Equity World | Sri Mulyani ‘Mendarat’ di Istana, IHSG Hijau 8 Hari Beruntun!

Equity World | Sri Mulyani ‘Mendarat’ di Istana, IHSG Hijau 8 Hari Beruntun!

Equity World | Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengawali perdagangan hari ini, Selasa (22/10/2019), di zona hijau.

Pada pembukaan perdagangan, IHSG menguat 0,14% ke level 6.207,49. Pada pukul 09:25 WIB, indeks saham acuan di Indonesia tersebut telah secara signifikan memperlebar penguatan menjadi 0,42% ke level 6.225,1.

Jika IHSG bisa bertahan di zona hijau hingga akhir perdagangan, maka akan menandai apresiasi selama delapan hari beruntun.

Kinerja IHSG senada dengan seluruh bursa saham utama kawasan Asia yang juga sedang ditransaksikan di zona hijau: indeks Shanghai menguat 0,14%, indeks Hang Seng naik 0,03%, indeks Straits Times terapresiasi 0,8%, dan indeks Kospi bertambah 0,94%.

Untuk diketahui, perdagangan di bursa saham Jepang pada hari ini diliburkan seiring dengan penobatan kaisar Jepang.

Optimsime bahwa AS-China akan mampu meneken kesepakatan dagang menjadi faktor yang memantik aksi beli di bursa saham Benua Kuning. Presiden AS Donald Trump mengungkapkan bahwa dirinya optimistis kesepakatan dagang AS-China tahap satu akan bisa ditandatangani dalam gelaran KTT APEC di Chili pada 16-17 November mendatang.

“Saya rasa itu (draf kesepakatan dagang) akan ditandatangani dengan cukup mudah, semoga saja pada saat KTT di Chili, di mana Presiden Xi dan saya akan berada,” kata Trump di Gedung Putih.

“Kami bekerja dengan China dengan sangat baik,” sambungnya menambahkan.

Sementara itu, Wakil Perdana Menteri China Liu He mengatakan bahwa Beijing akan bekerjasama dengan Washington guna memecahkan permasalahan-permasalahan di bidang perdagangan.

Menurutnya, kedua belah pihak telah membuat kemajuan yang signifikan dalam hal perdagangan. Liu kemudian menambahkan bahwa menghentikan perang dagang akan menjadi hal yang positif untuk kedua negara, begitu juga untuk perekonomian global.

Seperti yang diketahui, belum lama ini kedua negara menggelar negosiasi dagang tingkat tinggi di Washington. Dalam negosiasi tingkat tinggi ini, delegasi China dipimpin oleh Wakil Perdana Menteri Liu He, sementara delegasi AS dikomandoi oleh Kepala Kepala Perwakilan Dagang Robert Lighthizer. Menteri Keuangan AS Steven Mnuchin ikut berpartisipasi dalam delegasi yang dipimpin oleh Lighthizer.

Pasca negosiasi dagang tingkat tinggi selama dua hari tersebut, kedua negara menyetujui kesepakatan dagang tahap satu. Kesepakatan ini akan menjadi jawaban dari kritik AS terhadap China seputar praktik pencurian kekayaan intelektual.

Equity World

Cuss! Dewi Fortuna Masih Menaungi IHSG dan Pasar Asia Sepekan | Equity World

Selain itu, permasalahan defisit neraca dagang AS dengan China juga akan dijawab melalui kesepakatan dagang tahap satu, seiring dengan dimasukannya komitmen China untuk membeli produk agrikultur asal AS senilai US$ 40 miliar hingga US$ 50 miliar. Sebagai gantinya, AS setuju untuk membatalkan pengenaan bea masuk baru bagi produk impor asal China yang sedianya akan dieksekusi pada pekan kemarin.

Memang, pelaku pasar sempat dibuat ragu bahwa AS dan China akan benar-benar menandatangani kesepakatan dagang tahap satu yang sudah disetujui secara lisan oleh keduanya dalam negosiasi tingkat tinggi di Washington.

