Equity World | Move One dari AS-China, Mata Tertuju pada Data Ekonomi Dunia

Equity World | Move One dari AS-China, Mata Tertuju pada Data Ekonomi Dunia

Equity World | Kemarin, berita baik muncul di akhir pekan dan dapat menjadi bekal bagi perdagangan pagi ini di seluruh dunia. Setelah diinformasikan bahwa dialog antara delegasi Amerika Serikat (AS)-China semakin konstruktif pada Kamis, Presiden AS Donald Trump melalui akun twit pribadinya mengatakan pokok bahasan nota kesepakatan fase pertama sudah disepakati kedua negara.

Karena itu, lanjutnya, penaikan tarif impor tambahan senilai US$ 160 miliar yang dijadwalkan berlaku pada barang-barang China pada 15 Desember akan dibatalkan.

“Mereka setuju terhadap banyak perubahan struktural dan pembelian produk pertanian, produk energi dan manufaktur yang masif, serta masih banyak lagi,” ujarnya. Dia melanjutkan bahwa tarif impor 25% yang sudah berlaku akan tetap berlaku, tetapi tarif penalti yang dijadwalkan berlaku pada 15 Desember tidak akan diberlakukan karena kesepakatan sudah terjadi.

Berita ini pun sempat membawa Wall Street heboh dan menghijau begitu informasi merebak, meskipun akhirnya mereda hingga sempat terkoreksi. Indeks itu pun menguat tipis hingga penutupan pasar.

Indeks Dow Jones Industrial Avg dan S&P 500 sama-sama merangkak naik dengan kenaikan 0,01%. Dow Jones naik hingga 28.135, sedangkan S&P 500 naik ke 3.168. Hasilnya, penguatan itu membuat Indeks Dow Jones naik 0,43% selama sepekan dari posisi pekan lalu 28.015 dan Indeks S&P 500 naik 0,74% dari 3.145.

Pada kesempatan lain, Reuters melaporkan bahwa Beijing setuju menambah pembelian hasil pertanian AS senilai US$ 32 miliar dalam 2 tahun ke depan, berdasarkan keterangan Robert Emmet Lighthizer, wali dagang pemerintahan AS.

Equity World

Bantah Wall Street Journal, Muhammadiyah Kecam China | Equity World

Menurut dia, China setuju membeli produk pertanian Negeri Paman Sam senilai US$ 16 miliar per tahun untuk 2 tahun ke depan. Angka itu dihitung dari hitungan dasar US$ 24 miliar barang-barang yang sudah dibeli China pada 2017, sebelum perang dagang mengemuka. Selain itu, penandatanganan kesepakatan diprediksi akan dilakukan pada pekan pertama tahun depan oleh negosiator utama.

Menanggapi perkembangan tersebut, pejabat China yaitu Wakil Menteri Perdagangan Wang Shouwen dan Komisi Nasional Reformasi dan Pengembangan Ning Jizhe mengiyakan akan mengimpor lebih banyak gandum, jagung, dan beras dari AS setelah kesepakatan. Namun, detailnya belum dijelaskan dan baru akan diumumkan segera mengingat dokumen perjanjian masih dalam kajian kedua pihak.

Selama ini, Negeri Tirai Bambu bukanlah pembeli utama ketiga produk pertanian AS tersebut. China masih menjadi pembeli terbesar kelima untuk jagung AS pada medio 2011-2014, tetapi sejak itu sudah tidak lagi.

Keengganan menyebutkan detail oleh pejabat itulah yang sempat membuat pasar gamang. Namun, seberapapun belum jelasnya negosiasi itu, mari fokus pada yang pasti-pasti dulu yakni kemampuan sisa-sisa sentimen positif damai dagang yang masih dapat mengguyur pasar keuangan global pagi ini.

Equity World | The Fed Hingga Damai Dagang Bawa Bursa Saham Asia Menghijau

Equity World | The Fed Hingga Damai Dagang Bawa Bursa Saham Asia Menghijau

Equity World | Mayoritas bursa saham utama kawasan Asia menutup perdagangan keempat di pekan ini, Kamis (12/12/2019), di zona hijau.

