Equityworld Futures | Berhari-hari Babak Belur, Hari Ini IHSG Mencoba Bangkit

Equityworld Futures | Berhari-hari Babak Belur, Hari Ini IHSG Mencoba Bangkit

Equityworld Futures | Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengawali perdagangan kedua di pekan ini, Selasa (8/10/2019), di zona hijau. Pada pembukaan perdagangan, IHSG menguat 0,35% ke level 6.021,69.

Pada pukul 09:30 WIB, indeks saham acuan di Indoensia tersebut telah memperlebar penguatannya menjadi 0,64% ke level 6.038,87. IHSG mencoba bangkit pasca sudah anjlok 1% pada perdagangan kemarin (7/10/2019).

Kinerja IHSG senada dengan seluruh bursa saham utama kawasan Asia yang sedang kompak ditransaksikan di zona hijau. Hingga berita ini diturunkan, indeks Nikkei naik 0,99%, indeks Shanghai menguat 0,6%, indeks Hang Seng terkerek 0,69%, indeks Straits Times terapresiasi 0,6%, dan indeks Kospi bertambah 0,8%.

Sejatinya, sentimen yang mewarnai perdagangan hari ini terbilang tak mendukung untuk melakukan aksi beli, seiring dengan potensi eskalasi perang dagang AS-China yang sudah di depan mata. Untuk diketahui, pada hari Kamis (10/10/2019) AS dan China dijadwalkan untuk mulai menggelar negosiasi dagang tingkat tinggi di Washington.

Namun, ada hawa yang tak mengenakan menjelang negosiasi dagang tingkat tinggi yang begitu dinanti-nantikan tersebut. Pemberitaan dari Bloomberg menyebut bahwa pejabat pemerintahan China telah memberi sinyal bahwa Beijing enggan untuk menyetujui kesepakatan dagang secara menyeluruh seperti yang diinginkan oleh Presiden AS Donald Trump.

Dalam pertemuan dengan perwakilan dari AS dalam beberapa minggu terakhir di Beijing, pejabat senior dari China telah mengindikasikan bahwa kini, materi-materi yang bersedia didiskusikan oleh pihak China dalam negosiasi dagang tingkat tinggi telah menyempit, seperti dilansir oleh Bloomberg dari orang-orang yang mengetahui masalah tersebut.

Lebih lanjut, pemberitaan dari Bloomberg menyebut bahwa Wakil Perdana Menteri China Liu He telah menginformasikan kepada pihak AS bahwa dirinya akan membawa proposal kesepakatan dagang ke Washington yang tak memasukkan komitmen untuk merubah praktek pemberian subsidi terhadap perusahaan-perusahaan asal China.

Padahal, praktek pemberian subsidi terhadap perusahaan-perusahaan asal China oleh pemerintah merupakan salah satu hal yang sangat ingin diubah oleh AS. Kalau diingat, bahkan hal ini merupakan salah satu faktor yang melandasi meletusnya perang dagang antar kedua negara.

Dengan sikap China yang kembali keras, tentu potensi eskalasi perang dagang AS-China menjadi risiko yang tak bisa dianggap sepele.

Equityworld Futures

Bursa Saham Asia Bisa Bergerak Positif | Equityworld Futures

Perkembangan terbaru, AS memasukkan delapan perusahaan teknologi raksasa asal China dalam daftar hitam, membuat kedelapan perusahaan tersebut tak bisa melakukan bisnis dengan perusahaan asal AS tanpa adanya lisensi khusus, seperti dilansir dari Bloomberg.
AS beralasan bahwa kedelapan perusahaan tersebut terlibat dalam pelanggaran hak asasi manusia terhadap kaum muslin di Xinjiang, China.

Keputusan ini menandai kali pertama AS menggunakan alasan hak asasi manusia guna menekan China. Sebelumnya, Huawei selaku raksasa telekomunikasi asal China juga dimasukkan dalam daftar hitam oleh AS, namun dengan alasan keamanan nasional.

Optimisme bahwa The Federal Reserve (The Fed) selaku bank sentral AS akan memangkas tingkat suku bunga acuan pada akhir bulan ini tampak menjadi faktor yang melandasi aksi beli di bursa saham Asia.