Melansir CNBC International, seorang sumber menyebut bahwa China ingin bernegosiasi lebih lanjut dengan AS sebelum meneken kesepakatan dagang tahap satu antar kedua negara. Sumber tersebut kemudian menyebut bahwa Wakil Perdana Menteri China Liu He bisa dikirim ke Washington sebelum akhir bulan ini guna meluruskan poin-poin dalam kesepakatan dagang tahap satu yang masih mengganjal di hati pihak China.

Namun, Menteri Keuangan AS Steven Mnuchin kemudian membawa angin segar dengan membantah pemberitaan tersebut. Dirinya membantah bahwa China belum setuju dengan isi dari kesepakatan dagang tahap satu antar kedua negara.

Kini, pernyataan dari Trump dan Liu mengonfirmasi ucapan Mnuchin bahwa kesepakatan dagang kedua negara masih berada di jalur yang tepat untuk ditandatangani.

Equity World | Emas Terus Berfluktuasi Dalam Kisaran Sempit Di Sekitar $1.490

Equity World | Emas Terus Berfluktuasi Dalam Kisaran Sempit Di Sekitar $1.490

Equity World | Pasangan XAU/USD menutup minggu sebelumnya hampir tidak berubah dan memulai minggu baru dengan tenang juga. Pada saat penulisan, pasangan ini berfluktuasi dalam band yang sangat sempit di dekat $1.490.

Meskipun imbal hasil obligasi 10-tahun Amerika Serikat (AS) menambah lebih dari 1% pada hari Senin dan indeks utama Wall Street menunjuk ke awal yang optimis hari ini sebagaimana tercermin oleh kenaikan moderat yang disaksikan dalam Kontrak Berjangka S&P 500 untuk mengungkapkan risiko sentimen positif pada awal minggu, penurunan pasangan sedang dibatasi oleh kelemahan USD yang sedang berlangsung.

Dengan perkembangan terbaru menghidupkan kembali harapan kesepakatan Brexit, pasangan GBP/USD memperoleh daya tarik selama jam perdagangan Eropa pada hari Senin dan menyebabkan Greenback menghadapi tekanan jual baru.

Equity World

Harga emas Antam terpengaruh dua sentimen ini, cermati! | Equity World

Indeks Dolar AS, yang turun 1,2% pekan lalu, rebound teknis pada hari sebelumnya ke 97,40 tapi berubah arah menjelang sesi Amerika. Saat ini, indeks berada di 97,20.

Agenda ekonomi AS tidak akan menampilkan rilis data ekonomi makro yang signifikan dan investor cenderung tetap fokus pada perkembangan di sekitar Brexit dan bereaksi terhadap perubahan persepsi risiko.

Equity World | Ada Potensi Profit Taking, Simak Saham Pilihan Hari Ini

Equity World | Ada Potensi Profit Taking, Simak Saham Pilihan Hari Ini

Equity World | Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengawali perdagangan Kamis (17/10/2019), di zona hijau. Pada pembukaan perdagangan, IHSG menguat tipis 0,005% ke level 6.169,9. Per akhir sesi satu, indeks saham acuan di Indonesia tersebut telah memperlebar penguatannya menjadi 0,13% ke level 6.177,58.

Di sesi dua, IHSG sempat terpeleset ke zona merah untuk beberapa saat, sebelum kemudian merangsek kembali ke zona hijau. Per akhir sesi dua, IHSG menguat 0,19% ke level 6.181,01.

IHSG menguat kala mayoritas bursa saham utama kawasan Asia justru ditransaksikan di zona merah: indeks Nikkei turun 0,09%, indeks Shanghai melemah 0,05%, indeks Straits Times jatuh 0,26%, dan indeks Kospi terkoreksi 0,23%.