Pada penutupan perdagangan, indeks Nikkei naik 0,14%, indeks indeks Hang Seng terapresiasi 1,31%, indeks Straits Times terkerek 0,69%, dan indeks Kospi bertambah 1,51%.

Pelaku pasar merespons positif hasil pertemuan The Federal Reserve (The Fed) selaku bank sentral AS. Pada hari Selasa waktu setempat (10/12/2019), The Fed memulai pertemuan yang berlangsung selama dua hari. Hasil dari pertemuan tersebut diumumkan pada dini hari tadi waktu Indonesia.

The Fed memutuskan untuk mempertahankan tingkat suku bunga acuan. Keputusan ini sesuai dengan estimasi dari para ekonom bahwa federal funds rate akan dipertahankan di rentang 1,5%-1,75%.

Walaupun tak mengumumkan pemangkasan tingkat suku bunga acuan, pelaku pasar tetap merespons positif hasil pertemuan The Fed. Pasalnya, The Fed mengindikasikan bahwa tingkat suku bunga acuan akan terus dipertahankan di level saat ini di sepanjang tahun 2020 alias tak akan dinaikkan.

Dalam pernyataan pasca mengumumkan bahwa tingkat suku bunga acuan dipertahankan, para pejabat The Fed mengungkapkan bahwa kebijakan moneter kemungkinan akan tetap berada di posisi saat ini untuk jangka waktu yang belum ditentukan.

Lebih lanjut, indikasi bahwa The Fed akan terus mempertahankan federal funds rate di level saat ini pada tahun 2020 juga ditunjukkan oleh dot plot versi terbaru.

Sebagai catatan, dot plot merupakan sebuah survei dari para anggota FOMC (Federal Open Market Committee) selaku pengambil keputusan terkait proyeksi mereka atas posisi tingkat suku bunga acuan pada akhir tahun.

Pada dot plot versi September 2019, sebanyak sembilan anggota FOMC memperkirakan bahwa tingkat suku bunga acuan akan dinaikkan setidaknya satu kali pada tahun depan. Kini, hanya ada empat dari 17 anggota FOMC yang memperkirakan bahwa tingkat suku bunga acuan hanya akan dikerek naik sebesar 25 bps pada tahun depan.

Selain hasil pertemuan The Fed, perkembangan terkait perang dagang AS-China yang menggembirakan ikut menjadi faktor yang memantik aksi beli di bursa saham Benua Kuning.

Equity World

AS-China Berdamai, Bursa Saham Asia Tancap Gas | Equity World

Wall Street Journal melaporkan bahwa AS berencana untuk menunda pengenaan bea masuk tambahan terhadap produk impor asal China yang dijadwalkan akan mulai berlaku pada 15 Desember mendatang, seperti dilansir CNBC International. Untuk diketahui, nilai produk impor asal China yang akan terdampak oleh kebijakan ini mencapai US$ 160 miliar.

Ditundanya pengenaan bea masuk tambahan terhadap produk impor asal China tersebut dilakukan oleh AS seiring dengan upaya yang tengah dilakukan kedua belah pihak untuk memfinalisasi kesepakatan dagang tahap satu.

Pejabat AS dikabarkan telah meminta China untuk terlebih dulu membeli produk-produk agrikultur asal AS sebelum kemudian meneken kesepakatan dagang tahap satu dengan pihaknya. Di sisi lain, pihak China meminta supaya pembelian produk agrikultur asal AS yang akan mereka lakukan memiliki nilai yang proporsional dengan besaran penghapusan bea masuk tambahan yang dilakukan oleh Washington.

Sejauh ini, AS telah mengenakan bea masuk tambahan bagi senilai lebih dari US$ 500 miliar produk impor asal China, sementara Beijing membalas dengan mengenakan bea masuk tambahan bagi produk impor asal AS senilai kurang lebih US$ 110 miliar.

Equity World | The Fed Tahan Suku Bunga Acuan, Bursa Saham Asia Menghijau

Equity World | The Fed Tahan Suku Bunga Acuan, Bursa Saham Asia Menghijau

Equity World | Seluruh bursa saham utama kawasan Asia kompak mengawali perdagangan keempat di pekan ini, Kamis (11/12/2019), di zona hijau.