Mengutip situs resmi CME Group yang merupakan pengelola bursa derivatif terkemuka di dunia, berdasarkan harga kontrak fed fund futures per 7 Oktober 2019, probabilitas The Fed akan memangkas tingkat suku bunga acuan pada bulan ini berada di level 71,1%. Seminggu yang lalu, probabilitasnya masih berada di level 39,6%.

Rilis data ekoomi AS yang mengecewakan memantik optimisme pelaku pasar bahwa bank sentral AS akan mengeksekusi pemangkasan tingkat suku bunga acuan. Belum lama ini, Manufacturing PMI AS periode September 2019 versi Institute for Supply Management (ISM) diumumkan di level 47,8, jauh di bawah konsensus yang sebesar 50,4, seperti dilansir dari Forex Factory.

Kemudian, Non-Manufacturing PMI periode September 2019 diumumkan oleh ISM di level 52,6, juga di bawah konsensus yang sebesar 55,1, seperti dilansir dari Forex Factory.

Equityworld Futures | Happy Weekend! IHSG Berhasil Menguat & Jawara Asia

Equityworld Futures | Happy Weekend! IHSG Berhasil Menguat & Jawara Asia

Equityworld Futures | Happy Weekend untuk bursa saham utama Indonesia. Mengawali perdagangan hari ini (4/10/2019) dengan menguat 0,24%, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) memperlebar penguatannya dan berhasil ditutup dengan mencatatkan kenaikan 0,38% menjadi 6.061,25.

IHSG akhirnya mencuat kembali alias rebound setelah dalam 5 hari terakhir amblas dengan total koreksi sebesar 3,11%.

Saham-saham yang turut mendongkrak kinerja IHSG di antaranya PT Bima Sakti Pertiwi Tbk/PAMG (+24,6%), PT Capri Nusa Satu Properti Tbk/CPRI (+10%), PT Semen Indonesia Tbk/SMGR (+6,27%), PT Matahari Department Store Tbk/LPPF (+6,15%), PT Tiphone Mobile Indonesia Tbk/TELE (+5,8%).

Lebih lanjut, IHSG berhasil menjadi macan Asia pada akhir pekan ini karena mencatatkan imbal hasil paling besar jika dibandingkan dengan indeks saham utama di kawasan Benua Kuning yang mayoritas dilanda tekanan jual.

Indeks Nikkei tercatat menguat 0,32%, indeks Hang Seng anjlok 1,11%, indeks Shanghai anjlok 0,92%, indeks Kospi melemah 0,55%, dan indeks Straits Times terkoreksi 0,31%.

Awan kelam masih menyelimuti bursa saham utama kawasan Asia seiring dengan rilis data ekonomi terbaru AS yang lagi-lagi mengecewakan.

Non-Manufacturing PMI periode September 2019 diumumkan oleh Institute for Supply Management (ISM) di level 52,6, di bawah konsensus yang sebesar 55,1, seperti dilansir dari Forex Factory.

Melansir CNBC International, Non-Manufacturing PMI yang sebesar 52,6 tersebut merupakan level terendah yang pernah dicatatkan semenjak Agustus 2016 silam.

Equityworld Futures

Rupanya Ini yang Menjadi Sebab IHSG Anjlok di Bawah 6.000 | Equityworld Futures

Sebelumnya pada Selasa (1/10/2019), Institute for Supply Management (ISM) melaporkan angka Purchasing Managers’ Index (PMI) manufaktur AS periode September berada di 47,8. Turun dibandingkan bulan sebelumnya yang sebesar 49,1. Yang lebih parah, skor 47,8 adalah capaian terendah Negeri Paman Sam sejak Juni 2009.

“Ketidakpastian seputar perang dagang AS-China jelas merupakan alasan utama pelemahan ini, dengan perusahaan yang terpapar perdagangan global semakin menunda keputusan investasi (mereka),” ujar Patrik Lang, Kepala Riset Pasar Modal di Julius Baer, seperti dikutip oleh Reuters.

Perang dagang dengan Negeri Tiongkok sudah jelas-jelas menyakiti ekonomi Negeri Paman Sam, tapi AS malah berniat memulai era baru perang dagang dengan Uni Eropa.

Kantor Perwakilan Dagang AS mengumumkan rencana pengenaan tarif atas produk impor asal Benua Biru per 18 Oktober 2019.