Simak saham-saham pilihan yang direkomendasikan broker yang dirangkum CNBC Indonesia, sebelum perdagangan akhir pekan ini, Jumat (18/10/2019) dibuka:

  1. Valbury Sekuritas – IHSG Minim Katalis
    Keterbatasan sentimen positif di pasar hanya akan memicu saham Indonesia dengan indeks acuan IHSG kembali bergerak mixed, dengan peluang melemah pada perdagangan saham hari ini.

Saham pilihan:

ASII
BMRI
ADHI
CPIN
  1. Mega Capital Sekuritas – Berharap The Fed Turunkan Suku Bunga
    IHSG menguat di tengah pelemahan bursa Asia bersama dengan pembukaan bursa Eropa dan indeks Futures Amerika Serikat pasca rilis data penjualan ritel Amerika Serikat (AS) pada September dilaporkan berkontraksi untuk pertama kali dalam tujuh bulan sehingga mendorong pasar berspekulasi untuk penurunan suku bunga lebih lanjut oleh Federal Reserve AS pada akhir Oktober mendatang.

Sementara itu, Inggris dan Uni Eropa akhirnya dikabarkan mencapai kesepakatan soal keluarnya Inggris dari Uni Eropa (Brexit). Ini menjadi progres terbaru dari ketidakpastian soal Brexit yang telah berkepanjangan selama sekitar tiga tahun setelah warga Inggris memilih untuk meninggalkan blok tersebut.

Saham pilihan:

INCO
ERAA
TINS
PTBA
  1. MNC Sekuritas – Waspada Profit Taking
    Waspadai aksi profit taking yang akan terjadi pada hari ini, karena indikator Stochastic sudah menunjukkan indikasi overbought IHSG dan berpotensi ada koreksi dalam waktu dekat jika gagal menembus resistance 6.200. Hari ini IHSG berpotensi bergerak mixed dalam range 6.150 – 6.200.

Saham pilihan:

MAIN
PADI
SCMA
TPIA

Equity World

Ekonomi China Amburadul, Kok Bursa Saham Asia Malah Hijau? | Equity World

  1. Phillip Sekuritas – Simak Laporan Keuangan
    IHSG berpeluang untuk bergerak mixed dengan kecendrungan menguat pada hari ini, Jumat, 18 Oktober 2019. Support di 6,144 dan resistance di 6,217. Pasar akan mulai mencerna laporan-laporan keuangan Q3 emiten di tengah musim laporan keuangan untuk mendapatkan katalis positif.

Selain itu, pasar juga akan menanti-nanti susunan kabinet untuk dapat tetap meyakinkan investor akan prospek Indonesia 5 tahun mendatang.

Saham pilihan:

SCMA
INDY
ICBP
ADHI

Equity World | Ada Angin Segar dari Menkeu AS, IHSG Sementara Waktu Hijau

Equity World | Ada Angin Segar dari Menkeu AS, IHSG Sementara Waktu Hijau

Equity World | Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengawali perdagangan hari ini, Kamis (17/10/2019), di zona hijau. Pada pembukaan perdagangan, IHSG menguat tipis 0,005% ke level 6.169,9. Per akhir sesi satu, indeks saham acuan di Indonesia tersebut telah memperlebar penguatannya menjadi 0,13% ke level 6.177,58.

Saham-saham yang berkontribusi signifikan dalam mendongkrak kinerja IHSG di antaranya: PT Bank Rakyat Indonesia Tbk/BBRI (+0,75%), PT Astra International Tbk/ASII (+1,18%), PT Unilever Indonesia Tbk/UNVR (+0,82%), PT Indofood CBP Sukses Makmur Tbk/ICBP (+1,77%), dan PT Bank Negara Indonesia Tbk/BBNI (+1,38%).

Kinerja IHSG senada dengan mayoritas bursa saham utama kawasan Asia yang juga sedang ditransaksikan di zona hijau. Hingga berita ini diturunkan, indeks Nikkei naik 0,1%, indeks Shanghai bertambah 0,14 poin, dan indeks Hang Seng terapresiasi 0,74%.