Pada pembukaan perdagangan, indeks Nikkei naik 0,25%, indeks Shanghai menguat 0,07%, indeks indeks Hang Seng terapresiasi 0,72%, indeks Straits Times terkerek 0,51%, dan indeks Kospi bertambah 0,69%.

Pelaku pasar merespons positif hasil pertemuan The Federal Reserve (The Fed) selaku bank sentral AS. Pada hari Selasa waktu setempat (10/12/2019), The Fed memulai pertemuan yang berlangsung selama dua hari. Hasil dari pertemuan tersebut diumumkan pada dini hari tadi waktu Indonesia.

The Fed memutuskan untuk mempertahankan tingkat suku bunga acuan. Keputusan ini sesuai dengan estimasi dari para ekonom bahwa federal funds rate akan dipertahankan di rentang 1,5%-1,75%.

Walaupun tak mengumumkan pemangkasan tingkat suku bunga acuan, pelaku pasar tetap merespons positif hasil pertemuan The Fed. Pasalnya, The Fed mengindikasikan bahwa tingkat suku bunga acuan akan terus dipertahankan di level saat ini di sepanjang tahun 2020 alias tak akan dinaikkan.

Dalam pernyataan pascamengumumkan bahwa tingkat suku bunga acuan dipertahankan, para pejabat The Fed mengungkapkan bahwa kebijakan moneter kemungkinan akan tetap berada di posisi saat ini untuk jangka waktu yang belum ditentukan.

Lebih lanjut, perkembangan terkait perang dagang AS-China yang menggembirakan ikut menjadi faktor yang memantik aksi beli di bursa saham Benua Kuning.

Wall Street Journal melaporkan bahwa AS berencana untuk menunda pengenaan bea masuk tambahan terhadap produk impor asal China yang dijadwalkan akan mulai berlaku pada 15 Desember mendatang, seperti dilansir CNBC International. Untuk diketahui, nilai produk impor asal China yang akan terdampak oleh kebijakan ini mencapai US$ 160 miliar.

Equity World

Ikuti Jejak Bursa Asia, IHSG Dibuka Menguat | Equity World

Ditundanya pengenaan bea masuk tambahan terhadap produk impor asal China tersebut dilakukan oleh AS seiring dengan upaya yang tengah dilakukan kedua belah pihak untuk memfinalisasi kesepakatan dagang tahap satu.

Pejabat AS dikabarkan telah meminta China untuk terlebih dulu membeli produk-produk agrikultur asal AS sebelum kemudian meneken kesepakatan dagang tahap satu dengan pihaknya. Di sisi lain, pihak China meminta supaya pembelian produk agrikultur asal AS yang akan mereka lakukan memiliki nilai yang proporsional dengan besaran penghapusan bea masuk tambahan yang dilakukan oleh Washington.

Sejauh ini, AS telah mengenakan bea masuk tambahan bagi senilai lebih dari US$ 500 miliar produk impor asal China, sementara Beijing membalas dengan mengenakan bea masuk tambahan bagi produk impor asal AS senilai kurang lebih US$ 110 miliar.

PT Equityworld | Hitung Mundur ‘Tanggal Keramat’ & Menanti Babak Baru AS-China

PT Equityworld | Hitung Mundur ‘Tanggal Keramat’ & Menanti Babak Baru AS-China

PT Equityworld | Kemarin pasar keuangan tanah air bergerak tak kompak. Pasar saham dan surat utang negara (SUN) diwarnai dengan koreksi harga sementara rupiah justru menguat.

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup di zona merah. Indeks bursa dalam negeri mengalami koreksi tipis 0,16% ke level 6.183,5 pada perdagangan Selasa (10/12/2019). IHSG tak sendirian, mayoritas bursa saham kawasan Asia juga ditutup di zona merah. Hanya indeks Kospi dan Shang Hai saja yang mampu finish di zona hijau.

Senada dengan pasar saham, pasar surat utang negara (SUN) juga diwarnai dengan koreksi yang tercermin dari kenaikan imbal hasil. Koreksi harga terjadi pada obligasi tenor 10, 15 dan 20 tahun.