Bea masuk 10% akan dikenakan pada pesawat Airbus, 25% pada produk wine asal Perancis dan whiskey asal Irlandia dan Skotlandia. Washington juga akan memberlakukan tarif pada produk keju, kopi, mentega dan daging babi, dilansir CNBC International.

Investor dipenuhi kekhawatiran karena karena friksi dagang AS dan Benua Biru berpotensi menyakiti ekonomi Negeri Adidaya lebih dalam ketimbang perang dagang dengan China.

Mengutip data Kantor Perwakilan Dagang AS, impor AS dari Uni Eropa bernilai US$ 683,9 miliar pada 2018. Pada tahun yang sama, impor dari China ‘hanya’ US$ 557,9. Sementara ekspor AS ke Uni Eropa tercatat US$ 574,5 miliar dan ke China adalah US$ 179,2 miliar.

PT Equityworld | Duet Maut Perang Dagang dan Resesi Masih Menghantui

PT Equityworld | Duet Maut Perang Dagang dan Resesi Masih Menghantui

PT Equityworld | Pasar keuangan Indonesia lagi-lagi bergerak berlawanan arah pada perdagangan kemarin. Hal serupa pun terjadi di Asia.

Kemarin, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) finis di jalur merah dengan koreksi 0,28%. Hampir seluruh bursa saham utama Asia melemah, hanya Hang Seng yang selamat.

Sementara nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) malah menguat 0,14%. Kebalikan dari bursa saham, hampir seluruh mata uang utama Benua Kuning menguat dan tinggal menyisakan yuan China yang masih terdepresiasi.

Pasar saham merespons berbagai sentimen negatif yang beredar kemarin. Pertama, masih ada kekhawatiran soal ancaman resesi di AS setelah rilis data aktivitas manufaktur yang mengecewakan.

Pada September, angka Purchasing Managers’ Index (PMI) manufaktur AS versi Institute for Supply Management (ISM) adalah 47,8. Turun dibandingkan bulan sebelumnya yang sebesar 49,1.

Angka PMI di bawah 50 menunjukkan industriawan tidak melakukan ekspansi. Selain itu, skor 47,8 adalah yang terendah sejak Juni 2009.

Kedua, investor mencemaskan risiko perang dagang AS vs Uni Eropa. Organisasi Perdagangan Dunia (WTO) memenangkan gugatan AS yang menyebut Uni Eropa memberikan subsidi kepada Airbus sehingga menimbulkan persaingan tidak sehat dengan perusahaan pembuat pesawat lainnya seperti Boeing.

Sidang panel WTO menyatakan AS menderita kerugian sampai US$ 7,5 miliar per tahun. Keputusan WTO ini menjadi pembenaran bagi rencana AS untuk menerapkan bea masuk terhadap importasi produk-produk dari Eropa. Washington mengusulkan pengenaan bea masuk bagi importasi hingga US$ 11 miliar.

Aktivitas manufaktur yang terkontraksi plus perang dagang dengan Uni Eropa sangat berisiko membuat perekonomian AS melambat, bahkan bukan tidak mungkin jatuh ke jurang resesi. Oleh karena itu, pelaku pasar semakin yakin bahwa Bank Sentral AS (The Federal Reserve/The Fed) bakal terus menerapkan kebijakan moneter longgar dengan menurunkan suku bunga acuan.

PT Equityworld

Merah Lagi, 5 Hari Sudah IHSG Anjlok | PT Equityworld

Mengutip CME Fedwatch, kans penurunan Federal Funds Rate sebesar 25 basis poin (bps) menjadi 1.5-1,75% pada bulan ini mencapai 90,3%. Padahal sepekan lalu kemungkinannya tidak sampai 50%, tepatnya 49,2%.

Penurunan suku bunga acuan yang hampir pasti terjadi membuat dolar AS semakin tidak seksi. Imbalan investasi di dolar AS, terutama di instrumen berpendapatan tetap seperti obligasi, menjadi semakin tipis.

Akibatnya, obligasi di negara-negara berkembang Asia yang menjanjikan cuan lebih besar menjadi buruan investor, salah satunya Indonesia. Kemarin, imbal hasil (yield) obligasi pemerintah Indonesia tenor 10 tahun turun 1,5 bps. Penurunan yield adalah pertanda harga instrumen ini sedang naik karena tingginya permintaan.

