Equityworld Futures | Menang di Berbagai Perang, Kenapa Wall Street Takluk oleh Perang Iran?

Equityworld Futures | Menang di Berbagai Perang, Kenapa Wall Street Takluk oleh Perang Iran?

Equityworld Futures | Ketegangan geopolitik global dan eskalasi militer antarnegara kerap menjadi salah satu faktor utama yang memicu kekhawatiran serta aksi jual secara masif di kalangan pelaku pasar modal.

Equityworld Futures | Harga Emas Turun saat Perang di Timteng, Tak Lagi Jadi Safe Haven?

Pasca pecahnya konflik pada 28 Februari 2026 lalu di Iran, pasar saham global merespons dinamika tersebut dengan pergerakan yang fluktuatif termasuk pasar modal di Indonesia.

Kemampuan S&P 500 Menahan

Indeks S&P 500, yang menjadi acuan utama pasar saham Amerika Serikat sekaligus barometer global, mencatatkan drawdown yang cukup signifikan. Terhitung sejak Senin (2/3/2026) hingga kemarin Selasa (10/03/2026), indeks tersebut telah mengalami pelemahan sekitar 3,15%.

Penurunan ini mencerminkan kehati-hatian investor dalam menghadapi ketidakpastian geopolitik yang sedang berlangsung karena dapat memicu kenaikan harga komoditas global dan potensi naiknya angka inflasi secara menyeluruh.

Secara psikologis, investor institusional maupun ritel cenderung merelokasi portofolio investasi mereka ke instrumen safe haven pada masa-masa awal terjadinya krisis.

Tinjauan mendalam terhadap data historis sejak tahun 1979 justru menunjukkan bahwa indeks S&P 500 memiliki data historis kemampuan bertahan dan pemulihan yang sangat konsisten. Namun, cerita berbeda terjadi tahun ini di tengah perang Iran vs Israel-AS.

Sejak invasi Irak ke Kuwait pada 2003, sepekan setelah perang, Wall Street selalu menguat. Berbeda dengan tahun ini di mana Wall Street jeblok setelah perang Iran.

Gejolak perang antara Iran, Israel, dan Amerika Serikat langsung mengguncang pasar saham global, termasuk Wall Street. Indeks utama seperti Dow Jones, S&P 500, dan Nasdaq biasanya tertekan ketika ketegangan geopolitik meningkat.

Salah satu pemicunya adalah lonjakan harga minyak. Konflik yang melibatkan Iran memicu kekhawatiran terganggunya pasokan energi global, terutama jika jalur strategis seperti Selat Hormuz terdampak. Padahal sekitar 20% perdagangan minyak dunia melewati jalur tersebut.

Kenaikan harga minyak membuat biaya produksi meningkat, memicu inflasi, dan menekan keuntungan perusahaan sehingga investor cenderung melepas saham.

Seperti diketahui, harga minyak melonjak ke US$ 119 pada Senin (9/3/2026) atau rekor tertinggi sejak Juni 2022.

Pasar juga khawatir konflik dapat meluas menjadi perang regional yang lebih besar. Jika itu terjadi, perdagangan global, rantai pasok, hingga transportasi internasional berpotensi terganggu.

Di sisi lain, lonjakan harga energi juga dapat mendorong inflasi sehingga Federal Reserve kemungkinan mempertahankan suku bunga tinggi lebih lama. Kondisi ini biasanya tidak menguntungkan bagi pasar saham, terutama sektor teknologi.

Profil Perusahaan

Ilustrasi Transaksi

Legalitas Bisnis

Hubungi Kami

Leave a comment

Design a site like this with WordPress.com
Get started