polandia telah mengingatkan para pedagang akan risiko yang berkelanjutan terhadap keamanan energi Eropa dari timur laut,” kata Michael McCarthy, CEO platform investasi Moomoo Australia dan Selandia Baru.

Pesawat Polandia dan sekutu dikerahkan pada Sabtu pagi untuk memastikan keamanan wilayah udara Polandia setelah Rusia melancarkan serangan udara yang menargetkan Ukraina barat di dekat perbatasan dengan Polandia, kata angkatan bersenjata negara anggota NATO tersebut.

Pengerahan pasukan tersebut dilakukan setelah tiga jet militer Rusia melanggar wilayah udara NATO Estonia selama 12 menit pada hari Jumat, sementara pada hari Minggu, angkatan udara Jerman melaporkan bahwa sebuah pesawat militer Rusia memasuki wilayah udara netral di atas Laut Baltik.

Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa dijadwalkan bertemu pada hari Senin untuk membahas tuduhan Estonia bahwa jet tempur Rusia melanggar wilayah udaranya, kata para diplomat.

Dalam beberapa pekan terakhir, Ukraina meningkatkan serangan pesawat nirawak terhadap infrastruktur energi Rusia, menghantam terminal dan kilang, sementara Presiden AS Donald Trump telah mendesak Uni Eropa untuk menghentikan pembelian minyak dan gas Rusia.

Dalam berita Timur Tengah, empat negara Barat mengakui negara Palestina, yang memicu respons keras dari Israel dan menambah keresahan di wilayah penghasil minyak utama tersebut.

Harga minyak Brent dan WTI ditutup turun lebih dari 1% pada hari Jumat (19/9/2025), menandai sedikit penurunan minggu lalu karena kekhawatiran tentang pasokan yang besar dan penurunan permintaan melebihi ekspektasi bahwa pemotongan suku bunga pertama tahun ini oleh Federal Reserve AS akan memicu lebih banyak konsumsi.

Irak telah meningkatkan ekspor minyak menyusul pencabutan bertahap pemotongan produksi sukarela berdasarkan perjanjian OPEC+, ungkap SOMO, perusahaan pemasaran minyak negara tersebut, pada hari Minggu.

Ekspor minyak Irak rata-rata mencapai 3,38 juta barel per hari pada bulan Agustus, menurut Kementerian Perminyakan. SOMO memperkirakan ekspor rata-rata bulan September akan berkisar antara 3,4 juta hingga 3,45 juta barel per hari.

“Meningkatnya persediaan selama enam bulan terakhir juga mengonfirmasi bahwa pasokan telah melampaui permintaan,” ujar Tim Evans dalam buletin Evans on Energy.

“Peningkatan cadangan strategis yang diakumulasikan oleh Tiongkok dan AS telah membantu menyerap surplus, tetapi peningkatan persediaan tersebut masih mengurangi potensi kenaikan harga jangka pendek dan membuka potensi penurunan,” kata Evans.

Demo Ewf
Demo Equityworld

Design a site like this with WordPress.com
Get started