Kabar positif yang dibawa oleh Menteri Keuangan AS Steven Mnuchin menjadi faktor utama yang memantik aksi beli di bursa saham Benua Kuning. Untuk diketahui, sebelumnya pelaku pasar sempat ragu bahwa AS dan China akan benar-benar menandatangani kesepakatan dagang tahap satu yang sudah disetujui secara lisan oleh keduanya dalam negosiasi tingkat tinggi di Washington pada pekan lalu.

Equity World

Ada Angin Segar Seputar Perang Dagang, Bursa Asia Tetap Merah | Equity World

Melansir CNBC International, seorang sumber menyebut bahwa China ingin bernegosiasi lebih lanjut dengan AS sebelum meneken kesepakatan dagang tahap satu antar kedua negara. Sumber tersebut kemudian menyebut bahwa Wakil Perdana Menteri China Liu He bisa dikirim ke Washington sebelum akhir bulan ini guna meluruskan poin-poin dalam kesepakatan dagang tahap satu yang masih mengganjal di hati pihak China.

Namun, Mnuchin membawa angin segar dengan membantah pemberitaan tersebut. Dirinya membantah bahwa China belum setuju dengan isi dari kesepakatan dagang tahap satu antar kedua negara.

Mnuchin justru mengungkapkan bahwa negosiator dagang dari AS dan China kini tengah bekerja untuk memfinalisasi teks kesepakatan dagang tahap satu untuk kemudian ditandatangani oleh Presiden AS Donald Trump dan Presiden China Xi Jinping kala keduanya bertemu pada bulan depan dalam gelara KTT Asia-Pacific Economic Cooperation (APEC).

Sebagai informasi, kesepakatan dagang tahap satu ini akan menjadi jawaban dari kritik AS terhadap China seputar praktik pencurian kekayaan intelektual. Selain itu, permasalahan defisit neraca dagang AS dengan China juga akan dijawab melalui kesepakatan dagang tahap satu, seiring dengan dimasukannya komitmen China untuk membeli produk agrikultur asal AS senilai US$ 40 miliar hingga US$ 50 miliar.

Sebagai gantinya, AS setuju untuk membatalkan pengenaan bea masuk baru bagi produk impor asal China yang sedianya akan dieksekusi pada pekan ini.

Equity World | Bertebaran sentimen positif, seluruh bursa Asia menguat

Equity World | Bertebaran sentimen positif, seluruh bursa Asia menguat

Equity World | Bursa Asia kompak menghijau pada pertengahan pekan ini. Rabu (16/10) pukul 8.46 WIB, indeks Nikkei 225 menguat 1,26% ke 22.485.

Hang Seng menguat 0,38% ke 26.603. Taiex naik 0,24% ke 11.143. Kospi menanjak 0,57% ke 2.079. Sedangkan Straits Times naik 0,31% ke 3.126 dan FTSE Malaysia naik 0,23% ke 1.569.

Sentimen positif dari negosiasi dagang AS dan China masih terasa. Bursa juga ditopang oleh prospek kesepakatan Brexit antara Inggris dan Uni Eropa.

Equity World

Saham Asia, Mata Uang Beragam, Gencatan Senjata Pasca Perdagangan | Equity World

Kinerja sejumlah emiten perbankan AS yang menyokong Wall Street hingga tadi pagi turut menghembuskan angin segar pada bursa Asia. “Reli pasar saham di seluruh dunia ditopang oleh kabar Brexit dan musim laporan keuangan,” kata analis JPMorgan dalam catatan yang dikutip Reuters.

Satu ganjalan dari negosiasi dagang AS-China pekan lalu adalah bahwa China akan kesulitan membeli US$ 50 miliar produk pertanian AS kecuali negara dengan penduduk terbanyak ini menghapus tarif produk AS, yang akan perlu aksi imbal balik dari Presiden AS Donald Trump.