Per 9 Desember 2019, data Ditjen Pengelolaan Pembiayaan dan Risiko Kemenkeu (DJPPR) menunjukkan investor asing menggenggam SBN senilai Rp 1.066,27 triliun atau 38,5% dari total obligasi yang beredar. Angkanya naik Rp 173 triliun dibanding posisi akhir tahun lalu.

Berbanding terbalik dengan IHSG dan pasar SUN, nilai tukar rupiah terhadap dolar justru ditutup menguat bersama renmimbi, dolar Singapura dan dolar Hong Kong, Sementara di hari perdagangan yang sama won dan yen malah terdepresiasi.

Jika menilik fundamental ekonomi Indonesia sebenarnya pasar keuangan berpotensi terkena suntikan tenaga. Pasalnya pekan kemarin indeks keyakinan konsumen (IKK) bulan November secara tak terduga naik signifikan menjadi 124,2 jauh di atas bulan sebelumnya yang cuma 118,4.

Cadangan Devisa (cadev) per akhir bulan lalu juga tak banyak berubah. Bank Indonesia (BI) mencatat posisi cadev akhir November turun tipis menjadi US$ 126,6 miliar, masih jauh lebih baik dari konsensus yang meramal akan turun ke posisi US$ 126,3 miliar, mengutip Trading Economics.

Tambahan tenaga terakhir adalah rilis data penjualan eceran kemarin. Penjualan eceran bulan Oktober tumbuh melesat melampaui konsensus. Berdasarkan survei BI, penjualan ritel bulan ke-10 tahun ini tumbuh 3,6% secara tahunan (yoy). Angka tersebut jelas melebihi angka pertumbuhan bulan sebelumnya dan konsensus pasar yang masing-masing 0,7% dan 2,9%.

Nyatanya suntikan tenaga tersebut tak mampu membawa IHSG melenggang ke zona hijau pada perdagangan kemarin. Data otoritas bursa mencatat asing membukukan aksi jual bersih (net sell) alias kabur sebesar Rp 305,6 miliar.

PT Equityworld

Pascamenguat 3 Hari Beruntun, IHSG Akhirnya Melemah | PT Equityworld

Nilai transaksi di bursa saham pada perdagangan kemarin pun masih berada di bawah rerata nilai transaksi hari normal. Total transaksi tercatat hingga kemarin sebesar Rp 6,3 triliun.

Saat ini investor memang tengah fokus pada perkembangan terbaru dinamika hubungan antara Amerika dengan China. Tanggal 15 Desember semakin dekat, tetapi Washington dan Beijing masih tak sepaham soal kesepakatan dagang.

Banyak yang mulai skeptis kesepakatan dagang fase-I tak akan terjadi minggu ini dan membuat pengenaan tarif 15% terhadap produk China senilai US$ 156 miliar akan tetap berlaku efektif per 15 Desember. Faktor inilah yang membuat mayoritas bursa global ditransaksikan melemah kemarin.

Equityworld Futures | Bursa Asia tergelincir jelang rilis data inflasi China

Equityworld Futures | Bursa Asia tergelincir jelang rilis data inflasi China

Equityworld Futures | Bursa saham Asia memerah di awal perdagangan Selasa (10/12). Jelang rilis data inflasi China.

Melansir CNBC, indeks Nikkei 225 Jepang turun 0,19% pada awal perdagangan, sementara indeks Topix sebagian besar flat. Indeks Kospi Korea Selatan turun 0,24%.

Sementara itu, saham di Australia pulih dari penurunan sebelumnya, dengan indeks S & P / ASX 200 sebagian besar tidak berubah.

Secara keseluruhan, MSCI Asia di luar Jepang diperdagangkan 0,04% lebih rendah.

Semalam, Dow Jones Industrial Average ditutup 105,46 poin lebih rendah pada 27.909,60 sementara S&P 500 turun 0,3% untuk mengakhiri hari perdagangannya di 3.135,96. Nasdaq Composite turun 0,4% menjadi ditutup pada 8.621,83.

Equityworld Futures

Awali Perdagangan, Bursa Asia di Zona Negatif | Equityworld Futures

Asal tahu, pelaku pasar tengah menunggu rilis data inflasi China, dengan Indeks Harga Konsumen dan Indeks Harga Produsen untuk November diperkirakan rilis pagi ini.

