Equityworld Futures | Wall Street Bangkit di Tengah Perang Iran dan AS, Harga Minyak Tergelincir
Equityworld Futures | Bursa saham Amerika Serikat (AS) atau Wall Street ditutup menguat pada perdagangan Senin (16/3/2026) waktu setempat, sementara harga minyak dunia justru terkoreksi setelah reli tajam pada pekan sebelumnya.
Equityworld Futures | Harga Emas Nyaris Sentuh USD 5.000, Konflik Timur Tengah Bikin Pasar Deg-degan
Mengutip CNBC Selasa (17/4/2026), indeks Dow Jones Industrial Average naik 387,94 poin atau 0,83 persen ke level 46.946,41. Sementara itu, S&P 500 menguat 1,01 persen ke posisi 6.699,38 dan Nasdaq Composite naik 1,22 persen menjadi 22.374,18.
Penguatan saham didorong oleh sejumlah emiten teknologi. Saham Meta naik lebih dari 2 persen setelah muncul laporan bahwa perusahaan tersebut tengah mempertimbangkan pemutusan hubungan kerja terhadap lebih dari 20 persen karyawannya. Namun, laporan tersebut oleh pihak perusahaan disebut masih bersifat spekulatif.
Di sisi lain, saham Nvidia juga menguat lebih dari 1 persen seiring dimulainya konferensi teknologi tahunan GTC pada Senin.
Penguatan ini terjadi setelah S&P 500 mencatat penurunan selama tiga pekan berturut-turut dan pada Jumat lalu ditutup di level terendah sepanjang tahun ini.
Sementara itu, pasar energi mengalami pergerakan berlawanan. Harga minyak dunia turun pada perdagangan Senin setelah sebelumnya melonjak tajam akibat meningkatnya ketegangan di kawasan Timur Tengah.
Pekan lalu, harga minyak jenis Brent sempat menembus 100 dollar AS per barrel untuk pertama kalinya sejak 2022. Lonjakan tersebut dipicu oleh terganggunya lalu lintas kapal di Selat Hormuz, jalur strategis yang dilalui sekitar seperlima pasokan minyak dunia, sejak pecahnya konflik Iran.
Namun pada perdagangan Senin, harga minyak mulai terkoreksi. Minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) turun 5,28 persen dan ditutup di level 93,50 dollar AS per barrel, setelah sempat diperdagangkan di atas 100 dollar AS pada perdagangan semalam. Sementara itu, Brent crude turun 2,84 persen menjadi 100,21 dollar AS per barrel.
Penurunan harga minyak terjadi setelah Menteri Keuangan Amerika Serikat Scott Bessent menyatakan bahwa pemerintah AS mengizinkan kapal tanker minyak Iran untuk melintas di Selat Hormuz.
Selain itu, laporan Wall Street Journal menyebutkan bahwa Amerika Serikat segera mengumumkan pembentukan koalisi negara-negara yang akan mengawal kapal melalui selat tersebut guna menjaga kelancaran jalur perdagangan energi.
Meski demikian, pernyataan Presiden Amerika Serikat Donald Trump kepada wartawan pada Senin siang menunjukkan bahwa koalisi tersebut belum sepenuhnya terbentuk. Trump bahkan mendorong negara-negara lain untuk ikut berpartisipasi dalam pengamanan jalur pelayaran tersebut.
Setelah pernyataan itu, harga minyak sempat bangkit dari posisi terendahnya, meskipun tetap ditutup melemah pada akhir sesi.
Di sisi lain, penguatan Wall Street juga sempat lebih tinggi pada awal perdagangan. Indeks Dow Jones bahkan sempat naik lebih dari 600 poin atau sekitar 1,3 persen sebelum akhirnya memangkas sebagian kenaikannya. Sementara itu, S&P 500 dan Nasdaq sempat menguat masing-masing sekitar 1,4 persen dan 1,6 persen.
Sebelumnya pada Jumat, Trump memerintahkan serangan terhadap aset militer Iran yang berada di Pulau Kharg. Meski serangan tersebut tidak mengenai infrastruktur minyak, Trump menyatakan bahwa Amerika Serikat dapat mempertimbangkan untuk menyerang fasilitas energi Iran jika negara tersebut terus memblokir Selat Hormuz.