Jadi walau aliran modal di pasar saham sedang mampet, di mana kemarin investor asing mencatatkan jual bersih Rp 795,59 miliar, tetapi di pasar obligasi masih deras. Ini membuat rupiah masih punya modal untuk menguat.

Equityworld Futures | Khawatir AS Masuk Jurang Resesi, Bursa Saham Asia Ambruk

Equityworld Futures | Khawatir AS Masuk Jurang Resesi, Bursa Saham Asia Ambruk

Equityworld Futures | Seluruh bursa saham utama kawasan Asia menutup perdagangan hari ini, Rabu (2/10/2019), di zona merah: indeks Nikkei turun 0,49%, indeks Hang Seng jatuh 0,19%, indeks Straits Times melemah 1,35%, dan indeks Kospi terkoreksi 1,95%. Untuk diketahui, perdagangan di bursa saham China diliburkan guna memperingati 70 tahun lahirnya Republik Rakyat China.

Rilis data ekonomi AS yang begitu mengecewakan menjadi faktor yang memantik aksi jual di bursa saham Asia. Kemarin (1/10/2019), Manufacturing PMI AS periode September 2019 versi Institute for Supply Management (ISM) diumumkan di level 47,8, jauh di bawah konsensus yang sebesar 50,4, seperti dilansir dari Forex Factory.

Sebagai informasi, angka di atas 50 berarti aktivitas manufaktur membukukan ekspansi jika dibandingkan dengan bulan sebelumnya, sementara angka di bawah 50 menunjukkan adanya kontraksi.

Kontraksi yang terjadi pada bulan September merupakan kontraksi terburuk yang dibukukan oleh sektor manufaktur AS dalam satu dekade terakhir. Perang dagang dengan China terbukti telah sangat menyakiti perekonomian AS.

Lantas, kekhawatiran bahwa AS akan masuk ke jurang resesi kembali mencuat. Untuk diketahui, sinyal bahwa AS akan masuk ke jurang resesi sebelumnya sudah disuarakan oleh pasar obligasinya sendiri.

Sebagai informasi, resesi merupakan penurunan aktivitas ekonomi yang sangat signifikan yang berlangsung selama lebih dari beberapa bulan, seperti dilansir dari Investopedia. Sebuah perekonomian bisa dikatakan mengalami resesi jika pertumbuhan ekonominya negatif selama dua kuartal berturut-turut.

Terhitung dalam periode 23-29 Agustus 2019, imbal hasil (yield) obligasi AS tenor 2 tahun ditutup melampaui yield obligasi AS tenor 10 tahun. Fenomena ini disebut sebagai inversi.

Untuk diketahui, inversi merupakan sebuah fenomena di mana yield obligasi tenor pendek berada di posisi yang lebih tinggi dibandingkan tenor panjang. Padahal dalam kondisi normal, yield tenor panjang akan lebih tinggi karena memegang obligasi tenor panjang pastilah lebih berisiko ketimbang tenor pendek.

Equityworld Futures

Pasar Optimis, Harga Emas Diproyeksi Melemah | Equityworld Futures

Inversi di pasar obligasi AS menjadi hal yang krusial bagi pasar keuangan dunia lantaran terjadinya inversi merupakan sinyal dari terjadinya resesi di AS di masa depan. Terhitung sejak tahun 1978, telah terjadi 5 kali inversi antara obligasi tenor 2 dan 10 tahun, semuanya berujung pada resesi. Berdasarkan data dari Credit Suisse yang kami lansir dari CNBC International, secara rata-rata terdapat jeda waktu selama 22 bulan semenjak terjadinya inversi hingga resesi.

Lebih lanjut, aksi jual di bursa saham Asia juga dipicu oleh peluncuran rudal balistik dari kapal selam (submarine-launched ballistic missile/SLBM) oleh Korea Utara. Senjata pemusnah jarak jauh tersebut ditengarai jatuh di laut lepas, di luar batas laut Barat Jepang.

Pemerintah Jepang dalam keterangannya menyatakan rudal yang diluncurkan pada pagi hari tersebut terbelah menjadi dua sebelum akhirnya tercebur ke laut, seperti dikutip dari Reuters.

