Equityworld Futures | Wall Street Babak Belur Akibat Ancaman Tarif Trump
Equityworld Futures | Indeks-indeks Wall Street babak belur pada Kamis (13/3/2025). Hal ini karena pasar masih tertekan oleh aksi jual selama tiga pekan terakhir. Ancaman tarif baru dari Presiden Amerika Serikat Donald Trump semakin membebani sentimen investor.
Equityworld Futures | Harga Emas Kembali Cetak Rekor! Level US$ 3.000 Tinggal Hitungan Hari
Dikutip dari CNBC internasional, S&P 500 anjlok 1,39% ke level 5.521,52, secara resmi memasuki wilayah koreksi setelah turun 10,1% dari rekor tertingginya. Dow Jones Industrial Average ambles 537,36 poin (1,3%) menjadi 40.813,57, mencatatkan penurunan selama empat hari berturut-turut.
Sementara itu, Nasdaq Composite jatuh 1,96% menjadi 17.303, dengan saham Tesla dan Apple turun signifikan.
Trump kembali menggemparkan pasar dengan unggahannya di Truth Social pada Kamis pagi, mengancam akan mengenakan tarif 200% terhadap semua produk alkohol dari Uni Eropa sebagai balasan atas tarif 50% yang dikenakan blok tersebut terhadap wiski.
“Ini akan sangat baik bagi bisnis anggur dan sampanye di AS,” tulis Trump sembari menegaskan tidak akan mengubah keputusan terkait serangkaian tarif yang dijadwalkan berlaku mulai 2 April.
Ketidakpastian seputar kebijakan perdagangan AS yang tidak teratur telah mengguncang pasar sepanjang bulan ini. Investor khawatir kebijakan tersebut akan menekan kepercayaan perusahaan dan konsumen.
Pelemahan semakin parah minggu ini, dengan S&P 500 dan Nasdaq masing-masing turun 4,3% dan 4,9% dalam sepekan. Dow Jones juga melemah sekitar 4,7%, mencatatkan kinerja mingguan terburuk sejak Juni 2022.
Wilayah Koreksi
Nasdaq, yang sudah berada dalam wilayah koreksi sebelum sesi perdagangan Kamis, kini turun lebih dari 14% dari rekor tertingginya. Indeks saham berkapitalisasi kecil, Russell 2000, semakin mendekati zona bear market setelah anjlok sekitar 19% dari level tertingginya.
Dalam terminologi pasar, koreksi didefinisikan sebagai penurunan 10%, sementara bear market terjadi ketika pasar turun lebih dari 20%.
“Perang tarif ini semakin memanas sebelum ada tanda-tanda mereda. Hal ini hanya menambah ketidakpastian, yang jelas berdampak negatif bagi pasar saham,” ujar Manajer Portofolio di Argent Capital Management Jed Ellerbroek.
Di tengah volatilitas pasar, Menteri Keuangan AS Scott Bessent menegaskan, pemerintahan Trump lebih fokus pada kesehatan ekonomi jangka panjang dibandingkan pergerakan jangka pendek. “Saya tidak khawatir dengan sedikit volatilitas dalam tiga pekan terakhir,” katanya dalam wawancara dengan CNBC.
Penurunan pasar terjadi meskipun ada tanda-tanda positif dari data inflasi AS. Indeks harga produsen (PPI) AS pada Februari tetap stabil, tidak mengalami kenaikan seperti yang diperkirakan sebelumnya. Data ini mengikuti laporan inflasi konsumen (CPI) yang juga lebih rendah dari perkiraan.
Namun, beberapa analis menilai data inflasi yang lebih lemah ini belum cukup untuk memicu reli besar di pasar. Kekhawatiran atas kebijakan perdagangan Trump masih menjadi faktor utama yang menekan sentimen investor dan menimbulkan ketidakpastian terkait langkah selanjutnya dari The Fed dalam menentukan kebijakan suku bunga