“Selain itu, Presiden China Xi Jinping tidak akan meneken kesepakatan fase I bulan depan kecuali atau hingga AS membatalkan tarif tambahan yang direncanakan berlaku 15 Desember,” kata analis NAB yang dikutip Reuters.

Equity World | China Galau Teken Kesepakatan, Bursa Asia Dibuka Variatif

Equity World | China Galau Teken Kesepakatan, Bursa Asia Dibuka Variatif

Equity World | Bursa saham utama kawasan Asia dibuka bervariatif pada perdagangan hari ini (15/10/2019) seiring dengan sikap waspada pelaku pasar yang mulai ragu tentang kesepakatan fase pertama yang telah dicapai oleh Amerika Serikat (AS) dan China.

Indeks Nikkei dibuka melesat 1,21%, indeks Hang Seng menguat 0,33%, indeks Straits Times naik tipis 0,06%. Sedangkan indeks Kospi dan Shanghai masing-masing dibuka melemah 0,07% dan 0,13%.

Seperti diketahui, pada penutupan perdagangan kemarin (14/10/2019) bursa saham utama Benua Kuning kompak finis di zona hijau karena menyambut positif hasil dialog dagang yang berlangsung pekan lalu di Washington.

Presiden AS Donald Trump mengatakan Washington dan Beijing telah menyepakati “kesepakatan fase pertama yang sangat substansial” dan rincian teks perjanjian akan dirilis setidaknya dalam tiga minggu ke depan, dilansir dari CNBC International.

Negeri Paman Sam juga menyampaikan pihaknya setuju untuk menunda rencana pemberlakuan kenaikan tarif bea masuk produk China senilai US$ 250 miliar dari 25% menjadi 30%, yang seyogianya efektif per 15 Oktober.

Namun, investor kembali dibuat cemas setelah pihak Negeri Tiongkok dikabarkan belum setuju 100% pada hasil negosiasi perdagangan dengan AS, yang diklaim Presiden AS Donald Trump sebagai sebuah keberhasilan.

Equity World

Nasib IHSG, Ditekan Luar-Dalam Terperosok ke Zona Merah | Equity World

Sebagaimana dikutip dari Bloomberg, China masih menginginkan adanya putaran pembicaraan selanjutnya, sebelum Presiden Xi Jinping menandatangani fase pertama kesepakatan.

Lebih lanjut, Bloomberg memberitakan bahwa pejabat China menginginkan dialog lebih lanjut di akhir Oktober untuk membahas rincian teks perjanjian kesepakatan fase pertama tersebut. Salah seorang sumber lain kemudian menyampaikan bahwa China juga ingin AS untuk membatalkan rencana kenaikan tarif pada 15 Desember mendatang.

Lebih lanjut, sejatinya banyak analis skeptis bahwa perjanjian kali ini benar-benar akan berbuah manis. Pasalnya, sebelumnya setelah diinfokan rujuk, kedua belah pihak kembali berseteru.

“Pertama, menyusun (teks) perjanjian bisa menjadi proses yang rumit. Pembatalan mendadak negosiasi pada April-Mei adalah salah satu contoh bahwa resiko itu ada,” tulis catatan riset ekonomi ANZ, dilansir CNBC International.

Investor kembali diliputi kecemasan bahwa ekskalasi perang dagang antara dua kekuatan ekonomi terbesar dunia masih sangat mungkin terjadi.

Equity World | Rekomendasi Pergerakan Harga Emas 14 Oktober 2019

Equity World | Rekomendasi Pergerakan Harga Emas 14 Oktober 2019

Equity World | Walaupun emas terpukul pada hari Jumat minggu lalu, para analis masih optimis bahwa metal berharga akan kembali ke level $1,500 segera. Emas jatuh lebih dari 1% pada hari Jumat minggu lalu dengan emas berjangka Comex bulan Desember terakhir diperdagangkan dekat kerendahan dua minggu pada $1,487.70 per ons.