“Saat ini, kami menduga satu rudal yang diluncurkan dan terpisah menjadi dua, kemudian jatuh. Kami masih menganalisis detil [dari peristiwa tersebut],” ujar Pimpinan Sekretaris Kabinet Jepang Yoshihide Suga dalam konferensi pers pada hari ini, Rabu (2/10/2019).

Peristiwa peluncuran yang diberitakan terjadi pada pukul 07:11 pagi waktu setempat terjadi sehari setelah adanya pernyataan dari negara pimpinan Kim Jong-un tersebut terkait niat melanjutkan pembicaraan dengan AS untuk mengakhiri program nuklirnya.

Equityworld Futures | Saham di Asia terseret Pelemahan Ekonomi AS

Equityworld Futures | Saham di Asia terseret Pelemahan Ekonomi AS

Equityworld Futures | Saham Asia mengalami penurunan setelah data ekonomi Amerka Serikat dilaporkan melemah, khususnya pada sektor manufaktur, menambah kekhawatiran tentang ekonomi global.

Dilansir melalui Reuters, indeks saham MSCI (kecuali Jepang) Asia Pasifik turun 0,7%, sedangkan saham Australia turun 1,3% dan saham Korea Selatan merosot 1,4%.

Nikkei Jepang N225 turun 0,65%. Adapun, pasar China ditutup untuk liburan nasional selama sepekan.

Sementara itu, indeks Hang Seng Hong Kong .HSI turun 0,8% pada awal perdagangan setelah libur pada Selasa (1/10/2019).

Di Wall Street, S&P 500 kehilangan 1,23% dan kini berada di posisi terendah dalam 4 pekan terakhir.

Data manufaktur yang lemah dirilis menyusul angka yang juga mengecewakan dari Eropa pada awal pekan ini, memicu kekhawatiran tentang perlambatan pertumbuhan dunia di tengah perang dagang AS-China dan putaran spekulasi terkait potensi penurunan lanjutan suku bunga acuan The Fed.

Perhatian pasar saat ini akan beralih ke data pasar tenaga kerja AS, di mana laporan ketenagakerjaan nasional ADP akan merilis datanya pada Rabu dan data gaji non-pertanian akan dirilis pada Jumat.

Equityworld Futures

Gawat! Korut Luncurkan Rudal Balistik, Bursa Asia ‘Terbakar’ | Equityworld Futures

“Untuk Oktober saya pikir kita akan terus melihat tantangan terhadap pertumbuhan ekonomi dan pertumbuhan global. Akan ada lebih banyak perhatian yang ditujukan pada masalah itu,” ujar Direktur Investasi di Sierra Investment Management Inc., Terri Spath, seperti dikutip melalui Bloomberg, Rabu (2/10/2019).

Aktivitas manufaktur AS jatuh ke level terendah pada September karena ketegangan perdagangan yang masih berlangsung membebani ekspor, semakin meningkatkan kekhawatiran pasar keuangan tentang perlambatan tajam dalam pertumbuhan ekonomi pada kuartal ketiga.

Institute for Supply Management (ISM) mengatakan indeks aktivitas pabrik nasional turun 1,3 poin menjadi 47,8 pada September, yang merupakan level terendah sejak Juni 2009 ketika Resesi Hebat berakhir.

Angka di bawah 50 menunjukkan kontraksi di sektor manufaktur, yang menyumbang sekitar 11% dari ekonomi AS.

Meskipun, indikator resesi masih jauh dari realisasi saat ini, di mana indeks ISM perlu turun di bawah poin 42,9 untuk menandakan resesi yang lebih luas, para ekonom mengatakan penurunannya yang terus-menerus menimbulkan risiko besar terhadap ekspansi ekonomi terpanjang dalam sejarah.

Kemerosotan manufaktur dapat memaksa The Fed untuk memangkas suku bunga lagi di bulan Oktober. The Fed memotong suku bunga bulan lalu setelah menurunkan biaya pinjaman pada bulan Juli untuk pertama kalinya sejak 2008 dalam upaya menjaga laju ekspansi, yang saat ini memasuki tahun ke-11.

Equityworld Futures | Wall Street Bersemangat, Bursa Tokyo Ikut Bergairah

Equityworld Futures | Wall Street Bersemangat, Bursa Tokyo Ikut Bergairah

Equityworld Futures | Bursa Saham Tokyo dibuka menguat pada pembukaan perdagangan pagi ini. Penguatan tersebut dipicu oleh berkurangnya ketegangan perdagangan AS-China dan penurunan yen, karena investor mengabaikan survei Jepang yang menunjukkan kepercayaan bisnis terus turun.