Di sisi lain, seputar isu perdagangan AS-China, Bloomberg melaporkan pada hari Selasa bahwa Menteri Pertanian AS Sonny Perdue mengatakan Washington tidak mungkin akan mengenakan tarif barang impor China, akan mulai berlaku pada 15 Desember.

“Kami memiliki tenggat waktu yang akan datang pada 15 Desember untuk tahap tarif lain, saya tidak percaya itu akan dilaksanakan,” kata Perdue, menurut Bloomberg.

Investor mencermati detail seputar kesepakatan “fase satu” yang diantisipasi antara AS-China menjelang 15 Desember.

PT Equity World | Menanti Angin Sejuk Desember Untuk Bursa Saham Tanah Air

PT Equity World | Menanti Angin Sejuk Desember Untuk Bursa Saham Tanah Air

PT Equity World | Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) sepekan kemarin ditransaksikan menguat 0,93% ke 6.186,87. Bulan Desember menjadi bulan yang ditunggu-tunggu karena dikenal dengan bulan kemakmuran bursa saham tanah air.

Kinerja IHSG juga senada dengan beberapa bursa saham Asia yang ditransaksikan di zona hijau. Dalam sepekan, indeks Hang Seng menguat 0,2%, indeks Straits Times tumbuh 0,21% dan Shang Hai terapresiasi 1,26%.

Sementara itu dua indeks utama di bursa kawasan Asia yang mencatatkan pelemahan adalah indeks Kospi yang turun 0,48% dan indeks Nikkei yang terkoreksi 0,13%.

Kenaikan harga juga dialami di pasar surat utang pemerintah Indonesia. Dalam sepekan terakhir harga obligasi negara acuan tenor 10 tahun mengalami kenaikan. Hal tersebut tercermin dari penurunan imbal hasil (yield).

Di sisi lain mata uang Garuda juga berjaya ditutup menguat ke level Rp 14.035/US$ di hari terakhir perdagangan. Sepanjang minggu kemarin rupiah mengalami apresiasi 0,6%. Apresiasi terhadap dolar juga dialami oleh mata uang Asia lainnya : yuan menguat 0,05%, yen naik 0,36%, ringgit terapresiasi 0,48% dan dolar Singapura tumbuh 0,39%.

Pekan kemarin memang menjadi periode yang menggembirakan untuk pasar keuangan tanah air. Setelah investor asing membukukan penjualan bersih (net sell) senilai Rp 85 miliar di pasar reguler pada Kamis (5/12/2019), akhirnya asing mencatatkan aksi beli bersih pada Jumat (6/12/2019).

Bursa Efek Indonesia mencatat investor asing membukukan aksi beli bersih (net buy) sebesar Rp 516,8 miliar sepanjang pekan lalu. Aksi beli bersih secara besar-besaran dilakukan di hari terakhir perdagangan yang nilainya mencapai Rp 774,55 miliar. Sejak awal tahun investor asing masih membukukan aksi beli bersih sebesar Rp 41,7 triliun.

Walaupun sempat diwarnai kabar gonjang-ganjing terkait dinamika hubungan dagang AS-China, rilis data ekonomi kedua negara yang positif membuat investor masih memiliki nyali untuk membeli aset-aset berisiko seperti saham.

PT Equity World

Dibayangi Lesunya Ekspor China, Bursa Saham Asia Tetap Hijau | PT Equity World

Perkembangan terbaru menunjukkan sektor manufaktur China masih ekspansif dan data pengangguran AS yang rendah. Dua faktor fundamental tersebut turut menjadi penyokong kenaikan harga aset-aset berisiko seperti saham.

Tak hanya itu, bulan Desember identik dengan bulan berkahnya IHSG. Secara historis fenomena ini terbukti dengan return IHSG yang terus-terusan positif dalam kurun waktu sepuluh tahun terakhir.

Rata-rata imbal hasil bulanan IHSG periode Desember sejak 2009-2018 adalah 3,08%. Hal ini terkait dengan upaya window dressing yang terjadi di akhir tahun. Jika menggunakan data historis tersebut maka IHSG berpeluang untuk menguat menguji level psikologis 6.300.