Naiknya minat terhadap resiko mendorong pasar saham meningkat dan menekan emas turun dengan para investor menunggu pengumuman akan kesepakatan perdagangan parsial antara Amerika Serikat dengan Cina.

Presiden Trump mengumumkan bahwa Amerika Serikat telah sampai kepada fase kesepakatan yang sangat substansial dengan Cina. Setelah 14 sesi negosiasi yang formal, yang telah berlangsung lebih dari 15 bulan, pada hari kemarin diumumkan bahwa kedua negara super power ini telah mencapai persetujuan dasar mengenai bagian-bagian dari pertikaian perdagangan.

Menurut survey emas mingguan dari Kitco News yang terbaru, bearishnya Wall Street mengambil momentum jangka pendek dari bullish dengan harga emas diperkirakan turun pada minggu ini. Namun investor Main Street menolak untuk menyerah mengenai rally emas dengan mereka terus berharap harga emas akan kembali naik minggu ini.

Equity World

Perang Dagang AS-Tiongkok Mereda, Harga Emas Turun | Equity World

Dari 17 profesional pasar yang mengambil bagian di dalam survey Wall Street, 5 analis atau 29% mengatakan mereka melihat harga emas akan naik minggu ini. 8 analis atau 47% memprediksi harga emas akan turun. Sisanya 4 suara atau 24% melihat pasar emas “sideways” atau netral.

Sementara itu dari 954 responden yang mengambil bagian dari polling online Main Street, sebanyak 566 suara atau 59% melihat emas naik. Sebanyak 221 atau 23% memprediksi emas akan turun dan sisanya 167 suara atau 18% melihat pasar “sideways”.

Penurunan harga emas lebih lanjut akan berhadapan dengan “support” terdekat di $1,474.37 yang apabila berhasil ditembus akan lanjut ke $1,459.63 dan kemudian $1,430.45. Sedangkan apabila berbalik naik, akan berhadapan dengan “resistance” terdekat di $1,503.56 yang apabila berhasil dilewati akan lanjut ke $1,518.00 dan kemudian $1,547.19.

PT Equityworld | negosiasi Dagang di Ujung Tanduk, Bursa Saham Asia Melemah

PT Equityworld | negosiasi Dagang di Ujung Tanduk, Bursa Saham Asia Melemah

PT Equityworld | Seluruh bursa saham utama kawasan Asia mengawali perdagangan hari ini, Kamis (10/10/2019), di zona merah. Pada pembukaan perdagangan, indeks Nikkei turun 0,11 poin, indeks Shanghai melemah 0,04%, indeks Hang Seng jatuh 0,22%, indeks Straits Times terkoreksi 0,45%, dan indeks Kospi berkurang 0,79%.

Kekhawatiran bahwa negosiasi dagang tingkat tinggi antara AS dan China akan berakhir dengan buruk menjadi faktor utama yang memantik aksi jual di bursa saham China dan Hong Kong. Untuk diketahui, pada hari ini waktu setempat kedua negara akan menggelar negosiasi dagang tingkat tinggi di Washington.

Pemberitaan dari South China Morning Post (SCMP) menyebutkan bahwa AS dan China tak menghasilkan perkembangan apapun kala perbincangan tingkat deputi digelar pada awal pekan ini.

SCMP kemudian menyebut bahwa delelegasi pimpinan Wakil Perdana Menteri China Liu He hanya akan menggelar negosiasi dagang tingkat tinggi dengan delegasi AS selama satu hari dan akan kembali ke Beijing pada hari Kamis. Untuk diketahui, sebelumnya delegasi China dijadwalkan kembali ke Beijing pada hari Jumat (11/10/2019).

Masalah transfer teknologi secara paksa yang ditolak untuk dirundingkan oleh pihak China menjadi dasar dari mandeknya perbincangan antar kedua negara, seperti dilaporkan oleh SCMP.