Mengutip AFP, indeks acuan Nikkei 225 naik 0,36% atau 78,55 poin menjadi 21.834,39 pada awal perdagangan, sementara Topix naik 0,50% atau 7,93 poin pada 1.595,73.

Wall Street juga membaik setelah Penasehat Perdagangan AS Peter Navarro membantah laporan bahwa administrasi Trump mempertimbangkan penghapusan emiten China dari bursa saham AS. “Berita palsu,” katanya sebagaimana dilansir dari Reuters.

Equityworld Futures

Harga Emas Turun 2% Tertekan Menguatnya Wall Street dan Dolar AS | Equityworld Futures

“Gagasan penggunaan banyak ide untuk melihat dampak pada perdagangan adalah sesuatu yang biasa kita terima,” kata analis Ladenburg Thalmann Asset Management yang berbasis di New York Phil Blancato.

Equityworld Futures | AS-China Bisa Panas Lagi, Bursa Saham Asia Berguguran

Equityworld Futures | AS-China Bisa Panas Lagi, Bursa Saham Asia Berguguran

Equityworld Futures | Bursa saham utama kawasan Asia berguguran pada perdagangan pertama di pekan ini, Senin (30/9/2019). Pada pembukaan perdagangan, indeks Nikkei jatuh 0,39%, indeks Shanghai melemah 0,14%, indeks Hang Seng turun 0,42%, indeks Straits Times terkoreksi 0,79%, dan indeks Kospi berkurang 0,2%.

Potensi memanasnya hubungan AS-China di bidang perdagangan menjadi faktor yang memantik aksi jual di bursa saham Benua Kuning.

CNBC International melaporkan bahwa pemerintahan Presiden AS Donald Trump kini sedang mempertimbangkan langkah untuk memangkas investasi AS di China, seperti dikutip dari seorang sumber yang mengetahui masalah tersebut.

Sumber tersebut menyebut bahwa salah satu opsi yang mungkin diambil adalah memblokir seluruh investasi keuangan dari AS terhadap perusahaan-perusahaan asal China.

Restriksi tersebut dimaksudkan untuk melindungi investor asal AS dari risiko yang berlebihan yang mereka tanggung, seiring dengan kurangnya pengawasan yang dilakukan oleh China terhadap perusahaan-perusahaan di sana.

Sebelumnya, Bloomberg memberitakan bahwa para pejabat pemerintahan AS mempertimbangkan opsi untuk men-delisting perusahaan-perusahaan asal China yang melantai di AS.

Equityworld Futures

Harga Emas di Pegadaian Hari Ini, 30 September 2019, Stagnan | Equityworld Futures

Langkah ini dimaksudkan guna membatasi aliran modal portofolio dari investor asal AS ke perusahaan-perusahaan asal China. Lebih lanjut, AS juga mempertimbangkan untuk melarang dana pensiun dari pegawai pemerintah untuk diinvestasikan ke pasar keuangan China.

Pemberitaan ini muncul kala kedua negara akan segera menggelar negosiasi dagang tingkat tinggi di Washington. Melansir Bloomberg, Kementerian Perdagangan China menyebut bahwa Wakil Perdana Menteri China Liu He akan bertandang ke AS selepas tanggal 7 Oktober guna memimpin delegasi China.

Sebelumnya, seperti dilansir dari CNBC International yang mengutip tiga orang sumber yang mengetahui masalah tersebut, negosiasi dagang tingkat tinggi antara AS dan China akan digelar selama dua hari, yakni pada tanggal 10 dan 11 Oktober.

Equity World | Isu Pelengseran Trump Basi, Wall Street Berpotensi Hijau Lagi

Equity World | Isu Pelengseran Trump Basi, Wall Street Berpotensi Hijau Lagi

Equity World | Bursa Wall Street di AS diprediksi akan dibuka menguat pada perdagangan hari ini, Kamis (26/9/2019). Hingga pukul 17:30 WIB, kontrak futures indeks Dow Jones mengimplikasikan kenaikan sebesar 51 poin, sementara S&P 500 dan Nasdaq Composite diimplikasikan naik masing-masing sebesar 4 dan 1 poin.