Equity World | Ketakpastian Membayang, Wall Street Dibuka Masuk Zona Merah

Equity World | Ketakpastian Membayang, Wall Street Dibuka Masuk Zona Merah

Equity World | Bursa saham Amerika Serikat (AS) dibuka melemah tipis pada perdagangan Kamis (5/12/2019) karena investor masih mencerna data perekonomian AS sembari memonitor negosiasi dagang AS-China.

Pada pukul 08:30 waktu setempat (21:30 WIB), Indeks Dow Jones Industrial Average melemah 8 poin (0,02%), dan berlanjut drop ke 76,44 poin (-0,28%) ke 27.573,34 selang 30 menit kemudian. Indeks Nasdaq melemah 23,87 poin (-0,28%) ke 8.542,49 sementara indeks S&P 500 turun 8,15 poin (-0,26%) ke 3.104,65.
Data Departemen Ketenagakerjaan AS mencatatkan klaim asuransi pengangguran mingguan anjlok 203.000 pekan lalu, atau di bawah estimasi Reuters sebesar 215.000. Laporan itu makin menambah kekhawatiran seputar data ketenagakerjaan AS yang dirilis pada Rabu sebelumnya seputar laporan slip gaji non-pertanian.

di sisi lain, Presiden AS DOnald Trump di sela-sela pertemuan dengan Perdana Menteri Jerman Angela Markel pada Kamis, mengatakan bahwa diskusi dengan China berjalan baik. “Kami akan membuat banyak kemajuan,” ujar Trump, dilansir dari Bloomberg.

Sementara itu, Bloomberg melaporkan bahwa AS dan China semakin dekat terkait diskusi berapa banyak bea masuk yang akan dihapus dalam perjanjian dagang fase pertama. Selain itu, sumbe

Equity World

Eaa.. Walau AS-China ‘Main Ping Pong’, Wall Street Kuat | Equity World

Meskipun demikian, Bloomberg menyebutkan bahwa pihaknya belum mendapat konfirmasi dari Perwakilan Dagang AS Robert Lighthizer dan Menteri Perdagangan China terkait informasi mengenai pembatalan bea masuk.

Namun kedua pihak tidak tergesa-gesa terkait deadline kesepakatan dagang. Hal ini merujuk pada pernyataan Juru Bicara Kementerian Luar Negeri China Hua Chunying yang menegaskan Negeri Tiongkok tidak menentukan tenggat waktu. “Kita memang tidak menentukan deadline untuk mencapai sebuah kesepakatan atau tidak,” ujar Hua seperti diwartakan CNBC International hari ini.

Pada hari ini investor akan mencermati rilis data neraca perdagangan AS bulan Oktober pada pukul 20:30 WIB. Kemudian juga ada pertumbuhan secara bulanan jumlah pesanan pabrik untuk Oktober pukul 22:00 WIB

Equityworld Futures | Harapan kesepakatan perang dagang mengemuka lagi, Wall Street dibuka menghijau

Equityworld Futures | Harapan kesepakatan perang dagang mengemuka lagi, Wall Street dibuka menghijau

Equityworld Futures | Wall Street dibuka menguat pada Rabu (4/12) waktu setempat. Penguatan ini menghentikan laju penurunan yang telah terjadi dalam beberapa sesi terakhir.

Dilansir dari Reuters, hal ini dikarenakan adanya laporan bahwa Amerika Serikat dan China kembali mendekati kesepakatan dalam perdagangan di fase pertama.

Washington dan Beijing dikabarkan hampir menyetujui sejumlah pengenaan tarif impor yang akan dibatalkan. Hal ini mengemuka sehari setelah komentar dari Presiden AS Donald Trump dan Menteri Perdagangan Wilbur Ross yang sempat mengurangi harapan kemungkinan perjanjian tahap pertama.

Imbasnya, indeks Dow Jones naik 126 poin atau 0,46% dan S&P 500 naik 12 poin atau 0,39%. Sementara Nasdaq 100 naik 39,5 poin atau 0,48%.

“China dan Amerika Serikat memainkan permainan poker. Mereka berkomentar tentang harapan untuk memindahkan pihak lain, tetapi ini jelas menggerakkan pasar,” kata Mark Grant, kepala strategi global di B. Riley FBR Inc.