PT Equityworld

AS Melunak Lagi Terhadap China, Wall Street Dibuka Menghijau | PT Equityworld

Sejatinya, hawa negatif terkait dengan negosiasi dagang tingkat tinggi antara AS dan China sudah tercium sejak awal pekan, seiring dengan keputusan AS untuk memasukkan delapan perusahaan teknologi raksasa asal China dalam daftar hitam, membuat kedelapan perusahaan tersebut tak bisa melakukan bisnis dengan perusahaan asal AS tanpa adanya lisensi khusus. AS beralasan bahwa kedelapan perusahaan tersebut terlibat dalam pelanggaran hak asasi manusia terhadap kaum Muslim di Xinjiang, China.

China dibuat berang dengan langkah AS tersebut dan dengan tegas menyatakan bahwa pihaknya tak akan tinggal diam.

“China akan terus mengambil langkah-langkah yang tegas dan kuat untuk mempertahankan kedaulatan negara, keamanan, dan pembangunan,” kata Juru Bicara Kementerian Luar Negeri China Geng Shuang, seperti dilansir dari CNBC International.

Dikhawatirkan, perang dagang AS-China justru akan tereskalasi pasca kedua negara selesai menggelar negosiasi tingkat tinggi. Jika ini yang terjadi, perekonomian keduanya terancam mengalami yang namanya hard landing alias perlambatan pertumbuhan ekonomi yang signifikan.

Equityworld Futures | Negosiasi Dagang AS-China Berlanjut, Wall Street Menguat

Equityworld Futures | Negosiasi Dagang AS-China Berlanjut, Wall Street Menguat

Equityworld Futures | Wall Street ditutup menguat pada perdagangan 9 Oktober 2019. Investor bursa saham Amerika Serikat (AS) masih berharap perundingan dagang AS-China menemukan titik terang.

Tiga indeks utama menguat namun penguatan mereda menjelang penutupan perdagangan. Bursa AS merespons sikap pejabat China yang mengatakan niat baiknya telah dirusak oleh Departemen Perdagangan AS.

Pasar saham masih mendapat sentimen positif karena sebuah laporan mengatakan China akan tetap terbuka dalam melakukan negosiasi dengan pihak AS.

Secara terpisah, Financial Times mengatakan Beijing menawarkan untuk meningkatkan pembelian tahunan produk pertanian AS.

“Kesepakatan parsial dengan China setidaknya akan membuka jalan untuk kesepakatan yang lebih besar,” kata Tim Ghriskey, kepala strategi investasi di Inverness Counsel di New York.

Equityworld Futures

Optimis Kesepakatan Perang Dagang, Wall Street Menguat | Equityworld Futures

Melansir Reuters, Kamis (10/9/2019), indeks Dow Jones Industrial Average naik 182,1 poin atau 0,7% menjadi 26.346,14, indeks S&P 500 naik 26,34 poin atau 0,91% menjadi 2.919,4 dan Nasdaq Composite naik 79,96 poin atau 1,02% menjadi 7.903,74.

Ketegangan perdagangan, tanda-tanda perlambatan ekonomi dan meningkatnya ketegangan geopolitik telah menekan pasar saham selama September. Tercatat, indeks S&P 500 dan Dow Jones turun sekitar 2% sejak akhir September.

Semua 11 sektor utama S&P 500 ditutup menguat dipimpin dengan sektor teknologi. Volume pada perdagangan saham AS mencapai 5,33 miliar, turun dibandingkan dengan rata-rata perdagangan selama 20 hari yang sebesar 7,05 miliar.

Equityworld Futures | Takut Perang Dagang Tereskalasi, Bursa Saham Asia Berguguran

Equityworld Futures | Takut Perang Dagang Tereskalasi, Bursa Saham Asia Berguguran

Equityworld Futures | Bursa saham utama kawasan Asia berguguran pada perdagangan hari ini, Rabu (9/10/2019). Pada pembukaan perdagangan, indeks Nikkei ambruk 1,06%, indeks Shanghai jatuh 0,39%, indeks Hang Seng melemah 0,6%, dan indeks Straits Times berkurang 0,41%.