Wall Street masih akan menghijau setelah kemarin (25/9/2019) sudah mencatatkan apresiasi yang lumayan besar: indeks Dow Jones naik 0,61%, indeks S&P 500 menguat 0,62%, dan indeks Nasdaq Composite melonjak 1,05%.

Kehadiran asa damai dagang AS-China yang kian terasa menjadi faktor yang memantik aksi beli di bursa saham Asia. Kemarin waktu setempat, Presiden AS Donald Trump mengatakan bahwa kesepakatan dagang AS-China bisa datang lebih cepat “dari yang Anda pikirkan,” dilansir dari CNBC International.

Komentar dari Trump ini lantas melengkapi sentimen positif terkait dengan perkembangan hubungan AS-China di bidang perdagangan. Sebelumnya, pemberitaan dari Bloomberg menyebut bahwa China kini tengah bersiap untuk meningkatkan pembelian daging babi asal AS.

Saat ini, perusahaan-perusahaan asal China telah menanyakan harga kepada eksportir daging babi asal AS seperti Smithfield Foods dan Tyson Foods, seperti dilansir oleh Bloomberg dari sumber-sumber yang mengetahui masalah tersebut.

Hingga saat ini, volume pembelian belum difinalisasikan, namun sumber tersebut menyebut bahwa jumlahnya bisa jadi berada di kisaran 100.000 ton, di mana sebagian akan dialokasikan untuk keperluan cadangan.

Sejatinya, pembelian daging babi asal AS dengan volume yang lebih besar tersebut datang kala China selaku negara konsumen daging babi terbesar dunia memang membutuhkan pasokan tambahan. Pada tahun ini, harga daging babi di China telah meroket lebih dari 70% seiring dengan merebaknya wabah flu babi Afrika.

Namun, keputusan dari China ini juga dipandang sebagai itikat baik dari Beijing menjelang negosiasi dagang tingkat tinggi antar kedua negara yang rencananya akan digelar sekitar tanggal 10 Oktober.

Lebih lanjut, isu pelengseran Trump dari posisinya sebagai presiden AS juga dianggap sudah basi oleh pelaku pasar.

Pada hari Rabu (24/9/2019) Ketua Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) AS Nancy Pelosi resmi mengumumkan penyelidikan guna melengserkan Trump. Pengumuman tersebut disampaikan Pelosi pascadirinya melakukan pertemuan tertutup dengan para pembuat kebijakan dari Partai Demokrat.

Rencana tersebut didasari oleh skandal yang melibatkan Trump. Diduga, Trump telah menyalahgunakan kekuasannya sebagai presiden dengan meminta Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky menyelidiki Hunter Biden, anak dari Joe Biden. Saat ini, Joe Biden sedang mencalonkan diri sebagai presiden AS.

Equity World

Harga Emas Antam Terseret Sentimen Global | Equity World

Pelosi mengatakan bahwa tindakan Trump tersebut telah membahayakan keamanan nasional dan melanggar konstitusi AS.

Tampaknya, akan sangat sulit bagi parlemen untuk mencopot Trump. Pasalnya, transkrip sambungan telepon antara Trump dan Zelensky tak menunjukkan adanya pernyataan eksplisit dari Trump untuk menukar bantuan pendanaan militer bagi Ukraina dengan penyelidikan terhadap Hunter Biden, sesuatu yang disangkakan oleh Partai Demokrat terhadap Trump.

Pada pukul 19:30 WIB, pembacaan akhir atas angka pertumbuhan ekonomi AS periode kuartal II-2019 akan dirilis.

Pada pukul 21:00 WIB, James Bullard selaku Federal Reserve Bank of St. Louis President dijadwalkan memberikan sambutan dalam sebuah acara yang diselenggarakan oleh Federal Reserve Bank of St. Louis.

Pada pukul 22:45 WIB, Richard Clarida selaku Wakil Gubernur The Fed dijadwalkan untuk berbicara dalam sebuah acara yang diselenggarakan oleh Federal Reserve Bank of San Francisco.