Sejumlah perusahaan di bidang teknologi kompak menguat. Dengan Micron Technology Inc, Nvidia Corp dan Intel Corp naik antara 0,5% dan 1,5% dalam perdagangan premarket. Di sisi lain saham Apple Inc naik 0,6%.

Equityworld Futures

Wall Street rebound dari penurunan beruntun 3 hari, lagi-lagi karena Trump | Equityworld Futures

Pasar Sendiri memiliki reaksi spontan yang minim terhadap Laporan Ketenagakerjaan Nasional yang menunjukkan penambahan tenaga kerja di sektor swasta tumbuh terlemah dalam enam bulan terakhir.

Equityworld Futures | Trump Lagi! Lagi-lagi Trump buat Wall Street Anjlok

Equityworld Futures | Trump Lagi! Lagi-lagi Trump buat Wall Street Anjlok

Equityworld Futures | Manuver baru Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump sukses membuat bursa saham, Wall Street, berada di zona merah, Selasa (3/12/2019).

Dow Jones Industrial Average melemah untuk ketiga kalinya pasca capai rekor di penutupan Rabu pekan lalu. Indeks unggulan ini turun 1% ke 27.502,81.

Sementara S&P juga melemah 0,7% dan ditutup di 3.093,21. Sedangkan Nasdaq juga turun 0,6% dan ditutup di 8.520,64.

Pernyataan terbarunya soal pesimisme ending perang dagang dengan China, menjadi kunci yang menjatuhkan Wall Street kemarin.

Dalam tanya jawabnya dengan wartawan, Trump mengatakan perdamaian perang dagang mungkin tak akan tercapai tahun ini.

Alih-alih menenangkan pasar, presiden kontroversial ini justru menyebut, perang dagang mungkin saja berakhir setelah Pemilu Presiden AS dilaksanakan atau setelah November 2020.

Belum lagi pemberitaan sehari sebelumnya, di mana AS menjatuhkan sanksi kenaikan tarif pada Prancis, Argentina dan Brazil. Hal ini membuat investor semakin khawatir akan makin memburuknya konflik.

Equityworld Futures

Kesepakatan Dagang Kian Jauh, Bursa Saham Asia Ditutup Turun | Equityworld Futures

Meski demikian, analis pasar di AS berpendapat, sebenarnya kemunduran Wall Street mencerminkan siklus alami, yang terjadi setelah oktober dan November.

Namun, tetap saja justifikasi Trump pada Brasil dan Argentina, yang notabene sekutu AS, mengejutkan pasar. Apalagi, Trump berdalih keduanya telah mendevaluasi mata uang mereka.

“Intinya adalah kita telah melihat ada banyak alasan mengapa (Trump) bisa menaikkan tarif (perdagangan ke suatu negara),” kata analis dari LBBW di AS, Karl Haeling.

Equityworld Futures | Wall Street tergelincir karena kontraksi sektor manufaktur AS

Equityworld Futures | Wall Street tergelincir karena kontraksi sektor manufaktur AS

Equityworld Futures | Saham Wall Street tercatat turun pada pembukaan pasar hari Senin (2/12) setelah data sektor manufaktur AS menunjukkan kontraksi untuk bulan keempat secara berturut-turut pada bulan November karena volume pesanan baru turun ke level terendah sejak 2012.

Institute for Supply Management (ISM) mengatakan indeks aktivitas pabrik nasional (index of national factory activity) turun menjadi 48,1 dari 48,3 bulan sebelumnya. Angka itu di bawah ekspektasi 49,2 dari jajak pendapat Reuters dari 57 ekonom.

Equityworld Futures

Wall Street memulai pekan pertama Desember di zona merah | Equityworld Futures

Pada 10:05 ET, Dow Jones Industrial Average turun 118,11 poin, atau 0,42% menjadi 27.933,30, dan S&P 500 turun 19,36 poin, atau 0,62% dikisaran 3.121,62. Nasdaq Composite turun 87,43 poin, atau 1,01% menjadi sebesar 8.578,04.

Design a site like this with WordPress.com
Get started