Untuk diketahui, perdagangan di bursa saham Korea Selatan pada hari ini diliburkan seiring dengan peringatan Hangeul Day.

Kekhawatiran bahwa perang dagang AS-China akan tereskalasi menjadi faktor utama yang memantik aksi jual di bursa saham Benua Kuning. Kini, hubungan antar kedua negara justru memanas menjelang negosiasi dagang tingkat tinggi yang dijadwalkan untuk mulai digelar pada hari Kamis (10/10/2019) di Washington.

Pemberitaan dari Bloomberg menyebut bahwa pejabat pemerintahan China telah memberi sinyal bahwa Beijing enggan untuk menyetujui kesepakatan dagang secara menyeluruh seperti yang diinginkan oleh Presiden AS Donald Trump.

Dalam pertemuan dengan perwakilan dari AS dalam beberapa minggu terakhir di Beijing, pejabat senior dari China telah mengindikasikan bahwa kini, materi-materi yang bersedia didiskusikan oleh pihak China dalam negosiasi dagang tingkat tinggi telah menyempit, seperti dilansir oleh Bloomberg dari orang-orang yang mengetahui masalah tersebut.

Lebih lanjut, pemberitaan dari Bloomberg menyebut bahwa Wakil Perdana Menteri China Liu He telah menginformasikan kepada pihak AS bahwa dirinya akan membawa proposal kesepakatan dagang ke Washington yang tak memasukkan komitmen untuk merubah praktek pemberian subsidi terhadap perusahaan-perusahaan asal China.

Padahal, praktek pemberian subsidi terhadap perusahaan-perusahaan asal China oleh pemerintah merupakan salah satu hal yang sangat ingin diubah oleh AS. Kalau diingat, bahkan hal ini merupakan salah satu faktor yang melandasi meletusnya perang dagang antar kedua negara.

Kemudian, AS memasukkan delapan perusahaan teknologi raksasa asal China dalam daftar hitam, membuat ke-8 perusahaan tersebut tak bisa melakukan bisnis dengan perusahaan asal AS tanpa adanya lisensi khusus, seperti dilansir dari Bloomberg. AS beralasan bahwa kedelapan perusahaan tersebut terlibat dalam pelanggaran hak asasi manusia terhadap kaum muslin di Xinjiang, China.

Equityworld Futures

Harga Emas Bisa ‘Terbang’ ke US$ 1.600/Troy Ons, Percaya? | Equityworld Futures

China pun berang dengan langkah AS tersebut dan dengan tegas menyatakan bahwa pihaknya tak akan tinggal diam.

“China akan terus mengambil langkah-langkah yang tegas dan kuat untuk mempertahankan kedaulatan negara, keamanan, dan pembangunan,” kata Juru Bicara Kementerian Luar Negeri China Geng Shuang, seperti dilansir dari CNBC International.

Dikhawatirkan, eskalasi perang dagang AS-China akan membawa kedua negara mengalami yang namanya hard landing alias perlambatan pertumbuhan ekonomi yang signifikan.

Untuk diketahui, pada tahun 2018 International Monetary Fund (IMF) mencatat perekonomian AS tumbuh sebesar 2,857%, menandai laju pertumbuhan ekonomi tertinggi sejak tahun 2015.

Pada tahun 2019, IMF memproyeksikan pertumbuhan ekonomi AS melambat menjadi 2,6%. Untuk tahun 2020, pertumbuhan ekonomi AS diproyeksikan kembali merosot menjadi 1,9% saja.

Beralih ke China, pertumbuhan ekonomi untuk tahun 2019 diproyeksikan melandai ke level 6,2%, dari yang sebelumnya 6,6% pada tahun 2018. Pada tahun depan, pertumbuhannya kembali diproyeksikan melandai menjadi 6%.

Design a site like this with WordPress.com
Get started