Equity World | Kemarin Anjlok Nyaris 2%, Harga Emas Dunia Naik Pagi Ini

Equity World | Kemarin Anjlok Nyaris 2%, Harga Emas Dunia Naik Pagi Ini

Equity World | Harga emas di pasar spot pagi ini menguat setelah kemarin anjlok. Investor memanfaatkan harga emas yang sudah murah untuk melakukan aksi borong.

Pada Kamis (26/9/2019) pukul 09:07 WIB, harga emas di pasar spot beada di US$ 1.507,8/troy ons. Naik 0,27% dibandingkan posisi hari sebelumnya.

Kemarin, harga emas anjlok nyaris 2%. Ini membuat harga sang logam mulia kembali murah sehingga menarik untuk dikoleksi.

Selain technical rebound, investor juga ‘mendekap’ emas karena risiko ketidakpastian global yang masih tinggi. Dari Amerika Serikat (AS), House of Representatives yang dikuasai kubu oposisi Partai Demokrat telah resmi mengajukan proposal pemakzulan (impeachment) terhadap Presiden Donald Trump.

Penyebabnya adalah pembicaraan telepon antara Trump dengan Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskiy pada 25 Juli lalu. Trump meminta pemerintahan Zelenskiy untuk melakukan penyelidikan terhadap bisnis minyak keluarga Joe Biden di Ukraina. Sebagai balasan, Trump menjanjikan hibah senilai US$ 400 juta.

Biden adalah mantan wakil presiden AS kala masa pemerintahan Barack Obama. Dalam beberapa polling, Biden diunggulkan sebagai calon presiden Partai Demokrat untuk pemilikan presiden 2020.

Equity World

Trump Digugat, Harga Emas Antam Melesat Jadi Rp 720.000/gram | Equity World

Masih dari AS, investor menantikan data pembacaan final angka pertumbuhan ekonomi kuartal II-2019. Pada pembacaan sebelumnya, pertumbuhan ekonomi AS kuartal II-2019 adalah 2%, lumayan jauh melambat dibandingkan kuartal sebelumnya yaitu 3,1%.

Berbagai lembaga memperkirakan risiko resesi di Negeri Paman Sam semakin tinggi. Oleh karena itu, investor akan sangat mencermati data pertumbuhan ekonomi AS untuk mendapat konfirmasi apakah AS benar-benar terancam resesi atau tidak.

Equityworld Futures | Trump Mau Dimakzulkan, Wall Street Jeblok

Equityworld Futures | Trump Mau Dimakzulkan, Wall Street Jeblok

Equityworld Futures | Saham Wall Street anjlok pada penutupan Selasa (24/9/2019). Pernyataan hawkish Presiden AS Donald Trump tentang perdagangan dan mosi tidak percaya kongres AS terhadap Trump menjadi penyebab bursa berguguran.

Setelah dibuka menguat di awal perdagangan pagi, indeks utama jatuh ke zona merah. Bahkan, indeks tetap di wilayah teritori negatif sepanjang hari.

Dow jONES industrial Average berakhir turun 0,5% ke 26.807,77. S&P 500 merosot 0,8% ke 2.966,60 sementara Nasdaq jatuh 1,5% menjadi 7.993,63.

Pidato Trump di PBB yang indimidatif terhadap China membuat pasar tertekan akan kelanjutan negosiasi perang dagang. Di depan rapat PBB, Trump menyalahkan Beijing atas ketegangan perdagangan yang terjadi sembari mengatakan “Saya tidak akan menerima kesepakatan buruk untuk rakyat Amerika”.

Equityworld Futures

Kenapa Harga Emas Global Jatuh Usai Reli 2 Hari Beruntun? | Equityworld Futures

Di sisi lain internal politik AS, yang mengarah ke pemakzulan Trump oleh Kongres juga membuat pasar makin negatif. Demokrat menuduh Trump melakukan penyalahgunaan kekuasaan.

Ini terkait komunikasi yang dilakukan Trump dengan Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky Juli lalu. Trump dituduh menekan Ukraina untuk menggali informasi yang bisa merusak saingan politiknya Joe Biden, terkait putra Biden, Hunter.

“Impeachment ini menambah kegelisahan investor,” tulis APF mengutip analis National Securities Art Hogan. “Pasar tidak memiliki gambar yang baik soal ini. Apa pun itu, mungkin membuat kepercayaan konsumen berkurang,” katanya lagi.

Design a site like this with WordPress.com
Get started